
Pagi hari yang cerah..
Raya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap
VVIP yang ada di lantai paling atas. Ini bukanlah
ruang perawatan rumah sakit, tapi lebih mirip
kamar hotel presidential suite class hanya saja
di lengkapi fasilitas kesehatan kelas wahid.
Saat ini Raya masih terbaring nyaman dalam
pelukan hangat Sang suami. Mereka berdua
terlihat begitu tenang dan damai, keberadaan
satu sama lain di sisi keduanya membuat jiwa
mereka seolah menyatu. Walau lengan kiri
Raya masih dalam keadaan terpasang selang
infus, namun hal itu tidak menjadi penghalang
keintiman diantara mereka. Sebenarnya Raya
tidak begitu menyadari semua ini karena sejak
dini hari tadi dia sudah terlelap tidur akibat
pengaruh obat penenang.
Terlihat sekali bagaimana posesif nya Sang
Pangeran terhadap istrinya itu sampai-sampai
tidak menyisakan ruang sedikitpun bagi Raya
untuk merasakan udara bebas. Tubuhnya kini
tenggelam seluruhnya di dalam kungkungan
tubuh gagah Aaron.
Para dokter, perawat dan seluruh staf yang ada
di rumah sakit ini, terutama yang berdinas di
lantai atas ini sudah mengambil sumpah untuk
tidak menceritakan apapun yang mereka lihat
dan mereka ketahui pada siapapun. Mereka
semua adalah para pengabdi Putra Mahkota..
Raya membuka mata, tatapan nya langsung
jatuh di wajah super tampan suaminya yang
ada di hadapannya, dia terlihat begitu tenang,
begitu manis dan menggemaskan. Bibir Raya
tersenyum penuh ironi, dia tidak menyangka
kalau akhirnya hatinya akan jatuh dan hanyut
dalam pesona yang di tebarkan oleh laki-laki
yang telah merenggut kesuciannya secara
paksa itu. Dia sudah benar-benar jatuh cinta
pada pria ini, cinta yang begitu dalam.
Ingatan Raya kembali berputar pada peristiwa
semalam, dimana kabar mengejutkan itu cukup membuat dirinya syok. Di dalam rahimnya kini
telah bersemayam benih seorang Aaron. Benih berharga seorang Putra Mahkota kerajaan xxx..
Ini seperti sebuah mimpi bagi dirinya. Hal yang
sama sekali tidak di duga nya karena selama satu
bulan ini dia tidak merasakan apapun. Mungkin
sebenarnya dirinya tidak menyadarinya saja.
Tangannya perlahan mengelus lembut perut
datarnya dengan senyum tipis yang terukir
manis di bibir merah alaminya.
"Good morning My lady.."
Raya tersentak kaget, dia mendongak, matanya
bertemu dengan sepasang mata elang bermanik
coklat gelap yang telah mampu membuat dirinya
jatuh ke dalam dasar samudra cinta miliknya.
Mereka saling menatap kuat. Dengan gerakan
cepat bibir Aaron menyambar bibir ranum Raya
dan ********** kuat membuat Raya terkejut
lalu memundurkan tubuhnya sambil mendelik
kesal dan mendorong dada suaminya itu.
"Aaron.. apa-apaan kamu, ini masih pagi..!"
"Memang nya kenapa, ada yang salah.?"
"Kita sedang ada di rumah sakit Aaron.!"
"Rumah sakit ini milikku, milikmu juga. Kita
bebas melakukan apapun di sini.!"
"Aaron.. sudah hentikan, kau sangat arogan.!"
Raya berdecak kesal sambil berusaha menjauh,
namun sesaat kemudian dia memekik saat
Aaron menarik kembali pinggangnya hingga
tubuh mereka kini merapat. Otomatis dada
sintal Raya yang indah menempel ketat di dada
Aaron membuat darah Aaron seketika bergolak,
tatapannya terlihat semakin berat. Dia sudah
sangat merindukan tubuh istimewa istrinya ini.
Raya melebarkan matanya saat menyadari
sesuatu milik Aaron kini sudah menegang
dengan sempurna dan menekan tubuh bagian
bawah miliknya membuat dia panas dingin.
Wajah Raya langsung memerah, saat bayangan
bagaimana gagah dan sempurna nya tubuh
Aaron serta seperkasa apa junior miliknya itu
tiba-tiba melintas di pikirannya dan membakar
aliran darahnya. Tatapan Aaron kini semakin
dalam, dia mendekatkan wajahnya membuat
Raya semakin tegang.
"I want you baby..."
Raya menggeleng kuat sambil menjauhkan
dirinya saat bibir Aaron kini menyambar leher
jenjang nya dan tanpa jeda langsung bermain
liar di sana. Mengecupnya lembut, menghisap
dan menggigitnya pelan di semua bagian
mencoba meninggalkan jejak kepemilikan.
"Eemhh.. Aaron..aku mohon lepaskan aku..
Kita tidak bisa melakukan ini di sini..!"
"Kenapa tidak, kita bisa melakukannya
dimana pun kita suka..!"
"Aakhh.. Aaron..aku..aku tidak kuat lagi.."
"Baiklah..kita akan melakukannya segera..!"
"Aaron..aku benar-benar sudah tidak kuat lagi
sekarang.. emhhh..."
Raya mendorong dada Aaron dengan kuat
membuat Aaron terpaksa melepas ciumannya
di leher Raya. Namun dia terkejut saat melihat
Raya menutup mulutnya sambil berusaha
bangkit dengan tergesa-gesa.
"Apa yang terjadi dengan mu.?"
"Aku mau ke kamar mandi.! Cepat bantu aku
melepas semua ini...!'"
Seru Raya sambil mematikan fungsi infusan
dan meraih botol cairannya yang ada di bagian
atas kepala ranjang. Aaron tampak panik, tanpa
kata lagi dia segera mengangkat tubuh Raya di
bawa berlari ke dalam kamar mandi dan begitu
tiba di wastafel Raya langsung mengeluarkan
seluruh isi perutnya. Untuk sesaat Aaron malah
berdiri bengong seperti orang kesambet melihat
Raya berjuang sendiri dan terlihat sangat tersiksa. Namun tidak lama kemudian dia menyambar
tubuh Raya, mendekapnya erat dan membantu semampunya dengan memijat tengkuk lehernya
dan mengusap lembut rambut serta dahinya
yang di penuhi keringat.
Setelah cukup lama akhirnya Raya terkulai lemas
dalam pangkuan Aaron karena kehilangan tenaga.
Aaron meraih handuk kecil tipis, membasuhnya
kemudian dengan telaten membersihkan wajah
Raya yang di penuhi keringat dingin. Setelah itu
dia menggendong tubuh lemah itu kembali ke
ruangan dan membaringkannya di atas ranjang
dengan hati-hati. Dia juga membantu Raya
meminum air putih agar tidak dehidrasi.
Aaron segera menekan tombol darurat yang ada
di atas ranjang, kembali merangkul dan memeluk
erat tubuh Raya, menciumi keningnya berkali-kali.
Wajahnya saat ini terlihat sangat dingin dipenuhi
kecemasan dan kekhawatiran berlebih.
"Apa yang terjadi dengan mu.? Kenapa kamu
muntah-muntah seperti itu tadi.."
Desis Aaron semakin mempererat pelukannya.
Raya membuka mata yang dari tadi terpejam
karena merasa sedikit pusing serta lemas.
"Tidak apa-apa Aaron. Itu adalah hal yang biasa
terjadi pada wanita yang sedang hamil muda."
"Tapi kau sangat menderita. ! Ini pasti karena
mereka tidak memberikan penanganan yang
tepat dan benar padamu.!"
__ADS_1
"Tidak, bukan karena itu Aaron.. Percayalah..
semua ini wajar terjadi."
"Tidak.! Aku harus memberi mereka hukuman
karena sudah bekerja dengan ceroboh..!!"
"Aaron..jangan gila..ini semua.."
Ucapan Raya tertahan karena ke dalam ruangan
muncul Alea, beberapa dokter serta barisan para
perawat yang langsung menghampiri mereka dan membungkuk setengah badan di hadapan Aaron kecuali Alea yang langsung mengecek kondisi
Raya setelah Aaron melepas pelukannya.
"Apa saja kerja kalian di tempat ini.? Kenapa
menangani satu pasien saja tidak becus.!"
Aaron membentak dan menatap marah kearah
barisan para dokter dan perawat tersebut yang
semakin menundukkan kepalanya di tengah
kebingungan, kenapa Sang Pangeran tiba-tiba
memarahi mereka. Alea yang sedang mengecek
dan memeriksa infusan di tangan Raya tampak
terkejut dengan kemarahan Aaron.
"Aaron.. jangan memarahi mereka. Aku tidak
apa-apa. Kau jangan berlebihan seperti itu.."
Raya meraih tangan Aaron, namun tampaknya
Aaron benar-benar sedang berada pada mode
kesal dan emosi tingkat tinggi.
"Apa yang kalian lakukan pada istriku.? Kenapa
dia muntah-muntah sampai harus kehilangan
tenaga, obat macam yang kalian berikan hahh.?"
Raya langsung menggelengkan kepala seraya
mengurut keningnya tidak tahan dengan semua
kekonyolan Aaron. Sementara Alea dan barisan
bawahannya tampak bengong. Jadi.. Pangeran
Aaron marah-marah karena gejala morning
sickness yang di alami oleh Sang istri.??
"Maafkan kami Yang Mulya.. Sungguh kami
sudah melakukan semua yang terbaik untuk
Lady..Ini semua salah kami.."
Salah seorang dokter senior langsung duduk
bersimpuh di lantai di ikuti oleh yang lainnya.
"Maafkan kami Yang Mulya.. Kami semua siap
menerima hukuman karena tidak bekerja
dengan baik."
"Tentu saja..! Kalian memang harus di hukum.!"
"Aaron.. sayang.. sudah. Aku mohon hentikan
semua ini. Dengarkan dulu penjelasan Alea."
Raya tidak tahan lagi, dia segera meraih wajah
Aaron yang terlihat sangat dingin itu hingga kini
mata mereka saling menatap, ada sinar redup
yang keluar dari mata indah Raya dan mampu meredam emosi Aaron dalam sekejap. Namun
sialnya hal itu malah memercik gairah dalam
diri Aaron kembali bangkit hingga amarahnya
kini tergantikan oleh hasrat yang melonjak dan
tidak mengenal situasi .
"Tapi mereka sudah melakukan kecerobohan.
Aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja.
Itu tidak boleh terulang.!"
"Jadi karena itu Yang Mulya Putra Mahkota
sampai marah-marah seperti ini.?"
Alea mencibir sambil mengecek detak jantung
dan denyut nadi di tangan Raya dengan bibir
yang mengerucut geli.
"Jangan main-main kamu.! Kalian semua sudah
membuat nya menderita tadi. !"
Aaron kembali meraih tubuh Raya ke dalam
dekapan nya tidak peduli pada semua orang
yang anda di tempat itu yang benar-benar tidak menduga kalau Putra Mahkota akan seposesif
itu pada istri di belakang layar nya.
"Kakak.. mulai sekarang kau harus membaca
dan mempelajari artikel tentang wanita hamil.
Saat ini usia kandungan kakak ipar baru masuk
minggu ke 5. Jadi gejala muntah-muntah seperti
tadi adalah hal yang wajar dan itu menunjukan
kalau calon bayi kalian tumbuh dengan baik dan normal. Kakak tidak perlu khawatir..!"
Aaron terdiam, Raya tersenyum lembut seraya
mengelus lembut rahang tegas Aaron.
salah mereka. Oleh karena itu bebaskan mereka,
biarkan mereka kembali bekerja dengan tenang."
Raya merajuk seraya menatap Aaron penuh
dengan permohonan. Namun Aaron bergeming.
Dia menatap tajam paramedis itu yang masih
duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala.
"Tidak, mereka tetap bersalah dan harus di hukum.
Bukan kah kalian bisa memberikan obat terbaik
agar dia tidak harus mengalami hal seperti tadi.
Sekarang kalian lakukan push up 50 kali.!!"
Hahh.?? Para dokter dan suster termasuk Raya
dan Alea tampak terkejut, lemas seketika.
"Aaroonn.. kamu benar-benar keterlaluan.!"
Raya tidak tahan lagi, dia memukuli dada
bidang Aaron yang sedang menyeringai tipis
penuh kepuasan saat melihat paramedis itu
dengan patuh menjalankan hukumannya.
"Kau sudah menghukum mereka, sekarang
kau juga harus di hukum..!"
Raya berkata dengan tegas dan tampang wajah
yang terlihat kesal. Aaron langsung mematung.
"Apa maksudmu.? Hukuman apa.?"
Aaron menatap tajam wajah Raya yang kini
terlihat tersenyum tipis penuh arti.
"Kalian boleh keluar sekarang.!!"
Titah Raya pada paramedis yang terlihat
bingung, menghentikan gerakannya sesaat.
"Mereka belum menyelesaikan hukuman nya.!"
"Bagiku sudah cukup, mereka harus kembali
bekerja. Pasien lain sedang menunggu.!"
Aaron terdiam, menarik napas berat kemudian
menepiskan tangannya membuat mereka yang
masih setengah jalan menjalani hukuman itu
kini menghentikan gerakannya lalu bangkit.
"Terimakasih Yang Mulya.. terimakasih Lady
atas kemurahan hati anda."
Ucap mereka serempak sambil membungkuk
hormat di hadapan keduanya setelah itu berlalu
keluar ruangan. Raya tersenyum puas.
"Maharaya De Enzo..apa maumu sebenarnya.?"
Aaron berdiri, melipat kedua tangan di dadanya
sambil menatap tajam wajah Raya mulai kesal.
"Buka bajumu sekarang..!!"
Raya berucap sambil menatap kesal wajah Aaron
yang terlihat bereaksi aneh, antara bingung, geli
dan gemas. Dia segera membuka kaos putih pas
body yang membungkus tubuh gagahnya. Alea
yang masih berada di dalam ruangan sedang mengecek ruam di kulit Raya tampak menatap bingung dan menautkan alisnya. Drama apalagi
yang akan mereka pertontonkan.
"Alex, Benjamin masuk..!"
Raya berteriak membuat kedua bawahan setia
Aaron yang tidak pernah jauh dari depanpintu
itu langsung masuk ke dalam ruangan dan membungkuk di hadapan keduanya dengan
tampang sedikit bingung.
"Kami Lady. Apa yang harus kami lakukan.?"
"Kalian berdua temani Bos kalian. Lakukan
push up 200 kali sekarang juga..!! "
Alex dan Benjamin saling pandang. Ada apa
ini, kenapa mereka jadi di bawa-bawa.?
"Cepat lakukan sekarang juga, tunggu apalagi.!"
"Baik Lady.. laksanakan..!"
"Hei.. apa kau yang kau inginkan sebenarnya?
Kenapa kau menghukum ku seperti ini.!"
Aaron protes, namun tak urung dia bergerak
juga, mengambil posisi di pinggir ranjang.
"Jangan banyak protes, cepat lakukan.!!"
Geram Raya dengan raut wajah kesal yang kian
menggunung. Akhirnya mau tidak mau mereka
bertiga melaksanakan apa yang di perintahkan
oleh si Nyonya tukang perintah itu di saksikan
__ADS_1
Alea yang hanya bisa bengong melihat ketiga
pria itu tidak berkutik, terlebih bagi seorang
Aaron yang selama ini di kenalnya sangat anti
menerima perintah, walau perintah itu datang
dari Raja Williams sekalipun.
Bibir indah Raya tersenyum puas, matanya kini
tak berkedip, menatap lekat tubuh gagah Aaron
yang sedang melakukan gerakan push up dengan
satu tangan secara bergantian. Sebenarnya bagi mereka bertiga ini sih bukan hukuman, tapi
olahraga yang rutin di lakukan. Dan bagi Raya
dia hanya ingin menikmati bagaimana gagah
dan perkasanya tubuh sang suami. Wajahnya
tampak memerah. Dia merutuki diri sendiri yang
kini sudah ketularan mesum.. memalukan.!!
***
Siang ini suasana di dalam ruang perawatan
VVIP tempat Raya melakukan pemulihan sudah seperti di dalam kantor. Aaron melakukan semua
kegiatan operasional pekerjaan dan kesibukan
lainnya dari dalam ruangan ini. Ansel dan dua
orang sekretaris pribadi Aaron membawa semua
pekerjaan ke tempat ini. Aaron juga menyuruh
semua ketua pasukan bayangan untuk datang
secara rahasia ke tempat ini guna membahas
masalah besar yang kini mulai meledak di luar.
Kondisi Raya saat ini sudah semakin stabil.
Dia juga tidak menggunakan selang infus lagi.
Wajahnya sudah kembali merona dan anehnya
malah semakin terlihat bercahaya. Saat ini Aaron,
Raya, Ansel, dua sekretaris pribadi Aaron, serta
ketiga pimpinan pasukan bayangan berkumpul
di ruangan dalam. Duduk melingkar di atas sofa
menghadap layar monitor besar di tengah meja.
Hanya Alex yang tidak kelihatan saat ini karena
dia sedang menjalankan misi penting.
"Kakak lihat respon dari masyarakat luas atas
peristiwa semalam.!"
Ansel memperlihatkan beberapa aksi unjuk rasa
yang terjadi di berbagai lokasi menentang keras
apa yang di lakukan oleh Putra Mahkota karena
hal itu sudah merupakan pengkhianatan terhadap
kebijakan istana serta penghinaan besar terhadap
keluarga dan klan bangsawan yang setara dengan Winston big Family.
Aaron terdiam, menopang dagu dengan kedua
telapak tangannya. Sementara Raya terlihat
tidak nyaman melihat semua itu.
"Alfred Winston sudah mulai menjalankan misi
nya. Dia mulai menggerakan pasukan semut
kecilnya ke dalam gerombolan kecoa kelaparan."
Gumam Aaron sambil menatap tajam layar
monitor dengan sorot mata tenang dan santai.
"Benar Yang Mulya.. Sepertinya orang tua itu
sudah mulai kebakaran jenggot.!"
Benjamin menyahut sambil memainkan jarinya
di keyboard laptop melacak informasi penting
lainnya dan menampilkannya di layar.
"Yang Mulya ini adalah petisi dari berbagai
komunitas dan kelompok yang meminta agar
Lady De Enzo di deportasi dan di black list dari
mata dunia..!!"
Benjamin menampilkan aksi demo lain yang
lebih parah dan sedikit anarkis. Wajah Raya kini
benar-benar memucat. Aaron segera meraih
tubuh Raya ke dalam dekapannya. Kemudian
menatap tajam wajah cantik istrinya itu yang
terlihat sedikit syok.
"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak
ikut dalam pertemuan ini. Tapi kau berjanji
akan kuat melihat semua ini.!"
Raya memeluk erat tubuh Aaron kemudian
menyusupkan wajahnya di dada bidang nya.
"Aku kuat kok, aku harus mengetahui semua
ini. Tapi kau tidak boleh menyembunyikan
apapun dariku sekarang."
"Asalkan kamu berjanji akan selalu berjalan di
sampingku, aku akan mengatakan segalanya."
"Baiklah.. demi calon bayi ini, aku akan berada
di sisimu. Apapun yang terjadi, hanya Tuhan
yang bisa mengubah takdir hidupku. Dan aku
akan selalu berjalan di samping mu.!"
"Raya..ini baru awal, kau harus bertahan dan siap berperang melawan keluarga Winston. Kalau kau
sudah siap baru kita akan meluncurkan serangan
tandingan pada mereka.! Ini akan menjadi perang pribadi antara kau dan Catharina..! "
Raya mengangkat wajahnya, keduanya saling
pandang lekat dan kuat.
"Tapi Aaron.. apakah aku cukup pantas untuk
ikut dalam gerakan ini.? peluangku bahkan
sudah hilang sebelum terlihat. Asal usul ku
adalah kelemahanku..!"
"Kau sudah punya kedudukan sebelum perang
itu di mulai. Semua ini hanyalah formalitas saja
untuk meraih kepercayaan masyarakat.!"
"Baiklah.. Demi calon bayi ku. Aku akan tetap
berusaha mempertahankan mu di sisiku.!"
Wajah Aaron langsung memerah. Hatinya kini
di selimuti kehangatan dan kebahagiaan yang
tak terjabarkan. Apakah wanita yang awalnya
sangat membencinya itu sekarang sudah bisa
menerima kehadirannya dengan tulus.?
Aaron kembali mendekap erat tubuh Raya.
Sementara para bawahan hanya bisa bersikap
apatis dan kembali fokus pada pembahasan.
"Aaron..apa kau sudah tahu kalau Lucas adalah
Eden Wolf.?"
Glekk !
Semua orang mendongakan kepala..terdiam.. bengong..dan..
"Aku baru mengetahuinya..!"
Jawab Aaron acuh. Raya menatap wajah Aaron
mencoba mencari kebenaran.
"Kau..sudah tahu, kapan.?"
Mata mereka saling menatap kuat. Yang lain
tampak masih terdiam dan melihat Aaron sedikit
penasaran karena majikannya itu belum pernah
mengatakan hal ini pada mereka.
"Barusan..darimu..!!"
"Aaroonn... menyebalkan kamu..!!"
Aaron tampak menahan tawa tapi juga begitu
penasaran bagaimana Raya bisa mengetahui
semua itu. Dia memang sudah menduga dan
menganalisa semuanya tapi belum menarik
kesimpulan.
"Darimana kamu tahu kalau mereka adalah
orang yang sama.?"
"Dari aroma tubuh nya dan juga tatapan mata
nya, mereka berdua sama.."
"Maharayaa... kau mengenali aroma tubuh
pria lain selain aku..??!!"
Wajah Aaron seketika berubah kelam dengan
tatapan mata yang menyala di penuhi bara api
yang langsung membakar seluruh tubuhnya.
Raya berjingkat, segera menjauhkan diri dengan
raut wajah gusar dan tegang melihat sang suami
terbakar api kecemburuan yang sangat dahsyat.
Sementara para bawahannya pun memundurkan
tubuh mereka dan bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi..
"Rayaaa...oh my God..."
Dalam keadaan genting tiba-tiba saja ada suara
jeritan melengking yang membuat semua orang serentak menutup telinganya. Raya bangkit dari
duduknya dengan mata membulat sempurna..
"Jes... Jessica...Kau di sini...??"
Semua orang terdiam saat melihat dua sosok
ramping itu saling berhambur dan berpelukan
erat sambil menangis kencang membuat para
pria itu hanya bisa bengong tak bisa bergerak..
__ADS_1
***