
***
Kereta gantung berukuran cukup besar itu kini
kembali melaju perlahan menjelajahi seluruh
lintasan di atas ketinggian yang bisa membuat
orang semaput kalau tidak kuat. Seluruh anak
buah Aaron yang bertugas menyiapkan semua
surprise ini masih bertahan di posisi. Sedang
Ansel yang ada di helikopter tampak menarik
nafas panjang mencoba mengikhlaskan semua
ini, sekarang dia sudah tenang karena perasan
Aaron dan Raya ternyata saling bersambut.
Sementara kedua insan yang sedang di selimuti
oleh kebahagiaan itu, saat ini masih terhanyut
dalam ciuman panas membara yang semakin
lama semakin menggebu dan membawa mereka
pada gairah bercinta yang seolah tidak mengenal tempat dan situasi. Ciuman panas Aaron kini
sudah mulai turun ke bagian leher Raya yang
tertutup mantel hingga sedikit menyulitkan
dirinya untuk menikmati kehalusan dan
kelembutan nya.
"Emhh..Aaron.. sudah.! hentikan semua ini.
Kita benar-benar memalukan saat ini.!"
Raya mencoba melepaskan diri dari serangan
bibir Aaron yang semakin liar saja menciumi
tengkuk dan lehernya. Namun Aaron kembali menyambar bibirnya, ********** kuat dan
hangat seolah tidak ingin melepaskannya.
Akhirnya Raya mendorong halus dada Aaron
agar pagutan nya terlepas saat mereka sudah kehabisan pasokan oksigen di dalam paru-paru.
Kening mereka kini saling menempel dengan
tatapan yang saling mengunci. Sorot mata Aaron tampak di penuhi oleh kabut gairah yang selalu
naik saat dirinya berdekatan dan bersentuhan
dengan Raya. Entah kenapa dia selalu kesulitan mengendalikan hasrat dan gairah nya tiap kali
berada di dekat wanita ini. Sesuatu yang aneh
memang, kenapa dirinya selalu saja berhasrat
dan bernafsu serta menginginkan istrinya ini.
Tangan Aaron mengusap lembut bibir Raya yang
kini sudah membengkak akibat ulahnya. Mata
mereka saling menatap kuat mencoba untuk
menyatukan rasa yang kini membuncah di dada.
Rasa cinta yang begitu besar dan dalam hingga
menenggelamkan keduanya ke dalam samudra asmara yang kian menggelora.
"Aku menginginkan mu sekarang.!"
Raya melebarkan matanya sambil menggeleng
pelan dan mencoba menjauhkan dirinya .
"Jangan konyol Aaron. Kita berada di ketinggian,
kita sedang berada di dalam kereta."
"Memang nya kenapa, kita bisa menutup kaca
kereta ini agar tidak kedinginan.!"
"Aaron.. hentikan ! Kenapa di otakmu sekarang
selalu saja berisi hal seperti itu !"
"Daya tarikmu terlalu kuat, hingga tidak pernah
membiarkanku tenang sebentar saja tanpa
memikirkan keindahan tubuh mu ini.!"
"Aaron aku mohon hentikan ! Kamu benar-benar
keterlaluan.! Aku mau turun sekarang. Tempat
ini gelap sekali, aku takut."
"Apa yang kau takutkan.? Bukankah ada aku
di sini ?"
"Tapi aku takut gelap Aaron..! Ayo kita turun."
Rajuk Raya dengan wajah yang terlihat memelas.
Mereka saling menatap, Aaron tersenyum tipis.
Dia kembali merengkuh tubuh Raya ke dalam
dekapannya. Raya merebahkan kepalanya di dada Aaron dengan telapak tangan berada di bahunya. Aaron semakin mempererat pelukannya seraya menciumi puncak kepala istrinya itu. Saat ini
hatinya terasa hangat dan tenang. Perasaannya
begitu ringan setelah dia mengungkapkan segala beban rasa yang selama ini membelenggu nya.
"Baiklah..kita akan segera turun. Lagipula kau
tidak boleh terlalu lama berada di luar ruangan.
Kesehatan mu bisa terganggu.!"
Bisik Aaron dengan suara yang sedikit berat dan
pelan menahan serbuan hasrat yang menguasai
dirinya dan memanaskan tubuhnya.
"Aaron.. apakah semua ini benar ? Apakah ini
bukan hanya sekedar lelucon ? Aku masih tidak
percaya kau bisa berpaling dari cinta pertama
mu dengan secepat ini "
Aaron terdiam, memejamkan matanya. Tapi
pelukannya terasa semakin erat.
"Kau mendengar pembicaraan ku dengan
dokter mata keranjang itu.?"
"Aku tidak sengaja menguping. Aku.."
"Aku sudah lama berusaha melupakan semuanya.
Aku sadar cinta tidak harus memiliki. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Dan itu
sudah cukup bagiku untuk mengikhlaskan nya.!"
Raya memejamkan matanya, masih saja ada
rasa sakit yang mengiris hatinya menyadari
Aaron begitu peduli pada cinta pertama nya.
"Kau masih begitu peduli padanya.. Apakah
masih ada rasa cinta untuk nya di hatimu.?"
Aaron kembali terdiam, namun raut wajahnya
kini tampak sedikit mengeras. Wanita ini masih
saja meragukan perasaan nya yang saat ini
sudah tercurah seluruhnya hanya untuk dirinya.
Dia melonggarkan pelukannya, merengkuh bahu
Raya hingga mata mereka saling menatap.
"Aku hanya ingin mereka hidup tenang agar
tidak ada lagi ganjalan yang bisa mengganggu ketenangan dan kenyamanan hidupmu ke depan.
Kau tidak boleh tertekan dengan semua masa
lalu ku.! Kau adalah prioritas ku saat ini."
Raya menatap Aaron kuat mencoba mencari
kebenaran dan keyakinan dari perkataannya.
Dan sorot mata elang itu meyakinkan segalanya.
"Jadi semua ini benar-benar nyata adanya.?
Cintamu untukku bukanlah main-main.?"
"Apa perlu aku terjun ke bawah sana untuk
membuktikan bahwa seluruh perasaanku saat
ini hanya tersisa untuk mu saja.?"
Raya menggeleng kuat sambil kembali memeluk
erat tubuh Aaron, menyusupkan wajahnya di
belahan dada bidang suaminya itu.
__ADS_1
"Tidak, aku percaya padamu sekarang. Aku hanya tidak ingin hatimu terbagi. Aku ingin memiliki
dirimu secara utuh. Tidak boleh ada wanita lain
di hatimu, kau hanyalah milikku seorang Aaron."
Lirih Raya lembut yang membuat bibir Aaron
terangkat tinggi. Dia membelai rambut Raya.
"Aku adalah milikmu, dan kau adalah milikku.
Tidak boleh ada orang ketiga dalam hati kita.!"
Bisik Aaron sambil mendaratkan satu ciuman
mesra di bibir Raya yang langsung memerah.
"Tentu saja.. Aku adalah milikmu.. seutuhnya.!"
"Ayo kita kembali ke hotel. Kita akan menikmati
malam ini dengan berbeda.!"
Raya menatap wajah Aaron penuh antisipasi.
Pria itu tampak tersenyum penuh arti. Dia segera melepaskan diri dari pelukan hangat Aaron saat
kereta yang membawa mereka sudah tiba di ujung lintasan. Alex dan Benjamin serta para petugas wahana sudah menunggu di pintu keluar.
Mereka semua membungkukkan badan begitu
pintu besi bergeser. Dengan gerakan santai Aaron mengangkat tubuh Raya ke dalam gendongannya. Raya melilitkan tangannya ke leher Aaron sambil menyandarkan kepalanya mencoba mencari kehangatan dan kenyamanan. Mereka semua
melangkah menuruni tangga menuju parkiran.
"Yang Mulya situasi di ibukota sudah mulai tidak terkendali. Pihak istana akan melakukan rapat terbatas untuk mengambil langkah tegas !"
Alex berbicara saat mereka sudah berada di dalam mobil dan mulai melaju meninggalkan wahana
wisata yang telah menjadi saksi pernyataan cinta seorang Aaron Marvell De Enzo pada Sang istri
dengan sangat fantastis. Dan itu benar-benar di
luar dugaan, sangat mengejutkan, seorang pria
yang sangat dingin dan datar seperti Aaron bisa
bertindak romantis seperti itu.
Wajah Aaron kini berubah dingin namun masih
tampak acuh. Dia menyelimuti tubuh Raya yang
duduk bersandar nyaman di sebelahnya.
"Besok turunkan serangan tandingan kita. Aku
ingin melihat sampai dimana Alfred Winston
akan berulah.!"
"Baik Yang Mulya.. Semua jaringan sudah siap
tinggal menunggu komando langsung."
"Kalau begitu keluarkan surat perintahnya
malam ini juga, besok pagi mereka sudah
harus mulai bergerak dan membuat kejutan.!"
"Siap Yang Mulya, laksanakan..!"
Sambut Alex yang terlihat sibuk memainkan
tablet tipis di tangannya. Kembali.. hati Raya
mulai di selimuti oleh rasa tidak nyaman akan
situasi politik dan keamanan yang saat ini
semakin tidak terkendali. Huhh..semua ini
karena dirinya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari..
Tubuh Raya dan Aaron saat ini bermandikan
peluh dan keringat setelah bertempur hebat
di atas tempat tidur hingga mencapai beberapa
ronde. Mereka seolah tiada puasnya. Bercinta
dalam keadaan hati dan perasaan yang sudah
sama-sama saling memiliki rasanya memang
sangat berbeda. Begitu nikmat dan syahdu.
Aaron sangat lah jantan. Tubuh bagian bawah
nya yang perkasa seolah tiada lelahnya. Selalu
dan selalu terbangun kembali setelah beberapa
saat beristirahat hingga membuat Raya harus
Namun mau tidak mau dia kembali melayani
hasrat suaminya yang tiada habisnya itu.
"Aku sudah tidak kuat lagi sayang.. Kumohon
akhiri sampai di sini, jangan menyiksaku lagi."
Bisik Raya pelan saat mereka baru saja mencapai
puncak kenikmatan bersama untuk kesekian
kalinya. Nafas mereka saat ini saling berkejaran dengan mata yang saling menatap redup penuh kepuasan. Tubuh Aaron masih berada di atas
tubuh Raya dan juniornya yang perkasa masih tenggelam dalam lembah kenikmatan milik istri
nya yang tiada batas itu. Lembah yang selalu memberikan kehangatan dan kepuasan yang
tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Siapa
laki-laki yang tidak akan tergila-gila dengan
tubuh istimewa ini. Aaron adalah pria yang
sangat beruntung karena bisa menjadi
pemiliknya.
"Baiklah..Malam ini cukup sampai di sini. Kita
akan melanjutkan nya nanti setelah kau siap."
"Aaron.. kamu jahat.! Kamu benar-benar tidak
berperasaan. Aku bisa mati kelelahan kalau
kau melakukan nya lagi.!"
"Bukankah kau juga sangat menyukainya.?"
"Tapi tidak selama ini juga sayang..Aku cape.."
"Okay baby..kita akan mengulangnya nanti. Kau
sendiri yang membuatku tidak pernah merasa
puas untuk menikmati tubuhmu ini.!"
"Aaron..!! sudah hentikan.!"
Raya memekik kuat sambil memukul punggung
Aaron di telan rasa kesal sekaligus gemas atas
sikap mesum suaminya yang sudah kelewat
batas itu. Aaron tersenyum tipis sambil kembali ******* kuat bibir mungil Raya yang sudah
mati rasa karena terlalu bengkak.
"Aku mencintaimu Maharaya.. sayangku.."
Bisiknya pelan sambil kemudian dalam gerakan
cepat dia mengangkat tubuh Raya di bawa turun
dari tempat atas tidur yang sudah seperti kapal
pecah itu, amburadul tak berbentuk.
"Sayang.. apa yang kau lakukan.? Aku mau
tidur sekarang..aku lelah..!"
"Kau tidak boleh tidur dalam keadaan kotor.
Tubuhmu terlalu berharga untuk di biarkan
kotor walau hanya sebentar saja.!"
"Kalau begitu turunkan aku. Aku bisa sendiri.!"
"Jangan membantahku Lady.! Kau hanya harus
diam dan menurut.!"
"Terserah.! Lagipula aku memang lelah.!"
Decak Raya kesal. Tidak ada lagi perdebatan.
Saat ini Aaron sudah mulai sibuk membersihkan
tubuh istrinya itu dengan perlakuan yang sangat lembut dan sabar jauh dari kesan seorang Aaron
Sang ketua mafia bawah tanah yang sadis dan
kejam.
Beberapa waktu kemudian...
Raya kini sudah terlelap dalam tidur lelahnya.
Tubuhnya yang ringkih bergelung manja dalam
perlindungan tubuh Aaron yang gagah. Sedang
__ADS_1
Aaron masih belum bisa memejamkan mata.
Dia masih ingin menikmati keindahan yang
ada di depannya. Keindahan yang kini di
pastikan hanya miliknya seorang.
Sebenarnya banyak hal yang saat ini memenuhi pikirannya. Terutama tentang masa depan wanita
yang sangat di cintainya ini. Dia harus membawa
wanita ini ke hadapan dunia, dan bukan sebagai
sekretaris nya lagi, melainkan sebagai istrinya,
pendamping hidupnya , calon Ratu masa depan
negara xxx..
Namun di atas semua beban pikirannya itu satu
hal yang pasti, saat ini hatinya sedang sangat
bahagia karena cinta nya ternyata tidak sepihak. Wanita ini ternyata memiliki perasaan yang sama dengan dirinya dan itu sesuatu yang membuat
dia berikrar akan melakukan apapun untuk
kebahagiaan dan kenyamanan hidup istrinya ini.
Aaron mengecup lembut bibir Raya yang masih
menyisakan sedikit bengkak, tampak sensual
dan sangat menggoda.
"Maharaya..Aku benar-benar tidak menyangka
akan merasakan jatuh cinta lagi. Bahkan bisa
mencintai wanita sampai segila ini.!"
Gumam Aaron sambil mendekap erat tubuh
Raya. Dia menarik nafas panjang mencoba memejamkan mata dengan segala kelegaan
hati dan perasaannya. Namun baru saja dia
akan terlelap tiba-tiba saja ponselnya bergetar
di atas nakas . Aaron mendengus, benar-benar
cari mati Si Alex ini , berani sekali mengganggu
waktu istirahat nya tengah malam begini.
"Apa kamu sudah bosan hidup hahh ? Kau tahu
bukan, ini adalah quality time ku ?!!"
"Tolong buka pintu kamar mu Yang Mulya.!"
Aaron tertegun, alisnya kini terangkat. Bukan
suara Alex yang terdengar, tapi suara seorang
wanita yang bernada lembut namun tegas.
"Siapa kau ? Berani sekali mengganggu dan
memberi perintah padaku.! Kau tahu ini jam
berapa ?"
"Prince Marvell..aku hanya ingin melihat dan memastikan bahwa putri ku baik-baik saja !"
Aaron membeku seketika, tangannya bergetar.
Wajahnya tiba-tiba mengeras. Tampang nya kini berubah dingin dan datar. Ibu kandung Raya kah
yang datang.? Berani sekali dia datang ke tempat
ini.! Jadi..dia berhasil melacak keberadaan Raya.? Bagaimana bisa.? Bukankah dia sudah menutup
akses data tentang identitas dan keberadaanya.?
Baiklah..dia ingin melihat seperti apakah wanita
yang telah berani mengasingkan berlian berharga
miliknya itu.!
Dia segera bangkit, menyelimuti tubuh Raya
yang terlihat menggeliat dan mendesah dalam
tidurnya karena kehilangan kehangatan yang
tadi melingkupi dirinya. Aaron meraih mantel
tidur, menutupkan ke tubuhnya yang polos.
Setelah itu dia mulai melangkah tenang kearah
pintu kamar yang menjulang tinggi dan kokoh.
Pintu terbuka, Aaron berdiri tenang di ambang
pintu dengan gaya yang sangat santai. Kedua
tangannya di masukan ke dalam saku celana.
Matanya kini bersirobos tatap dengan sepasang
mata indah Sebening kristal dengan bentuk
wajah yang begitu elok dan memukau walau
sudah termakan usia.
"Selamat malam Yang Mulya Putra Mahkota..
Maaf mengganggu mu malam-malam begini."
Aaron mematung, menatap diam wajah wanita
elegan di hadapannya itu. Wajah yang memiliki
kemiripan dengan wanita miliknya. Dan yang
lebih membuat dia terkejut adalah keberadaan
laki-laki tinggi besar berperangai tegas dan keras
yang berdiri di belakang wanita setengah baya
itu. Laki-laki itu sangat di kenalnya, karena dia
sering meminta petunjuk ataupun bantuan
pasukan padanya saat dirinya dalam kesulitan.
Terakhir kali adalah waktu tragedi pulau terpencil,
tempat dirinya bertemu untuk pertama kalinya
dengan Raya. Dia datang ke tempat itu bersama pasukan yang di kirim oleh Pria ini atas perintah
pimpinannya.
"Selamat malam.. Nyonya..! Selamat malam
Mr. Hareem Murat..!"
Aaron menyahut dengan tatapan kebingungan
melihat kehadiran dua orang itu. Wanita elegan
tadi tersenyum tenang, namun matanya menatap tajam wajah Aaron yang sedikit menyingkir ke
sisi pintu saat melihat wanita itu mendekat.
"Permisi Yang Mulya..Aku berjanji tidak akan
lama. Hanya ingin memastikan bagaimana
keadaan putriku saat ini.!"
Wanita itu mulai melangkah masuk ke dalam
kamar dengan anggun dan mempesona. Aneh,
Aaron tidak bisa melarang atau mencegah apa
yang di lakukan oleh wanita itu.
Aaron menatap laki-laki tinggi besar yang kini
maju ke hadapan nya, berdiri di depan nya. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa laki-laki yang
notabenenya adalah tangan kanan seorang Pria
dengan pengaruh besar di dunia bawah tanah itu
datang ke tempat ini.? Bahkan datang bersama dengan wanita memukau yang mengaku sebagai
ibu kandung istrinya itu. Ini sungguh mengejutkan baginya. Aaron menundukkan kepalanya sedikit
saat pria itu membungkukkan badannya.
"Mr Murat.. kau datang ke sini tanpa memberi
kabar terlebih dahulu. Apa ada sesuatu yang
ingin kau bicarakan dengan ku.?"
"Aku datang bersama dengan nya. Posisiku di
sini sebagai pengawal pribadinya.!"
Aaron terkejut, dia berdiri mematung di tempat.
Matanya tampak tidak percaya dengan apa yang
barusan di dengarnya. Mr Murat datang sebagai
pengawal Ibu kandung Raya.? Siapa wanita ini
sebenarnya.? Inikah alasannya kenapa dia dan
semua bawahannya tidak bisa meretas identitas
detail kedua orang tua kandung Raya.? Informasi
tentang jati diri mereka sangat terselubung dan
terkunci dengan rapi hingga tidak bisa di tembus
__ADS_1
oleh hacker andalannya..Sepenting apa mereka??
***