
***
Akhirnya yang harus terjadi maka terjadilah..
Tidak ada satupun makhluk Tuhan yang dapat
melawan takdir. Kalau melihat kilas balik dari
perjalanan kisah cinta Aaron dan Raya, tidak
akan ada yang percaya kalau keduanya akan
sampai pada titik sekarang ini. Mereka berdua
bisa saling mencintai dengan begitu besarnya
dan kedalaman perasaan mereka mungkin
tidak akan mampu terselami...
Siang harinya istana langsung mengadakan
konferensi pers dalam rangka mengumumkan
dan memperkenalkan secara resmi posisi Raya
sebagai istri sah Putra Mahkota. Para wartawan
yang sudah memiliki izin dari staf istana datang
untuk mengadakan tatap muka dan wawancara langsung dengan pasangan fenomenal itu. Dan
pada moment ini, mungkin hampir satu negara
di serang keterkejutan luar biasa di saat Aaron
menyatakan secara tegas dan mantap bahwa
dirinya telah berpindah keyakinan.
Mungkin.. banyak yang kecewa pada fakta ini.
Namun masalah aqidah dan keyakinan adalah
hak pribadi setiap orang dan itu juga merupakan
prinsip hidup bagi seseorang. Tidak ada satu
orang pun yang bisa menyalahkan Aaron untuk
pilihannya ini. Pada moment ini juga jati diri Raya terbuka semuanya. Darimana negara asalnya,
dan siapa orang tuanya.
Begitu konfers selesai, sesaat kemudian dunia
maya kembali di hebohkan dengan pemberitaan
yangbaru saja terbit. Terlalu banyak kejutan dan
hal lain yang mengemuka saat ini, terutama
tentang fakta perpindahan keyakinan Aaron.
Ada banyak sambutan positif dari komunitas
muslim yang ada di negara ini. Memang kalau
di bandingkan, jumlah pemeluk agama Islam di
negara ini hanya sekitar 20 persen saja, namun
dengan adanya fakta ini gairah peminat yang
selama ini sudah mempelajari ajaran Islam, kini
semakin meningkat dan mereka seakan telah
menemukan keyakinan untuk berpindah agama.
Waktu terus berjalan...
Seusai mengadakan konferensi pers, Aaron
langsung berkantor di istana depan tidak peduli kondisinya. Walau Raja Williams sudah melarang,
namun tetap saja tidak bisa merubah keputusan Aaron. Dia harus segera bekerja dan mengurus
serta membereskan beberapa hal yang sangat
penting dan harus secepatnya di selesaikan.
Raya masuk ke dalam ruang kerja Aaron di temani oleh Brenda, pelayan pribadi nya di istana ini yang membawa nampan berisi teh hijau racikan Raya.
Dia juga sudah membuatkan teh yang sama untuk semua anggota keluarga yang saat ini sedang berkumpul di ruang istirahat di bagian belakang
istana.
Untuk sesaat Raya tampak terpaku di tempat, terpesona pada sosok sang suami yang terlihat
begitu gagah. Saat ini Aaron sedang duduk tegak
di kursi tahta nya, tengah sibuk dengan segala
urusan pekerjaannya dan terfokus pada laptop
di depannya. Dasinya terlihat di longgarkan, dan lengan kemejanya di gulung sedikit, sementara
jas nya tersampir di kursi kerjanya.
Hati Raya bergetar seketika, dia menarik napas
dalam-dalam mencoba untuk menetralkan detak jantungnya yang masih saja suka bergemuruh
tiap kali dirinya merasa terpesona pada sosok
Aaron. Sepertinya dia selalu jatuh cinta pada
suaminya ini setiap saat.
"Brenda, berikan itu padaku..biar aku membawa
nya sendiri ke sana. Kau tunggu saja di luar."
"Tapi Yang Mulya..ini adalah tugas saya."
"Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya."
"Baik kalau begitu. Saya ada di luar Yang Mulya."
Brenda mengalihkan nampan berisi cangkir dan
teko yang sudah ada teh hijau nya tersebut ke pegangan Raya, kemudian membungkuk hormat setelah itu berlalu keluar ruangan.
Aaron langsung menghentikan kegiatannya saat
melihat kemunculan Raya ke dalam ruangannya.
Alisnya nampak bertaut dengan raut wajah aneh.
Sebenarnya dia tidak bisa fokus saat ini karena
pikirannya bercabang pada sosok wanita super
cantik miliknya itu. Eehh.. ternyata sekarang dia
malah datang sendiri ke ruangan ini. Bibir Aaron terangkat sedikit, tatapannya kini mengunci
sosok istrinya itu.
Raya menyimpan nampan di atas meja sofa yang
ada di sudut kanan ruangan. Aaron beranjak dari
kursi tahta nya kemudian melangkah mendekat
kearah Raya.
"Apa yang kau lakukan sayang.? Kenapa kamu
tidak istirahat di kamar.? Aku akan menyusul
kesana setelah semua urusan selesai."
Aaron berucap sambil melingkarkan telapak
tangannya di perut datar Raya seraya menciumi
tengkuk leher istrinya itu dan menghirup kuat
aroma wangi yang keluar dari tubuhnya yang
langsung membuat darahnya mendidih seketika.
"Mana bisa aku beristirahat sementara Yang
Mulya sibuk bekerja.."
Lirih Raya sambil membalikkan badannya dan
kini mereka saling berhadapan. Tangan Raya
bergerak membuka dasi yang di pakai Aaron.
Tatapan mereka saling mengunci satu sama
lain. Tangan Aaron kini menarik pinggang kecil
Raya dan melingkari nya kuat hingga wajah
mereka mendekat, hampir bersentuhan.
"Ini adalah tugasku Princess.. Dan tugasmu
hanyalah melayaniku di tempat tidur. Kau tidak
boleh melakukan hal berat apapun.!"
"Kau pikir aku akan bisa melakukan itu.? Hanya
berdiam diri tanpa kegiatan, aku bosan Aaron.."
Raya mengerucutkan bibirnya sedikit kesal.
Dia tidak sadar kalau hal itu mampu memercik
hasrat dan gairah di tubuh Aaron yang melonjak seketika.
"Kau harus membiasakan diri sayang..Kau itu
seorang Putri Agung keturunan langsung Sultan
Sulaiman. Kedudukanmu sangatlah istimewa."
Bisik Aaron sambil kemudian mengangkat tubuh tubuh ramping Raya ke dalam pangkuannya. Raya melingkarkan tangannya di leher Aaron saat pria
itu membawanya kearah kursi kerjanya kemudian
duduk kembali dan menempatkan tubuh Raya di
atas pangkuannya.
"Sepertinya aku akan butuh waktu untuk bisa
beradaptasi dengan lingkungan istana ini."
Raya berucap dengan tatapan lembut memuja.
__ADS_1
Kedua tangannya berada di bahu kokoh Aaron.
Tangan Aaron bergerak merapihkan rambut yang
jatuh di wajah cantik istrinya itu dengan tatapan
yang terlihat begitu dalam penuh damba.
"Jadi.. apa yang kau inginkan sekarang.?"
"Aku butuh kegiatan untuk mengusir kebosanan.
Aku juga tidak betah berada di kamar sendirian."
"Ohh.. jadi kau ingin mencari kegiatan.? Baik..
Aku akan mengajakmu melakukan kegiatan
yang sangat kau sukai."
"A-apa maksudmu.? Hei.. sayang.. kamu mau
apa.? Aaron.. jangan..!"
Raya mulai berontak ingin turun dari pangkuan
Aaron saat tangan nakal suaminya itu mulai
bergerak membuka pakaian bagian atasnya.
"Aku sangat merindukanmu sayang..Sepertinya
aku tidak akan mampu bertahan sampai nanti
malam karena kau datang sendiri ke sini.!"
"Aaron.. aku datang membawakan teh hijau
untuk mu.. bukan untuk ini.. Aaron jangan..!"
Raya semakin melebarkan matanya saat Aaron berhasil melepaskan atasannya dan dengan
gerakan cepat dia memposisikan duduk Raya
berhadapan dengan nya. Tubuh Raya langsung
panas dingin saat merasakan tubuh bagian
bawah milik suaminya kini sudah berdiri tegak
dan menyentuh bagian sensitif dirinya.Tanpa
jeda bibir Aaron mulai beraksi menyusuri leher
Raya yang memejamkan matanya tegang.
"Sayang... aku mohon hentikan..kita tidak bisa
melakukan hal seperti ini di ruang kerja eemhh.."
"Aku sudah tidak tahan lagi.. Tiga hari ini aku
sudah berpuasa sayang.."
"Tapi tidak di sini juga sayang.. oohh.. Aaroon.."
Raya menggelinjang saat bibir Aaron kini sudah
terbenam di dua bukit kembarnya dan bermain
dengan rakus di sana. Menghisap, ******* dan
menggigitnya pelan hingga tubuh Raya langsung
saja memanas. Aliran darahnya terbakar seketika.
Dia meremas kuat rambut Aaron dan kepalanya
menengadah sambil memejamkan mata rapat.
"Kau selalu saja membuatku gila..!"
Geram Aaron sambil kemudian mengangkat
tubuh Raya yang sudah setengah polos itu ke
atas meja, merebahkan nya dengan hati-hati
dan kembali beraksi dengan lebih buas lagi.
"Ohhh. Aaron sayang.. aku mohon sudah..
Ini sungguh tidak patut.. aakhh.."
Raya mendesah panjang saat bibir Aaron turun
ke daerah sensitif nya dan bermain di sana. Dia
benar-benar tidak menduga kalau Aaron akan
menyerang nya langsung. Suaminya itu tampak
nya sudah di tidak bisa mengendalikan dirinya
lagi. Dia terlihat sangat bernafsu sekali.
"Aaron.. jangan.. kumohon..!"
Raya berseru saat Aaron menarik dan melepas
rok yang di pakaiannya. Mata Aaron menyala di
penuhi oleh kabut gairah yang sudah membakar seluruh aliran darahnya saat dia melihat tubuh
bagian bawah milik istrinya sudah basah, tampak
nya untuk melakukan serangan dahsyat yang di
takuti oleh Raya tapi juga tidak bisa di hindarinya
karena dia juga selalu menginginkan nya. Raya
memejamkan matanya kuat saat melihat benda
itu kini sudah tegang sempurna.
"Aakkhh.. Aaron.. kamu benar-benar jahat..!!"
Raya memekik tertahan karena bibirnya kini di bungkam oleh bibir Aaron saat dia mulai mencoba
mendorong paksa benda perkasa miliknya untuk
memasuki lembah kenikmatan milik istrinya.
Aaron menjentikkan jari mengunci pintu dan
menutup semua akses CCTV yang ada di ruang kerjanya. Raya melebarkan matanya saat rasa
sakit namun nikmat itu kini mulai menguasai
seluruh tubuhnya. Dia memeluk erat leher Aaron
yang sudah menguasai dirinya seluruhnya.
Dan dalam sekejap keduanya kini sudah dalam
keadaan polos. Meja kerja yang di gunakan untuk
tempat pergulatan tampak sudah berantakan tak
karuan karena pergerakan pasangan itu yang
frontal. Kalau sudah berhasil masuk kemudian
terbang bersama seperti ini, apapun seakan tak
lagi di pedulikan oleh keduanya, karena kini yang mereka inginkan adalah bagaimana caranya mengeksplor habis segala kenikmatan tiada
tara ini dengan cara yang berbeda. Keduanya
saat ini sedang mabuk kenikmatan yang tidak mungkin di lepaskan begitu saja.
"Let's play baby.. You are the best..!!"
Bisik Aaron sambil kembali duduk di kursi kerja
dengan posisi Raya berada diatas pangkuannya.
Mulai lah Raya yang kini memimpin permainan
membuat Aaron mengerang hebat merasakan
hantaman rasa nikmat yang membuat tubuhnya
bergetar hebat. Dia benar-benar memuja seorang
Maharaya.. wanita miliknya ini adalah anugerah
paling besar dan paling berharga yang telah
Tuhan berikan untuknya. Dirinya adalah orang
yang sangat beruntung karena bisa memiliki nya.
"I love you so much baby.."
Desah Aaron saat dia tidak kuat lagi menahan
terjangan segala rasa nikmat yang menguasai
seluruh tubuhnya. Setelah cukup lama bermain
di ruang kerja dengan berbagai gaya, akhirnya
Aaron membawa Raya masuk ke kamar pribadinya yang ada di dalam kantornya tersebut. Mereka
menuntaskan serbuan gelombang hasrat nya di
sana sampai akhirnya keduanya terkulai lemas kelelahan dan bersama-sama mencapai puncak nirwana.!
***
Malamnya seluruh anggota keluarga berkumpul
di ruang jamuan khusus istana, melaksanakan sambutan resmi dan melakukan ritual jamuan
makan malam bersama untuk pertama kalinya
bagi Raya sebagai istri Putra Mahkota. Acara
makan malam ini juga di hadiri oleh perdana
menteri yang baru beserta istrinya. Ketua dewan
senat beserta istri serta ketua parlementer
beserta istri.
Semua orang tampak terkesima begitu melihat
kemunculan Aaron dan Raya. Keduanya terlihat
mengenakan pakaian dengan warna senada.
Nampak begitu cocok dan serasi. Wajah mereka
juga memancarkan aura terang yang mampu
__ADS_1
membuat semua orang merasa silau.
Raya membungkukkan badannya anggun dan
halus di hadapan semua orang dengan senyum
lembut yang terkembang sempurna.
"Selamat datang Princess.. silahkan.."
Sambut perdana menteri dan yang lain sambil
balas membungkuk hormat.
"Terimakasih atas penerimaan ini. Sungguh Saya
tidak pernah menduga sama sekali bahwa Tuhan
akan membawa perjalanan hidup saya sampai di
tempat ini. Sekali lagi terimakasih.."
Sahut Raya sambil menunduk hormat kearah
Raja Williams yang mengangkat tangannya dan
tersenyum tenang. Aaron sendiri yang menarik
kursi untuk Raya sebelum Brenda melakukannya
membuat Raya tersipu, keduanya saling pandang
sekilas setelah itu mereka duduk tegak dengan
gaya yang sama-sama elegan dan berkelas.
"Baiklah.. kita mulai saja acara makan malamnya.
Semoga kejayaan dan kemakmuran akan selalu
mengiringi perjalanan hidup negara dan kerajaan
kita.. untuk selamanya.."
Madam Rowena mengangkat gelas yang ada di
hadapannya. Semua orang melakukan hal yang
sama dan bersulang bersama dengan minuman
masing-masing yang berbeda. Dan acara makan
malam itu pun di mulai dengan tenang penuh
suasana hangat dan kekeluargaan.
"Dua minggu lagi.. istana akan melaksanakan
acara resepsi pernikahan Putra Mahkota dan
Princess Maharaya.. Aku harap kerjasamanya
dari semua pihak. "
Ratu Virginia mengeluarkan pengumuman saat
acara makan malam usai dan kini mereka semua
duduk bersama di ruang keluarga yang ada di
bagian belakang istana utama. Semua orang
tampak saling pandang sedikit terkejut. Aaron
dan Raya saling genggam dengan mata yang
saling menatap kuat.
"Usia kehamilan menantuku masih ada di tahap
awal, jadi kita akan membatasi tamu undangan
yang akan hadir di acara malam resepsi nya."
Kembali sang Ratu menjelaskan. Semua orang
mengangguk faham. Raya kini menundukan
kepalanya. Ada kesedihan yang tiba-tiba saja
menyeruak di dalam hatinya. Ingatannya saat
ini melayang pada Ayah angkat dan adik kesayangannya. Bisakah dia meminta Aaron..
"Apa yang kau pikirkan.?"
Aaron mengangkat wajah Raya, dia menatap
kuat wajah Raya yang terlihat sedikit muram
dan matanya terlihat berkaca-kaca.
"Aaron.. aku.. sebenarnya.."
"Apa kau pikir aku tidak mengerti apa yang kau
inginkan.? Aku tahu semua isi di kepalamu ini."
Desis Aaron sambil mengelus lembut kepala
Raya dan menariknya untuk bersandar di dada
bidangnya tidak peduli reaksi semua orang yang
kini mengarahkan pandangan pada mereka.
"Jadi kau tahu kalau aku.."
"Aku tahu kau merindukan kehadiran Ayah dan
saudara angkat mu itu. Aku sudah menyiapkan
segalanya. Mereka akan datang sebelum acara
resepsi pernikahan kita di laksanakan.."
Raya melebarkan matanya, dia mengangkat
wajahnya dan kini mata mereka saling menatap.
Wajah Raya tampak berbinar bahagia.
"Benarkah sayang.. kau akan membawa Papa
dan Arka kesini.. lalu ibu dan dua saudara ku.."
"Semuanya akan datang. Mereka harus tahu siapa kamu sebenarnya..Dunia tidak sebatas tentang
kesenangan, foya-foya dan merendahkan harga
diri orang lain. Mereka harus belajar tentang arti
kehidupan yang sesungguhnya.!"
Ujar Aaron tegas yang membuat semua orang
terdiam. Mata Raya semakin berkaca-kaca.
"Terimakasih sayang.. kau sangat mengerti aku."
Lirih Raya sambil kemudian mendaratkan satu
ciuman lembut di bibir Aaron lalu memeluk erat
tubuh suaminya itu tidak peduli pada semua
orang yang masih memfokuskan perhatian pada
mereka berdua. Cinta..memang mampu membuat
orang lupa pada sekelilingnya.
"Princess.. besok kau harus mulai melakukan
pemeriksaan rutin pada kandungan mu. Kondisi
kehamilanmu harus selalu dalam pantauan..
Karena kandungan mu ini sangat istimewa."
Madam Rowena akhirnya bersuara membuat
Aaron dan Raya melepaskan pelukan mereka
lalu melirik kearah Ibu Suri.
"Baik Grandma.. Semua akan sesuai dengan
yang seharusnya."
Sahut Raya. Aaron merangkul bahu Raya dan
berbisik di daun telinga Raya.
"Kau harus tahu.. kenapa benihku tidak bisa
tumbuh di sembarang rahim.."
Raya menatap wajah Aaron sedikit terkejut dan
sorot mata penuh tanda tanya.
"Memangnya kenapa...?"
Mata mereka semakin terpaut kuat, ada seringai
tipis di bibir Aaron yang membuat Raya bergidik
ngeri dan berjingkat menjauh.
"Kau akan tahu jawabannya besok dari dokter.
Yang jelas kau adalah wanita yang istimewa..!"
Madam Rowena lah yang menjawab membuat
Raya semakin penasaran. Dia terkejut ketika
tiba-tiba saja Aaron mengangkat tubuhnya ke
dalam pangkuan nya.
"Selamat malam semuanya.. Kami permisi
duluan karena harus segera beristirahat.!"
Ujar Aaron acuh sambil kemudian melangkah
tenang menggendong Raya meninggalkan
semua orang yang terlihat bengong dan kaku.
"Selamat malam.. Putra Mahkota.."
Sahut beberapa orang dengan suara yang seakan
tercekat di tenggorokan karena benar-benar tidak percaya dengan sikap posesif nya Sang pangeran terhadap istrinya yang berlebihan itu..
__ADS_1
***