
Prince dan Queen masih terus berlari sembari bergandengan tangan, mereka semakin masuk ke dalam hutan yang sangat rimbun, pepohonan besar menjulang tinggi dan berbagai jenis tanaman liar tumbuh subur, terlihat seperti semak belukar. Tapi langkah Queen terhenti, membuat Prince mau tak mau juga menghentikan langkahnya lalu berbalik memandang wanita itu dengan tatapan bingung.
"Kenapa berhenti?"
Queen masih mengatur nafasnya, wanita cantik itu terengah-engah karena sudah berlari cukup jauh. "Aku sudah tak sanggup lagi berlari."
Belakangan ini kondisi tubuh Queen memang tidak fit, dia gampang lelah dan pusing, ditambah lagi tadi pagi dia tak sempat makan apapun. Hal ini jelas membuat tubuhnya semakin lemas, bahkan wajahnya sudah terlihat pucat.
Prince memandang Queen dengan seksama dan baru menyadari jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja. "Kau sakit? Kenapa pucat begitu?"
"Aku lelah dan lapar."
Prince menarik Queen bersembunyi di balik sebuah pohon besar dan mengedarkan pandangan ke segala arah, dia sedang memastikan apakah Jovan masih mengejar mereka atau tidak.
"Baiklah, kita istirahat dulu." ucap Prince yang kini sudah beralih memandang Queen.
"Tapi bagaimana kalau Jovan menemukan kita?"
"Sepertinya dia tidak mengejar kita lagi. Kau istirahat dulu disini."
Prince berjalan menjauh dari Queen, tapi wanita itu bergegas menarik lengannya.
"Kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku!" Queen memandang dengan tatapan memohon.
"Aku hanya ingin mencari sesuatu yang bisa kau makan, siapa tahu ada buah-buahan segar yang tumbuh disekitar sini."
"Tapi aku takut." rengek Queen manja, membuat Prince tersenyum.
"Aku sebentar saja."
"Tidak! Aku mau ikut denganmu." Queen bersikeras, bahkan sekarang dia sudah memegang erat lengan Prince.
"Tapi bukankah kau lelah?"
__ADS_1
"Queen menggelengkan kepalanya dan berbohong. "Sudah tidak lagi."
Prince kembali tersenyum saat dia menyadari jika Queen mendadak bisa begitu manja kepadanya, padahal sebelumnya, wanita itu terlihat sangat membenci dirinya.
"Baiklah."
Prince melepaskan pegangan tangan Queen di lengannya dan segera berjongkok membelakangi wanita itu.
"Kau mau apa?" tanya Queen bingung.
"Menggendong mu. Ayo, naik!"
"Eh, tidak usah! Aku bisa berjalan sendiri."
"Naik atau aku tinggal di sini?" ancam Prince. Dia tentu tak tega membiarkan wanita itu terus berjalan sementara wajahnya sudah terlihat pucat karena kelelahan.
"Iya, deh, iya."
Queen pun mengalah dan segera merapatkan tubuhnya ke punggung Prince, kemudian mengalungkan kedua lengannya di leher lelaki itu. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan Prince menggendong Queen di punggung belakangnya.
Tapi Queen tak membalasnya, dia sedang menahan malu karena harus digendong seperti ini oleh lelaki yang mati-matian dia hindari dan dia benci. Ditambah lagi Prince mengatainya berat, Queen hanya menyembunyikan wajahnya yang memerah di punggung belakang lelaki itu.
Mereka terus berjalan dan sepanjang jalan, Prince mengoceh sambil sesekali bercanda dan tertawa sendiri, tapi Queen tetap diam tanpa berniat membalas ucapan lelaki itu.
"Eh, ketemu!" seru Prince girang.
"Apa?" Queen mendongakkan kepalanya melewati pundak Prince demi bisa melihat apa yang lelaki itu temukan.
"Buah mulberry."
"Mulberry? Buah apa itu? Apa bisa dimakan?" tanya Queen bingung.
"Jadi kau tidak tahu ya? Jauh-jauh sekolah keluar negeri, tapi buah mulberry saja tidak tahu." cibir Prince.
__ADS_1
"Tinggal jawab saja pertanyaan ku apa susahnya sih? Tidak perlu mencibir ku!" Queen mengomel, dia memberontak dan memaksa turun dari gendongan Prince dengan bibir yang mengerucut.
"Iya ... iya. Mulberry ini buah hutan yang bisa dimakan, mengandung air dan vitamin C yang tinggi, bagus untuk menjaga daya tahan tubuh. Bagus dikonsumsi oleh penderita anemia, kolesterol, diabetes dan membantu proses diet. Bagus juga untuk ibu hamil, jadi kalau nanti kau hamil, aku akan mencarikan mu buah mulberry yang banyak." Prince mengoceh panjang lebar demi menjelaskan manfaat buah berwarna merah dan hitam itu, tapi kalimat terakhirnya sukses membuat Queen tercengang.
"Aku yang hamil, kenapa kau yang repot-repot mencarinya?" protes Queen dengan alis yang tertaut.
"Kali aja kau hamil anakku. Jadi apa salahnya perhatian sama calon anak sendiri." seloroh Prince dengan wajah jenaka nya.
"Mimpi!" sungut Queen lalu berjalan mendekati pohon buah mulberry yang hanya setinggi dua meter itu dan memetik buah mulberry berwarna merah kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
"Astaga, asam sekali!" Queen mengerutkan hidungnya sambil memejamkan mata.
"Hahahaha ...." Tawa Prince pecah melihat wajah Queen yang terlihat lucu karena keasaman. "Ya jelas saja asam, kau makan yang merah sih. Harusnya kau makan yang sudah menghitam, rasanya akan sedikit manis, kalau yang merah masih kecut." ucap Prince disela sisa-sisa tawanya.
"Kenapa kau tidak bilang?" bentak Queen kesal.
"Kau tidak tanya. Main langsung makan saja."
"Iiiiiiihhh ...!!! Nyebelin!!!"
Tapi keduanya tiba-tiba terdiam saat mendengar suara dari balik semak-semak tak jauh dari mereka. Queen langsung beringsut dan bersembunyi dibalik badan kekar Prince.
"Apa itu?" bisik Queen dengan jantung yang berdebar.
"Entahlah. Mungkin seekor binatang."
"Aku takut." Queen memegangi lengan Prince dengan sangat kuat.
"Tenanglah."
Tiba-tiba dua orang lelaki muncul dari balik semak-semak itu sambil membawa senapan laras panjang, yang satu berperawakan tinggi besar dan berkepala plontos sedangkan yang satu lagi bertubuh jangkung dengan kumis yang tebal. Kedua lelaki yang terlihat seram itu menatap tajam Prince dan Queen.
Queen semakin mengeratkan pegangan nya di lengan Prince, jantungnya pun berdebar kian kencang. Begitu juga dengan Prince, lelaki rupawan itu mulai was-was. Tapi mereka tak menyadari, sesuatu sedang mengancam mereka.
__ADS_1
***