
Setelah keluar dari ruangan Steven, Prince berniat kembali ke ruangannya tapi Rafael menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau selalu merebut sesuatu yang seharusnya menjadi pencapaian ku?" Sergah Rafael.
"Pencapaian mu? Sejak aku datang kemari, aku tidak pernah benar-benar melihat pencapaian kerjamu, Rafael Surendra."
"Kau yang mencurinya dariku! Kau tahu Papaku sangat mempercayaimu, makanya kau sengaja menjilat Papaku!" Rafael yang tidak terima dengan ucapan Prince, menuduh lelaki itu seenaknya.
"Sebelum kau bicara, pikirkanlah baik-baik! Perusahaan ini milik Ayahmu, dan juga milik mu. Semua pencapaian yang kudapat sampai hari ini, semuanya milik mu. Sebaiknya kau manfaat waktu yang ada untuk belajar bersamaku, agar bisa lebih baik dan membuat Ayahmu bangga. Kau harus mengubah sikapmu jika kau ingin dianggap oleh semua orang, kau harus membuat semua orang melihat kemampuan mu!" Ucap Prince tulus. Tapi Rafael justru kesal mendengar ucapan bawahannya itu.
"Jangan menguliahi ku!" Bentak Rafael tak terima.
"Kau tidak akan berhasil jika kau hanya menggunakan emosi alih-alih pikiran."
"Sudah ku bilang, jangan menguliahi ku, berengsek!" Rafael mencengkeram kerah kemeja Prince. Suara teriakkan nya itu sukses membuat Steven dan semua karyawan berlari menghampiri mereka.
"Kalau kau masih tidak mau berpikir dan tidak mau dengar seperti ini, jangan harap kau bisa membuat semua orang bangga kepadamu. Selamanya kau akan tetap diremehkan!"
Rafael sontak terdiam, dia benar-benar tertohok mendengar semua itu.
"Rafael! Lepaskan Prince!" Pinta Steven tegas. Dan Rafael segera melepaskan cengkraman tangannya dari kerah kemeja Prince. "Sekarang juga kalian ikut ke ruangan saya!" Titah Steven. Prince dan Rafael pun menurut.
__ADS_1
***
Di dalam ruangannya, Steven sedang meminta penjelasan kepada Prince dan Rafael terkait keributan yang mereka ciptakan tadi.
"Apa yang kalian lakukan? Sebagai petinggi Emperor, seharusnya kalian menjaga sikap."
"Saya minta maaf, Pak." Prince merasa tak enak hati. Sementara Rafael hanya diam bergeming.
"Raf, Papa tahu ini pasti ulahmu kan?" Tuduh Steven.
"Iya, ini semua ulahku karena aku tidak suka Papa meremehkan ku dan selalu memuji Prince!" Jawab Rafael.
"Dan Papa meremehkan ku karena aku memang pantas diremehkan, begitu?" Tuding Rafael dengan penuh emosi. Kali ini dia tak bisa menahan amarah dan kecemburuannya lagi karena sang Papa lebih membanggakan Prince.
"Bukan begitu, Raf!" Bantah Steven.
"Lalu apa? Bagaimana aku bisa membanggakan Papa, kalau aku tidak pernah diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuanku? Prince selalu saja mencuri proyek dariku." Ujar Rafael.
"Sebenarnya semua proyek adalah milikmu, aku hanya membantumu mengerjakan nya. Atau kau ingin mengerjakan semuanya sendiri?" Tanya Prince. Rafael sontak terdiam, dia sadar bahwa dia tak akan sanggup mengerjakan semua proyek sendiri tanpa bantuan Prince, karena memang dia belum terlalu paham di dunia bisnis.
"Sudahlah, Raf! Berhentilah cemburu kepada Prince! Sebaiknya mulai sekarang kalian bekerja sama untuk membantu Papa menjalankan perusahaan ini." Pinta Steven.
__ADS_1
Rafael tak menjawab, dia berdiri dan hendak pergi, tapi Steven menahannya.
"Papa ingin kalian berbaikan!"
Prince mengulurkan tangannya kehadapan Rafael, tapi lelaki keras kepala itu tak merespon.
"Rafael!" Bentak Steven.
"Cckk ...." Rafael pun menjabat tangan Prince dengan sangat terpaksa. Dan bergegas pergi meninggalkan ruangan Steven.
Steven membuang nafas dengan kasar. "Aku harap kau tidak tersinggung dengan ucapan dan sikap Rafael."
"Kenapa? Anda takut saya mengundurkan diri?"
"Aku mengatakan ini karena aku mengkhawatirkan mu." Sahut Steven.
"Jangan khawatir, Pak. Selama saya belum mencapai apa yang saya janjikan. Saya tidak akan melarikan diri kemanapun." Balas Prince.
Steven tersenyum mendengar kata-kata Prince itu, dia teringat dua tahun yang lalu dia meminta Prince bergabung di Emperor untuk membantu Rafael agar dia siap menjadi penerus Steven. Dia sengaja meremehkan Rafael dan memuji Prince di hadapannya, semata-mata hanya untuk membuat putranya itu iri dan berusaha mengalahkan Prince. Tapi sayangnya, sampai detik ini rencananya belum berhasil, ternyata Rafael lebih keras kepala dari yang dia bayangkan.
***
__ADS_1