Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
33. Black Wolf


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aaron membawa Raya bersembunyi di balik


salah satu ruangan yang ada di atas. Tubuh


Raya bergetar hebat, syok luar biasa dengan


serangan dadakan yang membabi buta ini.


Aaron mengokang dua senjata di tangannya


seraya melirik kearah Raya yang terlihat pucat


pasi di telan kepanikan. Wajah Aaron saat ini


sudah sangat kelam, tidak ada lagi wajah


tampan Sang Pangeran, yang ada hanyalah


jelmaan Underground Devil yang menakutkan.


Hujan peluru dan ledakan terus terjadi di luar


ruangan, bahkan banyak di antaranya yang


berhasil masuk ke dalam ruangan membuat


Raya kembali menjerit histeris lalu melompat


ke dalam pelukan Aaron. Kapal berguncang


hebat saat satu tembakan berkaliber besar


berhasil di lancarkan ke bagian anjungan


membuat fungsi mesin rusak seketika dan


kondisi kapal kini mulai tidak seimbang. Api


mulai merambat membakar semua bagian.


"Aaron...aku takut..bawa aku pergi dari sini."


Raya menyusupkan wajahnya di dada Aaron


seraya menutup telinganya dengan kedua


tangannya. Aaron mendekap erat tubuh Raya


sambil bergerak perlahan ke salah satu sisi


mengintip dan memindai kekuatan musuh.


"Aku akan membawamu pergi dari tempat


ini, tapi kau harus tenang, jangan panik !"


Aaron mencoba berbicara karena Raya kini


mulai merengek menangis.


"Tapi aku takut Aaron.. kita akan tenggelam.."


Raya semakin syok saat kapal mulai miring


karena kehilangan keseimbangan nya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan apapun


terjadi padamu, percaya padaku.!"


Aaron meyakinkan sambil meraih tablet kecil


tipis dan melakukan komunikasi khusus


dengan simbol merah berkedip-kedip.


"Tuan.. mereka mengirimkan dua pasukan.


Udara dan air..!"


Ke atas geladak berdatangan Alex, Griz dan


semua anak buah Aaron dengan senjata besar


di tangan. Aaron langsung mengambil senjata berkaliber paling besar. Dia kini mengamankan


Raya di sudut ruangan yang cukup aman dari


serbuan peluru dan ada Griz yang berjaga di


dekatnya.


"Black Wolf atau Black Hunter kah.?"


Aaron bertanya seraya menyiapkan senjata


di tangannya dan segera mengokang nya


dalam sekali gerakan cepat dan lihai.


"Dua-duanya Tuan..!"


"Seberapa banyak kekuatan mereka.?"


"Sekitar 5 regu Tuan.!"


"Habisi mereka di sini.! Tidak perlu meminta


bantuan Black Eagle.!"


"Baik Tuan, bergerak.! habisi mereka..!"


Alex memberi perintah pada bawahnya yang


langsung menyebar mencari posisi untuk


membalas serangan. Aaron kini meluruskan senjatanya dan bersiap keluar dari ruangan


membuat Raya terkesiap.


"Aaron..kau mau kemana.?"


Raya berseru panik, menatap Aaron penuh


kecemasan. Mata Aaron mengerjap melihat


Raya menangis dan menatapnya berat.


"Kau tetap di sini. Aku akan segera kembali.! "


"Aaron.. jangan keluar.! Di sana berbahaya.!"


Raya kembali berseru, mata mereka saling


menatap kuat, tapi Aaron segera berpaling.


Dia melangkah keluar bersama dengan Alex


dengan penuh keberanian dan percaya diri


tanpa rasa takut ataupun khawatir, padahal


berondongan peluru masih terus menghujani


tempat itu. Dengan satu bidikan pasti Aaron


langsung melesakkan tembakan ke udara


tepat mengenai baling-baling salah satu heli


hingga menimbulkan bunyi ledakan keras dan pesawat itu berputar-putar tidak terkendali


kemudian jatuh menukik ke dalam air hingga


menimbulkan gelombang yang cukup tinggi


dengan semburan air yang cukup keras.


Aaron kembali melancarkan tembakan, tepat mengenai bagian depan helikopter yang kedua


hingga pesawat tersebut meledak langsung di


udara menyisakan bunyi ledakan hebat dengan kepulan asap yang membumbung tinggi dan


hujan pecahan material pesawat yang terbang


ke segala penjuru. Tak menunggu waktu lama


Aaron kembali melancarkan tembakan ke tiga


mengenai badan pesawat yang dari tadi tak henti menyerang. Pesawat tersebut oleng, kemudian berputar beberapa kali. Namun sialnya pesawat


itu malah meluncur jatuh mengarah ke buritan


kapal membuat semua anak buah Aaron terpaksa


berloncatan menghindar dan menyelamatkan diri.


Raya menutup mulutnya syok melihat semua


yang terjadi di depan matanya itu. Pesawat tadi


jatuh di ujung geladak kemudian meledak hancur dengan suara dentuman yang cukup dahsyat


hingga menimbulkan gelombang air yang naik


setinggi 10 meter membuat semua mata kini


membulat saat serbuan gelombang air tersebut menyapu semua yang ada di atas kapal hingga


semua anak buah Aaron yang ada di luar serentak menyelamatkan diri dengan berloncatan lalu


terjun ke dalam air.


"Ohh shit.! Kita keluar dari sini sekarang juga.!"


Aaron memberi perintah sambil melesat masuk.


Dan sebelum serbuan gelombang air tersebut


melahap tubuh mereka Aaron sudah menyambar tangan Raya di bawa berlari turun ke dalam


geladak dasar yang masih sedikit aman. Kapal


kini mulai oleng dan perlahan tenggelam.


"Kalian sudah menyiapkan sekoci.?"


Aaron bertanya cepat sambil meraih alat


pengaman dan satu pelampung yang di

__ADS_1


di ulurkan oleh Alex.


"Semuanya sudah siap Tuan.!"


Jawab kapten kapal seraya membuka pintu


darurat yang langsung mengarah ke luar dan


di sana sudah ada satu sekoci yang bersiaga.


Sedangkan satu sekoci lainnya sudah lebih


dulu meluncur menjemput anak buah Aaron


yang berada di air.


"Kita pergi sekarang, Alex kau singkirkan dulu


satu heli yang tersisa.!"


Aaron kembali memberi perintah di tengah


kegiatannya memakaikan pelampung ke tubuh


Raya yang sudah dalam mode tegang akut,


wajahnya kini sudah seputih kapas.


"Baik Tuan.!"


Alex keluar duluan kemudian melompat ke


atas sekoci dan dengan sigap melesakkan


tembakan jarak jauh pada satu helikopter


yang sedang berusaha menjauh. Tidak lama


terdengar bunyi ledakan keras di udara.


"Kita akan keluar dari sini.! Tapi kau harus


tetap tenang.! "


Aaron berkata sambil memastikan semua alat pengaman sudah melekat dengan benar di


tubuh Raya. Keduanya saling menatap kuat.


"A-aku takut Aaron.. siapa mereka.. Kenapa


menyerang kita.?"


"Kau tidak perlu tahu siapa mereka karena ini


tidak ada hubungannya dengan mu. !"


"Apa kita akan berakhir di sini.?"


Aaron menatap tajam wajah Raya yang tidak


bisa tenang, masih saja bergetar hebat dan


meluruhkan air mata ketakutan.


"Aku ada di sini untuk melindungi mu.! jadilah


wanita yang kuat sebagaimana dirimu yang


biasanya.! Kau pasti bisa.!"


Tegas Aaron menatap kuat wajah Raya dengan


sorot mata penuh penekanan. Raya mengusap


air matanya dan perlahan berjalan. Namun kaki


nya terasa lemas tak bertenaga. Dia tersentak


saat Aaron tiba-tiba mengangkat tubuh nya ke


dalam gendongan nya ala bridal style.


Perlahan dan tetap siaga Aaron membawa Raya masuk ke dalam sekoci yang sudah siaga di luar


kapal yang kini semakin tenggelam. Sekoci itu


kini mulai meluncur mengikuti navigasi khusus


yang di setting secara otomatis.


Setelah cukup jauh mengarungi tengah lautan,


kini ada kapal besar yang bergerak cepat dari kejauhan menuju kearah mereka.


"Tuan.. pasukan bawah air mereka mulai


bergerak !"


Alex memberi peringatan sambil kemudian


bersiaga di pintu masuk. Aaron yang sedang


melakukan pemantauan di layar monitor


tampak menyeringai sadis.


"Biarkan mereka mendekat dulu.!"


Ucapnya sambil kemudian meraih senjata besar


dan terlatih. Raya yang sedang duduk meringkuk memeluk lutut tampak mulai kembali bereaksi ketakutan. Tuhan.. belum cukupkah semua


yang terjadi tadi.? Lalu apalagi sekarang?


Tidak lama sebuah kapal layar berukuran sedang


datang dengan kecepatan penuh mengarah pada


dua sekoci yang di tumpangi Aaron dan seluruh


anak buahnya. Perang tembakan pun langsung


terjadi. Aaron menembakkan senjata mengarah


langsung ke bagian depan kapal tersebut hingga


menimbulkan bunyi ledakan keras. Namun lawan


tidak kalah sadis, mereka menembakkan senjata


besar kearah sekoci yang di tumpangi Aaron.


"Damn.!! Get out now..!!"


Aaron berteriak kencang saat tembakan tersebut


mengenai badan sekoci dan tanpa ampun alat


penyelamat itu terbalik hingga semua orang yang


ada di dalam nya terlempar keluar. Tubuh Raya


terlempar cukup jauh. Dia mencoba berenang


mencari keberadaan semua orang.


"Aaroonn...!!"


Di tengah upayanya berenang Raya berteriak


memanggil-manggil Aaron yang entah berada


di bagian mana. Raya tersentak ketika tiba-tiba


datang sebuah motor boat kearahnya. Belum


sadar dengan apa yang terjadi tubuh nya sudah


terangkat ke atas motor tersebut yang kembali


melesat kearah kapal layar penyerang tadi.


Raya mencoba berontak ketika satu sosok tinggi


tegap mengangkat paksa tubuh nya di bawa keluar dari geladak dasar yang tadi di jadikan jalan masuk oleh motor boat yang telah membawanya. Sosok


itu membawa Raya ke salah satu ruangan di bagian tengah kapal. Tanpa permisi pria itu membuka pelampung yang melekat pada tubuh Raya dan melemparnya asal. Raya segera mundur menjauh begitu sosok yang membawanya tadi selesai


dengan apa yang di lakukan nya.


"Si-siapa kamu.? Apa maumu.?"


Sosok tinggi tegap dengan garis wajah keras


dan ada luka gores di pipi sebelah kirinya itu


kini menatapnya tajam, memindai keseluruhan


diri Raya seolah sedang memastikan kondisi


wanita itu. Ada seringai aneh yang kini tercipta


di bibirnya. Dia maju mendekat membuat Raya


otomatis menjauh dengan tatapan waspada.


Tidak lama ke tempat itu muncul satu sosok


lain bertubuh tinggi besar berperangai sadis di


hiasi rambut gondrong nya yang berantakan.


"Ohh.. jadi kau tertangkap rupanya..!"


Sosok yang baru datang itu menyeringai sadis


sambil maju ke hadapan Raya yang semakin


mundur hingga tubuhnya membentur pinggiran


kapal. Sosok itu memandang mesum tubuh


Raya seakan ingin melahap dan menerkamnya.


"Si-siapa kalian..? Kenapa menyerang kami..?


Apa yang kalian inginkan..?"


Raya berucap dengan tubuh yang bergetar


hebat dan wajah pucat pasi.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami.. Yang aku

__ADS_1


inginkan.. Underground Devil datang kesini


untuk menyelamatkan wanita nya, barulah


aku bisa menghabisinya dengan mudah..!!"


Pria gondrong dengan perangai menakutkan


itu berkata masih dengan seringai iblis nya.


"A-aku tidak mengerti apa maksud mu. Aku


tidak punya urusan dengan kalian.!"


"Tentu saja kau punya urusan dengan ku.!"


"Aku tidak mengenalmu sama sekali..! "


"Tapi aku mengenalmu Nona Maharaya..Kau


sudah menjadi penyebab lenyapnya ketua


Black Hunter..!!"


"Jayden..?? Si-siapa kamu sebenarnya.?"


Sosok tinggi besar itu maju mendekat dan akan mencengkeram dagu Raya, tapi sosok satu lagi


yang tadi membawa Raya dengan gerakan


cepat menarik lengan pria besar itu.


"Siapa yang mengijinkan mu menyentuh nya.!"


Geram sosok itu dengan suara harimau nya.


Sosok tinggi besar itu menepis pegangan tangan


si sosok pipi codet dengan tatapan kesal namun


tampaknya dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kembali ke depan, pastikan semuanya aman


terkendali, pria itu tidak akan mati dengan mudah.!"


Titah sosok codet tadi dengan tatapan yang tidak mampu di bantah oleh si tinggi besar. Dia hanya


bisa mendengus, menatap kembali kearah Raya,


setelah itu melangkah pergi sambil mengokang senjatanya. Raya menatap interaksi dua manusia menyeramkan itu sambil melihat dan mengamati situasi di luar kapal karena kini mulai terdengar


bunyi tembakan dari kejauhan. Sosok tinggi


tegap itu maju mendekat kearah Raya yang menatapnya penuh ketegangan.


"Kenapa kalian membawaku kesini.? A-apa


yang kau inginkan.? Hei..mundur, jangan


mendekat.!"


Raya merentangkan tangan ke depan sebagai


upaya perlindungan diri karena pria codet itu


kini semakin merangsek maju.


"Aku menginginkan mu.! Kau harus melayani


hasrat ku..di sini.. sekarang juga..!!"


"Tidak.! Jangan menggangguku..! Tolong


biarkan aku pergi..!"


Raya mendorong dan memukuli tubuh besar


pria itu yang dengan mudah nya bergerak


cepat menangkap kedua pergelangan tangan


Raya kemudian menguncinya di atas kepala.


Tubuh Raya bergetar hebat saat laki-laki itu


kini semakin mendekatkan wajahnya.


"Kau terlalu cantik..! Dan pria kejam seperti Underground Devil tidak layak mendapatkan


wanita seperti dirimu.!"


Desis pria codet itu sambil menghirup aroma


tubuh Raya melalui tengkuk lehernya seraya


memejamkan mata seolah sedang menikmati


segala fantasi liar yang tercipta. Bibirnya kini


kembali bergerak mendekat ke bibir Raya yang


membulatkan matanya panik.


"Jangan..!! Kumohon jangan menyentuh ku.!!"


Raya kalap, dia mencoba menendang kuat milik laki-laki itu, namun gerakannya sia-sia karena


pria itu sudah lebih dulu mengunci kedua kakinya.


"Keliaranmu membuatku semakin bergairah


Nona..Kau sangat menantang.!"


Pria itu menyeringai iblis dengan tatapan yang


mulai berkabut membuat Raya di kuasai oleh


ketakutan luar biasa. Dia menjerit-jerit histeris


meronta sekuat tenaga.


"Lepaskan aku..! Tolong.. jangan..!!"


Raya melebarkan matanya saat tangan kokoh


pria itu berhasil menarik pakaian bagian atasnya hingga terbuka sedikit, ketakutan nya semakin menjadi saat pria itu memepetkan tubuh nya


ke tubuh Raya, namun sesaat kemudian pria itu


tampak terkejut dan tertegun ketika merasakan


ada sengatan hebat yang berasal dari tubuh


Raya saat dia berusaha menyentuh kulitnya.


Pria itu menjauhkan tubuhnya, menatap tajam


wajah Raya dengan sorot mata yang terkejut


luar biasa namun ada ambisi besar yang kini


menyeruak dalam pancaran mata kelamnya.


"Kau.. wanita yang luar biasa..!!"


Desis nya berat sambil kemudian melepaskan


cengkeraman tangannya di pergelangan tangan


Raya. Dia mundur, meraih senjata besar di yang


ada di dekatnya.


"Tunggu di sini..! Aku tidak akan melepaskan


mu.! Akan aku habisi underground Devil.!"


Desisnya sambil mengokang senjatanya. Raya


duduk meringkuk memeluk lutut nya dengan


tubuh yang tiada henti gemetaran.


"Tuan..Ada serangan dari dalam air.! Kekuatan


kita tidak akan bisa mengimbangi nya. Mereka


membawa senjata penghancur.!"


Kedalam ruangan muncul si pria gondrong tadi


beserta beberapa orang pria besar berpakaian


serba hitam dengan goresan luka mengerikan


memenuhi muka mereka.


"Shit.! Apalagi yang di miliki oleh ******** itu


yang tidak aku ketahui.! Siapkan helikopter


sekarang juga..!"


Geram pria codet itu sambil kemudian maju


menarik tangan Raya. Dan tanpa basa-basi


orang itu memakaikan rompi pengaman ke


tubuh Raya yang masih berusaha melakukan


perlawanan namun semuanya sia-sia saja.


"Kita pergi sekarang ! Yang lain pergi lewat


air, alihkan perhatian mereka.!"


Perintah pria itu sambil kemudian menarik


tangan Raya keluar dari ruangan itu. Namun


baru saja mereka bergerak sudah terdengar


bunyi tembakan dan ledakan dahsyat di luar.


Pria itu berlari cepat menaiki tangga dengan


menyeret tubuh Raya yang terus meronta dan


berteriak histeris minta tolong..


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2