Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
32. Janggal


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aaron melangkah tenang dan tegas dengan


raut wajah datar dan tatapan lurus ke depan


menuju kursi yang sudah di siapkan untuknya


tepat di sebelah lady Catharina. Wanita elegan


itu tampak masih berdiri menyambut Aaron


dengan tatapan lembut dan senyum manis


yang terulas dari bibir seksinya.


Raya memundurkan kursi sedikit agar Aaron


lebih leluasa untuk duduk, sekilas keduanya


saling pandang sampai akhirnya Aaron mulai


duduk dengan tenang dan gaya yang sangat


elegan di kursinya, sementara Raya berdiri


dengan posisi sedikit di belakangnya.


"Baiklah..karena Putra Mahkota sudah hadir


di sini, kita mulai saja acara sarapan pagi ini."


Raja Williams membuka suara di sambut


anggukan kepala semua orang. Para pelayan


kini mulai bergerak melakukan tugasnya


melayani setiap orang dengan sangat rapi


dan cekatan di sertai gestur tubuh penuh


dengan rasa hormat. Namun Aaron tampak mengangkat tangannya saat satu pelayan


bersiap melayaninya. Pelayan itu mematung,


tegang dan sedikit bingung, apakah dirinya


melakukan kesalahan.?


"Mohon maaf Yang Mulya, adakah sesuatu


yang anda inginkan.?"


Asisten pribadi Raja Williams, Robert tampak


mendekat sambil membungkuk di hadapan


Aaron yang masih terdiam.


"Biarkan sekretaris pribadi ku yang melakukan


semua ini, suruh mereka mundur.!"


Titah Aaron tegas. Raya terkejut atas semua


perintah dan keinginan Aaron, begitupun


dengan semua orang. Apa-apaan pria ini.?


"Baik Yang Mulya, sesuai perintah anda."


Robert memberi isyarat pada pelayan untuk


mundur. Semua orang tertegun, menatap Sang


Pangeran yang terkenal keras kepala dan tidak


bisa di atur itu. Dengan wajah yang terlihat pias


Raya maju ke samping Aaron, menatap sekilas


wajah datar itu dengan perasaan aneh, dongkol


campur tegang. Kenapa pria ini harus melakukan semua ini, tahu apa dirinya dengan semua tata


cara dan peraturan di negara ini ?


"Lakukan tugasmu dengan baik dan benar.!"


Aaron berkata tanpa melihat kearah Raya. Ya


Tuhan..jadi dia harus berperan sebagai pelayan


pribadi pria ini juga.? keterlaluan..!! Dengan


menguatkan dirinya Raya mulai bergerak maju


menuangkan minuman ke gelas yang ada di


hadapan pria itu. Tapi makanan apa yang harus


dia siapkan untuknya ? Dirinya bahkan belum mengenal pria ini, apa yang dia sukai atau tidak,


lalu bagaimana dirinya akan bisa melayani nya


dengan benar. Dengan mencoba menebak dia


mulai memilih makanan yang sekiranya bisa


di santap oleh Aaron dan menyajikannya.


Aaron tampak terdiam, ada sedikit reaksi di


wajah tampan nya saat Raya mengambilkan


satu makanan yang tidak di sukai nya tapi dia


tetap diam dan membiarkannya. Namun kini


Catharina yang bereaksi, dia menatap Raya


dengan sorot mata kompleks, ada senyum


geli yang terulas di bibirnya.


"Miss Raya..sepertinya anda belum mengenal


Pangeran dengan baik. !"


Catharina berucap sambil menatap Raya yang


terlihat terkejut, raut wajahnya berubah sedikit


tegang dan gusar. Dengan halus Catharina kini


bergerak lebih dekat pada Aaron kemudian dia


meraih makanan yang tidak di sukai Aaron.


Memindahkan dan menggantinya dengan yang


lain. Wanita itu juga melanjutkan menyiapkan


makanan lain yang biasa di santap oleh Aaron


di pagi hari. Semua hal tentang Aaron telah di


pelajari dan di dalami oleh Catharina sebagai


calon istri Putra Mahkota. Semuanya sudah


sangat di kuasai nya . Raya terdiam, menatap


wanita terhormat nan elegan itu yang selalu


menebar senyum manis di hadapan Aaron.


Dia terlihat sangat lembut dan mempesona.


"Maafkan kecerobohan saya Yang Mulya."


Raya menundukkan kepalanya sedikit. Aaron


meliriknya sekilas, wajahnya tetap datar dan


tanpa ekspresi. Raja dan Ratu menatap diam


interaksi antara ketiga orang itu. Ada senyum


kepuasan di bibir Sang Ratu melihat Catharina


melayani Aaron dengan begitu sempurna.


"Kau bisa mundur Nona sekretaris.. Biarkan


Lady Catharina yang mengambil alih.!"


Titah Sang Ratu pada Raya yang terlihat ragu,


dia melirik kearah Aaron yang terdiam tanpa


reaksi apapun.


"Baik Yang Mulya.."


Raya membungkuk kemudian mundur dan


kembali berdiri di posisi semula. Wajah Aaron


tampak mulai mengeras, namun ekspresi nya


tetap sama. Catharina kembali pada posisinya,


duduk anggun dan elegan di samping Aaron.


Namun apa yang terjadi kemudian membuat


semua orang tak percaya. Tanpa minat Aaron


malah menyingkirkan piring itu dari hadapan


nya, karuan saja Catharina terkejut melihat hal


itu, wajahnya berubah memerah tidak terima.


"Yang Mulya..apakah ada yang salah dengan.."


"Jangan pernah ikut campur urusanku lady..!"


Desis Aaron sambil mulai meneguk minuman


yang ada di hadapannya. Catharina terhenyak


dengan perasaan tidak terima. Hal itu memantik


emosi dalam jiwa Lucas dan perdana menteri


Alfred yang langsung mengepalkan tangannya


kuat. Ini mungkin hal sepele, namun tetap saja


merupakan penghinaan bagi keluarga mereka.


"Pangeran.. hargailah apa yang telah di lakukan


oleh calon istrimu.! Kau adalah seseorang yang


memiliki kehormatan diatas segalanya.!"

__ADS_1


Raja Williams mengetatkan rahang, menatap


tajam wajah Aaron penuh intimidasi. Namun


ekspresi di wajah putranya itu tetap sama,


datar dan dingin.


"Aku tidak suka seseorang ikut campur dalam


urusanku.!"


"Pangeran..! Cukup..! Kau benar-benar sudah


sangat keterlaluan.! Lady Catharina adalah


calon istrimu, dia punya hak untuk melayani


dan melakukan sesuatu untuk mu.!"


Ratu Virginia ikut berbicara dengan wajah yang


terlihat memerah. Dia melihat saat ini Catharina


tampak menundukkan kepala, memejamkan


mata, mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Yang Mulya Raja dan Ratu.. saya yang salah."


Lirih Catharina dengan suara yang sangat pelan


dan sedikit bergetar di telan kekecewaan. Kali


ini Lucas tidak bisa menahan luapan emosi nya


melihat sang adik kesayangan di permalukan


seperti itu. Kilatan hebat melesat keluar dari


matanya yang langsung menyebar ke seluruh


ruangan menguarkan hawa dingin. Dan detik


berikutnya semua orang tersentak kaget ketika


tiba-tiba lampu kristal besar yang ada di ujung


ruangan meledak hebat menimbulkan bunyi


mencekam dan menyemburkan pecahan kecil


ke udara yang membuat semua orang berdiri


membulatkan mata kemudian merunduk dan


berteriak histeris.


"Lindungi semua orang..!!"


Perintah Kepala pengawal membahana sambil


berlari ke arah Raja dan Ratu. Semua penjaga


bergerak melindungi Raja dan Ratu serta semua


orang yang ada di meja. Sedang Aaron bergerak


cepat menarik Raya dan melindungi tubuh nya


karena pecahan itu menyembur hebat ke arahnya. Tanpa sadar Raya memeluk erat tubuh Aaron menyusupkan wajah ke dalam rengkuhan dada


bidang nya di tengah teriakan histerisnya. Alex


dan Griz serta para pengawal tampak bergerak


cepat melingkari kedua majikannya itu. Suara


pecahan itu masih terdengar memenuhi seluruh


ruangan membuat suasana semakin mencekam.


"Bergerak keluar.. amankan semua nya..!"


Kepala pengawal kembali memberi perintah.


Puluhan penjaga berlarian masuk melindungi


dan mengamankan semua orang langsung di


evakuasi keluar ruangan. Mereka semua kini


berlarian keluar dengan merunduk di bawah


perlindungan para penjaga yang membuat


barikade rapat agar semua orang tidak terkena


pecahan lampu. Lucas menatap tajam kearah


Aaron sebelum dia keluar dari ruangan itu.


Ada seringai tipis di bibirnya, tapi matanya


kembali berkilat hebat saat melihat tubuh


Raya ada dalam perlindungan Aaron.


Akhirnya setelah lama suara pecahan berhenti.


Raya masih berada dalam pelukan erat Aaron


yang terlihat masih mengamati suasana.


Entah sudah sedingin apa wajahnya saat ini.


terlewat. !"


Aaron memberi perintah dengan nada suara


yang terdengar di penuhi angkara murka.


"Baik Yang Mulya..!"


Kepala pengawal membungkuk hormat lalu


bergerak cepat memberi perintah pada semua bawahannya.


"Siapkan kapal layar kecil, kita pergi sekarang.!"


Aaron berbicara di telepon dengan seseorang.


Raya mengangkat wajahnya, melihat ke sekitar


ruangan. Kemudian menatap Aaron yang masih


berbicara. Dia menarik tubuh nya dari pelukan


Aaron, tapi tangan kokoh pria itu malah kembali


menarik tubuh nya dan kini mata mereka saling


menatap kuat. Aaron menelisik keadaan Raya


secara keseluruhan, tidak ada luka apapun.


"Aaron.. apa yang terjadi sebenarnya..?"


Bibir Raya tampak bergetar, ketakutan masih


menguasai dirinya saat ini.


"Kita akan mengetahui nya nanti.!"


Aaron berucap seraya melepaskan pelukannya


kemudian mengambil mantel yang baru saja


di bawakan oleh Griz dan Alex. Dengan cepat


tanpa kata dia memakaikan mantel itu ke tubuh


Raya yang terdiam, tak kuasa untuk melakukan penolakan seperti biasanya. Dia hanya menatap


wajah pria itu yang terlihat kelam, tubuhnya


saat ini masih di landa ketegangan.


"Kau..kau terluka Aaron...!"


Tangan Raya bergerak meraba rahang Aaron


yang terlihat mengeluarkan darah membuat


tubuh Aaron membeku sejenak, mata mereka


kembali saling menatap kuat.


"Ini bukanlah apa-apa untukku, pikirkan saja


dirimu sendiri.!"


Dengus Aaron sambil mengetatkan ikatan tali


di pinggang ramping Raya membuat tubuhnya


otomatis tertarik dan merapat ke tubuh Aaron, tangannya kini berada di dada pria itu berusaha menekan nya agar tetap berjarak.


"Kau berurusan dengan ku, maka harus siap


dengan semua ketakutan seperti ini.!"


Wajah Raya langsung memucat, benarkah


semua itu, apakah pria ini banyak musuhnya?


Ya tentu saja, karena dia laki-laki kejam, pasti


musuhnya ada di mana-mana. Tapi kenapa


dirinya kini harus terlibat juga di dalamnya.


"Tuan.. apa kita akan pergi ke kota sekarang.?"


Alex bertanya sembari memakaikan mantel ke


tubuh Aaron yang terlihat kembali mengamati


keadaan di dalam ruangan.


" Hemm..kita pulang lewat laut saja !"


"Baik Tuan.."


Aaron melangkah ke arah ruangan tepat di


bawah lampu kristal yang meledak tadi. Alisnya


tampak terangkat sedikit melihat semua


kejanggalan yang terjadi. Matanya memindai


kondisi yang kini tercipta setelah peristiwa tadi.


"Aku tunggu laporannya nanti. Hubungi team


investigasi.! Pastikan semuanya akurat.!"


Tegas Aaron sambil mencolek debu di atas

__ADS_1


meja dan menatapnya dengan seksama. Ini


memang sesuatu yang aneh.


"Baik Yang Mulya, kami akan melakukan


semuanya secepatnya."


Sahut kepala pengawal sambil berdiri di


hadapan Aaron seraya menundukkan kepala.


"Aku akan pulang lewat laut, kau bawa pulang


semuanya lewat udara.!"


"Baik, laksanakan Yang Mulya..!"


Kepala pengawal memberi hormat prajurit di


hadapan Aaron. Raya hanya bisa melihatnya


dari jauh, saat ini hatinya berkecamuk, masih


di liputi oleh kecemasan dan ketakutan. Aaron


berjalan kearah Raya, tanpa kata dia menarik


dan menggengam tangan wanita itu kemudian


melangkah pergi keluar dari ruangan itu.


***


Waktu sudah merangkak naik semakin sore.


Saat ini Aaron dan Raya serta seluruh anak


buahnya sudah ada di kapal layar berukuran


sedang yang akan membawanya kembali ke


kota. Sejak menaiki kapal ini Raya langsung


beristirahat di dalam kamar yang tersedia di


dalam kapal tersebut. Sementara Aaron sibuk


melakukan komunikasi jarak jauh dengan


semua jaringan keamanan nya.


"Tuan..ada pergerakan yang terdeteksi.!"


Alex menunjukkan titik khusus di monitor


yang menunjukkan warna merah.


"Telusuri apa itu, kapal layar lain atau musuh.


Hubungi Hiu Putih agar bersiaga.!"


"Baik Tuan..!"


Alex segera melakukan komunikasi rahasia


dengan satu jaringan keamanan di bawah air.


Sementara Aaron tampak keluar dari ruang


komunikasi tersebut. Dia ingin melihat kondisi


Raya saat ini karena sudah dari tadi tidak di


lihatnya lagi.


Aaron naik ke geladak atas, namun sesaat


kemudian matanya terpaku, menatap sosok


bidadari cantik yang sedang berdiri di ujung


geladak dengan merentangkan kedua tangan


mencoba menghalau angin yang menerpa.


Griz berdiri di belakang nya, sedang menatap


diam penuh kekaguman kearah Nona nya


karena saat ini wanita itu tampak memukau


dengan balutan dress cantik di bawah lutut


berwarna cerah, rambutnya di biarkan jatuh


tergerai bebas tertiup angin kencang.


Keindahan tubuhnya terpampang nyata di


depan mata karena gaun itu pas di badan


hingga semuanya tercetak jelas tertiup angin


yang datang menerjang dengan lepas.


Aaron menepiskan tangan pada Griz begitu


dia tiba di belakang Raya. Griz membungkuk


kemudian berlalu pergi. Pria itu mendekati


Raya dengan tatapan mengunci sosok indah


itu, tubuhnya kini mulai memanas melihat


bagaimana indahnya bentuk tubuh wanita


yang sudah sah menjadi milik nya itu.


Perlahan dia berdiri di belakang Raya, kemudian


mengulurkan tangannya menggenggam kedua


jemari tangan Raya yang masih mengudara


dengan mata terpejam kuat, lalu merapatkan


tubuhnya membuat Raya tersentak dan reflek


membalikkan badannya, namun wajahnya


langsung bersentuhan dengan wajah Aaron


yang sedang menatapnya dalam dan lekat.


Raya terkesiap, wajahnya memerah seketika


ketika wajah mereka kini benar-benar dekat.


"Aaron..kau di sini..!"


Raya berucap pelan, dia mencoba keluar dari


kurungan Aaron yang kini sudah melingkarkan


kedua tangannya di pinggangnya dengan kuat


menguasai tubuhnya sepenuhnya, hingga kini


tubuh mereka menempel ketat. Mata mereka


saling mengunci satu sama lain. Ini benar-benar


aneh, ketakutan berlebih itu sekarang ini sudah


tidak di rasakan lagi oleh Raya, yang ada hanya


ketegangan karena sentuhan laki-laki itu.


"Kenapa kau selalu menggodaku..!"


Suara Aaron terdengar berat karena kini aliran


darahnya mulai kacau, napasnya juga mulai


berat terdesak oleh dorongan hasrat yang kini


sudah menguasai seluruh tubuhnya. Raya


masih mencoba meronta, mendorong keras


tubuh Aaron walaupun itu sia-sia saja.


"A-apa yang kau katakan ? A-aku tidak pernah melakukan nya..!"


"Kau tidak sadar melakukannya. Kau selalu


membuatku tidak bisa menahan diri.!"


"A-Aaron..biarkan aku turun. Hari sudah mulai


gelap, sebentar lagi malam tiba."


"Sebentar lagi..masih ada waktu untuk kita.!"


"Tapi aku sudah terlalu lama di sini.!"


"Biarkan aku menikmati semua ini sebentar


saja, jangan membantahku lagi.!"


Bisik Aaron sambil kemudian mendekatkan


wajahnya membuat Raya tegang seketika,


dia menjuhkan wajahnya sebisa mungkin dari


jangkauan Aaron yang semakin mendesak


maju. Namun dalam keadaan itu tiba-tiba saja


di udara terdengar gemuruh suara pesawat di


susul dengan bunyi tembakan yang langsung


di berondongkan ke arah kapal layar itu. Raya


menjerit histeris ketika hujan peluru berjatuhan


keatas geladak menyisakan kobaran api di


mana-mana.


Secepat kilat Aaron menarik tangan Raya lari


menjauh dari tempat itu sambil mengokang


senjata dan melancarkan tembakan ke udara


ke arah kedatangan 4 helikopter yang saat ini


sudah berputar-putar di udara, mengurung dan


tiada henti melancarkan serangan..


***


Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2