Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
75. Komitmen


__ADS_3

Pagi hari yang cerah..


Raya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap


VVIP yang ada di lantai paling atas. Ini bukanlah


ruang perawatan rumah sakit, tapi lebih mirip


kamar hotel presidential suite class hanya saja


di lengkapi fasilitas kesehatan kelas wahid.


Saat ini Raya masih terbaring nyaman dalam


pelukan hangat Sang suami. Mereka berdua


terlihat begitu tenang dan damai, keberadaan


satu sama lain di sisi keduanya membuat jiwa


mereka seolah menyatu. Walau lengan kiri


Raya masih dalam keadaan terpasang selang


infus, namun hal itu tidak menjadi penghalang


keintiman diantara mereka. Sebenarnya Raya


tidak begitu menyadari semua ini karena sejak


dini hari tadi dia sudah terlelap tidur akibat


pengaruh obat penenang.


Terlihat sekali bagaimana posesif nya Sang


Pangeran terhadap istrinya itu sampai-sampai


tidak menyisakan ruang sedikitpun bagi Raya


untuk merasakan udara bebas. Tubuhnya kini


tenggelam seluruhnya di dalam kungkungan


tubuh gagah Aaron.


Para dokter, perawat dan seluruh staf yang ada


di rumah sakit ini, terutama yang berdinas di


lantai atas ini sudah mengambil sumpah untuk


tidak menceritakan apapun yang mereka lihat


dan mereka ketahui pada siapapun. Mereka


semua adalah para pengabdi Putra Mahkota..


Raya membuka mata, tatapan nya langsung


jatuh di wajah super tampan suaminya yang


ada di hadapannya, dia terlihat begitu tenang,


begitu manis dan menggemaskan. Bibir Raya


tersenyum penuh ironi, dia tidak menyangka


kalau akhirnya hatinya akan jatuh dan hanyut


dalam pesona yang di tebarkan oleh laki-laki


yang telah merenggut kesuciannya secara


paksa itu. Dia sudah benar-benar jatuh cinta


pada pria ini, cinta yang begitu dalam.


Ingatan Raya kembali berputar pada peristiwa


semalam, dimana kabar mengejutkan itu cukup membuat dirinya syok. Di dalam rahimnya kini


telah bersemayam benih seorang Aaron. Benih berharga seorang Putra Mahkota kerajaan xxx..


Ini seperti sebuah mimpi bagi dirinya. Hal yang


sama sekali tidak di duga nya karena selama satu


bulan ini dia tidak merasakan apapun. Mungkin


sebenarnya dirinya tidak menyadarinya saja.


Tangannya perlahan mengelus lembut perut


datarnya dengan senyum tipis yang terukir


manis di bibir merah alaminya.


"Good morning My lady.."


Raya tersentak kaget, dia mendongak, matanya


bertemu dengan sepasang mata elang bermanik


coklat gelap yang telah mampu membuat dirinya


jatuh ke dalam dasar samudra cinta miliknya.


Mereka saling menatap kuat. Dengan gerakan


cepat bibir Aaron menyambar bibir ranum Raya


dan ********** kuat membuat Raya terkejut


lalu memundurkan tubuhnya sambil mendelik


kesal dan mendorong dada suaminya itu.


"Aaron.. apa-apaan kamu, ini masih pagi..!"


"Memang nya kenapa, ada yang salah.?"


"Kita sedang ada di rumah sakit Aaron.!"


"Rumah sakit ini milikku, milikmu juga. Kita


bebas melakukan apapun di sini.!"


"Aaron.. sudah hentikan, kau sangat arogan.!"


Raya berdecak kesal sambil berusaha menjauh,


namun sesaat kemudian dia memekik saat


Aaron menarik kembali pinggangnya hingga


tubuh mereka kini merapat. Otomatis dada


sintal Raya yang indah menempel ketat di dada


Aaron membuat darah Aaron seketika bergolak,


tatapannya terlihat semakin berat. Dia sudah


sangat merindukan tubuh istimewa istrinya ini.


Raya melebarkan matanya saat menyadari


sesuatu milik Aaron kini sudah menegang


dengan sempurna dan menekan tubuh bagian


bawah miliknya membuat dia panas dingin.


Wajah Raya langsung memerah, saat bayangan


bagaimana gagah dan sempurna nya tubuh


Aaron serta seperkasa apa junior miliknya itu


tiba-tiba melintas di pikirannya dan membakar


aliran darahnya. Tatapan Aaron kini semakin


dalam, dia mendekatkan wajahnya membuat


Raya semakin tegang.


"I want you baby..."


Raya menggeleng kuat sambil menjauhkan


dirinya saat bibir Aaron kini menyambar leher


jenjang nya dan tanpa jeda langsung bermain


liar di sana. Mengecupnya lembut, menghisap


dan menggigitnya pelan di semua bagian


mencoba meninggalkan jejak kepemilikan.


"Eemhh.. Aaron..aku mohon lepaskan aku..


Kita tidak bisa melakukan ini di sini..!"


"Kenapa tidak, kita bisa melakukannya


dimana pun kita suka..!"


"Aakhh.. Aaron..aku..aku tidak kuat lagi.."


"Baiklah..kita akan melakukannya segera..!"


"Aaron..aku benar-benar sudah tidak kuat lagi


sekarang.. emhhh..."


Raya mendorong dada Aaron dengan kuat


membuat Aaron terpaksa melepas ciumannya


di leher Raya. Namun dia terkejut saat melihat


Raya menutup mulutnya sambil berusaha


bangkit dengan tergesa-gesa.


"Apa yang terjadi dengan mu.?"


"Aku mau ke kamar mandi.! Cepat bantu aku


melepas semua ini...!'"


Seru Raya sambil mematikan fungsi infusan


dan meraih botol cairannya yang ada di bagian


atas kepala ranjang. Aaron tampak panik, tanpa


kata lagi dia segera mengangkat tubuh Raya di


bawa berlari ke dalam kamar mandi dan begitu


tiba di wastafel Raya langsung mengeluarkan


seluruh isi perutnya. Untuk sesaat Aaron malah


berdiri bengong seperti orang kesambet melihat


Raya berjuang sendiri dan terlihat sangat tersiksa. Namun tidak lama kemudian dia menyambar


tubuh Raya, mendekapnya erat dan membantu semampunya dengan memijat tengkuk lehernya


dan mengusap lembut rambut serta dahinya


yang di penuhi keringat.


Setelah cukup lama akhirnya Raya terkulai lemas


dalam pangkuan Aaron karena kehilangan tenaga.


Aaron meraih handuk kecil tipis, membasuhnya


kemudian dengan telaten membersihkan wajah


Raya yang di penuhi keringat dingin. Setelah itu


dia menggendong tubuh lemah itu kembali ke


ruangan dan membaringkannya di atas ranjang


dengan hati-hati. Dia juga membantu Raya


meminum air putih agar tidak dehidrasi.


Aaron segera menekan tombol darurat yang ada


di atas ranjang, kembali merangkul dan memeluk


erat tubuh Raya, menciumi keningnya berkali-kali.


Wajahnya saat ini terlihat sangat dingin dipenuhi


kecemasan dan kekhawatiran berlebih.


"Apa yang terjadi dengan mu.? Kenapa kamu


muntah-muntah seperti itu tadi.."


Desis Aaron semakin mempererat pelukannya.


Raya membuka mata yang dari tadi terpejam


karena merasa sedikit pusing serta lemas.


"Tidak apa-apa Aaron. Itu adalah hal yang biasa


terjadi pada wanita yang sedang hamil muda."


"Tapi kau sangat menderita. ! Ini pasti karena


mereka tidak memberikan penanganan yang


tepat dan benar padamu.!"

__ADS_1


"Tidak, bukan karena itu Aaron.. Percayalah..


semua ini wajar terjadi."


"Tidak.! Aku harus memberi mereka hukuman


karena sudah bekerja dengan ceroboh..!!"


"Aaron..jangan gila..ini semua.."


Ucapan Raya tertahan karena ke dalam ruangan


muncul Alea, beberapa dokter serta barisan para


perawat yang langsung menghampiri mereka dan membungkuk setengah badan di hadapan Aaron kecuali Alea yang langsung mengecek kondisi


Raya setelah Aaron melepas pelukannya.


"Apa saja kerja kalian di tempat ini.? Kenapa


menangani satu pasien saja tidak becus.!"


Aaron membentak dan menatap marah kearah


barisan para dokter dan perawat tersebut yang


semakin menundukkan kepalanya di tengah


kebingungan, kenapa Sang Pangeran tiba-tiba


memarahi mereka. Alea yang sedang mengecek


dan memeriksa infusan di tangan Raya tampak


terkejut dengan kemarahan Aaron.


"Aaron.. jangan memarahi mereka. Aku tidak


apa-apa. Kau jangan berlebihan seperti itu.."


Raya meraih tangan Aaron, namun tampaknya


Aaron benar-benar sedang berada pada mode


kesal dan emosi tingkat tinggi.


"Apa yang kalian lakukan pada istriku.? Kenapa


dia muntah-muntah sampai harus kehilangan


tenaga, obat macam yang kalian berikan hahh.?"


Raya langsung menggelengkan kepala seraya


mengurut keningnya tidak tahan dengan semua


kekonyolan Aaron. Sementara Alea dan barisan


bawahannya tampak bengong. Jadi.. Pangeran


Aaron marah-marah karena gejala morning


sickness yang di alami oleh Sang istri.??


"Maafkan kami Yang Mulya.. Sungguh kami


sudah melakukan semua yang terbaik untuk


Lady..Ini semua salah kami.."


Salah seorang dokter senior langsung duduk


bersimpuh di lantai di ikuti oleh yang lainnya.


"Maafkan kami Yang Mulya.. Kami semua siap


menerima hukuman karena tidak bekerja


dengan baik."


"Tentu saja..! Kalian memang harus di hukum.!"


"Aaron.. sayang.. sudah. Aku mohon hentikan


semua ini. Dengarkan dulu penjelasan Alea."


Raya tidak tahan lagi, dia segera meraih wajah


Aaron yang terlihat sangat dingin itu hingga kini


mata mereka saling menatap, ada sinar redup


yang keluar dari mata indah Raya dan mampu meredam emosi Aaron dalam sekejap. Namun


sialnya hal itu malah memercik gairah dalam


diri Aaron kembali bangkit hingga amarahnya


kini tergantikan oleh hasrat yang melonjak dan


tidak mengenal situasi .


"Tapi mereka sudah melakukan kecerobohan.


Aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja.


Itu tidak boleh terulang.!"


"Jadi karena itu Yang Mulya Putra Mahkota


sampai marah-marah seperti ini.?"


Alea mencibir sambil mengecek detak jantung


dan denyut nadi di tangan Raya dengan bibir


yang mengerucut geli.


"Jangan main-main kamu.! Kalian semua sudah


membuat nya menderita tadi. !"


Aaron kembali meraih tubuh Raya ke dalam


dekapan nya tidak peduli pada semua orang


yang anda di tempat itu yang benar-benar tidak menduga kalau Putra Mahkota akan seposesif


itu pada istri di belakang layar nya.


"Kakak.. mulai sekarang kau harus membaca


dan mempelajari artikel tentang wanita hamil.


Saat ini usia kandungan kakak ipar baru masuk


minggu ke 5. Jadi gejala muntah-muntah seperti


tadi adalah hal yang wajar dan itu menunjukan


kalau calon bayi kalian tumbuh dengan baik dan normal. Kakak tidak perlu khawatir..!"


Aaron terdiam, Raya tersenyum lembut seraya


mengelus lembut rahang tegas Aaron.


salah mereka. Oleh karena itu bebaskan mereka,


biarkan mereka kembali bekerja dengan tenang."


Raya merajuk seraya menatap Aaron penuh


dengan permohonan. Namun Aaron bergeming.


Dia menatap tajam paramedis itu yang masih


duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala.


"Tidak, mereka tetap bersalah dan harus di hukum.


Bukan kah kalian bisa memberikan obat terbaik


agar dia tidak harus mengalami hal seperti tadi.


Sekarang kalian lakukan push up 50 kali.!!"


Hahh.?? Para dokter dan suster termasuk Raya


dan Alea tampak terkejut, lemas seketika.


"Aaroonn.. kamu benar-benar keterlaluan.!"


Raya tidak tahan lagi, dia memukuli dada


bidang Aaron yang sedang menyeringai tipis


penuh kepuasan saat melihat paramedis itu


dengan patuh menjalankan hukumannya.


"Kau sudah menghukum mereka, sekarang


kau juga harus di hukum..!"


Raya berkata dengan tegas dan tampang wajah


yang terlihat kesal. Aaron langsung mematung.


"Apa maksudmu.? Hukuman apa.?"


Aaron menatap tajam wajah Raya yang kini


terlihat tersenyum tipis penuh arti.


"Kalian boleh keluar sekarang.!!"


Titah Raya pada paramedis yang terlihat


bingung, menghentikan gerakannya sesaat.


"Mereka belum menyelesaikan hukuman nya.!"


"Bagiku sudah cukup, mereka harus kembali


bekerja. Pasien lain sedang menunggu.!"


Aaron terdiam, menarik napas berat kemudian


menepiskan tangannya membuat mereka yang


masih setengah jalan menjalani hukuman itu


kini menghentikan gerakannya lalu bangkit.


"Terimakasih Yang Mulya.. terimakasih Lady


atas kemurahan hati anda."


Ucap mereka serempak sambil membungkuk


hormat di hadapan keduanya setelah itu berlalu


keluar ruangan. Raya tersenyum puas.


"Maharaya De Enzo..apa maumu sebenarnya.?"


Aaron berdiri, melipat kedua tangan di dadanya


sambil menatap tajam wajah Raya mulai kesal.


"Buka bajumu sekarang..!!"


Raya berucap sambil menatap kesal wajah Aaron


yang terlihat bereaksi aneh, antara bingung, geli


dan gemas. Dia segera membuka kaos putih pas


body yang membungkus tubuh gagahnya. Alea


yang masih berada di dalam ruangan sedang mengecek ruam di kulit Raya tampak menatap bingung dan menautkan alisnya. Drama apalagi


yang akan mereka pertontonkan.


"Alex, Benjamin masuk..!"


Raya berteriak membuat kedua bawahan setia


Aaron yang tidak pernah jauh dari depanpintu


itu langsung masuk ke dalam ruangan dan membungkuk di hadapan keduanya dengan


tampang sedikit bingung.


"Kami Lady. Apa yang harus kami lakukan.?"


"Kalian berdua temani Bos kalian. Lakukan


push up 200 kali sekarang juga..!! "


Alex dan Benjamin saling pandang. Ada apa


ini, kenapa mereka jadi di bawa-bawa.?


"Cepat lakukan sekarang juga, tunggu apalagi.!"


"Baik Lady.. laksanakan..!"


"Hei.. apa kau yang kau inginkan sebenarnya?


Kenapa kau menghukum ku seperti ini.!"


Aaron protes, namun tak urung dia bergerak


juga, mengambil posisi di pinggir ranjang.


"Jangan banyak protes, cepat lakukan.!!"


Geram Raya dengan raut wajah kesal yang kian


menggunung. Akhirnya mau tidak mau mereka


bertiga melaksanakan apa yang di perintahkan


oleh si Nyonya tukang perintah itu di saksikan

__ADS_1


Alea yang hanya bisa bengong melihat ketiga


pria itu tidak berkutik, terlebih bagi seorang


Aaron yang selama ini di kenalnya sangat anti


menerima perintah, walau perintah itu datang


dari Raja Williams sekalipun.


Bibir indah Raya tersenyum puas, matanya kini


tak berkedip, menatap lekat tubuh gagah Aaron


yang sedang melakukan gerakan push up dengan


satu tangan secara bergantian. Sebenarnya bagi mereka bertiga ini sih bukan hukuman, tapi


olahraga yang rutin di lakukan. Dan bagi Raya


dia hanya ingin menikmati bagaimana gagah


dan perkasanya tubuh sang suami. Wajahnya


tampak memerah. Dia merutuki diri sendiri yang


kini sudah ketularan mesum.. memalukan.!!


***


Siang ini suasana di dalam ruang perawatan


VVIP tempat Raya melakukan pemulihan sudah seperti di dalam kantor. Aaron melakukan semua


kegiatan operasional pekerjaan dan kesibukan


lainnya dari dalam ruangan ini. Ansel dan dua


orang sekretaris pribadi Aaron membawa semua


pekerjaan ke tempat ini. Aaron juga menyuruh


semua ketua pasukan bayangan untuk datang


secara rahasia ke tempat ini guna membahas


masalah besar yang kini mulai meledak di luar.


Kondisi Raya saat ini sudah semakin stabil.


Dia juga tidak menggunakan selang infus lagi.


Wajahnya sudah kembali merona dan anehnya


malah semakin terlihat bercahaya. Saat ini Aaron,


Raya, Ansel, dua sekretaris pribadi Aaron, serta


ketiga pimpinan pasukan bayangan berkumpul


di ruangan dalam. Duduk melingkar di atas sofa


menghadap layar monitor besar di tengah meja.


Hanya Alex yang tidak kelihatan saat ini karena


dia sedang menjalankan misi penting.


"Kakak lihat respon dari masyarakat luas atas


peristiwa semalam.!"


Ansel memperlihatkan beberapa aksi unjuk rasa


yang terjadi di berbagai lokasi menentang keras


apa yang di lakukan oleh Putra Mahkota karena


hal itu sudah merupakan pengkhianatan terhadap


kebijakan istana serta penghinaan besar terhadap


keluarga dan klan bangsawan yang setara dengan Winston big Family.


Aaron terdiam, menopang dagu dengan kedua


telapak tangannya. Sementara Raya terlihat


tidak nyaman melihat semua itu.


"Alfred Winston sudah mulai menjalankan misi


nya. Dia mulai menggerakan pasukan semut


kecilnya ke dalam gerombolan kecoa kelaparan."


Gumam Aaron sambil menatap tajam layar


monitor dengan sorot mata tenang dan santai.


"Benar Yang Mulya.. Sepertinya orang tua itu


sudah mulai kebakaran jenggot.!"


Benjamin menyahut sambil memainkan jarinya


di keyboard laptop melacak informasi penting


lainnya dan menampilkannya di layar.


"Yang Mulya ini adalah petisi dari berbagai


komunitas dan kelompok yang meminta agar


Lady De Enzo di deportasi dan di black list dari


mata dunia..!!"


Benjamin menampilkan aksi demo lain yang


lebih parah dan sedikit anarkis. Wajah Raya kini


benar-benar memucat. Aaron segera meraih


tubuh Raya ke dalam dekapannya. Kemudian


menatap tajam wajah cantik istrinya itu yang


terlihat sedikit syok.


"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak


ikut dalam pertemuan ini. Tapi kau berjanji


akan kuat melihat semua ini.!"


Raya memeluk erat tubuh Aaron kemudian


menyusupkan wajahnya di dada bidang nya.


"Aku kuat kok, aku harus mengetahui semua


ini. Tapi kau tidak boleh menyembunyikan


apapun dariku sekarang."


"Asalkan kamu berjanji akan selalu berjalan di


sampingku, aku akan mengatakan segalanya."


"Baiklah.. demi calon bayi ini, aku akan berada


di sisimu. Apapun yang terjadi, hanya Tuhan


yang bisa mengubah takdir hidupku. Dan aku


akan selalu berjalan di samping mu.!"


"Raya..ini baru awal, kau harus bertahan dan siap berperang melawan keluarga Winston. Kalau kau


sudah siap baru kita akan meluncurkan serangan


tandingan pada mereka.! Ini akan menjadi perang pribadi antara kau dan Catharina..! "


Raya mengangkat wajahnya, keduanya saling


pandang lekat dan kuat.


"Tapi Aaron.. apakah aku cukup pantas untuk


ikut dalam gerakan ini.? peluangku bahkan


sudah hilang sebelum terlihat. Asal usul ku


adalah kelemahanku..!"


"Kau sudah punya kedudukan sebelum perang


itu di mulai. Semua ini hanyalah formalitas saja


untuk meraih kepercayaan masyarakat.!"


"Baiklah.. Demi calon bayi ku. Aku akan tetap


berusaha mempertahankan mu di sisiku.!"


Wajah Aaron langsung memerah. Hatinya kini


di selimuti kehangatan dan kebahagiaan yang


tak terjabarkan. Apakah wanita yang awalnya


sangat membencinya itu sekarang sudah bisa


menerima kehadirannya dengan tulus.?


Aaron kembali mendekap erat tubuh Raya.


Sementara para bawahan hanya bisa bersikap


apatis dan kembali fokus pada pembahasan.


"Aaron..apa kau sudah tahu kalau Lucas adalah


Eden Wolf.?"


Glekk !


Semua orang mendongakan kepala..terdiam.. bengong..dan..


"Aku baru mengetahuinya..!"


Jawab Aaron acuh. Raya menatap wajah Aaron


mencoba mencari kebenaran.


"Kau..sudah tahu, kapan.?"


Mata mereka saling menatap kuat. Yang lain


tampak masih terdiam dan melihat Aaron sedikit


penasaran karena majikannya itu belum pernah


mengatakan hal ini pada mereka.


"Barusan..darimu..!!"


"Aaroonn... menyebalkan kamu..!!"


Aaron tampak menahan tawa tapi juga begitu


penasaran bagaimana Raya bisa mengetahui


semua itu. Dia memang sudah menduga dan


menganalisa semuanya tapi belum menarik


kesimpulan.


"Darimana kamu tahu kalau mereka adalah


orang yang sama.?"


"Dari aroma tubuh nya dan juga tatapan mata


nya, mereka berdua sama.."


"Maharayaa... kau mengenali aroma tubuh


pria lain selain aku..??!!"


Wajah Aaron seketika berubah kelam dengan


tatapan mata yang menyala di penuhi bara api


yang langsung membakar seluruh tubuhnya.


Raya berjingkat, segera menjauhkan diri dengan


raut wajah gusar dan tegang melihat sang suami


terbakar api kecemburuan yang sangat dahsyat.


Sementara para bawahannya pun memundurkan


tubuh mereka dan bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi..


"Rayaaa...oh my God..."


Dalam keadaan genting tiba-tiba saja ada suara


jeritan melengking yang membuat semua orang serentak menutup telinganya. Raya bangkit dari


duduknya dengan mata membulat sempurna..


"Jes... Jessica...Kau di sini...??"


Semua orang terdiam saat melihat dua sosok


ramping itu saling berhambur dan berpelukan


erat sambil menangis kencang membuat para


pria itu hanya bisa bengong tak bisa bergerak..

__ADS_1


***


__ADS_2