Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
25. Wahana Hiburan


__ADS_3

❤️❤️❤️


Sosok itu menyeringai tipis dengan reaksi


yang terlihat sedikit aneh. Dia mengibaskan


tangan nya, detik berikutnya dua orang asisten


pribadinya membuka mantel yang membungkus


tubuh tinggi kekar penuh ototnya. Aroma wangi


maskulin langsung menyeruak menabrak indra


penciuman semua orang yang ada di dekatnya.


Dengan tatapan tidak lepas dari sosok Raya


pria itu mulai melangkah tenang kearah dimana


Raya berada dengan gaya yang sangat berbeda, tampak sangat elegan dan berkelas di selubungi


aura kebangsawanan yang sangat kental.


Sementara Raya masih menatap tenang kearah


lautan lepas dengan sorot mata hampa dan


kosong. Pikirannya saat ini berseliweran kemana-mana, Arka, Jessica, Ayahnya dan


Sean..Ada sedikit rasa bersalah dan menyesal


dalam hatinya karena tidak bertemu serta


berterus terang dulu pada pria itu.


"Sean... maafkan aku.."


Lirihnya lemah di dera penyesalan yang kini


semakin menyesakkan dadanya. Dia menarik


napas panjang sembari memejamkan mata


mencoba mencari bayangan wajah Sean.


Namun sesaat kemudian dia membuka mata


dengan menautkan alisnya , kenapa yang ada


dalam bayangan nya malah wajah laki-laki


yang sangat di bencinya ? Apa karena begitu


bencinya dia pada orang itu hingga rasanya


wajahnya selalu saja menghantui pikirannya .


Raya menggelengkan kepala pelan menepis


bayangan wajah Aaron, lalu merentangkan


tangannya ke udara mencoba mencari angin


sambil menebar senyum siapa tahu dengan


begini segala kegundahan hatinya bisa sedikit berkurang. Dia tidak sadar dengan melakukan


hal itu membuat lekuk tubuhnya yang sempurna


tercetak jelas menyebabkan seseorang yang


tengah berjalan kearahnya kini menghentikan


langkah, berdiri kaku di tempat. Matanya yang


memiliki aura gelap berkilat hebat dengan


seringai aneh lagi-lagi tercipta di bibir nya.


Raya menghembuskan napas dalam-dalam


mengakhiri kegiatannya, dia membalikan badan bermaksud kembali ke kamarnya namun sesaat kemudian dia memekik tertahan saat tubuhnya


menubruk satu sosok tinggi tegap dan kokoh


di belakangnya hingga membuat dia berjingkat


kaget tapi tangannya sudah terlanjur menekan


dan menempel di dada sosok itu yang langsung


menyergap dan memegangnya kuat.


"Ma-maaf Tuan.. saya tidak sengaja.."


Raya berucap lembut dan gugup seraya


mendongakkan kepalanya sambil berusaha


menarik tangannya tapi sudah terkunci.


Jantung pria itu langsung bergelombang


saat mendengar suara lembut Raya.


"Hallo beautiful lady.."


Dia menyahut dengan suara yang tidak kalah


lembut penuh dengan daya pikat. Mata mereka bertemu, mata elang pria itu tampak mengerjap


hebat menyaksikan bagaimana cantik dan elok


nya paras wanita ini. Ada semacam getaran


dahsyat yang menembus bathin pria ini begitu


matanya berusaha menerobos masuk ke


kedalaman mata sendu Raya yang memancar


bening bak kristal murni. Dan kini ada sinar


gelap yang keluar dari mata pria itu mencoba


menembus jiwa Raya membuat dia kesulitan melepaskan diri dari jeratan pesona pria


charming ini sampai tidak sadar kini dia


menatap lembut pria itu.


"Are you oke lady.?"


Tanya pria itu lembut penuh daya tarik dengan


senyum yang terbentuk sempurna. Dia menarik


tangan Raya lebih merapat ke dada bidangnya


membuat tubuh Raya otomatis ikut tertarik.


Mata Raya masih terjerat dalam mata elang


sosok itu, namun sesaat kemudian kelebatan


wajah Aaron membawa dirinya kembali pada kesadaran, dengan cepat dia mendorong dada


pria itu lalu menepis pegangan tangannya


kemudian menjauhkan diri. Wajahnya kini


memerah, apa yang terjadi padanya.? Dia


menatap tajam wajah pria itu yang masih


tersenyum lembut kearahnya.


"Saya tidak apa-apa, sekali lagi maaf Tuan.."


Raya kembali mengucapkan permohonan


maafnya seraya menundukkan kepala dan


beristighfar dalam hati.


"It's oke.. itu bukanlah apa-apa. Tidak perlu


merasa bersalah."


Sahut pria itu masih dengan suara yang


sangat lembut dan memikat.


"Terimakasih, kalau begitu saya permisi Tuan.."


"Hei..tunggu Nona..!"


Raya terpaksa menghentikan langkahnya.


Tapi masih berada pada posisi nya.


"Aku belum memaafkan mu. Kau harus


membayarnya untuk itu."


Raya menautkan alisnya, lalu membalikkan


badannya, menatap sekilas kearah pria itu.


"Mohon maaf Tuan, saya tidak punya apapun


untuk di tawarkan. Saya hanya memiliki


permohonan maaf saja."


"Setidaknya kau bisa memberikan namamu.!


Kita bisa berkenalan dengan resmi.!"


Pria itu mengulurkan tangannya ke hadapan


Raya yang menatapnya datar tanpa minat.


"Kenalkan..namaku Lucas Adolf Winston.."


Ujar pria itu dengan senyum manisnya.


Lagi-lagi Raya hanya menatapnya sekilas.


"Tuan..anda adalah orang yang sangat


terhormat. Rasanya tidak cukup penting


bagi anda mengetahui nama saya, permisi.."


Raya mengabaikan uluran tangan pria itu, lalu


kembali membungkuk sedikit setelah itu berlalu

__ADS_1


pergi dari hadapan pria itu yang sontak tertegun, rahangnya mengeras seketika, tangannya kini


terkepal dengan kuat, wajahnya tampak merah padam. Terhina.? tentu saja..seseorang yang


bergelar Duke sepertinya di abaikan begitu saja.


Dia ini pria impian yang di dambakan banyak


wanita yang ada di dunia. Tapi wanita tadi


tampaknya tidak mengenalinya sama sekali.


Dan pria ini tahu pasti keistimewaan yang di


miliki wanita tadi hanya dengan menembus


kedalaman mata indahnya. Rasa penasaran


itu mengalahkan segalanya. Kembali.. ada


seringai aneh yang terbit di bibir seksinya.


"Aku sudah menemukannya. Dialah wanita


yang aku cari selama ini.! Hanya wanita ini


yang akan mampu menjadi partner ranjangku.!


Dia akan memberiku kepuasan tanpa batas.!"


Desisnya dengan kilatan aneh dari matanya


yang mampu menguarkan aura mencekam


di sekitarnya sampai semua bawahannya


bergidik ngeri.


"Duke Lucas.. apa saya perlu mencari tahu


siapa wanita itu.?"


"Tentu saja.! Secepatnya..!!"


Dengus pria charming itu sambil melangkah


cepat meninggalkan tempat itu di iringi oleh


rombongan para pengawalnya.


***


Seharian Raya berada di kamar. Ada sedikit


rasa tidak nyaman di hatinya saat menyadari


laki-laki jahat itu tidak pernah lagi datang


melihatnya.Kemana sebenarnya pria itu.?


Bukankah seharusnya dirinya mendamping


semua kegiatannya ?


Akhirnya Raya memutuskan untuk keluar di


sore hari dan berjalan-jalan ke lantai bawah


di dampingi oleh Griz yang tidak mampu


melarang saat Raya sudah berjalan cepat


menuruni tangga.


Kapal pesiar ini terdiri dari 5 lantai plus lantai


eksklusif yang di tempati Raya. Geladak paling


bawah adalah tempat untuk umum, lalu lantai


dua berisi fasilitas penunjang seperti store dan


sarana olahraga serta hiburan. Kemudian di


tingkat tiga adalah fasilitas kamar-kamar


mewah bertarif selangit. Lalu tingkat 4 dan 5


di peruntukkan khusus sebagai ruang VVIP


untuk keluarga kerajaan. Berisi Ballroom dan


ruangan penunjang lainnya seperti kamar


tidur pribadi, ruang pertemuan, ruang makan,


ruang keluarga, ruang khusus Sang Raja dan


kantor pribadi Aaron yang ada di lantai 5.


Baru kali ini wajah Raya terlihat cerah dan


berseri saat dia turun ke lantai dua. Dengan


semangat dia masuk ke dalam arena hiburan.


Suasana saat ini tampak di padati pengunjung,


ada berbagai tipe manusia yang berbaur dan


menyatu di tempat ini. Raya terlihat antusias


olehnya. Dia jadi teringat pada Jessica yang


sering mengajak nya datang ke tempat


hiburan seperti ini.


"Griz.. ayo kita main di sana.!"


Raya menarik tangan Griz menuju ke satu


wahana permainan membuat mata wanita


tomboy itu membulat terkejut. Dia tampak


sedikit gugup dan grogi. Raya memesan dua


tiket permainan kemudian mengajak Griz


bermain. Akhirnya mau tidak mau Griz ikut


bermain juga, karena tugasnya memang


harus selalu mendampingi Nona nya itu.


Keduanya tampak menikmati permainan


itu yang cukup memacu adrenalin. Wajah


datar Griz nampak sedikit berbeda, ada


raut kesenangan yang terlihat di sana.


"Nah.. gitu dong, jangan terlalu kaku.!"


Ledek Raya sambil berjalan kearah wahana


lain. Griz tampak tersenyum tipis sambil


menggelengkan kepalanya. Dengan cepat


dia mengikuti Raya yang sudah kembali


memesan tiket baru. Di tempat itu sore ini


sedang padat-padatnya pengunjung. Dan


seperti di ketahui, bukan sembarang orang


yang bisa menaiki dan berlibur di dalam


kapal pesiar ini. Semua rata-rata kalangan


elite dan berduit dari berbagai belahan dunia.


Raya berjalan dengan senyum tidak lepas dari


wajah cantiknya. Dia tampak sangat menikmati berbagai wahana yang di mainkan nya dengan


semangat hingga akhirnya sekarang berada di


satu permainan yang cukup di kuasainya.


Namun ada sesuatu yang janggal kini terjadi.


Semua orang tampak minggir ketika aparat


keamanan tiba-tiba masuk mensterilkan seluruh


area. Raya tidak mengerti apa yang terjadi, dia


juga kurang faham yang di bicarakan oleh


orang-orang karena bahasa mereka yang


berbeda-beda. Yang dapat dia tangkap dari


percakapan beberapa orang adalah tentang


kunjungan Sang Pangeran dan calon


tunangan nya ke tempat itu. Pangeran.??


Raya memutar bola matanya jengah.


Orang-orang berkuasa memang selalu saja


merepotkan. Kalau begini, kesenangannya


bisa terganggu. Lain lagi dengan Griz, dia


tampak gugup dan tegang saat ini.


"Miss Raya..sebaiknya sekarang kita kembali


ke kamar anda. Waktu sudah semakin sore.


Nanti malam ada acara yang harus anda


hadiri.!"


Raya yang sedang memainkan satu game


seru tampak melirik sekilas kearah Griz.


"Sebentar lagi ya Griz.. tanggung nih lagi seru."


"Tapi Miss, kita kesini tanpa izin dari Tuan."

__ADS_1


"Biarkan saja, memang apa urusannya semua


ini dengan dia, kehadirannya hanya akan


merepotkanku saja.!"


Ketus Raya sambil kemudian berseru keras


saking bahagianya karena dia memenangkan


permainan. Wajahnya terlihat begitu senang


hingga wajah cantiknya nampak bersinar


membuat beberapa pengunjung pria tidak


bisa lagi menahan keinginannya untuk


memandangi dirinya. Sebenarnya sejak dia


masuk ke dalam wahana permainan ini


kehadiran nya cukup mengundang perhatian


para pengunjung terutama para pria, namun


seperti biasa Raya tidak pernah ambil peduli


akan hal itu. Dia lebih fokus pada semua


kesenangannya.


Griz tampak semakin tegang saat dia melihat


di pintu utama masuk wahana yang sangat


luas itu ada kerumunan dan kegaduhan. Dia


tahu pasti siapa yang datang. Wajahnya kini


sudah mulai memucat.


"Miss..kita harus pergi sekarang juga..!"


"Kenapa Griz.? Apa kamu tidak enak badan.?"


Raya masih asik dengan permainan barunya


mencoba melakukan tembakan ke arah satu


titik yang akan memenangkan satu boneka


beruang cantik yang di sukainya. Memang


sedikit kekanak-kanakan sih, tapi dia sangat


menyukai boneka itu, dan bagaimanapun


caranya dia harus mendapatkan nya.


"Sa-saya baik-baik saja Miss, tapi ini sudah


sangat sore, anda harus segera kembali.!"


Suara Griz tampak semakin gugup, matanya


kini benar-benar melebar saat melihat sosok


Tuan Berharga nya sudah mendekat. Saat ini


Aaron tampak berjalan gagah dan tenang di


ikuti oleh rombongan orang-orang penting


dan berdampingan dengan satu sosok tinggi semampai yang memiliki bentuk tubuh sangat


menarik serta paras wajah cantik jelita. Wanita


itu terlihat begitu anggun dan mempesona,


elegan dan sangat berkelas. Mereka semua


berjalan membelah kerumunan pengunjung


yang langsung minggir seraya menunduk


hormat ke arah kedatangannya.


Sebenarnya Aaron kurang respect dengan


pertemuan ini. Tapi karena ini adalah agenda


yang berhubungan dengan istana mau tidak


mau dia harus melakukan nya, bertemu dan menemani putri salah satu petinggi negaranya.


Wanita inilah yang sudah di siapkan sebagai


calon ratu masa depan oleh kedua keluarga.


Mata tajam Aaron dan Anzel langsung bisa


menangkap sosok wanita yang sedang asyik


bermain di satu wahana permainan. Wajah


Aaron tampak bereaksi aneh.


"Kau bawa wanita ini ke tempat lain..!"


Aaron berkata pelan pada Anzel yang tahu


situasi. Kepalanya langsung mengangguk


faham. Tatapan Aaron mengunci sosok


Raya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Griz sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi


saat Aaron menangkap basah mereka


berdua di tempat itu dengan tatapan tajam


mematikannya. Sementara Raya masih asik


dengan rasa penasarannya karena dia tidak


jua mampu menembak sasaran dengan tepat.


"Miss Raya.. apa kita bisa pergi sekarang.?"


Griz mencoba kembali menarik Raya dari


kesenangannya sebelum Aaron benar-benar


mendatangi mereka. Namun tampaknya


semua itu sudah terlambat.


"Baiklah Griz.. kita akan kembali setelah aku mendapatkan boneka ini. Aku tidak akan bisa


tidur kalau tidak mendapatkannya."


Sahut Raya dengan raut wajah gemasnya


karena dia gagal terus.


"Apa kau bisa melakukan tembakan ini


untukku Griz.? Kau kan ahlinya..Aku sudah


menyerah.! Aku tidak bisa mendapatkan nya."


Keluh Raya sambil menatap kesal ke titik


sasaran yang membuatnya gemas tersebut.


Raya terkejut ketika tiba-tiba ada satu sosok


yang mengurungnya dari belakang, seolah


memeluknya, tangan kanannya yang kokoh


kini meraih pergelangan tangan nya dan


menggenggam nya kuat. Dia tersentak saat


menyadari sosok tinggi gagah itu adalah pria


jahat yang berstatus sebagai suaminya.


"K-kau.. ke-kenapa ada di sini..?"


Raya berucap gugup sambil berusaha keluar


dari kurungan tubuh Aaron yang semakin


merapatkan tubuhnya dengan melingkarkan


tangan kirinya di perut rata Raya yang


menegang seketika.


"Jangan membuat keributan.! Ini adalah


tempat umum, diam dan fokus ke sasaran.!"


Bisik Aaron serak di telinga Raya yang mau


tidak mau akhirnya terdiam membeku. Tubuh


Aaron semakin menempel ketat di punggung


Raya yang mulai bergetar di serang kepanikan.


Mata Aaron terpejam kuat saat aroma wangi


lembut menguar dari tubuh Raya membuat


hasratnya bangkit seketika..


"Aaron.. lepaskan aku..!"


Raya berucap gemetar sambil bergerak


kembali mencoba keluar dari penguasaan


tubuh tegap laki-laki itu itu.


"Jangan bergerak.. atau kau akan menyesal


nanti dengan apa yang akan aku lakukan.!"


Desis Aaron sambil kemudian mengangkat


tangan kanan Raya mengarah ke sasaran..


***

__ADS_1


Happy Reading....


__ADS_2