
Gedung mewah yang di sulap bak negeri dongeng itu sangat ramai dipenuhi tamu undangan, dari kalangan atas hingga menengah ke bawah berbaur tanpa tabir. Tak ada perbedaan.
Sebagai anak pengusaha terkenal, jelas sebagai besar tamu yang datang adalah pengusaha sukses se-Indonesia, bahkan ada beberapa kolega dari luar negeri juga.
Sebut saja Reino Brahmansa, Sean Armadja, Satria Wijayanto, Sakha Prasetya, Andrawan Hadi, Vino Adyatama, Ken Ryu Hendrawan dan banyak lagi.
"Hai, Sean .... Viana, selamat datang. Bagaimana kabar Papa?" Kenedy menyapa Sean dan sang istri yang baru datang.
"Baik. Sekarang dia sedang menikmati masa tuanya." jawab Sean.
"Iya, tentu. Apalagi dia sudah memiliki anak sehebat kau, apalagi yang dirisaukan?" sahut Kenedy.
"Eh, itu Alena dan yang lainnya. Aku ke sana dulu ya?" Viana berjalan menghampiri Alena, Venus, Amanda dan Hanna.
"Dasar wanita." Sean geleng-geleng kepala demi melihat Viana yang heboh menyapa sekumpulan wanita cantik itu.
"Sudah, biarkan saja!" Kenedy menepuk pundak Sean sembari mengulum senyum.
Mereka berdua pun berjalan kearah sekumpulan pengusaha sukses dan terkenal lainnya.
__ADS_1
"Hei, Sean Armadja! Akhirnya datang juga." ujar Shaka heboh.
"Wah, semua pada ngumpul. Jarang-jarang bisa seperti ini." celetuk Reino. Meskipun dia sudah tak menjadi CEO lagi, tapi dia tetap menghadiri undangan dari Kenedy ini.
"Ini lebih seperti reuni alih-alih pesta pernikahan. Kapan lagi coba bisa punya banyak waktu bareng pengusaha terkenal yang satu ini?" sahut Satria sembari melirik Sean.
"Anggap saja hari ini adalah hari keberuntungan kalian." balas Sean sombong. Sakha rasanya ingin muntah mendengar ucapan besannya itu.
"Oh iya, aku dengar rekan bisnismu ada yang berlaku curang ya?" tanya Satria.
"Iya, begitulah. Tapi sekarang dia sudah mendekam di penjara. Tidak ada yang bisa melawanku, atau nasibnya akan sangat buruk." jawab Sean. "Itulah resikonya jadi pengusaha tersukses, pasti ada saja orang yang iri dan ingin mengambil keuntungan." lanjutnya.
Wajah Sean langsung berubah masam. "Kenapa kau suka sekali mengungkit Pak Tua itu?"
"Siapa itu Pak Ngatiran?" tanya Ken dan Vino bersamaan. Pertanyaan ini jelas mewakili rasa ingin tahu yang lain.
"Dia itu kembarannya Sean." jawab Sakha sambil mengulum senyum.
"Aku baru tahu kalau Sean punya kembaran." Reino menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Kau saja yang jadi kembarannya!" sungut Sean. Sementara Sakha sudah tergelak.
"Apanya yang lucu?" Sean menepuk pundak Sakha.
"Ini serius? Sean punya kembaran?" Vino memastikan.
"Kembaran dari Hongkong!" Sean melengos.
"Pak Ngatiran itu dulu kepala desa di salah satu daerah yang pernah aku datangi. Sumpah, orangnya menyebalkan sekali! Dan dia satu-satunya orang yang bisa mengimbangi kesombongan Sean." beber Sakha tanpa memperdulikan wajah kesal Sean.
"Benarkah?" tanya Ken memastikan. "Wah, akhirnya Sean ada imbang."
"Dasar kau! Habis ini aku akan memindahkan rumah Pak Tua itu ke samping rumahmu, biar kau makan hati karena setiap hari dia akan mencari perhatian Alena." ancam Sean.
"Coba saja, akan ku ratakan rumahnya." balas Sakha tak mau kalah.
"Hee, sudah-sudah! Kalian ini seperti anak kecil!" Frans akhirnya menengahi setelah sedari tadi hanya jadi pendengar setia. Sementara yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Sean dan Sakha.
Tapi pucuk dicinta, ulam pun tiba. Apa yang menjadi topik utama, kini nongol di depan mata. Pak Ngatiran berjalan memasuki tempat acara dengan gaya khasnya.
__ADS_1
***