
***
Tidak ada yang paling hebat di dunia ini. Manusia
banyak kelemahannya. Seperti kata pepatah, di
atas langit masih ada langit. Seberapa hebatnya
kita, suatu saat pasti akan membutuhkan orang
lain juga. Hal ini di rasakan betul oleh seorang
Aaron Marvell De Enzo..
Berbagai peristiwa yang terjadi, membuat Aaron
terus berfikir dan merenung. Dia tidak bisa terus menerus berada di jalan ini. Dia harus mulai fokus
pada tujuan hidup yang telah di skenario dengan
sangat baik oleh Tuhan. Sekarang ini dia memiliki tanggungjawab yang sangat besar, memimpin
dan menjalankan peran sebagai calon raja masa
depan. Dia harus bisa menghapus jejaknya di
dunia hitam. Tidak boleh ada lagi Underground
Devil..
Apalagi yang kurang dalam hidupnya. Semuanya
begitu sempurna. Dia memiliki kedua orang tua
yang sangat menyayanginya, seluruh keluarga
yang sangat perhatian padanya, dan seorang
istri pilihan yang begitu mencintainya. Inilah
yang saat ini harus jadi prioritas dalam hidup
nya. Dia adalah pria paling beruntung di dunia.
Waktu terus berjalan tanpa terasa..
Kini hari-hari di lalui Aaron dan Raya dengan
berbagai cerita dan kenangan. Tuhan sudah
begitu baik pada mereka dengan memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Raya
juga merasakan semakin kesini rasa cinta dan perhatian Aaron semakin meluap-luap. Setiap
hari suaminya itu menyiraminya dengan kasih
sayang dan selalu memanjakannya.
Tak terasa sekarang ini kandungan Raya sudah menginjak usia 5 bulan. Perutnya juga sekarang
ini sudah terlihat membesar, membuat Aaron
semakin bertambah posesif dan gila-gilaan
dalam menjaga dan melindungi istrinya itu.
Ada banyak kegiatan yang harus di lakukan Raya sebagai seorang Putri Mahkota. Hal itu kadang
membuatnya merasa sedikit bosan dengan segala rutinitas harian nya tersebut. Kemana-mana dia
harus selalu di iringi oleh rombongan besar. Dan
di mana-mana dia akan senantiasa mendapat penghormatan. Sungguh..semua itu membuat
dia terkadang di landa rasa jenuh. Oleh karena
itu, setiap weekend Aaron selalu membawa Raya
untuk menginap di Kastil mewah miliknya atau
berkunjung ke white house hanya agar istrinya
itu kembali semangat.
Dan akhirnya minggu ini mereka akan terbang ke
negara asal ayah kandung Raya untuk menghadiri
acara perkenalan dengan seluruh keluarga besar
As Syaf Sulaiman sekaligus perayaan pernikahan mereka di negara tersebut karena usia kandungan
nya saat ini sudah memungkinkan dia untuk
melakukan penerbangan ke luar negeri.
Tapi sebelum pergi, Raya harus melakukan cek
kandungan terlebih dahulu untuk memastikan
kondisi kehamilannya. Hari ini Aaron pergi ke
rumah sakit istana untuk memeriksakan
kandungan istrinya itu.
"Alhamdulillah.. bayi anda dalam keadaan baik
Yang Mulya. Semuanya tumbuh sesuai dengan
yang seharusnya. Dia sangat kuat dan sehat."
Dokter Zuhra berucap sambil menggerakkan
tranduser di atas permukaan perut Raya. Saat
ini Raya sedang melakukan USG 4D untuk melihat
perkembangan bayi yang di kandungnya. Aaron
dengan setia menemani, dia memang tidak akan
pernah lagi melewatkan semua moment penting
yang berhubungan dengan kehamilan istrinya itu.
Mata Aaron dan Raya saat ini tampak tak berkedip
dan sedikit berkaca-kaca, begitu fokus pada layar monitor yang sedang menampilkan gambar sosok
mungil yang bergerak-gerak halus di dalam sana
dan terlihat jelas segala bentuk serta gerakannya.
"Masya Allah.. sayang.. bayi kita dalam keadaan
sehat. Dia sangat menakjubkan.. Lihatlah..dia
terus bergerak sayang.. Subhanallah.."
Raya terlihat sedikit histeris saat melihat sosok
mungil tersebut. Sudut mata Sang Putra Mahkota
tampak berair. Luar biasa.. Aaron tidak mampu
menyembunyikan rasa haru dan bahagia nya.
"Iya sayang.. dia adalah keajaiban nyata yang
telah Tuhan perlihatkan kepada kita secara
langsung. Dia calon penerus kerajaan ini.!"
Desis Aaron sambil menciumi jemari tangan
Raya yang dari tadi di genggamnya erat. Raya
mengusap lembut air bening yang membasahi
sudut mata suaminya itu.
"Sayang..kamu menangis.? Bagaimana bisa
seorang Putra Mahkota yang begitu gagah
menangis seperti ini.?"
Raya berucap lembut penuh haru. Dokter Zuhra
tampak mengulum senyum, mencoba untuk
tetap tenang dan kembali pada layar monitor.
"Aku sangat mencintai kalian berdua. Aku bisa
melakukan apapun untuk kalian, apalagi hanya
mengeluarkan air mata seperti ini."
Desis Aaron membela diri sambil membawa
jemari Raya di tempelkan di pipinya.
"Uuhh sayang.. kau ini manis sekali sih. Dokter..
tolong..ini hanya diantara kita bertiga saja ya.."
Goda Raya sambil tersenyum manis. Aaron
tampak memalingkan wajahnya, sementara
Dokter Zuhra kembali tersenyum lembut seraya mengangguk faham.
"Tentu saja Yang Mulya saya mengerti. Lagipula
hal ini lazim terjadi, apalagi saya lihat Yang Mulya
Putra Mahkota sangat mencintai anda dan calon
bayi kalian."
Senyum Raya semakin merekah. Keduanya kini
saling menatap lembut. Tidak lama mata mereka kembali terfokus pada layar komputer mengamati pergerakan bayi mereka.
***
Masih sore Aaron sudah keluar dari kantornya.
Hari ini setelah pulang mengantar Raya ke dokter
dia harus pergi ke gedung Marvello's Corporation
karena harus menghadiri rapat seluruh direksi.
Sebenarnya dia sudah menyerahkan segala hal
yang menyangkut semua perusahaannya pada
Ansel dan bawahannya yang berkompeten, tapi
tetap saja kehadirannya di perlukan pada waktu
tertentu.
Tiba di kamar Aaron langsung menyerang Raya
yang sedang menikmati waktu bersantai nya
di balkon kamar sambil menikmati camilan sore.
Akhir-akhir ini nafsu makan Raya semakin baik
hingga berat badannya juga semakin bertambah.
Tidak bisa menghindar, akhirnya mau tidak mau
Raya harus melayani keinginan suaminya yang
tidak pernah mengenal waktu itu. Keduanya
bercinta hingga menghabiskan waktu hampir
dua jam lamanya. Anehnya semakin bertambah
besar perut Raya, hasrat dan gairah Aaron bukan
nya berkurang, malah semakin menggila saja.
Aaron menggulung tubuh Raya dengan bathrobe
begitu mereka selesai membersihkan diri. Lalu
menggendong nya menuju tempat tidur. Pria itu
tampak berjongkok di bawah Raya yang terduduk
di tepi tempat tidur. Dia mengelus lembut perut
istrinya itu dan menciumi nya gemas.
Raya membelai sayang rambut halus Aaron yang
terlihat begitu menikmati kesenangannya dengan
menempelkan pipinya di perut Raya. Dia seolah
ingin merasakan segala pergerakan yang ada di
dalam perut istrinya itu dengan seksama.
__ADS_1
"Sayang.. apa kau bahagia dengan kehamilanku
ini.? Kau benar-benar tidak menyesal kan.?"
Aaron membeku, dia mendongakan kepala nya.
Mata mereka bertemu, saling menatap kuat.
"Apa yang kau katakan.? Kenapa berbicara
seperti itu.? Apa kau masih meragukan ku.?"
Raya masih menatap wajah Aaron yang ada di
depannya. Dia meraup wajah super tampan itu
dan menariknya agar mendekat.
"Apa kau keberatan kalau aku meragukan mu.?"
Raut wajah Aaron seketika berubah dingin. Dia
semakin menatap tajam wajah Raya yang kini
mencoba menyembunyikan senyumnya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya
padaku ? Apa aku harus menembak kepalaku.?"
Seketika Raya tertawa kecil dengan raut wajah
terlihat gemas dan puas karena telah mengerjai
Aaron sampai ekspresi sadis nya keluar semua.
"Tidak perlu sayang..Aku percaya sepenuhnya
padamu. Aku hanya sedang mengingat awal
pertemuan kita."
"Tidak perlu di ingat. Semua dosa itu bertumpuk
padaku. Akulah yang sudah merusak harga diri
dan kehormatan mu.!"
Desis Aaron sambil kemudian meraih tubuh Raya
di bawa keatas pangkuannya. Mereka kini saling berhadapan, masih dalam keadaan tubuh yang
hanya berbalut handuk putih saja. Tangan Raya
bergerak melingkari leher kokoh Aaron. Perutnya
yang membuncit menempel ketat di perut Aaron
dan posisi ini sangat di gilai oleh suaminya itu.
"Kenapa kau melakukan itu padaku.? Apa benar
semuanya terjadi semata-mata karena ingatan
mu pada cinta pertama mu.?"
Wajah Aaron tampak berubah aneh, tidak suka
dan tidak terima tuduhan raya. Sementara bibir
Raya mengulas senyum manis.
"Mungkin itu ada benarnya juga. Tapi kau tahu,
yang sesungguhnya terjadi adalah karena aku
tidak bisa menahan diri saat berada di dekatku.
Daya tarik mu itu terlalu kuat, aku tidak pernah
mengalami hal itu sebelumnya.!"
"Kau bohong..! Aku tidak percaya padamu.!"
"Aku sudah membuktikannya bukan.? Dengan
adanya Aaron junior di dalam rahim mu ini."
"Apa benar aku wanita istimewa karena bisa
mengandung benih berharga mu.?"
Aaron menyeringai tipis. Dia menarik dagu
Raya dan mengecupnya perlahan.
"Tentu saja sayang, kau adalah wanita pilihan.
Hanya kau satu-satunya wanita yang bisa jadi
ibu dari anak-anakku. Entah kenapa dari awal
aku sudah yakin akan hal itu.!"
Raya terdiam, wajahnya tampak bersemu merah.
Perlahan dia mendaratkan ciuman halus di bibir
Aaron, kemudian ********** lembut dan manis
yang langsung membuat Aaron memejamkan
matanya tidak berdaya. Jiwanya jatuh ke dalam
buaian kenikmatan yang di tebarkan oleh istrinya
ini. Namun tidak lama Raya melepaskan semua
sensasi kenikmatan yang mampu menerbangkan
Aaron ke awang-awang tersebut.
"Aku mau ganti baju sekarang, sebentar lagi
waktu sholat magrib tiba."
Ujar Raya sambil kemudian turun dari pangkuan
Aaron setelah itu melangkah pergi ke arah ruang
ganti pakaian meninggalkan Aaron yang hanya
bisa meringis karena kini tubuh bagian bawahnya
kembali meronta, benar-benar tidak ada lelahnya.
Malam nya Raya dan Aaron memutuskan untuk
karena mereka ingin segera beristirahat lebih
cepat untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang
kelelahan setelah pertempuran tadi sore. Esok
hari mereka akan melakukan penerbangan.
***
Pesawat pribadi super mewah milik keluarga
De Enzo akhirnya mendarat mulus di landasan
khusus bandara internasional xx..di negara T.
Kebetulan Raja dan Ratu tidak bisa ikut datang
ke acara perayaan ini karena ada hal yang tidak
bisa di tinggalkan. Hanya Arthur dan Arabella
saja yang ikut dalam kunjungan ini.
Raya keluar dari pintu pesawat. Matanya tampak
berbinar indah menyambut lingkungan dan iklim
yang berbeda di negara ini. Saat ini dia memakai
gaun cantik warna navy berbalut mantel panjang
serta sepatu boots manis dengan hijab simpel
yang masih di tutup syal tebal karena cuaca di
negara ini kebetulan berada pada musim dingin.
Aaron menggenggam erat tangan Raya. Untuk
sesaat keduanya tampak saling pandang lekat.
Di bawah tangga pesawat saat ini ada barisan
pria-pria berpakaian dan berkacamata hitam,
berbaris rapi di kedua sisi karpet merah yang
membentang sampai di depan sebuah mobil
super mewah yang telah terparkir dengan gagah .
Murat yang memimpin penyambutan ini tampak
mendekat ke ujung tangga pesawat begitu Aaron
dan Raya mulai melangkah turun. Pria tinggi
kekar dengan tampang yang sangat tegas itu
mencoba mengulurkan tangan menyambut
kedatangan sang Putri Agung yang langsung
menerima uluran tangan asisten pribadi sang
Ayah tersebut. Murat kini membimbing Raya
menuruni tangga dengan memegang tangannya.
"Selamat datang Yang Mulya Prince Marvell..
Princess Emeera As Syaf Sulaiman."
Sambut beberapa orang pria tinggi besar yang
mengenakan pakaian adat negara ini sambil
membungkuk hormat di hadapan Aaron dan
Raya saat mereka menapakkan kaki di karpet.
Sementara barisan pria berpakaian serba hitam
tadi tampak serempak membungkukkan badan.
"Terimakasih atas sambutannya."
Raya berucap lembut dan tegas dengan senyum
hangat yang terkembang manis dari bibirnya.
"Mari.. Yang Mulya.. anda tidak boleh terlalu
lama berada di luar ruangan."
Murat berbicara sambil kembali membimbing
Raya dan Aaron serta rombongannya agar
segera melangkah menuju mobil jemputan.
Akhirnya Aaron dan semua rombongan mulai
melangkah menuju kendaraan yang sudah di
siapkan, dan tidak lama mobil-mobil mewah
itupun mulai melaju keluar dari area bandara.
Mobil mewah itu kini meluncur tenang di tengah
kota yang terlihat megah di hiasi deretan gedung
pencakar langit yang mengundang decak kagum
bagi orang-orang yang baru menginjakkan kaki
di tempat itu. Suasana kota bertambah eksotis
karena saat ini salju sudah mulai turun memenuhi setiap sudut tempat dan pepohonan.
Aneh nya begitu melihat kedatangan iring-iringan
mobil yang membawa mereka, para pengendara
lain langsung menepikan mobil mereka kemudian berhenti seolah sedang memberi jalan pada
rombongan itu untuk lewat.
"Kenapa kau harus setegang ini sayang.? Kita
hanya berkunjung ke rumah orang tuamu."
__ADS_1
Aaron menarik tubuh Raya ke dalam rengkuhan
nya, kemudian memeluknya erat mencoba untuk
memberi ketenangan.
"Entahlah sayang.. aku sedikit gugup."
"Bukankah aku bersamamu.? Aku akan selalu
berada di sisimu."
Raya merebahkan kepalanya di dada Aaron,
mata mereka saling menatap lembut.
"Tentu saja. Tapi ini pertama kalinya aku datang
ke tempat ini sayang.."
"Tenangkan dirimu. Ini adalah tanah kelahiran
ayahmu, daerah kekuasaannya."
Desis Aaron, Raya mengedipkan matanya. Aaron
mendaratkan ciuman lembut di bibir merah muda istrinya itu, ********** kuat dan dalam membuat
Raya sedikit terkejut dengan serangan dadakan
itu. Namun tidak lama dia langsung membalasnya
dan mencoba mengimbangi permainan lidah
Aaron. Akhirnya keduanya larut dalam kehangatan
dan kenikmatan bibir masing-masing mencoba
untuk menghalau hawa dingin yang tercipta di
luar sana.
Beberapa waktu kemudian iring-iringan mobil
mewah itu mulai memasuki satu kawasan privat.
Dan tidak lama dari kejauhan sudah nampak
sebuah bangunan super luas yang berdiri megah
di tengah-tengah area taman bunga di sekitarnya
yang berlatar laut lepas di belakangnya.
Istana Sulaiman.. bangunan indah nan megah
itu berdiri menjulang dengan desain arsitektur
ketimuran yang sangat eksotis serta artistik.
Raya menatap terpukau kearah istana megah
itu yang kini semakin mendekat.
"Subhanallah.. indah banget.."
Lirih Raya sambil menutup mulutnya. Sungguh
dia langsung jatuh cinta pada keindahan serta
keeksotisan bangunan istana milik keluarga
sang ayah tersebut.
Akhirnya mobil yang membawa mereka mulai
memasuki halaman depan istana indah itu.
Puluhan penjaga dan pelayan istana tampak
berbaris rapi di kedua sisi halaman depan istana
yang sangat luas itu dengan mengenakkan
seragam khas negara ini.
Beberapa staf istana langsung merapat begitu
mobil yang membawa Raya berhenti di depan
pintu masuk istana yang teramat megah dengan
ukiran mewah dan berlapis emas di beberapa
bagiannya tersebut. Pintu mobil kini bergeser
otomatis, dan para staf istana yang menyambut
langsung serempak membungkukkan badan di
ikuti oleh para penjaga dan pelayan istana.
"Selamat datang Pangeran.. selamat datang
Putri Agung.."
Sambut mereka dalam bahasa negaranya.
Aaron keluar duluan, kemudian menyambut
tangan Raya dan menggenggam nya kuat. Alis
Raya bertaut, dia tidak melihat keberadaan Ayah
dan ibunya, dimana mereka.? Untuk sesaat dia memutar pandangannya kearah semua orang
yang sedang menunduk hormat.
Ya Tuhan..dimanapun dirinya muncul sambutan
seperti ini selalu saja di terimanya.
"Silahkan Yang Mulya.. Ayah dan Ibu anda ada
sudah menunggu di dalam."
Murat tampaknya membaca keheranan Raya.
Aaron mulai melangkah tenang dan gagah
menaiki tangga istana satu persatu dengan
penuh kharisma sambil menggandeng Raya.
Para pelayan dan penjaga benar-benar merasa
penasaran ingin melihat rupa pasangan itu,
tapi apalah daya, mereka tidak di perkenankan
untuk mengangkat muka di hadapan mereka.
Rombongan itu kini sudah mulai masuk ke dalam
bangunan istana super megah itu. Pilar-pilar
besar bernuansa emas tampak berderet gagah
di sepanjang lorong yang kini di lalui. Entah
mereka akan di bawa kemana, karena yang jelas
walau sudah melewati beberapa ruangan mewah
nan glamor tapi ternyata belum sampai juga.
Akhirnya setelah cukup jauh berjalan mereka
tiba di depan sebuah pintu ruangan kembar
yang terlihat tinggi menjulang dengan desain
yang sangat indah dan mewah.
"Selamat datang Princess Agung Maharaya
di istana King Sulaiman.."
Ada barisan staf istana wanita yang serempak
menyambut sambil mendorong pintu kembar
yang sangat megah itu. Dan tiba-tiba saja ada
gaung musik khas negara ini yang menggema
dari arah ruangan dalam.
Mata Raya tampak melongo tak percaya, ketika
tiba-tiba puluhan penari adat bergerak serentak
seiring alunan musik yang menggema. Penari-
penari itu membawakan tarian selamat datang
dengan gerakan yang sangat indah di sertai
alunan musik yang begitu menggetarkan.
Raya dan Aaron perlahan melangkah. Ternyata
mereka saat ini memasuki ruangan utama istana
King Sulaiman yang luasnya bahkan melebihi
sebuah ballroom dengan keindahan serta
kemegahan interior yang tidak terjabarkan.
Begitu glamor dan sangat menyilaukan mata.
Mata mereka berdua saling berbenturan tatap
dengan mata orang-orang yang ada di seberang
ruangan. Keduanya kembali berjalan perlahan di
bimbing oleh para penari yang terus bergerak
lemah gemulai hingga akhirnya mereka tiba di tengah-tengah ruangan.
"Ayah.. Ibu.."
Lirih Raya dengan suara yang sedikit tersendat.
Dua bulan tidak bertemu membuat rasa rindu
kini seakan telah memenuhi dadanya.
Di ujung sana sudah ada Prince Serkan yang
menatap Raya dengan mata berkaca-kaca. Lalu
ada Princess Ratih Ayu yang sudah berlinang air
mata. Ada para paman dan bibinya yang sedang
tersenyum bahagia, kemudian ada para saudara
sepupu keluarga Sulaiman yang sedang menatap
terkesima kearah dirinya dan Aaron.
Selain mereka semua.. tatapan Raya kini terjerat dengan sepasang mata bening sendu dari seorang wanita cantik nan elok yang sedang menatap
dirinya penuh dengan keterkejutan dan rasa tidak
percaya. Wanita cantik nan memukau itu tampak
berdiri kaku di samping seorang pria gagah dan mempesona yang sedang menggendong bayi
laki-laki tampan yang sangat menggemaskan.
Untuk sesaat mata Aaron dan mata sendu wanita
itu tampak saling menatap dengan sorot mata
yang sangat kompleks. Tidak terbaca. Namun
tidak lama Aaron memutus pandangan mereka kemudian berpaling pada sang pria yang ada di samping wanita itu, terutama pada bayi tampan
yang sangat menggemaskan itu.
Sementara mata wanita itu kini kembali saling
menatap dengan mata indah Raya yang terlihat
mulai berair..
"Mbak Mayra.. Akhirnya kita bertemu juga.."
Desis Raya dengan suara yang sedikit gemetar
menahan gejolak perasaan yang entah seperti
apa bentuknya saat ini...
***
**Note:
__ADS_1
Towards the final episodes**...