Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
93. Tantangan Sean


__ADS_3

***


Bukan hanya Raya yang terlihat terkejut melihat


keberadaan pria itu di tempat ini. Arabella dan


Jessica juga sama terkejutnya. Bagaimana bisa


pria tampan menawan dengan pembawaan


yang selalu tenang itu ada di tempat ini.?


"Sean.. kau ada di sini.? Apa kau sudah bosan


bekerja di bawah perintah orang lain.?"


Arabella menatap lekat wajah tampan pria itu


yang terlihat tersenyum dan menundukkan


kepala nya sedikit kearah Arabella.


"Selamat siang Princess Arabella. 8 bulan sudah


cukup bagiku untuk berkelana. Karena ternyata


yang aku dapatkan hanyalah kekecewaan dan


sakit hati saja.!"


Sahut nya dengan senyum yang tiada lepas dari


bibirnya. Tatapannya kembali jatuh di wajah


cantik Raya yang kini menundukkan kepala dan menarik nafas pelan. Jessica menatap ragu pada sosok pria itu yang tiada lain adalah mantan Bos


nya di Marvello's Corporation, Sean Sebastian.


"Ohh.. begitu ya. Jadi sekarang kau memutuskan


untuk kembali ke habitat aslimu.?"


Arabella tersenyum sedikit mengejek. Mereka


berdua memang sudah sangat dekat karena hidup


di lingkungan dan pergaulan yang sama. Bagi


Arabella.. Sean akan selalu menjadi pria idolanya


dan pria yang tidak akan pernah terhapus dari


hatinya. Walau sampai saat ini pria itu hanya


menganggapnya sebagai adik semata.


"Tentu.. Aku memiliki apapun yang seharusnya


tidak aku tinggalkan hanya karena kata bosan


dengan segala rutinitas kekakuan yang ada.!"


Sahut Sean kembali. Arabella tersenyum dan


mengangguk faham. Dia mengamati perubahan


fisik pria itu, sekarang dia terlihat lebih matang


dan dewasa, bukan lagi Sean Sebastian yang


selama ini di kenal sebagai Bad Boy dan seorang


Racer yang hanya bisa menghabiskan uang dan


materi keluarga tanpa tujuan hidup yang pasti.


"Mari Princess.. saya akan menemani anda


berkeliling tempat ini."


Sean mengulurkan tangan ke hadapan Raya


yang baru saja kembali pada kesadarannya.


Mata mereka kini saling menatap kuat.


"Sean.. bagaimana kau bisa ada di tempat ini,


apakah kau..?"


"Bisakah kita bicara berdua saja.?"


Sean menatap Raya dengan sorot mata yang


kembali datar dan dingin. Ada kekecewaan


yang begitu besar yang terlihat jelas dari


pancaran sinar matanya. Raya melirik kearah


Arabella dan para pengikut nya. Arabella menganggukan kepalanya sedikit ragu.


"Kami akan ada di belakang dan mengawasi


mu dari jauh Kakak ipar."


Ujar Arabella sambil memberi isyarat pada semua


bawahannya agar memberi jarak. Sebenarnya dia


tidak mengerti hubungan kakak iparnya dengan


Sean, namun Arabella tahu mereka berdua saling


mengenal karena pernah satu perusahaan.


Raya mulai melangkah tenang bersama Sean menyusuri wahana wisata yang sangat luas itu.


Siang ini pengunjung sedang padat-padatnya.


Dan kini fokus para pengunjung pecah, antara


arena wisata juga kehadiran istri Putra Mahkota


yang cukup menyita perhatian. Dan banyak juga diantara pengunjung wanita yang berteriak-teriak memanggil nama Sean. Ini cukup mengherankan.


Siapa sebenarnya Sean di tempat ini.!


Mereka berdua berjalan menuju area lain keluar


dari aquarium raksasa di ikuti oleh para bawahan


nya yang sedikit menjaga jarak.


"Kenapa Ray.? Kenapa kamu tidak berterus terang


padaku tentang semua ini.? Kenapa kamu lebih memilih menikah dengan laki-laki yang nyata-


nyata telah menghancurkan kehidupan mu.?"


Raya seketika menghentikan langkahnya. Wajah


nya kini berubah tidak nyaman. Mereka berdua


berdiri di pinggir wahana yang bisa memacu


adrenalin. Raya menarik nafas panjang sambil


memejamkan matanya kuat.


"Sean.. semua yang terjadi adalah kehendak


Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia bisa


apa, aku tidak mampu melawan takdir."


"Apa karena dia seorang calon Raja jadi kau


lebih memilihnya di banding aku.?"


Raya tersentak, raut wajahnya semakin terlihat


tidak nyaman sekaligus tersinggung.


"Asal kau tahu saja, aku bahkan tidak mengenal


siapa Aaron sesungguhnya. Dia membawaku


ke jalan ini tanpa aku tahu jati dirinya.!"


"Dia telah memaksamu untuk masuk ke dalam


kehidupannya. Aku tidak percaya kalau dia bisa


jatuh cinta padamu. Karena selama ini dia adalah


pria yang sangat dingin dan misterius.!"


"Jalan hidup manusia bisa saja berubah. Tidak


ada yang abadi di dunia ini Mr Sean.!"


"Apa sekarang hatimu juga sudah miliknya.?"


Mereka kembali saling menatap. Ingatan Raya


kini melayang pada sosok Sang suami yang


entah sedang berada dimana sekarang.


"Semua hal bisa saja berubah, begitupun dengan


hati dan perasaan."


Sean menggelengkan kepalanya tidak terima.


Raya menatap lurus ke depan, mencoba untuk


menembus batas agar bisa menemukan apa


yang sedang mengganggu hatinya.


"Aku sangat mencintaimu Raya.. Apa kau tahu,


aku gila saat kamu pergi tanpa kabar. Aku tidak


bisa menembus informasi keberadaan mu.!"


"Bukankah kau tahu aku pergi bersamanya.?"


"Dia menutup akses informasi tentang dirimu.


Dia berusaha memenjarakan mu dengan begitu


gila nya. Aku benar-benar tidak percaya ini.!"


"Kau pasti tahu dia orang yang seperti apa.!"


"Aku yakin dia hanya terobsesi saja padamu.!"


Raya melirik, mereka saling menatap kuat. Tapi


Raya cepat-cepat berpaling.


"Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas saat


ini aku sudah terikat dengan nya.!"


Ucap Raya sambil melangkah kembali di ikuti


oleh Sean yang terlihat semakin dingin saja.


Rasa cinta dan kerinduan yang begitu dalam


pada wanita ini membuat jiwa Sean merana


dan tersiksa selama ini setelah kepergian


Raya yang tanpa kabar itu.


Dan hatinya harus hancur berkeping-keping saat


mengetahui fakta bahwa wanita yang sangat di


idamkan nya itu kini sudah menjadi milik Putra Mahkota negaranya setelah berita tentang acara


pertunangan Aaron dan Catharina yang gagal


menghebohkan dunia maya sehingga dia bisa mengetahui posisi Raya saat ini seperti apa.


Akhirnya dia memutuskan mendatangi Tuan Danu untuk memperoleh informasi selengkapnya. Dan


dari sanalah dia tahu segalanya. Bahwa Aaron lah


laki-laki yang telah melakukan kekerasan pada


Raya waktu itu. Hancur sudah semuanya. Tidak


ada lagi yang harus dia pertahankan di negara itu.


Beberapa hari lalu dia memutuskan untuk keluar


dari perusahan Aaron dan kembali pada kehidupan yang selama 8 bulan ini sudah di tinggalkan nya. Selama ini dia telah meninggalkan kekayaan nya, kekuasaan nya dan popularitas nya hanya karena


merasa jenuh dengan kehidupannya yang kaku


dan lurus serta membosankan. Padahal semua


sudah ada di genggamannya. Sampai akhirnya


dia bertemu Raya dan merasakan jatuh cinta


yang sesungguhnya terhadap seorang wanita.


"Bisakah kamu meninggalkan Putra Mahkota.?"


Raya kembali menghentikan langkahnya. Dia


membalikkan badannya, saling berhadapan


dengan Sean yang menatapnya kuat penuh


harapan yang begitu besar.


"Sean..saat ini aku sedang mengandung benih


seorang Aaron. Dan aku.. sangat mencintainya.


Aku tidak bisa hidup tanpa dirinya. Dia bukan


hanya telah mengurung fisikku tapi juga hatiku."


Wajah Sean langsung berubah aneh. Pucat tapi


juga tidak terima semua ini. Tatapannya tampak


hancur lebur.. Raya menatap Sean dengan hati


dan jiwa yang tidak sinkron. Sebenarnya hatinya


tidak tega, namun dia tidak ingin membuat Sean

__ADS_1


lebih hancur lagi dengan harapan kosong.


"Jadi benar.. kau sudah jatuh cinta padanya.?"


Suara Sean terdengar gemetar dengan sorot


mata butuh keyakinan.


"Iya.. aku jatuh cinta padanya.! Jadi aku mohon


lupakan cintamu padaku. Kau pria yang sangat


baik Sean, aku yakin ada seorang wanita yang


sedang menantikan cinta tulus mu saat ini."


"Tapi aku sangat mencintaimu Maharaya.."


"Jangan memaksakan diri Sean. Karena kita


tidak di takdirkan untuk saling terhubung.."


Keduanya terdiam, saling pandang.. mencoba


meyakinkan diri masing-masing. Sean menarik


napas dalam-dalam. Ya..inilah takdir cintanya,


hanya bisa mencintai tanpa bisa memiliki.


Cintanya hanyalah sepihak saja. Baiklah..tidak apa-apa. Dia akan bahagia dengan cintanya


sendiri dalam diam.Yang penting wanita yang


sangat di cintainya ini bahagia.


"Baiklah.. aku lega sekarang. Tapi aku akan tetap mengawasi Prince Marvell, untuk memastikan


bahwa dia tidak akan menyakitimu.!"


Raya menatap ragu wajah Sean, namun akhirnya


dia tersenyum lembut membuat jiwa Sean kini


kembali gelisah dan memberontak.


"Terimakasih atas pengertian mu Sean.. Oya..


apa di sini ini ada tempat makan yang enak..?


Aku.. lapar sekali..."


Wajah Sean berekspresi sedikit aneh, kaget tapi


juga geli dan antusias.


"Tentu saja ada My Princess.. bahkan di sini juga


ada menu asal negaramu. Ayo.. aku akan


membawamu bernostalgia sepuasnya..!"


Sambut Sean dengan wajah berubah ceria sambil kemudian tanpa sadar menarik tangan Raya dan menggandeng nya berjalan menuju kearah lain. Arabella dan semua bawahan Raya tampak


terkejut sesaat begitu melihat Sean berani menggandeng tangan Princess Agung mereka.


***


Sementara itu beberapa waktu lalu di tempat


lain, tepatnya di pusat kota xx.. ibukota negara


asal Ratu Virginia. Aaron beserta seluruh anak buahnya saat ini sedang berada di ruang khusus


di lantai teratas Marvello's Hospital..


Sudah 5 jam lamanya mereka semua menunggu


proses operasi penanganan pertama masalah


gangguan jantung yang di alami oleh Sahabat


dekatnya Aaron..Raymond Dirgantara Moolay..


Wajah Aaron tampak tidak terbaca. Dia sedikit


tegang dan cemas mengingat kondisi Dirga


saat ini cukup kritis. Ada sedikit kekesalan dan


penyesalan dalam dirinya karena selama ini


Dirga tidak pernah mendengarkan sarannya.


Pria itu terlalu percaya diri dengan kondisinya.


"Yang Mulya.. Princess Agung baru saja selesai


melakukan pemeriksaan."


Alex mengulurkan tablet tipis ke hadapan Aaron


yang membuat wajah pria itu langsung berubah


semangat. Dia menatap lekat wajah cantik Raya


yang baru saja keluar dari lift rumah sakit dan


langsung di serbu oleh para wartawan. Wajah


Raya terlihat lesu dan sedikit muram.


Jantung Aaron terasa bergolak, antara rasa rindu


dan rasa sakit yang kini mengoyak perasaannya


saat menyadari dirinya bukanlah suami yang baik karena tidak bisa menemani istrinya itu melakukan


pemeriksan kandungan untuk pertama kalinya.


"Maaf baby.. Aku benar-benar tidak berguna.!"


Keluh Aaron sambil mengusap gambar Raya


yang terlihat sudah masuk kedalam mobil dan tampilan gambar di layar tablet itu terputus sementara.


Aaron tersentak saat pintu ruangan operasi


terbuka. Alea, Rayen dan team dokter rumah


sakitnya serta beberapa dokter ahli yang sengaja


di undang dari berbagai negara tampak keluar.


Dengan cepat Aaron menghampiri mereka.


"Bagaimana hasilnya.? Operasi nya berhasil.?


Dirga baik-baik saja kan.?"


Tidak sabar, Aaron segera menyerbu kedatangan


mereka dengan pertanyaan. Alea menarik nafas


berat dengan tampang sedikit kusut. Sementara


Rayen dan dokter yang lain menundukan kepala.


"Untuk sementara semuanya bisa tertangani.


Tapi hal ini tidak akan menjamin kesembuhan.


Kerusakan jantung yang di alami Tuan Moolay


melakukan operasi transplantasi jantung."


Alea menjawab dengan suara yang sangat berat.


Wajah Aaron tampak semakin dingin dan keras.


Tidak, dia tidak akan membiarkan apapun terjadi


pada nyawa sahabatnya itu.


"Kalau begitu temukan segera donor jantung


yang cocok dengannya. Aku tidak mau tahu,


kalian harus bekerja semaksimal mungkin.!"


Tegas Aaron sambil kembali menjatuhkan


dirinya di atas sofa sambil meremas kepalanya.


Alea dan Rayen saling pandang dengan tatapan


yang sama-sama berat. Kondisi Dirga saat ini


benar-benar berada di ujung tanduk. Harapan


hidup pria itu juga kian menurun.


Beberapa saat kemudian Aaron sudah ada di


ruang perawatan intensif tempat Dirga berada.


Saat ini sahabatnya itu masih belum sadarkan


diri. Dia masih berada dalam pengaruh obat


bius setelah proses operasi yang memakan


waktu cukup lama itu.


Aaron menatap lekat wajah Dirga yang terlihat


pucat pasi bak mayat hidup. Sekarang ini fisik


pria itu juga sudah mulai mengalami perubahan.


Dia sedikit kurus dan kurang segar.


"Aku pastikan tidak akan terjadi apapun padamu


Dirga. Anak dan istrimu sangat memerlukan


kehadiran mu saat ini.!"


Gumam Aaron sambil menarik napas berat. Ada bayangan wajah sendu Mayra yang kini melintas


dalam ingatannya. Apa yang akan terjadi kalau


wanita itu tahu tentang kondisi Dirga saat ini.


Dia tahu pasti kalau Mayra sangat mencintai


suaminya ini. Seperti hal nya seseorang..


"Maharaya.."


Aaron tersentak saat bayangan wajah Raya kini menjelma di pelupuk mata nya. Dia merebut


tablet dari tangan Alex yang langsung terlihat


gelagapan karena saat ini tampilan gambar di


layar tabletnya adalah..


"Apa ini..? Kenapa dia bisa datang ke tempat


ini ? Dan ******** kecil ini..!? Ohh shit..!! Kita


harus pulang sekarang..!!"


Aaron melempar tablet tersebut ke tangan Alex


dengan wajah yang sudah berubah kelam. Dia


segera keluar dari ruang perawatan itu dan


seolah tidak memperdulikan apapun lagi dia


berlari kearah lift yang akan membawa dirinya


langsung ke rooftop dimana helikopter nya


berada. Yang ada dalam otaknya, bagaimana


caranya agar dia bisa cepat sampai ke tempat


Raya berada saat ini.


Pesawat kecil itu kini sudah mengudara. Dengan


tampang wajah yang sangat menakutkan Aaron


kembali memantau kegiatan Raya di fantasi


Island. Giginya gemeletuk hebat, dan tinjunya


terkepal sempurna hingga buku jarinya memutih semua.


"Aaaahh..Sial !! Brengsek kau Sean.! berani


sekali dia memegang tangan istriku.!!"


Prang !


Aaron melempar semua barang yang ada di


dekatnya ke sembarang arah hingga mengenai


Alex, Benjamin dan sang pilot yang sedang fokus


mengendalikan pesawat nya hingga terguncang


sedikit. Mereka semua yang ada di dalam ruang


pesawat kecil itu tampak tegang maksimal


melihat sang Pangeran terbakar api cemburu


yang sudah hampir menghanguskan dirinya.


"Kau bisa mempercepat pesawat ini tidak.?!


Apa harus aku sendiri yang membawanya.?


Si brengsek itu bisa semakin kurang ajar


pada istriku.!!"


"Ba-baik Yang Mulya..!"


Sang pilot tampak gemetaran. Dia menambah


kecepatan terbang pesawatnya hingga membuat


pesawat kecil itu semakin terguncang hebat.


***

__ADS_1


Sean membawa Raya dan Arabella ke sebuah


restaurant yang tersedia di dalam kawasan


tempat wisata itu. Dan mereka menempati


ruangan VVIP yang ada di lantai atas.


Wajah Raya tampak berbinar ceria saat dia di


suguhi hidangan lezat asal negaranya yang


terlihat menggugah selera. Gregory dan Griz


melakukan pengecekan terlebih dahulu pada


semua hidangan yang di sajikan untuk Raya


dan Arabella.


Sean duduk di depan Raya dengan senyum


cerah dan raut wajah bahagia. Saat ini dia bisa menatap wajah cantik wanita itu sepuasnya


yang selama dua bulan terakhir ini hanya ada


dalam mimpinya saja.


"Arabella.. kau harus mencoba semua makanan


ini. Aku yakin kau akan suka dengan rasanya."


Raya menyodorkam satu mangkuk hidangan


berupa soto ke hadapan Arabella yang terlihat


menatapnya sedikit aneh dan ragu.


"Ayolah coba dulu, biar kamu tahu rasanya.!"


Paksa Raya sambil menatap Arabella yang


masih terlihat ragu. Namun saat dia melihat


Sean juga memakan hidangan itu Arabella


akhirnya mulai mencoba mencicipinya.


"Bagaimana..? Kau suka rasanya.?"


Sean bertanya sambil menatap wajah cantik


Arabella yang terlihat mengerjapkan mata dan


kembali menyuapkan makanan itu.


"Mmmm..yunmmi.. rasanya lezat sekali. Sean..


kau pasti jadi salah satu pecinta makanan asal


negara kakak ipar sekarang, iya kan.?"


"Hemm.. bukan hanya makanan nya. Tapi aku


juga jatuh cinta pada seseorang yang berasal


dari negara itu."


"Woww.. seorang Sean sang penakluk lintasan


bisa jatuh cinta.? Apalagi pada gadis asing, ini


sesuatu yang sangat mengejutkan."


"Sayang sekali.. dia diambil oleh pria lain.!"


Raya menghentikan suapannya. Matanya kini


saling menatap panas dengan Sean. Arabella


melirik, loh..ada apa ini ? mungkinkah mereka.?


"Ohhh.. aku mengerti sekarang. Sayang sekali..


dia bukanlah jodohmu Sean, kakak ipar sudah


di takdirkan hanya untuk Kakakku seorang.!"


"Takdir bisa saja berubah sewaktu-waktu.!"


"Sean.. sudah cukup, aku mohon hentikan.! "


Potong Raya dengan tatapan mulai kesal.


"Okay baby.. sorry.. Ayoo kita lanjutkan makan


siangnya.!"


Mata Raya dan Arabella tampak membulat,


mulut mereka terbuka saat melihat satu sosok


tinggi gagah dengan tampang kelam tiba-tiba


saja berjalan kearah mereka dan kini berdiri di belakang Sean sambil menodongkan senjata


di pelipis kiri pria itu.


"Aku ingin melihat seberapa besar nyalimu


Sean Sebastian Wilbur.. sampai kau berani


berharap mendapatkan hati seorang wanita


yang sudah jelas adalah milikku.!!"


Desis pria itu dengan tatapan yang seolah bisa


menembus dan membelah isi kepala Sean.


"A-Aaron.. kau di sini.?"


Raya bergumam pelan dengan tatapan lekat


kearah sosok itu yang hanya menyeringai tipis


dan melirik sekilas kearah nya. Sementara Sean tampak tenang-tenang saja dengan tatapan


tetap lurus kearah Raya.


"Aku sudah mencintainya jauh sebelum dirimu


muncul Yang Mulya..Dan cintaku bukan hanya


sekedar manipulasi semata. Aku benar-benar


tulus mencintainya.!"


"Cukup Tuan Wilbur.. Kau sudah terlalu berani


menyatakan cinta pada seorang wanita di depan


suaminya sendiri.!!"


Aaron menarik pelatuk senjatanya membuat


Arabella bangkit dengan wajah panik. Dan


semua orang bergerak penuh antisipasi, baik


itu orang-orangnya Aaron maupun bawahan


Sean yang terlihat sedikit panik.


"Kakak.. ini hanya salah faham. Sean tidak


melakukan kesalahan apapun..!"


"Mundur Arabella..! Kau tidak punya urusan


dengan semua ini.!"


"Kakak tidak bisa berbuat seenaknya, Sean


tidak salah, dia hanya..."


"Salahnya adalah karena dia berani mencintai


istriku.! Tidak boleh ada laki-laki lain yang


berani menempatkan nama istriku di hatinya.."


Prok ! Prok ! Prok !


"Yang Mulya Putra Mahkota.. sungguh.. cinta


mu terhadap istrimu terlalu..menakutkan..!!"


Desis Sean sambil kemudian berdiri dan bertepuk


tangan dengan wajah yang terlihat begitu tenang. Tidak ada lagi sosok Sean bawahan Aaron yang


akan selalu patuh saat mendapat perintahnya.


Mereka berdua kini saling berhadapan. Perlahan


Sean meraih pistol yang ada di kepalanya, setelah


itu melakukan gerakan cepat menutup pelatuk


dan melipat kembali senjata itu lalu menjatuhkan


nya keatas lantai dengan.. santai..


Aaron menyeringai tipis melihat apa yang di


lakukan oleh Sean. Dia melipat kedua tangan


di dadanya. Sementara Sean berdiri santai


sambil memasukan kedua tangannya ke dalam


saku celana. Mata mereka saling beradu panas.


Raya menggelengkan kepala bingung dan tidak


mengerti ada apa sebenarnya dengan mereka.


Akhirnya dia memilih acuh, kembali menikmati


makan siangnya. Arabella juga duduk kembali


tapi terus mengawasi pergerakan dua orang itu.


"Ohh..jadi Ghost Rider sudah kembali rupanya.


Baiklah.. Aku hanya ingin mengingatkan satu


hal padamu, jangan pernah ganggu istri ku lagi.!"


"Dan aku punya permintaan terakhir. Beri aku


dua jam saja untuk membawa nya jalan-jalan


dan bersenang-senang. Bukankah selama ini


dia terlihat tidak bahagia dengan mu.? Hanya


ketakutan dan ketegangan lah yang kau berikan


padanya Yang Mulya..!"


Dalam gerakan cepat Aaron mencengkram kerah


baju Sean dan menariknya kuat hingga dia sedikit kesulitan bernafas. Semua orang terkejut lalu


bergerak cepat merapat kearah kedua orang itu.


Raya kini maju dan mencoba menarik tangan


Aaron dari leher Sean.


"Aaron.. lepaskan dia.! Kau selalu saja begini.!"


Aaron bergeming, tatapannya malah semakin


menyala di penuhi emosi yang sudah ingin


meledak dari tadi.


"Sean, apa yang kau inginkan sebenarnya.?"


Geram Aaron dengan tatapan harimau nya.


"Kalau anda punya nyali lawan aku di lintasan.


Aku menang, dia akan bersamaku selama 2


jam, tapi kalau aku kalah, aku berjanji tidak


akan pernah mengganggu istrimu lagi..!!"


"Shit.! Kau berani menantang ku Tuan Sean..!


Okay deal..!!"


"Aaron.. apa-apaan ini.? Kalian benar-benar


keterlaluan.!!"


Raya berseru dengan tatapan tajam kearah Aaron


dan Sean secara bergantian. Aaron melepaskan cengkeramannya. Raya menggelengkan kepala


kuat, dia benar-benar tidak percaya dengan


tindakan konyol kedua pria itu.


Aaron segera menarik tubuh Raya ke dalam pelukannya. Tapi Raya yang masih di liputi oleh


kekecewaan dan kekesalan cepat mendorong


dada Aaron dan melepaskan diri dari pelukan


pria itu kemudian berlalu pergi dari ruangan itu.


Aaron tertegun, wajahnya tampak bereaksi aneh, antara kesal, sedih, dan kecewa kini memenuhi


dadanya melihat reaksi Raya barusan.


"Bisa kita mulai sekarang Yang Mulya..?"


Tantang Sean dengan senyum miring setengah


mengejek kemudian melangkah tenang keluar


dari ruang restauran itu. Aaron mengatur nafas


kemudian menghembuskan nya kasar. Semua


ini terjadi karena kesalahannya sendiri..

__ADS_1


***


__ADS_2