Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
5. Putus Asa


__ADS_3

❤️❤️❤️


Setengah jam kemudian, Aaron terbangun


sekaligus tersadar dari pengaruh alkohol


yang semalam telah membuatnya kehilangan


kendali. Dia melihat keadaan dirinya yang kini


polos juga ke sekeliling kamar, Aaron memijat pelipisnya mencoba untuk mengingat kembali


kejadian semalam.


Dia terkesiap saat melihat ada bercak darah


diatas tempat tidur, kemudian lintasan kejadian semalam dimana dirinya telah memaksakan


kehendak terhadap gadis yang di tolong nya


semua tergambar jelas dalam ingatannya.


Dia seperti orang yang kehilangan akal, tidak


pernah membiarkan gadis itu lepas dari


cengkraman nya hampir semalam penuh.


"Owhh shit..!!"


Aaron mendengus sambil kemudian melompat


dari tempat tidur dengan keadaan tubuh yang


masih polos. Dia segera mengecek ke kamar


mandi siapa tahu gadis itu ada di sana. Tapi


tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu.


Hanya aroma lembut nan wangi tubuh nya


yang masih tersisa dalam kamar besar itu.


Aaron segera membersihkan dirinya di kamar


mandi dengan pikiran yang tiada henti terus


melayang pada gadis yang telah di renggut kesuciannya itu. Bayangan wajah nya kini


memenuhi ingatannya. Setelah selesai dan


kembali berpakaian rapi Aaron segera pergi


ke balkon, dia menghubungi anak buahnya.


"Carikan aku identitas gadis yang kemarin..!"


"Baik Tuan..!"


"Jangan lupa suruh orang untuk segera


melacaknya ! Satu jam yang lalu dia keluar


dari hotel, aku yakin dia belum jauh..!"


"Siap Tuan..!"


Aaron menutup telponnya, kemudian berdiri


menatap hamparan bangunan yang ada di


depannya dengan tangan berpegangan kuat


setengah mencengkram pilar relling balkon.


Dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri atas


apa yang telah di lakukannya. Minuman yang


telah di konsumsi nya semalam membuat dia


kehilangan kontrol atas dirinya. Aaron hanya


bisa meremas kuat rambut nya. Masih jelas


terbayang dalam ingatannya bagaimana


gadis itu memohon untuk di bebaskan..


*****


Sementara itu dengan susah payah Raya tiba


di sebuah apartemen milik temannya yang


terletak di pusat kota. Dia berdiri gontai di


depan pintu setelah menekan bel beberapa


kali. Tubuh nya kini semakin lemah, kakinya


pun semakin goyah.


"Raya..apa yang terjadi dengan mu.?"


Raya menatap lemah gadis manis yang kini


berdiri di ambang pintu apartemennya nya


dengan wajah di penuhi keterkejutan. Raya


berjalan masuk tapi kemudian langkahnya


terhenti ketika tiba-tiba pandangannya


kabur, pendengarannya pun perlahan


melemah dan akhirnya..


"Raya..ya Tuhan..!"


Gadis itu memekik kaget sambil merangkul


tubuh Raya yang terkulai lemas dalam pelukan


nya. Dengan perlahan di liputi kepanikan gadis


itu membawa tubuh lemah Raya ke dalam ruang


depan apartemen kemudian membaringkannya


di atas sofa dengan sangat hati-hati. Dia segera


berlari masuk ke dapur lalu ke kamarnya. Wajah


nya di penuhi kepanikan dan kecemasan.


"Kamu kenapa sih Raya sayang..? Keadaanmu


kenapa bisa kacau begini."


Gadis itu mencoba mengecek nadi dan mata


Raya dengan seksama. Dia juga menempelkan


minyak angin di sekitar hidung dan leher Raya.


Tangan nya beralih memijat telapak tangan dan


kaki Raya yang sangat dingin. Kulit gadis itu


juga terlihat sangat pucat.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Raya


membuka mata perlahan. Tatapan lemahnya


jatuh pada sosok gadis manis tadi yang sedang


menatapnya penuh kecemasan.


"Kamu sudah sadar Ray..?"


Tanya gadis itu seraya meraih gelas air putih


di atas meja. Raya bangkit kemudian merebut


gelas di tangan gadis itu yang hanya bisa diam


melongo saat melihat Raya meminum air itu


dengan sangat rakus.


"Mau lagi minum nya.?"


Raya mengangguk, gadis itu segera berlalu

__ADS_1


kearah dapur. Tidak lama sudah kembali


membawa sebotol besar air mineral. Raya


segera meminumnya.


"Apa yang terjadi dengan mu.?"


Raya melirik sekilas kemudian menundukkan


kepala sambil menggeleng pelan.


"Tidak ada.! A-aku hanya kelelahan."


"Kamu tidak bisa bohong padaku Ray.! Sudah


4 hari kamu tidak masuk kantor.!"


Raya masih tetap menundukkan kepalanya.


Gadis itu tidak tahan lagi, dia segera meraih


bahu Raya, mengangkat wajahnya membuat


Raya memejamkan mata mencoba menahan


desakan air mata yang kini mulai menyeruak


keluar menuruni pipi pucatnya. Gadis itu tampak


terkejut saat melihat bagaimana kacaunya


kondisi kulit leher sampai bahu Raya. Dengan


kasar dia menarik pakaian atas Raya. Matanya


makin terbelalak melihat seluruh tubuh bagian


atas Raya di penuhi tanda merah yang kini


mulai berubah kebiruan. Wajahnya seketika


memerah di selimuti emosi.


"Siapa yang melakukan ini padamu Ray.?"


Tanya nya dengan suara yang sangat berat.


Raya menggeleng kuat masih mencoba untuk


menahan tangisnya supaya tidak pecah.


"Bilang padaku, siapa orangnya Ray.?"


Gadis itu memekik sambil menatap tajam


wajah Raya, dia benar-benar tidak percaya


pada apa yang di lihatnya. Raya bergeming


dia masih saja bungkam mencoba menahan


tangisnya sambil menunduk. Gadis tadi kini


kembali mencengkram bahu Raya.


"Apa si keparat Jayden itu yang melakukan


semua ini.? Aku benar-benar tidak akan


memaafkan nya.!"


Tangis Raya kini mulai pecah, dia menutup


wajahnya sambil terisak pilu.


"Bicara padaku Raya, apa itu benar.? Apa


benar laki-laki ******** itu yang melakukan


semua ini padamu.?"


"Bukan Jes.! bukan dia.!"


Raya memeluk erat tubuh gadis itu yang kini


membeku, tapi kemudian dia balas memeluk


Raya sambil mengelus punggungnya. Raya


dekatnya itu yang masih terlihat begitu emosi.


Tubuh nya masih terlihat gemetar menahan


serbuan amarah yang menguasai dirinya.


"Baiklah.. sekarang tenangkan dirimu dulu.


Baru setelah itu ceritakan semuanya padaku."


Gadis tadi berusaha menenangkan. Tangis


Raya kini benar-benar pecah seluruhnya.


Dia mengeluarkan semua ganjalan yang ada


di hatinya dengan menumpahkan seluruh air


matanya dalam pelukan sahabatnya itu yang


selalu ada kapanpun dia membutuhkan.


Setelah tangisnya mereda, Raya kini bangkit


perlahan, berjalan dengan gontai menuju ke


salah satu kamar di apartemen itu.


"Ray.. kamu mau kemana.?"


Gadis tadi atau Jessica mengikuti Raya dari


belakang dengan tampang cemas.


"Aku sangat menjijikkan Jes, jangan pedulikan


aku lagi. Aku tidak ada harganya lagi sekarang."


"Apa yang kau katakan.? Raya.. sebaiknya


sekarang kamu tenangkan dirimu dulu."


"Aku kotor Jes. Aku penuh dengan noda.."


Raya seolah berbicara pada dirinya sendiri


sambil kemudian masuk ke dalam kamar


mandi. Jessica berusaha untuk mengikuti


Raya tapi gadis itu dengan cepat mengunci


pintu kamar mandi.


"Ray..? buka pintunya.! Biarkan aku masuk.!"


Raya tidak peduli teriakan Jessica. Dia mulai


menyalakan shower dengan deras, lalu tubuh


nya jatuh bersimpuh di bawahnya. Dia kembali menangis tersedu meratapi segala nasib buruk


yang menimpanya, memukuli badannya, lalu


menggosok kasar seluruh kulit tubuh nya.


"Tuhan... maafkan aku yang tidak mampu


menjaga kehormatan ku..Aku hina sekarang.."


Lirih Raya penuh kesakitan. Jiwanya seakan


hampa, dia benar-benar lelah dan tidak bisa


menerima semua kepahitan hidup yang kini


di alaminya.


"Raya.. buka pintunya..! Ku mohon jangan


melakukan hal yang akan merugikan dirimu


sendiri.! Rayaa...Rayaa.. kau dengar aku..??"


Jessica menggedor-gedor pintu kamar mandi


sambil terus berteriak mengingatkan Raya.

__ADS_1


Wajahnya terlihat di penuhi oleh kekhawatiran.


"Raya.. buka pintu nya..! Kau harus tenang.


Kau butuh menenangkan pikiran mu saat ini.."


Jessica kembali berteriak sambil tiada henti


menggedor dan memutar handel pintu. Tapi


tidak ada tanggapan ataupun sahutan dari


dalam. Jessica memutar badannya, berjalan


mondar mandir di dalam kamar. Tidak lama


dia keluar untuk mengambil ponsel. Dirinya


benar-benar mencemaskan keadaan Raya


saat ini, takut terjadi hal-hal yang tidak di


inginkan. Dia mencoba untuk memanggil


seseorang.


"Hallo Mr Sean..? ini sama Jessica..!


Maaf bisa datang ke tempat saya tidak.?"


" Ada apa Jes.? apa ada yang urgent.?"


"Raya.. Raya ada di tempat saya sekarang."


"What.? Raya ada di tempat mu sekarang.?"


"Benar Mr.. Sebaiknya anda kesini sekarang


juga, secepat nya..saya tunggu.!"


"Oke kebetulan aku sudah di jalan mau ke


kantor, aku kesitu sekarang.!"


Jessica menutup panggilan telepon nya. Dia


kembali ke dalam kamar Raya. Suara aliran


air shower masih terdengar dari dalam kamar


mandi tapi suara tangis Raya kini sudah tidak


ada jejaknya lagi, gadis itu semakin cemas.


"Raya.. Raya.. kamu baik-baik saja kan.?


Raya..aku mohon jawab aku..Rayaaa....!"


Jessica sudah habis kesabaran. Dia mencoba


mendobrak pintu kamar mandi menggunakan


lutut nya, namun itu sia-sia saja. Kemudian dia


berlari ke dapur mengambil palu dan peralatan seadanya. Dengan tenaga penuh dia memukul


handel pintu dan lobang kunci penuh kepanikan.


Akhirnya setelah usaha yang sangat keras dia


berhasil membuka pintu kamar mandi. Matanya


tampak membulat sempurna dengan tubuh


membeku di tempat. Mulutnya menganga tidak


mampu mengeluarkan suara.


Dia melihat saat ini tubuh Raya sudah tergeletak


di atas lantai kamar mandi, ceceran darah kini


memenuhi seluruh ruangan itu di bawah aliran


air shower yang masih menyala.


"Rayaa...."


Jessica melompat menyerbu tubuh bersimbah


darah itu, meraihnya ke dalam pelukan dengan


jeritan yang tiada henti keluar dari mulutnya.


"Raya... kenapa kamu melakukan ini.? Ini


bukanlah dirimu Raya..Kau adalah wanita


paling kuat yang aku kenal selama ini.."


Jerit tangis Jessica sambil memeluk erat tubuh


Raya yang sudah mulai membeku.Tidak lama di ambang pintu muncul seorang pria bertubuh


tinggi. Tatapan mata pria yang baru datang itu


tampak syok luar biasa.


"Raya..Oh My God..!"


Secepat kilat dia menyambar tubuh Raya dari


pelukan Jessica kemudian menggendongnya


dan tanpa menunggu lagi dia segera keluar


dari apartemen setengah berlari membawa


tubuh Raya ke parkiran di ikuti oleh Jessica.


Mereka berdua melarikan Raya ke rumah


sakit terdekat.


Tiba di instalasi gawat darurat pria tinggi tadi


langsung berteriak menggema memanggil


semua petugas medis. Keadaan kini menjadi


gaduh dan mencekam. Raya segera di bawa


ke dalam ruang penanganan khusus saat


keadaannya di sadari para dokter sudah


sangat kritis. Dia kehilangan banyak darah.


"Apa yang terjadi dengan nya.? Kenapa hal


seperti ini bisa menimpanya.?"


Pria tinggi tadi menginterogasi Jessica yang


terlihat duduk bersimpuh di lantai di depan


pintu ruangan tempat Raya di tangani.


"Maaf Mr.. Kejadiannya begitu cepat. Saya


juga tidak tahu apa yang terjadi padanya."


"Kenapa kamu tidak mencegah dia hahh..?"


Pria itu atau Sean membentak Jessica yang


terlihat semakin tertekan.


"Maaf Mr.. Maafkan saya. Ini semua salah


saya yang tidak bisa mencegah nya."


"Aarrghh...sial..!! Raya.. apa yang terjadi


padamu baby...!"


Sean meremas kepalanya, menjambak kuat


rambutnya. Dia menjatuhkan dirinya di atas


bangku. Wajahnya terlihat memerah di penuhi


oleh berbagai emosi yang campur aduk.


***


Happy Reading.....

__ADS_1


__ADS_2