Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
78. Holiday 2


__ADS_3

Selesai sarapan, mereka semua berkumpul di


ruang tunggu yang ada di dekat lobby utama.


Aaron dan ketiga temannya sedang berganti


kostum ski. Sementara Raya sedang di periksa


kondisinya oleh Alea karena mereka akan pergi


ke puncak gunung yang hawanya akan lebih


ekstrim lagi. Mereka akan pergi ke lokasi ski


dan snowboard yang menjadi spot pavorite


di tempat wisata ini.


Tidak lama Aaron sudah keluar dari ruang ganti.


Raya menatap suaminya itu yang terlihat gagah


dalam balutan kostum skiing pas body nya.


Tiba-tiba saja ada rasa tidak nyaman yang kini menggelayuti hatinya melihat semua kesiapan ini.


"Bagaimana.. dia baik-baik saja kan ?"


Aaron merengkuh bahu Raya di bawa berdiri,


lalu merapihkan penutup kepalanya agar lebih melindungi bagian lehernya. Setelah itu beralih


mengencangkan tali mantel yang di pakainya


bersamaan dengan kemunculan Rayen dan dua Pangeran ke tempat itu yang langsung menarik


napas panjang melihat perlakuan mesra Aaron


pada istri nya itu. Sungguh semua ini semakin membuat Rayen kebingungan.


"Semuanya baik-baik saja. Hanya saja dia agak


sedikit lelah. Sepertinya kakak lepas kontrol."


Sahut Alea dengan raut wajah sedikit kesal yang


sontak membuat wajah Raya langsung memerah.


Dia menundukkan kepala, malu bukan kepalang.


Lain halnya dengan Aaron, pria itu terlihat acuh.


"Kau akan tahu sendiri nanti setelah menikah.


Makanya cepat cari laki-laki yang lebih baik


dari dokter mata keranjang itu.!"


Rayen yang sedang berjalan mendekat tampak


menghentikan langkahnya, saling melihat


dengan Alea yang mengerucutkan bibirnya.


"Semua pria akan bereaksi sama saat melihat


kakak ipar untuk pertama kalinya. Tidak heran


kalau Dokter Rayen juga begitu.!"


Cibir Alea sambil merapihkan kembali semua


peralatan medisnya. Rayen tampak menggaruk


tengkuk nya yang tidak gatal sambil mendekat


kearah Alea, kemudian berdiri di hadapannya.


"Tapi kau adalah wanita paling hebat dan paling


mandiri yang pernah aku kenal Lady Alea."


"Tidak perlu merasa bersalah Tuan Rayen. Toh


kita tidak punya hubungan apapun selama ini."


"Hei.. Alea apa kau cemburu pada laki-laki


mata keranjang seperti nya ?"


Aaron menatap Alea yang kini merapihkan


penampilan nya. Wajah Rayen tampak sedikit


memerah, apa benar wanita cantik yang sudah


lama di kenalnya itu cemburu padanya ? Selama


ini dia memang tidak berani berharap lebih pada


Alea karena tahu pasti kalau wanita itu sangat


konsen pada karirnya di dunia kesehatan.


"Tidak ada kata cemburu dalam kamus hidupku


Yang Mulya Prince Marvell. Semua itu hanya


akan membuat hidupku runyam.!"


Decak Alea yang membuat hati Rayen langsung


mencelos sambil tersenyum getir. Dia menatap


Alea yang memalingkan wajahnya. Walau kata


yang keluar terkesan yakin, namun ada sorot


mata kesal yang tersisa dari tatapan Alea yang


membuat Rayen menyeringai tipis.


"Bagus ! Itu baru adikku. Ayo..kita berangkat sekarang.!"


Tukas Aaron sambil kemudian menggenggam


erat tangan Raya di bawa melangkah keluar dari ruangan itu langsung menuju halaman. Di sana


semua bawahannya sudah tampak siap termasuk


Jessica. Gadis itu langsung membimbing Raya


untuk naik ke atas mobil khusus yang akan


membawa mereka ke lereng gunung.


"Kau suka tempat ini Jes.?"


"Tentu saja. Pegunungan ini sangat indah dan


memilki salju yang sangat lembut. Aku sudah


mengecek ke tebing tinggi di sana salju nya


bahkan lebih lembut lagi."


Sahut Jessica sambil memastikan Raya duduk


dengan nyaman. Lalu memasangkan sabuk


pengaman ke tubuh sahabat sekaligus bos nya


itu. Raya menatap diam apa yang di lakukan


oleh asisten nya itu.


"Kau sudah mengecek ke atas sana, kapan.?"


"Tadi pagi saat kau beristirahat di kamar."


Sahut Jessica. Mereka melihat kearah Aaron


yang tampak masih berbicara dengan manager


hotel dan guide yang akan menemani mereka


ke lereng lalu memastikan semua peralatan ski


dan snowboard sudah siap. Mulai dari papan


seluncur, binding, tongkat, cincin tongkat dan


semua perlengkapannya lainnya.


"Kau sangat beruntug mendapatkan suami


sehebat Prince Marvell. Dia adalah sosok pria


yang sangat istimewa dan sulit di temukan.!"


Raya tercenung, menautkan alisnya sambil


menatap kearah Aaron yang masih terlihat


sibuk mengecek persiapan.


"Kau tidak tahu saja bagaimana awalnya. Dia


adalah laki-laki yang sangat kejam dan tidak


punya perasaan !"


"Oya..? Aku tidak percaya sama sekali. Terlihat


sekali kalau dia sangat tergila-gila padamu. Kau


tahu Ray, Pangeran Aaron adalah pria paling


sempurna yang pernah aku temui ! Terlepas


dari sikapnya yang sangat angkuh dan arogan,


semua itu memang pantas dia lakukan karena


dirinya memiliki segalanya."


"Aku rasa kau terlalu berlebihan menilainya


Jes. Kenyataanya dia tidak sesempurna itu.!"


"Aku tidak pernah salah dalam menilai dan


melihat karakter orang. Aku lihat kau sudah


jatuh cinta padanya.! Kau jatuh cinta pada pria


yang sudah merenggut kesucian mu Ray. Dan


itu adalah sesuatu yang luar biasa.!"


Mereka saling pandang, Raya memalingkan


wajahnya yang bersemu merah mencoba


untuk mengingkari semua nya.


"Darimana kau tahu hal itu.? Aku tidak jatuh


cinta padanya, mana mungkin.."


"Kau tidak bisa bohong padaku Ray. Aku ini


sahabatmu. Kita sudah cukup lama bersama,


sejak kuliah di Luar Negeri."


Raya menarik nafas panjang. Kembali saling


menatap dengan Jessica.


"Iya..aku jatuh cinta padanya Jes. Aku tidak menyangka akan begini akhirnya. Sungguh


aku tidak pernah berharap ini akan terjadi."


"Tidak ada yang salah dengan itu Ray. Wanita


mana yang tidak akan jatuh cinta pada pria


sempurna seperti dia. Tapi kamu lah wanita


beruntung yang bisa mendapatkan cintanya."


Raya tersenyum tipis, Jessica tidak tahu saja


kalau wanita yang beruntung itu bukan dirinya.


Ada wanita lain yang jelas-jelas sudah menjadi


pemilik hati seorang Aaron. Dan dirinya hanyalah bayangannya saja, sosok pelipur lara dan objek pelampiasan dari segala kegalauan jiwa pria itu.


Setelah semua persiapan selesai Aaron naik


ke atas Snow Car nya yang dapat memuat dua


orang. Mobil salju ini sudah di siapkan oleh pihak hotel. Dan mobil ini bisa menembus salju tebal


di sepanjang lintasan menuju lereng. Dia meraih


menarik tangan Raya agar memeluk tubuhnya


karena hawa dingin kini semakin membekukan. Sedikit saja ada celah yang terbuka dan mampu


menembus ke dalam tubuh maka bisa dipastikan


akan langsung membeku. Dengan jantung yang

__ADS_1


berdebar kencang Raya melingkarkan tangannya


di tubuh Aaron, memeluknya erat menyandarkan


kepala di punggung kokoh suaminya itu.


Akhirnya rombongan itu berangkat menuju


ke lereng gunung yang menjadi tujuan utama.


Tidak memerlukan waktu lama agar bisa


mencapai tempat tujuan. Kini mereka semua


sudah tiba di puncak lereng. Dari tempat ini


semua keindahan itu nyata adanya. Aaron


mengangkat tubuh Raya turun dari mobil dan


mengajaknya ke satu sisi lereng yang bisa


dengan jelas melihat semua keindahan itu.


Raya menatap takjub puncak gunung yang


ada di sebelah nya. Pemandangan ke lembah


tampak begitu memukau dan mempesona.


Sejauh mata memandang semuanya hanyalah


hamparan putih berkilau. Dan suhu di tempat


ini sangatlah ekstrim.


"Aku akan bermain sebentar keatas. Kau bisa


melihatnya dari sini. Nikmatilah waktu mu."


Aaron berucap sambil merengkuh tubuh Raya


ke dalam dekapannya. Keduanya terdiam, saling memeluk erat, mencoba memberi kehangatan.


"Tempat ini sangat indah Aaron.."


"Tidak ada sesuatu apapun yang lebih indah


dari dirimu Maharaya.. Kau adalah keindahan


yang sesungguhnya."


Deg !


Jantung Raya bergelombang hebat. Pria ini baru


saja menggombal. Sangat sulit untuk di percaya.


Dia mengangkat wajahnya, mata mereka saling


bertemu, sinar cinta itu kian terlihat. Tapi seolah


tertutup oleh hati yang di selimuti keraguan.


"Kau sangat tidak cocok untuk menggombal


Yang Mulya. Aku tidak percaya padamu."


Aaron menyeringai tipis dengan ekspresi datar


namun wajahnya terlihat sedikit memerah.


"Kau tahu sendiri bukan, aku tidak bisa bersikap


layaknya para pria yang suka bersilat lidah itu.


Tapi ucapanku bisa kau pegang."


Raya menatap lekat wajah tampan Aaron dengan


sorot mata tidak percaya. Agak aneh rasanya saat


laki-laki ini berusaha berbicara sedikit normal.


"Kau memang tidak cocok untuk itu. Dan aku


juga tidak berharap kau seperti itu.!"


"Baiklah.. kalau begitu terima saja aku apa


adanya .!"


Raya terdiam, tatapan mereka semakin lama


semakin lekat dan akhirnya bibir mereka saling


memagut lembut dan manis, mencoba memberi kehangatan dan menyalurkan energi positif untuk menjalani aktifitas hari ini. Tidak lama mereka


saling melepaskan pagutannya saat Raya tersadar


bahwa saat ini mereka sedang berada di alam


terbuka. Keduanya kembali saling pandang,


perlahan Aaron mengecup lembut kening Raya


dan sekali lagi mendaratkan ciuman mesra


di bibirnya.


"Aku akan bersiap sekarang.!"


"Aaron.. berhati-hatilah.. jangan menjelajah


terlalu jauh yang tidak bisa di jangkau oleh


penglihatan ku."


Raya berucap pelan, rasa tidak nyaman itu kini


semakin terasa membuat nya terasa berat untuk


melepas suaminya itu. Aaron menatap tenang


wajah cantik Raya yang tersembunyi di balik


penutup kepalanya dengan bibir yang sedikit


bengkak dan basah. Sungguh sangat menggoda


membuat dia sedikit berat meninggalkan nya.


"Tenang saja..Tidak ada hal yang tidak bisa


aku tangani. Apalagi ini adalah sesuatu yang


dari kecil sudah aku lakukan."


Desis Aaron sambil kembali mengecup mesra


sedikit berat. Mereka kembali ke tempat tadi.


Aaron segera memakai perlengkapannya di bantu


oleh Alex dan Benjamin. Dua pengawalnya itu


tidak akan ikut berseluncur karena memiliki


tugas untuk mengawasi tempat ini yang sudah


di sterilkan dari pengunjung lain yang terpaksa


tidak bisa mendekat karena kawasan ini di tutup


sementara sampai Putra Mahkota selesai bermain.


Setelah semua siap, Aaron menatap sebentar


kearah Raya yang juga sedang menatapnya berat


saat dia bergerak melompat menaiki mobil untuk menuju ke tebing tinggi yang ada di seberang.


Tidak lama kemudian mereka semua sudah


melesatkan mobilnya menuju puncak tebing.


Beberapa saat kemudian..


Raya tampak mulai asik bermain salju dengan


Jessica dan Griz di awasi oleh Alex dan Benjamin.


Sementara Aaron dan kawan kawannya termasuk


Alea yang juga cukup handal dalam olahraga ini tampak sudah mulai meluncur lihai di atas jalur


lintasan salju dengan trek yang cukup ekstrim


dan menantang. Dari tempatnya kini Raya bisa


melihat dengan jelas semua kegiatan Aaron.


Aaron dan para sahabatnya tampak meluncur


cepat memecah salju lembut menggunung di


sepanjang lintasan. Pria itu tampak begitu gagah


dan menawan dengan gaya seluncur nya yang


sangat profesional. Entah bagaimana bisa, pria


ini sepertinya menguasai segala hal baik itu ilmu


pengetahuan maupun keterampilan.Tidak ada


yang tidak dia kuasai. Raya menatap kagum dan


memperhatikan pergerakan Aaron.


Rasa tidak nyaman yang menganggu perasaan


nya kini semakin menjadi. Padahal dia melihat


Aaron dan kawan-kawanya bermain lepas tanpa beban. Matanya kini mengamati puncak tebing


tinggi yang tertutup salju dan es tebal dan


terlihat cukup rawan.


Raya dan semua bawahan Aaron tampak terdiam mematung saat melihat bagaimana lihai dan profesional nya Aaron dalam memainkan papan seluncur di atas salju tebal melintasi jalur naik


turun yang memaksa dia harus melompat dan


terbang melewati bukit-bukit kecil di sepanjang


jalurnya sementara kawan-kawan nya sudah


tumbang dan berjatuhan di beberapa trek awal.


"Alex.. Benjamin.. apakah puncak tebing itu


cukup aman ?"


Tidak tahan lagi dengan segala kegelisahannya,


Raya bertanya pada dua bawahannya itu yang


berada di belakangnya.


"Selama ini semuanya aman-aman saja Lady.


Tidak pernah ada kejadian longsoran salju."


Alex menjawab sambil ikut mengamati puncak


tersebut. Raya menarik nafas panjang berusaha


untuk menenangkan diri.


Setelah cukup lama bermain akhirnya Alea dan


Rayen menyerah, mereka berdua kini mengakhiri kegiatannya saat tenaga sudah terkuras habis


dan kembali ke tempat dimana Raya berada.


Sementara Aaron dan dua kawannya masih


tampak asyik beralih bermain snowboard.


"Lady Maharaya.. senang sekali bisa bertemu


dan mengenalmu di tempat ini."


Akhirnya Rayen punya kesempatan untuk


berbicara empat mata dengan Raya. Mereka


berdiri bersisian menatap kearah kejauhan.


"Senang juga bisa mengenal anda Dokter


Rayen."


Sahut Raya dengan senyum santunnya.


"Bagaimana dengan pernikahan kalian.?


Apa kau sudah bisa menerima semua ini.?"


Raya terdiam, melirik sekilas kearah Rayen.


Mata mereka saling menatap sesaat.


"Anda pasti tahu alasan dari pernikahan ini

__ADS_1


Dokter. Saya tidak tahu akan kemanakah nasib


dan takdir Tuhan membawa perjalanan ini.!"


"Yang jelas kau harus ikhlas menjalani semuanya.


Aaron orang yang baik dan sangat berkomitmen.


Hanya satu kelemahannya, cinta dan wanita..


Karena selama ini dia tidak mengenal itu..dan.."


"Dan baru Mayra lah wanita yang membawanya


mengenal dunia itu. Sampai sekarang cinta itu


masih sangat melekat, mungkin selamanya.."


Rayen terdiam, tertegun tanpa bisa berkata-kata


lagi. Ternyata wanita ini sudah tahu masa lalu


Aaron. Dia menarik napas panjang.


"Apa yang terjadi dengan Tuan Moolay.?"


Rayen melirik , sedikit ragu untuk menjawab.


"Katakan saja Dokter, saya hanya ingin tahu.!"


"Dia mengalami kerusakan jantung akibat


terkena tembakan pada tragedi terakhir."


"Tragedi pulau terpencil.?"


"Benar..Entah dia masih bisa bertahan hidup


lebih lama atau justru menyerah dengan kondisi


nya sekarang. Tapi Aaron sudah menyiapkan


Dokter terbaik untuk membantu menanganinya."


Kini giliran Raya yang terdiam. Hatinya terasa


semakin gelisah. Dirga mengalami masalah


dengan jantung nya.? Bagaimana kalau terjadi


sesuatu pada sahabat Aaron itu.?


Raya tersentak ketika semua bawahannya kini


berdecak kagum atas aksi atraktif Aaron. Pria


itu kembali ke lereng tebing untuk memulai


trek berikutnya yang lebih ekstrim..Namun mata


tajam Raya kini melihat sesuatu yang tidak beres.


"Alex.. Benjamin..bawa aku kesana sekarang.!"


Titah Raya sambil kemudian melangkah ke


arah snow car. Alex dan Benjamin terdiam,


menatap bengong kearah Raya yang sedang


berusaha naik keatas mobil.


"Apa yang kalian tunggu, cepat..! Aku tidak


punya banyak waktu..!"


Raya berseru keras kearah Alex dan Benjamin


yang langsung melompat kaget dan bergerak


cepat menghampiri Raya.


"Maaf kalau saya lancang Lady.."


Dengan sungkan Alex membantu Raya untuk


naik ke atas mobil karena dia terlihat kesulitan.


Setelah itu Alex dan Benjamin yang membawa


mobil lain segera melajukan kendaraan tersebut


menuju lereng tebing tempat Aaron berada di


iringi tatapan semua orang yang masih bengong


di tempat tidak mengerti situasi yang terjadi.


"Aaron.. berhenti.. jangan turun lagi..!"


Raya berteriak keras saat melihat Aaron kembali


meluncur cepat turun ke lembah. Sementara


Desmond dan Elliot masih berdiri dan bersiap


namun jadi tertegun saat melihat kedatangan


Raya dan dua bawahan Aaron tersebut. Mata


Raya membulat ketika melihat tebing salju yang


paling tinggi mulai memperlihatkan gelagat tidak beres dengan meluncurkan luruhan bongkahan


es besar yang membawa salju turun ke lembah.


"Prince Desmon.. Prince Elliot awass. !!"


Alex dan Benjamin langsung berteriak keras


memperingatkan kedua pangeran itu yang


terkejut dan seketika meluncurkan papannya


ke arah lain menyelamatkan diri ketika tiba-tiba


tebing tinggi itu longsor besar. Gulungan salju


besar dan luas kini merosot cepat menyapu


semua yang terlewati menimbulkan kengerian


dan teriakan ketakutan dari semua orang yang


ada di kejauhan.


"Aaroonn.. awass..."


Raya hilang kestabilan ketika melihat gulungan


longsoran salju tersebut seolah mengejar sosok


Aaron yang masih meluncur di atas lintasan.


Tanpa sadar dia meloncat turun dari atas mobil


dan berlari kearah Aaron yang di kejar cepat oleh


longsoran salju tersebut. Aaron mempercepat


gerakannya menghindar terjangan salju ganas


tersebut. Namun matanya kini melebar begitu


melihat sosok Raya yang tengah berlari susah


payah ke arahnya menyongsong bahaya.


"Raya..apa yang kau lakukan.?! Pergi.. cepat


selamatkan dirimu..!!"


Aaron berteriak kencang sambil meliukkan tubuh


dan melompat terbang melewati puncak bukit


kecil sementara longsoran salju semakin dekat


siap melahap tubuhnya dan menimbunnya.


Dengan gerakan cepat dia membelokkan papan


seluncur kearah Raya yang kini berdiri tegak di


pinggir lintasan. Alex dan Benjamin baru saja tiba


dan berniat menarik tubuh Raya. Namun sesuatu


yang luar biasa kini terjadi. Ketika gulungan salju


itu hampir melahap tubuh Aaron dan menyapu


mereka semua, Raya mengibaskan tangan ke


udara sambil menjerit histeris memanggil nama Aaron. Tiba-tiba saja gulungan salju itu berhenti


meluncur, lalu meleset dan memecah di udara


seolah menabrak tebing yang sangat kokoh di depannya dan hanya menyisakan semburan


hujan salju lembut yang memancar ke segala


arah seperti air mancur.


Aaron menghentikan gerakan nya dengan sekali


rem, membalikan badan, menatap bengong pada


keajaiban yang terjadi di depan matanya itu. Lain


lagi dengan Alex dan Benjamin, kedua bawahan


Aaron itu menganga, tercengang menyaksikan


sesuatu yang selama ini masih menjadi misteri


dari sosok Lady nya itu kini nyata di depan mata.


Raya tampak berdiri, menatap tajam kearah


gulungan salju yang masih memecah di udara


menyisakan pemandangan menakjubkan karena


semburannya menampilkan percikan kilauan


seperti mutiara di udara. Orang-orang yang ada


di lereng tampak mematung di tempat di telan


kecemasan akan nasib Aaron dan Raya karena


kejadian tadi tidak nampak di mata mereka


Aaron segera melepas papan dan sepatu boots


yang di pakainya. Dia segera berjalan cepat ke


arah Raya yang kini terlihat limbung kehilangan


tenaga. Sebelum tubuh Raya tumbang Aaron


sudah lebih dulu merengkuhnya, mengangkatnya


ke dalam pangkuan. Mata mereka kini saling


menatap. Sorot mata Raya tampak lemah.


"Aaron..kau tidak apa-apa kan ? "


Tangan Raya bergerak pelan mengelus lemah


wajah Aaron yang membeku dalam kondisi


syok karena terlalu cemas dengan kejadian tadi


yang bisa saja merenggut nyawa istrinya itu.


"Aku tidak apa-apa. Kenapa kamu berbuat nekad


dengan mengorbankan dirimu hanya untuk menyelamatkan ku Raya.? Kau bisa celaka !!"


"Hidupku tidak akan ada artinya kalau sesuatu


terjadi padamu Yang Mulya.."


Lirih Raya sambil tersenyum getir dan perlahan


menyandarkan kepalanya di dada Aaron yang


menggeleng kuat tidak percaya.


"Dasar wanita bodoh ! Aku hampir saja


kehilangan kalian berdua !"


Desis Aaron seraya mempererat pelukannya


sambil memejamkan mata. Alex dan Benjamin


baru saja kembali pada kesadarannya. Mereka


berdua menatap diam setengah mengawang


kearah majikannya itu. Cinta yang luar biasa..

__ADS_1


***


__ADS_2