
❤️❤️❤️
Aaron memejamkan mata lalu menarik kembali
wajahnya saat dia menyadari bahwa wanita yang
ada di hadapannya ini bukanlah wanita yang di inginkan nya. Catharina membuka mata, menatap heran kearah Aaron yang terdiam tanpa ekspresi.
Perlahan Catharina mendekatkan wajahnya, dia
tidak ingin melepaskan kesempatan ini begitu
saja, Aaron masih terdiam..dan..
PRANG !
Ada suara pecahan barang yang jatuh membuat
kedua orang itu tersentak kaget. Mereka melirik
ke arah sumber suara. Mata Aaron langsung bersirobos tatap dengan mata sendu sebening
kristal dari sosok wanita cantik yang sedang
berdiri di sebrang nya. Tampak sangat rapuh
dengan wajah pucat tak bersemangat.
Aaron melepaskan tangannya dari pinggang
Catharina yang langsung merapihkan kembali
gaunnya. Raya memalingkan wajahnya sesaat
seraya memejamkan mata, menahan laju air
mata yang memaksanya ingin keluar. Aaron
menegakkan badannya, masih menatap lurus
kearah Raya yang kini sedang berpaling kearah
Catharina. Wajah gadis bangsawan itu tampak memerah, antara malu dan perasaan kecewa
karena apa yang di harapkan nya ternyata tidak
terjadi gara-gara pecahan guci antik yang tidak sengaja tersenggol oleh Raya.
"Maafkan saya lady. Saya tidak sengaja."
Lirih Raya sambil menunduk kearah Catharina,
setelah itu dia berjongkok bermaksud untuk
memungut pecahan keramik yang berserakan
di lantai, hal itu membuat Aaron terkesiap.
"Raya..apa yang kau lakukan ? Biarkan OB
yang membersihkan semua itu !"
"Aaa ..."
Terlambat, Raya sudah keburu memekik kuat
saat jarinya tergores pecahan guci tersebut dan
mengucurkan darah. Dengan gerakan cepat tak
terlihat Aaron segera menyambar tubuh Raya,
mengangkatnya ke dalam pangkuan kemudian membawanya dan mendudukkan nya di kursi
kebesarannya. Wajah Aaron terlihat dingin,
ada emosi tapi juga kecemasan yang berlebih.
"Kenapa kamu ceroboh sekali hahh.?"
Geramnya sambil kemudian menghisap jari
tangan Raya yang terluka. Sementara Raya
sendiri saat ini tampak bengong melihat apa
yang di lakukan oleh suaminya itu. Termasuk
juga Catharina. Gadis itu terlihat diam dalam
kebekuan melihat perlakuan dan kepanikan
yang di pertontonkan oleh Aaron. Benarkah
pria itu Putra Mahkota ? Kenapa dia bersikap
berlebihan seperti itu melihat sekretaris nya
terluka.?
"Yang Mulya..Ini hanya luka kecil saja."
"Tidak ada luka kecil bagimu.! Kau tidak
boleh terluka sedikitpun.."
Raya melongo, menatap wajah Aaron yang
terlihat masih sangat dingin dan datar. Ada
apa dengan pria ini.? Kenapa dia sepanik ini.?
"Aaron.. sudahlah, kau terlalu berlebihan.!"
Raya menarik jarinya dari genggaman Aaron
karena pria itu masih menekan penurunan
darahnya. Aaron mengangkat wajahnya,
mata mereka kini saling menatap kuat.
"Maharaya..! Jangan menentang ku terus.!"
Raya membeku, terhenyak dalam diam. Aaron
kembali menghisap jarinya yang terluka hingga
Raya berjingkat dan memundurkan tubuhnya
saat dia mulai merasakan panas dingin. Dia
juga tidak enak dengan Catharina yang saat
ini sedang menatap mereka berdua dengan
sorot mata penuh rasa tidak percaya.
Wanita elegan itu mendekat kearah keduanya.
Berusaha untuk tetap tenang dan mengontrol
dirinya, berpikiran positif terhadap apa yang
telah dia lihat yang jelas-jelas tidak wajar.
"Apa lukanya cukup parah Miss Raya.?"
Aaron melirik kearah Catharina, tampak
cuek dan datar membuat Raya benar-benar
merasa tidak enak hati.
"Tidak lady..hanya luka kecil saja."
"Tapi kenapa Yang Mulya tampaknya sangat
khawatir sekali.?"
"Catharina.! Jangan ikut campur urusanku.!"
"Maaf Yang Mulya..Saya hanya khawatir saja."
" Kalau kau mau aku pergi menjalankan agenda
istana hari ini berhentilah bicara dan ikuti saja
apa kataku.!"
Catharina tertegun. Dia menarik napas panjang.
Saling pandang dengan Raya yang semakin
merasa tidak enak dengan suasana canggung
ini. Akhirnya Aaron selesai dengan kegiatannya.
Dia menekan interkom yang tersambung pada
ruangan sekretaris.
"Suruh OB datang ke ruanganku..!"
"Baik Presdir."
Terdengar sahutan Andy dari seberang sana.
Raya bangkit dari duduknya.
"Terimakasih Yang Mulya.."
Ucapnya seraya menundukkan kepala sedikit
di depan Aaron kemudian bergerak menuju
meja kerjanya.
"Kita akan pergi sekarang.!"
Raya menghentikan langkahnya, menoleh ke
arah Aaron yang sedang merapihkan kemejanya
dengan menggulung lengannya sampai sikut
karena saat ini pria itu tidak mengenakkan
setelan jas. Dia hanya memakai kemeja putih
polos saja, tampak simpel dan maskulin.
"Baik Yang Mulya, saya akan bersiap."
Sahut Raya sambil kemudian melangkah ke
meja kerjanya. Hari ini Aaron memang punya
banyak agenda yang berhubungan dengan
urusan istana. Catharina duduk di sofa yang
ada di ruang depan. Wajahnya masih terlihat
sedikit kecewa dengan semua keadaan.
Akhirnya mereka bertiga keluar dari ruangan
itu melewati lift biasa yang akan membawanya
keluar melalui lobby utama. Begitu keluar dari
lift mereka sudah di sambut oleh Ansel, Alex
dan beberapa orang staf istana. Tidak lupa
para resepsionis dan para staf direksi. Di depan
pintu utama telah terparkir gagah sebuah
Limousine mewah sebagai kendaraan dinas
Aaron sebagai Putra Mahkota. Mata Ansel
__ADS_1
langsung terfokus pada sosok cantik jelita
yang ada di belakang Sang Pangeran.
Keduanya untuk sesaat saling melihat dan
menatap. Dan semua itu terlihat jelas oleh
Aaron yang langsung mengetatkan rahangnya. Wajahnya kini semakin terlihat dingin dengan
aura yang sangat membekukan.
"Selamat pagi Yang Mulya.. Selamat pagi
Lady Catharina.."
Sambut semua orang dengan membungkuk
setengah badan. Aaron tampak lurus saja tak
memberikan reaksi apapun. Sedang Catharina
seperti biasa, selalu menebar senyum cerah
dan ramah pada semua orang. Aaron berjalan
di depan bersama Catharina menuju ke dalam
mobil yang sudah menanti. Tanpa di duga Aaron menarik tangan Raya saat wanita itu bermaksud
untuk masuk ke pintu depan bersama dengan
Ansel.
"Duduk denganku.!"
Titah nya tegas membuat Raya membeku.
Semua orang terdiam, Catharina berdiri di
ambang pintu mobil, menatap Raya yang
terlihat bingung dan canggung.
"Cepat masuk, kau menunggu apalagi.?"
Raya nurut dia masuk ke dalam ruang utama
dari kendaraan super mewah tersebut menyusul
Catharina yang sudah masuk duluan, kemudian
Aaron masuk setelahnya. Raya duduk di jok
samping dekat jendela, langsung membuka
laptop untuk mengecek pekerjaannya dan
berusaha menyibukkan diri agar tidak terlalu
fokus pada keberadaan pasangan yang duduk berdampingan itu. Namun ternyata Aaron
tidak kalah sibuknya dari Raya, saat ini dia
melakukan panggilan rahasia dan berbicara menggunakan bahasa asing yang tidak di
mengerti oleh Catharina maupun Raya.
***
Setengah jam kemudian mereka tiba di tempat
tujuan. Sebuah perkebunan bunga milik istana
yang biasa di gunakan untuk olahraga berkuda.
Sebulan sekali biasanya seluruh keluarga kerajaan
akan berkunjung ke tempat ini untuk melepas
penat dengan berkuda dan bersantai di sebuah
Villa indah yang ada di tengah danau.
Kedatangan Putra Mahkota di sambut oleh para
pengurus perkebunan dengan segala hormat
dan kekaguman akan pesonanya yang begitu
luar biasa bersinar. Selama ini Aaron memang
jarang ikut datang ke tempat ini. Hanya beberapa
kali saja, itupun tidak datang bersama dengan keluarga, dia datang bersama para bawahannya.
Beberapa saat kemudian...
Saat ini Raya sedang membantu Aaron bersiap
dengan berganti kostum yang lebih safety. Raya
berdiri di hadapan Aaron, tengah mengancingkan
kemeja yang di pakainya. Aaron menatap lekat
wajah cantik Raya yang terlihat datar dan dingin,
tidak ada reaksi atau ekspresi apapun. Matanya
yang sendu berusaha fokus pada apa yang
sedang di kerjakannya.
"Apa yang terjadi dengan mu.?"
Aaron tidak tahan lagi, ada rasa tidak nyaman
dalam hatinya melihat sikap dingin Raya. Apa
yang terjadi dengan wanita ini.? Mata Aaron
terfokus pada bibir ranum Raya yang terlihat
begitu indah dan menggoda, manisnya masih
tempat ini dia pasti sudah menyambar bibir
merah jambu itu.
"Saya baik-baik saja Yang Mulya."
"Apa kau mau ikut berkuda denganku.?"
Raya mengangkat wajahnya, mata mereka
saling menatap kuat dengan sorot mata yang
sangat kompleks. Raya menggeleng pelan.
"Saya hanyalah sekretaris anda Yang Mulya.
Lagipula saya tidak suka berkuda."
"Aku tidak akan lama, ini hanyalah agenda
tidak penting dari istana.!"
"Tidak ada yang tidak penting kalau sudah
menyangkut urusan istana Yang Mulya.."
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu.!
Aku tidak suka mendengar nya dari mulutmu.!"
Raya kembali mengangkat wajahnya, terlihat
sedikit jengah dengan suara keras Aaron. Mata
pria itu tampak menatapnya tajam.
"Bukankah itu panggilan yang seharusnya
aku sematkan untukmu Yang Mulya.."
"Aku lebih suka kau memanggil namaku.!
Tidak memakai embel-embel yang lain.!"
Desis Aaron sambil kemudian melingkari
pinggang Raya dan menariknya kuat hingga
kini wajah mereka hampir bersentuhan. Raya
menekan dada Aaron berusaha melepaskan
diri dari rengkuhan kuat pria itu.
"Aaron.. lepaskan aku..! Ada banyak orang
di tempat ini.!"
"Aku tidak peduli.! Biar saja mereka melihat
semua ini.! Kau adalah istriku.!"
"Di sini aku berdiri sebagai Sektretaris Pribadi
mu Yang Mulya Putra Mahkota..!"
Aaron terhenyak, tatapan sendu mata indah
Raya terasa begitu menusuk hingga langsung
masuk menyentuh kedalaman hati Aaron,
membuat dia terdiam dalam kegetiran jiwanya
yang selalu bertarung saat berada di dekat
wanita ini. Sampai kapan dia akan bertahan
dengan semua keangkuhan jiwanya.!
"Kau sudah siap sekarang, pergilah bersenang-
senang dengan calon Ratu mu."
Ucap Raya sambil mengusap pelan bahu Aaron
kemudian mendorong dadanya lalu melepaskan
tangan pria itu dari pinggangnya setelah itu dia
mundur menjauhkan diri. Aaron mendengus,
merapihkan kembali tampilannya. Para staf
istana yang bertugas mendampingi Aaron dan Catharina dalam kegiatan ini hanya bisa terdiam menyaksikan semua perdebatan yang terjadi
antara Tuan Berharga mereka dengan sekretaris Pribadi nya itu.
"Yang Mulya lady Catharina sudah siap.."
Lapor salah seorang staf wanita yang bertugas
mendampingi dan mengawal Catharina. Wajah
Aaron tampak semakin dingin.
"Ikut aku..!"
Aaron menarik tangan Raya di bawa keluar dari
ruang ganti kostum. Raya mencoba untuk tetap tenang, dia mengikuti saja apa yang di inginkan
oleh Sang Pangeran. Tidak lama mereka sampai
di halaman belakang, yakni area start.
"Tetap di sini sebelum aku kembali.!"
__ADS_1
Titah Aaron sambil menatap tajam wajah Raya
yang terlihat diam tak bereaksi. Perasaan tidak
nyaman dalam hatinya kian terasa. Dia menatap
Aaron yang berjalan mendekati kuda yang akan
di tungganginya, kuda hitam yang sangat gagah
dan jantan.
Tidak lama Catharina muncul ke tempat itu
dengan wajah cerah dan senyum indah berseri.
Matanya tampak berbinar melihat bagaimana
gagah dan perkasa nya Sang Pangeran pujaan
saat ini. Semua orang melihat kearah gadis itu
yang sudah berganti dengan kostum berkuda
pas di badan, tampak sangat ketat membalut
tubuh indahnya di lengkapi sepatu boots yang
serasi dengan kostumnya. Aaron hanya menatap gadis itu sekilas sambil kemudian melompat
cepat ke atas kuda.
Catharina menyusul menaiki kuda putih yang
telah di siapkan untuknya dan tidak lama mereka
mulai memacu kudanya meninggalkan tempat
itu di ikuti oleh para staf istana serta para prajurit pengawal. Raya menarik nafas panjang, rasa
tidak nyaman itu semakin menenggelamkan
dirinya dalam ketidakjelasan perasaannya.
Entah apa sebenarnya yang kini di rasakannya.
Raya memilih berdiri di depan hamparan taman
bunga yang sangat luas untuk menenangkan
dirinya. Cukup lama dia terhanyut dalam segala
lamunan nya yang terbang pada kebersamaan
Aaron dan Catharina.
Tuhan..kenapa harus ada rasa ini.. Kenapa
harus sesakit ini...
"Raya.. ikutlah denganku.!"
Ada uluran tangan seseorang yang membuat
Raya menengokkan kepalanya lalu membulat,
menatap tidak percaya pada apa yang kini di
lihatnya. Mata mereka saling menatap kuat.
Ada kilatan hebat yang keluar dari mata orang
itu langsung menjerat alam pikiran Raya yang
sedang kosong dan hampa.
"Lucas..kau ada di sini juga..?"
"Aku akan selalu ada di mana kamu berada.!"
Raya tertegun, dia melihat ke sekitar nya, Haahh.?
Kemana orang-orang.? Alex, Ansel, Griz.? Dan
orang-orang dari perkebunan.?
"Mereka semua sedang beristirahat.."
Jelas sosok itu yang ternyata adalah Lucas
dengan senyum semanis madu yang langsung membuat hati Raya melemah. Rasa tidak nyaman
yang kini tengah melanda jiwanya membuat dia mudah di serang oleh tarikan daya pikat yang
kini sedang di bentangkan oleh Lucas. Perlahan
dia menerima uluran tangan pria charming itu
yang tersenyum lembut penuh kebahagiaan dan kepuasan. Ke hadapan mereka berhenti sebuah
mobil Jeep mewah terbuka. Lucas membimbing
Raya untuk menaiki mobil tersebut. Tanpa sadar
Raya mengikuti apa yang di katakan oleh pria itu. Mobil mewah itu kini mulai melaju meninggalkan
area halaman belakang perkebunan yang entah kenapa tiba-tiba saja menjadi tidak berpenghuni.
"Aku akan mengajakmu ke tempat yang sangat
indah, dan aku yakin kamu akan menyukainya
Maharaya ku.."
Bisik Lucas lembut di daun telinga Raya yang
langsung melirik kearahnya membuat mata
Lucas mengerjap, tubuhnya kini bergetar hebat, mendapati wajah super cantik dengan sejuta
daya tarik luar biasa ada di depannya, jiwanya
serasa pecah. Wajah itu begitu dekat dan tanpa
batas. Tatapan sendunya yang memikat membuat darahnya mendidih seketika. Kenapa wanita ini
sangat menggiurkan, dia bagai candu yang
mampu membuat dirinya selalu mabuk berat
saat melihatnya. Ingin rasanya dia langsung
menerkam wanita ini sekarang juga.
Setelan cukup lama berkeliling akhirnya mereka berdua tiba di sebuah tempat yang sangat indah.
Ada air terjun eksotis yang langsung mengarah
ke danau cantik berwarna pink yang sangat alami
dan menakjubkan. Mata Raya tampak berbinar
melihat pemandangan yang sangat memukau ini.
"Bagaimana..apa kau menyukai tempat ini.?"
Lucas berdiri di samping Raya yang sedang
merentangkan tangan di depan air terjun
indah berwarna putih tersebut. Matanya kini
terpejam meresapi segala kesejukan dan
ketenangan bersama nyanyian alam yang
mampu membawa dirinya pada kedamaian.
"Aku sangat menyukainya..Ini sangat indah
dan menakjubkan.."
"Kau akan selalu melihat keindahan seperti
ini kalau memilih bersamaku.."
Raya melirik, keduanya saling pandang lekat.
Wajah Lucas saat ini tampak begitu tampan
dan berbeda dari biasanya. Perlahan pria itu
berjongkok di hadapan Raya dengan tatapan
yang semakin dalam dan kuat. Raya bengong
melihat apa yang di lakukan oleh pria itu.
"Lucas.. apa yang kau lakukan..?"
Dalam gerakan cepat tak terlihat Lucas
menjentikkan jarinya dan tiba-tiba saja di
tangannya sudah ada sebuket bunga mawar
cantik yang berpadu dengan tulip putih.
"Aku mencintaimu Maharaya..Aku jatuh cinta
pada mu sejak pertama kali melihatmu."
Deg !
Jantung Raya tiba-tiba terguncang, pikirannya
kacau, kelebatan berbagai memori kini lewat
melumpuhkan sistem saraf pusat nya. Dia
hanya bisa berdiri mematung di tempat nya.
Lucas mengeluarkan sebuah cincin berlian
cantik bermata biru safir dari saku jasnya di
ulurkan ke hadapan Raya yang semakin
terkesima. Saat ini pikirannya kosong.
"Menikahlah denganku Maharaya.. Jadilah
Ratu dalam hatiku satu-satunya. Aku akan
memberikan seluruh dunia di pangkuan mu."
Mata Raya semakin melebar, dia syok luar biasa dengan semua yang kini terjadi di hadapannya.
Otaknya saat ini tidak sinkron. Dia ingin keluar
dari semua ini, tapi tidak cukup mampu. Dengan
gemetar tangan nya kini bergerak meraih bunga
yang ada di tangan Lucas membuat pria itu
tersenyum lebar penuh kepuasan..
"Maharaya De Enzo...!."
Duarr !!!
"Aaaa....."
Terdengar suara tembakan yang menembus
dan menerbangkan buket bunga sebelum
Raya sempat meraihnya bersamaan dengan
suara jeritan histeris Raya yang langsung
menutup wajahnya..
__ADS_1
***
Happy Reading...