Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
69. Another Incident


__ADS_3

Eden Wolf menatap tajam lurus kearah Aaron


yang berdiri tegak di ujung sana. Raya meronta


mencoba melepaskan diri dari kekuasaan pria


itu. Tapi Eden Wolf malah semakin mengunci pinggang Raya dengan seringai iblisnya ke arah


Aaron. Dan kini di udara tiba-tiba saja terjadi


perang tembakan dari beberapa pesawat tempur


kecil, antara black Eagle dan pasukan Eden yang


baru saja berdatangan mengepung kereta. Raya


semakin di landa ketakutan saat melihat ke


seluruh arah, dirinya saat ini berada di atap


kereta yang ada di atas tebing tinggi. Dan atap


inipun bentuknya tidaklah rata semua, hanya


sekitar satu setengah meter saja, sisanya di


kedua sisinya miring dan licin.


Aaron terlihat mengokang senjata di kedua


tangannya dengan wajah yang sudah berubah


seram saat melihat Raya ada dalam kekuasaan


musuh utama yang sangat menjengkelkan dan


minta di bereskan secepatnya itu. Dia kini mulai mengambil ancang-ancang .


"Amankan semua orang..!! Aku akan bereskan


manusia yang satu ini.!"


Aaron berbicara melalui alat komunikasi khusus


yang ada di telinganya. Matanya semakin fokus menatap jauh menembus sosok Eden Wolf.


Jarak mereka kini terpaut ratusan meter karena


Aaron ada di ujung gerbong belakang. Keadaan


saat ini sangatlah genting. Perang tembakan berlangsung di dua tempat, di udara dan dalam


kereta. Pasukan militer angkatan darat dan


udara dari pemerintah pun sepertinya mulai


bergerak menuju ke lokasi.


"Aaroonn... awass..!"


Raya menjerit histeris ketika tiba-tiba gerbong


yang di pijak oleh Aaron terlepas dari gerbong


depannya memaksa dia untuk melompat dan


berlari cepat setengah terbang melawan arus


kecepatan kereta yang terlepas ke belakang.


Dan dengan liciknya Eden Wolf melancarkan tembakan kearah Aaron yang sedang berlari


melawan arus membuat Aaron harus berjibaku


dan mengerahkan seluruh kemampuan serta


kekuatan yang di milikinya untuk menghindari serangan brutal pria itu.


Karuan saja hal itu membuat Raya membulatkan matanya di telan kepanikan melihat Aaron yang


harus berguling-guling di atap gerbong yang


sedang melesat dengan kecepatan bukanlah


main-main. Tubuh Raya kini gemetar di kuasai


oleh kepanikan dan kecemasan luar biasa saat


melihat tubuh Aaron yang terlempar ke pinggir


gerbong, namun dengan gerakan secepat kilat


Aaron melompat kembali ke atap gerbong dan


kembali berlari sambil menghindari serangan


yang terus-menerus di lancarkan Eden Wolf.


"Tidaakkk..!! Aaroonn...!"


Raya mencoba menghentikan serangan Eden


Wolf dengan memukuli tubuh kekar pria itu


dalam keadaan kedua tangan yang masih terikat


kuat. Namun tubuhnya malah limbung dan


hampir saja terlempar kalau Eden Wolf tidak cepat-cepat menangkap pinggangnya dan


langsung melingkarinya kuat agar Raya tidak


berontak lagi.


"Hentikan Eden Wolf..! Kalau kau merasa jadi


laki-laki sejati hadapi dia secara jantan.!


Jangan menyerangnya dengan licik..!!"


Teriak Raya di tengah kekalutannya, tubuhnya


kini sudah benar-benar di kuasai oleh rasa takut


namun juga kemarahan yang mulai menyeruak.


"Dalam perang.. apapun bisa di lakukan untuk


menang sayangku..Dan aku akan menempuh


segala cara untuk mendapatkan mu. Sekaligus


mengamankan mu dari kemungkinan merusak


rencana besar besok..!"


Desis Eden Wolf masih melancarkan tembakan


kearah Aaron dengan tangan kanan, sedang


tangan kiri mengunci pinggang Raya yang kini


terhenyak dalam kekalutan pikirannya. Rencana


besok.? Otak Raya berputar cepat mencerna


apa yang di ucapkan pria codet itu. Matanya kini


kembali membelalak saat Aaron tiba-tiba di


serang oleh anak buah Eden yang baru saja


naik dari dalam gerbong. Dia bertarung hebat melawan 5 orang pria besar di atap gerbong


yang sedang dalam proses pemisahan. Namun


dari arah kereta yang lepas itu muncul Alex dan Benjamin hingga kini mereka lah yang bertarung dengan penjahat itu dan Aaron harus kembali melompat cepat untuk bisa berpindah ke kereta berikutnya.


"Lepaskan aku.. Aaroonn.. tidaakk..!


Raya berteriak saat Aaron hampir tidak bisa


mengejar gerbong berikutnya karena serangan


Eden yang mengenai dadanya, namun secepat


kilat dia menggerakkan tangannya melesatkan


sebuah alat semacam seling kecil membuat


tubuhnya terbang dan meloncat cepat kearah


gerbong berikutnya. Raya mulai bercucuran air


mata melihat perjuangan Aaron. Dan tenaganya


kini sudah terkuras habis.


Keadaan semakin genting saat gerbong lainnya menyusul terlepas satu persatu dan di dalamnya


terdapat puluhan orang penting. Mereka semua


terdengar berteriak-teriak di serang kepanikan. Sementara Aaron harus kembali berlari cepat


untuk melewati gerbong-gerbong tersebut sambil


menyerang balik Eden Wolf dengan tembakan


penuh perhitungan yang sengaja mengarah pada


senjata di tangan pria menyeramkan itu hingga akhirnya senjata itu terlempar ke udara dan jatuh


ke dalam tebing.


Tampang Eden Wolf tampak semakin terlihat


menyeramkan. Dia mendorong tubuh Raya ke


belakang membuat Raya kembali ketakutan


melihat pemandangan menyeramkan di depan


matanya karena kini posisi kereta sedang ada


di ketinggian maksimal. Raya membulatkan


mata begitu melihat Eden Wolf merentangkan


tangan nya ke udara dan tiba-tiba saja salju


tebal yang ada di kedua sisi kereta menyembur


ke atas di sepanjang jalur menyerang sosok


Aaron yang terus berlari cepat menghindari


serangan aneh salju tersebut yang tiada henti menyembur dan menyapu ke arah nya.


Melihat hal itu Raya menjerit keras membelah


suasana genting hingga menyebabkan ikatan


di tangan nya terlepas, dan entah reflek atau


apapun itu dari matanya keluar kilatan hebat


yang langsung menembus dan melindungi


tubuh Aaron hingga sesuatu yang aneh pun


terjadi. Serangan salju tadi tiba-tiba saja mental


seolah membentur benteng yang sangat kokoh


hingga akhirnya pecah di udara menghasilkan


kabut tebal putih yang menutupi tebing tinggi


tersebut.


Tubuh Eden Wolf tiba-tiba terseret ke belakang


hingga mendekat kearah Raya. Eden memegangi


dadanya sambil menatap tajam wajah Raya di


penuhi keterkejutan luar biasa.


"Kau.. sudah bisa mengeluarkan nya.? Begitu


cinta kah kamu pada penjahat itu, hingga kau


sangat ingin melindunginya hahh.?"


Geram Eden sambil mencengkeram dagu Raya

__ADS_1


dengan tatapan menyala yang menyemburkan


bara api dan beradu tatap dengan mata Raya


yang mengeluarkan kilau biru bening. Kedua


mata mereka terlihat bertarung di udara. Raya


memegang tangan Eden yang semakin kuat


mencengkeram wajahnya.


"Kau tidak perlu tahu perasaan ku.! Yang pasti


aku tidak akan membiarkan siapapun mencoba


melukainya !"


Desis Raya dengan tatapan yang semakin kuat


hingga membuat Eden melepaskan tangannya


dari dagu Raya bersamaan dengan kemunculan


4 orang bawahannya dan langsung menyerbu


kearah Aaron yang baru saja tiba di gerbong itu.


Maka pertarungan seru pun kini berlangsung di


atas kereta yang melesat cepat menembus dan


membelah pegunungan dan kini sudah mulai


meluncur keluar dari kawasan bersalju tebal itu. Namun jalur yang di lalui kini semakin ekstrim


saja karena rel kereta berada di atas tebing


bebatuan yang sangat menyeramkan.


Eden Wolf mundur sambil memegangi tangan


Raya saat melihat anak buahnya berjatuhan satu


persatu di babat habis oleh Aaron dan terlempar


jatuh ke dalam tebing. Eden Wolf kini semakin


mundur dengan tatapan tajam penuh antisipasi.


Aaron baru saja berbalik kearah Raya ketika tiba-


tiba dalam gerakan cepat Eden Wolf mendorong tangannya kearah Aaron hingga membuat tubuh Aaron seketika terlempar ke belakang dan jatuh


ke bagian belakang kereta.


"Aaroonn.. tidaakk.. Aaroonn..."


Raya menjerit-jerit histeris sambil meronta dan


akhirnya terlepas dari cengkraman kuat Eden,


seolah lupa pada ketakutannya Raya berlari ke


ujung kereta yang kini hanya tersisa dua gerbong utama saja sebab yang lain sudah terlepas semua. Pertempuran di udara pun kini sudah berhenti


karena seluruh anak buah Eden sudah bisa di lumpuhkan. Raya berdiri di ujung atap kereta


dan membulatkan matanya saat melihat sosok


Aaron kini sedang merangkak naik keatas badan


kereta dari arah rel dengan gerakan yang sangat


lincah dan terlatih.


"Aaron.. kau tidak apa-apa.?"


Raya berseru dengan tatapan penuh kecemasan.


Aaron menatapnya sekilas kemudian meloncat


dan berdiri kembali di atap gerbong langsung


mendekap tubuh Raya yang balik memeluknya


erat sambil menangis sesegukan menyusupkan


wajahnya di dada Aaron.


"Hei.. tenanglah..aku baik-baik saja..!"


Desis Aaron sambil mempererat pelukannya


seraya menatap tajam kearah Eden Wolf yang


tampak menyeringai sadis penuh angkara murka.


Pria yang sudah di kuasai amarah luar biasa itu


kini membidikkan senjata nya kearah keberadaan


Raya dan Aaron dan bersiap melesakkan tembakan.


"Kalau aku tidak bisa mendapatkan nya maka


tidak ada satupun dari kita yang akan hidup


Underground Devil..!!"


Geram Eden Wolf sambil mengangkat kedua


senjata di tangannya tersebut. Namun dalam


gerakan kilat tak terdeteksi tangan kanan Aaron berkelebat melemparkan dua pisau lipat kearah senjata di tangan Eden Wolf hingga terlepas dan seketika terlempar jauh entah kemana membuat


pria itu menggertakkan giginya dengan aura


wajah yang semakin mengerikan. Dia kini


kembali memasang kuda-kuda aneh.


"Sudah saatnya kau menghentikan semua


sepak terjang mu Eden Wolf..!"


Ucap Aaron sambil melepaskan pelukannya


dan menempatkan tubuh Raya di belakangnya


di ujung gerbong agar dia bisa berdiri aman dan bertahan. Dan tanpa menunggu lagi Aaron kini melompat menerjang ke arah Eden Wolf yang


sedang mendatangkan angin besar yang seketika memutar dan menyapu kearah Aaron dan Raya. Namun lagi-lagi sesuatu yang aneh terjadi, tubuh


Aaron yang terseret ke belakang langsung di peluk erat oleh Raya dan angin besar di sertai semburan salju itu hanya bisa lewat tanpa mampu menyapu tubuh mereka.


Mata Eden Wolf menyala tidak percaya serangan


nya kembali mental. Dan semua kekuatan aneh


serta ilmu tipuannya sudah terpatahkan oleh


sesuatu yang ada dalam tubuh Raya.


"Shit.! Aku bisa habis kalau terus bertahan di


tempat ini.! Wanita itu mampu mematahkan


semua serangan ku.!"


Geram Eden sambil mundur kehabisan tenaga.


Dia melihat ke arah sekitar nya. Saat ini posisi


kepala kereta ini sedang berada di atas perairan


menuju ke perbatasan.


"Mau lari kemana kamu hahh ? Kau sudah tidak


punya tempat untuk bersembunyi lagi.!"


Ujar Aaron sambil kemudian berlari menerjang


kearah Eden Wolf hingga akhirnya mereka berdua


bertarung seru dan sengit. Saat ini hanya tersisa gerbong utama saja. Dan di dalam kereta ini hanya tinggal mereka bertiga serta masinis dan para


asistennya yang sedang berusaha mengerem


kereta itu dalam kondisi tubuh babak belur karena


di hajar habis-habisan oleh anak buah Eden Wolf


saat mereka mencoba untuk menghalangi


perbuatan para penjahat itu.


Namun sayangnya semua program dan mesin pengendali saat ini sudah di rusak oleh orang-


orang itu hingga kini laju kereta sudah tidak bisa


di kendalikan lagi dan arah keretapun telah di


belokan menuju jalur rel yang masih dalam


proses pengerjaan yang melintasi lautan.


Saat ini ada beberapa helikopter terbang mengejar kepala kereta tersebut yang di tumpangi oleh Alex, Benjamin dan Markus sang ketua Black Eagle serta beberapa orang dari militer termasuk jenderal ketahanan yang langsung ikut terjun ke tempat ini. Ada kamera televisi juga yang sedang menyiarkan secara live tragedi penyerangan ini.


Aaron dan Eden Wolf tampak masih bertarung


seru mengeluarkan segala kemampuan. Tubuh


Eden Wolf terlempar saat pukulan dan tendangan


Aaron berisi tenaga penuh masuk menghantam tubuhnya. Pria itu tampak berusaha berdiri


dengan mulut yang menyemburkan darah kental. Matanya menatap tajam kearah Raya dan Aaron,


dan ada seringai aneh di bibirnya.


"Aku tidak akan lenyap begitu saja Aaron..


Karena aku bisa datang dalam berbagai


wujud lain..!"


Ucap Eden Wolf sambil mengibaskan tangannya


ke udara namun dengan gerakan lebih cepat


Aaron terlebih dahulu melesakkan beberapa


tembakan tepat ke dada pria itu yang langsung mundur. Aaron membidikkan senjatanya kembali, namun di sisa kekuatannya Eden Wolf melompat terjun ke dalam sungai yang arusnya sangat


deras itu membuat Aaron menggertakkan giginya sambil mengumpat murka. Dia menatap lepas


sungai tersebut yang telah menelan sosok


Eden Wolf.


Raya berlari menyerbu kearah Aaron yang terlihat


langsung memeluk dan mengangkat tubuhnya


ke dalam pangkuan.


"Aaron.. kenapa kejadian mengerikan seperti


ini harus kembali terjadi. Aku takut Aaron..


Aku takut kehilanganmu.."


Isak Raya sambil memeluk erat tubuh Aaron yang hanya bisa mengelus rambut Raya dan menciumi


puncak kepalanya seraya memejamkan mata di


tengah segala gejolak perasaan yang saat ini tidak tahu seperti apa.


"Yang Mulya.. kereta saat ini sudah keluar jalur


dan akan berakhir di jalur buntu..!!"


Terdengar suara Sang jenderal dari atas heli


membuat Aaron dan Raya tersentak. Keduanya


tampak saling pandang kuat, wajah Raya kini


berubah kembali panik.


"Aaron..apa yang akan terjadi pada kita.? Apa


kita akan berakhir sekarang ?"

__ADS_1


"Tidak mungkin, aku tidak akan membiarkan


itu terjadi. Kau harus tenang..Aku ada di sini.!"


"Tapi Aaron kecepatan kereta ini bukanlah


main-main.."


"Sayang..kau dengar aku.? Tenanglah..percaya


padaku, oke..?!"


Aaron mengguncang bahu Raya agar istrinya


itu berhenti histeris dan tenang. Mata mereka


kembali saling menatap kuat.


"Kau lihat..Aku di sini akan selalu bersamamu.


Kalau perlu aku akan mengorbankan nyawaku


untuk keselamatan mu.!"


"Tidak Aaron .! Aku percaya padamu..! Kau


tidak boleh bicara sembarangan..!"


Seru Raya sambil menggelengkan kepalanya


kuat dengan derai air mata yang semakin deras.


"Okay.. kalau begitu tetaplah di dekatku dan


dengarkan intruksi dariku.!"


Raya mengangguk pelan, Aaron mengusap air


mata yang membasahi kedua pipi pucat Raya


setelah itu dia melihat kearah helikopter.


"Amankan masinis dan asistennya sekarang.!"


Titahnya dengan berteriak kencang kearah


helikopter yang di tumpangi oleh Benjamin dan


Alex, sementara helikopter yang di tumpangi


oleh Markus sudah berada di sisi lain untuk


melakukan proses penyelamatan terhadap


masinis dan para asistennya.


"Baik Yang Mulya.. Sebaiknya anda naik


sekarang juga, kereta semakin tidak terkendali.!"


Teriak Benjamin sambil mengeluarkan tangga


darurat ke arah atap gerbong, namun ini tidak


mudah karena laju kereta yang semakin cepat


dan akan melewati daerah pegunungan kembali


yang di penuhi gegapnya pepohonan cemara.


"Kalian naikkan pesawat sekarang, aku akan turun untuk memastikan semuanya terlebih dahulu.!"


"Yang Mulya saya mohon jangan.. Anda harus


naik sekarang juga..!"


Teriak Sang Jenderal dengan wajah panik saat


melihat Aaron menarik tangan Raya di bawa


turun menuju tangga darurat. Sementara itu


masinis dan 3 asistennya saat ini sudah berhasil


naik ke atap gerbong kepala kereta dan dengan


susah payah akhirnya mereka berempat kini


sudah berada di dalam pesawat.


Aaron membawa Raya masuk ke dalam gerbong


depan dan segera mengecek kondisi mesin.


"Shit ! Mereka telah merusak program dan rem


kereta ini. Eden Wolf benar-benar ******** !"


Geram Aaron dengan wajah kelam yang sangat


menakutkan. Dia berpikir cepat memaksimalkan


kemampuan otaknya untuk memperbaiki sistem


dari mesin canggih kereta ini yang sudah kacau.


Dia tidak akan membiarkan kereta yang sudah


menghabiskan dana triliunan itu hancur begitu


saja tanpa usaha maksimal.


Raya menatap diam punggung Aaron yang kini


sedang fokus mengutak-atik mesin. Perlahan


dia mendekat dan tanpa di duga Raya memeluk


erat tubuh Aaron dari belakang membuat Aaron membeku dengan perubahan wajah yang terlihat


sangat aneh, wajahnya memerah dengan detak


jantung yang tiba-tiba berkejaran namun dia juga


masih diliputi oleh api amarah.


"Tenangkan pikiranmu.. Jangan memakai emosi


untuk memaksimalkan kinerja otakmu."


Lirih Raya dengan suara yang sangat lembut dan tenang seolah-olah menghipnotis. Aaron terdiam,


terpaku sejenak hingga akhirnya dia membalikkan badannya, keduanya kini saling berhadapan, saling pandang lekat. Tangan Raya bergerak mengelus


lembut wajah tampan Aaron yang benar-benar


terlihat aneh, sangat tegang.


"Aku di sini, menemanimu.. Fokuskan hati dan


pikiranmu pada tujuanmu..Aku akan selalu ada


di belakangmu, mendukungmu sayang.."


Bisik Raya sambil kemudian memagut bibir


Aaron dan ********** lembut penuh perasaan.


Air matanya kembali menetas menahan tekanan


perasaan yang hampir saja tidak terkendali.


Aaron membeku, mematung dalam guncangan


perasaan yang tiba-tiba menggila mendapat


perlakuan lembut Raya yang tidak terduga ini.


Tidak lama bibirnya reflek membalas ciuman


maha dahsyat itu dengan mata terpejam kuat.


Untuk sesaat keduanya terhanyut dalam ciuman


hangat dan lembut yang membawa mereka ke


awan dengan sejuta perasaan yang tidak bisa


terjabarkan dengan kata-kata..


Setelah beberapa saat Aaron tampak kembali


fokus pada panel kontrol dan mulai mengerahkan seluruh kemampuan nya untuk memperbaiki


mesin dan sistem pengoperasiannya di dampingi


oleh Raya yang berdiri di sampingnya. Keadaan


di udara kini terdengar gemuruh, karena pesawat


yang dari tadi mengikuti kini semakin mendekat


dan para bawahan Aaron saling bersahutan


mengingatkan Aaron agar segera naik ke atap


gerbong untuk menyelamatkan diri sebab jarak


kepala kereta pada jalur buntu kini hanya tersisa


beberapa ratus mil lagi.


Dan akhirnya semua kejeniusan Aaron terbukti,


mesin kontroling itu sudah kembali berfungsi


seperti semula, Aaron langsung mengatur system pemberhentian otomatis pada jarak tertentu.


Namun tuas rem yang berfungsi strategis untuk mengerem mesin kini dalam kendala.


Aaron kembali mengerahkan seluruh tenaga


untuk menariknya, tapi ini sangat sulit sebab


alatnya sudah di rusak oleh para penjahat tadi.


Raya maju, meletakkan tangannya di atas tangan Aaron dengan tatapan mata terfokus penuh pada


tuas itu. Aaron terhenyak bengong dan terkejut


ketika tiba-tiba saja tuas yang tadi sangat sulit


untuk di tarik kini dengan mudahnya dapat di


kendalikan pada posisi full rem.


Keduanya kembali saling pandang lekat dengan senyum manis yang sama-sama terukir di bibir


mereka yang saling memagut lembut.


"Ayo kita keluar sekarang.. Biarkan mereka yang


mengurus sisanya.."


Bisik Aaron sambil mengangkat tubuh Raya yang


sudah benar-benar kehilangan tenaga karena


terlalu banyak terkuras. Kereta sudah meluncur


di atas rel buntu menuju ke area lautan di tengah


kota xxx..Dan dibawah rel ini ada jembatan layang yang saat ini sedang padat-padatnya.


Semua bawahan Aaron terlihat bengong saat


melihat sosok Sang Pangeran keluar dari pintu samping kereta dalam posisi mendekap erat


tubuh Raya kemudian dalam gerakan cepat dan keberanian serta kegagahan yang paripurna dia melompat terjun dari pintu kereta meluncur dan mendarat dengan mulus di atas mobil sport


mewah terbuka yang di bawa oleh Ansel dan


telah menunggu di jembatan layang tersebut


bersama barisan mobil pasukan singa putih.


Pemandangan luar biasa itu membuat semua


pengendara yang lewat ke jembatan itu langsung menghentikan mobil mereka sambil melongo


menyaksikan adegan bak dalam film action itu..


***


Happy Reading..

__ADS_1


__ADS_2