
Chaiyya dan Channa masih berpelukan sambil terisak-isak, meluapkan kerinduan yang selama ini terpendam, tak perduli meskipun mereka harus berpelukan di depan rumah begini.
"Aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi." Chaiyya semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sudah mencari mu kemana-mana, tapi kau seperti hilang ditelan bumi. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu, aku tidak bisa melindungi mu sampai kau harus mengalami kejadian memilukan itu. Maafkan aku." ucap Channa kian terisak.
"Phi Channa tidak perlu minta maaf, ini bukan kesalahan mu. Lagipula semua sudah berlalu, tidak usah diingat lagi. Sebaiknya sekarang kita masuk!" ujar Chaiyya. Dia sungguh tak ingin membahas masalah ini karena hanya akan membuat penyesalannya kian membesar sebab kembali teringat kejadian mengerikan itu.
Channa mengangguk mengerti. "Baiklah."
Mereka semua akhirnya masuk ke dalam rumah.
***
Prince, Queen dan Channa sudah duduk di ruang tamu bersama Chaiyya. Sedangkan sang supir yang mengantar mereka sudah kembali ke kampung bersama mobilnya, tentu Prince juga telah memberikan ucapan terima kasih beberapa rupiah.
"Jadi ke mana saja kau selama seminggu ini? Dan bagaimana kau bisa bertemu Pamanmu ini?" Chaiyya bertanya dengan menyelidik.
Prince pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka bisa sampai tersesat di hutan dan akhirnya bertemu dengan Channa.
"Ya Tuhan, kejam sekali orang-orang itu? Kalian harus segera lapor polisi." Chaiyya kesal mendengar cerita Prince.
"Iya, aku dan Queen akan segera lapor polisi. Tapi semua ini ada hikmah juga, karena aku bisa bertemu dengan Paman Channa." sahut Prince.
__ADS_1
"Iya, kau benar. Ada hikmah dibalik setiap musibah." sambut Channa membenarkan.
"Jadi sudah berapa lama kalian berhubungan? Dan kapan rencananya kalian akan menikah?" Chaiyya memandangi Prince dan Queen berganti.
Prince dan Queen sontak gugup, mereka tak tahu harus menjawab apa?
"Belum lama, Bu. Kami masih membicarakan tentang hal itu." jawab Prince ambigu.
"Jangan lama-lama ya! Ibu sudah tak sabar ingin menimang cucu."
Kedua insan itu semakin gugup. Cucu? Apa jadinya kalau Chaiyya tahu jika cucu yang dia inginkan sudah ada meski mereka belum menikah. Channa hanya diam memperhatikan kegugupan mereka, dia tak ingin mencampuri.
"I-iya, Bu."
Sepuluh menit kemudian, Chaiyya kembali dengan membawa sebuah kotak berbentuk persegi dan berwarna merah cerah.
"Ini untukmu." Chaiyya menyodorkan kotak berlapis beludru itu kehadapan Queen.
"Apa ini, Tante?" tanya Queen bingung. Begitu juga dengan Channa.
"Bukalah!" pinta Chaiyya.
Dengan perlahan Queen membuka kotak itu dan seketika matanya membulat demi melihat sebuah kalung berbahan platinum dengan sebuah liontin berbentuk Royal Crown bertabur berlian.
__ADS_1
"Wah, indah sekali." puji Queen dengan mata berbinar. "Ini beneran untukku, Tante?" tanya Queen memastikan. Di dalam hatinya ada rasa tak percaya, bagaimana mungkin seseorang bisa memberikan perhiasan semahal dan sebagus ini pada orang yang baru dia kenal.
"Iya, ini untukmu."
"Bu, bukankah itu kalung kesayangan Ibu? Kenapa diberikan ke Queen?" Prince heran melihat tingkah Ibunya itu. Yang dia tahu, Chaiyya sangat menyayangi kalung itu, bahkan saking sayangnya, wanita berwajah teduh itu tak pernah mau memakainya. Setidaknya itulah yang Chaiyya katakan kepada Prince, saat dulu dia bertanya kenapa kalung itu selalu sang Ibu simpan?
"Iya, itu memang kalung kesayangan Ibu. Tapi Ibu rasa tak ada gunanya lagi Ibu terus menyimpannya. Ibu yakin kalung itu lebih pantas dipakai oleh Queen." wajah Chaiyya berubah sedih.
"Tante, maaf. Kalau memang ini benda kesayangan Tante, aku tidak bisa menerimanya.!" Queen mengembalikan kotak yang berisi kalung mewah itu.
"Tante akan sangat sedih jika kau menolaknya. Sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga ini, jadi anggap itu hadiah dari calon mertua mu. Pakailah!"
Channa dan Prince benar-benar bingung dengan tingkah Chaiyya itu, bahkan Channa mencurigai sesuatu.
"Prince, ayo pakaikan kalung itu ke leher Queen!" pinta Chaiyya.
Meski kebingungan, Prince tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh sang Ibu. Dia meraih kalung indah itu dan memakaikannya di leher Queen.
"Cocok sekali! Kau semakin cantik. Jaga kalung itu baik-baik ya."
Queen mengangguk. "Terima kasih ya, Tante."
"Sama-sama, Nak." balas Chaiyya lembut.
__ADS_1
***