Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
40. Bebaskan Aku


__ADS_3

❤️❤️❤️


Mobil mulai melaju perlahan keluar dari area


gedung Marvello's Corporation. Kaca depan


dan belakang ruang jok utama tiba-tiba saja


tertutup rapat menjaga privasi Sang Pangeran


yang sedang melancarkan kesenangan nya


menikmati bibir ranum Sang sektretaris.


Raya menekan kuat dada Aaron agar terlepas


dari ciuman yang di lancarkan pria itu. Namun


ini tidaklah mudah, Aaron malah semakin liar.


Tangan kanannya merengkuh pinggang Raya sementara tangan kiri menahan tengkuk lehernya


agar ciuman nya semakin dalam. Akhirnya Raya mencoba untuk menerima ciuman itu setelah


segala usahanya tidak membuahkan hasil. Dia membiarkan Aaron memuaskan dahaganya.


Hal itu membuat Aaron semakin bersemangat.


Dia semakin leluasa menikmati lembut dan


manisnya bibir Raya yang penuh madu itu.


Ciuman Aaron semakin lama semakin panas.


Tapi kali mulai terasa lebih lembut dan tenang.


Raya mulai merasakan ada dorongan hasrat


aneh yang memaksanya membalas ciuman itu


secara perlahan. Lidah Aaron berhasil masuk


saat Raya membalas ciuman itu, dan perlahan


mulai mengimbanginya membuat Aaron semakin


gencar melakukan aksinya. Lidah mereka kini


saling bertautan dan saling membelit hingga


menimbulkan sensasi nikmat yang tidak bisa


di lepaskan begitu saja. Semakin lama mereka


semakin larut dalam ciuman panas tersebut


hingga tubuh keduanya kini sudah memanas.


Semua ketegangan dan ketakutan Raya hilang


dan hanyut dalam buaian kelembutan bibir pria


jahat itu, dia benar-benar mulai menikmati


rasa manis dan lembut ini hingga melupakan


sejenak segala kebenciannya pada pria ini.


Dan setelah durasi yang sangat lama akhirnya


ciuman itu terlepas ketika mereka kehabisan


napas. Kening mereka saling menempel dengan


mata yang terpaut dalam dan nafas yang saling berkejaran. Muka keduanya tampak memerah.


"Kenapa tidak dari kemarin kau melakukan ini.


Aku tidak perlu melakukan pemaksaan.!"


Desis Aaron seraya ******* kembali bibir Raya


yang langsung melepaskan nya dengan mundur


dan menahan bibir Aaron, tapi tubuh nya tiba-tiba


berjingkat saat Aaron menekan jari tangan Raya


di bibirnya dan menjilatnya lembut. Mata Raya melebar, tubuh nya terasa panas dingin, bulu-bulu halus di tubuhnya meremang semua. Wajahnya


langsung merah padam menahan desiran halus


yang merasuk ke dalam setiap nadinya. Tatapan


Aaron tampak begitu dalam sampai menembus


ke dalam jantung dan hati Raya.


"A-Aaron, bisakah kau tidak melakukan semua


ini lagi ? Aku tidak bisa menerima nya.."


Wajah Aaron berubah datar, namun tatapannya


kini semakin tajam dengan aura dingin yang


mulai membekukan suasana. Raya menatap


tegang wajah super tampan pria itu yang selama


ini tidak pernah di pedulikan nya. Dia tidak pernah


mencoba menyadari kalau pria ini sangatlah


tampan dan membius. Kebenciannya membuat


mata hatinya tertutup untuk melihat semua ini.


"Kenapa ? Kau sangat tidak menyukai nya.?


Wanita lain bahkan mendambakan semua ini.!"


"Kau..kau bisa melakukan nya dengan wanita


lain yang kau inginkan.!"


"Yang aku inginkan hanya dirimu.!"


"Tidak mungkin. Kau bisa melakukan nya


dengan wanita yang lebih berhak atas dirimu.!"


"Adakah wanita lain yang lebih berhak atas


diriku.? Apa kau tidak berpikir bahwa hanya


kamulah yang memiliki hak penuh untuk itu.?"


"Catharina akan segera memiliki hak itu. Jadi


luapkan semua kegilaan mu ini padanya.!"


"Bagaimana kalau aku hanya bisa melakukan


ini padamu ? Aku gila karena kamu.!"


Raya terhenyak, mata mereka kembali terpaut


dalam, sorot mata Raya penuh rasa tidak percaya


mendengar ucapan Aaron barusan. Sementara ekspresi Aaron kembali datar seperti biasa.


"A-apa maksudmu ?"


"Aku tidak melakukan hal seperti ini dengan


sembarang wanita.!"


"Aku tidak percaya. Kau adalah laki-laki bebas.


Kau juga bisa melakukan apapun yang kau mau."


"Aku tidak akan pernah berhenti melakukannya


selama aku mau, dan kau tidak bisa menolakku


Maharaya..!"


Wajah Raya semakin memerah, dia menggeleng


pelan sambil berusaha untuk keluar dari atas


pangkuan Aaron, tapi tangan Aaron menahan


pinggang nya dan kini malah menarik nya kuat


hingga tubuh mereka kembali merapat. Dada


Raya menempel ketat di dada Aaron sampai


terasa begitu hangat membuat junior Aaron


mulai terbangun dan meronta meminta jatah.


"Bisakah aku meminta satu hal padamu.?"


Aaron menatap lekat wajah cantik Raya dengan


seringai tipis di bibir nya.


"Apa yang kau inginkan ? Kau mau keliling


dunia, atau mau bulan madu ke angkasa.?"


Raya menggeleng pelan sedikit jengah dengan


perkataan Aaron yang berlebihan.


"Tidak.! Aku hanya ingin kebebasan. Tolong.. bebaskan aku..Biarkan aku pergi dan menjalani hidupku sendiri."


"Maharaya Sheerlina Atmaja..!!"


Raya terkejut dengan bentakan Aaron, tangan


kiri pria itu kini beralih mencengkeram kuat dagu lonjong nya dan menariknya mendekat hingga


kini wajah mereka saling bersentuhan, bibir

__ADS_1


mereka bertemu. Napas mereka pun menyatu.


"Yang harus kamu tahu, aku tidak akan pernah


melepaskan mu sebelum aku mendapatkan


apa yang aku inginkan.!"


Raya menggeleng kuat, ada desakan air mata


yang kini mencoba menerobos keluar. Hatinya


terasa sakit bagai tertusuk seribu duri.


" Kau telah menyakitiku Pangeran.!"


"Aku tidak peduli, akan kulakukan apapun agar


kamu tetap di sisiku.!"


Desis Aaron sambil kembali ******* kuat bibir


Raya setengah menggigit nya setelah itu barulah melepaskannya. Raya memejamkan mata nya


kuat menahan serbuan rasa sakit di dadanya.


"Biarkan aku turun.."


Lirih Raya pelan dan lembut hingga mampu


membuat Aaron tertegun. Raya merasa sangat


lelah dengan semua kekacauan ini. Dia juga lelah harus selalu bersitegang dengan manusia yang


tidak memilki perasaan ini. Baiklah.. mulai saat


ini akan dia berikan apapun yang di inginkan oleh


pria ini, tubuh nya, keturunan, apapun.. Hanya


satu yang tidak akan di berikan nya, yaitu hatinya.


Aaron melonggarkan rengkuhan nya. Keduanya


kembali saling menatap kuat .


"Lakukan apapun yang ingin kau lakukan..


Setelah itu bebaskan aku sesuai perjanjian.!"


Tegas Raya dengan wajah yang penuh tekanan.


Aaron mengerjapkan mata, namun kemudian


dia memalingkan wajahnya ke arah luar. Raya


turun dari pangkuan Aaron dan memilih duduk


di jok singel yang ada di depannya. Perlahan


dia merebahkan kepalanya ke sandaran jok


sambil melempar pandangan ke jalanan yang


di warnai indahnya pemandangan malam di


penuhi oleh tebaran lampu warna warni. Dua


insan itu kini saling membisu, larut dalam isi


hati dan pikiran masing-masing, entah apa


yang ada dalam benak mereka.


Aaron memejamkan matanya, mencoba untuk


mengontrol dirinya. Dia benar-benar merutuki


dirinya sendiri, dia juga tidak mengerti kenapa


dirinya selalu kehilangan kendali saat berada


di dekat Raya. Apa yang terjadi dengan dirinya sebenarnya.? Apa karena wanita ini memiliki


satu keistimewaan ? Tidak, ini bukanlah dirinya


sendiri, dia tidak pernah segila ini menginginkan seorang wanita termasuk saat mengenal dan


jatuh cinta pada istri sahabatnya sendiri. Wanita


ini mampu membuat dirinya menginginkannya


setiap kali melihatnya, namun juga tidak bisa mengendalikan emosinya.


***


Acara besar Grand Award ini di selenggarakan


di sebuah gedung megah yang ada di pusat kota.


Suasana nya sudah tampak meriah. Acara ini di siarkan langsung oleh semua stasiun televisi


yang ada di negara ini, juga puluhan Chanel


bisnis yang memiliki izin siar khusus.


Mereka terdiri dari para pengusaha besar, para selebritis kelas atas, para pejabat pemerintahan


serta beberapa tamu kehormatan negara lainnya


yakni para bangsawan, konglomerat dan beberapa tamu eksklusif yaitu para pangeran dari negara sahabat yang menjalin hubungan baik dengan


negara ini.


Mereka semua berjalan gagah dan anggun di


atas bentangan karpet merah. Semua tamu


mengaku sangat antusias datang ke acara ini


karena mendengar kabar bahwa malam ini


untuk pertama kalinya Putra Mahkota kerajaan


ini akan hadir dalam acara ini. Dan ini adalah


sebuah anugerah besar bagi semua orang yang


selama ini haus akan kemunculan tokoh yang


teramat penting itu di muka publik.


Jepretan dan kilatan kamera seolah tiada henti


menghujani area kedatangan para tamu yakni


lobby utama gedung megah ini. Semua tamu


tampak begitu memukau dalam balutan busana


yang serba elegan dan mewah karena mereka


bukanlah tamu biasa. Mereka semua adalah


orang-orang yang mampu merengkuh dunia


hanya dengan menaburkan uang dari atas


pangkuan dalam sekejap mata.


Fokus kamera dan para pewarta kini mengarah


pada dua sosok yang baru saja keluar dari


dalam mobil super mewah nya yang berhenti


tepat di depan pintu utama. Dua sosok itu adalah kakak beradik keluarga Winston. Bahkan berita Catharina yang akan segera bertunangan dengan


Sang Pangeran pun masih mendominasi semua


laman media online hari ini. Kedua kakak beradik


itu tampak begitu memukau dan mempesona.


Mereka kini berdiri sebentar di depan mobil,


saling melihat.dan mengangguk sedikit dengan senyum yang terulas manis di bibir keduanya.


"Lady Catharina.. apakah kami bisa mendapat


sedikit saja bocoran informasi tentang rencana


pertunangan anda bersama Pangeran ?"


"Benar Lady.. tolong beri kami info."


"Kami sangat berharap malam ini Pangeran


akan memberikan sedikit pernyataan pada kami."


Itulah sebagian rentetan pertanyaan yang di


lontarkan oleh para wartawan saat Catharina


bersedia di wawancara, tentu nya dengan


protokol yang sangat ketat dari para pengawal


karena sekarang ini Catharina sudah resmi di


beri pengawalan khusus setingkat keluarga


kerajaan dari pihak istana setelah dia sah di


tetapkan sebagai calon tunangan Putra Mahkota.


"Selamat malam rekan-rekan wartawan semua.


Mohon maaf sebelumnya, saya belum bisa


memberikan informasi apapun mengenai hal


itu, karena itu sepenuhnya adalah wewenang


pihak istana.."


Catharina menebarkan senyum manis nan

__ADS_1


menawan kepada semua orang yang ada di


tempat itu, tak lupa menjawab pertanyaan


para wartawan dengan lembut dan bijak. Dia


memang sangat layak menyandang gelar


sebagai calon Putri Mahkota kerajaan berkat


kecerdasan dan kemampuan nya juga sikap


lembut nya. Sementara Lucas tampak setia


mendampingi sang adik di sebelahnya.


"Kami sangat berharap mendapatkan info


secepat nya lady..Kami juga sudah tidak sabar


ingin segera menyaksikan pernikahan Akbar


kalian di laksanakan."


Catharina kembali tersenyum dengan wajah


berbinar cerah penuh harapan.


"Tentu saja, kami akan segera memberikan


Informasi nya setelah semua persiapan


selesai di laksanakan."


Ujar Catharina sambil melirik kearah Lucas yang


hanya mengangguk lalu tersenyum tenang dan


memikat membuat semua orang merasa gemas


dibuatnya oleh keharmonisan yang di perlihatkan


oleh kedua kakak beradik keluarga Winston ini.


Setelah cukup berbicara akhirnya kakak beradik


itu melangkah tenang menyusuri karpet merah


menuju ke dalam ruangan.


"Masuklah duluan..Aku ada urusan sedikit.!"


Catharina menatap Lucas sedikit heran, tapi


akhirnya dia mengangguk dan kembali berjalan.


Tidak lama dari kejauhan terdengar suara sirine khusus patwal, dan tidak lama rombongan moge pasukan khusus pengawal Putra Mahkota telah memasuki kawasan gedung tersebut, langsung menyapu semua area dan mensterilkan tempat. Semua orang kini berbaris rapi di sepanjang jalan utama masuk pintu depan dengan perasaan


tegang campur antusias ingin segera melihat


Sang Pangeran super tampan yang seharian


ini wajahnya sudah wara wiri di berbagai media


dan televisi. Saat ini semua orang sudah dapat mengenali sosok asli Sang Raja Masa Depan


dari kerajaan nya.


Tidak lama rombongan mobil pengawal muncul,


di susul kemudian dengan kedatangan sebuah


Limosin super mewah yang membuat semua


mata terpana melihat penampakan mobil itu.


Ansel yang baru saja datang dari bagian dalam


gedung kini berdiri di tepat di depan pintu mobil


bersama beberapa staf istana serta panitia


pelaksana acara ini. Mereka semua berbaris rapi menyambut kehadiran Sang Pangeran.


Semua orang menahan napas dan terkesima


begitu melihat Sang Putra Mahkota keluar dari


dalam mobil. Di susul kemudian dengan satu


sosok cantik jelita yang membuat fokus mata


Ansel dan sebagian mata wartawan mengarah padanya, terpesona maksimal pada sosok yang


sangat istimewa itu. Semua orang kini bengong,


seakan linglung melihat kemunculan mereka


berdua. Ada apa dengan pasangan ini.? Kenapa


aura keduanya tampak begitu menyatu, dan


tidak bisa di pisahkan.! Mereka berdua tampak


begitu seimbang dan saling melengkapi. Itulah


sebagian besar isi hati orang-orang yang ada


di sana dalam keterpesonaan mereka.


"Selamat datang Yang Mulya.."


Semua orang langsung serempak menyambut


sembari membungkuk setengah badan di depan


Sang Pangeran yang malam ini tampil dalam


balutan jas resmi mewah yang membungkus


elegan tubuh gagah perkasanya.


Raya berdiri kaku di samping Aaron, baru kali


ini dia menyadari betul siapa sosok laki-laki yang


telah menikahinya itu sesungguhnya. Sosok ini


ternyata sangat Tinggi dan Mulya di mata semua


orang terutama rakyatnya. Jiwanya semakin jatuh


ke dasar bumi yang paling dalam. Tidak, dirinya


bukanlah apa-apa di banding pria ini. Dia hanyalah kotoran yang tidak sengaja menempel di kaki


Sang Pangeran. Raya menundukkan kepalanya


sembari mencoba menenangkan hatinya.


"Silahkan masuk Yang Mulya.. semua tamu


sudah menunggu kehadiran anda di dalam."


Salah seorang staf istana segera membimbing


Aaron untuk melangkah. Tanpa di duga tangan


Aaron menggenggam erat tangan Raya yang


terkejut dan menahan tangan nya membuat


Aaron melirik dan menatap nya tajam penuh


intimidasi. Aura di wajahnya tampak berbeda


dengan sorot mata tidak terbaca.


"Yang Mulya.. jangan membuat masalah, aku


tidak ingin ada yang curiga pada kita aaa...."


Ucapan Raya tertahan ketika tiba-tiba lampu


di tempat itu berkedip-kedip tidak terkontrol


seperti terjadi konsleting listrik membuat Raya


reflek mendekatkan dirinya kearah Aaron yang


langsung mendekapnya dengan sikap waspada.


"A-Aaron.. apa yang terjadi.? Aku takut..."


Lirih Raya yang kini memeluk erat tubuh Aaron


saat lampu-lampu itu mengeluarkan bunyi


mengerikan seperti akan terbakar.


"Sepertinya ada yang tidak beres.!"


Desis Aaron sambil mempererat pelukannya.


Dia mulai mengeluarkan senjata dari balik


jas yang di pakainya dan mengokang nya.


"Cari tahu apa yang terjadi..!"


Perintah kepala pengawal dengan wajah kelam


karena ini adalah hal di luar dugaan. Semua


prajurit pengawal tampak menyebar mengecek


ke bagian belakang gedung ini. Suasana kini


berubah gaduh di serang kepanikan, karena


yang bermasalah bukan hanya lampu biasa


tapi lampu kamera pun ikut padam. Ini adalah


sesuatu yang aneh..


***

__ADS_1


Happy Reading....


__ADS_2