
Selesai sarapan, mereka semua berkumpul di
ruang tunggu yang ada di dekat lobby utama.
Aaron dan ketiga temannya sedang berganti
kostum ski. Sementara Raya sedang di periksa
kondisinya oleh Alea karena mereka akan pergi
ke puncak gunung yang hawanya akan lebih
ekstrim lagi. Mereka akan pergi ke lokasi ski
dan snowboard yang menjadi spot pavorite
di tempat wisata ini.
Tidak lama Aaron sudah keluar dari ruang ganti.
Raya menatap suaminya itu yang terlihat gagah
dalam balutan kostum skiing pas body nya.
Tiba-tiba saja ada rasa tidak nyaman yang kini menggelayuti hatinya melihat semua kesiapan ini.
"Bagaimana.. dia baik-baik saja kan ?"
Aaron merengkuh bahu Raya di bawa berdiri,
lalu merapihkan penutup kepalanya agar lebih melindungi bagian lehernya. Setelah itu beralih
mengencangkan tali mantel yang di pakainya
bersamaan dengan kemunculan Rayen dan dua Pangeran ke tempat itu yang langsung menarik
napas panjang melihat perlakuan mesra Aaron
pada istri nya itu. Sungguh semua ini semakin membuat Rayen kebingungan.
"Semuanya baik-baik saja. Hanya saja dia agak
sedikit lelah. Sepertinya kakak lepas kontrol."
Sahut Alea dengan raut wajah sedikit kesal yang
sontak membuat wajah Raya langsung memerah.
Dia menundukkan kepala, malu bukan kepalang.
Lain halnya dengan Aaron, pria itu terlihat acuh.
"Kau akan tahu sendiri nanti setelah menikah.
Makanya cepat cari laki-laki yang lebih baik
dari dokter mata keranjang itu.!"
Rayen yang sedang berjalan mendekat tampak
menghentikan langkahnya, saling melihat
dengan Alea yang mengerucutkan bibirnya.
"Semua pria akan bereaksi sama saat melihat
kakak ipar untuk pertama kalinya. Tidak heran
kalau Dokter Rayen juga begitu.!"
Cibir Alea sambil merapihkan kembali semua
peralatan medisnya. Rayen tampak menggaruk
tengkuk nya yang tidak gatal sambil mendekat
kearah Alea, kemudian berdiri di hadapannya.
"Tapi kau adalah wanita paling hebat dan paling
mandiri yang pernah aku kenal Lady Alea."
"Tidak perlu merasa bersalah Tuan Rayen. Toh
kita tidak punya hubungan apapun selama ini."
"Hei.. Alea apa kau cemburu pada laki-laki
mata keranjang seperti nya ?"
Aaron menatap Alea yang kini merapihkan
penampilan nya. Wajah Rayen tampak sedikit
memerah, apa benar wanita cantik yang sudah
lama di kenalnya itu cemburu padanya ? Selama
ini dia memang tidak berani berharap lebih pada
Alea karena tahu pasti kalau wanita itu sangat
konsen pada karirnya di dunia kesehatan.
"Tidak ada kata cemburu dalam kamus hidupku
Yang Mulya Prince Marvell. Semua itu hanya
akan membuat hidupku runyam.!"
Decak Alea yang membuat hati Rayen langsung
mencelos sambil tersenyum getir. Dia menatap
Alea yang memalingkan wajahnya. Walau kata
yang keluar terkesan yakin, namun ada sorot
mata kesal yang tersisa dari tatapan Alea yang
membuat Rayen menyeringai tipis.
"Bagus ! Itu baru adikku. Ayo..kita berangkat sekarang.!"
Tukas Aaron sambil kemudian menggenggam
erat tangan Raya di bawa melangkah keluar dari ruangan itu langsung menuju halaman. Di sana
semua bawahannya sudah tampak siap termasuk
Jessica. Gadis itu langsung membimbing Raya
untuk naik ke atas mobil khusus yang akan
membawa mereka ke lereng gunung.
"Kau suka tempat ini Jes.?"
"Tentu saja. Pegunungan ini sangat indah dan
memilki salju yang sangat lembut. Aku sudah
mengecek ke tebing tinggi di sana salju nya
bahkan lebih lembut lagi."
Sahut Jessica sambil memastikan Raya duduk
dengan nyaman. Lalu memasangkan sabuk
pengaman ke tubuh sahabat sekaligus bos nya
itu. Raya menatap diam apa yang di lakukan
oleh asisten nya itu.
"Kau sudah mengecek ke atas sana, kapan.?"
"Tadi pagi saat kau beristirahat di kamar."
Sahut Jessica. Mereka melihat kearah Aaron
yang tampak masih berbicara dengan manager
hotel dan guide yang akan menemani mereka
ke lereng lalu memastikan semua peralatan ski
dan snowboard sudah siap. Mulai dari papan
seluncur, binding, tongkat, cincin tongkat dan
semua perlengkapannya lainnya.
"Kau sangat beruntug mendapatkan suami
sehebat Prince Marvell. Dia adalah sosok pria
yang sangat istimewa dan sulit di temukan.!"
Raya tercenung, menautkan alisnya sambil
menatap kearah Aaron yang masih terlihat
sibuk mengecek persiapan.
"Kau tidak tahu saja bagaimana awalnya. Dia
adalah laki-laki yang sangat kejam dan tidak
punya perasaan !"
"Oya..? Aku tidak percaya sama sekali. Terlihat
sekali kalau dia sangat tergila-gila padamu. Kau
tahu Ray, Pangeran Aaron adalah pria paling
sempurna yang pernah aku temui ! Terlepas
dari sikapnya yang sangat angkuh dan arogan,
semua itu memang pantas dia lakukan karena
dirinya memiliki segalanya."
"Aku rasa kau terlalu berlebihan menilainya
Jes. Kenyataanya dia tidak sesempurna itu.!"
"Aku tidak pernah salah dalam menilai dan
melihat karakter orang. Aku lihat kau sudah
jatuh cinta padanya.! Kau jatuh cinta pada pria
yang sudah merenggut kesucian mu Ray. Dan
itu adalah sesuatu yang luar biasa.!"
Mereka saling pandang, Raya memalingkan
wajahnya yang bersemu merah mencoba
untuk mengingkari semua nya.
"Darimana kau tahu hal itu.? Aku tidak jatuh
cinta padanya, mana mungkin.."
"Kau tidak bisa bohong padaku Ray. Aku ini
sahabatmu. Kita sudah cukup lama bersama,
sejak kuliah di Luar Negeri."
Raya menarik nafas panjang. Kembali saling
menatap dengan Jessica.
"Iya..aku jatuh cinta padanya Jes. Aku tidak menyangka akan begini akhirnya. Sungguh
aku tidak pernah berharap ini akan terjadi."
"Tidak ada yang salah dengan itu Ray. Wanita
mana yang tidak akan jatuh cinta pada pria
sempurna seperti dia. Tapi kamu lah wanita
beruntung yang bisa mendapatkan cintanya."
Raya tersenyum tipis, Jessica tidak tahu saja
kalau wanita yang beruntung itu bukan dirinya.
Ada wanita lain yang jelas-jelas sudah menjadi
pemilik hati seorang Aaron. Dan dirinya hanyalah bayangannya saja, sosok pelipur lara dan objek pelampiasan dari segala kegalauan jiwa pria itu.
Setelah semua persiapan selesai Aaron naik
ke atas Snow Car nya yang dapat memuat dua
orang. Mobil salju ini sudah di siapkan oleh pihak hotel. Dan mobil ini bisa menembus salju tebal
di sepanjang lintasan menuju lereng. Dia meraih
menarik tangan Raya agar memeluk tubuhnya
karena hawa dingin kini semakin membekukan. Sedikit saja ada celah yang terbuka dan mampu
menembus ke dalam tubuh maka bisa dipastikan
akan langsung membeku. Dengan jantung yang
__ADS_1
berdebar kencang Raya melingkarkan tangannya
di tubuh Aaron, memeluknya erat menyandarkan
kepala di punggung kokoh suaminya itu.
Akhirnya rombongan itu berangkat menuju
ke lereng gunung yang menjadi tujuan utama.
Tidak memerlukan waktu lama agar bisa
mencapai tempat tujuan. Kini mereka semua
sudah tiba di puncak lereng. Dari tempat ini
semua keindahan itu nyata adanya. Aaron
mengangkat tubuh Raya turun dari mobil dan
mengajaknya ke satu sisi lereng yang bisa
dengan jelas melihat semua keindahan itu.
Raya menatap takjub puncak gunung yang
ada di sebelah nya. Pemandangan ke lembah
tampak begitu memukau dan mempesona.
Sejauh mata memandang semuanya hanyalah
hamparan putih berkilau. Dan suhu di tempat
ini sangatlah ekstrim.
"Aku akan bermain sebentar keatas. Kau bisa
melihatnya dari sini. Nikmatilah waktu mu."
Aaron berucap sambil merengkuh tubuh Raya
ke dalam dekapannya. Keduanya terdiam, saling memeluk erat, mencoba memberi kehangatan.
"Tempat ini sangat indah Aaron.."
"Tidak ada sesuatu apapun yang lebih indah
dari dirimu Maharaya.. Kau adalah keindahan
yang sesungguhnya."
Deg !
Jantung Raya bergelombang hebat. Pria ini baru
saja menggombal. Sangat sulit untuk di percaya.
Dia mengangkat wajahnya, mata mereka saling
bertemu, sinar cinta itu kian terlihat. Tapi seolah
tertutup oleh hati yang di selimuti keraguan.
"Kau sangat tidak cocok untuk menggombal
Yang Mulya. Aku tidak percaya padamu."
Aaron menyeringai tipis dengan ekspresi datar
namun wajahnya terlihat sedikit memerah.
"Kau tahu sendiri bukan, aku tidak bisa bersikap
layaknya para pria yang suka bersilat lidah itu.
Tapi ucapanku bisa kau pegang."
Raya menatap lekat wajah tampan Aaron dengan
sorot mata tidak percaya. Agak aneh rasanya saat
laki-laki ini berusaha berbicara sedikit normal.
"Kau memang tidak cocok untuk itu. Dan aku
juga tidak berharap kau seperti itu.!"
"Baiklah.. kalau begitu terima saja aku apa
adanya .!"
Raya terdiam, tatapan mereka semakin lama
semakin lekat dan akhirnya bibir mereka saling
memagut lembut dan manis, mencoba memberi kehangatan dan menyalurkan energi positif untuk menjalani aktifitas hari ini. Tidak lama mereka
saling melepaskan pagutannya saat Raya tersadar
bahwa saat ini mereka sedang berada di alam
terbuka. Keduanya kembali saling pandang,
perlahan Aaron mengecup lembut kening Raya
dan sekali lagi mendaratkan ciuman mesra
di bibirnya.
"Aku akan bersiap sekarang.!"
"Aaron.. berhati-hatilah.. jangan menjelajah
terlalu jauh yang tidak bisa di jangkau oleh
penglihatan ku."
Raya berucap pelan, rasa tidak nyaman itu kini
semakin terasa membuat nya terasa berat untuk
melepas suaminya itu. Aaron menatap tenang
wajah cantik Raya yang tersembunyi di balik
penutup kepalanya dengan bibir yang sedikit
bengkak dan basah. Sungguh sangat menggoda
membuat dia sedikit berat meninggalkan nya.
"Tenang saja..Tidak ada hal yang tidak bisa
aku tangani. Apalagi ini adalah sesuatu yang
dari kecil sudah aku lakukan."
Desis Aaron sambil kembali mengecup mesra
sedikit berat. Mereka kembali ke tempat tadi.
Aaron segera memakai perlengkapannya di bantu
oleh Alex dan Benjamin. Dua pengawalnya itu
tidak akan ikut berseluncur karena memiliki
tugas untuk mengawasi tempat ini yang sudah
di sterilkan dari pengunjung lain yang terpaksa
tidak bisa mendekat karena kawasan ini di tutup
sementara sampai Putra Mahkota selesai bermain.
Setelah semua siap, Aaron menatap sebentar
kearah Raya yang juga sedang menatapnya berat
saat dia bergerak melompat menaiki mobil untuk menuju ke tebing tinggi yang ada di seberang.
Tidak lama kemudian mereka semua sudah
melesatkan mobilnya menuju puncak tebing.
Beberapa saat kemudian..
Raya tampak mulai asik bermain salju dengan
Jessica dan Griz di awasi oleh Alex dan Benjamin.
Sementara Aaron dan kawan kawannya termasuk
Alea yang juga cukup handal dalam olahraga ini tampak sudah mulai meluncur lihai di atas jalur
lintasan salju dengan trek yang cukup ekstrim
dan menantang. Dari tempatnya kini Raya bisa
melihat dengan jelas semua kegiatan Aaron.
Aaron dan para sahabatnya tampak meluncur
cepat memecah salju lembut menggunung di
sepanjang lintasan. Pria itu tampak begitu gagah
dan menawan dengan gaya seluncur nya yang
sangat profesional. Entah bagaimana bisa, pria
ini sepertinya menguasai segala hal baik itu ilmu
pengetahuan maupun keterampilan.Tidak ada
yang tidak dia kuasai. Raya menatap kagum dan
memperhatikan pergerakan Aaron.
Rasa tidak nyaman yang menganggu perasaan
nya kini semakin menjadi. Padahal dia melihat
Aaron dan kawan-kawanya bermain lepas tanpa beban. Matanya kini mengamati puncak tebing
tinggi yang tertutup salju dan es tebal dan
terlihat cukup rawan.
Raya dan semua bawahan Aaron tampak terdiam mematung saat melihat bagaimana lihai dan profesional nya Aaron dalam memainkan papan seluncur di atas salju tebal melintasi jalur naik
turun yang memaksa dia harus melompat dan
terbang melewati bukit-bukit kecil di sepanjang
jalurnya sementara kawan-kawan nya sudah
tumbang dan berjatuhan di beberapa trek awal.
"Alex.. Benjamin.. apakah puncak tebing itu
cukup aman ?"
Tidak tahan lagi dengan segala kegelisahannya,
Raya bertanya pada dua bawahannya itu yang
berada di belakangnya.
"Selama ini semuanya aman-aman saja Lady.
Tidak pernah ada kejadian longsoran salju."
Alex menjawab sambil ikut mengamati puncak
tersebut. Raya menarik nafas panjang berusaha
untuk menenangkan diri.
Setelah cukup lama bermain akhirnya Alea dan
Rayen menyerah, mereka berdua kini mengakhiri kegiatannya saat tenaga sudah terkuras habis
dan kembali ke tempat dimana Raya berada.
Sementara Aaron dan dua kawannya masih
tampak asyik beralih bermain snowboard.
"Lady Maharaya.. senang sekali bisa bertemu
dan mengenalmu di tempat ini."
Akhirnya Rayen punya kesempatan untuk
berbicara empat mata dengan Raya. Mereka
berdiri bersisian menatap kearah kejauhan.
"Senang juga bisa mengenal anda Dokter
Rayen."
Sahut Raya dengan senyum santunnya.
"Bagaimana dengan pernikahan kalian.?
Apa kau sudah bisa menerima semua ini.?"
Raya terdiam, melirik sekilas kearah Rayen.
Mata mereka saling menatap sesaat.
"Anda pasti tahu alasan dari pernikahan ini
__ADS_1
Dokter. Saya tidak tahu akan kemanakah nasib
dan takdir Tuhan membawa perjalanan ini.!"
"Yang jelas kau harus ikhlas menjalani semuanya.
Aaron orang yang baik dan sangat berkomitmen.
Hanya satu kelemahannya, cinta dan wanita..
Karena selama ini dia tidak mengenal itu..dan.."
"Dan baru Mayra lah wanita yang membawanya
mengenal dunia itu. Sampai sekarang cinta itu
masih sangat melekat, mungkin selamanya.."
Rayen terdiam, tertegun tanpa bisa berkata-kata
lagi. Ternyata wanita ini sudah tahu masa lalu
Aaron. Dia menarik napas panjang.
"Apa yang terjadi dengan Tuan Moolay.?"
Rayen melirik , sedikit ragu untuk menjawab.
"Katakan saja Dokter, saya hanya ingin tahu.!"
"Dia mengalami kerusakan jantung akibat
terkena tembakan pada tragedi terakhir."
"Tragedi pulau terpencil.?"
"Benar..Entah dia masih bisa bertahan hidup
lebih lama atau justru menyerah dengan kondisi
nya sekarang. Tapi Aaron sudah menyiapkan
Dokter terbaik untuk membantu menanganinya."
Kini giliran Raya yang terdiam. Hatinya terasa
semakin gelisah. Dirga mengalami masalah
dengan jantung nya.? Bagaimana kalau terjadi
sesuatu pada sahabat Aaron itu.?
Raya tersentak ketika semua bawahannya kini
berdecak kagum atas aksi atraktif Aaron. Pria
itu kembali ke lereng tebing untuk memulai
trek berikutnya yang lebih ekstrim..Namun mata
tajam Raya kini melihat sesuatu yang tidak beres.
"Alex.. Benjamin..bawa aku kesana sekarang.!"
Titah Raya sambil kemudian melangkah ke
arah snow car. Alex dan Benjamin terdiam,
menatap bengong kearah Raya yang sedang
berusaha naik keatas mobil.
"Apa yang kalian tunggu, cepat..! Aku tidak
punya banyak waktu..!"
Raya berseru keras kearah Alex dan Benjamin
yang langsung melompat kaget dan bergerak
cepat menghampiri Raya.
"Maaf kalau saya lancang Lady.."
Dengan sungkan Alex membantu Raya untuk
naik ke atas mobil karena dia terlihat kesulitan.
Setelah itu Alex dan Benjamin yang membawa
mobil lain segera melajukan kendaraan tersebut
menuju lereng tebing tempat Aaron berada di
iringi tatapan semua orang yang masih bengong
di tempat tidak mengerti situasi yang terjadi.
"Aaron.. berhenti.. jangan turun lagi..!"
Raya berteriak keras saat melihat Aaron kembali
meluncur cepat turun ke lembah. Sementara
Desmond dan Elliot masih berdiri dan bersiap
namun jadi tertegun saat melihat kedatangan
Raya dan dua bawahan Aaron tersebut. Mata
Raya membulat ketika melihat tebing salju yang
paling tinggi mulai memperlihatkan gelagat tidak beres dengan meluncurkan luruhan bongkahan
es besar yang membawa salju turun ke lembah.
"Prince Desmon.. Prince Elliot awass. !!"
Alex dan Benjamin langsung berteriak keras
memperingatkan kedua pangeran itu yang
terkejut dan seketika meluncurkan papannya
ke arah lain menyelamatkan diri ketika tiba-tiba
tebing tinggi itu longsor besar. Gulungan salju
besar dan luas kini merosot cepat menyapu
semua yang terlewati menimbulkan kengerian
dan teriakan ketakutan dari semua orang yang
ada di kejauhan.
"Aaroonn.. awass..."
Raya hilang kestabilan ketika melihat gulungan
longsoran salju tersebut seolah mengejar sosok
Aaron yang masih meluncur di atas lintasan.
Tanpa sadar dia meloncat turun dari atas mobil
dan berlari kearah Aaron yang di kejar cepat oleh
longsoran salju tersebut. Aaron mempercepat
gerakannya menghindar terjangan salju ganas
tersebut. Namun matanya kini melebar begitu
melihat sosok Raya yang tengah berlari susah
payah ke arahnya menyongsong bahaya.
"Raya..apa yang kau lakukan.?! Pergi.. cepat
selamatkan dirimu..!!"
Aaron berteriak kencang sambil meliukkan tubuh
dan melompat terbang melewati puncak bukit
kecil sementara longsoran salju semakin dekat
siap melahap tubuhnya dan menimbunnya.
Dengan gerakan cepat dia membelokkan papan
seluncur kearah Raya yang kini berdiri tegak di
pinggir lintasan. Alex dan Benjamin baru saja tiba
dan berniat menarik tubuh Raya. Namun sesuatu
yang luar biasa kini terjadi. Ketika gulungan salju
itu hampir melahap tubuh Aaron dan menyapu
mereka semua, Raya mengibaskan tangan ke
udara sambil menjerit histeris memanggil nama Aaron. Tiba-tiba saja gulungan salju itu berhenti
meluncur, lalu meleset dan memecah di udara
seolah menabrak tebing yang sangat kokoh di depannya dan hanya menyisakan semburan
hujan salju lembut yang memancar ke segala
arah seperti air mancur.
Aaron menghentikan gerakan nya dengan sekali
rem, membalikan badan, menatap bengong pada
keajaiban yang terjadi di depan matanya itu. Lain
lagi dengan Alex dan Benjamin, kedua bawahan
Aaron itu menganga, tercengang menyaksikan
sesuatu yang selama ini masih menjadi misteri
dari sosok Lady nya itu kini nyata di depan mata.
Raya tampak berdiri, menatap tajam kearah
gulungan salju yang masih memecah di udara
menyisakan pemandangan menakjubkan karena
semburannya menampilkan percikan kilauan
seperti mutiara di udara. Orang-orang yang ada
di lereng tampak mematung di tempat di telan
kecemasan akan nasib Aaron dan Raya karena
kejadian tadi tidak nampak di mata mereka
Aaron segera melepas papan dan sepatu boots
yang di pakainya. Dia segera berjalan cepat ke
arah Raya yang kini terlihat limbung kehilangan
tenaga. Sebelum tubuh Raya tumbang Aaron
sudah lebih dulu merengkuhnya, mengangkatnya
ke dalam pangkuan. Mata mereka kini saling
menatap. Sorot mata Raya tampak lemah.
"Aaron..kau tidak apa-apa kan ? "
Tangan Raya bergerak pelan mengelus lemah
wajah Aaron yang membeku dalam kondisi
syok karena terlalu cemas dengan kejadian tadi
yang bisa saja merenggut nyawa istrinya itu.
"Aku tidak apa-apa. Kenapa kamu berbuat nekad
dengan mengorbankan dirimu hanya untuk menyelamatkan ku Raya.? Kau bisa celaka !!"
"Hidupku tidak akan ada artinya kalau sesuatu
terjadi padamu Yang Mulya.."
Lirih Raya sambil tersenyum getir dan perlahan
menyandarkan kepalanya di dada Aaron yang
menggeleng kuat tidak percaya.
"Dasar wanita bodoh ! Aku hampir saja
kehilangan kalian berdua !"
Desis Aaron seraya mempererat pelukannya
sambil memejamkan mata. Alex dan Benjamin
baru saja kembali pada kesadarannya. Mereka
berdua menatap diam setengah mengawang
kearah majikannya itu. Cinta yang luar biasa..
__ADS_1
***