Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
82. Di Amankan


__ADS_3

***


SA Sulaiman.. Jadi pria yang memberi surat


kuasa pada Tuan Danu sebagai perwakilan


menikahkan Raya adalah benar pria itu..


Dari awal dirinya sudah mencoba menyangkal


hal ini ketika penelusuran yang di lakukan nya


terus mengarah padanya. Karena semua ini


rasanya tidak mungkin. Sebab yang dia tahu


Serkan Ahmed menikah dengan seorang Putri


dari Timur Tengah lewat tangan perjodohan


dan sampai sekarang tidak memilki keturunan.


Hal ini pula yang melatarbelakangi dirinya


kembali mencoba menelusuri identitas orang tua kandung Raya. Tapi tetap saja informasi yang di


dapat oleh bawahannya mentok. Sebenarnya dia sempat yakin akan hal ini saat menyadari semua keistimewaan yang di miliki oleh Raya. Hanya


darah seseorang yang istimewa seperti Serkan


yang memungkinkan menurunkan hal itu.


Sekarang semuanya sudah jelas. Pantas saja


diri nya tidak bisa menelusuri siapa orang tua


kandung Raya. Tenyata semua ini berhubungan


dengan orang yang sangat penting sehingga


data tentang nya lenyap dan tidak bisa di retas.


Lalu bagaimana dengan status Nyonya Ratih.?


Inilah yang sekarang menjadi misteri.


Prince Ahmed..Pria penuh kharisma yang sangat


di segani oleh nya. Dia adalah gurunya di dunia


bawah tanah. Seorang Pangeran generasi ketiga


dari klan As Syaf Sulaiman. Seorang pemimpin


besar pasukan bawah tanah Al Guzraty yang


menguasai jaringan di seluruh dunia. Istrinya


adalah Princess Humaira..seorang putri dari


keluarga kerajaan dari negara Timur Tengah.


Serkan Ahmed..dia adalah salah satu manusia


yang paling di buru oleh musuh terutama para


*******, penjahat kelas dunia dan semua gerakan


yang berlatar belakang jaringan bawah tanah,


karena dia salah satu tokoh yang memiliki peran


penting dalam upaya pemberantasan kejahatan kemanusiaan di wilayah Timur Tengah. Jadi..


apa yang dia lakukan dengan menghapus jejak


tentang Raya sudah benar. Dan untuk saat ini, keputusan untuk menyembunyikan identitas


Raya sebagai Putri seorang Serkan adalah


sebuah keharusan.


Aaron kembali menarik nafas panjang. Semua


fakta ini cukup membuatnya terguncang tapi


juga sesak nafas. Maharaya.. sekarang dia


tahu darimana keistimewaan itu di dapatnya.


Raya menyusupkan wajahnya dalam rengkuhan


hangat Aaron, nyaman..damai..Aahh.. entah apa


lagi yang kini di rasakannya. Laki-laki ini mampu


memberinya ketenangan sekaligus gairah yang


datang bersamaan. Aaron.. bagaimana bisa kau


tercipta begitu sempurna.. dirimu bisa membuat


semua wanita gila di saat bersentuhan apalagi


merasakan kehangatan tubuhnya seperti ini.


"Aaron..Apa kau percaya kalau aku adalah putri


dari seorang Serkan Ahmed ?"


Deg !


Kembali jantung Aaron seakan bergelombang.


Pikirannya saat ini sedang terfokus pada hal itu.


Dia semakin mempererat pelukannya.


"Aku akan berusaha memastikan semua nya.!"


"Aaron.. apakah ada yang salah dengan sarat


pernikahan kita.? Waktu itu aku tidak sempat


memikirkan semua ini.!"


Raya tampak ragu sendiri. Dia baru menyadari


semua itu. Ya Tuhan..apakah pernikahannya


dengan Aaron sah di mata hukum dan agama.?


Waktu itu jangankan berpikir tentang sarat sah pernikahan, memikirkan dirinya saja dia tidak


sanggup. Tapi sekarang dia jadi meragukan


semuanya. Aaron membuka matanya, mereka


berdua saling pandang lekat.


"Jangan khawatir, pernikahan kita sah. Ayah


angkat mu kemarin membuka semuanya pada


Griz. Dia memberikan bukti surat kuasa dari


kedua orang tua kandungmu bahwa segala hal


dan urusan menyangkut dirimu ada di tangan


ayah angkat mu sepenuhnya.!"


Raya tampak termenung. Sungguh dia sangat


menyesal karena tidak sempat memperhatikan


segala sesuatunya pada saat ijab kabul.


"Benarkah itu Aaron..? jadi tidak ada yang salah


dengan pernikahan kita.?"


"Aku pastikan semua nya sudah sesuai. Semua


sarat sudah terpenuhi. Jadi tidak ada yang salah.


Ayah angkat mu yang telah mengurus semuanya


dengan petugas KUA. Waktu itu aku tidak begitu


faham dengan hukum pernikahan di Negara mu,


Jadi tidak memperhatikan semua dengan detail."


Keduanya kembali saling memeluk, mencoba


meyakinkan diri bahwa semuanya sudah berjalan


sesuai dengan yang seharusnya. Aaron kembali


memejamkan matanya, menciumi puncak kepala


Raya masih dalam mode tidak percaya kalau


wanita miliknya ini adalah putri seorang laki-laki


yang sangat berpengaruh di dunia, baik itu dunia


nyata maupun dunia bawah tanah.


"Bagaimana dengan keluarga Ibu mu.? Apakah


kau mengenali mereka semua.?"


Raya membeku, dia terdiam sesaat sambil


menarik napas berat.


"Ibuku hanyalah wanita kedua Ayahku Aaron.


Ayahku menyembunyikan status pernikahan


nya dengan ibuku dari keluarganya.! Dan itu


adalah hal yang tidak bisa di terima oleh


keluarga ibuku."


Aaron membuka matanya seketika. Kini mata


mereka saling menatap kuat. Ekspresi wajah


Aaron menyiratkan keterkejutan kembali. Ini


adalah fakta baru. Pantas saja dia tidak bisa


mengenali Nyonya Ratih sebagai istri Serkan.


Tidak.! dia tidak bisa diam saja. Semuanya


harus di buka sendiri olehnya, dia harus segera memastikan semua nya secara terang benderang.


"Ayo kita sholat subuh berjamaah sekarang..!"


Aaron mendaratkan ciuman lembut di bibir Raya


yang menautkan alisnya melihat suaminya itu


terkesan buru-buru. Belum sempat dia bereaksi


Aaron sudah menggendong tubuhnya turun


dari atas tempat tidur melangkah cepat ke arah


kamar mandi.


Tidak lama kemudian keduanya sudah terlihat


keluar dari ruang ganti. Raya menatap Aaron tak berkedip. Suaminya itu saat ini mengenakkan


gamis putih panjang dengan turban rendah yang menutupi kepalanya. Dia tampak begitu gagah


dan bercahaya dengan kadar ketampanan yang


kini bertambah berkali-kali lipat.


"Apa kau baru menyadari kalau aku tampan.?"


Aaron mendekat dengan raut wajah gemas


melihat tatapan terpesona Raya yang tidak bisa


di sembunyikan nya. Raya melengoskan wajah


yang sudah di penuhi semburat merah.


"Kau terlalu percaya diri Yang Mulya.."


"Tentu saja, bukankah aku memang pantas


untuk percaya diri.? Aku memenuhi syarat


untuk semua itu.!"


"Ya.. baiklah.. kau memang layak untuk itu.


Ayo.. sebaiknya kita sholat sekarang."


Raya segera melangkah gerah kearah ruangan


sebelah yang biasa mereka gunakan sebagai


tempat beribadah. Aaron tersenyum tipis, dia


mengikuti langkah istrinya itu. Dan tidak lama


keduanya sudah terlihat menjalankan ibadah


sholat subuh dengan khusyuk. Seperti biasa

__ADS_1


Aaron melantunkan bacaan sholat dengan


sangat fasih dan jelas membuat Raya semakin


bangga pada suaminya yang seorang mualaf


tapi sudah mampu menjadi imam yang baik


bagi dirinya itu.


Usai sholat.. Aaron memanjatkan doa untuk


keselamatan dan kebaikan hidup mereka ke


depan yang di aamiini oleh Raya. Setelah doa


selesai Raya mencium punggung tangan Aaron


yang menatapnya lekat penuh haru. Baru saat


ini lah nikmat pernikahan dan kebersamaan


dapat mereka rasakan seutuhnya, setelah hati


mereka berdua menyatu. Aaron mengecup


lembut kening Raya sambil memejamkan mata.


"Aku mencintaimu Maharaya sayang.."


Raya memejamkan mata rapat mendengar


bisikan lembut nan mesra Aaron masih dalam


keadaan mencium keningnya.


"Aku juga mencintaimu sayang.. Aku sangat


mencintaimu.."


Balas Raya sambil meletakkan kedua tangan


di dada bidang Aaron. Keduanya membuka mata.


Pandangan mereka kini semakin dalam. Perlahan


bibir mereka mendekat, saling bersentuhan tapi mencoba bertahan untuk tidak saling memagut.


Dan hal itu menimbulkan sensasi panas dingin


di tubuh di sertai nafas yang mulai berat.


"Aku berjanji akan selalu menjaga mu dengan


segenap jiwa dan ragaku."


Aaron kembali berbisik dengan tatapan yang


semakin kuat mengunci bibir indah Raya yang


kini sudah menempel namun masih mencoba


bertahan untuk tidak beraksi hingga sistem


pernapasan nya mulai kacau.


"Aku berjanji akan selalu mendampingi mu


suamiku sayang.."


Sahut Raya dengan gerakan lembut menggoda,


mengusap pelan bibir Aaron dengan ibu jarinya.


Aaron memejamkan matanya kuat karena tubuh


bagian bawahnya mulai meronta dan terbangun.


Dia mencoba mengontrol hasratnya yang sudah


semakin menggedor sistem pertahanan nya.


"Sejak kapan kau mulai jatuh cinta padaku..?"


Raya bertanya dengan suara yang sangat pelan


dan tatapan yang mengunci bibir seksi Aaron


yang kini membuka matanya, terdiam dengan


sorot mata sedikit aneh hingga membuat Raya menautkan alisnya.


"Jawab aku sayang..sejak kapan kau jatuh cinta


padaku.? Sedang aku tahu sendiri bagaimana


sikapmu yang begitu kejam padaku."


Raya mendesak dengan mengangsurkan bibir


indah nya di rahang tegas Aaron yang mulai


bergetar menahan gejolak hasrat dan gairah


yang semakin tidak bisa di kendalikan, datang menyerbu, menguasai seluruh aliran darahnya.


Ohh shit, istrinya ini benar-benar nakal, berani-


beraninya dia menggoda dirinya dengan cara


halus seperti ini.


"Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu.


Matamu yang indah dan berbisa telah berhasil


meracuni pikiranku setiap saat.!"


"Oya..? Aku tidak percaya padamu.! Kau mau


mencoba membohongi ku Yang Mulya.?"


Raya menyusurkan kedua telapak tangannya


di dada bidang Aaron yang langsung saja bagai


tersengat arus listrik. Matanya kini menatap


lekat wajah Raya seolah siap untuk menerkam.


"Kau tidak percaya padaku.? Bahkan pada saat


pertama kali aku melihat mu kau sudah mampu


membangkitkan gairah ku..!"


"Itu bukan cinta sayang.. itu hanyalah nafsu


belaka yang akhirnya menjerumuskan dirimu


pada perbuatan jahat malam itu.!"


lembut bibirnya. Tubuh Aaron semakin bergetar


menahan terjangan hasrat nya.


"Aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu


saat pertama kali kita bertemu."


Desis Aaron tidak tahan lagi, dia segera menarik


pinggang ramping Raya hingga tubuh mereka


kini merapat. Dada sintal Raya menempel ketat


di dada Aaron.


"Dasar pembohong. Kalau benar seperti itu..


kenapa waktu malam dimana kau mengambil


kesucian ku, yang ada dalam halusinasi mu


adalah cinta pertama mu bahkan kau menyebut namanya.!"


Desis Raya dengan tatapan berubah panas dan


kesal sambil kemudian mendaratkan ciuman


kuat dan dahsyat yang membuat jiwa Aaron


langsung jatuh tak berdaya. Aaron terdiam,


namun tatapannya malah semakin berkabut.


"Itu karena aku belum bisa lepas sepenuhnya


dari bayang-bayang masa lalu ku.! Tapi semua


itu hanya selintas saja. Karena sesungguhnya


yang aku inginkan adalah dirimu.!"


"Aku tidak percaya.! Kau sangat tidak masuk


akal.! hanya mencari alasan saja.!"


Raya berdecak sebal sambil kemudian bangkit


dan cepat-cepat melangkah, namun sesaat


kemudian tubuhnya sudah ada dalam pangkuan


Aaron yang langsung membawanya ke tempat


tidur.


***


"Aku ada urusan sebentar.. Kau istirahat saja di


kamar, jangan kemana-mana. Aku akan segera


kembali, setelah itu kita pulang ke kota."


Aaron berucap sambil menarik tubuh Raya ke


dalam dekapannya. Mereka baru saja selesai


sarapan pagi dan memilih sarapan di kamar.


"Kau akan pergi kemana.? Aku ikut dengan mu.


Aku bosan di kamar terus."


Raya melepaskan diri dari pelukan Aaron. Lalu


memakaikan mantel tebal panjang ke tubuh


gagah suaminya itu.


"Aku hanya ingin melakukan pengecekan di


sekitar lokasi ski. Cuaca di luar sangat


ekstrim. Tidak baik untuk kesehatan mu."


"Tapi Aaron..aku bosan.."


"Jessica dan Griz akan menemani mu di sini.


Kau bisa berbincang dengan mereka."


Keduanya saling pandang lekat. Tangan Raya


kembali bergerak merapihkan penutup kepala


yang di pakai Aaron.


"Baiklah kalau begitu.. hati-hati dan cepat lah


kembali.."


Lirihnya pelan, bibir mereka saling memagut,


saling ******* lembut dan manis. Dan tidak


bisa terlepas begitu saja. Keduanya larut dalam


buaian kelembutan dan kehangatan bibir


masing-masing hingga menimbulkan decakan


erotis yang mewarnai suasana kamar sunyi itu.


Beberapa waktu kemudian...


"Ray.. kamu harus lihat ini.!"


Raya yang baru saja selesai berganti pakaian


dengan yang lebih casual segera menghampiri


Jessica dan Griz yang terlihat serius memantau


perkembangan yang terjadi. Sejak pagi suasana


di ibukota negara xxx.. sudah memanas oleh aksi


unjuk rasa. Raya duduk di depan laptop, matanya melebar saat melihat ada Petisi resmi yang di layangkan oleh asosiasi mahasiswa dan advokat


serta barisan para akademisi yang isinya meminta perang terbuka dan tanding adil antara Lady


Catharina dengan Sang Sektretaris Pribadi Putra Mahkota untuk menyelesaikan konflik ini.


"Apa ini..? apakah semua ini..?"


"Benar Lady..ini adalah serangan balik Pangeran.

__ADS_1


Orang-orang yang ada di belakang Yang Mulya


keluar sekarang. Kita akan lihat respon massa."


Griz menyahut sambil kembali melakukan


penelusuran terkait isi petisi ini. Raya tertegun,


menarik napas dalam-dalam mencoba untuk


menenangkan dirinya.


"Kau harus siap Ray..Kau harus berjuang untuk


mempertahankan posisimu. Semuanya demi


calon bayi kalian.!"


"Semua ini tidak akan mudah Jes. Catharina


dan pengaruh keluarga besarnya menguasai


hampir 70 persen kepercayaan rakyat."


"Kau harus optimis Ray. Setidaknya masih ada


peluang untuk mu di dalam 30 persen yang kini


tersisa, setelah itu kau harus mulai merebut dan


meraih simpati milik Catharina. Aku yakin negara


ini penduduknya cerdas-cerdas dan bisa menilai


seseorang dengan bijak dan kompeten.!"


Raya saling pandang dengan Jessica. Sungguh


dengan kehadiran Jessica di sisinya dia seolah


memilki semangat baru.


"Baiklah..Aku akan mencoba mengikuti semua


permainan ini. Walau bagaimanapun Aaron


adalah suamiku, aku memiliki hak atas dirinya."


Tegas Raya yang membuat Jessica dan Griz


mengulas senyum penuh semangat.


"Nah gitu dong..itu baru namanya seorang


Maharaya De Enzo.."


"Apaan sih kamu ini Jes.!"


Raya tersenyum kecut. Dia kembali menatap layar laptop. Situasi di ibukota semakin tidak terkendali


saja. Aksi unjuk rasa dari kedua belah pihak kini


semakin memanas. Pihak lain meminta istana mengeluarkan keputusan dan langkah tegas untuk mempercepat rencana pernikahan antara Putra Mahkota dengan Catharina.


Dalam keadaan itu tiba-tiba saja Griz mendapat


notif urgent di jam tangan monitoring nya.


"Ada apa.? Semuanya baik-baik saja di luar kan.?'


Griz mencoba menghubungi Benjamin yang ada


di luar kamar.


"Ada pasukan pemerintah yang membawa surat


resmi pencekalan terhadap Lady Maharaya."


"Apa.? Brengsek..! Kau sudah menghubungi


Alex belum, keadaan darurat.!"


"Sinyal buruk, Yang Mulya sedang berada di


Erdorado.."


"Apa ? Ya Tuhan.. gawat ini.!"


"Ada apa Griz.? Apa yang terjadi.?"


Raya tampak menatap heran kearah Griz yang


langsung berwajah dingin dan gusar. Dia segera


menutup sambungan telepon nya.


"Tidak ada apa-apa Lady.. hanya.."


Monitor pintu berbunyi membuat Raya menoleh


dengan cepat, wajahnya kini tampak bingung.


"Bukalah.. pasti ada yang penting."


Titah Raya sambil kemudian bangkit berdiri.


Jessica menutup laptop dan dan merapihkan


semua peralatan. Dengan ragu Griz melangkah


kearah pintu lalu membukanya. Mata Raya dan


para bawahannya membulat sempurna saat


tiba-tiba kilatan dan jepretan puluhan kamera


wartawan kini menghujani dirinya.


Seseorang yang bertubuh tinggi besar masuk


ke dalam ruangan bersama dengan dua orang


pria besar lainnya. Pria tinggi besar itu adalah


kepala pasukan khusus anti teror dan beberapa


perwira tinggi lainnya yang berdiri di belakangnya. Untuk sesaat para pria tinggi itu malah terpaku


terpesona kearah keberadaan Raya yang sedang


memalingkan wajahnya menghindari jepretan


kamera. Mereka semua tampak terkesima


menyaksikan keelokan rupa wanita yang


akan di amankan nya itu.


Keributan terjadi antara Benjamin dan semua


bawahannya yang berusaha mengamankan


para wartawan yang ingin memaksa masuk


ke dalam kamar.


"Selamat pagi Miss Secretary.. mohon maaf


sebelum nya. Kami datang membawa surat


perintah pengamanan terhadap anda yang di


keluarkan langsung oleh Raja dan Perdana


Menteri. Ini surat perintahnya !"


Sang kepala pasukan mengulurkan sebuah kertas


ke hadapan Raya yang menatapnya datar dan


dingin. Dia berusaha bersikap setenang mungkin. Namun Jessica dan Griz yang kini bereaksi.


"Apa-apaan ini, berani sekali kalian melakukan


tindakan tidak terhormat seperti ini.! Kalian


harus konfirmasi dulu dengan Yang Mulya..!"


Jessica tampak berang, namun ucapannya


terhenti ketika Raya mengangkat tangannya.


"Baiklah.. aku akan ikut dengan kalian. Tapi


sebelumnya izinkan aku menghubungi Yang


Mulya Putra Mahkota.."


"Mohon maaf Miss.. anda bisa menghubungi


siapapun saat sudah berada di markas. Kami


harus segera membawa anda pergi dari tempat


ini. Ini adalah perintah dari Negara.!"


Potong kepala pasukan dengan kepala yang


sedikit menunduk hormat. Benjamin dan Griz


langsung maju pasang badan. Tapi pasukan


dari pemerintah yang bersenjata lengkap kini


merangsek maju menodongkan senjata besar


layaknya mau menangkap seorang ******* saja


membuat Benjamin dan semua bawahannya membelalakkan mata. Apa-apaan mereka,


ini benar-benar penghinaan !!


"Kalian semua mundur lah.! Biarkan mereka


melakukan tugas nya dengan baik."


Raya berucap tegas dan lugas dengan wajah


yang terlihat tetap tenang dan terkendali.


"Tapi Lady.. ini tidak benar, kita harus


menunggu Yang Mulya dulu.!"


"Benjamin.. jangan mencoba menghalangi


perintah Raja.!"


Benjamin akhirnya mundur dengan terpaksa


di ikuti oleh Griz dan yang lainnya. Raya kini


menatap tajam kearah kepala pasukan.


"Baiklah Tuan.. Kita bisa pergi sekarang. Tapi


saya punya permintaan, kita lakukan perjalanan


lewat darat, saya tidak bisa naik pesawat."


Kepala pasukan dan para perwira tampak saling


melirik, mencari kesepakatan.


"Baik Miss. Kita berangkat sekarang..!"


Raya mengangguk. Dengan wajah yang terlihat


emosi Jessica memakaikan mantel tebal ke


tubuh Raya di depan semua pasukan.


"Kami akan mengikuti anda Lady..!"


Ucap Benjamin sambil membungkukkan badan


di ikuti yang lain sesaat sebelum Raya di giring


keluar dari kamar bagai seorang pesakitan.


Suasana di luar hotel ternyata di luar dugaan.


Di sana sudah ada ratusan prajurit dengan


puluhan mobil kesatuan, beberapa helikopter,


puluhan wartawan lainnya serta puluhan


pengunjung hotel bagian depan yang ikut


menyaksikan proses penangkapan terhadap


Raya ini. Dan semua stasiun televisi saat ini


sedang menayangkan secara live semua


proses pengamanan ini.


Raya hanya bisa menarik napas berat melihat


keadaan ini, dirinya saat ini sudah seperti


seorang penjahat saja, dia di giring masuk


ke dalam mobil pengaman anti teror..


Benar-benar sudah seperti seorang buronan..


***

__ADS_1


__ADS_2