Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
101. Wedding Gifts


__ADS_3

***


Berakhir sudah pesta megah dan meriah itu...


Dan malam itu juga Aaron memboyong seluruh


keluarga besarnya, baik dari pihak dia maupun


pihak Raya, pergi menuju pelabuhan. Bermaksud


mengajak mereka semua untuk berlayar menaiki


kapal pesiar yang baru saja selesai di buat. Dia


sengaja membawa mereka untuk berlibur bersama. Selain keluarganya, para sahabat sejatinya juga


turut serta dalam liburan ini. Hanya Ibu Suri yang


tidak bisa ikut karena dia harus istirahat total.


Mereka semua rata-rata menggunakan pesawat


pribadi masing-masing untuk bisa mencapai kapal


pesiar tersebut. Hanya Aaron dan Raya saja yang menaiki mobil karena Raya belum bisa melakukan penerbangan. Clarissa juga ikut naik mobil Raya,


kedua saudari sepupu itu seolah tidak ingin


terpisah. Mereka ingin menikmati moment ini


dengan sepuasnya.


Sayang sekali saudara sepupu dari keluarga


Serkan tidak bisa datang ke acara ini karena


mereka semua sedang menempuh pendidikan,


baik itu militer maupun pendidikan formal di


universitas islam terbaik dunia yang memiliki


peraturan super ketat hingga tidak bisa


sembarangan mendapat izin cuti.


Dini hari mereka akhirnya tiba di tempat tujuan.


Ukuran kapal pesiar ini sangat besar dan sangat mewah. Lebih megah dari kapal pesiar lainnya


yang selama ini biasa beroperasi dan berlayar, menjelajah ke berbagai belahan dunia. Dan yang membuat semua mata membelalak adalah


ketika melihat nama dari kapal pesiar ini..yaitu..


Queen Maharaya..Cruise..!!


Sementara orang yang sedang jadi pusat dari


segala keterkejutan semua orang saat ini justru


sedang meringkuk nyaman dalam gendongan


Aaron begitu mereka masuk ke dalam kapal


pesiar tersebut..


Tidak lama kapal pesiar super besar dan super


megah yang mengundang decak kagum semua keluarga itu pun mulai bergerak mengarungi


samudera menuju destinasi yang di inginkan.


Keluarga angkat Raya tidak habis pikir, ini luar


biasa, setajir inikah keluarga De Enzo.?


Seperti biasa Aaron dan Raya menempati kamar


pribadi di lantai paling atas. Raya benar-benar


lelah, begitu Aaron membaringkan tubuhnya di


atas tempat tidur dia langsung saja terlelap tidak


ingat apa-apa lagi. Bahkan saat Aaron mengganti


pakaiannya dengan yang lebih nyaman dia tidak


menyadarinya sama sekali. Suaminya itu dengan


sabar dan telaten membersihkan tubuhnya dan


mengganti pakaiannya agar dia bisa beristirahat


dengan nyaman tanpa gangguan.


Setelah selesai membersihkan diri, Aaron naik


ke atas tempat tidur. Tangannya menarik pelan


tubuh halus lembut istrinya itu ke dalam pelukan


nya, menciumi puncak kepalanya dan keningnya,


lalu menatap teduh wajah lelah istrinya itu.


"Kau pasti lelah sekali saat ini sayang..Terlalu


banyak kejutan yang mengguncang jiwamu.


Dan aku harus mengatakan satu fakta lagi


tentang saudari sepupu mu.."


Bisik Aaron dengan tatapan yang semakin lekat.


Perlahan dia mendaratkan ciuman lembut di


bibir merah jambu itu, ********** pelan dan


halus, menikmati sensasi manis dan lembut


kenyal dari bibir bermadu itu. Di bawah alam


sadarnya Raya membalas ciuman itu membuat


Aaron tersenyum tipis. Dia kembali menguasai


bibir halus lembut itu , menikmati kesenangan


nya sendiri, dan anehnya dalam keadaan tidur


Raya membalas serangan liar suaminya itu.


"Aaron sayang... kamu sangat nakal."


Gumam Raya sambil kemudian melepaskan


pertautan bibir mereka. Dia mendesah lembut


saat bibir Aaron mulai turun mencumbu halus


leher jenjangnya, lalu turun lagi ke bagian bawah,


tepat di dua gunung kembar kesukaannya, dia


bermain sedikit panas di sana terdorong oleh


hasrat yang tiba-tiba saja merangkak naik.


"Sayang.. sudah.. aku lelah.. aku ngantuk.."


Raya merintih halus saat bibir Aaron menggigit


pelan puncak gunung kembarnya bergantian


dengan panas dan menggebu karena gairahnya


kini sudah memanaskan seluruh aliran darahnya.


Sudah sejak tadi dia ingin menikmati kelembutan


dan kehangatan tubuh istrinya ini. Sejak acara di


gelar wanita miliknya ini sudah membuat tubuh


bagian bawahnya tersiksa karena tidak tahan


melihat penampilannya yang aduhai.. sangat


menggoda dan menggiurkan.!


"Aku menginginkan mu sayang.. aku sangat


merindukan kehangatan mu.."


Bisik Aaron serak dan parau dengan tatapan


yang sudah di kuasai oleh hawa nafsu. Mata


Raya akhirnya terbuka dengan malas, mereka


saling menatap, Aaron dengan kabut gairahnya


sementara Raya dengan kelelahannya.


"Tapi aku ngantuk sayang..besok pagi saja yaa..


Aku benar-benar lelah sekarang.."


Aaron menatap kecewa wajah Raya yang kini


kembali memejamkan matanya, menggulung


tubuhnya, masuk ke dalam rengkuhan kuat


suaminya itu yang kini hanya bisa menarik


nafas berat mencoba mengontrol hasratnya.


Akhirnya Aaron pasrah, dia juga tidak tega


kalau harus memaksa Raya melayani semua


keinginannya yang tidak akan bisa tuntas dalam


waktu singkat, setidaknya butuh waktu 1 jam


dalam setiap kali bermain. Dia kembali menarik


tubuh Raya, mengurungnya dengan posesif.


"Aku mencintaimu Aaron Marvell De Enzo."


Gumam Raya sambil menyusupkan wajahnya


ke dalam belahan dada bidang suaminya itu.


Hati Aaron begitu hangat mendengar kata-kata


cinta senantiasa meluncur mulus dari bibir Raya.


Wanita yang telah di paksanya untuk mengikuti


perjalanan hidupnya sampai di titik ini.


"Aku juga mencintaimu Maharaya.. Kau tahu,


cintaku lebih besar darimu. Baiklah sayang..


kita tidur sekarang..hanya tidur. Aku tidak akan mengganggumu untuk saat ini."


Bisik Aaron sambil kemudian mengecup kening


Raya dan mulai memejamkan mata, mencoba


untuk mengistirahatkan seluruh jiwa dan raganya. Mereka berdua memang cukup kelelahan.


***


Pagi hari yang cerah di tengah lautan lepas yang


entah sudah berada di belahan samudera mana.


Seluruh keluarga saat ini sudah ada di ruang


perjamuan yang terlihat sangat luas dan megah.


Mereka semua sudah menempati posisi duduk masing-masing menghadap hidangan sarapan


pagi yang begitu mewah dan berkelas.


Raja William menempati posisi duduk di kursi


utama bersebrangan dengan Tuan Wiratama.


Semua posisi sudah di atur sedemikian rupa.

__ADS_1


Tidak lama Aaron dan Raya muncul ke dalam


ruang perjamuan dengan raut wajah terlihat


cerah berseri, terlebih bagi Aaron karena dia


baru saja mendapatkan kepuasan. Tadi pagi


Raya telah memberikan servis luar biasa yang


membuat dia seakan masih melayang-layang


saat ini. Istrinya itu mendominasi permainan.


Semua orang menatap terpukau kearah mereka


seakan tidak bisa melepaskan pandangan dari pasangan super romantis itu. Apalagi Devan..


matanya tampak tak bisa lepas dari sosok adik sepupunya itu. Sungguh aneh.! Kenapa dia harus merasakan hal yang berbeda ini, padahal dia


sadar sepenuhnya kalau wanita yang sedang


mendekat kearah nya itu adalah adiknya.


"Selamat pagi Yang Mulya Putri Mahkota."


Sambut Clarissa sambil berangkulan sejenak


dengan Raya di saksikan semua orang yang


nampak terdiam tenang dan santai.


"Selamat pagi Miss Clara sayang.."


Sahut Raya dengan panggilan akrabnya sambil


mencubit dagu lonjong Clarissa. Aaron mulai


duduk dengan tenang di samping Raja William.


Kemudian di susul oleh Raya yang duduk di


samping Dev dan Clarissa.


"Selamat pagi kak Dev.."


Raya membenahi duduknya, lalu memasang


serbet di pangkuannya sambil melirik kearah


Devan yang kini membantu memasang carik


kain putih itu di atas paha Raya.


"Selamat pagi Yang Mulya Putri Mahkota.."


Sahut Dev santai dan tenang. Keduanya saling


pandang sesaat. Raya tersenyum lembut. Dev


menarik nafas berat mencoba menetralkan detak jantung dan aliran darahnya yang tiba-tiba saja


jadi kacau saat melihat senyuman Raya, sungguh dahsyat.! Jiwanya semakin gelisah saat aroma


wangi lembut nan membuai menguar dari tubuh


Raya yang duduk di sampingnya itu dan langsung


menerbangkan angannya. Gila.! Apa-apaan ini,


kenapa jiwanya memberontak seperti ini.?


Sadarlah Dev.. Maharaya ini adik sepupu mu..


Dia juga sudah menjadi milik lelaki itu..!


Devan kembali menarik nafas dalam-dalam dan


menundukkan kepalanya menyembunyikan apa


yang tengah di rasakannya saat ini. Namun dia


tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Aaron.


Sang pangeran tahu arti tatapan pria gagah ini.


Wajah Aaron tampak berubah datar dan dingin.


Namun dia berusaha untuk tetap tenang dan


memasang ekspresi normal.


"Baiklah saudaraku semuanya..Mari kita mulai


acara sarapan pagi yang sangat istimewa ini


dengan berdoa terlebih dahulu menurut agama


dan kepercayaan masing-masing."


Raja William membuka acara sarapan pagi itu


dengan basa-basi sebentar di sambut anggukan


kepala semua orang. Tidak lama para pelayan


mulai bergerak rapi dan cekatan melayani semua


orang dengan telaten. Akhirnya sarapan pagi itu


pun berlangsung. Dan selama itu pula, dengan


sabar Aaron menyuapi Raya yang tiba-tiba saja


mogok makan. Perutnya di awal terasa tidak


nyaman, namun setelah di suapi Aaron barulah


dia mau melanjutkan sarapannya.


Devan dan para pria lainnya, di antaranya Rayen


serta dua pangeran charming, tampak mencuri


pandang kearah Aaron yang terlihat menikmati


sekali perannya sebagai suami Maharaya. Ada


perasaan tidak nyaman yang kini menggelayuti


"Minum obat ini sayang.. Ibu lihat kau masih


suka mogok makan."


Ratih Ayu memberikan obat khusus pada Raya


yang langsung menerimanya kemudian cepat


meminumnya.


"Sebenarnya kehamilannya sedikit berbeda dari


orang lain Princess Ratih. Dia sangat kuat dan


tidak pernah mengeluh sedikitpun."


Ratu Virginia berucap sambil menatap tenang


wajah Raya yang tersipu. Ratih Ayu tersenyum,


putri nya itu kan wanita istimewa.


"Tentu saja Yang Mulya Ratu..dia memang tidak


akan pernah mengeluh, hanya..mungkin akan


sedikit merepotkan orang-orang di sekitarnya."


"Ibuu... jangan membuka kartuku..."


Raya merajuk malu. Wajahnya tampak bersemu


merah. Aaron menyeringai tipis sambil meraih


bahu Raya ke dalam rengkuhannya, kemudian


mengecup lembut pelipis istrinya itu.


"Apapun yang kau inginkan..aku akan berusaha


untuk memenuhi nya."


Bisik Aaron lembut yang membuat wajah Raya


semakin bertambah merah. Keduanya saling


menatap lembut. Devan memalingkan wajah


melihat keintiman mereka berdua.


"Putra Mahkota.. bukankah ada hal yang ingin


kau sampaikan pada Putri Mahkota.?"


Raja William berucap setelah mereka selesai


dengan sarapannya dan kini mulai mencicipi


hidangan penutup. Semua orang kini menatap


kearah Aaron yang tampak menegakkan badan


lalu menarik napas perlahan.


"Apa yang ingin kau sampaikan sayang.? Apa


ada sesuatu yang penting.?"


Raya menatap lekat wajah Aaron yang kini


berpaling padanya. Keduanya kembali saling


pandang lekat. Raya menautkan alisnya.


"Yes baby.. Kapal ini baru saja selesai di buat.


Ini adalah pelayaran pertamanya. Aku sengaja


menyiapkan semua ini. Aku persembahkan


kapal pesiar Queen Maharaya.. ini untukmu..


sebagai hadiah pernikahan kita..! Kapal ini jadi


milikmu sekarang.."


Raya tercengang, wajahnya langsung memutih,


dia menutup mulutnya. Sementara itu semua


keluarga besarnya tampak menganga lebar.


Wajah mereka tampak syok luar biasa. Prince


Marvell mempersembahkan kapal pesiar super


mewah ini sebagai kado pernikahan.??


***


Liburan yang sangat luar biasa..


Kejutan demi kejutan terus di terima oleh Raya.


Dia seakan ketiban bulan. Tapi semua itu bagi


Raya biasa saja. Karena sejatinya dia tidak


pernah menginginkan materi berlebih. Yang


dia inginkan hanyalah cinta dan kasih sayang


Aaron semata.


Siangnya semua orang di bawa naik kapal selam


untuk berwisata dalam laut, melihat keindahan


dan keajaiban yang ada di kedalaman laut di


tengah samudera. Mereka begitu antusias saat


berada di dalam kapal super canggih itu. Dan


sore harinya mereka melakukan diving di salah


satu spot wisata terbaik yang di kunjungi. Ini

__ADS_1


liburan yang sangat menyenangkan bagi semua


orang, tidak ada yang tidak menikmatinya.


Akhirnya setelah menghabiskan waktu dua hari


dua malam bersama, seluruh keluarga besar Raya berpamitan karena mereka harus kembali pada


segala rutinitas padatnya. Dan mereka berjanji


akan kembali berkumpul pada kesempatan lain.


Devan dan Clarissa tampak sangat berat berpisah


dengan Raya, namun apa mau dikata, semua


orang punya kesibukan sendiri-sendiri.


"Jaga dirimu baik-baik..Kita akan bertemu lagi


nanti.. Aku akan sering menengok mu."


Ujar Devan sambil melepas Raya dari dekapan


eratnya dan bersiap untuk naik keatas helikopter


canggihnya yang sudah menunggu. Raya tampak


menatap berat kearah kakak sepupunya itu. Dan


Dev pun terlihat menatapnya lekat, seolah sedang


mengukir wajah elok itu dalam benaknya. Aaron menarik bahu Raya ke dalam rengkuhannya saat melihat Sang Raja Entertainment itu tidak juga


beranjak pergi, hatinya benar-benar kesal.


"Selamat jalan Mr Elajar.. Semoga lancar segala urusannya.! Kita akan bertemu lain waktu.!"


Tegas Aaron dengan wajah datar dan tatapan


yang sangat menusuk. Devan tersenyum tipis


sambil kemudian merapihkan jas nya. Pria itu


tampak sangat gagah dan mempesona dengan


aura istimewa yang menyelubungi dirinya.


"Andai aku menemukan nya terlebih dahulu dari


dirimu..mungkin Tuhan masih bisa mengubah


takdir cinta nya. Aku akan mengawasi kalian..


Aku belum yakin padamu Underground Devil.!"


Desis Devan berat sambil kembali menatap wajah


Raya yang sedikit berlinang air mata. Setelah itu


dia mulai melangkah tenang naik keatas pesawat. Sampai pesawat itu semakin mengudara mata


Devan tidak lepas dari sosok Raya yang sedang


melambaikan tangan kearah nya. Hal itu membuat Aaron mengembuskan nafas kasar. Dia segera mengangkat tubuh Raya ke dalam gendongannya


menuruni tangga, mereka harus segera turun


ke geladak bawah karena harus menyebrang


memakai kapal kecil untuk mencapai tempat


tujuan selanjutnya.


"Shit ! ternyata semua mata laki-laki sama saja


saat melihatmu. Apa aku harus menutup seluruh


wajahmu ini hah.? Kau tahu, saudara sepupumu


itu sangat berbahaya. !!"


Geram Aaron dengan wajah yang terlihat sangat


dingin. Raya melilitkan tangannya di leher Aaron dengan alis bertaut dalam. Dia tidak mengerti


kenapa sang suami marah-marah tidak jelas.


"Ada apa sayang..? Kok kamu aneh begini.?


Apa ada yang salah dengan kak Devan.?"


"Jangan menyebut nama nya di depanku.!"


"Loh.. memang nya kenapa, ada yang salah.?"


"Yes..! aku tidak ingin mendengar nya.!"


"Hei.. sayang.. kau tahu bukan kalau dia itu


saudara sepupuku.?"


"Aku tahu, tapi aku tidak suka dengan nya.! "


"Kau ini benar-benar aneh. Apa kalian sudah


saling mengenal sebelumnya.?"


Aaron terdiam. Tapi wajahnya terlihat semakin


dingin saja. Raya merebahkan kepalanya di


dada Aaron sambil mengulum senyum.


"Aku tahu kau cemburu padanya. Tapi dia hanya seorang kakak bagiku sayang..tidak lebih dari itu.


Lalu kenapa kamu harus gelisah seperti ini.?"


Aaron memalingkan wajahnya. Entah kenapa dia benar-benar tidak suka dengan kenyataan bahwa


Bos Universal itu tampaknya memilki rasa yang


berbeda pada istrinya ini. Dia juga tidak menduga


kalau mereka berdua adalah saudara sepupu.


"Dia laki-laki yang mempunyai pengaruh cukup


besar dalam dunia bisnis internasional.!"


Raya terkejut, dia mengangkat wajahnya. Sorot


matanya tampak tidak percaya.


"Benarkah itu.? Kalau begitu kau pasti sangat


mengenalnya bukan.?"


Aaron mendengus sebal. Raya semakin di landa


rasa penasaram melihat reaksi Aaron. Ada apa


dengan suaminya ini.? Dari kemarin dia dan Dev tampaknya kurang harmonis, selalu saja sinis.


"Ada apa dengan kalian berdua sebenarnya.?"


"He is my rival..!!"


Mata Raya melebar, tak percaya.. saingannya.?


Saingan apaan dulu nih.?


***


Aaron membawa Raya masuk ke dalam kapal


layar kecil yang akan membawa mereka pergi


ke sebuah pulau. Satu jam kemudian kapal itu


sudah berlabuh di sebuah dermaga kecil. Dari


sana mereka kembali melanjutkam perjalanan


dengan menaiki mobil untuk mencapai pulau


pribadi. Dan akhirnya lewat tengah hari mereka


tiba juga di pulau.


Raya menatap takjub pulau pribadi yang kini ada


di depan matanya. Ini adalah tempat yang sangat


indah nan eksotis. Pulau ini berada di kawasan


negara lain yang separuh wilayahnya berupa


lautan lepas. Tempat ini begitu menakjubkan, di


kelilingi gugusan pulau-pulau kecil tersembunyi


yang terlihat di beberapa sudut wilayah nya. Dan


konon pulau-pulau terpencil itu memang ada


penghuninya. Hanya saja para penghuni nya


tersebut jarang di jumpai oleh para pelancong.


Raya benar-benar terpukau pada suguhan segala


keindahan yang ada di depan matanya itu..


Air laut di pulau ini sangatlah menakjubkan. Bisa


berubah sesuai dengan bias cahaya matahari


yang memantul di atas permukaan nya. Ombak


nya juga sangat tenang dan aman. Raya bermain


air sepuasnya di pantai bersama dengan Arabella, Alluna, Alea dan semua pelayan pribadi mereka


hingga waktu tak terasa merayap menjelang sore..


"Kau harus istirahat sekarang baby.. Besok kita


akan melanjutkan acara senang-senang nya."


Aaron berucap sambil kemudian mengangkat


tubuh basah Raya ke dalam pangkuannya di


bawa berjalan menuju ke arah villa apung yang


ada di atas permukaan air laut. Bangunan megah


itu mampak sangat indah dan eksotis..


Raya tersentak ketika sudut matanya menangkap


pergerakan aneh di kejauhan.. Dia menajamkan


pandangannya mencoba menembus batas. Alis


nya kini bertaut ketika dia melihat ada banyak


mata-mata aneh yang kini sedang mengintai dan


mengawasi tempat itu.


"Apakah menurut mu tempat ini aman.?"


Raya bertanya masih mengawasi kejauhan.


Aaron menyeringai tipis dan terlihat datar.


"Selama ini semuanya aman-aman saja.!"


"Tapi sekarang banyak pengintai sayang."


"Aku tahu.. biarkan mereka bermain.!"


Desis Aaron sambil mendaratkan satu ciuman


lembut di bibir Raya yang menyambutnya hangat.


Mereka berdua tidak tahu pasti pengintai macam


apa yang kini bertebaran di sekitar pulau pribadi


itu. Yang jelas, pengintai itu bahkan lebih buas


dari binatang..


***

__ADS_1


__ADS_2