Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
80. Tamu Tak Terduga


__ADS_3

***


Kereta gantung berukuran cukup besar itu kini


kembali melaju perlahan menjelajahi seluruh


lintasan di atas ketinggian yang bisa membuat


orang semaput kalau tidak kuat. Seluruh anak


buah Aaron yang bertugas menyiapkan semua


surprise ini masih bertahan di posisi. Sedang


Ansel yang ada di helikopter tampak menarik


nafas panjang mencoba mengikhlaskan semua


ini, sekarang dia sudah tenang karena perasan


Aaron dan Raya ternyata saling bersambut.


Sementara kedua insan yang sedang di selimuti


oleh kebahagiaan itu, saat ini masih terhanyut


dalam ciuman panas membara yang semakin


lama semakin menggebu dan membawa mereka


pada gairah bercinta yang seolah tidak mengenal tempat dan situasi. Ciuman panas Aaron kini


sudah mulai turun ke bagian leher Raya yang


tertutup mantel hingga sedikit menyulitkan


dirinya untuk menikmati kehalusan dan


kelembutan nya.


"Emhh..Aaron.. sudah.! hentikan semua ini.


Kita benar-benar memalukan saat ini.!"


Raya mencoba melepaskan diri dari serangan


bibir Aaron yang semakin liar saja menciumi


tengkuk dan lehernya. Namun Aaron kembali menyambar bibirnya, ********** kuat dan


hangat seolah tidak ingin melepaskannya.


Akhirnya Raya mendorong halus dada Aaron


agar pagutan nya terlepas saat mereka sudah kehabisan pasokan oksigen di dalam paru-paru.


Kening mereka kini saling menempel dengan


tatapan yang saling mengunci. Sorot mata Aaron tampak di penuhi oleh kabut gairah yang selalu


naik saat dirinya berdekatan dan bersentuhan


dengan Raya. Entah kenapa dia selalu kesulitan mengendalikan hasrat dan gairah nya tiap kali


berada di dekat wanita ini. Sesuatu yang aneh


memang, kenapa dirinya selalu saja berhasrat


dan bernafsu serta menginginkan istrinya ini.


Tangan Aaron mengusap lembut bibir Raya yang


kini sudah membengkak akibat ulahnya. Mata


mereka saling menatap kuat mencoba untuk


menyatukan rasa yang kini membuncah di dada.


Rasa cinta yang begitu besar dan dalam hingga


menenggelamkan keduanya ke dalam samudra asmara yang kian menggelora.


"Aku menginginkan mu sekarang.!"


Raya melebarkan matanya sambil menggeleng


pelan dan mencoba menjauhkan dirinya .


"Jangan konyol Aaron. Kita berada di ketinggian,


kita sedang berada di dalam kereta."


"Memang nya kenapa, kita bisa menutup kaca


kereta ini agar tidak kedinginan.!"


"Aaron.. hentikan ! Kenapa di otakmu sekarang


selalu saja berisi hal seperti itu !"


"Daya tarikmu terlalu kuat, hingga tidak pernah


membiarkanku tenang sebentar saja tanpa


memikirkan keindahan tubuh mu ini.!"


"Aaron aku mohon hentikan ! Kamu benar-benar


keterlaluan.! Aku mau turun sekarang. Tempat


ini gelap sekali, aku takut."


"Apa yang kau takutkan.? Bukankah ada aku


di sini ?"


"Tapi aku takut gelap Aaron..! Ayo kita turun."


Rajuk Raya dengan wajah yang terlihat memelas.


Mereka saling menatap, Aaron tersenyum tipis.


Dia kembali merengkuh tubuh Raya ke dalam


dekapannya. Raya merebahkan kepalanya di dada Aaron dengan telapak tangan berada di bahunya. Aaron semakin mempererat pelukannya seraya menciumi puncak kepala istrinya itu. Saat ini


hatinya terasa hangat dan tenang. Perasaannya


begitu ringan setelah dia mengungkapkan segala beban rasa yang selama ini membelenggu nya.


"Baiklah..kita akan segera turun. Lagipula kau


tidak boleh terlalu lama berada di luar ruangan.


Kesehatan mu bisa terganggu.!"


Bisik Aaron dengan suara yang sedikit berat dan


pelan menahan serbuan hasrat yang menguasai


dirinya dan memanaskan tubuhnya.


"Aaron.. apakah semua ini benar ? Apakah ini


bukan hanya sekedar lelucon ? Aku masih tidak


percaya kau bisa berpaling dari cinta pertama


mu dengan secepat ini "


Aaron terdiam, memejamkan matanya. Tapi


pelukannya terasa semakin erat.


"Kau mendengar pembicaraan ku dengan


dokter mata keranjang itu.?"


"Aku tidak sengaja menguping. Aku.."


"Aku sudah lama berusaha melupakan semuanya.


Aku sadar cinta tidak harus memiliki. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Dan itu


sudah cukup bagiku untuk mengikhlaskan nya.!"


Raya memejamkan matanya, masih saja ada


rasa sakit yang mengiris hatinya menyadari


Aaron begitu peduli pada cinta pertama nya.


"Kau masih begitu peduli padanya.. Apakah


masih ada rasa cinta untuk nya di hatimu.?"


Aaron kembali terdiam, namun raut wajahnya


kini tampak sedikit mengeras. Wanita ini masih


saja meragukan perasaan nya yang saat ini


sudah tercurah seluruhnya hanya untuk dirinya.


Dia melonggarkan pelukannya, merengkuh bahu


Raya hingga mata mereka saling menatap.


"Aku hanya ingin mereka hidup tenang agar


tidak ada lagi ganjalan yang bisa mengganggu ketenangan dan kenyamanan hidupmu ke depan.


Kau tidak boleh tertekan dengan semua masa


lalu ku.! Kau adalah prioritas ku saat ini."


Raya menatap Aaron kuat mencoba mencari


kebenaran dan keyakinan dari perkataannya.


Dan sorot mata elang itu meyakinkan segalanya.


"Jadi semua ini benar-benar nyata adanya.?


Cintamu untukku bukanlah main-main.?"


"Apa perlu aku terjun ke bawah sana untuk


membuktikan bahwa seluruh perasaanku saat


ini hanya tersisa untuk mu saja.?"


Raya menggeleng kuat sambil kembali memeluk


erat tubuh Aaron, menyusupkan wajahnya di


belahan dada bidang suaminya itu.

__ADS_1


"Tidak, aku percaya padamu sekarang. Aku hanya tidak ingin hatimu terbagi. Aku ingin memiliki


dirimu secara utuh. Tidak boleh ada wanita lain


di hatimu, kau hanyalah milikku seorang Aaron."


Lirih Raya lembut yang membuat bibir Aaron


terangkat tinggi. Dia membelai rambut Raya.


"Aku adalah milikmu, dan kau adalah milikku.


Tidak boleh ada orang ketiga dalam hati kita.!"


Bisik Aaron sambil mendaratkan satu ciuman


mesra di bibir Raya yang langsung memerah.


"Tentu saja.. Aku adalah milikmu.. seutuhnya.!"


"Ayo kita kembali ke hotel. Kita akan menikmati


malam ini dengan berbeda.!"


Raya menatap wajah Aaron penuh antisipasi.


Pria itu tampak tersenyum penuh arti. Dia segera melepaskan diri dari pelukan hangat Aaron saat


kereta yang membawa mereka sudah tiba di ujung lintasan. Alex dan Benjamin serta para petugas wahana sudah menunggu di pintu keluar.


Mereka semua membungkukkan badan begitu


pintu besi bergeser. Dengan gerakan santai Aaron mengangkat tubuh Raya ke dalam gendongannya. Raya melilitkan tangannya ke leher Aaron sambil menyandarkan kepalanya mencoba mencari kehangatan dan kenyamanan. Mereka semua


melangkah menuruni tangga menuju parkiran.


"Yang Mulya situasi di ibukota sudah mulai tidak terkendali. Pihak istana akan melakukan rapat terbatas untuk mengambil langkah tegas !"


Alex berbicara saat mereka sudah berada di dalam mobil dan mulai melaju meninggalkan wahana


wisata yang telah menjadi saksi pernyataan cinta seorang Aaron Marvell De Enzo pada Sang istri


dengan sangat fantastis. Dan itu benar-benar di


luar dugaan, sangat mengejutkan, seorang pria


yang sangat dingin dan datar seperti Aaron bisa


bertindak romantis seperti itu.


Wajah Aaron kini berubah dingin namun masih


tampak acuh. Dia menyelimuti tubuh Raya yang


duduk bersandar nyaman di sebelahnya.


"Besok turunkan serangan tandingan kita. Aku


ingin melihat sampai dimana Alfred Winston


akan berulah.!"


"Baik Yang Mulya.. Semua jaringan sudah siap


tinggal menunggu komando langsung."


"Kalau begitu keluarkan surat perintahnya


malam ini juga, besok pagi mereka sudah


harus mulai bergerak dan membuat kejutan.!"


"Siap Yang Mulya, laksanakan..!"


Sambut Alex yang terlihat sibuk memainkan


tablet tipis di tangannya. Kembali.. hati Raya


mulai di selimuti oleh rasa tidak nyaman akan


situasi politik dan keamanan yang saat ini


semakin tidak terkendali. Huhh..semua ini


karena dirinya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari..


Tubuh Raya dan Aaron saat ini bermandikan


peluh dan keringat setelah bertempur hebat


di atas tempat tidur hingga mencapai beberapa


ronde. Mereka seolah tiada puasnya. Bercinta


dalam keadaan hati dan perasaan yang sudah


sama-sama saling memiliki rasanya memang


sangat berbeda. Begitu nikmat dan syahdu.


Aaron sangat lah jantan. Tubuh bagian bawah


nya yang perkasa seolah tiada lelahnya. Selalu


dan selalu terbangun kembali setelah beberapa


saat beristirahat hingga membuat Raya harus


Namun mau tidak mau dia kembali melayani


hasrat suaminya yang tiada habisnya itu.


"Aku sudah tidak kuat lagi sayang.. Kumohon


akhiri sampai di sini, jangan menyiksaku lagi."


Bisik Raya pelan saat mereka baru saja mencapai


puncak kenikmatan bersama untuk kesekian


kalinya. Nafas mereka saat ini saling berkejaran dengan mata yang saling menatap redup penuh kepuasan. Tubuh Aaron masih berada di atas


tubuh Raya dan juniornya yang perkasa masih tenggelam dalam lembah kenikmatan milik istri


nya yang tiada batas itu. Lembah yang selalu memberikan kehangatan dan kepuasan yang


tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Siapa


laki-laki yang tidak akan tergila-gila dengan


tubuh istimewa ini. Aaron adalah pria yang


sangat beruntung karena bisa menjadi


pemiliknya.


"Baiklah..Malam ini cukup sampai di sini. Kita


akan melanjutkan nya nanti setelah kau siap."


"Aaron.. kamu jahat.! Kamu benar-benar tidak


berperasaan. Aku bisa mati kelelahan kalau


kau melakukan nya lagi.!"


"Bukankah kau juga sangat menyukainya.?"


"Tapi tidak selama ini juga sayang..Aku cape.."


"Okay baby..kita akan mengulangnya nanti. Kau


sendiri yang membuatku tidak pernah merasa


puas untuk menikmati tubuhmu ini.!"


"Aaron..!! sudah hentikan.!"


Raya memekik kuat sambil memukul punggung


Aaron di telan rasa kesal sekaligus gemas atas


sikap mesum suaminya yang sudah kelewat


batas itu. Aaron tersenyum tipis sambil kembali ******* kuat bibir mungil Raya yang sudah


mati rasa karena terlalu bengkak.


"Aku mencintaimu Maharaya.. sayangku.."


Bisiknya pelan sambil kemudian dalam gerakan


cepat dia mengangkat tubuh Raya di bawa turun


dari tempat atas tidur yang sudah seperti kapal


pecah itu, amburadul tak berbentuk.


"Sayang.. apa yang kau lakukan.? Aku mau


tidur sekarang..aku lelah..!"


"Kau tidak boleh tidur dalam keadaan kotor.


Tubuhmu terlalu berharga untuk di biarkan


kotor walau hanya sebentar saja.!"


"Kalau begitu turunkan aku. Aku bisa sendiri.!"


"Jangan membantahku Lady.! Kau hanya harus


diam dan menurut.!"


"Terserah.! Lagipula aku memang lelah.!"


Decak Raya kesal. Tidak ada lagi perdebatan.


Saat ini Aaron sudah mulai sibuk membersihkan


tubuh istrinya itu dengan perlakuan yang sangat lembut dan sabar jauh dari kesan seorang Aaron


Sang ketua mafia bawah tanah yang sadis dan


kejam.


Beberapa waktu kemudian...


Raya kini sudah terlelap dalam tidur lelahnya.


Tubuhnya yang ringkih bergelung manja dalam


perlindungan tubuh Aaron yang gagah. Sedang

__ADS_1


Aaron masih belum bisa memejamkan mata.


Dia masih ingin menikmati keindahan yang


ada di depannya. Keindahan yang kini di


pastikan hanya miliknya seorang.


Sebenarnya banyak hal yang saat ini memenuhi pikirannya. Terutama tentang masa depan wanita


yang sangat di cintainya ini. Dia harus membawa


wanita ini ke hadapan dunia, dan bukan sebagai


sekretaris nya lagi, melainkan sebagai istrinya,


pendamping hidupnya , calon Ratu masa depan


negara xxx..


Namun di atas semua beban pikirannya itu satu


hal yang pasti, saat ini hatinya sedang sangat


bahagia karena cinta nya ternyata tidak sepihak. Wanita ini ternyata memiliki perasaan yang sama dengan dirinya dan itu sesuatu yang membuat


dia berikrar akan melakukan apapun untuk


kebahagiaan dan kenyamanan hidup istrinya ini.


Aaron mengecup lembut bibir Raya yang masih


menyisakan sedikit bengkak, tampak sensual


dan sangat menggoda.


"Maharaya..Aku benar-benar tidak menyangka


akan merasakan jatuh cinta lagi. Bahkan bisa


mencintai wanita sampai segila ini.!"


Gumam Aaron sambil mendekap erat tubuh


Raya. Dia menarik nafas panjang mencoba memejamkan mata dengan segala kelegaan


hati dan perasaannya. Namun baru saja dia


akan terlelap tiba-tiba saja ponselnya bergetar


di atas nakas . Aaron mendengus, benar-benar


cari mati Si Alex ini , berani sekali mengganggu


waktu istirahat nya tengah malam begini.


"Apa kamu sudah bosan hidup hahh ? Kau tahu


bukan, ini adalah quality time ku ?!!"


"Tolong buka pintu kamar mu Yang Mulya.!"


Aaron tertegun, alisnya kini terangkat. Bukan


suara Alex yang terdengar, tapi suara seorang


wanita yang bernada lembut namun tegas.


"Siapa kau ? Berani sekali mengganggu dan


memberi perintah padaku.! Kau tahu ini jam


berapa ?"


"Prince Marvell..aku hanya ingin melihat dan memastikan bahwa putri ku baik-baik saja !"


Aaron membeku seketika, tangannya bergetar.


Wajahnya tiba-tiba mengeras. Tampang nya kini berubah dingin dan datar. Ibu kandung Raya kah


yang datang.? Berani sekali dia datang ke tempat


ini.! Jadi..dia berhasil melacak keberadaan Raya.? Bagaimana bisa.? Bukankah dia sudah menutup


akses data tentang identitas dan keberadaanya.?


Baiklah..dia ingin melihat seperti apakah wanita


yang telah berani mengasingkan berlian berharga


miliknya itu.!


Dia segera bangkit, menyelimuti tubuh Raya


yang terlihat menggeliat dan mendesah dalam


tidurnya karena kehilangan kehangatan yang


tadi melingkupi dirinya. Aaron meraih mantel


tidur, menutupkan ke tubuhnya yang polos.


Setelah itu dia mulai melangkah tenang kearah


pintu kamar yang menjulang tinggi dan kokoh.


Pintu terbuka, Aaron berdiri tenang di ambang


pintu dengan gaya yang sangat santai. Kedua


tangannya di masukan ke dalam saku celana.


Matanya kini bersirobos tatap dengan sepasang


mata indah Sebening kristal dengan bentuk


wajah yang begitu elok dan memukau walau


sudah termakan usia.


"Selamat malam Yang Mulya Putra Mahkota..


Maaf mengganggu mu malam-malam begini."


Aaron mematung, menatap diam wajah wanita


elegan di hadapannya itu. Wajah yang memiliki


kemiripan dengan wanita miliknya. Dan yang


lebih membuat dia terkejut adalah keberadaan


laki-laki tinggi besar berperangai tegas dan keras


yang berdiri di belakang wanita setengah baya


itu. Laki-laki itu sangat di kenalnya, karena dia


sering meminta petunjuk ataupun bantuan


pasukan padanya saat dirinya dalam kesulitan.


Terakhir kali adalah waktu tragedi pulau terpencil,


tempat dirinya bertemu untuk pertama kalinya


dengan Raya. Dia datang ke tempat itu bersama pasukan yang di kirim oleh Pria ini atas perintah


pimpinannya.


"Selamat malam.. Nyonya..! Selamat malam


Mr. Hareem Murat..!"


Aaron menyahut dengan tatapan kebingungan


melihat kehadiran dua orang itu. Wanita elegan


tadi tersenyum tenang, namun matanya menatap tajam wajah Aaron yang sedikit menyingkir ke


sisi pintu saat melihat wanita itu mendekat.


"Permisi Yang Mulya..Aku berjanji tidak akan


lama. Hanya ingin memastikan bagaimana


keadaan putriku saat ini.!"


Wanita itu mulai melangkah masuk ke dalam


kamar dengan anggun dan mempesona. Aneh,


Aaron tidak bisa melarang atau mencegah apa


yang di lakukan oleh wanita itu.


Aaron menatap laki-laki tinggi besar yang kini


maju ke hadapan nya, berdiri di depan nya. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa laki-laki yang


notabenenya adalah tangan kanan seorang Pria


dengan pengaruh besar di dunia bawah tanah itu


datang ke tempat ini.? Bahkan datang bersama dengan wanita memukau yang mengaku sebagai


ibu kandung istrinya itu. Ini sungguh mengejutkan baginya. Aaron menundukkan kepalanya sedikit


saat pria itu membungkukkan badannya.


"Mr Murat.. kau datang ke sini tanpa memberi


kabar terlebih dahulu. Apa ada sesuatu yang


ingin kau bicarakan dengan ku.?"


"Aku datang bersama dengan nya. Posisiku di


sini sebagai pengawal pribadinya.!"


Aaron terkejut, dia berdiri mematung di tempat.


Matanya tampak tidak percaya dengan apa yang


barusan di dengarnya. Mr Murat datang sebagai


pengawal Ibu kandung Raya.? Siapa wanita ini


sebenarnya.? Inikah alasannya kenapa dia dan


semua bawahannya tidak bisa meretas identitas


detail kedua orang tua kandung Raya.? Informasi


tentang jati diri mereka sangat terselubung dan


terkunci dengan rapi hingga tidak bisa di tembus

__ADS_1


oleh hacker andalannya..Sepenting apa mereka??


***


__ADS_2