Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
91. Kehangatan


__ADS_3

***


Akhirnya yang harus terjadi maka terjadilah..


Tidak ada satupun makhluk Tuhan yang dapat


melawan takdir. Kalau melihat kilas balik dari


perjalanan kisah cinta Aaron dan Raya, tidak


akan ada yang percaya kalau keduanya akan


sampai pada titik sekarang ini. Mereka berdua


bisa saling mencintai dengan begitu besarnya


dan kedalaman perasaan mereka mungkin


tidak akan mampu terselami...


Siang harinya istana langsung mengadakan


konferensi pers dalam rangka mengumumkan


dan memperkenalkan secara resmi posisi Raya


sebagai istri sah Putra Mahkota. Para wartawan


yang sudah memiliki izin dari staf istana datang


untuk mengadakan tatap muka dan wawancara langsung dengan pasangan fenomenal itu. Dan


pada moment ini, mungkin hampir satu negara


di serang keterkejutan luar biasa di saat Aaron


menyatakan secara tegas dan mantap bahwa


dirinya telah berpindah keyakinan.


Mungkin.. banyak yang kecewa pada fakta ini.


Namun masalah aqidah dan keyakinan adalah


hak pribadi setiap orang dan itu juga merupakan


prinsip hidup bagi seseorang. Tidak ada satu


orang pun yang bisa menyalahkan Aaron untuk


pilihannya ini. Pada moment ini juga jati diri Raya terbuka semuanya. Darimana negara asalnya,


dan siapa orang tuanya.


Begitu konfers selesai, sesaat kemudian dunia


maya kembali di hebohkan dengan pemberitaan


yangbaru saja terbit. Terlalu banyak kejutan dan


hal lain yang mengemuka saat ini, terutama


tentang fakta perpindahan keyakinan Aaron.


Ada banyak sambutan positif dari komunitas


muslim yang ada di negara ini. Memang kalau


di bandingkan, jumlah pemeluk agama Islam di


negara ini hanya sekitar 20 persen saja, namun


dengan adanya fakta ini gairah peminat yang


selama ini sudah mempelajari ajaran Islam, kini


semakin meningkat dan mereka seakan telah


menemukan keyakinan untuk berpindah agama.


Waktu terus berjalan...


Seusai mengadakan konferensi pers, Aaron


langsung berkantor di istana depan tidak peduli kondisinya. Walau Raja Williams sudah melarang,


namun tetap saja tidak bisa merubah keputusan Aaron. Dia harus segera bekerja dan mengurus


serta membereskan beberapa hal yang sangat


penting dan harus secepatnya di selesaikan.


Raya masuk ke dalam ruang kerja Aaron di temani oleh Brenda, pelayan pribadi nya di istana ini yang membawa nampan berisi teh hijau racikan Raya.


Dia juga sudah membuatkan teh yang sama untuk semua anggota keluarga yang saat ini sedang berkumpul di ruang istirahat di bagian belakang


istana.


Untuk sesaat Raya tampak terpaku di tempat, terpesona pada sosok sang suami yang terlihat


begitu gagah. Saat ini Aaron sedang duduk tegak


di kursi tahta nya, tengah sibuk dengan segala


urusan pekerjaannya dan terfokus pada laptop


di depannya. Dasinya terlihat di longgarkan, dan lengan kemejanya di gulung sedikit, sementara


jas nya tersampir di kursi kerjanya.


Hati Raya bergetar seketika, dia menarik napas


dalam-dalam mencoba untuk menetralkan detak jantungnya yang masih saja suka bergemuruh


tiap kali dirinya merasa terpesona pada sosok


Aaron. Sepertinya dia selalu jatuh cinta pada


suaminya ini setiap saat.


"Brenda, berikan itu padaku..biar aku membawa


nya sendiri ke sana. Kau tunggu saja di luar."


"Tapi Yang Mulya..ini adalah tugas saya."


"Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya."


"Baik kalau begitu. Saya ada di luar Yang Mulya."


Brenda mengalihkan nampan berisi cangkir dan


teko yang sudah ada teh hijau nya tersebut ke pegangan Raya, kemudian membungkuk hormat setelah itu berlalu keluar ruangan.


Aaron langsung menghentikan kegiatannya saat


melihat kemunculan Raya ke dalam ruangannya.


Alisnya nampak bertaut dengan raut wajah aneh.


Sebenarnya dia tidak bisa fokus saat ini karena


pikirannya bercabang pada sosok wanita super


cantik miliknya itu. Eehh.. ternyata sekarang dia


malah datang sendiri ke ruangan ini. Bibir Aaron terangkat sedikit, tatapannya kini mengunci


sosok istrinya itu.


Raya menyimpan nampan di atas meja sofa yang


ada di sudut kanan ruangan. Aaron beranjak dari


kursi tahta nya kemudian melangkah mendekat


kearah Raya.


"Apa yang kau lakukan sayang.? Kenapa kamu


tidak istirahat di kamar.? Aku akan menyusul


kesana setelah semua urusan selesai."


Aaron berucap sambil melingkarkan telapak


tangannya di perut datar Raya seraya menciumi


tengkuk leher istrinya itu dan menghirup kuat


aroma wangi yang keluar dari tubuhnya yang


langsung membuat darahnya mendidih seketika.


"Mana bisa aku beristirahat sementara Yang


Mulya sibuk bekerja.."


Lirih Raya sambil membalikkan badannya dan


kini mereka saling berhadapan. Tangan Raya


bergerak membuka dasi yang di pakai Aaron.


Tatapan mereka saling mengunci satu sama


lain. Tangan Aaron kini menarik pinggang kecil


Raya dan melingkari nya kuat hingga wajah


mereka mendekat, hampir bersentuhan.


"Ini adalah tugasku Princess.. Dan tugasmu


hanyalah melayaniku di tempat tidur. Kau tidak


boleh melakukan hal berat apapun.!"


"Kau pikir aku akan bisa melakukan itu.? Hanya


berdiam diri tanpa kegiatan, aku bosan Aaron.."


Raya mengerucutkan bibirnya sedikit kesal.


Dia tidak sadar kalau hal itu mampu memercik


hasrat dan gairah di tubuh Aaron yang melonjak seketika.


"Kau harus membiasakan diri sayang..Kau itu


seorang Putri Agung keturunan langsung Sultan


Sulaiman. Kedudukanmu sangatlah istimewa."


Bisik Aaron sambil kemudian mengangkat tubuh tubuh ramping Raya ke dalam pangkuannya. Raya melingkarkan tangannya di leher Aaron saat pria


itu membawanya kearah kursi kerjanya kemudian


duduk kembali dan menempatkan tubuh Raya di


atas pangkuannya.


"Sepertinya aku akan butuh waktu untuk bisa


beradaptasi dengan lingkungan istana ini."


Raya berucap dengan tatapan lembut memuja.

__ADS_1


Kedua tangannya berada di bahu kokoh Aaron.


Tangan Aaron bergerak merapihkan rambut yang


jatuh di wajah cantik istrinya itu dengan tatapan


yang terlihat begitu dalam penuh damba.


"Jadi.. apa yang kau inginkan sekarang.?"


"Aku butuh kegiatan untuk mengusir kebosanan.


Aku juga tidak betah berada di kamar sendirian."


"Ohh.. jadi kau ingin mencari kegiatan.? Baik..


Aku akan mengajakmu melakukan kegiatan


yang sangat kau sukai."


"A-apa maksudmu.? Hei.. sayang.. kamu mau


apa.? Aaron.. jangan..!"


Raya mulai berontak ingin turun dari pangkuan


Aaron saat tangan nakal suaminya itu mulai


bergerak membuka pakaian bagian atasnya.


"Aku sangat merindukanmu sayang..Sepertinya


aku tidak akan mampu bertahan sampai nanti


malam karena kau datang sendiri ke sini.!"


"Aaron.. aku datang membawakan teh hijau


untuk mu.. bukan untuk ini.. Aaron jangan..!"


Raya semakin melebarkan matanya saat Aaron berhasil melepaskan atasannya dan dengan


gerakan cepat dia memposisikan duduk Raya


berhadapan dengan nya. Tubuh Raya langsung


panas dingin saat merasakan tubuh bagian


bawah milik suaminya kini sudah berdiri tegak


dan menyentuh bagian sensitif dirinya.Tanpa


jeda bibir Aaron mulai beraksi menyusuri leher


Raya yang memejamkan matanya tegang.


"Sayang... aku mohon hentikan..kita tidak bisa


melakukan hal seperti ini di ruang kerja eemhh.."


"Aku sudah tidak tahan lagi.. Tiga hari ini aku


sudah berpuasa sayang.."


"Tapi tidak di sini juga sayang.. oohh.. Aaroon.."


Raya menggelinjang saat bibir Aaron kini sudah


terbenam di dua bukit kembarnya dan bermain


dengan rakus di sana. Menghisap, ******* dan


menggigitnya pelan hingga tubuh Raya langsung


saja memanas. Aliran darahnya terbakar seketika.


Dia meremas kuat rambut Aaron dan kepalanya


menengadah sambil memejamkan mata rapat.


"Kau selalu saja membuatku gila..!"


Geram Aaron sambil kemudian mengangkat


tubuh Raya yang sudah setengah polos itu ke


atas meja, merebahkan nya dengan hati-hati


dan kembali beraksi dengan lebih buas lagi.


"Ohhh. Aaron sayang.. aku mohon sudah..


Ini sungguh tidak patut.. aakhh.."


Raya mendesah panjang saat bibir Aaron turun


ke daerah sensitif nya dan bermain di sana. Dia


benar-benar tidak menduga kalau Aaron akan


menyerang nya langsung. Suaminya itu tampak


nya sudah di tidak bisa mengendalikan dirinya


lagi. Dia terlihat sangat bernafsu sekali.


"Aaron.. jangan.. kumohon..!"


Raya berseru saat Aaron menarik dan melepas


rok yang di pakaiannya. Mata Aaron menyala di


penuhi oleh kabut gairah yang sudah membakar seluruh aliran darahnya saat dia melihat tubuh


bagian bawah milik istrinya sudah basah, tampak


nya untuk melakukan serangan dahsyat yang di


takuti oleh Raya tapi juga tidak bisa di hindarinya


karena dia juga selalu menginginkan nya. Raya


memejamkan matanya kuat saat melihat benda


itu kini sudah tegang sempurna.


"Aakkhh.. Aaron.. kamu benar-benar jahat..!!"


Raya memekik tertahan karena bibirnya kini di bungkam oleh bibir Aaron saat dia mulai mencoba


mendorong paksa benda perkasa miliknya untuk


memasuki lembah kenikmatan milik istrinya.


Aaron menjentikkan jari mengunci pintu dan


menutup semua akses CCTV yang ada di ruang kerjanya. Raya melebarkan matanya saat rasa


sakit namun nikmat itu kini mulai menguasai


seluruh tubuhnya. Dia memeluk erat leher Aaron


yang sudah menguasai dirinya seluruhnya.


Dan dalam sekejap keduanya kini sudah dalam


keadaan polos. Meja kerja yang di gunakan untuk


tempat pergulatan tampak sudah berantakan tak


karuan karena pergerakan pasangan itu yang


frontal. Kalau sudah berhasil masuk kemudian


terbang bersama seperti ini, apapun seakan tak


lagi di pedulikan oleh keduanya, karena kini yang mereka inginkan adalah bagaimana caranya mengeksplor habis segala kenikmatan tiada


tara ini dengan cara yang berbeda. Keduanya


saat ini sedang mabuk kenikmatan yang tidak mungkin di lepaskan begitu saja.


"Let's play baby.. You are the best..!!"


Bisik Aaron sambil kembali duduk di kursi kerja


dengan posisi Raya berada diatas pangkuannya.


Mulai lah Raya yang kini memimpin permainan


membuat Aaron mengerang hebat merasakan


hantaman rasa nikmat yang membuat tubuhnya


bergetar hebat. Dia benar-benar memuja seorang


Maharaya.. wanita miliknya ini adalah anugerah


paling besar dan paling berharga yang telah


Tuhan berikan untuknya. Dirinya adalah orang


yang sangat beruntung karena bisa memiliki nya.


"I love you so much baby.."


Desah Aaron saat dia tidak kuat lagi menahan


terjangan segala rasa nikmat yang menguasai


seluruh tubuhnya. Setelah cukup lama bermain


di ruang kerja dengan berbagai gaya, akhirnya


Aaron membawa Raya masuk ke kamar pribadinya yang ada di dalam kantornya tersebut. Mereka


menuntaskan serbuan gelombang hasrat nya di


sana sampai akhirnya keduanya terkulai lemas kelelahan dan bersama-sama mencapai puncak nirwana.!


***


Malamnya seluruh anggota keluarga berkumpul


di ruang jamuan khusus istana, melaksanakan sambutan resmi dan melakukan ritual jamuan


makan malam bersama untuk pertama kalinya


bagi Raya sebagai istri Putra Mahkota. Acara


makan malam ini juga di hadiri oleh perdana


menteri yang baru beserta istrinya. Ketua dewan


senat beserta istri serta ketua parlementer


beserta istri.


Semua orang tampak terkesima begitu melihat


kemunculan Aaron dan Raya. Keduanya terlihat


mengenakan pakaian dengan warna senada.


Nampak begitu cocok dan serasi. Wajah mereka


juga memancarkan aura terang yang mampu

__ADS_1


membuat semua orang merasa silau.


Raya membungkukkan badannya anggun dan


halus di hadapan semua orang dengan senyum


lembut yang terkembang sempurna.


"Selamat datang Princess.. silahkan.."


Sambut perdana menteri dan yang lain sambil


balas membungkuk hormat.


"Terimakasih atas penerimaan ini. Sungguh Saya


tidak pernah menduga sama sekali bahwa Tuhan


akan membawa perjalanan hidup saya sampai di


tempat ini. Sekali lagi terimakasih.."


Sahut Raya sambil menunduk hormat kearah


Raja Williams yang mengangkat tangannya dan


tersenyum tenang. Aaron sendiri yang menarik


kursi untuk Raya sebelum Brenda melakukannya


membuat Raya tersipu, keduanya saling pandang


sekilas setelah itu mereka duduk tegak dengan


gaya yang sama-sama elegan dan berkelas.


"Baiklah.. kita mulai saja acara makan malamnya.


Semoga kejayaan dan kemakmuran akan selalu


mengiringi perjalanan hidup negara dan kerajaan


kita.. untuk selamanya.."


Madam Rowena mengangkat gelas yang ada di


hadapannya. Semua orang melakukan hal yang


sama dan bersulang bersama dengan minuman


masing-masing yang berbeda. Dan acara makan


malam itu pun di mulai dengan tenang penuh


suasana hangat dan kekeluargaan.


"Dua minggu lagi.. istana akan melaksanakan


acara resepsi pernikahan Putra Mahkota dan


Princess Maharaya.. Aku harap kerjasamanya


dari semua pihak. "


Ratu Virginia mengeluarkan pengumuman saat


acara makan malam usai dan kini mereka semua


duduk bersama di ruang keluarga yang ada di


bagian belakang istana utama. Semua orang


tampak saling pandang sedikit terkejut. Aaron


dan Raya saling genggam dengan mata yang


saling menatap kuat.


"Usia kehamilan menantuku masih ada di tahap


awal, jadi kita akan membatasi tamu undangan


yang akan hadir di acara malam resepsi nya."


Kembali sang Ratu menjelaskan. Semua orang


mengangguk faham. Raya kini menundukan


kepalanya. Ada kesedihan yang tiba-tiba saja


menyeruak di dalam hatinya. Ingatannya saat


ini melayang pada Ayah angkat dan adik kesayangannya. Bisakah dia meminta Aaron..


"Apa yang kau pikirkan.?"


Aaron mengangkat wajah Raya, dia menatap


kuat wajah Raya yang terlihat sedikit muram


dan matanya terlihat berkaca-kaca.


"Aaron.. aku.. sebenarnya.."


"Apa kau pikir aku tidak mengerti apa yang kau


inginkan.? Aku tahu semua isi di kepalamu ini."


Desis Aaron sambil mengelus lembut kepala


Raya dan menariknya untuk bersandar di dada


bidangnya tidak peduli reaksi semua orang yang


kini mengarahkan pandangan pada mereka.


"Jadi kau tahu kalau aku.."


"Aku tahu kau merindukan kehadiran Ayah dan


saudara angkat mu itu. Aku sudah menyiapkan


segalanya. Mereka akan datang sebelum acara


resepsi pernikahan kita di laksanakan.."


Raya melebarkan matanya, dia mengangkat


wajahnya dan kini mata mereka saling menatap.


Wajah Raya tampak berbinar bahagia.


"Benarkah sayang.. kau akan membawa Papa


dan Arka kesini.. lalu ibu dan dua saudara ku.."


"Semuanya akan datang. Mereka harus tahu siapa kamu sebenarnya..Dunia tidak sebatas tentang


kesenangan, foya-foya dan merendahkan harga


diri orang lain. Mereka harus belajar tentang arti


kehidupan yang sesungguhnya.!"


Ujar Aaron tegas yang membuat semua orang


terdiam. Mata Raya semakin berkaca-kaca.


"Terimakasih sayang.. kau sangat mengerti aku."


Lirih Raya sambil kemudian mendaratkan satu


ciuman lembut di bibir Aaron lalu memeluk erat


tubuh suaminya itu tidak peduli pada semua


orang yang masih memfokuskan perhatian pada


mereka berdua. Cinta..memang mampu membuat


orang lupa pada sekelilingnya.


"Princess.. besok kau harus mulai melakukan


pemeriksaan rutin pada kandungan mu. Kondisi


kehamilanmu harus selalu dalam pantauan..


Karena kandungan mu ini sangat istimewa."


Madam Rowena akhirnya bersuara membuat


Aaron dan Raya melepaskan pelukan mereka


lalu melirik kearah Ibu Suri.


"Baik Grandma.. Semua akan sesuai dengan


yang seharusnya."


Sahut Raya. Aaron merangkul bahu Raya dan


berbisik di daun telinga Raya.


"Kau harus tahu.. kenapa benihku tidak bisa


tumbuh di sembarang rahim.."


Raya menatap wajah Aaron sedikit terkejut dan


sorot mata penuh tanda tanya.


"Memangnya kenapa...?"


Mata mereka semakin terpaut kuat, ada seringai


tipis di bibir Aaron yang membuat Raya bergidik


ngeri dan berjingkat menjauh.


"Kau akan tahu jawabannya besok dari dokter.


Yang jelas kau adalah wanita yang istimewa..!"


Madam Rowena lah yang menjawab membuat


Raya semakin penasaran. Dia terkejut ketika


tiba-tiba saja Aaron mengangkat tubuhnya ke


dalam pangkuan nya.


"Selamat malam semuanya.. Kami permisi


duluan karena harus segera beristirahat.!"


Ujar Aaron acuh sambil kemudian melangkah


tenang menggendong Raya meninggalkan


semua orang yang terlihat bengong dan kaku.


"Selamat malam.. Putra Mahkota.."


Sahut beberapa orang dengan suara yang seakan


tercekat di tenggorokan karena benar-benar tidak percaya dengan sikap posesif nya Sang pangeran terhadap istrinya yang berlebihan itu..

__ADS_1


***


__ADS_2