Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
8. Mencoba Bertahan


__ADS_3

❤️❤️❤️


Sean masuk ke dalam ruang perawatan Raya


dengan wajah yang terlihat bersinar cerah.


Pria itu sudah lengkap dengan setelah kerja


nya, tampan dan menawan. Raya menempati


ruang perawatan VVIP sesuai dengan yang


di perintahkan oleh Aaron.


"Selamat pagi Baby.. bagaimana kabarmu


hari ini.?"


Dengan tersenyum lebar Sean mengulurkan


sebuket bunga cantik ke hadapan Raya yang


hanya menatapnya dalam diam. Wajah gadis


itu terlihat datar, tak ada semangat ataupun


harapan yang terlihat dari pancaran matanya.


Dia memandang wajah tampan pria bule


yang selama hampir setengah tahun ini tidak


pernah berhenti mengejar hatinya, sejak pria


itu berada di negara ini dan menjabat posisi


sebagai direktur di perusahaan tempat Raya


bekerja yaitu ' Marvello's Corporation'.


"Kau tidak perlu melakukan semua ini Tuan."


Ucap Raya dengan suara yang sangat dingin.


Dia meraih bunga itu, menyimpan nya di atas


pangkuan. Senyum Sean terkulum lembut,


pria itu tidak pernah memasang tampang


kusut ataupun kacau di hadapan Raya walau


kondisi pikirannya sedang serumit apapun.


"Kau pantas mendapatkannya baby. Kau


adalah wanita tercantik yang pernah aku


temui selama ini. Kau sangat istimewa.."


"Sudah hentikan bualannu itu ! Kau tahu


pasti aku sudah berbeda sekarang.!"


Raya memalingkan wajahnya kearah jendela,


tidak sanggup kalau harus bersitatap dengan


pria itu yang akhir-akhir ini sudah mampu menghangatkan hatinya, memberinya sedikit


kenyamanan saat bersama walaupun mereka


belum resmi jadian. Sean duduk di samping


Raya, wajahnya kini tampak serius. Dia meraih


tangan kiri Raya yang terluka, mengelus nya


lembut penuh perasaan.


"Maaf kalau waktu nya kurang tepat. Tapi aku


tidak bisa menundanya lagi. Aku berniat serius


dengan mu Raya. Aku ingin melamarmu. "


Raya melirik cepat, menatap wajah Sean penuh


keterkejutan dan rasa tidak percaya mendengar


apa yang di ucapkan nya barusan. Keduanya


saling menatap kuat mencoba meyakinkan diri.


Tapi tidak ada sedikitpun keraguan yang terlihat


dari sorot mata bermanik biru laut itu.


"Aku harap kau masih mempertahankan


akal sehat mu Tuan Sean..!"


"Aku sadar sepenuhnya dengan ucapanku.!"


"Aku bukan Raya yang kemarin Tuan Sean.!


Aku tidak berharga lagi sekarang.."


"Aku tidak peduli dengan itu. Kita akan segera


memproses masalah ini ke jalur hukum. Aku


akan memenjarakan ******** itu.!"


"Kau benar-benar konyol Tuan..!"


"Sekarang katakan padaku siapa laki-laki


brengsek itu.! Aku akan melacak nya.!!"


"Cukup ! Aku bahkan tidak mengenalnya


sama sekali. Jadi aku mohon, hentikan


semua kekonyolan mu ini.!!"


"Aku sangat mencintaimu Maharaya..!!"


Mata mereka kembali saling menatap kuat.


Raya menggelengkan kepala pelan dengan


raut wajah mulai berubah muram. Sean kini


menggengam kuat tangan Raya yang terluka.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan mu Raya.


Aku akan membalut semua lukamu.."


Raya menepis genggaman tangan Sean,


memalingkan wajahnya kearah lain. Kali ini


dia tidak boleh lagi meneteskan air mata.


Hatinya sudah tidak berbentuk saat ini.


Mungkin kalau keadaannya tidak seperti


sekarang ini dia akan sangat bahagia saat


mendengar ucapan Sean barusan. Tapi..


sekarang, semuanya telah berubah. Dia


hanya seonggok sampah yang tidak layak


mendapatkan belas kasihan laki-laki baik


seperti Sean.


"Kau berhak mendapatkan wanita yang lebih


baik segala-galanya dariku Tuan. Kau punya segalanya, kau bisa mendapatkan wanita


manapun, tolong jangan korbankan dirimu


hanya untuk wanita yang sudah ternoda


sepertiku..!"


Tegas Raya dengan tatapan yang terlihat


sangat terluka. Sean menatap tenang wajah


Raya, tapi ada pancaran amarah yang kini


tersembunyi di sudut hatinya. Dia tidak akan


mengampuni ******** yang telah merusak


dan membuat seorang Raya kehilangan jati


dirinya yang dulu selalu percaya diri, berani


dan penuh dengan semangat.


"Tapi yang aku inginkan hanya kamu saja.

__ADS_1


Aku sudah cukup lama menunggu saat


ini Raya, tolong lihat aku !"


"Aku mohon Tuan Sean, hentikan semua nya.


Saat ini aku tidak menginginkan apapun lagi."


Sean terhenyak, menatap tajam wajah Raya


dengan rahang yang sedikit mengeras.


"Aku tahu kau butuh waktu sendiri dulu Raya.


Dan aku akan selalu ada untuk mu. Akan aku


tunggu sampai kapanpun."


"Tolong tinggalkan aku sendiri Tuan Sean.!"


Raya memalingkan wajahnya, Sean menatap


Raya sambil menghembuskan nafas berat


kemudian berdiri merapihkan jas nya.


"Baiklah, aku pergi dulu. Setelah semua urusan


beres, aku akan kesini lagi."


Sean meraih tangan Raya, menatap lekat


wajah gadis itu yang masih berpaling sambil


memejamkan matanya. Perlahan dia mencium


lembut jemari tangan Raya dengan tatapan


yang tiada lepas dari wajah cantik gadis itu


yang kini sudah kembali berdarah. Setelah itu


dengan berat hati dia berlalu keluar ruangan.


Raya menghembuskan nafas berat. Apa yang


akan dia lakukan sekarang.? Raya menatap


pergelangan tangannya yang terluka. Kenapa


Tuhan tidak mengijinkan dirinya lepas dari


semua kepahitan ini. Apakah Tuhan punya


rencana lain untuknya ? Raya memejamkan


matanya. Baiklah..! kalau begitu dia tidak akan


membiarkan dirinya terpuruk lagi. Apapun


yang terjadi nanti, akan dia hadapi semuanya.


"Ohhh..kau disini rupanya Nona besar.!"


Raya membuka matanya sedikit terperanjat.


Dia menatap kedatangan kedua saudari


tiri nya yang kini sedang berjalan mendekat.


Mereka berdua, Riri dan Mila berdiri di sisi


ranjang sambil melipat kedua tangannya


di dada dengan tatapan miring sedikit sinis.


"Apa yang terjadi dengan mu Nona Besar.?"


Tanya Riri sambil menatap tajam kearah luka


di pergelangan tangan Raya.


"Aku yakin penjahat itu sudah mengambil


kehormatan mu yang sangat kau banggakan


itu kan ? Itu adalah hukum karma untukmu


Nona Raya, karena selama ini kamu selalu


mengusili urusan kami..!!"


Mila menambahkan dengan tatapan yakin


penuh senyum kepuasan. Raya menatap


kedua gadis berpakaian seksi itu bergantian


"Hei..aku ingin tahu, bagaimana rasanya


bercinta untuk pertama kalinya dengan


terpaksa apalagi harus melayani laki-laki


buas seperti penjahat itu.?"


"Aku yakin itu pasti sangat berkesan Kak


sampai-sampai dia memutuskan untuk


mengakhiri hidupnya..!!"


Tanpa perasaan kedua adik berkakak itu


tertawa kecil mengejek membuat Raya tidak


tahan lagi dia mengepalkan tangannya kuat.


"Kalau kedatangan kalian kesini hanya untuk


itu, sebaiknya kalian pergi sekarang juga.!"


Raya menunjuk ke arah pintu dengan tatapan


tajam yang langsung membuat tawa kedua


gadis itu berhenti. Riri maju mendekat lalu


mencengkram dagu Raya dengan kuat.


"Ini semua pantas kamu dapatkan.Selama ini


kamu terlalu angkuh dan sombong dengan


semua kehormatan mu. Kau menolak setiap


pria yang mendekatimu dengan arogan.!"


Desis Riri sambil menepis kasar wajah Raya


hingga dia berpaling kencang.


"Silahkan kalian hujat aku sesuka hati. Yang


jelas selama ini aku tidak pernah merugikan


siapapun, termasuk kalian.!"


Raya berucap sambil menatap tajam wajah


Riri dan Mila yang tersenyum sinis.


"Ohhh.. jadi kau pikir begitu.? Kau tidak


sadar telah merugikan orang lain.?"


Mila maju mendekat membuat Raya mundur


ke ujung tempat tidur.


"Selama ini kau terlalu cantik dan berharga


Raya.! Dan itu adalah kerugian bagi kita,


semua mata laki-laki tidak pernah melihat


kearah kita karena keberadaan mu. Dan


kau tahu, aku sangat membenci hal itu.!"


Mila mendorong bahu Raya yang hanya


bisa memejamkan mata, mencoba


menahan diri untuk tidak terprovokasi.


"Tapi sekarang kau hanyalah sisa.! Kau


tidak lebih berharga daripada kita. !!"


Desis Riri sambil kemudian ikut mendekat,


menatap mengejek dengan senyum sinis


penuh arti. Dia mendekatkan wajahnya.


"Hati-hati.. Aku yakin akan ada kejutan baru


yang kau dapatkan..Jayden junior hahaa..!!"

__ADS_1


Tawa Mila dan Riri seketika meledak, mereka


berdua melenggang pergi masih menyisakan


tawa bahagia. Raya terhenyak dengan wajah memucat.Tuhan.. apa ini.? dia tidak pernah memikirkan hal itu sebelum nya !! Tidak,


itu tidak akan pernah terjadi. Sialnya, cairan


bening meluncur begitu saja tanpa bisa di


tahan. Raya memejamkan matanya rapat


menahan segala rasa yang kini membuat


dadanya kembali sesak. Dia seakan telah


jatuh kembali ke lembah keterpurukan.


***


"Dengarkan aku Raya, kau tidak sendiri.


Masih banyak orang yang menyayangi dan


mencintai dirimu. Ada orang yang sudah


begitu tulus dan yakin ingin menjagamu.!"


Jessica meyakinkan Raya untuk kembali


bangkit dan keluar dari semua keterpurukan.


Dia tidak ingin sahabatnya itu menghancurkan


dirinya sampai sejauh ini. Raya menghela


nafas pelan lalu mengangguk dan memeluk


erat tubuh sahabatnya itu.


"Baiklah, aku akan mendengarkan mu kali


ini. Terimakasih karena kamu selalu ada


untukku selama ini. "


"Tentu saja. Kita adalah sahabat , sampai


kapanpun.!"


Jessica mengelus rambut Raya, tidak lama


mereka saling melepaskan diri.


"Sekarang bilang padaku siapa laki-laki itu.?"


DEG !


Jantung Raya tiba-tiba berdetak kencang,


bayangan wajah dingin Aaron serta lintasan


kejadian malam itu kini berputar cepat dalam ingatannya. Dia menggeleng kuat , menatap


Jessica mulai di serang kecemasan.


"Jes, aku mohon.. jangan memaksa ku untuk


mengingat kembali kejadian itu. Biarkan aku


beradaptasi dengan semua ini terlebih dahulu."


"Oke, baiklah.! Maafkan aku karena sudah


mengingatkan mu pada kejadian itu.!"


Jessica menggenggam tangan Raya berusaha


untuk menenangkan nya dengan mengelus


lembut wajah bening gadis itu.


"Kau mau aku belikan gado-gado Pak Min


kesukaan mu.?"


Tiba-tiba Jessica berucap dengan wajah


berbinar, Raya menautkan alisnya, tapi


ada ketertarikan yang sangat terlihat di


wajah nya.


"Tapi ini sudah malam Jes.!"


"Masih ada lah, kalau pun dia sudah pulang


aku akan ke rumahnya langsung."


"Jangan Jes, lain kali saja.."


"No, tunggu ya..aku tidak akan lama, malam


ini aku akan menemanimu di sini."


Jessica mengecup lembut pipi Raya


kemudian melangkah pergi keluar ruangan.


Raya hanya bisa terdiam menatap kepergian


sahabatnya itu seraya menggeleng pelan.


Tidak lama dia beranjak turun dari ranjang.


Dia ingin membersihkan dirinya karena


sekarang tubuh nya sudah terbebas dari


berbagai alat medis. Dengan perlahan dia


berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Setengah jam kemudian Raya sudah keluar


dari kamar mandi dengan keadaan yang


terlihat lebih segar. Kondisinya saat ini


sudah sangat stabil, hanya tinggal proses


pemulihan saja. Rencana nya besok dia


akan keluar dari rumah sakit. Sekarang ini


dia sudah tidak memakai pakaian rumah


sakit lagi, Raya mengenakkan gaun tidur


panjang dengan ukuran yang sangat pas


membalut manis tubuh ramping nya.


Raya berdiri di balkon, mencoba menikmati


semilir angin malam yang terasa sejuk di


kulit dan cukup memberinya ketenangan.


Tidak lama terdengar suara pintu ruangan


yang tertutup.


"Jes.. kamu sudah kembali.?"


Raya bertanya masih dalam posisi tubuh


menghadap kearah hamparan pemandangan


kota di bawah sana berhias kerlip lampu


malam yang sangat indah.Tidak ada sahutan


dari arah ruangan membuat Raya menautkan


alisnya, bingung dan sedikit curiga.


"Jes.. apa itu kau..."


Ucapan Raya menggantung di udara saat


dia memutar tubuhnya. Matanya membulat


indah begitu melihat satu sosok tinggi gagah


kini tengah berdiri di ambang pintu dengan


wajah datar nya. Mata mereka bertabrakan,


saling menatap kuat, Raya mundur ke ujung


balkon, dengan tatapan waspada bercampur


tegang kearah pria yang ingin di hindari nya


itu. Tatapan tajam pria itu melemaskan lutut


Raya dan membuat kakinya goyah.

__ADS_1


***


Happy Reading....


__ADS_2