
***
Berakhir sudah pesta megah dan meriah itu...
Dan malam itu juga Aaron memboyong seluruh
keluarga besarnya, baik dari pihak dia maupun
pihak Raya, pergi menuju pelabuhan. Bermaksud
mengajak mereka semua untuk berlayar menaiki
kapal pesiar yang baru saja selesai di buat. Dia
sengaja membawa mereka untuk berlibur bersama. Selain keluarganya, para sahabat sejatinya juga
turut serta dalam liburan ini. Hanya Ibu Suri yang
tidak bisa ikut karena dia harus istirahat total.
Mereka semua rata-rata menggunakan pesawat
pribadi masing-masing untuk bisa mencapai kapal
pesiar tersebut. Hanya Aaron dan Raya saja yang menaiki mobil karena Raya belum bisa melakukan penerbangan. Clarissa juga ikut naik mobil Raya,
kedua saudari sepupu itu seolah tidak ingin
terpisah. Mereka ingin menikmati moment ini
dengan sepuasnya.
Sayang sekali saudara sepupu dari keluarga
Serkan tidak bisa datang ke acara ini karena
mereka semua sedang menempuh pendidikan,
baik itu militer maupun pendidikan formal di
universitas islam terbaik dunia yang memiliki
peraturan super ketat hingga tidak bisa
sembarangan mendapat izin cuti.
Dini hari mereka akhirnya tiba di tempat tujuan.
Ukuran kapal pesiar ini sangat besar dan sangat mewah. Lebih megah dari kapal pesiar lainnya
yang selama ini biasa beroperasi dan berlayar, menjelajah ke berbagai belahan dunia. Dan yang membuat semua mata membelalak adalah
ketika melihat nama dari kapal pesiar ini..yaitu..
Queen Maharaya..Cruise..!!
Sementara orang yang sedang jadi pusat dari
segala keterkejutan semua orang saat ini justru
sedang meringkuk nyaman dalam gendongan
Aaron begitu mereka masuk ke dalam kapal
pesiar tersebut..
Tidak lama kapal pesiar super besar dan super
megah yang mengundang decak kagum semua keluarga itu pun mulai bergerak mengarungi
samudera menuju destinasi yang di inginkan.
Keluarga angkat Raya tidak habis pikir, ini luar
biasa, setajir inikah keluarga De Enzo.?
Seperti biasa Aaron dan Raya menempati kamar
pribadi di lantai paling atas. Raya benar-benar
lelah, begitu Aaron membaringkan tubuhnya di
atas tempat tidur dia langsung saja terlelap tidak
ingat apa-apa lagi. Bahkan saat Aaron mengganti
pakaiannya dengan yang lebih nyaman dia tidak
menyadarinya sama sekali. Suaminya itu dengan
sabar dan telaten membersihkan tubuhnya dan
mengganti pakaiannya agar dia bisa beristirahat
dengan nyaman tanpa gangguan.
Setelah selesai membersihkan diri, Aaron naik
ke atas tempat tidur. Tangannya menarik pelan
tubuh halus lembut istrinya itu ke dalam pelukan
nya, menciumi puncak kepalanya dan keningnya,
lalu menatap teduh wajah lelah istrinya itu.
"Kau pasti lelah sekali saat ini sayang..Terlalu
banyak kejutan yang mengguncang jiwamu.
Dan aku harus mengatakan satu fakta lagi
tentang saudari sepupu mu.."
Bisik Aaron dengan tatapan yang semakin lekat.
Perlahan dia mendaratkan ciuman lembut di
bibir merah jambu itu, ********** pelan dan
halus, menikmati sensasi manis dan lembut
kenyal dari bibir bermadu itu. Di bawah alam
sadarnya Raya membalas ciuman itu membuat
Aaron tersenyum tipis. Dia kembali menguasai
bibir halus lembut itu , menikmati kesenangan
nya sendiri, dan anehnya dalam keadaan tidur
Raya membalas serangan liar suaminya itu.
"Aaron sayang... kamu sangat nakal."
Gumam Raya sambil kemudian melepaskan
pertautan bibir mereka. Dia mendesah lembut
saat bibir Aaron mulai turun mencumbu halus
leher jenjangnya, lalu turun lagi ke bagian bawah,
tepat di dua gunung kembar kesukaannya, dia
bermain sedikit panas di sana terdorong oleh
hasrat yang tiba-tiba saja merangkak naik.
"Sayang.. sudah.. aku lelah.. aku ngantuk.."
Raya merintih halus saat bibir Aaron menggigit
pelan puncak gunung kembarnya bergantian
dengan panas dan menggebu karena gairahnya
kini sudah memanaskan seluruh aliran darahnya.
Sudah sejak tadi dia ingin menikmati kelembutan
dan kehangatan tubuh istrinya ini. Sejak acara di
gelar wanita miliknya ini sudah membuat tubuh
bagian bawahnya tersiksa karena tidak tahan
melihat penampilannya yang aduhai.. sangat
menggoda dan menggiurkan.!
"Aku menginginkan mu sayang.. aku sangat
merindukan kehangatan mu.."
Bisik Aaron serak dan parau dengan tatapan
yang sudah di kuasai oleh hawa nafsu. Mata
Raya akhirnya terbuka dengan malas, mereka
saling menatap, Aaron dengan kabut gairahnya
sementara Raya dengan kelelahannya.
"Tapi aku ngantuk sayang..besok pagi saja yaa..
Aku benar-benar lelah sekarang.."
Aaron menatap kecewa wajah Raya yang kini
kembali memejamkan matanya, menggulung
tubuhnya, masuk ke dalam rengkuhan kuat
suaminya itu yang kini hanya bisa menarik
nafas berat mencoba mengontrol hasratnya.
Akhirnya Aaron pasrah, dia juga tidak tega
kalau harus memaksa Raya melayani semua
keinginannya yang tidak akan bisa tuntas dalam
waktu singkat, setidaknya butuh waktu 1 jam
dalam setiap kali bermain. Dia kembali menarik
tubuh Raya, mengurungnya dengan posesif.
"Aku mencintaimu Aaron Marvell De Enzo."
Gumam Raya sambil menyusupkan wajahnya
ke dalam belahan dada bidang suaminya itu.
Hati Aaron begitu hangat mendengar kata-kata
cinta senantiasa meluncur mulus dari bibir Raya.
Wanita yang telah di paksanya untuk mengikuti
perjalanan hidupnya sampai di titik ini.
"Aku juga mencintaimu Maharaya.. Kau tahu,
cintaku lebih besar darimu. Baiklah sayang..
kita tidur sekarang..hanya tidur. Aku tidak akan mengganggumu untuk saat ini."
Bisik Aaron sambil kemudian mengecup kening
Raya dan mulai memejamkan mata, mencoba
untuk mengistirahatkan seluruh jiwa dan raganya. Mereka berdua memang cukup kelelahan.
***
Pagi hari yang cerah di tengah lautan lepas yang
entah sudah berada di belahan samudera mana.
Seluruh keluarga saat ini sudah ada di ruang
perjamuan yang terlihat sangat luas dan megah.
Mereka semua sudah menempati posisi duduk masing-masing menghadap hidangan sarapan
pagi yang begitu mewah dan berkelas.
Raja William menempati posisi duduk di kursi
utama bersebrangan dengan Tuan Wiratama.
Semua posisi sudah di atur sedemikian rupa.
__ADS_1
Tidak lama Aaron dan Raya muncul ke dalam
ruang perjamuan dengan raut wajah terlihat
cerah berseri, terlebih bagi Aaron karena dia
baru saja mendapatkan kepuasan. Tadi pagi
Raya telah memberikan servis luar biasa yang
membuat dia seakan masih melayang-layang
saat ini. Istrinya itu mendominasi permainan.
Semua orang menatap terpukau kearah mereka
seakan tidak bisa melepaskan pandangan dari pasangan super romantis itu. Apalagi Devan..
matanya tampak tak bisa lepas dari sosok adik sepupunya itu. Sungguh aneh.! Kenapa dia harus merasakan hal yang berbeda ini, padahal dia
sadar sepenuhnya kalau wanita yang sedang
mendekat kearah nya itu adalah adiknya.
"Selamat pagi Yang Mulya Putri Mahkota."
Sambut Clarissa sambil berangkulan sejenak
dengan Raya di saksikan semua orang yang
nampak terdiam tenang dan santai.
"Selamat pagi Miss Clara sayang.."
Sahut Raya dengan panggilan akrabnya sambil
mencubit dagu lonjong Clarissa. Aaron mulai
duduk dengan tenang di samping Raja William.
Kemudian di susul oleh Raya yang duduk di
samping Dev dan Clarissa.
"Selamat pagi kak Dev.."
Raya membenahi duduknya, lalu memasang
serbet di pangkuannya sambil melirik kearah
Devan yang kini membantu memasang carik
kain putih itu di atas paha Raya.
"Selamat pagi Yang Mulya Putri Mahkota.."
Sahut Dev santai dan tenang. Keduanya saling
pandang sesaat. Raya tersenyum lembut. Dev
menarik nafas berat mencoba menetralkan detak jantung dan aliran darahnya yang tiba-tiba saja
jadi kacau saat melihat senyuman Raya, sungguh dahsyat.! Jiwanya semakin gelisah saat aroma
wangi lembut nan membuai menguar dari tubuh
Raya yang duduk di sampingnya itu dan langsung
menerbangkan angannya. Gila.! Apa-apaan ini,
kenapa jiwanya memberontak seperti ini.?
Sadarlah Dev.. Maharaya ini adik sepupu mu..
Dia juga sudah menjadi milik lelaki itu..!
Devan kembali menarik nafas dalam-dalam dan
menundukkan kepalanya menyembunyikan apa
yang tengah di rasakannya saat ini. Namun dia
tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Aaron.
Sang pangeran tahu arti tatapan pria gagah ini.
Wajah Aaron tampak berubah datar dan dingin.
Namun dia berusaha untuk tetap tenang dan
memasang ekspresi normal.
"Baiklah saudaraku semuanya..Mari kita mulai
acara sarapan pagi yang sangat istimewa ini
dengan berdoa terlebih dahulu menurut agama
dan kepercayaan masing-masing."
Raja William membuka acara sarapan pagi itu
dengan basa-basi sebentar di sambut anggukan
kepala semua orang. Tidak lama para pelayan
mulai bergerak rapi dan cekatan melayani semua
orang dengan telaten. Akhirnya sarapan pagi itu
pun berlangsung. Dan selama itu pula, dengan
sabar Aaron menyuapi Raya yang tiba-tiba saja
mogok makan. Perutnya di awal terasa tidak
nyaman, namun setelah di suapi Aaron barulah
dia mau melanjutkan sarapannya.
Devan dan para pria lainnya, di antaranya Rayen
serta dua pangeran charming, tampak mencuri
pandang kearah Aaron yang terlihat menikmati
sekali perannya sebagai suami Maharaya. Ada
perasaan tidak nyaman yang kini menggelayuti
"Minum obat ini sayang.. Ibu lihat kau masih
suka mogok makan."
Ratih Ayu memberikan obat khusus pada Raya
yang langsung menerimanya kemudian cepat
meminumnya.
"Sebenarnya kehamilannya sedikit berbeda dari
orang lain Princess Ratih. Dia sangat kuat dan
tidak pernah mengeluh sedikitpun."
Ratu Virginia berucap sambil menatap tenang
wajah Raya yang tersipu. Ratih Ayu tersenyum,
putri nya itu kan wanita istimewa.
"Tentu saja Yang Mulya Ratu..dia memang tidak
akan pernah mengeluh, hanya..mungkin akan
sedikit merepotkan orang-orang di sekitarnya."
"Ibuu... jangan membuka kartuku..."
Raya merajuk malu. Wajahnya tampak bersemu
merah. Aaron menyeringai tipis sambil meraih
bahu Raya ke dalam rengkuhannya, kemudian
mengecup lembut pelipis istrinya itu.
"Apapun yang kau inginkan..aku akan berusaha
untuk memenuhi nya."
Bisik Aaron lembut yang membuat wajah Raya
semakin bertambah merah. Keduanya saling
menatap lembut. Devan memalingkan wajah
melihat keintiman mereka berdua.
"Putra Mahkota.. bukankah ada hal yang ingin
kau sampaikan pada Putri Mahkota.?"
Raja William berucap setelah mereka selesai
dengan sarapannya dan kini mulai mencicipi
hidangan penutup. Semua orang kini menatap
kearah Aaron yang tampak menegakkan badan
lalu menarik napas perlahan.
"Apa yang ingin kau sampaikan sayang.? Apa
ada sesuatu yang penting.?"
Raya menatap lekat wajah Aaron yang kini
berpaling padanya. Keduanya kembali saling
pandang lekat. Raya menautkan alisnya.
"Yes baby.. Kapal ini baru saja selesai di buat.
Ini adalah pelayaran pertamanya. Aku sengaja
menyiapkan semua ini. Aku persembahkan
kapal pesiar Queen Maharaya.. ini untukmu..
sebagai hadiah pernikahan kita..! Kapal ini jadi
milikmu sekarang.."
Raya tercengang, wajahnya langsung memutih,
dia menutup mulutnya. Sementara itu semua
keluarga besarnya tampak menganga lebar.
Wajah mereka tampak syok luar biasa. Prince
Marvell mempersembahkan kapal pesiar super
mewah ini sebagai kado pernikahan.??
***
Liburan yang sangat luar biasa..
Kejutan demi kejutan terus di terima oleh Raya.
Dia seakan ketiban bulan. Tapi semua itu bagi
Raya biasa saja. Karena sejatinya dia tidak
pernah menginginkan materi berlebih. Yang
dia inginkan hanyalah cinta dan kasih sayang
Aaron semata.
Siangnya semua orang di bawa naik kapal selam
untuk berwisata dalam laut, melihat keindahan
dan keajaiban yang ada di kedalaman laut di
tengah samudera. Mereka begitu antusias saat
berada di dalam kapal super canggih itu. Dan
sore harinya mereka melakukan diving di salah
satu spot wisata terbaik yang di kunjungi. Ini
__ADS_1
liburan yang sangat menyenangkan bagi semua
orang, tidak ada yang tidak menikmatinya.
Akhirnya setelah menghabiskan waktu dua hari
dua malam bersama, seluruh keluarga besar Raya berpamitan karena mereka harus kembali pada
segala rutinitas padatnya. Dan mereka berjanji
akan kembali berkumpul pada kesempatan lain.
Devan dan Clarissa tampak sangat berat berpisah
dengan Raya, namun apa mau dikata, semua
orang punya kesibukan sendiri-sendiri.
"Jaga dirimu baik-baik..Kita akan bertemu lagi
nanti.. Aku akan sering menengok mu."
Ujar Devan sambil melepas Raya dari dekapan
eratnya dan bersiap untuk naik keatas helikopter
canggihnya yang sudah menunggu. Raya tampak
menatap berat kearah kakak sepupunya itu. Dan
Dev pun terlihat menatapnya lekat, seolah sedang
mengukir wajah elok itu dalam benaknya. Aaron menarik bahu Raya ke dalam rengkuhannya saat melihat Sang Raja Entertainment itu tidak juga
beranjak pergi, hatinya benar-benar kesal.
"Selamat jalan Mr Elajar.. Semoga lancar segala urusannya.! Kita akan bertemu lain waktu.!"
Tegas Aaron dengan wajah datar dan tatapan
yang sangat menusuk. Devan tersenyum tipis
sambil kemudian merapihkan jas nya. Pria itu
tampak sangat gagah dan mempesona dengan
aura istimewa yang menyelubungi dirinya.
"Andai aku menemukan nya terlebih dahulu dari
dirimu..mungkin Tuhan masih bisa mengubah
takdir cinta nya. Aku akan mengawasi kalian..
Aku belum yakin padamu Underground Devil.!"
Desis Devan berat sambil kembali menatap wajah
Raya yang sedikit berlinang air mata. Setelah itu
dia mulai melangkah tenang naik keatas pesawat. Sampai pesawat itu semakin mengudara mata
Devan tidak lepas dari sosok Raya yang sedang
melambaikan tangan kearah nya. Hal itu membuat Aaron mengembuskan nafas kasar. Dia segera mengangkat tubuh Raya ke dalam gendongannya
menuruni tangga, mereka harus segera turun
ke geladak bawah karena harus menyebrang
memakai kapal kecil untuk mencapai tempat
tujuan selanjutnya.
"Shit ! ternyata semua mata laki-laki sama saja
saat melihatmu. Apa aku harus menutup seluruh
wajahmu ini hah.? Kau tahu, saudara sepupumu
itu sangat berbahaya. !!"
Geram Aaron dengan wajah yang terlihat sangat
dingin. Raya melilitkan tangannya di leher Aaron dengan alis bertaut dalam. Dia tidak mengerti
kenapa sang suami marah-marah tidak jelas.
"Ada apa sayang..? Kok kamu aneh begini.?
Apa ada yang salah dengan kak Devan.?"
"Jangan menyebut nama nya di depanku.!"
"Loh.. memang nya kenapa, ada yang salah.?"
"Yes..! aku tidak ingin mendengar nya.!"
"Hei.. sayang.. kau tahu bukan kalau dia itu
saudara sepupuku.?"
"Aku tahu, tapi aku tidak suka dengan nya.! "
"Kau ini benar-benar aneh. Apa kalian sudah
saling mengenal sebelumnya.?"
Aaron terdiam. Tapi wajahnya terlihat semakin
dingin saja. Raya merebahkan kepalanya di
dada Aaron sambil mengulum senyum.
"Aku tahu kau cemburu padanya. Tapi dia hanya seorang kakak bagiku sayang..tidak lebih dari itu.
Lalu kenapa kamu harus gelisah seperti ini.?"
Aaron memalingkan wajahnya. Entah kenapa dia benar-benar tidak suka dengan kenyataan bahwa
Bos Universal itu tampaknya memilki rasa yang
berbeda pada istrinya ini. Dia juga tidak menduga
kalau mereka berdua adalah saudara sepupu.
"Dia laki-laki yang mempunyai pengaruh cukup
besar dalam dunia bisnis internasional.!"
Raya terkejut, dia mengangkat wajahnya. Sorot
matanya tampak tidak percaya.
"Benarkah itu.? Kalau begitu kau pasti sangat
mengenalnya bukan.?"
Aaron mendengus sebal. Raya semakin di landa
rasa penasaram melihat reaksi Aaron. Ada apa
dengan suaminya ini.? Dari kemarin dia dan Dev tampaknya kurang harmonis, selalu saja sinis.
"Ada apa dengan kalian berdua sebenarnya.?"
"He is my rival..!!"
Mata Raya melebar, tak percaya.. saingannya.?
Saingan apaan dulu nih.?
***
Aaron membawa Raya masuk ke dalam kapal
layar kecil yang akan membawa mereka pergi
ke sebuah pulau. Satu jam kemudian kapal itu
sudah berlabuh di sebuah dermaga kecil. Dari
sana mereka kembali melanjutkam perjalanan
dengan menaiki mobil untuk mencapai pulau
pribadi. Dan akhirnya lewat tengah hari mereka
tiba juga di pulau.
Raya menatap takjub pulau pribadi yang kini ada
di depan matanya. Ini adalah tempat yang sangat
indah nan eksotis. Pulau ini berada di kawasan
negara lain yang separuh wilayahnya berupa
lautan lepas. Tempat ini begitu menakjubkan, di
kelilingi gugusan pulau-pulau kecil tersembunyi
yang terlihat di beberapa sudut wilayah nya. Dan
konon pulau-pulau terpencil itu memang ada
penghuninya. Hanya saja para penghuni nya
tersebut jarang di jumpai oleh para pelancong.
Raya benar-benar terpukau pada suguhan segala
keindahan yang ada di depan matanya itu..
Air laut di pulau ini sangatlah menakjubkan. Bisa
berubah sesuai dengan bias cahaya matahari
yang memantul di atas permukaan nya. Ombak
nya juga sangat tenang dan aman. Raya bermain
air sepuasnya di pantai bersama dengan Arabella, Alluna, Alea dan semua pelayan pribadi mereka
hingga waktu tak terasa merayap menjelang sore..
"Kau harus istirahat sekarang baby.. Besok kita
akan melanjutkan acara senang-senang nya."
Aaron berucap sambil kemudian mengangkat
tubuh basah Raya ke dalam pangkuannya di
bawa berjalan menuju ke arah villa apung yang
ada di atas permukaan air laut. Bangunan megah
itu mampak sangat indah dan eksotis..
Raya tersentak ketika sudut matanya menangkap
pergerakan aneh di kejauhan.. Dia menajamkan
pandangannya mencoba menembus batas. Alis
nya kini bertaut ketika dia melihat ada banyak
mata-mata aneh yang kini sedang mengintai dan
mengawasi tempat itu.
"Apakah menurut mu tempat ini aman.?"
Raya bertanya masih mengawasi kejauhan.
Aaron menyeringai tipis dan terlihat datar.
"Selama ini semuanya aman-aman saja.!"
"Tapi sekarang banyak pengintai sayang."
"Aku tahu.. biarkan mereka bermain.!"
Desis Aaron sambil mendaratkan satu ciuman
lembut di bibir Raya yang menyambutnya hangat.
Mereka berdua tidak tahu pasti pengintai macam
apa yang kini bertebaran di sekitar pulau pribadi
itu. Yang jelas, pengintai itu bahkan lebih buas
dari binatang..
***
__ADS_1