
***
Aaron benar-benar frustasi. Seharian ini dia di
sibukkan oleh berbagai urusan negara hingga
tak ada waktu untuk bertemu dengan Raya.
Setelah selesai arak-arakan dia harus pergi ke
parlemen untuk menghadiri rapat pengesahan
Putri Mahkota. Setelah itu dia juga harus pergi
menghadiri pertemuan terbatas dengan para
petinggi istana. Sedangkan Raya langsung di
bawa pulang ke istana untuk beristirahat dan
tidak boleh lagi melakukan aktivitas di luar
kamar. Jadinya sampai malam begini mereka
berdua belum saling bertemu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam
saat Aaron tiba di dalam kamar nya. Jessica
dan para pelayan pribadi yang masih menemani
Raya tampak membungkuk kearah Aaron yang melempar jas nya asal ke atas sofa. Matanya
langsung mengunci sosok Raya yang saat ini
sedang meringkuk nyaman di atas sofa. Dia
tertidur beberapa waktu yang lalu saat sedang
membaca buku sambil menunggu kedatangan
Aaron, dan Jessica tidak berani mengganggu.
Wajah Aaron tampak berubah dingin dan keras
melihat Raya tertidur di sofa seperti itu.
"Kenapa dia tidur di sini.?"
"Maafkan kami Yang Mulya..Putri Mahkota
bersikeras menanti kepulangan anda dan
menolak pindah ke tempat tidur."
Sahut Jessica tegang sambil mundur beberapa
langkah saat Aaron mendekat kearah Raya.
"Kalian boleh keluar sekarang.!"
"Baik Yang Mulya.. selamat malam."
Jessica dan Brenda serta dua pelayan pribadi
lainnya segera undur diri. Aaron menarik nafas
berat, mencoba untuk mengontrol perasannya.
Dia sudah sangat merindukan istrinya itu.
Perlahan dia duduk di samping Raya, kemudian
ikut merebahkan kepalanya di sandaran sofa.
Matanya menatap lekat wajah super cantik
istrinya itu yang sedang tertidur tenang.
Tangannya bergerak, mengelus lembut wajah
bening mulus Raya yang tersembunyi di balik
hijab cantik yang menutupi kepalanya. Aaron
masih tidak percaya sekarang ini istrinya itu
sudah berhijrah.
"Selamat malam Yang Mulya Putri Mahkota..
Kau terlihat sangat cantik dengan penampilan
baru mu ini. Aku bangga padamu sayang.."
Bisik Aaron sambil mendekatkan wajahnya,
tepat di saat Raya membuka matanya karena
dia merasakan orang yang sedang di nantinya
sudah berada di dekatnya. Mata indahnya
kini bertemu dengan mata elang Aaron yang
sedang menatapnya teduh. Keduanya saling
memandang tenang dalam diam.
"Kau sudah kembali sayang.?"
Raya berucap, masih bertahan di posisinya.
Saling pandang dengan kepala yang bersandar
miring di sofa, wajah mereka begitu dekat. Bibir
Raya tersenyum manis yang mampu membuat
mata Aaron mengerjap bagai tersengat.
"Kenapa tidur di sini ? Kau bisa sakit kepala."
"Aku menunggu mu. Kenapa tidak memberi
kabar.? Kau selalu saja membuatku gelisah."
Raya berucap sambil kemudian menegakkan
badannya, lalu merapihkan hijabnya. Namun
gerakannya terhenti saat Aaron menarik dirinya
ke dalam pelukannya, mendekapnya kuat.
"Maafkan aku sayang..ada banyak urusan yang
harus segera di selesaikan agar besok kita bisa
fokus untuk persiapan resepsi."
Bisik Aaron semakin mempererat pelukannya.
Raya membalas pelukan Aaron, menyusupkan
wajahnya dalam rengkuhan dada bidang suami
nya yang menguarkan aroma wangi maskulin
bulgarian, begitu membuai dan menenangkan.
"Tidak apa-apa sayang.. aku mengerti dengan kesibukan mu. Tapi aku sedikit tidak tenang
karena tidak ada kabar darimu."
"Aku hanya tidak ingin membuatmu semakin
gelisah karena melihat segala kesibukanku."
Raya mendongakkan kepalanya, mata mereka
kembali saling menatap lembut.
"Kau curang..! Kau bisa melihat semua yang
aku lakukan, tapi aku tidak.!"
"Memang harus begitu. Kau harus selalu berada
dalam pengawasanku agar aku semangat dalam
menjalankan semua pekerjaan."
"Iishh.. dasar egois.! Apa kau sudah makan
malam.? Aku akan menyuruh Brenda untuk.."
Ucapan Raya tertahan saat Aaron tiba-tiba saja
mengangkat tubuhnya ke dalam pangkuannya
kemudian melangkah lebar menuju tempat tidur.
"Justru itu aku lapar sekali saat ini.!"
Raya melingkarkan tangannya di leher Aaron,
keduanya saling pandang, Raya mulai merasa
ada gelagat tidak beres.
"Kalau begitu sebaiknya kau makan dulu. Aku
akan meminta pelayan menyiapkannya."
"Aku tidak berselera memakan yang lain. Aku
hanya ingin memakanmu saja.!"
"Apa..? Aaron kumohon jangan macam-macam.
Kau harus istirahat sekarang..Kau juga belum
makan malam. Aaron..apa yang kau inginkan.?"
Perlahan Aaron merebahkan tubuh Raya di atas
kasur king size bernuansa golden white itu. Raya
langsung bangkit beringsut, menatap tajam wajah
Aaron dengan sorot mata waspada karena saat
ini suaminya itu sudah menjelma menjadi sosok
predator buas yang siap memangsa.
"Aku sudah menahannya dari kemarin sayang.
Kenapa kamu harus bertanya lagi apa yang aku
inginkan sekarang."
Desis Aaron, dengan gerakan cepat dia melucuti kemeja yang di pakainya membuat Raya mulai
di serang rasa tegang saat melihat kabut gairah
sudah menguasai tubuh suaminya itu.
"Aaron.. kau harus membersihkan dirimu dulu."
"Aku sangat merindukanmu sayang. Jangan
coba-coba mengalihkan perhatian ku.!"
Bisik Aaron sambil kemudian mengurung tubuh
Raya lalu menyambar bibirnya, ********** kuat
dan rakus membuat Raya sedikit tersentak karena
gerakan Aaron benar-benar tidak terkendali. Dia
mencoba melepaskan diri namun Aaron malah
semakin memperdalam ciumannya. Akhirnya
mau tidak mau Raya mulai pasrah, perlahan dia
mulai membalasnya, mencoba melayani dan mengimbangi keganasan suaminya itu.
Keduanya kini terhanyut dalam hangat dan
manisnya ciuman yang penuh dengan gelora
kerinduan. Padahal hanya terpisah setengah
hari saja, tapi rasa rindu di dada mereka malah semakin menggila.
Aaron melepaskan pagutannnya, keduanya kini
saling menatap berat seraya mengatur nafas yang sudah tidak beraturan terdesak oleh dorongan
hasrat dan gairah yang datang menerjang ingin
segera di lampiaskan. Dengan perlahan dan
__ADS_1
hati-hati Aaron membuka hijab yang menutupi
kepala Raya, kemudian merapihkan rambutnya
yang jatuh di kedua sisi wajahnya. Tangannya
mulai mengelus dan menelusuri seluruh detail
wajah elok istrinya itu, memujanya dengan
segenap jiwa dan raga.
"Kau adalah nafasku sayang.. Aku benar-benar
sesak berada jauh darimu."
Bisik Aaron berat dan serak sambil kemudian
mulai melakukan aksi lihainya. Raya hanya bisa memejamkan mata saat bibir Aaron menelusuri
seluruh wajahnya tanpa terlewat. Kemudian turun
ke bagian bawah, memberikan sentuhan lembut
nan memabukan di seluruh tubuhnya, bermain
intens di dua bukit kembarnya yang kini semakin
berisi membuat Aaron semakin menggila saat
menikmati keranuman nya. Semua di jelajahinya,
setiap detail tidak luput dari kecupan, jilatan dan
gigitan halus bibirnya. Tak terasa tubuh mereka
kini sudah dalam keadaan polos, tak tertutupi
sehelai kain pun.
Setelah puas mencumbu seluruh bagian tubuh
indah istrinya itu dan bermain gemas di perut buncitnya, akhirnya perlahan dan hati-hati
Aaron mulai melakukan penyatuan tubuh
mereka membuat Raya memekik tertahan,
tangannya memeluk erat leher Aaron dan mencengkeram kuat punggung polosnya.
"Kenapa rasanya masih saja sakitt sayaang.. aaaww..pelan-pelan.. kau menyakitiku..!"
"Ini akan selalu kita alami sayang.. Tapi tidak
akan lama, aku jamin setelah ini kau pasti akan menjeritkan namaku.!"
"Aakhh... Aaroonn.. eemhh.. aku tidak tahan.."
Aaron menyeringai tipis, dia ******* lembut
bibir Raya untuk membawanya pada ketenangan
dan kenikmatan yang kini mulai menggetarkan
tubuh mereka berdua. Di awal selalu saja begini,
butuh perjuangan untuk bisa menggapai nirwana.
Namun setelah semua itu terlewati, mereka
berdua bahkan tak mampu lagi berfikir jernih.
Rasa nikmat yang menghantam seluruh tubuh
mereka membuat keduanya seolah kehilangan
daya berfikir. Yang ada hanyalah saling memuja
satu sama lain.
Beberapa saat kemudian kamar super besar itu
sudah di warnai oleh desahan dan erangan serta rintihan kenikmatan yang membuat keduanya
terbang bersama menjelajahi surga dunia..
Dan inilah yang membuat Aaron tidak mungkin
bisa melirik apalagi berpaling pada wanita lain.
Sekarang sudah tidak ada lagi sisa perasaan di
hatinya untuk wanita dari masa lalu nya. Namun
dia tidak pernah menyesali pertemuannya dengan
cinta pertamanya. Karena semua pengalaman
itu ternyata telah membawanya pada cinta yang
sesungguhnya, cinta sejatinya..Maharaya..
Kegagalan cinta pertama seakan menjadi jalan pembuka bagi dirinya untuk lebih mengenali hati
dan jiwanya. Dari sana dia lebih memahami dan
meyakini, bagaimana sebenarnya perasaannya terhadap wanita dari masa lalunya dengan wanita
yang saat ini bersamanya. Sekarang dia sudah
bisa menyimpulkan bahwa hati dan jiwanya saat
ini sudah di penuhi oleh satu nama saja..
Maharaya.. ya..hanya Maharaya..
***
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi
pasangan Aaron dan Raya. Sebab nanti malam
mereka akan merayakan bersatunya hati dan
jiwa mereka. Nanti malam akan di gelar resepsi
pernikahan Putra dan Putri Mahkota di aula
agung istana. Semua persiapan sudah rampung.
Hanya tinggal menunggu waktu pelaksanaannya
saja. Hari ini para pelayan dan prajurit pengawal
istana tampak sangat bersemangat. Mereka juga
lebih familiar dan hangat.
Dan bagi Aaron, hari ini dia benar-benar bisa
merasakan quality time bersama kesayangannya
tanpa harus di pusingkan oleh urusan pekerjaan. Sampai waktu beranjak siang, mereka berdua
masih berada di atas tempat tidur. Masih saling memeluk erat merasakan ketenangan dan
kenyamanan hati. Keduanya seolah tiada bosan
saling memandang dan melukis keindahan rupa masing-masing di benak mereka. Tak lupa saling melontarkan kata-kata cinta dan pujian layaknya
sang pujangga yang sedang jatuh cinta.
Namun keintiman mereka kini buyar ketika Raya
tiba-tiba saja menginginkan sesuatu yang aneh.
Dia ingin makan rujak khas negara asal nya.
"Suruh semua koki untuk berlomba membuatkan
rujak yang paling enak. Aku jadikan semua ini
sebagai sayembara.!"
Aaron memberi perintah di ambang pintu pada
semua pelayan dan para bawahannya yang
berdiri membungkuk hormat di hadapannya.
"Baik Yang mulya..laksanakan.!"
Serempak mereka sambil kemudian bubar. Para pelayan berlalu turun ke lantai bawah dan segera
pergi ke dapur istana untuk menyampaikan
perintah dari Putra Mahkota kepada para koki.
Beberapa saat kemudian para koki dan pelayan
di bagian dapur terlihat gaduh dan sibuk.Mereka
mulai berlomba membuat rujak khas negara asal
Sang Putri Mahkota dengan berbagai keahlian
dan pengalaman yang di miliki. Para koki ingin
memberikan yang terbaik untuk sang calon ratu
masa depan karena baru kali ini dia ngidam dan meminta sesuatu dari dapur istana.
Setengah jam kemudian...
Raya dan Aaron tampak tertegun ketika Brenda
dan para pelayan pribadi lainnya membawakan
troli makanan berisi macam-macam rujak yang masing-masing terlihat menarik dan menggugah
selera, lalu di letakkan di atas meja yang ada di
balkon kamar. Kedua majikannya itu saat ini
tampak sedang bersantai menikmati semilir
angin sambil duduk berdempetan, kepala Raya bersandar nyaman di dada bidang Aaron.
"Silahkan Yang Mulya.. mereka semua sudah
mencoba membuatkan yang terbaik."
Brenda berucap sambil membungkuk dalam di
hadapan majikannya. Mata indah Raya tampak
membulat, tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, apa-apaan ini.?
"Apa yang kau lakukan sayang.?"
Raya bangkit, menegakkan badannya sambil
melipat kedua tangannya di depan dada dengan
tatapan berubah kesal. Matanya menatap tajam
wajah Aaron yang terlihat acuh.
"Tidak ada.! Aku hanya melakukan sayembara
saja untuk para koki.!"
Aaron menjawab acuh sambil membuka ponsel
dan melirik sekilas kearah meja.
"Ohh jadi begitu.? Kalau begini mana bisa aku
makan. Aku tidak bisa membuat mereka semua
kecewa."
Aaron mengangkat bahunya. Dia merebahkan
tubuhnya ke sandaran sofa sambil tumpang
kaki, tampak santai tanpa beban.
"Kalau begitu kau makan saja yang di rasa
cukup menarik selera mu sayang."
"Aku tidak bisa.! Jadi..sekarang kau yang harus
mencicipi semua rujak itu. Aku baru akan makan
yang menurutmu paling enak.!"
Hahh..?? Mata Aaron membelalak tak percaya.
Mata mereka kini saling menatap kuat.
"K-kau.. menyuruhku memakan itu.??"
"Iya.. kenapa, tidak suka.?"
"Kau tahu kan aku tidak bisa makan makanan
__ADS_1
recehan seperti itu.!"
"Sekarang..kau harus memakannya.!"
"Baby.. please.. Aku tidak bisa.!"
"Aaron..! Jangan coba-coba membantahku.!"
Aaron membeku, menatap tajam makanan yang
ada di meja tersebut. Ada 5 mangkuk rujak yang
kini tersaji di atas meja.
"Sayang.. aku tidak bisa memakannya. Seumur
hidup aku belum pernah makan ini.!"
"Jadi sekarang adalah moment yang tepat
untukmu mencoba makanan itu.!"
Raya mengambilkan satu potongan buah dan
mencolek sambalnya lalu di dekatkan ke mulut
Aaron yang terlihat ragu dan menolak.
"Ayolah sayang.. ini enak kok."
Raya mulai mengirimkan tatapan penuh ancaman
dan pemaksaan. Akhirnya mau tidak mau Aaron
menerima suapan rujak itu dan mulai mengunyah
serta mencicipi rasanya. Matanya mengerjap
hebat. Ini rasanya..asam, manis dan pedaaas..
Uhukk ! Uhukk !
Aaron tersedak dan terbatuk hebat saat rasa pedas
kini terasa membakar lidah dan tenggorokan nya.
Dengan cepat Raya meminumkan air putih pada
Aaron. Wajah tampan nya terlihat memerah parah.
Raya mengulum senyum menahan tawa melihat
reaksi yang terjadi pada Aaron.
"Kau sengaja mengerjaiku kan ?"
Raut wajah Aaron terlihat kesal, dia menatap
tajam wajah Raya yang menutup mulutnya, geli.!
"Makanya segala sesuatu itu jangan berlebihan
sayang.. Aku kan tidak meminta sebanyak ini."
Ujar Raya sambil mengelus lembut wajah tampan
Aaron yang kemerahan, sedikit keringat tampak
meremang di dahinya, terlihat menggemaskan.
"Brenda..panggilkan Jessica dan Griz serta para
bawahan setia Putra Mahkota.!"
"Baik Yang Mulya."
Brenda membungkuk hormat kemudian berlalu
keluar dari balkon. Dalam hatinya dia sedikit geli
namun juga kasihan pada sang Pangeran yang
terpaksa harus menuruti perintah dan keinginan
Sang Putri Mahkota.
Tidak lama ke dalam ruangan muncul Jessica
dan Griz serta dua bawahan setia Aaron dengan tergesa-gesa. Mereka berdiri tegak di hadapan
Raya dan Aaron kemudian membungkukkan
badan serempak.
"Kami di sini Yang Mulya.."
Bibir Raya menyunggingkan senyum penuh arti.
Dia menatap semua bawahan setianya itu.
"Kalian temani Putra Mahkota mencicipi semua
rujak itu agar aku tahu yang mana yang paling
enak dan mantap rasanya !"
Seketika mata Alex dan Ben melebar, wajah dua
pria tinggi tegap dengan tampang datar itu kini
tampak meringis tegang. Sementara Jessica dan
Griz hanya saling melirik sekilas.
"Yang Mulya Putri Mahkota.. kami tidak berani.."
"Jangan membantahku.! cepat makan sekarang.
Atau kalian lebih memilih aku melakukan sesuatu
pada kalian.?"
"Baik Yang Mulya.. laksanakan.!"
Dengan cepat Alex dan Ben membungkuk. Raya
tersenyum puas. Akhirnya mereka semua bukan
hanya mencicipi saja, tapi membantu memakan
rujak-rujak itu yang semuanya ternyata memang
enak rasanya.
Dan ujung-ujungnya mereka semua menyukai
rasa dari makanan itu, termasuk Aaron yang
makan semangkuk berdua dengan Raya, dan
dari awal sampai habis di suapi oleh istrinya itu.
***
Mendekati pesta pernikahan...
Seluruh negeri hari ini bersuka cita. Kebahagiaan
terpendar di seantero kerajaan. Bagaimana tidak, malam ini istana akan menggelar pesta besar dan super mewah dalam rangka merayakan pernikahan sang Putra Mahkota. Tiga hari ini di jadikan hari
libur nasional. Semua aktivitas hanya terpusat di
tempat-tempat hiburan dan pusat perbelanjaan
saja. Semua orang merasakan ueforia kemeriahan
pesta yang sudah terasa sejak dua hari kemarin.
Kawasan istana sudah di sterilkan. Pengamanan
berlapis sudah di terapkan sejak jauh-jauh hari.
Dan malam ini adalah puncaknya. Dari area luar
istana sampai area masuk ke kawasan aula agung ribuan karangan bunga ucapan selamat.. tampak
berderet, berjajar rapi memenuhi dan menghiasi
jalanan di sepanjang jalur menuju istana.
Saat ini, aula agung istana yang terkenal dengan kemegahan serta keindahan ornamen emas yang
menghiasi interiornya sudah di sulap menjadi
tempat pesta yang begitu..wooww..menakjubkan..! Gemerlap cahaya lighting yang berpadu dengan dekorasi golden white dan sedikit sentuhan rose
gold di beberapa sudut nya serta keindahan
desain interior asli dari gedung super megah
yang memiliki ketinggian atap yang membuat
mulut menganga itu mampu melahirkan decak
kagum sekaligus menghipnotis semua orang
yang memasukinya..
Dan akhirnya waktu yang di nanti pun tiba..
Begitu matahari pamit undur diri untuk kembali
ke peraduan, gemerlap cahaya lampu menyala
menyelubungi kawasan istana dan aula agung,
memendarkan keindahan luar biasa membuat
seluruh rakyat begitu mengagumi tempat yang
jadi kebanggaan negeri ini. Dan segala hal yang
kini sedang terjadi di istana dan aula agung dapat
di saksikan oleh seluruh rakyat melalui visualisasi
dan tayangan live semua stasiun televisi lokal.
Semua mata menyaksikan moment bersejarah
ini dengan perasaan haru dan bahagia.
Para tamu negara sudah mulai berdatangan ke
kawasan aula agung. Yang dapat menghadiri
pesta akbar ini memang kalangan terbatas saja.
Hanya orang-orang berpredikat A dan A+ saja.
Artinya tamu undangan yang datang pada pesta
ini hanya orang-orang dari kalangan atas dan
kalangan jetset saja.
Dan di antara para tamu yang datang.. baru saja mendarat sebuah helikopter canggih dan modern
berlebel Sikorsky s-76c yang sangat mewah.
Beberapa tamu bahkan sempat ternganga saat
melihat kedatangan heli mahal tersebut.
Beberapa prajurit penjaga langsung mendekat
dan menghampiri helikopter tersebut setelah
mendarat mulus di landasan khusus yang ada
di area depan aula agung. Saat ini memang
sudah ada puluhan helikopter yang terparkir
rapi di sana yang membawa para tamu dengan kemewahan nya masing-masing. Dan baru
helikopter inilah yang paling mewah.
Tidak lama Alex dan Benjamin berlari kearah
kedatangan heli tersebut untuk menyambut tamu
yang baru saja datang. Dari dalam helikopter
yang berkapasitas 9 orang penumpang sipil itu
turunlah seorang pria tua yang terlihat masih
sangat berkharisma. Lalu seorang pria setengah
baya dengan aura kehadiran yang sangat kuat.
Di dampingi oleh seorang pria muda tinggi tegap
yang terlihat gagah dan berwibawa serta seorang
gadis cantik bertubuh tinggi semampai..
__ADS_1
***