
❤️❤️❤️
"Selamat pagi Yang Mulya.. selamat pagi
lady De Enzo.."
Mereka semua serempak menyapa seraya
membungkuk setengah badan.
"Selamat pagi semuanya.."
Raya membalas sapaan mereka dengan suara
yang lembut namun tegas. Aaron melangkah
kearah ruang makan sambil menggandeng
tangan Raya di ikuti oleh mereka semua.
Begitu sampai di ruangan, kedua asisten
Raya langsung menyiapkan tiga kursi. Tanpa
banyak drama Aaron segera duduk di kursi
utama dengan tatapan tertuju ke atas meja
makan begitupun dengan Ansel yang duduk
di samping kiri Aaron.
Dengan cekatan dan sigap Raya bergerak
menuangkan jus ke dalam gelas yang ada di
hadapan Aaron sementara Lily melayani Ansel
yang terlihat sedikit cemberut melihat apa yang
di lakukan oleh Raya. Sepertinya sudah ada
kemajuan pada hubungan mereka.!
"Kau yang membuat semua ini.?"
Aaron bertanya masih menatap hidangan yang
ada di atas meja dengan sorot mata tak terbaca.
Entah di sadari atau tidak pikirannya tiba-tiba melayang pada seseorang yang akhir-akhir ini
sudah mulai terlupakan, walaupun ingatan itu
kadang masih suka hadir namun hatinya saat ini
sudah ikhlas dan merelakannya serta perlahan
tergantikan dengan kehadiran sosok lain yang
sekarang ada di hadapannya. Dulu dia pernah
menikmati sarapan pagi bersama dengan menu
hasil buatan wanita yang di cintainya itu. Dan
itu cukup membekas dalam ingatannya.
"Iya.. kalau kau tidak menyukainya, Lily sudah
menyiapkan menu lain yang lebih cocok
dengan lidah kalian berdua."
"Tidak, aku akan mencoba semua makanan
ini, sepertinya ini akan menjadi menu baru ku."
Ansel mendahului bicara dengan binar senang
terlihat jelas dari raut wajah tampan menawannya.
Aaron menatap tajam wajah Ansel sedikit geram.
"Berikan aku makanan itu.!"
Titah Aaron dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Raya segera menyiapkan menu makanan yang
di rasa akan sedikit masuk dengan lidah Aaron.
Kemudian menyodorkan nya ke hadapan pria
itu yang menatapnya sebentar.
"Alex berikan aku laporan persiapan keamanan.
Aku tidak ingin ada insiden apapun kali ini.!"
Alex maju sambil membungkuk, menyimpan
tablet tipis canggih di atas meja di depan Aaron
yang terlihat mulai menyuapkan makanan yang
telah di siapkan Raya. Sebenarnya dia sudah
cukup mengenal makanan ini dan beberapa kali
mencoba mencicipinya, nasi goreng. Matanya
yang sedang fokus pada tablet kini mengerjap,
kenapa rasanya berbeda dengan yang selama
ini pernah dia makan dari restauran.? Yang ini
rasanya benar-benar lezat dan berbeda.
"Ini sedikit tidak masuk ke lidahku. Kau harus
menyuapi aku agar sedikit berbeda rasanya.!"
Aaron berkilah sambil menyodorkan piring
tersebut ke hadapan Raya yang mengernyitkan
alisnya , bingung sedikit kesal. Dia melihat ke
arah Ansel yang terlihat sangat menikmati
nasi goreng buatannya itu.
"Kalau begitu kau ganti saja dengan menu
lain yang sudah di siapkan oleh Lily.."
"Jangan membantah, cepat suapi aku.!"
Suara Aaron mulai terdengar kesal. Akhirnya
Raya menurut, dia mulai menyuapi Aaron di
iringi tatapan sebal Ansel. Dia tahu pasti kalau
kakak sepupunya itu hanya mencari alasan saja.
Dengan semangat Aaron menikmati sarapan
pagi spesialnya. Raya pun mulai menikmati
sarapannya. Tapi kok.. perutnya tiba-tiba saja
tidak nyaman saat dia menyuapkan makanan
itu ke mulutnya. Dia menatap bingung kearah
makanan yang telah di buatnya itu. Apa yang
salah ? kenapa semuanya berubah sangat
tidak menarik.
"Lily tolong siapkan potongan buah buatku."
"Baik Lady."
Lily segera bergerak, sementara Aaron dan
Ansel kini melihat kearahnya. Aaron yang tadi
sedang fokus memeriksa laporan kini menatap
tajam wajah Raya.
"Kenapa kamu tidak memakan sarapan mu.?"
Mata mereka bertemu, saling menatap kuat.
Raya menggeleng pelan sambil tersenyum
lembut kearah Aaron yang mengerjap terpesona.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit merasa tidak
nyaman dengan perutku."
"Tidak, kau harus sarapan dengan benar.!"
Aaron menarik piring sarapannya kemudian
menyendok nasi goreng tersebut dan mulai
mendekatkan ke mulut Raya yang langsung
mundur dengan wajah memerah. Ansel hanya
bisa melihat hal itu dengan hati yang semakin
terbakar api cemburu.
"Tidak, aku akan memakan buah-buahan saja.
Lagipula aku bisa sendiri.."
"Maharaya, jangan membantahku.! Ayo makan,
kita sarapan sepiring berdua.!"
Aaron menatap penuh ancaman membuat Raya
mau tidak mau akhirnya menerima suapan itu
dengan sedikit ragu. Bibir Aaron menyeringai
tipis. Raya kembali menautkan alisnya, kenapa sekarang dia tidak merasakan mual itu lagi,
dan kenapa nasi goreng ini rasanya lezat sekali.
Semua orang kembali di buat melongo saat
melihat Aaron melanjutkan menyuapi Raya
dengan telaten. Posisinya kini terbalik, Aaron
yang minta di suapi sekarang malah dia yang menyuapi Raya yang terlihat sangat menikmati moment ini membuat hati Ansel semakin
merasakan tidak nyaman, panas bukan main.
Ini benar-benar luar biasa, Putra Mahkota yang
sangat angkuh dan arogan mau menyuapi wanita
yang tidak sengaja masuk ke dalam kehidupan
nya.? Seperti nya dunia memang sudah terbalik.!
Mereka berdua akhirnya menghabiskan sarapan
sepiring berdua. Dan kini giliran Raya menyuapi
Aaron saat menikmati hidangan penutup, salad
sayur yang sangat istimewa sampai akhirnya
acara sarapan pagi spesial itu pun selesai.
Saat ini mereka sudah ada di perjalanan untuk
menuju ke Grand Marco Palace..
Suasana jalanan yang di lalui sudah terlihat
meriah dengan kehadiran masyarakat yang
sudah mulai berdatangan dengan berbagai
perlengkapan dan properti yang akan menjadi
__ADS_1
objek demo atau persembahan. Raya tampak
menatap terpukau kearah luar jendela mobil
menyaksikan semua kemeriahan ini. Sedang
Aaron terlihat sibuk dengan urusan laporan
keamanan yang hari ini sudah di siagakan full
kekuatan. Selain pasukan resmi dari negara
dia juga menyiapkan pasukan bayangan yang
akan menjaga dan mengawasi semua sudut
tempat dari setiap gangguan. Ini adalah moment
yang cukup urgent karena musuh bisa masuk
dan menyusup dengan mudah ke dalam
keramaian serta kerumunan masyarakat.
"Mendekat padaku.!"
Aaron tiba-tiba bersuara sambil merentangkan
tangan kearah Raya yang menatapnya bingung.
Saat ini pria itu bahkan masih terlihat sibuk.
"Apa yang kau tunggu.? Cepat kemari.!"
Aaron mulai menghunuskan tatapan tajam
membuat Raya mendekat dan menggeser
posisi duduknya. Namun tiba-tiba matanya
melebar saat Aaron menarik tubuhnya dan
mendudukkannya di atas pangkuan.
"Aaron..mau apa kamu.? Turunkan aku.. Kita
akan segera sampai di istana."
"Biarkan saja.. Memang apa peduliku.?"
"Aaron.. kumohon biarkan aku duduk sendiri.
Jangan begini.."
"Bukankah begini lebih nyaman untukmu.?"
Mata mereka saling menatap kuat. Tangan kiri
Aaron melingkari pinggang ramping Raya.
Sementara tangan kanannya mulai merayap
membuka kancing baju Raya yang langsung
membulatkan matanya melihat aksi mesum
laki-laki ini yang tidak menyadari tempat dan
situasi tersebut.
"Aaron.. kumohon hentikan perbuatan mu.!
Kita sedang ada di mobil.!"
"Memangnya kenapa.? Ini mobilku, aku bebas
melakukan apapun di dalam sini.!"
Bisik Aaron sambil ******* lembut bibir merah
delima Raya yang sudah menggodanya dari tadi.
Raya segera melepaskan ciuman Aaron dan
menjauhkan diri begitu matanya menangkap
satu pemandangan unik dari sekumpulan
wanita yang sedang memenuhi jalanan sambil
menari bersama dengan kostum yang sangat
meriah. Matanya tampak berbinar indah dan
terlihat jelas kalau dia menyukai pemandangan
itu. Aaron menautkan alisnya karena ciuman
dahsyat nya di abaikan begitu saja oleh Raya.
Dia ikut melihat ke luar jendela.
"Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan
dan kecantikan mu Maharaya.."
Desis Aaron membuat Raya terpaku, matanya
kini saling pandang dengan mata Aaron yang
terlihat begitu tenang. Wajah cantik Raya kini
di penuhi oleh semburat merah. Yang benar
saja, laki-laki ini memuji dirinya.?
"Aku tidak percaya kau mulai membual.."
"Itu adalah kenyataan.!"
Desis Aaron dengan tatapan datar namun serius.
Tangannya bergerak merapihkan topi kecil yang
menempel di kepala bagian kiri Raya, tampak
begitu manis membuat Raya semakin terlihat
cantik dan elegan.
"Aaron..aku menginginkan topi yang di pakai
oleh mereka, itu terlihat cantik dan unik."
saat ini rombongan wanita-wanita cantik lain
sedang berjalan beriringan sambil menari riang.
Aaron menautkan alisnya, melihat kembali ke
luar jendela. Wajahnya berubah sedikit keras.
"Itu hanya topi hiasan biasa yang di jual di
pasar.! Kalau kau mau aku akan memesankan
pada pembuat topi terbaik di negara ini.!"
"Tapi aku menginginkan topi itu Aaron..!"
Aaron langsung menekan tombol hijau di dekat
jok nya membuat Alex yang ada di depan kini
menyuruh sopir menghentikan mobilnya di ikuti
oleh mobil-mobil lain yang ada di belakang nya.
"Ada yang bisa saya bantu Yang Mulya.?"
Alex berbicara lewat layar monitor di depannya
yang terhubung dengan ruang utama di dalam
mobil super mewah tersebut.
"Alex..kau minta lah satu topi dari mereka yang
paling bagus dan bersih.!"
Tita Aaron yang membuat Alex dan sopir tampak
bengong sesaat. Meminta topi, apa dirinya
tidak salah dengar.?
"To-topi yang mereka pakai Yang Mulya.?"
Suara Alex terdengar ragu dengan wajah yang
tidak kalah bingungnya.
"Apa aku harus menembak kepalamu dulu.?"
"Baik Yang Mulya.. laksanakan.!"
Alex segera keluar dari mobil nya dan berlari
kearah gerombolan wanita-wanita cantik itu.
Terpaksa Alex harus menurunkan harga dirinya
untuk merayu salah satu wanita agar merelakan
topi yang di pakainya untuk di berikan padanya.
Hanya dengan melihat tampang dan sosok tinggi tegap Alex saja wanita itu langsung luluh dan memberikan topinya dengan sukarela.
"Tuan tampan.. kalau boleh tahu buat apa anda
meminta topi ini, bukankah anda bisa membeli
sendiri untuk mendapatkan nya.?"
Tanya wanita itu sambil menyodorkan topi
cantik itu ke tangan Alex.
"Karena ini adalah keinginan Lady ku yang
sedang ngidam.. Terimakasih Nona..!"
Jawab Alex asal kena sambil kemudian berlari
kembali kearah mobilnya meninggalkan para
wanita itu yang hanya bisa melongo di tempat.
Raya tampak begitu senang saat Alex membuka
pintu mobil dan membawakan barang yang di
inginkan nya.
"Terimakasih Alex.."
Ucapnya begitu Alex mengulurkan topi tersebut
sambil menundukkan kepala di tengah rasa
bingung kenapa majikannya ini menginginkan
barang tidak berharga seperti ini.
"Sama-sama Lady.."
Alex berucap sambil kemudian menutup pintu
mobil dan kembali lagi ke jok depan. Sementara
Aaron saat ini menatap tajam topi itu mencoba
menelisik kondisinya.
"Kenapa kamu menginginkan barang murahan
seperti itu.? Kau sudah merendahkan harga
diriku Raya.!"
"Dengan begini kau bisa mengetahui bagaimana
karakter dari rakyat kecilmu Yang Mulya..Terbukti
bukan, di hati mereka masih ada kebaikan."
Sahut Raya lembut sambil kemudian mengecup
mesra bibir Aaron yang membeku di tempat. Raya
__ADS_1
turun dari pangkuan Aaron, kembali duduk di jok
singel nya di iringi tatapan Aaron yang masih
tertegun, berusaha mencerna maksud perkataan istrinya barusan. Hati dan jiwanya kini semakin
terasa penuh oleh sebuah keyakinan pada wanita
yang akhir-akhir ini berkelakuan aneh itu. Wanita
ini ternyata memiliki nilai dan kualitas tersendiri.
Tapi kenapa dia harus meminta hal yang aneh
dan tidak sejalan dengan pikirannya. Yang lebih
anehnya lagi, dirinya tidak bisa membantahnya.
Mobil kembali meluncur menuju ke kawasan
istana megah Grand Marco Palace yang sudah
mulai di padati oleh masyarakat. Karena pawai
ini berpusat dan berawal dari gerbang istana.
Begitu masuk gerbang dan mengetahui bahwa
yang datang adalah Sang Putra Mahkota, kini
semua prajurit mensterilkan jalan utama agar
rombongan kecil itu bisa lewat dengan aman.
Akhirnya mereka tiba di pelataran utama..
Jantung Raya mulai berdetak tidak beraturan
begitu melihat keberadaan seluruh keluarga
kerajaan di pintu masuk istana utama, mereka
semua sudah siap dengan kostum indah dan
glamor walau tetap berkonsep tradisional dan
merupakan pakaian adat negara ini..
Di depan pintu besar nan megah istana utama
kini telah berdiri Raja Williams, di dampingi Ratu
Virginia di sebelah kanan serta Madam Rowena
di sebelah kiri. Kemudian di belakangnya berdiri
Princess Arabella, Prince Arthur dan.. tentunya
si cantik Lady Catharina. Sementara si cantik
mungil Princess Alluna ada dalam pangkuan
Raja Williams.
Wajah Raya tampak berubah sedikit gusar saat
melihat mereka semua, seluruh keluarga dengan
formasi lengkap dan hanya tinggal menunggu
kehadiran Sang calon raja masa depan. Semua
prajurit berbaris melingkari dan mengurung
mobil yang di tumpangi oleh Aaron di pimpin
langsung oleh jenderal ketahanan Kerajaan
dengan memberikan hormat prajurit. Dalam
sistem ketatanegaraan di kerajaan ini, yang
menjadi pemimpin tertinggi seluruh prajurit
dan tentara bukanlah seorang Raja melainkan
Sang Putra Mahkota.
"Ayo turun..dan tetaplah di dekatku."
Aaron menggengam erat tangan Raya yang
langsung melirik, mata mereka saling menatap
kuat. Raya menarik tangan nya dari genggaman tangan Aaron.
"Aaron.. saat ini aku berdiri pada posisi sebagai
sekretaris pribadi mu, jadi tolong..bersikaplah sebagaimana mestinya."
Ucap Raya tegas, dan entah kenapa ada nada
berat yang tertangkap dari ucapan nya. Rahang
Aaron tampak mengeras, sungguh dia tidak
suka dengan situasi ini.
"Maharaya..kau adalah istriku.! Suka atau tidak,
status mu tidak akan pernah berubah.!"
"Dan itu hanyalah sementara saja. Sudahlah..
jangan mempersulit keadaan. Aku akan turun
duluan Yang Mulya.."
Raya menarik dirinya saat Alex membukakan
pintu kemudian keluar dari dalam mobil seraya membenahi penampilan nya. Dan semua mata tiba-tiba saja terfokus pada keberadaan dirinya,
mereka semua terkesima melihat penampilan
nya yang sangat istimewa dan berbeda. Aura
kehadirannya sangatlah kuat, sosoknya begitu
bercahaya dan bersinar terang.
Tidak lama Aaron turun dari mobil kemudian
berdiri tegak dan gagah di samping Raya.
Semua mata semakin terkesima melihat satu
kesatuan yang begitu menyilaukan tersebut.
Kenapa mereka berdua tampak begitu serasi
dan menyatu.? Seolah saling melengkapi satu
sama lain dan tidak bisa di pisahkan. Sorot
mata terkesima itu berlaku juga pada semua
anggota keluarga kerajaan. Bahkan Madam
Rowena kini semakin di landa keterkejutan
luar biasa.
"Selamat datang Yang Mulya..!"
Sambut Sang jenderal seraya memberi hormat
prajurit di ikuti oleh semua bawahannya. Aaron
membalasnya dengan memberi hormat pula.
Setelah itu sang jenderal membimbing langkah
Aaron yang kini berjalan gagah penuh kharisma
di selubungi dan di lindungi oleh aura terang
yang memancar dari sosok wanita cantik jelita
yang berada sedikit di belakang nya di dampingi
oleh Ansel, Alex dan Griz serta para pengawal
pilihan.
"Aunty cantiikk.."
Tiba-tiba Alluna berteriak dan bergerak turun
dari pangkuan Raja Williams kemudian berlari
kecil menyongsong kedatangan Raya yang
tampak terkejut melihat si mungil cantik berlari
seperti itu. Raya dan Aaron reflek bergerak maju menyongsong balik sosok mungil itu karena
khawatir akan terjatuh. Keduanya kini berhasil menangkap sosok mungil itu secara bersamaan.
Raya mendekap erat tubuh mungil Putri Alluna sementara Aaron memeluk dan melindungi
keduanya.
Sontak saja pemandangan tidak terduga itu
membuat mata semua orang kini membelalak
dalam keterkejutan dan ketidakpercayaan.Raya memangku tubuh mungil Alluna, sementara
matanya saling bertaut dengan mata Aaron
seakan tak peduli pada dunia di luar mereka.
"Kenapa kamu selalu ceroboh sayang..?"
Raya akhirnya berpaling pada Alluna setelah
dia melepas pandangan nya dari Aaron yang
kini sudah berdiri kembali dengan wajah yang
sedikit memerah. Kenapa keadaannya harus
seperti ini.? Aaron mengatur detak jantungnya
yang tadi sempat bergelombang.
"Maaf Aunty..aku terlalu senang saat melihat
aunty datang bersama Uncle Marvell.."
Deg !
Jantung Raya dan Aaron kembali terguncang.
Mereka berdua saling melirik dan melihat satu
sama lain. Keduanya tidak sadar bahwa kini
seluruh keluarganya sudah berjalan mendekat.
"Putra Mahkota..kita harus segera bersiap.
Ini adalah moment yang sangat tepat untuk
menunjukkan pada seluruh rakyat tentang
keberadaan calon Putri Mahkota..!"
Madam Rowena berkata dengan tegas sambil
menggandeng Catharina dan menatap tajam
kearah Raya yang mundur ke belakang Aaron
masih dalam keadaan menggendong si kecil
Alluna yang memeluknya erat.
"Kita akan memperkenalkan Lady Catharina
sebagai calon Ratu masa depan negri ini pada
seluruh masyarakat dalam acara ini.!"
Kembali tegas Madam Rowena yang membuat
Raya terhenyak dalam diam dengan kegetiran
jiwa dan rasa perih yang tiba-tiba menyentuh
__ADS_1
lubuk hatinya yang paling dalam..
***