Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
99. Masa Tenang


__ADS_3

***


Aaron benar-benar frustasi. Seharian ini dia di


sibukkan oleh berbagai urusan negara hingga


tak ada waktu untuk bertemu dengan Raya.


Setelah selesai arak-arakan dia harus pergi ke


parlemen untuk menghadiri rapat pengesahan


Putri Mahkota. Setelah itu dia juga harus pergi


menghadiri pertemuan terbatas dengan para


petinggi istana. Sedangkan Raya langsung di


bawa pulang ke istana untuk beristirahat dan


tidak boleh lagi melakukan aktivitas di luar


kamar. Jadinya sampai malam begini mereka


berdua belum saling bertemu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam


saat Aaron tiba di dalam kamar nya. Jessica


dan para pelayan pribadi yang masih menemani


Raya tampak membungkuk kearah Aaron yang melempar jas nya asal ke atas sofa. Matanya


langsung mengunci sosok Raya yang saat ini


sedang meringkuk nyaman di atas sofa. Dia


tertidur beberapa waktu yang lalu saat sedang


membaca buku sambil menunggu kedatangan


Aaron, dan Jessica tidak berani mengganggu.


Wajah Aaron tampak berubah dingin dan keras


melihat Raya tertidur di sofa seperti itu.


"Kenapa dia tidur di sini.?"


"Maafkan kami Yang Mulya..Putri Mahkota


bersikeras menanti kepulangan anda dan


menolak pindah ke tempat tidur."


Sahut Jessica tegang sambil mundur beberapa


langkah saat Aaron mendekat kearah Raya.


"Kalian boleh keluar sekarang.!"


"Baik Yang Mulya.. selamat malam."


Jessica dan Brenda serta dua pelayan pribadi


lainnya segera undur diri. Aaron menarik nafas


berat, mencoba untuk mengontrol perasannya.


Dia sudah sangat merindukan istrinya itu.


Perlahan dia duduk di samping Raya, kemudian


ikut merebahkan kepalanya di sandaran sofa.


Matanya menatap lekat wajah super cantik


istrinya itu yang sedang tertidur tenang.


Tangannya bergerak, mengelus lembut wajah


bening mulus Raya yang tersembunyi di balik


hijab cantik yang menutupi kepalanya. Aaron


masih tidak percaya sekarang ini istrinya itu


sudah berhijrah.


"Selamat malam Yang Mulya Putri Mahkota..


Kau terlihat sangat cantik dengan penampilan


baru mu ini. Aku bangga padamu sayang.."


Bisik Aaron sambil mendekatkan wajahnya,


tepat di saat Raya membuka matanya karena


dia merasakan orang yang sedang di nantinya


sudah berada di dekatnya. Mata indahnya


kini bertemu dengan mata elang Aaron yang


sedang menatapnya teduh. Keduanya saling


memandang tenang dalam diam.


"Kau sudah kembali sayang.?"


Raya berucap, masih bertahan di posisinya.


Saling pandang dengan kepala yang bersandar


miring di sofa, wajah mereka begitu dekat. Bibir


Raya tersenyum manis yang mampu membuat


mata Aaron mengerjap bagai tersengat.


"Kenapa tidur di sini ? Kau bisa sakit kepala."


"Aku menunggu mu. Kenapa tidak memberi


kabar.? Kau selalu saja membuatku gelisah."


Raya berucap sambil kemudian menegakkan


badannya, lalu merapihkan hijabnya. Namun


gerakannya terhenti saat Aaron menarik dirinya


ke dalam pelukannya, mendekapnya kuat.


"Maafkan aku sayang..ada banyak urusan yang


harus segera di selesaikan agar besok kita bisa


fokus untuk persiapan resepsi."


Bisik Aaron semakin mempererat pelukannya.


Raya membalas pelukan Aaron, menyusupkan


wajahnya dalam rengkuhan dada bidang suami


nya yang menguarkan aroma wangi maskulin


bulgarian, begitu membuai dan menenangkan.


"Tidak apa-apa sayang.. aku mengerti dengan kesibukan mu. Tapi aku sedikit tidak tenang


karena tidak ada kabar darimu."


"Aku hanya tidak ingin membuatmu semakin


gelisah karena melihat segala kesibukanku."


Raya mendongakkan kepalanya, mata mereka


kembali saling menatap lembut.


"Kau curang..! Kau bisa melihat semua yang


aku lakukan, tapi aku tidak.!"


"Memang harus begitu. Kau harus selalu berada


dalam pengawasanku agar aku semangat dalam


menjalankan semua pekerjaan."


"Iishh.. dasar egois.! Apa kau sudah makan


malam.? Aku akan menyuruh Brenda untuk.."


Ucapan Raya tertahan saat Aaron tiba-tiba saja


mengangkat tubuhnya ke dalam pangkuannya


kemudian melangkah lebar menuju tempat tidur.


"Justru itu aku lapar sekali saat ini.!"


Raya melingkarkan tangannya di leher Aaron,


keduanya saling pandang, Raya mulai merasa


ada gelagat tidak beres.


"Kalau begitu sebaiknya kau makan dulu. Aku


akan meminta pelayan menyiapkannya."


"Aku tidak berselera memakan yang lain. Aku


hanya ingin memakanmu saja.!"


"Apa..? Aaron kumohon jangan macam-macam.


Kau harus istirahat sekarang..Kau juga belum


makan malam. Aaron..apa yang kau inginkan.?"


Perlahan Aaron merebahkan tubuh Raya di atas


kasur king size bernuansa golden white itu. Raya


langsung bangkit beringsut, menatap tajam wajah


Aaron dengan sorot mata waspada karena saat


ini suaminya itu sudah menjelma menjadi sosok


predator buas yang siap memangsa.


"Aku sudah menahannya dari kemarin sayang.


Kenapa kamu harus bertanya lagi apa yang aku


inginkan sekarang."


Desis Aaron, dengan gerakan cepat dia melucuti kemeja yang di pakainya membuat Raya mulai


di serang rasa tegang saat melihat kabut gairah


sudah menguasai tubuh suaminya itu.


"Aaron.. kau harus membersihkan dirimu dulu."


"Aku sangat merindukanmu sayang. Jangan


coba-coba mengalihkan perhatian ku.!"


Bisik Aaron sambil kemudian mengurung tubuh


Raya lalu menyambar bibirnya, ********** kuat


dan rakus membuat Raya sedikit tersentak karena


gerakan Aaron benar-benar tidak terkendali. Dia


mencoba melepaskan diri namun Aaron malah


semakin memperdalam ciumannya. Akhirnya


mau tidak mau Raya mulai pasrah, perlahan dia


mulai membalasnya, mencoba melayani dan mengimbangi keganasan suaminya itu.


Keduanya kini terhanyut dalam hangat dan


manisnya ciuman yang penuh dengan gelora


kerinduan. Padahal hanya terpisah setengah


hari saja, tapi rasa rindu di dada mereka malah semakin menggila.


Aaron melepaskan pagutannnya, keduanya kini


saling menatap berat seraya mengatur nafas yang sudah tidak beraturan terdesak oleh dorongan


hasrat dan gairah yang datang menerjang ingin


segera di lampiaskan. Dengan perlahan dan

__ADS_1


hati-hati Aaron membuka hijab yang menutupi


kepala Raya, kemudian merapihkan rambutnya


yang jatuh di kedua sisi wajahnya. Tangannya


mulai mengelus dan menelusuri seluruh detail


wajah elok istrinya itu, memujanya dengan


segenap jiwa dan raga.


"Kau adalah nafasku sayang.. Aku benar-benar


sesak berada jauh darimu."


Bisik Aaron berat dan serak sambil kemudian


mulai melakukan aksi lihainya. Raya hanya bisa memejamkan mata saat bibir Aaron menelusuri


seluruh wajahnya tanpa terlewat. Kemudian turun


ke bagian bawah, memberikan sentuhan lembut


nan memabukan di seluruh tubuhnya, bermain


intens di dua bukit kembarnya yang kini semakin


berisi membuat Aaron semakin menggila saat


menikmati keranuman nya. Semua di jelajahinya,


setiap detail tidak luput dari kecupan, jilatan dan


gigitan halus bibirnya. Tak terasa tubuh mereka


kini sudah dalam keadaan polos, tak tertutupi


sehelai kain pun.


Setelah puas mencumbu seluruh bagian tubuh


indah istrinya itu dan bermain gemas di perut buncitnya, akhirnya perlahan dan hati-hati


Aaron mulai melakukan penyatuan tubuh


mereka membuat Raya memekik tertahan,


tangannya memeluk erat leher Aaron dan mencengkeram kuat punggung polosnya.


"Kenapa rasanya masih saja sakitt sayaang.. aaaww..pelan-pelan.. kau menyakitiku..!"


"Ini akan selalu kita alami sayang.. Tapi tidak


akan lama, aku jamin setelah ini kau pasti akan menjeritkan namaku.!"


"Aakhh... Aaroonn.. eemhh.. aku tidak tahan.."


Aaron menyeringai tipis, dia ******* lembut


bibir Raya untuk membawanya pada ketenangan


dan kenikmatan yang kini mulai menggetarkan


tubuh mereka berdua. Di awal selalu saja begini,


butuh perjuangan untuk bisa menggapai nirwana.


Namun setelah semua itu terlewati, mereka


berdua bahkan tak mampu lagi berfikir jernih.


Rasa nikmat yang menghantam seluruh tubuh


mereka membuat keduanya seolah kehilangan


daya berfikir. Yang ada hanyalah saling memuja


satu sama lain.


Beberapa saat kemudian kamar super besar itu


sudah di warnai oleh desahan dan erangan serta rintihan kenikmatan yang membuat keduanya


terbang bersama menjelajahi surga dunia..


Dan inilah yang membuat Aaron tidak mungkin


bisa melirik apalagi berpaling pada wanita lain.


Sekarang sudah tidak ada lagi sisa perasaan di


hatinya untuk wanita dari masa lalu nya. Namun


dia tidak pernah menyesali pertemuannya dengan


cinta pertamanya. Karena semua pengalaman


itu ternyata telah membawanya pada cinta yang


sesungguhnya, cinta sejatinya..Maharaya..


Kegagalan cinta pertama seakan menjadi jalan pembuka bagi dirinya untuk lebih mengenali hati


dan jiwanya. Dari sana dia lebih memahami dan


meyakini, bagaimana sebenarnya perasaannya terhadap wanita dari masa lalunya dengan wanita


yang saat ini bersamanya. Sekarang dia sudah


bisa menyimpulkan bahwa hati dan jiwanya saat


ini sudah di penuhi oleh satu nama saja..


Maharaya.. ya..hanya Maharaya..


***


Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi


pasangan Aaron dan Raya. Sebab nanti malam


mereka akan merayakan bersatunya hati dan


jiwa mereka. Nanti malam akan di gelar resepsi


pernikahan Putra dan Putri Mahkota di aula


agung istana. Semua persiapan sudah rampung.


Hanya tinggal menunggu waktu pelaksanaannya


saja. Hari ini para pelayan dan prajurit pengawal


istana tampak sangat bersemangat. Mereka juga


lebih familiar dan hangat.


Dan bagi Aaron, hari ini dia benar-benar bisa


merasakan quality time bersama kesayangannya


tanpa harus di pusingkan oleh urusan pekerjaan. Sampai waktu beranjak siang, mereka berdua


masih berada di atas tempat tidur. Masih saling memeluk erat merasakan ketenangan dan


kenyamanan hati. Keduanya seolah tiada bosan


saling memandang dan melukis keindahan rupa masing-masing di benak mereka. Tak lupa saling melontarkan kata-kata cinta dan pujian layaknya


sang pujangga yang sedang jatuh cinta.


Namun keintiman mereka kini buyar ketika Raya


tiba-tiba saja menginginkan sesuatu yang aneh.


Dia ingin makan rujak khas negara asal nya.


"Suruh semua koki untuk berlomba membuatkan


rujak yang paling enak. Aku jadikan semua ini


sebagai sayembara.!"


Aaron memberi perintah di ambang pintu pada


semua pelayan dan para bawahannya yang


berdiri membungkuk hormat di hadapannya.


"Baik Yang mulya..laksanakan.!"


Serempak mereka sambil kemudian bubar. Para pelayan berlalu turun ke lantai bawah dan segera


pergi ke dapur istana untuk menyampaikan


perintah dari Putra Mahkota kepada para koki.


Beberapa saat kemudian para koki dan pelayan


di bagian dapur terlihat gaduh dan sibuk.Mereka


mulai berlomba membuat rujak khas negara asal


Sang Putri Mahkota dengan berbagai keahlian


dan pengalaman yang di miliki. Para koki ingin


memberikan yang terbaik untuk sang calon ratu


masa depan karena baru kali ini dia ngidam dan meminta sesuatu dari dapur istana.


Setengah jam kemudian...


Raya dan Aaron tampak tertegun ketika Brenda


dan para pelayan pribadi lainnya membawakan


troli makanan berisi macam-macam rujak yang masing-masing terlihat menarik dan menggugah


selera, lalu di letakkan di atas meja yang ada di


balkon kamar. Kedua majikannya itu saat ini


tampak sedang bersantai menikmati semilir


angin sambil duduk berdempetan, kepala Raya bersandar nyaman di dada bidang Aaron.


"Silahkan Yang Mulya.. mereka semua sudah


mencoba membuatkan yang terbaik."


Brenda berucap sambil membungkuk dalam di


hadapan majikannya. Mata indah Raya tampak


membulat, tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, apa-apaan ini.?


"Apa yang kau lakukan sayang.?"


Raya bangkit, menegakkan badannya sambil


melipat kedua tangannya di depan dada dengan


tatapan berubah kesal. Matanya menatap tajam


wajah Aaron yang terlihat acuh.


"Tidak ada.! Aku hanya melakukan sayembara


saja untuk para koki.!"


Aaron menjawab acuh sambil membuka ponsel


dan melirik sekilas kearah meja.


"Ohh jadi begitu.? Kalau begini mana bisa aku


makan. Aku tidak bisa membuat mereka semua


kecewa."


Aaron mengangkat bahunya. Dia merebahkan


tubuhnya ke sandaran sofa sambil tumpang


kaki, tampak santai tanpa beban.


"Kalau begitu kau makan saja yang di rasa


cukup menarik selera mu sayang."


"Aku tidak bisa.! Jadi..sekarang kau yang harus


mencicipi semua rujak itu. Aku baru akan makan


yang menurutmu paling enak.!"


Hahh..?? Mata Aaron membelalak tak percaya.


Mata mereka kini saling menatap kuat.


"K-kau.. menyuruhku memakan itu.??"


"Iya.. kenapa, tidak suka.?"


"Kau tahu kan aku tidak bisa makan makanan

__ADS_1


recehan seperti itu.!"


"Sekarang..kau harus memakannya.!"


"Baby.. please.. Aku tidak bisa.!"


"Aaron..! Jangan coba-coba membantahku.!"


Aaron membeku, menatap tajam makanan yang


ada di meja tersebut. Ada 5 mangkuk rujak yang


kini tersaji di atas meja.


"Sayang.. aku tidak bisa memakannya. Seumur


hidup aku belum pernah makan ini.!"


"Jadi sekarang adalah moment yang tepat


untukmu mencoba makanan itu.!"


Raya mengambilkan satu potongan buah dan


mencolek sambalnya lalu di dekatkan ke mulut


Aaron yang terlihat ragu dan menolak.


"Ayolah sayang.. ini enak kok."


Raya mulai mengirimkan tatapan penuh ancaman


dan pemaksaan. Akhirnya mau tidak mau Aaron


menerima suapan rujak itu dan mulai mengunyah


serta mencicipi rasanya. Matanya mengerjap


hebat. Ini rasanya..asam, manis dan pedaaas..


Uhukk ! Uhukk !


Aaron tersedak dan terbatuk hebat saat rasa pedas


kini terasa membakar lidah dan tenggorokan nya.


Dengan cepat Raya meminumkan air putih pada


Aaron. Wajah tampan nya terlihat memerah parah.


Raya mengulum senyum menahan tawa melihat


reaksi yang terjadi pada Aaron.


"Kau sengaja mengerjaiku kan ?"


Raut wajah Aaron terlihat kesal, dia menatap


tajam wajah Raya yang menutup mulutnya, geli.!


"Makanya segala sesuatu itu jangan berlebihan


sayang.. Aku kan tidak meminta sebanyak ini."


Ujar Raya sambil mengelus lembut wajah tampan


Aaron yang kemerahan, sedikit keringat tampak


meremang di dahinya, terlihat menggemaskan.


"Brenda..panggilkan Jessica dan Griz serta para


bawahan setia Putra Mahkota.!"


"Baik Yang Mulya."


Brenda membungkuk hormat kemudian berlalu


keluar dari balkon. Dalam hatinya dia sedikit geli


namun juga kasihan pada sang Pangeran yang


terpaksa harus menuruti perintah dan keinginan


Sang Putri Mahkota.


Tidak lama ke dalam ruangan muncul Jessica


dan Griz serta dua bawahan setia Aaron dengan tergesa-gesa. Mereka berdiri tegak di hadapan


Raya dan Aaron kemudian membungkukkan


badan serempak.


"Kami di sini Yang Mulya.."


Bibir Raya menyunggingkan senyum penuh arti.


Dia menatap semua bawahan setianya itu.


"Kalian temani Putra Mahkota mencicipi semua


rujak itu agar aku tahu yang mana yang paling


enak dan mantap rasanya !"


Seketika mata Alex dan Ben melebar, wajah dua


pria tinggi tegap dengan tampang datar itu kini


tampak meringis tegang. Sementara Jessica dan


Griz hanya saling melirik sekilas.


"Yang Mulya Putri Mahkota.. kami tidak berani.."


"Jangan membantahku.! cepat makan sekarang.


Atau kalian lebih memilih aku melakukan sesuatu


pada kalian.?"


"Baik Yang Mulya.. laksanakan.!"


Dengan cepat Alex dan Ben membungkuk. Raya


tersenyum puas. Akhirnya mereka semua bukan


hanya mencicipi saja, tapi membantu memakan


rujak-rujak itu yang semuanya ternyata memang


enak rasanya.


Dan ujung-ujungnya mereka semua menyukai


rasa dari makanan itu, termasuk Aaron yang


makan semangkuk berdua dengan Raya, dan


dari awal sampai habis di suapi oleh istrinya itu.


***


Mendekati pesta pernikahan...


Seluruh negeri hari ini bersuka cita. Kebahagiaan


terpendar di seantero kerajaan. Bagaimana tidak, malam ini istana akan menggelar pesta besar dan super mewah dalam rangka merayakan pernikahan sang Putra Mahkota. Tiga hari ini di jadikan hari


libur nasional. Semua aktivitas hanya terpusat di


tempat-tempat hiburan dan pusat perbelanjaan


saja. Semua orang merasakan ueforia kemeriahan


pesta yang sudah terasa sejak dua hari kemarin.


Kawasan istana sudah di sterilkan. Pengamanan


berlapis sudah di terapkan sejak jauh-jauh hari.


Dan malam ini adalah puncaknya. Dari area luar


istana sampai area masuk ke kawasan aula agung ribuan karangan bunga ucapan selamat.. tampak


berderet, berjajar rapi memenuhi dan menghiasi


jalanan di sepanjang jalur menuju istana.


Saat ini, aula agung istana yang terkenal dengan kemegahan serta keindahan ornamen emas yang


menghiasi interiornya sudah di sulap menjadi


tempat pesta yang begitu..wooww..menakjubkan..! Gemerlap cahaya lighting yang berpadu dengan dekorasi golden white dan sedikit sentuhan rose


gold di beberapa sudut nya serta keindahan


desain interior asli dari gedung super megah


yang memiliki ketinggian atap yang membuat


mulut menganga itu mampu melahirkan decak


kagum sekaligus menghipnotis semua orang


yang memasukinya..


Dan akhirnya waktu yang di nanti pun tiba..


Begitu matahari pamit undur diri untuk kembali


ke peraduan, gemerlap cahaya lampu menyala


menyelubungi kawasan istana dan aula agung,


memendarkan keindahan luar biasa membuat


seluruh rakyat begitu mengagumi tempat yang


jadi kebanggaan negeri ini. Dan segala hal yang


kini sedang terjadi di istana dan aula agung dapat


di saksikan oleh seluruh rakyat melalui visualisasi


dan tayangan live semua stasiun televisi lokal.


Semua mata menyaksikan moment bersejarah


ini dengan perasaan haru dan bahagia.


Para tamu negara sudah mulai berdatangan ke


kawasan aula agung. Yang dapat menghadiri


pesta akbar ini memang kalangan terbatas saja.


Hanya orang-orang berpredikat A dan A+ saja.


Artinya tamu undangan yang datang pada pesta


ini hanya orang-orang dari kalangan atas dan


kalangan jetset saja.


Dan di antara para tamu yang datang.. baru saja mendarat sebuah helikopter canggih dan modern


berlebel Sikorsky s-76c yang sangat mewah.


Beberapa tamu bahkan sempat ternganga saat


melihat kedatangan heli mahal tersebut.


Beberapa prajurit penjaga langsung mendekat


dan menghampiri helikopter tersebut setelah


mendarat mulus di landasan khusus yang ada


di area depan aula agung. Saat ini memang


sudah ada puluhan helikopter yang terparkir


rapi di sana yang membawa para tamu dengan kemewahan nya masing-masing. Dan baru


helikopter inilah yang paling mewah.


Tidak lama Alex dan Benjamin berlari kearah


kedatangan heli tersebut untuk menyambut tamu


yang baru saja datang. Dari dalam helikopter


yang berkapasitas 9 orang penumpang sipil itu


turunlah seorang pria tua yang terlihat masih


sangat berkharisma. Lalu seorang pria setengah


baya dengan aura kehadiran yang sangat kuat.


Di dampingi oleh seorang pria muda tinggi tegap


yang terlihat gagah dan berwibawa serta seorang


gadis cantik bertubuh tinggi semampai..

__ADS_1


***


__ADS_2