Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
59. Menjelang Karnaval


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Selamat pagi Yang Mulya.. selamat pagi


lady De Enzo.."


Mereka semua serempak menyapa seraya


membungkuk setengah badan.


"Selamat pagi semuanya.."


Raya membalas sapaan mereka dengan suara


yang lembut namun tegas. Aaron melangkah


kearah ruang makan sambil menggandeng


tangan Raya di ikuti oleh mereka semua.


Begitu sampai di ruangan, kedua asisten


Raya langsung menyiapkan tiga kursi. Tanpa


banyak drama Aaron segera duduk di kursi


utama dengan tatapan tertuju ke atas meja


makan begitupun dengan Ansel yang duduk


di samping kiri Aaron.


Dengan cekatan dan sigap Raya bergerak


menuangkan jus ke dalam gelas yang ada di


hadapan Aaron sementara Lily melayani Ansel


yang terlihat sedikit cemberut melihat apa yang


di lakukan oleh Raya. Sepertinya sudah ada


kemajuan pada hubungan mereka.!


"Kau yang membuat semua ini.?"


Aaron bertanya masih menatap hidangan yang


ada di atas meja dengan sorot mata tak terbaca.


Entah di sadari atau tidak pikirannya tiba-tiba melayang pada seseorang yang akhir-akhir ini


sudah mulai terlupakan, walaupun ingatan itu


kadang masih suka hadir namun hatinya saat ini


sudah ikhlas dan merelakannya serta perlahan


tergantikan dengan kehadiran sosok lain yang


sekarang ada di hadapannya. Dulu dia pernah


menikmati sarapan pagi bersama dengan menu


hasil buatan wanita yang di cintainya itu. Dan


itu cukup membekas dalam ingatannya.


"Iya.. kalau kau tidak menyukainya, Lily sudah


menyiapkan menu lain yang lebih cocok


dengan lidah kalian berdua."


"Tidak, aku akan mencoba semua makanan


ini, sepertinya ini akan menjadi menu baru ku."


Ansel mendahului bicara dengan binar senang


terlihat jelas dari raut wajah tampan menawannya.


Aaron menatap tajam wajah Ansel sedikit geram.


"Berikan aku makanan itu.!"


Titah Aaron dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Raya segera menyiapkan menu makanan yang


di rasa akan sedikit masuk dengan lidah Aaron.


Kemudian menyodorkan nya ke hadapan pria


itu yang menatapnya sebentar.


"Alex berikan aku laporan persiapan keamanan.


Aku tidak ingin ada insiden apapun kali ini.!"


Alex maju sambil membungkuk, menyimpan


tablet tipis canggih di atas meja di depan Aaron


yang terlihat mulai menyuapkan makanan yang


telah di siapkan Raya. Sebenarnya dia sudah


cukup mengenal makanan ini dan beberapa kali


mencoba mencicipinya, nasi goreng. Matanya


yang sedang fokus pada tablet kini mengerjap,


kenapa rasanya berbeda dengan yang selama


ini pernah dia makan dari restauran.? Yang ini


rasanya benar-benar lezat dan berbeda.


"Ini sedikit tidak masuk ke lidahku. Kau harus


menyuapi aku agar sedikit berbeda rasanya.!"


Aaron berkilah sambil menyodorkan piring


tersebut ke hadapan Raya yang mengernyitkan


alisnya , bingung sedikit kesal. Dia melihat ke


arah Ansel yang terlihat sangat menikmati


nasi goreng buatannya itu.


"Kalau begitu kau ganti saja dengan menu


lain yang sudah di siapkan oleh Lily.."


"Jangan membantah, cepat suapi aku.!"


Suara Aaron mulai terdengar kesal. Akhirnya


Raya menurut, dia mulai menyuapi Aaron di


iringi tatapan sebal Ansel. Dia tahu pasti kalau


kakak sepupunya itu hanya mencari alasan saja.


Dengan semangat Aaron menikmati sarapan


pagi spesialnya. Raya pun mulai menikmati


sarapannya. Tapi kok.. perutnya tiba-tiba saja


tidak nyaman saat dia menyuapkan makanan


itu ke mulutnya. Dia menatap bingung kearah


makanan yang telah di buatnya itu. Apa yang


salah ? kenapa semuanya berubah sangat


tidak menarik.


"Lily tolong siapkan potongan buah buatku."


"Baik Lady."


Lily segera bergerak, sementara Aaron dan


Ansel kini melihat kearahnya. Aaron yang tadi


sedang fokus memeriksa laporan kini menatap


tajam wajah Raya.


"Kenapa kamu tidak memakan sarapan mu.?"


Mata mereka bertemu, saling menatap kuat.


Raya menggeleng pelan sambil tersenyum


lembut kearah Aaron yang mengerjap terpesona.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit merasa tidak


nyaman dengan perutku."


"Tidak, kau harus sarapan dengan benar.!"


Aaron menarik piring sarapannya kemudian


menyendok nasi goreng tersebut dan mulai


mendekatkan ke mulut Raya yang langsung


mundur dengan wajah memerah. Ansel hanya


bisa melihat hal itu dengan hati yang semakin


terbakar api cemburu.


"Tidak, aku akan memakan buah-buahan saja.


Lagipula aku bisa sendiri.."


"Maharaya, jangan membantahku.! Ayo makan,


kita sarapan sepiring berdua.!"


Aaron menatap penuh ancaman membuat Raya


mau tidak mau akhirnya menerima suapan itu


dengan sedikit ragu. Bibir Aaron menyeringai


tipis. Raya kembali menautkan alisnya, kenapa sekarang dia tidak merasakan mual itu lagi,


dan kenapa nasi goreng ini rasanya lezat sekali.


Semua orang kembali di buat melongo saat


melihat Aaron melanjutkan menyuapi Raya


dengan telaten. Posisinya kini terbalik, Aaron


yang minta di suapi sekarang malah dia yang menyuapi Raya yang terlihat sangat menikmati moment ini membuat hati Ansel semakin


merasakan tidak nyaman, panas bukan main.


Ini benar-benar luar biasa, Putra Mahkota yang


sangat angkuh dan arogan mau menyuapi wanita


yang tidak sengaja masuk ke dalam kehidupan


nya.? Seperti nya dunia memang sudah terbalik.!


Mereka berdua akhirnya menghabiskan sarapan


sepiring berdua. Dan kini giliran Raya menyuapi


Aaron saat menikmati hidangan penutup, salad


sayur yang sangat istimewa sampai akhirnya


acara sarapan pagi spesial itu pun selesai.


Saat ini mereka sudah ada di perjalanan untuk


menuju ke Grand Marco Palace..


Suasana jalanan yang di lalui sudah terlihat


meriah dengan kehadiran masyarakat yang


sudah mulai berdatangan dengan berbagai


perlengkapan dan properti yang akan menjadi

__ADS_1


objek demo atau persembahan. Raya tampak


menatap terpukau kearah luar jendela mobil


menyaksikan semua kemeriahan ini. Sedang


Aaron terlihat sibuk dengan urusan laporan


keamanan yang hari ini sudah di siagakan full


kekuatan. Selain pasukan resmi dari negara


dia juga menyiapkan pasukan bayangan yang


akan menjaga dan mengawasi semua sudut


tempat dari setiap gangguan. Ini adalah moment


yang cukup urgent karena musuh bisa masuk


dan menyusup dengan mudah ke dalam


keramaian serta kerumunan masyarakat.


"Mendekat padaku.!"


Aaron tiba-tiba bersuara sambil merentangkan


tangan kearah Raya yang menatapnya bingung.


Saat ini pria itu bahkan masih terlihat sibuk.


"Apa yang kau tunggu.? Cepat kemari.!"


Aaron mulai menghunuskan tatapan tajam


membuat Raya mendekat dan menggeser


posisi duduknya. Namun tiba-tiba matanya


melebar saat Aaron menarik tubuhnya dan


mendudukkannya di atas pangkuan.


"Aaron..mau apa kamu.? Turunkan aku.. Kita


akan segera sampai di istana."


"Biarkan saja.. Memang apa peduliku.?"


"Aaron.. kumohon biarkan aku duduk sendiri.


Jangan begini.."


"Bukankah begini lebih nyaman untukmu.?"


Mata mereka saling menatap kuat. Tangan kiri


Aaron melingkari pinggang ramping Raya.


Sementara tangan kanannya mulai merayap


membuka kancing baju Raya yang langsung


membulatkan matanya melihat aksi mesum


laki-laki ini yang tidak menyadari tempat dan


situasi tersebut.


"Aaron.. kumohon hentikan perbuatan mu.!


Kita sedang ada di mobil.!"


"Memangnya kenapa.? Ini mobilku, aku bebas


melakukan apapun di dalam sini.!"


Bisik Aaron sambil ******* lembut bibir merah


delima Raya yang sudah menggodanya dari tadi.


Raya segera melepaskan ciuman Aaron dan


menjauhkan diri begitu matanya menangkap


satu pemandangan unik dari sekumpulan


wanita yang sedang memenuhi jalanan sambil


menari bersama dengan kostum yang sangat


meriah. Matanya tampak berbinar indah dan


terlihat jelas kalau dia menyukai pemandangan


itu. Aaron menautkan alisnya karena ciuman


dahsyat nya di abaikan begitu saja oleh Raya.


Dia ikut melihat ke luar jendela.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan


dan kecantikan mu Maharaya.."


Desis Aaron membuat Raya terpaku, matanya


kini saling pandang dengan mata Aaron yang


terlihat begitu tenang. Wajah cantik Raya kini


di penuhi oleh semburat merah. Yang benar


saja, laki-laki ini memuji dirinya.?


"Aku tidak percaya kau mulai membual.."


"Itu adalah kenyataan.!"


Desis Aaron dengan tatapan datar namun serius.


Tangannya bergerak merapihkan topi kecil yang


menempel di kepala bagian kiri Raya, tampak


begitu manis membuat Raya semakin terlihat


cantik dan elegan.


"Aaron..aku menginginkan topi yang di pakai


oleh mereka, itu terlihat cantik dan unik."


saat ini rombongan wanita-wanita cantik lain


sedang berjalan beriringan sambil menari riang.


Aaron menautkan alisnya, melihat kembali ke


luar jendela. Wajahnya berubah sedikit keras.


"Itu hanya topi hiasan biasa yang di jual di


pasar.! Kalau kau mau aku akan memesankan


pada pembuat topi terbaik di negara ini.!"


"Tapi aku menginginkan topi itu Aaron..!"


Aaron langsung menekan tombol hijau di dekat


jok nya membuat Alex yang ada di depan kini


menyuruh sopir menghentikan mobilnya di ikuti


oleh mobil-mobil lain yang ada di belakang nya.


"Ada yang bisa saya bantu Yang Mulya.?"


Alex berbicara lewat layar monitor di depannya


yang terhubung dengan ruang utama di dalam


mobil super mewah tersebut.


"Alex..kau minta lah satu topi dari mereka yang


paling bagus dan bersih.!"


Tita Aaron yang membuat Alex dan sopir tampak


bengong sesaat. Meminta topi, apa dirinya


tidak salah dengar.?


"To-topi yang mereka pakai Yang Mulya.?"


Suara Alex terdengar ragu dengan wajah yang


tidak kalah bingungnya.


"Apa aku harus menembak kepalamu dulu.?"


"Baik Yang Mulya.. laksanakan.!"


Alex segera keluar dari mobil nya dan berlari


kearah gerombolan wanita-wanita cantik itu.


Terpaksa Alex harus menurunkan harga dirinya


untuk merayu salah satu wanita agar merelakan


topi yang di pakainya untuk di berikan padanya.


Hanya dengan melihat tampang dan sosok tinggi tegap Alex saja wanita itu langsung luluh dan memberikan topinya dengan sukarela.


"Tuan tampan.. kalau boleh tahu buat apa anda


meminta topi ini, bukankah anda bisa membeli


sendiri untuk mendapatkan nya.?"


Tanya wanita itu sambil menyodorkan topi


cantik itu ke tangan Alex.


"Karena ini adalah keinginan Lady ku yang


sedang ngidam.. Terimakasih Nona..!"


Jawab Alex asal kena sambil kemudian berlari


kembali kearah mobilnya meninggalkan para


wanita itu yang hanya bisa melongo di tempat.


Raya tampak begitu senang saat Alex membuka


pintu mobil dan membawakan barang yang di


inginkan nya.


"Terimakasih Alex.."


Ucapnya begitu Alex mengulurkan topi tersebut


sambil menundukkan kepala di tengah rasa


bingung kenapa majikannya ini menginginkan


barang tidak berharga seperti ini.


"Sama-sama Lady.."


Alex berucap sambil kemudian menutup pintu


mobil dan kembali lagi ke jok depan. Sementara


Aaron saat ini menatap tajam topi itu mencoba


menelisik kondisinya.


"Kenapa kamu menginginkan barang murahan


seperti itu.? Kau sudah merendahkan harga


diriku Raya.!"


"Dengan begini kau bisa mengetahui bagaimana


karakter dari rakyat kecilmu Yang Mulya..Terbukti


bukan, di hati mereka masih ada kebaikan."


Sahut Raya lembut sambil kemudian mengecup


mesra bibir Aaron yang membeku di tempat. Raya

__ADS_1


turun dari pangkuan Aaron, kembali duduk di jok


singel nya di iringi tatapan Aaron yang masih


tertegun, berusaha mencerna maksud perkataan istrinya barusan. Hati dan jiwanya kini semakin


terasa penuh oleh sebuah keyakinan pada wanita


yang akhir-akhir ini berkelakuan aneh itu. Wanita


ini ternyata memiliki nilai dan kualitas tersendiri.


Tapi kenapa dia harus meminta hal yang aneh


dan tidak sejalan dengan pikirannya. Yang lebih


anehnya lagi, dirinya tidak bisa membantahnya.


Mobil kembali meluncur menuju ke kawasan


istana megah Grand Marco Palace yang sudah


mulai di padati oleh masyarakat. Karena pawai


ini berpusat dan berawal dari gerbang istana.


Begitu masuk gerbang dan mengetahui bahwa


yang datang adalah Sang Putra Mahkota, kini


semua prajurit mensterilkan jalan utama agar


rombongan kecil itu bisa lewat dengan aman.


Akhirnya mereka tiba di pelataran utama..


Jantung Raya mulai berdetak tidak beraturan


begitu melihat keberadaan seluruh keluarga


kerajaan di pintu masuk istana utama, mereka


semua sudah siap dengan kostum indah dan


glamor walau tetap berkonsep tradisional dan


merupakan pakaian adat negara ini..


Di depan pintu besar nan megah istana utama


kini telah berdiri Raja Williams, di dampingi Ratu


Virginia di sebelah kanan serta Madam Rowena


di sebelah kiri. Kemudian di belakangnya berdiri


Princess Arabella, Prince Arthur dan.. tentunya


si cantik Lady Catharina. Sementara si cantik


mungil Princess Alluna ada dalam pangkuan


Raja Williams.


Wajah Raya tampak berubah sedikit gusar saat


melihat mereka semua, seluruh keluarga dengan


formasi lengkap dan hanya tinggal menunggu


kehadiran Sang calon raja masa depan. Semua


prajurit berbaris melingkari dan mengurung


mobil yang di tumpangi oleh Aaron di pimpin


langsung oleh jenderal ketahanan Kerajaan


dengan memberikan hormat prajurit. Dalam


sistem ketatanegaraan di kerajaan ini, yang


menjadi pemimpin tertinggi seluruh prajurit


dan tentara bukanlah seorang Raja melainkan


Sang Putra Mahkota.


"Ayo turun..dan tetaplah di dekatku."


Aaron menggengam erat tangan Raya yang


langsung melirik, mata mereka saling menatap


kuat. Raya menarik tangan nya dari genggaman tangan Aaron.


"Aaron.. saat ini aku berdiri pada posisi sebagai


sekretaris pribadi mu, jadi tolong..bersikaplah sebagaimana mestinya."


Ucap Raya tegas, dan entah kenapa ada nada


berat yang tertangkap dari ucapan nya. Rahang


Aaron tampak mengeras, sungguh dia tidak


suka dengan situasi ini.


"Maharaya..kau adalah istriku.! Suka atau tidak,


status mu tidak akan pernah berubah.!"


"Dan itu hanyalah sementara saja. Sudahlah..


jangan mempersulit keadaan. Aku akan turun


duluan Yang Mulya.."


Raya menarik dirinya saat Alex membukakan


pintu kemudian keluar dari dalam mobil seraya membenahi penampilan nya. Dan semua mata tiba-tiba saja terfokus pada keberadaan dirinya,


mereka semua terkesima melihat penampilan


nya yang sangat istimewa dan berbeda. Aura


kehadirannya sangatlah kuat, sosoknya begitu


bercahaya dan bersinar terang.


Tidak lama Aaron turun dari mobil kemudian


berdiri tegak dan gagah di samping Raya.


Semua mata semakin terkesima melihat satu


kesatuan yang begitu menyilaukan tersebut.


Kenapa mereka berdua tampak begitu serasi


dan menyatu.? Seolah saling melengkapi satu


sama lain dan tidak bisa di pisahkan. Sorot


mata terkesima itu berlaku juga pada semua


anggota keluarga kerajaan. Bahkan Madam


Rowena kini semakin di landa keterkejutan


luar biasa.


"Selamat datang Yang Mulya..!"


Sambut Sang jenderal seraya memberi hormat


prajurit di ikuti oleh semua bawahannya. Aaron


membalasnya dengan memberi hormat pula.


Setelah itu sang jenderal membimbing langkah


Aaron yang kini berjalan gagah penuh kharisma


di selubungi dan di lindungi oleh aura terang


yang memancar dari sosok wanita cantik jelita


yang berada sedikit di belakang nya di dampingi


oleh Ansel, Alex dan Griz serta para pengawal


pilihan.


"Aunty cantiikk.."


Tiba-tiba Alluna berteriak dan bergerak turun


dari pangkuan Raja Williams kemudian berlari


kecil menyongsong kedatangan Raya yang


tampak terkejut melihat si mungil cantik berlari


seperti itu. Raya dan Aaron reflek bergerak maju menyongsong balik sosok mungil itu karena


khawatir akan terjatuh. Keduanya kini berhasil menangkap sosok mungil itu secara bersamaan.


Raya mendekap erat tubuh mungil Putri Alluna sementara Aaron memeluk dan melindungi


keduanya.


Sontak saja pemandangan tidak terduga itu


membuat mata semua orang kini membelalak


dalam keterkejutan dan ketidakpercayaan.Raya memangku tubuh mungil Alluna, sementara


matanya saling bertaut dengan mata Aaron


seakan tak peduli pada dunia di luar mereka.


"Kenapa kamu selalu ceroboh sayang..?"


Raya akhirnya berpaling pada Alluna setelah


dia melepas pandangan nya dari Aaron yang


kini sudah berdiri kembali dengan wajah yang


sedikit memerah. Kenapa keadaannya harus


seperti ini.? Aaron mengatur detak jantungnya


yang tadi sempat bergelombang.


"Maaf Aunty..aku terlalu senang saat melihat


aunty datang bersama Uncle Marvell.."


Deg !


Jantung Raya dan Aaron kembali terguncang.


Mereka berdua saling melirik dan melihat satu


sama lain. Keduanya tidak sadar bahwa kini


seluruh keluarganya sudah berjalan mendekat.


"Putra Mahkota..kita harus segera bersiap.


Ini adalah moment yang sangat tepat untuk


menunjukkan pada seluruh rakyat tentang


keberadaan calon Putri Mahkota..!"


Madam Rowena berkata dengan tegas sambil


menggandeng Catharina dan menatap tajam


kearah Raya yang mundur ke belakang Aaron


masih dalam keadaan menggendong si kecil


Alluna yang memeluknya erat.


"Kita akan memperkenalkan Lady Catharina


sebagai calon Ratu masa depan negri ini pada


seluruh masyarakat dalam acara ini.!"


Kembali tegas Madam Rowena yang membuat


Raya terhenyak dalam diam dengan kegetiran


jiwa dan rasa perih yang tiba-tiba menyentuh

__ADS_1


lubuk hatinya yang paling dalam..


***


__ADS_2