
***
Bukan hanya Raya yang terlihat terkejut melihat
keberadaan pria itu di tempat ini. Arabella dan
Jessica juga sama terkejutnya. Bagaimana bisa
pria tampan menawan dengan pembawaan
yang selalu tenang itu ada di tempat ini.?
"Sean.. kau ada di sini.? Apa kau sudah bosan
bekerja di bawah perintah orang lain.?"
Arabella menatap lekat wajah tampan pria itu
yang terlihat tersenyum dan menundukkan
kepala nya sedikit kearah Arabella.
"Selamat siang Princess Arabella. 8 bulan sudah
cukup bagiku untuk berkelana. Karena ternyata
yang aku dapatkan hanyalah kekecewaan dan
sakit hati saja.!"
Sahut nya dengan senyum yang tiada lepas dari
bibirnya. Tatapannya kembali jatuh di wajah
cantik Raya yang kini menundukkan kepala dan menarik nafas pelan. Jessica menatap ragu pada sosok pria itu yang tiada lain adalah mantan Bos
nya di Marvello's Corporation, Sean Sebastian.
"Ohh.. begitu ya. Jadi sekarang kau memutuskan
untuk kembali ke habitat aslimu.?"
Arabella tersenyum sedikit mengejek. Mereka
berdua memang sudah sangat dekat karena hidup
di lingkungan dan pergaulan yang sama. Bagi
Arabella.. Sean akan selalu menjadi pria idolanya
dan pria yang tidak akan pernah terhapus dari
hatinya. Walau sampai saat ini pria itu hanya
menganggapnya sebagai adik semata.
"Tentu.. Aku memiliki apapun yang seharusnya
tidak aku tinggalkan hanya karena kata bosan
dengan segala rutinitas kekakuan yang ada.!"
Sahut Sean kembali. Arabella tersenyum dan
mengangguk faham. Dia mengamati perubahan
fisik pria itu, sekarang dia terlihat lebih matang
dan dewasa, bukan lagi Sean Sebastian yang
selama ini di kenal sebagai Bad Boy dan seorang
Racer yang hanya bisa menghabiskan uang dan
materi keluarga tanpa tujuan hidup yang pasti.
"Mari Princess.. saya akan menemani anda
berkeliling tempat ini."
Sean mengulurkan tangan ke hadapan Raya
yang baru saja kembali pada kesadarannya.
Mata mereka kini saling menatap kuat.
"Sean.. bagaimana kau bisa ada di tempat ini,
apakah kau..?"
"Bisakah kita bicara berdua saja.?"
Sean menatap Raya dengan sorot mata yang
kembali datar dan dingin. Ada kekecewaan
yang begitu besar yang terlihat jelas dari
pancaran sinar matanya. Raya melirik kearah
Arabella dan para pengikut nya. Arabella menganggukan kepalanya sedikit ragu.
"Kami akan ada di belakang dan mengawasi
mu dari jauh Kakak ipar."
Ujar Arabella sambil memberi isyarat pada semua
bawahannya agar memberi jarak. Sebenarnya dia
tidak mengerti hubungan kakak iparnya dengan
Sean, namun Arabella tahu mereka berdua saling
mengenal karena pernah satu perusahaan.
Raya mulai melangkah tenang bersama Sean menyusuri wahana wisata yang sangat luas itu.
Siang ini pengunjung sedang padat-padatnya.
Dan kini fokus para pengunjung pecah, antara
arena wisata juga kehadiran istri Putra Mahkota
yang cukup menyita perhatian. Dan banyak juga diantara pengunjung wanita yang berteriak-teriak memanggil nama Sean. Ini cukup mengherankan.
Siapa sebenarnya Sean di tempat ini.!
Mereka berdua berjalan menuju area lain keluar
dari aquarium raksasa di ikuti oleh para bawahan
nya yang sedikit menjaga jarak.
"Kenapa Ray.? Kenapa kamu tidak berterus terang
padaku tentang semua ini.? Kenapa kamu lebih memilih menikah dengan laki-laki yang nyata-
nyata telah menghancurkan kehidupan mu.?"
Raya seketika menghentikan langkahnya. Wajah
nya kini berubah tidak nyaman. Mereka berdua
berdiri di pinggir wahana yang bisa memacu
adrenalin. Raya menarik nafas panjang sambil
memejamkan matanya kuat.
"Sean.. semua yang terjadi adalah kehendak
Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia bisa
apa, aku tidak mampu melawan takdir."
"Apa karena dia seorang calon Raja jadi kau
lebih memilihnya di banding aku.?"
Raya tersentak, raut wajahnya semakin terlihat
tidak nyaman sekaligus tersinggung.
"Asal kau tahu saja, aku bahkan tidak mengenal
siapa Aaron sesungguhnya. Dia membawaku
ke jalan ini tanpa aku tahu jati dirinya.!"
"Dia telah memaksamu untuk masuk ke dalam
kehidupannya. Aku tidak percaya kalau dia bisa
jatuh cinta padamu. Karena selama ini dia adalah
pria yang sangat dingin dan misterius.!"
"Jalan hidup manusia bisa saja berubah. Tidak
ada yang abadi di dunia ini Mr Sean.!"
"Apa sekarang hatimu juga sudah miliknya.?"
Mereka kembali saling menatap. Ingatan Raya
kini melayang pada sosok Sang suami yang
entah sedang berada dimana sekarang.
"Semua hal bisa saja berubah, begitupun dengan
hati dan perasaan."
Sean menggelengkan kepalanya tidak terima.
Raya menatap lurus ke depan, mencoba untuk
menembus batas agar bisa menemukan apa
yang sedang mengganggu hatinya.
"Aku sangat mencintaimu Raya.. Apa kau tahu,
aku gila saat kamu pergi tanpa kabar. Aku tidak
bisa menembus informasi keberadaan mu.!"
"Bukankah kau tahu aku pergi bersamanya.?"
"Dia menutup akses informasi tentang dirimu.
Dia berusaha memenjarakan mu dengan begitu
gila nya. Aku benar-benar tidak percaya ini.!"
"Kau pasti tahu dia orang yang seperti apa.!"
"Aku yakin dia hanya terobsesi saja padamu.!"
Raya melirik, mereka saling menatap kuat. Tapi
Raya cepat-cepat berpaling.
"Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas saat
ini aku sudah terikat dengan nya.!"
Ucap Raya sambil melangkah kembali di ikuti
oleh Sean yang terlihat semakin dingin saja.
Rasa cinta dan kerinduan yang begitu dalam
pada wanita ini membuat jiwa Sean merana
dan tersiksa selama ini setelah kepergian
Raya yang tanpa kabar itu.
Dan hatinya harus hancur berkeping-keping saat
mengetahui fakta bahwa wanita yang sangat di
idamkan nya itu kini sudah menjadi milik Putra Mahkota negaranya setelah berita tentang acara
pertunangan Aaron dan Catharina yang gagal
menghebohkan dunia maya sehingga dia bisa mengetahui posisi Raya saat ini seperti apa.
Akhirnya dia memutuskan mendatangi Tuan Danu untuk memperoleh informasi selengkapnya. Dan
dari sanalah dia tahu segalanya. Bahwa Aaron lah
laki-laki yang telah melakukan kekerasan pada
Raya waktu itu. Hancur sudah semuanya. Tidak
ada lagi yang harus dia pertahankan di negara itu.
Beberapa hari lalu dia memutuskan untuk keluar
dari perusahan Aaron dan kembali pada kehidupan yang selama 8 bulan ini sudah di tinggalkan nya. Selama ini dia telah meninggalkan kekayaan nya, kekuasaan nya dan popularitas nya hanya karena
merasa jenuh dengan kehidupannya yang kaku
dan lurus serta membosankan. Padahal semua
sudah ada di genggamannya. Sampai akhirnya
dia bertemu Raya dan merasakan jatuh cinta
yang sesungguhnya terhadap seorang wanita.
"Bisakah kamu meninggalkan Putra Mahkota.?"
Raya kembali menghentikan langkahnya. Dia
membalikkan badannya, saling berhadapan
dengan Sean yang menatapnya kuat penuh
harapan yang begitu besar.
"Sean..saat ini aku sedang mengandung benih
seorang Aaron. Dan aku.. sangat mencintainya.
Aku tidak bisa hidup tanpa dirinya. Dia bukan
hanya telah mengurung fisikku tapi juga hatiku."
Wajah Sean langsung berubah aneh. Pucat tapi
juga tidak terima semua ini. Tatapannya tampak
hancur lebur.. Raya menatap Sean dengan hati
dan jiwa yang tidak sinkron. Sebenarnya hatinya
tidak tega, namun dia tidak ingin membuat Sean
__ADS_1
lebih hancur lagi dengan harapan kosong.
"Jadi benar.. kau sudah jatuh cinta padanya.?"
Suara Sean terdengar gemetar dengan sorot
mata butuh keyakinan.
"Iya.. aku jatuh cinta padanya.! Jadi aku mohon
lupakan cintamu padaku. Kau pria yang sangat
baik Sean, aku yakin ada seorang wanita yang
sedang menantikan cinta tulus mu saat ini."
"Tapi aku sangat mencintaimu Maharaya.."
"Jangan memaksakan diri Sean. Karena kita
tidak di takdirkan untuk saling terhubung.."
Keduanya terdiam, saling pandang.. mencoba
meyakinkan diri masing-masing. Sean menarik
napas dalam-dalam. Ya..inilah takdir cintanya,
hanya bisa mencintai tanpa bisa memiliki.
Cintanya hanyalah sepihak saja. Baiklah..tidak apa-apa. Dia akan bahagia dengan cintanya
sendiri dalam diam.Yang penting wanita yang
sangat di cintainya ini bahagia.
"Baiklah.. aku lega sekarang. Tapi aku akan tetap mengawasi Prince Marvell, untuk memastikan
bahwa dia tidak akan menyakitimu.!"
Raya menatap ragu wajah Sean, namun akhirnya
dia tersenyum lembut membuat jiwa Sean kini
kembali gelisah dan memberontak.
"Terimakasih atas pengertian mu Sean.. Oya..
apa di sini ini ada tempat makan yang enak..?
Aku.. lapar sekali..."
Wajah Sean berekspresi sedikit aneh, kaget tapi
juga geli dan antusias.
"Tentu saja ada My Princess.. bahkan di sini juga
ada menu asal negaramu. Ayo.. aku akan
membawamu bernostalgia sepuasnya..!"
Sambut Sean dengan wajah berubah ceria sambil kemudian tanpa sadar menarik tangan Raya dan menggandeng nya berjalan menuju kearah lain. Arabella dan semua bawahan Raya tampak
terkejut sesaat begitu melihat Sean berani menggandeng tangan Princess Agung mereka.
***
Sementara itu beberapa waktu lalu di tempat
lain, tepatnya di pusat kota xx.. ibukota negara
asal Ratu Virginia. Aaron beserta seluruh anak buahnya saat ini sedang berada di ruang khusus
di lantai teratas Marvello's Hospital..
Sudah 5 jam lamanya mereka semua menunggu
proses operasi penanganan pertama masalah
gangguan jantung yang di alami oleh Sahabat
dekatnya Aaron..Raymond Dirgantara Moolay..
Wajah Aaron tampak tidak terbaca. Dia sedikit
tegang dan cemas mengingat kondisi Dirga
saat ini cukup kritis. Ada sedikit kekesalan dan
penyesalan dalam dirinya karena selama ini
Dirga tidak pernah mendengarkan sarannya.
Pria itu terlalu percaya diri dengan kondisinya.
"Yang Mulya.. Princess Agung baru saja selesai
melakukan pemeriksaan."
Alex mengulurkan tablet tipis ke hadapan Aaron
yang membuat wajah pria itu langsung berubah
semangat. Dia menatap lekat wajah cantik Raya
yang baru saja keluar dari lift rumah sakit dan
langsung di serbu oleh para wartawan. Wajah
Raya terlihat lesu dan sedikit muram.
Jantung Aaron terasa bergolak, antara rasa rindu
dan rasa sakit yang kini mengoyak perasaannya
saat menyadari dirinya bukanlah suami yang baik karena tidak bisa menemani istrinya itu melakukan
pemeriksan kandungan untuk pertama kalinya.
"Maaf baby.. Aku benar-benar tidak berguna.!"
Keluh Aaron sambil mengusap gambar Raya
yang terlihat sudah masuk kedalam mobil dan tampilan gambar di layar tablet itu terputus sementara.
Aaron tersentak saat pintu ruangan operasi
terbuka. Alea, Rayen dan team dokter rumah
sakitnya serta beberapa dokter ahli yang sengaja
di undang dari berbagai negara tampak keluar.
Dengan cepat Aaron menghampiri mereka.
"Bagaimana hasilnya.? Operasi nya berhasil.?
Dirga baik-baik saja kan.?"
Tidak sabar, Aaron segera menyerbu kedatangan
mereka dengan pertanyaan. Alea menarik nafas
berat dengan tampang sedikit kusut. Sementara
Rayen dan dokter yang lain menundukan kepala.
"Untuk sementara semuanya bisa tertangani.
Tapi hal ini tidak akan menjamin kesembuhan.
Kerusakan jantung yang di alami Tuan Moolay
melakukan operasi transplantasi jantung."
Alea menjawab dengan suara yang sangat berat.
Wajah Aaron tampak semakin dingin dan keras.
Tidak, dia tidak akan membiarkan apapun terjadi
pada nyawa sahabatnya itu.
"Kalau begitu temukan segera donor jantung
yang cocok dengannya. Aku tidak mau tahu,
kalian harus bekerja semaksimal mungkin.!"
Tegas Aaron sambil kembali menjatuhkan
dirinya di atas sofa sambil meremas kepalanya.
Alea dan Rayen saling pandang dengan tatapan
yang sama-sama berat. Kondisi Dirga saat ini
benar-benar berada di ujung tanduk. Harapan
hidup pria itu juga kian menurun.
Beberapa saat kemudian Aaron sudah ada di
ruang perawatan intensif tempat Dirga berada.
Saat ini sahabatnya itu masih belum sadarkan
diri. Dia masih berada dalam pengaruh obat
bius setelah proses operasi yang memakan
waktu cukup lama itu.
Aaron menatap lekat wajah Dirga yang terlihat
pucat pasi bak mayat hidup. Sekarang ini fisik
pria itu juga sudah mulai mengalami perubahan.
Dia sedikit kurus dan kurang segar.
"Aku pastikan tidak akan terjadi apapun padamu
Dirga. Anak dan istrimu sangat memerlukan
kehadiran mu saat ini.!"
Gumam Aaron sambil menarik napas berat. Ada bayangan wajah sendu Mayra yang kini melintas
dalam ingatannya. Apa yang akan terjadi kalau
wanita itu tahu tentang kondisi Dirga saat ini.
Dia tahu pasti kalau Mayra sangat mencintai
suaminya ini. Seperti hal nya seseorang..
"Maharaya.."
Aaron tersentak saat bayangan wajah Raya kini menjelma di pelupuk mata nya. Dia merebut
tablet dari tangan Alex yang langsung terlihat
gelagapan karena saat ini tampilan gambar di
layar tabletnya adalah..
"Apa ini..? Kenapa dia bisa datang ke tempat
ini ? Dan ******** kecil ini..!? Ohh shit..!! Kita
harus pulang sekarang..!!"
Aaron melempar tablet tersebut ke tangan Alex
dengan wajah yang sudah berubah kelam. Dia
segera keluar dari ruang perawatan itu dan
seolah tidak memperdulikan apapun lagi dia
berlari kearah lift yang akan membawa dirinya
langsung ke rooftop dimana helikopter nya
berada. Yang ada dalam otaknya, bagaimana
caranya agar dia bisa cepat sampai ke tempat
Raya berada saat ini.
Pesawat kecil itu kini sudah mengudara. Dengan
tampang wajah yang sangat menakutkan Aaron
kembali memantau kegiatan Raya di fantasi
Island. Giginya gemeletuk hebat, dan tinjunya
terkepal sempurna hingga buku jarinya memutih semua.
"Aaaahh..Sial !! Brengsek kau Sean.! berani
sekali dia memegang tangan istriku.!!"
Prang !
Aaron melempar semua barang yang ada di
dekatnya ke sembarang arah hingga mengenai
Alex, Benjamin dan sang pilot yang sedang fokus
mengendalikan pesawat nya hingga terguncang
sedikit. Mereka semua yang ada di dalam ruang
pesawat kecil itu tampak tegang maksimal
melihat sang Pangeran terbakar api cemburu
yang sudah hampir menghanguskan dirinya.
"Kau bisa mempercepat pesawat ini tidak.?!
Apa harus aku sendiri yang membawanya.?
Si brengsek itu bisa semakin kurang ajar
pada istriku.!!"
"Ba-baik Yang Mulya..!"
Sang pilot tampak gemetaran. Dia menambah
kecepatan terbang pesawatnya hingga membuat
pesawat kecil itu semakin terguncang hebat.
***
__ADS_1
Sean membawa Raya dan Arabella ke sebuah
restaurant yang tersedia di dalam kawasan
tempat wisata itu. Dan mereka menempati
ruangan VVIP yang ada di lantai atas.
Wajah Raya tampak berbinar ceria saat dia di
suguhi hidangan lezat asal negaranya yang
terlihat menggugah selera. Gregory dan Griz
melakukan pengecekan terlebih dahulu pada
semua hidangan yang di sajikan untuk Raya
dan Arabella.
Sean duduk di depan Raya dengan senyum
cerah dan raut wajah bahagia. Saat ini dia bisa menatap wajah cantik wanita itu sepuasnya
yang selama dua bulan terakhir ini hanya ada
dalam mimpinya saja.
"Arabella.. kau harus mencoba semua makanan
ini. Aku yakin kau akan suka dengan rasanya."
Raya menyodorkam satu mangkuk hidangan
berupa soto ke hadapan Arabella yang terlihat
menatapnya sedikit aneh dan ragu.
"Ayolah coba dulu, biar kamu tahu rasanya.!"
Paksa Raya sambil menatap Arabella yang
masih terlihat ragu. Namun saat dia melihat
Sean juga memakan hidangan itu Arabella
akhirnya mulai mencoba mencicipinya.
"Bagaimana..? Kau suka rasanya.?"
Sean bertanya sambil menatap wajah cantik
Arabella yang terlihat mengerjapkan mata dan
kembali menyuapkan makanan itu.
"Mmmm..yunmmi.. rasanya lezat sekali. Sean..
kau pasti jadi salah satu pecinta makanan asal
negara kakak ipar sekarang, iya kan.?"
"Hemm.. bukan hanya makanan nya. Tapi aku
juga jatuh cinta pada seseorang yang berasal
dari negara itu."
"Woww.. seorang Sean sang penakluk lintasan
bisa jatuh cinta.? Apalagi pada gadis asing, ini
sesuatu yang sangat mengejutkan."
"Sayang sekali.. dia diambil oleh pria lain.!"
Raya menghentikan suapannya. Matanya kini
saling menatap panas dengan Sean. Arabella
melirik, loh..ada apa ini ? mungkinkah mereka.?
"Ohhh.. aku mengerti sekarang. Sayang sekali..
dia bukanlah jodohmu Sean, kakak ipar sudah
di takdirkan hanya untuk Kakakku seorang.!"
"Takdir bisa saja berubah sewaktu-waktu.!"
"Sean.. sudah cukup, aku mohon hentikan.! "
Potong Raya dengan tatapan mulai kesal.
"Okay baby.. sorry.. Ayoo kita lanjutkan makan
siangnya.!"
Mata Raya dan Arabella tampak membulat,
mulut mereka terbuka saat melihat satu sosok
tinggi gagah dengan tampang kelam tiba-tiba
saja berjalan kearah mereka dan kini berdiri di belakang Sean sambil menodongkan senjata
di pelipis kiri pria itu.
"Aku ingin melihat seberapa besar nyalimu
Sean Sebastian Wilbur.. sampai kau berani
berharap mendapatkan hati seorang wanita
yang sudah jelas adalah milikku.!!"
Desis pria itu dengan tatapan yang seolah bisa
menembus dan membelah isi kepala Sean.
"A-Aaron.. kau di sini.?"
Raya bergumam pelan dengan tatapan lekat
kearah sosok itu yang hanya menyeringai tipis
dan melirik sekilas kearah nya. Sementara Sean tampak tenang-tenang saja dengan tatapan
tetap lurus kearah Raya.
"Aku sudah mencintainya jauh sebelum dirimu
muncul Yang Mulya..Dan cintaku bukan hanya
sekedar manipulasi semata. Aku benar-benar
tulus mencintainya.!"
"Cukup Tuan Wilbur.. Kau sudah terlalu berani
menyatakan cinta pada seorang wanita di depan
suaminya sendiri.!!"
Aaron menarik pelatuk senjatanya membuat
Arabella bangkit dengan wajah panik. Dan
semua orang bergerak penuh antisipasi, baik
itu orang-orangnya Aaron maupun bawahan
Sean yang terlihat sedikit panik.
"Kakak.. ini hanya salah faham. Sean tidak
melakukan kesalahan apapun..!"
"Mundur Arabella..! Kau tidak punya urusan
dengan semua ini.!"
"Kakak tidak bisa berbuat seenaknya, Sean
tidak salah, dia hanya..."
"Salahnya adalah karena dia berani mencintai
istriku.! Tidak boleh ada laki-laki lain yang
berani menempatkan nama istriku di hatinya.."
Prok ! Prok ! Prok !
"Yang Mulya Putra Mahkota.. sungguh.. cinta
mu terhadap istrimu terlalu..menakutkan..!!"
Desis Sean sambil kemudian berdiri dan bertepuk
tangan dengan wajah yang terlihat begitu tenang. Tidak ada lagi sosok Sean bawahan Aaron yang
akan selalu patuh saat mendapat perintahnya.
Mereka berdua kini saling berhadapan. Perlahan
Sean meraih pistol yang ada di kepalanya, setelah
itu melakukan gerakan cepat menutup pelatuk
dan melipat kembali senjata itu lalu menjatuhkan
nya keatas lantai dengan.. santai..
Aaron menyeringai tipis melihat apa yang di
lakukan oleh Sean. Dia melipat kedua tangan
di dadanya. Sementara Sean berdiri santai
sambil memasukan kedua tangannya ke dalam
saku celana. Mata mereka saling beradu panas.
Raya menggelengkan kepala bingung dan tidak
mengerti ada apa sebenarnya dengan mereka.
Akhirnya dia memilih acuh, kembali menikmati
makan siangnya. Arabella juga duduk kembali
tapi terus mengawasi pergerakan dua orang itu.
"Ohh..jadi Ghost Rider sudah kembali rupanya.
Baiklah.. Aku hanya ingin mengingatkan satu
hal padamu, jangan pernah ganggu istri ku lagi.!"
"Dan aku punya permintaan terakhir. Beri aku
dua jam saja untuk membawa nya jalan-jalan
dan bersenang-senang. Bukankah selama ini
dia terlihat tidak bahagia dengan mu.? Hanya
ketakutan dan ketegangan lah yang kau berikan
padanya Yang Mulya..!"
Dalam gerakan cepat Aaron mencengkram kerah
baju Sean dan menariknya kuat hingga dia sedikit kesulitan bernafas. Semua orang terkejut lalu
bergerak cepat merapat kearah kedua orang itu.
Raya kini maju dan mencoba menarik tangan
Aaron dari leher Sean.
"Aaron.. lepaskan dia.! Kau selalu saja begini.!"
Aaron bergeming, tatapannya malah semakin
menyala di penuhi emosi yang sudah ingin
meledak dari tadi.
"Sean, apa yang kau inginkan sebenarnya.?"
Geram Aaron dengan tatapan harimau nya.
"Kalau anda punya nyali lawan aku di lintasan.
Aku menang, dia akan bersamaku selama 2
jam, tapi kalau aku kalah, aku berjanji tidak
akan pernah mengganggu istrimu lagi..!!"
"Shit.! Kau berani menantang ku Tuan Sean..!
Okay deal..!!"
"Aaron.. apa-apaan ini.? Kalian benar-benar
keterlaluan.!!"
Raya berseru dengan tatapan tajam kearah Aaron
dan Sean secara bergantian. Aaron melepaskan cengkeramannya. Raya menggelengkan kepala
kuat, dia benar-benar tidak percaya dengan
tindakan konyol kedua pria itu.
Aaron segera menarik tubuh Raya ke dalam pelukannya. Tapi Raya yang masih di liputi oleh
kekecewaan dan kekesalan cepat mendorong
dada Aaron dan melepaskan diri dari pelukan
pria itu kemudian berlalu pergi dari ruangan itu.
Aaron tertegun, wajahnya tampak bereaksi aneh, antara kesal, sedih, dan kecewa kini memenuhi
dadanya melihat reaksi Raya barusan.
"Bisa kita mulai sekarang Yang Mulya..?"
Tantang Sean dengan senyum miring setengah
mengejek kemudian melangkah tenang keluar
dari ruang restauran itu. Aaron mengatur nafas
kemudian menghembuskan nya kasar. Semua
ini terjadi karena kesalahannya sendiri..
__ADS_1
***