
***
SA Sulaiman.. Jadi pria yang memberi surat
kuasa pada Tuan Danu sebagai perwakilan
menikahkan Raya adalah benar pria itu..
Dari awal dirinya sudah mencoba menyangkal
hal ini ketika penelusuran yang di lakukan nya
terus mengarah padanya. Karena semua ini
rasanya tidak mungkin. Sebab yang dia tahu
Serkan Ahmed menikah dengan seorang Putri
dari Timur Tengah lewat tangan perjodohan
dan sampai sekarang tidak memilki keturunan.
Hal ini pula yang melatarbelakangi dirinya
kembali mencoba menelusuri identitas orang tua kandung Raya. Tapi tetap saja informasi yang di
dapat oleh bawahannya mentok. Sebenarnya dia sempat yakin akan hal ini saat menyadari semua keistimewaan yang di miliki oleh Raya. Hanya
darah seseorang yang istimewa seperti Serkan
yang memungkinkan menurunkan hal itu.
Sekarang semuanya sudah jelas. Pantas saja
diri nya tidak bisa menelusuri siapa orang tua
kandung Raya. Tenyata semua ini berhubungan
dengan orang yang sangat penting sehingga
data tentang nya lenyap dan tidak bisa di retas.
Lalu bagaimana dengan status Nyonya Ratih.?
Inilah yang sekarang menjadi misteri.
Prince Ahmed..Pria penuh kharisma yang sangat
di segani oleh nya. Dia adalah gurunya di dunia
bawah tanah. Seorang Pangeran generasi ketiga
dari klan As Syaf Sulaiman. Seorang pemimpin
besar pasukan bawah tanah Al Guzraty yang
menguasai jaringan di seluruh dunia. Istrinya
adalah Princess Humaira..seorang putri dari
keluarga kerajaan dari negara Timur Tengah.
Serkan Ahmed..dia adalah salah satu manusia
yang paling di buru oleh musuh terutama para
*******, penjahat kelas dunia dan semua gerakan
yang berlatar belakang jaringan bawah tanah,
karena dia salah satu tokoh yang memiliki peran
penting dalam upaya pemberantasan kejahatan kemanusiaan di wilayah Timur Tengah. Jadi..
apa yang dia lakukan dengan menghapus jejak
tentang Raya sudah benar. Dan untuk saat ini, keputusan untuk menyembunyikan identitas
Raya sebagai Putri seorang Serkan adalah
sebuah keharusan.
Aaron kembali menarik nafas panjang. Semua
fakta ini cukup membuatnya terguncang tapi
juga sesak nafas. Maharaya.. sekarang dia
tahu darimana keistimewaan itu di dapatnya.
Raya menyusupkan wajahnya dalam rengkuhan
hangat Aaron, nyaman..damai..Aahh.. entah apa
lagi yang kini di rasakannya. Laki-laki ini mampu
memberinya ketenangan sekaligus gairah yang
datang bersamaan. Aaron.. bagaimana bisa kau
tercipta begitu sempurna.. dirimu bisa membuat
semua wanita gila di saat bersentuhan apalagi
merasakan kehangatan tubuhnya seperti ini.
"Aaron..Apa kau percaya kalau aku adalah putri
dari seorang Serkan Ahmed ?"
Deg !
Kembali jantung Aaron seakan bergelombang.
Pikirannya saat ini sedang terfokus pada hal itu.
Dia semakin mempererat pelukannya.
"Aku akan berusaha memastikan semua nya.!"
"Aaron.. apakah ada yang salah dengan sarat
pernikahan kita.? Waktu itu aku tidak sempat
memikirkan semua ini.!"
Raya tampak ragu sendiri. Dia baru menyadari
semua itu. Ya Tuhan..apakah pernikahannya
dengan Aaron sah di mata hukum dan agama.?
Waktu itu jangankan berpikir tentang sarat sah pernikahan, memikirkan dirinya saja dia tidak
sanggup. Tapi sekarang dia jadi meragukan
semuanya. Aaron membuka matanya, mereka
berdua saling pandang lekat.
"Jangan khawatir, pernikahan kita sah. Ayah
angkat mu kemarin membuka semuanya pada
Griz. Dia memberikan bukti surat kuasa dari
kedua orang tua kandungmu bahwa segala hal
dan urusan menyangkut dirimu ada di tangan
ayah angkat mu sepenuhnya.!"
Raya tampak termenung. Sungguh dia sangat
menyesal karena tidak sempat memperhatikan
segala sesuatunya pada saat ijab kabul.
"Benarkah itu Aaron..? jadi tidak ada yang salah
dengan pernikahan kita.?"
"Aku pastikan semua nya sudah sesuai. Semua
sarat sudah terpenuhi. Jadi tidak ada yang salah.
Ayah angkat mu yang telah mengurus semuanya
dengan petugas KUA. Waktu itu aku tidak begitu
faham dengan hukum pernikahan di Negara mu,
Jadi tidak memperhatikan semua dengan detail."
Keduanya kembali saling memeluk, mencoba
meyakinkan diri bahwa semuanya sudah berjalan
sesuai dengan yang seharusnya. Aaron kembali
memejamkan matanya, menciumi puncak kepala
Raya masih dalam mode tidak percaya kalau
wanita miliknya ini adalah putri seorang laki-laki
yang sangat berpengaruh di dunia, baik itu dunia
nyata maupun dunia bawah tanah.
"Bagaimana dengan keluarga Ibu mu.? Apakah
kau mengenali mereka semua.?"
Raya membeku, dia terdiam sesaat sambil
menarik napas berat.
"Ibuku hanyalah wanita kedua Ayahku Aaron.
Ayahku menyembunyikan status pernikahan
nya dengan ibuku dari keluarganya.! Dan itu
adalah hal yang tidak bisa di terima oleh
keluarga ibuku."
Aaron membuka matanya seketika. Kini mata
mereka saling menatap kuat. Ekspresi wajah
Aaron menyiratkan keterkejutan kembali. Ini
adalah fakta baru. Pantas saja dia tidak bisa
mengenali Nyonya Ratih sebagai istri Serkan.
Tidak.! dia tidak bisa diam saja. Semuanya
harus di buka sendiri olehnya, dia harus segera memastikan semua nya secara terang benderang.
"Ayo kita sholat subuh berjamaah sekarang..!"
Aaron mendaratkan ciuman lembut di bibir Raya
yang menautkan alisnya melihat suaminya itu
terkesan buru-buru. Belum sempat dia bereaksi
Aaron sudah menggendong tubuhnya turun
dari atas tempat tidur melangkah cepat ke arah
kamar mandi.
Tidak lama kemudian keduanya sudah terlihat
keluar dari ruang ganti. Raya menatap Aaron tak berkedip. Suaminya itu saat ini mengenakkan
gamis putih panjang dengan turban rendah yang menutupi kepalanya. Dia tampak begitu gagah
dan bercahaya dengan kadar ketampanan yang
kini bertambah berkali-kali lipat.
"Apa kau baru menyadari kalau aku tampan.?"
Aaron mendekat dengan raut wajah gemas
melihat tatapan terpesona Raya yang tidak bisa
di sembunyikan nya. Raya melengoskan wajah
yang sudah di penuhi semburat merah.
"Kau terlalu percaya diri Yang Mulya.."
"Tentu saja, bukankah aku memang pantas
untuk percaya diri.? Aku memenuhi syarat
untuk semua itu.!"
"Ya.. baiklah.. kau memang layak untuk itu.
Ayo.. sebaiknya kita sholat sekarang."
Raya segera melangkah gerah kearah ruangan
sebelah yang biasa mereka gunakan sebagai
tempat beribadah. Aaron tersenyum tipis, dia
mengikuti langkah istrinya itu. Dan tidak lama
keduanya sudah terlihat menjalankan ibadah
sholat subuh dengan khusyuk. Seperti biasa
__ADS_1
Aaron melantunkan bacaan sholat dengan
sangat fasih dan jelas membuat Raya semakin
bangga pada suaminya yang seorang mualaf
tapi sudah mampu menjadi imam yang baik
bagi dirinya itu.
Usai sholat.. Aaron memanjatkan doa untuk
keselamatan dan kebaikan hidup mereka ke
depan yang di aamiini oleh Raya. Setelah doa
selesai Raya mencium punggung tangan Aaron
yang menatapnya lekat penuh haru. Baru saat
ini lah nikmat pernikahan dan kebersamaan
dapat mereka rasakan seutuhnya, setelah hati
mereka berdua menyatu. Aaron mengecup
lembut kening Raya sambil memejamkan mata.
"Aku mencintaimu Maharaya sayang.."
Raya memejamkan mata rapat mendengar
bisikan lembut nan mesra Aaron masih dalam
keadaan mencium keningnya.
"Aku juga mencintaimu sayang.. Aku sangat
mencintaimu.."
Balas Raya sambil meletakkan kedua tangan
di dada bidang Aaron. Keduanya membuka mata.
Pandangan mereka kini semakin dalam. Perlahan
bibir mereka mendekat, saling bersentuhan tapi mencoba bertahan untuk tidak saling memagut.
Dan hal itu menimbulkan sensasi panas dingin
di tubuh di sertai nafas yang mulai berat.
"Aku berjanji akan selalu menjaga mu dengan
segenap jiwa dan ragaku."
Aaron kembali berbisik dengan tatapan yang
semakin kuat mengunci bibir indah Raya yang
kini sudah menempel namun masih mencoba
bertahan untuk tidak beraksi hingga sistem
pernapasan nya mulai kacau.
"Aku berjanji akan selalu mendampingi mu
suamiku sayang.."
Sahut Raya dengan gerakan lembut menggoda,
mengusap pelan bibir Aaron dengan ibu jarinya.
Aaron memejamkan matanya kuat karena tubuh
bagian bawahnya mulai meronta dan terbangun.
Dia mencoba mengontrol hasratnya yang sudah
semakin menggedor sistem pertahanan nya.
"Sejak kapan kau mulai jatuh cinta padaku..?"
Raya bertanya dengan suara yang sangat pelan
dan tatapan yang mengunci bibir seksi Aaron
yang kini membuka matanya, terdiam dengan
sorot mata sedikit aneh hingga membuat Raya menautkan alisnya.
"Jawab aku sayang..sejak kapan kau jatuh cinta
padaku.? Sedang aku tahu sendiri bagaimana
sikapmu yang begitu kejam padaku."
Raya mendesak dengan mengangsurkan bibir
indah nya di rahang tegas Aaron yang mulai
bergetar menahan gejolak hasrat dan gairah
yang semakin tidak bisa di kendalikan, datang menyerbu, menguasai seluruh aliran darahnya.
Ohh shit, istrinya ini benar-benar nakal, berani-
beraninya dia menggoda dirinya dengan cara
halus seperti ini.
"Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu.
Matamu yang indah dan berbisa telah berhasil
meracuni pikiranku setiap saat.!"
"Oya..? Aku tidak percaya padamu.! Kau mau
mencoba membohongi ku Yang Mulya.?"
Raya menyusurkan kedua telapak tangannya
di dada bidang Aaron yang langsung saja bagai
tersengat arus listrik. Matanya kini menatap
lekat wajah Raya seolah siap untuk menerkam.
"Kau tidak percaya padaku.? Bahkan pada saat
pertama kali aku melihat mu kau sudah mampu
membangkitkan gairah ku..!"
"Itu bukan cinta sayang.. itu hanyalah nafsu
belaka yang akhirnya menjerumuskan dirimu
pada perbuatan jahat malam itu.!"
lembut bibirnya. Tubuh Aaron semakin bergetar
menahan terjangan hasrat nya.
"Aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu
saat pertama kali kita bertemu."
Desis Aaron tidak tahan lagi, dia segera menarik
pinggang ramping Raya hingga tubuh mereka
kini merapat. Dada sintal Raya menempel ketat
di dada Aaron.
"Dasar pembohong. Kalau benar seperti itu..
kenapa waktu malam dimana kau mengambil
kesucian ku, yang ada dalam halusinasi mu
adalah cinta pertama mu bahkan kau menyebut namanya.!"
Desis Raya dengan tatapan berubah panas dan
kesal sambil kemudian mendaratkan ciuman
kuat dan dahsyat yang membuat jiwa Aaron
langsung jatuh tak berdaya. Aaron terdiam,
namun tatapannya malah semakin berkabut.
"Itu karena aku belum bisa lepas sepenuhnya
dari bayang-bayang masa lalu ku.! Tapi semua
itu hanya selintas saja. Karena sesungguhnya
yang aku inginkan adalah dirimu.!"
"Aku tidak percaya.! Kau sangat tidak masuk
akal.! hanya mencari alasan saja.!"
Raya berdecak sebal sambil kemudian bangkit
dan cepat-cepat melangkah, namun sesaat
kemudian tubuhnya sudah ada dalam pangkuan
Aaron yang langsung membawanya ke tempat
tidur.
***
"Aku ada urusan sebentar.. Kau istirahat saja di
kamar, jangan kemana-mana. Aku akan segera
kembali, setelah itu kita pulang ke kota."
Aaron berucap sambil menarik tubuh Raya ke
dalam dekapannya. Mereka baru saja selesai
sarapan pagi dan memilih sarapan di kamar.
"Kau akan pergi kemana.? Aku ikut dengan mu.
Aku bosan di kamar terus."
Raya melepaskan diri dari pelukan Aaron. Lalu
memakaikan mantel tebal panjang ke tubuh
gagah suaminya itu.
"Aku hanya ingin melakukan pengecekan di
sekitar lokasi ski. Cuaca di luar sangat
ekstrim. Tidak baik untuk kesehatan mu."
"Tapi Aaron..aku bosan.."
"Jessica dan Griz akan menemani mu di sini.
Kau bisa berbincang dengan mereka."
Keduanya saling pandang lekat. Tangan Raya
kembali bergerak merapihkan penutup kepala
yang di pakai Aaron.
"Baiklah kalau begitu.. hati-hati dan cepat lah
kembali.."
Lirihnya pelan, bibir mereka saling memagut,
saling ******* lembut dan manis. Dan tidak
bisa terlepas begitu saja. Keduanya larut dalam
buaian kelembutan dan kehangatan bibir
masing-masing hingga menimbulkan decakan
erotis yang mewarnai suasana kamar sunyi itu.
Beberapa waktu kemudian...
"Ray.. kamu harus lihat ini.!"
Raya yang baru saja selesai berganti pakaian
dengan yang lebih casual segera menghampiri
Jessica dan Griz yang terlihat serius memantau
perkembangan yang terjadi. Sejak pagi suasana
di ibukota negara xxx.. sudah memanas oleh aksi
unjuk rasa. Raya duduk di depan laptop, matanya melebar saat melihat ada Petisi resmi yang di layangkan oleh asosiasi mahasiswa dan advokat
serta barisan para akademisi yang isinya meminta perang terbuka dan tanding adil antara Lady
Catharina dengan Sang Sektretaris Pribadi Putra Mahkota untuk menyelesaikan konflik ini.
"Apa ini..? apakah semua ini..?"
"Benar Lady..ini adalah serangan balik Pangeran.
__ADS_1
Orang-orang yang ada di belakang Yang Mulya
keluar sekarang. Kita akan lihat respon massa."
Griz menyahut sambil kembali melakukan
penelusuran terkait isi petisi ini. Raya tertegun,
menarik napas dalam-dalam mencoba untuk
menenangkan dirinya.
"Kau harus siap Ray..Kau harus berjuang untuk
mempertahankan posisimu. Semuanya demi
calon bayi kalian.!"
"Semua ini tidak akan mudah Jes. Catharina
dan pengaruh keluarga besarnya menguasai
hampir 70 persen kepercayaan rakyat."
"Kau harus optimis Ray. Setidaknya masih ada
peluang untuk mu di dalam 30 persen yang kini
tersisa, setelah itu kau harus mulai merebut dan
meraih simpati milik Catharina. Aku yakin negara
ini penduduknya cerdas-cerdas dan bisa menilai
seseorang dengan bijak dan kompeten.!"
Raya saling pandang dengan Jessica. Sungguh
dengan kehadiran Jessica di sisinya dia seolah
memilki semangat baru.
"Baiklah..Aku akan mencoba mengikuti semua
permainan ini. Walau bagaimanapun Aaron
adalah suamiku, aku memiliki hak atas dirinya."
Tegas Raya yang membuat Jessica dan Griz
mengulas senyum penuh semangat.
"Nah gitu dong..itu baru namanya seorang
Maharaya De Enzo.."
"Apaan sih kamu ini Jes.!"
Raya tersenyum kecut. Dia kembali menatap layar laptop. Situasi di ibukota semakin tidak terkendali
saja. Aksi unjuk rasa dari kedua belah pihak kini
semakin memanas. Pihak lain meminta istana mengeluarkan keputusan dan langkah tegas untuk mempercepat rencana pernikahan antara Putra Mahkota dengan Catharina.
Dalam keadaan itu tiba-tiba saja Griz mendapat
notif urgent di jam tangan monitoring nya.
"Ada apa.? Semuanya baik-baik saja di luar kan.?'
Griz mencoba menghubungi Benjamin yang ada
di luar kamar.
"Ada pasukan pemerintah yang membawa surat
resmi pencekalan terhadap Lady Maharaya."
"Apa.? Brengsek..! Kau sudah menghubungi
Alex belum, keadaan darurat.!"
"Sinyal buruk, Yang Mulya sedang berada di
Erdorado.."
"Apa ? Ya Tuhan.. gawat ini.!"
"Ada apa Griz.? Apa yang terjadi.?"
Raya tampak menatap heran kearah Griz yang
langsung berwajah dingin dan gusar. Dia segera
menutup sambungan telepon nya.
"Tidak ada apa-apa Lady.. hanya.."
Monitor pintu berbunyi membuat Raya menoleh
dengan cepat, wajahnya kini tampak bingung.
"Bukalah.. pasti ada yang penting."
Titah Raya sambil kemudian bangkit berdiri.
Jessica menutup laptop dan dan merapihkan
semua peralatan. Dengan ragu Griz melangkah
kearah pintu lalu membukanya. Mata Raya dan
para bawahannya membulat sempurna saat
tiba-tiba kilatan dan jepretan puluhan kamera
wartawan kini menghujani dirinya.
Seseorang yang bertubuh tinggi besar masuk
ke dalam ruangan bersama dengan dua orang
pria besar lainnya. Pria tinggi besar itu adalah
kepala pasukan khusus anti teror dan beberapa
perwira tinggi lainnya yang berdiri di belakangnya. Untuk sesaat para pria tinggi itu malah terpaku
terpesona kearah keberadaan Raya yang sedang
memalingkan wajahnya menghindari jepretan
kamera. Mereka semua tampak terkesima
menyaksikan keelokan rupa wanita yang
akan di amankan nya itu.
Keributan terjadi antara Benjamin dan semua
bawahannya yang berusaha mengamankan
para wartawan yang ingin memaksa masuk
ke dalam kamar.
"Selamat pagi Miss Secretary.. mohon maaf
sebelum nya. Kami datang membawa surat
perintah pengamanan terhadap anda yang di
keluarkan langsung oleh Raja dan Perdana
Menteri. Ini surat perintahnya !"
Sang kepala pasukan mengulurkan sebuah kertas
ke hadapan Raya yang menatapnya datar dan
dingin. Dia berusaha bersikap setenang mungkin. Namun Jessica dan Griz yang kini bereaksi.
"Apa-apaan ini, berani sekali kalian melakukan
tindakan tidak terhormat seperti ini.! Kalian
harus konfirmasi dulu dengan Yang Mulya..!"
Jessica tampak berang, namun ucapannya
terhenti ketika Raya mengangkat tangannya.
"Baiklah.. aku akan ikut dengan kalian. Tapi
sebelumnya izinkan aku menghubungi Yang
Mulya Putra Mahkota.."
"Mohon maaf Miss.. anda bisa menghubungi
siapapun saat sudah berada di markas. Kami
harus segera membawa anda pergi dari tempat
ini. Ini adalah perintah dari Negara.!"
Potong kepala pasukan dengan kepala yang
sedikit menunduk hormat. Benjamin dan Griz
langsung maju pasang badan. Tapi pasukan
dari pemerintah yang bersenjata lengkap kini
merangsek maju menodongkan senjata besar
layaknya mau menangkap seorang ******* saja
membuat Benjamin dan semua bawahannya membelalakkan mata. Apa-apaan mereka,
ini benar-benar penghinaan !!
"Kalian semua mundur lah.! Biarkan mereka
melakukan tugas nya dengan baik."
Raya berucap tegas dan lugas dengan wajah
yang terlihat tetap tenang dan terkendali.
"Tapi Lady.. ini tidak benar, kita harus
menunggu Yang Mulya dulu.!"
"Benjamin.. jangan mencoba menghalangi
perintah Raja.!"
Benjamin akhirnya mundur dengan terpaksa
di ikuti oleh Griz dan yang lainnya. Raya kini
menatap tajam kearah kepala pasukan.
"Baiklah Tuan.. Kita bisa pergi sekarang. Tapi
saya punya permintaan, kita lakukan perjalanan
lewat darat, saya tidak bisa naik pesawat."
Kepala pasukan dan para perwira tampak saling
melirik, mencari kesepakatan.
"Baik Miss. Kita berangkat sekarang..!"
Raya mengangguk. Dengan wajah yang terlihat
emosi Jessica memakaikan mantel tebal ke
tubuh Raya di depan semua pasukan.
"Kami akan mengikuti anda Lady..!"
Ucap Benjamin sambil membungkukkan badan
di ikuti yang lain sesaat sebelum Raya di giring
keluar dari kamar bagai seorang pesakitan.
Suasana di luar hotel ternyata di luar dugaan.
Di sana sudah ada ratusan prajurit dengan
puluhan mobil kesatuan, beberapa helikopter,
puluhan wartawan lainnya serta puluhan
pengunjung hotel bagian depan yang ikut
menyaksikan proses penangkapan terhadap
Raya ini. Dan semua stasiun televisi saat ini
sedang menayangkan secara live semua
proses pengamanan ini.
Raya hanya bisa menarik napas berat melihat
keadaan ini, dirinya saat ini sudah seperti
seorang penjahat saja, dia di giring masuk
ke dalam mobil pengaman anti teror..
Benar-benar sudah seperti seorang buronan..
***
__ADS_1