
Eden Wolf menatap tajam lurus kearah Aaron
yang berdiri tegak di ujung sana. Raya meronta
mencoba melepaskan diri dari kekuasaan pria
itu. Tapi Eden Wolf malah semakin mengunci pinggang Raya dengan seringai iblisnya ke arah
Aaron. Dan kini di udara tiba-tiba saja terjadi
perang tembakan dari beberapa pesawat tempur
kecil, antara black Eagle dan pasukan Eden yang
baru saja berdatangan mengepung kereta. Raya
semakin di landa ketakutan saat melihat ke
seluruh arah, dirinya saat ini berada di atap
kereta yang ada di atas tebing tinggi. Dan atap
inipun bentuknya tidaklah rata semua, hanya
sekitar satu setengah meter saja, sisanya di
kedua sisinya miring dan licin.
Aaron terlihat mengokang senjata di kedua
tangannya dengan wajah yang sudah berubah
seram saat melihat Raya ada dalam kekuasaan
musuh utama yang sangat menjengkelkan dan
minta di bereskan secepatnya itu. Dia kini mulai mengambil ancang-ancang .
"Amankan semua orang..!! Aku akan bereskan
manusia yang satu ini.!"
Aaron berbicara melalui alat komunikasi khusus
yang ada di telinganya. Matanya semakin fokus menatap jauh menembus sosok Eden Wolf.
Jarak mereka kini terpaut ratusan meter karena
Aaron ada di ujung gerbong belakang. Keadaan
saat ini sangatlah genting. Perang tembakan berlangsung di dua tempat, di udara dan dalam
kereta. Pasukan militer angkatan darat dan
udara dari pemerintah pun sepertinya mulai
bergerak menuju ke lokasi.
"Aaroonn... awass..!"
Raya menjerit histeris ketika tiba-tiba gerbong
yang di pijak oleh Aaron terlepas dari gerbong
depannya memaksa dia untuk melompat dan
berlari cepat setengah terbang melawan arus
kecepatan kereta yang terlepas ke belakang.
Dan dengan liciknya Eden Wolf melancarkan tembakan kearah Aaron yang sedang berlari
melawan arus membuat Aaron harus berjibaku
dan mengerahkan seluruh kemampuan serta
kekuatan yang di milikinya untuk menghindari serangan brutal pria itu.
Karuan saja hal itu membuat Raya membulatkan matanya di telan kepanikan melihat Aaron yang
harus berguling-guling di atap gerbong yang
sedang melesat dengan kecepatan bukanlah
main-main. Tubuh Raya kini gemetar di kuasai
oleh kepanikan dan kecemasan luar biasa saat
melihat tubuh Aaron yang terlempar ke pinggir
gerbong, namun dengan gerakan secepat kilat
Aaron melompat kembali ke atap gerbong dan
kembali berlari sambil menghindari serangan
yang terus-menerus di lancarkan Eden Wolf.
"Tidaakkk..!! Aaroonn...!"
Raya mencoba menghentikan serangan Eden
Wolf dengan memukuli tubuh kekar pria itu
dalam keadaan kedua tangan yang masih terikat
kuat. Namun tubuhnya malah limbung dan
hampir saja terlempar kalau Eden Wolf tidak cepat-cepat menangkap pinggangnya dan
langsung melingkarinya kuat agar Raya tidak
berontak lagi.
"Hentikan Eden Wolf..! Kalau kau merasa jadi
laki-laki sejati hadapi dia secara jantan.!
Jangan menyerangnya dengan licik..!!"
Teriak Raya di tengah kekalutannya, tubuhnya
kini sudah benar-benar di kuasai oleh rasa takut
namun juga kemarahan yang mulai menyeruak.
"Dalam perang.. apapun bisa di lakukan untuk
menang sayangku..Dan aku akan menempuh
segala cara untuk mendapatkan mu. Sekaligus
mengamankan mu dari kemungkinan merusak
rencana besar besok..!"
Desis Eden Wolf masih melancarkan tembakan
kearah Aaron dengan tangan kanan, sedang
tangan kiri mengunci pinggang Raya yang kini
terhenyak dalam kekalutan pikirannya. Rencana
besok.? Otak Raya berputar cepat mencerna
apa yang di ucapkan pria codet itu. Matanya kini
kembali membelalak saat Aaron tiba-tiba di
serang oleh anak buah Eden yang baru saja
naik dari dalam gerbong. Dia bertarung hebat melawan 5 orang pria besar di atap gerbong
yang sedang dalam proses pemisahan. Namun
dari arah kereta yang lepas itu muncul Alex dan Benjamin hingga kini mereka lah yang bertarung dengan penjahat itu dan Aaron harus kembali melompat cepat untuk bisa berpindah ke kereta berikutnya.
"Lepaskan aku.. Aaroonn.. tidaakk..!
Raya berteriak saat Aaron hampir tidak bisa
mengejar gerbong berikutnya karena serangan
Eden yang mengenai dadanya, namun secepat
kilat dia menggerakkan tangannya melesatkan
sebuah alat semacam seling kecil membuat
tubuhnya terbang dan meloncat cepat kearah
gerbong berikutnya. Raya mulai bercucuran air
mata melihat perjuangan Aaron. Dan tenaganya
kini sudah terkuras habis.
Keadaan semakin genting saat gerbong lainnya menyusul terlepas satu persatu dan di dalamnya
terdapat puluhan orang penting. Mereka semua
terdengar berteriak-teriak di serang kepanikan. Sementara Aaron harus kembali berlari cepat
untuk melewati gerbong-gerbong tersebut sambil
menyerang balik Eden Wolf dengan tembakan
penuh perhitungan yang sengaja mengarah pada
senjata di tangan pria menyeramkan itu hingga akhirnya senjata itu terlempar ke udara dan jatuh
ke dalam tebing.
Tampang Eden Wolf tampak semakin terlihat
menyeramkan. Dia mendorong tubuh Raya ke
belakang membuat Raya kembali ketakutan
melihat pemandangan menyeramkan di depan
matanya karena kini posisi kereta sedang ada
di ketinggian maksimal. Raya membulatkan
mata begitu melihat Eden Wolf merentangkan
tangan nya ke udara dan tiba-tiba saja salju
tebal yang ada di kedua sisi kereta menyembur
ke atas di sepanjang jalur menyerang sosok
Aaron yang terus berlari cepat menghindari
serangan aneh salju tersebut yang tiada henti menyembur dan menyapu ke arah nya.
Melihat hal itu Raya menjerit keras membelah
suasana genting hingga menyebabkan ikatan
di tangan nya terlepas, dan entah reflek atau
apapun itu dari matanya keluar kilatan hebat
yang langsung menembus dan melindungi
tubuh Aaron hingga sesuatu yang aneh pun
terjadi. Serangan salju tadi tiba-tiba saja mental
seolah membentur benteng yang sangat kokoh
hingga akhirnya pecah di udara menghasilkan
kabut tebal putih yang menutupi tebing tinggi
tersebut.
Tubuh Eden Wolf tiba-tiba terseret ke belakang
hingga mendekat kearah Raya. Eden memegangi
dadanya sambil menatap tajam wajah Raya di
penuhi keterkejutan luar biasa.
"Kau.. sudah bisa mengeluarkan nya.? Begitu
cinta kah kamu pada penjahat itu, hingga kau
sangat ingin melindunginya hahh.?"
Geram Eden sambil mencengkeram dagu Raya
__ADS_1
dengan tatapan menyala yang menyemburkan
bara api dan beradu tatap dengan mata Raya
yang mengeluarkan kilau biru bening. Kedua
mata mereka terlihat bertarung di udara. Raya
memegang tangan Eden yang semakin kuat
mencengkeram wajahnya.
"Kau tidak perlu tahu perasaan ku.! Yang pasti
aku tidak akan membiarkan siapapun mencoba
melukainya !"
Desis Raya dengan tatapan yang semakin kuat
hingga membuat Eden melepaskan tangannya
dari dagu Raya bersamaan dengan kemunculan
4 orang bawahannya dan langsung menyerbu
kearah Aaron yang baru saja tiba di gerbong itu.
Maka pertarungan seru pun kini berlangsung di
atas kereta yang melesat cepat menembus dan
membelah pegunungan dan kini sudah mulai
meluncur keluar dari kawasan bersalju tebal itu. Namun jalur yang di lalui kini semakin ekstrim
saja karena rel kereta berada di atas tebing
bebatuan yang sangat menyeramkan.
Eden Wolf mundur sambil memegangi tangan
Raya saat melihat anak buahnya berjatuhan satu
persatu di babat habis oleh Aaron dan terlempar
jatuh ke dalam tebing. Eden Wolf kini semakin
mundur dengan tatapan tajam penuh antisipasi.
Aaron baru saja berbalik kearah Raya ketika tiba-
tiba dalam gerakan cepat Eden Wolf mendorong tangannya kearah Aaron hingga membuat tubuh Aaron seketika terlempar ke belakang dan jatuh
ke bagian belakang kereta.
"Aaroonn.. tidaakk.. Aaroonn..."
Raya menjerit-jerit histeris sambil meronta dan
akhirnya terlepas dari cengkraman kuat Eden,
seolah lupa pada ketakutannya Raya berlari ke
ujung kereta yang kini hanya tersisa dua gerbong utama saja sebab yang lain sudah terlepas semua. Pertempuran di udara pun kini sudah berhenti
karena seluruh anak buah Eden sudah bisa di lumpuhkan. Raya berdiri di ujung atap kereta
dan membulatkan matanya saat melihat sosok
Aaron kini sedang merangkak naik keatas badan
kereta dari arah rel dengan gerakan yang sangat
lincah dan terlatih.
"Aaron.. kau tidak apa-apa.?"
Raya berseru dengan tatapan penuh kecemasan.
Aaron menatapnya sekilas kemudian meloncat
dan berdiri kembali di atap gerbong langsung
mendekap tubuh Raya yang balik memeluknya
erat sambil menangis sesegukan menyusupkan
wajahnya di dada Aaron.
"Hei.. tenanglah..aku baik-baik saja..!"
Desis Aaron sambil mempererat pelukannya
seraya menatap tajam kearah Eden Wolf yang
tampak menyeringai sadis penuh angkara murka.
Pria yang sudah di kuasai amarah luar biasa itu
kini membidikkan senjata nya kearah keberadaan
Raya dan Aaron dan bersiap melesakkan tembakan.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan nya maka
tidak ada satupun dari kita yang akan hidup
Underground Devil..!!"
Geram Eden Wolf sambil mengangkat kedua
senjata di tangannya tersebut. Namun dalam
gerakan kilat tak terdeteksi tangan kanan Aaron berkelebat melemparkan dua pisau lipat kearah senjata di tangan Eden Wolf hingga terlepas dan seketika terlempar jauh entah kemana membuat
pria itu menggertakkan giginya dengan aura
wajah yang semakin mengerikan. Dia kini
kembali memasang kuda-kuda aneh.
"Sudah saatnya kau menghentikan semua
sepak terjang mu Eden Wolf..!"
Ucap Aaron sambil melepaskan pelukannya
dan menempatkan tubuh Raya di belakangnya
di ujung gerbong agar dia bisa berdiri aman dan bertahan. Dan tanpa menunggu lagi Aaron kini melompat menerjang ke arah Eden Wolf yang
sedang mendatangkan angin besar yang seketika memutar dan menyapu kearah Aaron dan Raya. Namun lagi-lagi sesuatu yang aneh terjadi, tubuh
Aaron yang terseret ke belakang langsung di peluk erat oleh Raya dan angin besar di sertai semburan salju itu hanya bisa lewat tanpa mampu menyapu tubuh mereka.
Mata Eden Wolf menyala tidak percaya serangan
nya kembali mental. Dan semua kekuatan aneh
serta ilmu tipuannya sudah terpatahkan oleh
sesuatu yang ada dalam tubuh Raya.
"Shit.! Aku bisa habis kalau terus bertahan di
tempat ini.! Wanita itu mampu mematahkan
semua serangan ku.!"
Geram Eden sambil mundur kehabisan tenaga.
Dia melihat ke arah sekitar nya. Saat ini posisi
kepala kereta ini sedang berada di atas perairan
menuju ke perbatasan.
"Mau lari kemana kamu hahh ? Kau sudah tidak
punya tempat untuk bersembunyi lagi.!"
Ujar Aaron sambil kemudian berlari menerjang
kearah Eden Wolf hingga akhirnya mereka berdua
bertarung seru dan sengit. Saat ini hanya tersisa gerbong utama saja. Dan di dalam kereta ini hanya tinggal mereka bertiga serta masinis dan para
asistennya yang sedang berusaha mengerem
kereta itu dalam kondisi tubuh babak belur karena
di hajar habis-habisan oleh anak buah Eden Wolf
saat mereka mencoba untuk menghalangi
perbuatan para penjahat itu.
Namun sayangnya semua program dan mesin pengendali saat ini sudah di rusak oleh orang-
orang itu hingga kini laju kereta sudah tidak bisa
di kendalikan lagi dan arah keretapun telah di
belokan menuju jalur rel yang masih dalam
proses pengerjaan yang melintasi lautan.
Saat ini ada beberapa helikopter terbang mengejar kepala kereta tersebut yang di tumpangi oleh Alex, Benjamin dan Markus sang ketua Black Eagle serta beberapa orang dari militer termasuk jenderal ketahanan yang langsung ikut terjun ke tempat ini. Ada kamera televisi juga yang sedang menyiarkan secara live tragedi penyerangan ini.
Aaron dan Eden Wolf tampak masih bertarung
seru mengeluarkan segala kemampuan. Tubuh
Eden Wolf terlempar saat pukulan dan tendangan
Aaron berisi tenaga penuh masuk menghantam tubuhnya. Pria itu tampak berusaha berdiri
dengan mulut yang menyemburkan darah kental. Matanya menatap tajam kearah Raya dan Aaron,
dan ada seringai aneh di bibirnya.
"Aku tidak akan lenyap begitu saja Aaron..
Karena aku bisa datang dalam berbagai
wujud lain..!"
Ucap Eden Wolf sambil mengibaskan tangannya
ke udara namun dengan gerakan lebih cepat
Aaron terlebih dahulu melesakkan beberapa
tembakan tepat ke dada pria itu yang langsung mundur. Aaron membidikkan senjatanya kembali, namun di sisa kekuatannya Eden Wolf melompat terjun ke dalam sungai yang arusnya sangat
deras itu membuat Aaron menggertakkan giginya sambil mengumpat murka. Dia menatap lepas
sungai tersebut yang telah menelan sosok
Eden Wolf.
Raya berlari menyerbu kearah Aaron yang terlihat
langsung memeluk dan mengangkat tubuhnya
ke dalam pangkuan.
"Aaron.. kenapa kejadian mengerikan seperti
ini harus kembali terjadi. Aku takut Aaron..
Aku takut kehilanganmu.."
Isak Raya sambil memeluk erat tubuh Aaron yang hanya bisa mengelus rambut Raya dan menciumi
puncak kepalanya seraya memejamkan mata di
tengah segala gejolak perasaan yang saat ini tidak tahu seperti apa.
"Yang Mulya.. kereta saat ini sudah keluar jalur
dan akan berakhir di jalur buntu..!!"
Terdengar suara Sang jenderal dari atas heli
membuat Aaron dan Raya tersentak. Keduanya
tampak saling pandang kuat, wajah Raya kini
berubah kembali panik.
"Aaron..apa yang akan terjadi pada kita.? Apa
kita akan berakhir sekarang ?"
__ADS_1
"Tidak mungkin, aku tidak akan membiarkan
itu terjadi. Kau harus tenang..Aku ada di sini.!"
"Tapi Aaron kecepatan kereta ini bukanlah
main-main.."
"Sayang..kau dengar aku.? Tenanglah..percaya
padaku, oke..?!"
Aaron mengguncang bahu Raya agar istrinya
itu berhenti histeris dan tenang. Mata mereka
kembali saling menatap kuat.
"Kau lihat..Aku di sini akan selalu bersamamu.
Kalau perlu aku akan mengorbankan nyawaku
untuk keselamatan mu.!"
"Tidak Aaron .! Aku percaya padamu..! Kau
tidak boleh bicara sembarangan..!"
Seru Raya sambil menggelengkan kepalanya
kuat dengan derai air mata yang semakin deras.
"Okay.. kalau begitu tetaplah di dekatku dan
dengarkan intruksi dariku.!"
Raya mengangguk pelan, Aaron mengusap air
mata yang membasahi kedua pipi pucat Raya
setelah itu dia melihat kearah helikopter.
"Amankan masinis dan asistennya sekarang.!"
Titahnya dengan berteriak kencang kearah
helikopter yang di tumpangi oleh Benjamin dan
Alex, sementara helikopter yang di tumpangi
oleh Markus sudah berada di sisi lain untuk
melakukan proses penyelamatan terhadap
masinis dan para asistennya.
"Baik Yang Mulya.. Sebaiknya anda naik
sekarang juga, kereta semakin tidak terkendali.!"
Teriak Benjamin sambil mengeluarkan tangga
darurat ke arah atap gerbong, namun ini tidak
mudah karena laju kereta yang semakin cepat
dan akan melewati daerah pegunungan kembali
yang di penuhi gegapnya pepohonan cemara.
"Kalian naikkan pesawat sekarang, aku akan turun untuk memastikan semuanya terlebih dahulu.!"
"Yang Mulya saya mohon jangan.. Anda harus
naik sekarang juga..!"
Teriak Sang Jenderal dengan wajah panik saat
melihat Aaron menarik tangan Raya di bawa
turun menuju tangga darurat. Sementara itu
masinis dan 3 asistennya saat ini sudah berhasil
naik ke atap gerbong kepala kereta dan dengan
susah payah akhirnya mereka berempat kini
sudah berada di dalam pesawat.
Aaron membawa Raya masuk ke dalam gerbong
depan dan segera mengecek kondisi mesin.
"Shit ! Mereka telah merusak program dan rem
kereta ini. Eden Wolf benar-benar ******** !"
Geram Aaron dengan wajah kelam yang sangat
menakutkan. Dia berpikir cepat memaksimalkan
kemampuan otaknya untuk memperbaiki sistem
dari mesin canggih kereta ini yang sudah kacau.
Dia tidak akan membiarkan kereta yang sudah
menghabiskan dana triliunan itu hancur begitu
saja tanpa usaha maksimal.
Raya menatap diam punggung Aaron yang kini
sedang fokus mengutak-atik mesin. Perlahan
dia mendekat dan tanpa di duga Raya memeluk
erat tubuh Aaron dari belakang membuat Aaron membeku dengan perubahan wajah yang terlihat
sangat aneh, wajahnya memerah dengan detak
jantung yang tiba-tiba berkejaran namun dia juga
masih diliputi oleh api amarah.
"Tenangkan pikiranmu.. Jangan memakai emosi
untuk memaksimalkan kinerja otakmu."
Lirih Raya dengan suara yang sangat lembut dan tenang seolah-olah menghipnotis. Aaron terdiam,
terpaku sejenak hingga akhirnya dia membalikkan badannya, keduanya kini saling berhadapan, saling pandang lekat. Tangan Raya bergerak mengelus
lembut wajah tampan Aaron yang benar-benar
terlihat aneh, sangat tegang.
"Aku di sini, menemanimu.. Fokuskan hati dan
pikiranmu pada tujuanmu..Aku akan selalu ada
di belakangmu, mendukungmu sayang.."
Bisik Raya sambil kemudian memagut bibir
Aaron dan ********** lembut penuh perasaan.
Air matanya kembali menetas menahan tekanan
perasaan yang hampir saja tidak terkendali.
Aaron membeku, mematung dalam guncangan
perasaan yang tiba-tiba menggila mendapat
perlakuan lembut Raya yang tidak terduga ini.
Tidak lama bibirnya reflek membalas ciuman
maha dahsyat itu dengan mata terpejam kuat.
Untuk sesaat keduanya terhanyut dalam ciuman
hangat dan lembut yang membawa mereka ke
awan dengan sejuta perasaan yang tidak bisa
terjabarkan dengan kata-kata..
Setelah beberapa saat Aaron tampak kembali
fokus pada panel kontrol dan mulai mengerahkan seluruh kemampuan nya untuk memperbaiki
mesin dan sistem pengoperasiannya di dampingi
oleh Raya yang berdiri di sampingnya. Keadaan
di udara kini terdengar gemuruh, karena pesawat
yang dari tadi mengikuti kini semakin mendekat
dan para bawahan Aaron saling bersahutan
mengingatkan Aaron agar segera naik ke atap
gerbong untuk menyelamatkan diri sebab jarak
kepala kereta pada jalur buntu kini hanya tersisa
beberapa ratus mil lagi.
Dan akhirnya semua kejeniusan Aaron terbukti,
mesin kontroling itu sudah kembali berfungsi
seperti semula, Aaron langsung mengatur system pemberhentian otomatis pada jarak tertentu.
Namun tuas rem yang berfungsi strategis untuk mengerem mesin kini dalam kendala.
Aaron kembali mengerahkan seluruh tenaga
untuk menariknya, tapi ini sangat sulit sebab
alatnya sudah di rusak oleh para penjahat tadi.
Raya maju, meletakkan tangannya di atas tangan Aaron dengan tatapan mata terfokus penuh pada
tuas itu. Aaron terhenyak bengong dan terkejut
ketika tiba-tiba saja tuas yang tadi sangat sulit
untuk di tarik kini dengan mudahnya dapat di
kendalikan pada posisi full rem.
Keduanya kembali saling pandang lekat dengan senyum manis yang sama-sama terukir di bibir
mereka yang saling memagut lembut.
"Ayo kita keluar sekarang.. Biarkan mereka yang
mengurus sisanya.."
Bisik Aaron sambil mengangkat tubuh Raya yang
sudah benar-benar kehilangan tenaga karena
terlalu banyak terkuras. Kereta sudah meluncur
di atas rel buntu menuju ke area lautan di tengah
kota xxx..Dan dibawah rel ini ada jembatan layang yang saat ini sedang padat-padatnya.
Semua bawahan Aaron terlihat bengong saat
melihat sosok Sang Pangeran keluar dari pintu samping kereta dalam posisi mendekap erat
tubuh Raya kemudian dalam gerakan cepat dan keberanian serta kegagahan yang paripurna dia melompat terjun dari pintu kereta meluncur dan mendarat dengan mulus di atas mobil sport
mewah terbuka yang di bawa oleh Ansel dan
telah menunggu di jembatan layang tersebut
bersama barisan mobil pasukan singa putih.
Pemandangan luar biasa itu membuat semua
pengendara yang lewat ke jembatan itu langsung menghentikan mobil mereka sambil melongo
menyaksikan adegan bak dalam film action itu..
***
Happy Reading..
__ADS_1