Terjebak Kesalahan Satu Malam

Terjebak Kesalahan Satu Malam
Bab 81.


__ADS_3

Chaiyya dan Channa berlari menyusuri lorong rumah sakit, dua puluh menit yang lalu, seorang polisi bernama Yuda menghubungi Chaiyya dan memberi kabar bahwa telah menemukan Prince tergeletak tak sadarkan diri di tepi jalan. Kondisinya sangat memperihatinkan, sekujur tubuhnya di penuhi luka dan memar. Bahkan wajahnya nyaris tak dikenali karena bengkak dan dipenuhi darah.


Sebelumnya Chaiyya melaporkan bahwa sang putra menghilang dan terdapat bercak darah di teras rumahnya, dia juga memberikan foto Prince. Sehingga begitu menemukan sosok yang tergeletak di tepi jalan itu, polisi langsung menghubunginya.


Chaiyya dan Channa berhenti di depan sebuah ruang ICU yang dijaga oleh seorang polisi muda, tadi dia sempat menanyakan keberadaan korban yang ditemukan di tepi jalan, dan resepsionis rumah sakit mengatakan jika orang itu berada di ruang ini.


"Maaf, Bapak dan Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi muda itu saat melihat sepasang orang sedang berdiri menatapnya.


"Hemm, apa benar yang di dalam itu Prince Rathanaporn?" Channa berinisiatif untuk bertanya.


"Iya, betul. Bapak dan Ibu ini siapa? Keluarganya?"


"Iya, kami keluarga nya." jawab Chaiyya. "Boleh kami melihatnya?"


"Oh, boleh. Tapi tunggu dokter yang memeriksanya keluar dulu, ya, Bu."


"Baiklah."


Channa dan Chaiyya pun menunggu dengan was-was, bahkan sedari tadi Chaiyya tak berhenti menangis membayangkan keadaan putra kesayangannya itu.

__ADS_1


Tak berapa lama seorang dokter bertubuh kurus keluar dari ruang ICU tempat Prince dirawat. Chaiyya dan Channa bergegas menghampirinya.


"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Chaiyya cemas.


"Kondisinya buruk. Dia kehabisan banyak darah, dia juga mengalami patah tulang hidung dan tulang rusuk, ada luka di kepala bagian belakangnya dan beberapa luka lain. Pasien mengalami koma." ujar sang dokter dengan raut sedih.


"Anakku ...." tangis Chaiyya langsung pecah mendengar penuturan dokter itu. Hati Ibu mana yang tidak hancur jika melihat buah hatinya sedang berada antara hidup dan mati?


Channa langsung memeluk tubuh lemah sang adik, dia juga tak kuasa menahan kesedihan. Baru saja dia bertemu dengan keponakannya itu, tapi sekarang dia justru harus melihatnya seperti ini.


"Dok, apa dia akan sembuh?" Channa bertanya penuh harap.


"Iya, Dok. Itu pasti!" sahut Channa. Sementara Chaiyya tak sanggup lagi berkata-kata, tubuhnya serasa lemah, andai Channa tidak memeluknya dengan erat, mungkin saat dia dia sudah merosot ke lantai.


"Boleh kami melihatnya, Dok?"


"Silahkan. Tapi jangan membuat pasien terganggu ya?" ucap dokter muda itu. "Kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya, Dok. Terima kasih." balas Channa.

__ADS_1


Chaiyya dan Channa pun masuk ke dalam ruang ICU, Channa terus mendekap dan memapah Chaiyya untuk berjalan mendekati ranjang besi rumah sakit yang Prince tiduri.


"Prince ... anakku. Siapa yang tega melakukan semua ini kepadamu?" Chaiyya meratap sedih sambil memegang tangan Prince yang tertancap jarum infus.


Hatinya benar-benar sakit melihat sang putra terbaring tak berdaya dengan wajah babak belur dan dihiasi selang oksigen, bahkan tubuhnya dipenuhi alat-alat ventilator dengan monitor yang menunjukkan garis naik turun pertanda masih ada kehidupan.


"Dulu saat dia masih kecil, seekor nyamuk pun tak aku biarkan menggigitnya, tapi lihat sekarang! Orang-orang tak berperasaan itu menghajarnya hingga seperti ini." Chaiyya berbicara sambil terisak-isak.


"Nong Saw, tenanglah. Prince itu anak yang kuat, dia pasti bertahan." Channa mengusap pundak Chaiyya sambil menyusut sudut matanya yang basah.


"Aku takut, Phi Channa. Aku takut Tuhan mengambilnya dariku, aku takut kehilangan dia. Aku takut!" Chaiyya semakin terisak, suaranya bergetar menahan kesedihan yang mendalam.


"Jangan bicara seperti itu! Prince pasti sembuh! Dia akan bangun dan berkumpul bersama kita lagi."


Sejenak keduanya terdiam, suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara monitor dan Isak tangis yang tertahan.


"Sebaiknya sekarang kita keluar! Biarkan Prince beristirahat." pinta Channa dan Chaiyya pun menurut. Mereka keluar dari ruang ICU, meninggalkan Prince yang terbaring lemah.


***

__ADS_1


__ADS_2