Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
55. Lamaran Mengejutkan


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aaron memejamkan mata lalu menarik kembali


wajahnya saat dia menyadari bahwa wanita yang


ada di hadapannya ini bukanlah wanita yang di inginkan nya. Catharina membuka mata, menatap heran kearah Aaron yang terdiam tanpa ekspresi.


Perlahan Catharina mendekatkan wajahnya, dia


tidak ingin melepaskan kesempatan ini begitu


saja, Aaron masih terdiam..dan..


PRANG !


Ada suara pecahan barang yang jatuh membuat


kedua orang itu tersentak kaget. Mereka melirik


ke arah sumber suara. Mata Aaron langsung bersirobos tatap dengan mata sendu sebening


kristal dari sosok wanita cantik yang sedang


berdiri di sebrang nya. Tampak sangat rapuh


dengan wajah pucat tak bersemangat.


Aaron melepaskan tangannya dari pinggang


Catharina yang langsung merapihkan kembali


gaunnya. Raya memalingkan wajahnya sesaat


seraya memejamkan mata, menahan laju air


mata yang memaksanya ingin keluar. Aaron


menegakkan badannya, masih menatap lurus


kearah Raya yang kini sedang berpaling kearah


Catharina. Wajah gadis bangsawan itu tampak memerah, antara malu dan perasaan kecewa


karena apa yang di harapkan nya ternyata tidak


terjadi gara-gara pecahan guci antik yang tidak sengaja tersenggol oleh Raya.


"Maafkan saya lady. Saya tidak sengaja."


Lirih Raya sambil menunduk kearah Catharina,


setelah itu dia berjongkok bermaksud untuk


memungut pecahan keramik yang berserakan


di lantai, hal itu membuat Aaron terkesiap.


"Raya..apa yang kau lakukan ? Biarkan OB


yang membersihkan semua itu !"


"Aaa ..."


Terlambat, Raya sudah keburu memekik kuat


saat jarinya tergores pecahan guci tersebut dan


mengucurkan darah. Dengan gerakan cepat tak


terlihat Aaron segera menyambar tubuh Raya,


mengangkatnya ke dalam pangkuan kemudian membawanya dan mendudukkan nya di kursi


kebesarannya. Wajah Aaron terlihat dingin,


ada emosi tapi juga kecemasan yang berlebih.


"Kenapa kamu ceroboh sekali hahh.?"


Geramnya sambil kemudian menghisap jari


tangan Raya yang terluka. Sementara Raya


sendiri saat ini tampak bengong melihat apa


yang di lakukan oleh suaminya itu. Termasuk


juga Catharina. Gadis itu terlihat diam dalam


kebekuan melihat perlakuan dan kepanikan


yang di pertontonkan oleh Aaron. Benarkah


pria itu Putra Mahkota ? Kenapa dia bersikap


berlebihan seperti itu melihat sekretaris nya


terluka.?


"Yang Mulya..Ini hanya luka kecil saja."


"Tidak ada luka kecil bagimu.! Kau tidak


boleh terluka sedikitpun.."


Raya melongo, menatap wajah Aaron yang


terlihat masih sangat dingin dan datar. Ada


apa dengan pria ini.? Kenapa dia sepanik ini.?


"Aaron.. sudahlah, kau terlalu berlebihan.!"


Raya menarik jarinya dari genggaman Aaron


karena pria itu masih menekan penurunan


darahnya. Aaron mengangkat wajahnya,


mata mereka kini saling menatap kuat.


"Maharaya..! Jangan menentang ku terus.!"


Raya membeku, terhenyak dalam diam. Aaron


kembali menghisap jarinya yang terluka hingga


Raya berjingkat dan memundurkan tubuhnya


saat dia mulai merasakan panas dingin. Dia


juga tidak enak dengan Catharina yang saat


ini sedang menatap mereka berdua dengan


sorot mata penuh rasa tidak percaya.


Wanita elegan itu mendekat kearah keduanya.


Berusaha untuk tetap tenang dan mengontrol


dirinya, berpikiran positif terhadap apa yang


telah dia lihat yang jelas-jelas tidak wajar.


"Apa lukanya cukup parah Miss Raya.?"


Aaron melirik kearah Catharina, tampak


cuek dan datar membuat Raya benar-benar


merasa tidak enak hati.


"Tidak lady..hanya luka kecil saja."


"Tapi kenapa Yang Mulya tampaknya sangat


khawatir sekali.?"


"Catharina.! Jangan ikut campur urusanku.!"


"Maaf Yang Mulya..Saya hanya khawatir saja."


" Kalau kau mau aku pergi menjalankan agenda


istana hari ini berhentilah bicara dan ikuti saja


apa kataku.!"


Catharina tertegun. Dia menarik napas panjang.


Saling pandang dengan Raya yang semakin


merasa tidak enak dengan suasana canggung


ini. Akhirnya Aaron selesai dengan kegiatannya.


Dia menekan interkom yang tersambung pada


ruangan sekretaris.


"Suruh OB datang ke ruanganku..!"


"Baik Presdir."


Terdengar sahutan Andy dari seberang sana.


Raya bangkit dari duduknya.


"Terimakasih Yang Mulya.."


Ucapnya seraya menundukkan kepala sedikit


di depan Aaron kemudian bergerak menuju


meja kerjanya.


"Kita akan pergi sekarang.!"


Raya menghentikan langkahnya, menoleh ke


arah Aaron yang sedang merapihkan kemejanya


dengan menggulung lengannya sampai sikut


karena saat ini pria itu tidak mengenakkan


setelan jas. Dia hanya memakai kemeja putih


polos saja, tampak simpel dan maskulin.


"Baik Yang Mulya, saya akan bersiap."


Sahut Raya sambil kemudian melangkah ke


meja kerjanya. Hari ini Aaron memang punya


banyak agenda yang berhubungan dengan


urusan istana. Catharina duduk di sofa yang


ada di ruang depan. Wajahnya masih terlihat


sedikit kecewa dengan semua keadaan.


Akhirnya mereka bertiga keluar dari ruangan


itu melewati lift biasa yang akan membawanya


keluar melalui lobby utama. Begitu keluar dari


lift mereka sudah di sambut oleh Ansel, Alex


dan beberapa orang staf istana. Tidak lupa


para resepsionis dan para staf direksi. Di depan


pintu utama telah terparkir gagah sebuah


Limousine mewah sebagai kendaraan dinas


Aaron sebagai Putra Mahkota. Mata Ansel

__ADS_1


langsung terfokus pada sosok cantik jelita


yang ada di belakang Sang Pangeran.


Keduanya untuk sesaat saling melihat dan


menatap. Dan semua itu terlihat jelas oleh


Aaron yang langsung mengetatkan rahangnya. Wajahnya kini semakin terlihat dingin dengan


aura yang sangat membekukan.


"Selamat pagi Yang Mulya.. Selamat pagi


Lady Catharina.."


Sambut semua orang dengan membungkuk


setengah badan. Aaron tampak lurus saja tak


memberikan reaksi apapun. Sedang Catharina


seperti biasa, selalu menebar senyum cerah


dan ramah pada semua orang. Aaron berjalan


di depan bersama Catharina menuju ke dalam


mobil yang sudah menanti. Tanpa di duga Aaron menarik tangan Raya saat wanita itu bermaksud


untuk masuk ke pintu depan bersama dengan


Ansel.


"Duduk denganku.!"


Titah nya tegas membuat Raya membeku.


Semua orang terdiam, Catharina berdiri di


ambang pintu mobil, menatap Raya yang


terlihat bingung dan canggung.


"Cepat masuk, kau menunggu apalagi.?"


Raya nurut dia masuk ke dalam ruang utama


dari kendaraan super mewah tersebut menyusul


Catharina yang sudah masuk duluan, kemudian


Aaron masuk setelahnya. Raya duduk di jok


samping dekat jendela, langsung membuka


laptop untuk mengecek pekerjaannya dan


berusaha menyibukkan diri agar tidak terlalu


fokus pada keberadaan pasangan yang duduk berdampingan itu. Namun ternyata Aaron


tidak kalah sibuknya dari Raya, saat ini dia


melakukan panggilan rahasia dan berbicara menggunakan bahasa asing yang tidak di


mengerti oleh Catharina maupun Raya.


***


Setengah jam kemudian mereka tiba di tempat


tujuan. Sebuah perkebunan bunga milik istana


yang biasa di gunakan untuk olahraga berkuda.


Sebulan sekali biasanya seluruh keluarga kerajaan


akan berkunjung ke tempat ini untuk melepas


penat dengan berkuda dan bersantai di sebuah


Villa indah yang ada di tengah danau.


Kedatangan Putra Mahkota di sambut oleh para


pengurus perkebunan dengan segala hormat


dan kekaguman akan pesonanya yang begitu


luar biasa bersinar. Selama ini Aaron memang


jarang ikut datang ke tempat ini. Hanya beberapa


kali saja, itupun tidak datang bersama dengan keluarga, dia datang bersama para bawahannya.


Beberapa saat kemudian...


Saat ini Raya sedang membantu Aaron bersiap


dengan berganti kostum yang lebih safety. Raya


berdiri di hadapan Aaron, tengah mengancingkan


kemeja yang di pakainya. Aaron menatap lekat


wajah cantik Raya yang terlihat datar dan dingin,


tidak ada reaksi atau ekspresi apapun. Matanya


yang sendu berusaha fokus pada apa yang


sedang di kerjakannya.


"Apa yang terjadi dengan mu.?"


Aaron tidak tahan lagi, ada rasa tidak nyaman


dalam hatinya melihat sikap dingin Raya. Apa


yang terjadi dengan wanita ini.? Mata Aaron


terfokus pada bibir ranum Raya yang terlihat


begitu indah dan menggoda, manisnya masih


tempat ini dia pasti sudah menyambar bibir


merah jambu itu.


"Saya baik-baik saja Yang Mulya."


"Apa kau mau ikut berkuda denganku.?"


Raya mengangkat wajahnya, mata mereka


saling menatap kuat dengan sorot mata yang


sangat kompleks. Raya menggeleng pelan.


"Saya hanyalah sekretaris anda Yang Mulya.


Lagipula saya tidak suka berkuda."


"Aku tidak akan lama, ini hanyalah agenda


tidak penting dari istana.!"


"Tidak ada yang tidak penting kalau sudah


menyangkut urusan istana Yang Mulya.."


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu.!


Aku tidak suka mendengar nya dari mulutmu.!"


Raya kembali mengangkat wajahnya, terlihat


sedikit jengah dengan suara keras Aaron. Mata


pria itu tampak menatapnya tajam.


"Bukankah itu panggilan yang seharusnya


aku sematkan untukmu Yang Mulya.."


"Aku lebih suka kau memanggil namaku.!


Tidak memakai embel-embel yang lain.!"


Desis Aaron sambil kemudian melingkari


pinggang Raya dan menariknya kuat hingga


kini wajah mereka hampir bersentuhan. Raya


menekan dada Aaron berusaha melepaskan


diri dari rengkuhan kuat pria itu.


"Aaron.. lepaskan aku..! Ada banyak orang


di tempat ini.!"


"Aku tidak peduli.! Biar saja mereka melihat


semua ini.! Kau adalah istriku.!"


"Di sini aku berdiri sebagai Sektretaris Pribadi


mu Yang Mulya Putra Mahkota..!"


Aaron terhenyak, tatapan sendu mata indah


Raya terasa begitu menusuk hingga langsung


masuk menyentuh kedalaman hati Aaron,


membuat dia terdiam dalam kegetiran jiwanya


yang selalu bertarung saat berada di dekat


wanita ini. Sampai kapan dia akan bertahan


dengan semua keangkuhan jiwanya.!


"Kau sudah siap sekarang, pergilah bersenang-


senang dengan calon Ratu mu."


Ucap Raya sambil mengusap pelan bahu Aaron


kemudian mendorong dadanya lalu melepaskan


tangan pria itu dari pinggangnya setelah itu dia


mundur menjauhkan diri. Aaron mendengus,


merapihkan kembali tampilannya. Para staf


istana yang bertugas mendampingi Aaron dan Catharina dalam kegiatan ini hanya bisa terdiam menyaksikan semua perdebatan yang terjadi


antara Tuan Berharga mereka dengan sekretaris Pribadi nya itu.


"Yang Mulya lady Catharina sudah siap.."


Lapor salah seorang staf wanita yang bertugas


mendampingi dan mengawal Catharina. Wajah


Aaron tampak semakin dingin.


"Ikut aku..!"


Aaron menarik tangan Raya di bawa keluar dari


ruang ganti kostum. Raya mencoba untuk tetap tenang, dia mengikuti saja apa yang di inginkan


oleh Sang Pangeran. Tidak lama mereka sampai


di halaman belakang, yakni area start.


"Tetap di sini sebelum aku kembali.!"

__ADS_1


Titah Aaron sambil menatap tajam wajah Raya


yang terlihat diam tak bereaksi. Perasaan tidak


nyaman dalam hatinya kian terasa. Dia menatap


Aaron yang berjalan mendekati kuda yang akan


di tungganginya, kuda hitam yang sangat gagah


dan jantan.


Tidak lama Catharina muncul ke tempat itu


dengan wajah cerah dan senyum indah berseri.


Matanya tampak berbinar melihat bagaimana


gagah dan perkasa nya Sang Pangeran pujaan


saat ini. Semua orang melihat kearah gadis itu


yang sudah berganti dengan kostum berkuda


pas di badan, tampak sangat ketat membalut


tubuh indahnya di lengkapi sepatu boots yang


serasi dengan kostumnya. Aaron hanya menatap gadis itu sekilas sambil kemudian melompat


cepat ke atas kuda.


Catharina menyusul menaiki kuda putih yang


telah di siapkan untuknya dan tidak lama mereka


mulai memacu kudanya meninggalkan tempat


itu di ikuti oleh para staf istana serta para prajurit pengawal. Raya menarik nafas panjang, rasa


tidak nyaman itu semakin menenggelamkan


dirinya dalam ketidakjelasan perasaannya.


Entah apa sebenarnya yang kini di rasakannya.


Raya memilih berdiri di depan hamparan taman


bunga yang sangat luas untuk menenangkan


dirinya. Cukup lama dia terhanyut dalam segala


lamunan nya yang terbang pada kebersamaan


Aaron dan Catharina.


Tuhan..kenapa harus ada rasa ini.. Kenapa


harus sesakit ini...


"Raya.. ikutlah denganku.!"


Ada uluran tangan seseorang yang membuat


Raya menengokkan kepalanya lalu membulat,


menatap tidak percaya pada apa yang kini di


lihatnya. Mata mereka saling menatap kuat.


Ada kilatan hebat yang keluar dari mata orang


itu langsung menjerat alam pikiran Raya yang


sedang kosong dan hampa.


"Lucas..kau ada di sini juga..?"


"Aku akan selalu ada di mana kamu berada.!"


Raya tertegun, dia melihat ke sekitar nya, Haahh.?


Kemana orang-orang.? Alex, Ansel, Griz.? Dan


orang-orang dari perkebunan.?


"Mereka semua sedang beristirahat.."


Jelas sosok itu yang ternyata adalah Lucas


dengan senyum semanis madu yang langsung membuat hati Raya melemah. Rasa tidak nyaman


yang kini tengah melanda jiwanya membuat dia mudah di serang oleh tarikan daya pikat yang


kini sedang di bentangkan oleh Lucas. Perlahan


dia menerima uluran tangan pria charming itu


yang tersenyum lembut penuh kebahagiaan dan kepuasan. Ke hadapan mereka berhenti sebuah


mobil Jeep mewah terbuka. Lucas membimbing


Raya untuk menaiki mobil tersebut. Tanpa sadar


Raya mengikuti apa yang di katakan oleh pria itu. Mobil mewah itu kini mulai melaju meninggalkan


area halaman belakang perkebunan yang entah kenapa tiba-tiba saja menjadi tidak berpenghuni.


"Aku akan mengajakmu ke tempat yang sangat


indah, dan aku yakin kamu akan menyukainya


Maharaya ku.."


Bisik Lucas lembut di daun telinga Raya yang


langsung melirik kearahnya membuat mata


Lucas mengerjap, tubuhnya kini bergetar hebat, mendapati wajah super cantik dengan sejuta


daya tarik luar biasa ada di depannya, jiwanya


serasa pecah. Wajah itu begitu dekat dan tanpa


batas. Tatapan sendunya yang memikat membuat darahnya mendidih seketika. Kenapa wanita ini


sangat menggiurkan, dia bagai candu yang


mampu membuat dirinya selalu mabuk berat


saat melihatnya. Ingin rasanya dia langsung


menerkam wanita ini sekarang juga.


Setelan cukup lama berkeliling akhirnya mereka berdua tiba di sebuah tempat yang sangat indah.


Ada air terjun eksotis yang langsung mengarah


ke danau cantik berwarna pink yang sangat alami


dan menakjubkan. Mata Raya tampak berbinar


melihat pemandangan yang sangat memukau ini.


"Bagaimana..apa kau menyukai tempat ini.?"


Lucas berdiri di samping Raya yang sedang


merentangkan tangan di depan air terjun


indah berwarna putih tersebut. Matanya kini


terpejam meresapi segala kesejukan dan


ketenangan bersama nyanyian alam yang


mampu membawa dirinya pada kedamaian.


"Aku sangat menyukainya..Ini sangat indah


dan menakjubkan.."


"Kau akan selalu melihat keindahan seperti


ini kalau memilih bersamaku.."


Raya melirik, keduanya saling pandang lekat.


Wajah Lucas saat ini tampak begitu tampan


dan berbeda dari biasanya. Perlahan pria itu


berjongkok di hadapan Raya dengan tatapan


yang semakin dalam dan kuat. Raya bengong


melihat apa yang di lakukan oleh pria itu.


"Lucas.. apa yang kau lakukan..?"


Dalam gerakan cepat tak terlihat Lucas


menjentikkan jarinya dan tiba-tiba saja di


tangannya sudah ada sebuket bunga mawar


cantik yang berpadu dengan tulip putih.


"Aku mencintaimu Maharaya..Aku jatuh cinta


pada mu sejak pertama kali melihatmu."


Deg !


Jantung Raya tiba-tiba terguncang, pikirannya


kacau, kelebatan berbagai memori kini lewat


melumpuhkan sistem saraf pusat nya. Dia


hanya bisa berdiri mematung di tempat nya.


Lucas mengeluarkan sebuah cincin berlian


cantik bermata biru safir dari saku jasnya di


ulurkan ke hadapan Raya yang semakin


terkesima. Saat ini pikirannya kosong.


"Menikahlah denganku Maharaya.. Jadilah


Ratu dalam hatiku satu-satunya. Aku akan


memberikan seluruh dunia di pangkuan mu."


Mata Raya semakin melebar, dia syok luar biasa dengan semua yang kini terjadi di hadapannya.


Otaknya saat ini tidak sinkron. Dia ingin keluar


dari semua ini, tapi tidak cukup mampu. Dengan


gemetar tangan nya kini bergerak meraih bunga


yang ada di tangan Lucas membuat pria itu


tersenyum lebar penuh kepuasan..


"Maharaya De Enzo...!."


Duarr !!!


"Aaaa....."


Terdengar suara tembakan yang menembus


dan menerbangkan buket bunga sebelum


Raya sempat meraihnya bersamaan dengan


suara jeritan histeris Raya yang langsung


menutup wajahnya..

__ADS_1


***


Happy Reading...


__ADS_2