Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
103. Kunjungan Spesial


__ADS_3

***


Tidak ada yang paling hebat di dunia ini. Manusia


banyak kelemahannya. Seperti kata pepatah, di


atas langit masih ada langit. Seberapa hebatnya


kita, suatu saat pasti akan membutuhkan orang


lain juga. Hal ini di rasakan betul oleh seorang


Aaron Marvell De Enzo..


Berbagai peristiwa yang terjadi, membuat Aaron


terus berfikir dan merenung. Dia tidak bisa terus menerus berada di jalan ini. Dia harus mulai fokus


pada tujuan hidup yang telah di skenario dengan


sangat baik oleh Tuhan. Sekarang ini dia memiliki tanggungjawab yang sangat besar, memimpin


dan menjalankan peran sebagai calon raja masa


depan. Dia harus bisa menghapus jejaknya di


dunia hitam. Tidak boleh ada lagi Underground


Devil..


Apalagi yang kurang dalam hidupnya. Semuanya


begitu sempurna. Dia memiliki kedua orang tua


yang sangat menyayanginya, seluruh keluarga


yang sangat perhatian padanya, dan seorang


istri pilihan yang begitu mencintainya. Inilah


yang saat ini harus jadi prioritas dalam hidup


nya. Dia adalah pria paling beruntung di dunia.


Waktu terus berjalan tanpa terasa..


Kini hari-hari di lalui Aaron dan Raya dengan


berbagai cerita dan kenangan. Tuhan sudah


begitu baik pada mereka dengan memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Raya


juga merasakan semakin kesini rasa cinta dan perhatian Aaron semakin meluap-luap. Setiap


hari suaminya itu menyiraminya dengan kasih


sayang dan selalu memanjakannya.


Tak terasa sekarang ini kandungan Raya sudah menginjak usia 5 bulan. Perutnya juga sekarang


ini sudah terlihat membesar, membuat Aaron


semakin bertambah posesif dan gila-gilaan


dalam menjaga dan melindungi istrinya itu.


Ada banyak kegiatan yang harus di lakukan Raya sebagai seorang Putri Mahkota. Hal itu kadang


membuatnya merasa sedikit bosan dengan segala rutinitas harian nya tersebut. Kemana-mana dia


harus selalu di iringi oleh rombongan besar. Dan


di mana-mana dia akan senantiasa mendapat penghormatan. Sungguh..semua itu membuat


dia terkadang di landa rasa jenuh. Oleh karena


itu, setiap weekend Aaron selalu membawa Raya


untuk menginap di Kastil mewah miliknya atau


berkunjung ke white house hanya agar istrinya


itu kembali semangat.


Dan akhirnya minggu ini mereka akan terbang ke


negara asal ayah kandung Raya untuk menghadiri


acara perkenalan dengan seluruh keluarga besar


As Syaf Sulaiman sekaligus perayaan pernikahan mereka di negara tersebut karena usia kandungan


nya saat ini sudah memungkinkan dia untuk


melakukan penerbangan ke luar negeri.


Tapi sebelum pergi, Raya harus melakukan cek


kandungan terlebih dahulu untuk memastikan


kondisi kehamilannya. Hari ini Aaron pergi ke


rumah sakit istana untuk memeriksakan


kandungan istrinya itu.


"Alhamdulillah.. bayi anda dalam keadaan baik


Yang Mulya. Semuanya tumbuh sesuai dengan


yang seharusnya. Dia sangat kuat dan sehat."


Dokter Zuhra berucap sambil menggerakkan


tranduser di atas permukaan perut Raya. Saat


ini Raya sedang melakukan USG 4D untuk melihat


perkembangan bayi yang di kandungnya. Aaron


dengan setia menemani, dia memang tidak akan


pernah lagi melewatkan semua moment penting


yang berhubungan dengan kehamilan istrinya itu.


Mata Aaron dan Raya saat ini tampak tak berkedip


dan sedikit berkaca-kaca, begitu fokus pada layar monitor yang sedang menampilkan gambar sosok


mungil yang bergerak-gerak halus di dalam sana


dan terlihat jelas segala bentuk serta gerakannya.


"Masya Allah.. sayang.. bayi kita dalam keadaan


sehat. Dia sangat menakjubkan.. Lihatlah..dia


terus bergerak sayang.. Subhanallah.."


Raya terlihat sedikit histeris saat melihat sosok


mungil tersebut. Sudut mata Sang Putra Mahkota


tampak berair. Luar biasa.. Aaron tidak mampu


menyembunyikan rasa haru dan bahagia nya.


"Iya sayang.. dia adalah keajaiban nyata yang


telah Tuhan perlihatkan kepada kita secara


langsung. Dia calon penerus kerajaan ini.!"


Desis Aaron sambil menciumi jemari tangan


Raya yang dari tadi di genggamnya erat. Raya


mengusap lembut air bening yang membasahi


sudut mata suaminya itu.


"Sayang..kamu menangis.? Bagaimana bisa


seorang Putra Mahkota yang begitu gagah


menangis seperti ini.?"


Raya berucap lembut penuh haru. Dokter Zuhra


tampak mengulum senyum, mencoba untuk


tetap tenang dan kembali pada layar monitor.


"Aku sangat mencintai kalian berdua. Aku bisa


melakukan apapun untuk kalian, apalagi hanya


mengeluarkan air mata seperti ini."


Desis Aaron membela diri sambil membawa


jemari Raya di tempelkan di pipinya.


"Uuhh sayang.. kau ini manis sekali sih. Dokter..


tolong..ini hanya diantara kita bertiga saja ya.."


Goda Raya sambil tersenyum manis. Aaron


tampak memalingkan wajahnya, sementara


Dokter Zuhra kembali tersenyum lembut seraya mengangguk faham.


"Tentu saja Yang Mulya saya mengerti. Lagipula


hal ini lazim terjadi, apalagi saya lihat Yang Mulya


Putra Mahkota sangat mencintai anda dan calon


bayi kalian."


Senyum Raya semakin merekah. Keduanya kini


saling menatap lembut. Tidak lama mata mereka kembali terfokus pada layar komputer mengamati pergerakan bayi mereka.


***


Masih sore Aaron sudah keluar dari kantornya.


Hari ini setelah pulang mengantar Raya ke dokter


dia harus pergi ke gedung Marvello's Corporation


karena harus menghadiri rapat seluruh direksi.


Sebenarnya dia sudah menyerahkan segala hal


yang menyangkut semua perusahaannya pada


Ansel dan bawahannya yang berkompeten, tapi


tetap saja kehadirannya di perlukan pada waktu


tertentu.


Tiba di kamar Aaron langsung menyerang Raya


yang sedang menikmati waktu bersantai nya


di balkon kamar sambil menikmati camilan sore.


Akhir-akhir ini nafsu makan Raya semakin baik


hingga berat badannya juga semakin bertambah.


Tidak bisa menghindar, akhirnya mau tidak mau


Raya harus melayani keinginan suaminya yang


tidak pernah mengenal waktu itu. Keduanya


bercinta hingga menghabiskan waktu hampir


dua jam lamanya. Anehnya semakin bertambah


besar perut Raya, hasrat dan gairah Aaron bukan


nya berkurang, malah semakin menggila saja.


Aaron menggulung tubuh Raya dengan bathrobe


begitu mereka selesai membersihkan diri. Lalu


menggendong nya menuju tempat tidur. Pria itu


tampak berjongkok di bawah Raya yang terduduk


di tepi tempat tidur. Dia mengelus lembut perut


istrinya itu dan menciumi nya gemas.


Raya membelai sayang rambut halus Aaron yang


terlihat begitu menikmati kesenangannya dengan


menempelkan pipinya di perut Raya. Dia seolah


ingin merasakan segala pergerakan yang ada di


dalam perut istrinya itu dengan seksama.

__ADS_1


"Sayang.. apa kau bahagia dengan kehamilanku


ini.? Kau benar-benar tidak menyesal kan.?"


Aaron membeku, dia mendongakan kepala nya.


Mata mereka bertemu, saling menatap kuat.


"Apa yang kau katakan.? Kenapa berbicara


seperti itu.? Apa kau masih meragukan ku.?"


Raya masih menatap wajah Aaron yang ada di


depannya. Dia meraup wajah super tampan itu


dan menariknya agar mendekat.


"Apa kau keberatan kalau aku meragukan mu.?"


Raut wajah Aaron seketika berubah dingin. Dia


semakin menatap tajam wajah Raya yang kini


mencoba menyembunyikan senyumnya.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya


padaku ? Apa aku harus menembak kepalaku.?"


Seketika Raya tertawa kecil dengan raut wajah


terlihat gemas dan puas karena telah mengerjai


Aaron sampai ekspresi sadis nya keluar semua.


"Tidak perlu sayang..Aku percaya sepenuhnya


padamu. Aku hanya sedang mengingat awal


pertemuan kita."


"Tidak perlu di ingat. Semua dosa itu bertumpuk


padaku. Akulah yang sudah merusak harga diri


dan kehormatan mu.!"


Desis Aaron sambil kemudian meraih tubuh Raya


di bawa keatas pangkuannya. Mereka kini saling berhadapan, masih dalam keadaan tubuh yang


hanya berbalut handuk putih saja. Tangan Raya


bergerak melingkari leher kokoh Aaron. Perutnya


yang membuncit menempel ketat di perut Aaron


dan posisi ini sangat di gilai oleh suaminya itu.


"Kenapa kau melakukan itu padaku.? Apa benar


semuanya terjadi semata-mata karena ingatan


mu pada cinta pertama mu.?"


Wajah Aaron tampak berubah aneh, tidak suka


dan tidak terima tuduhan raya. Sementara bibir


Raya mengulas senyum manis.


"Mungkin itu ada benarnya juga. Tapi kau tahu,


yang sesungguhnya terjadi adalah karena aku


tidak bisa menahan diri saat berada di dekatku.


Daya tarik mu itu terlalu kuat, aku tidak pernah


mengalami hal itu sebelumnya.!"


"Kau bohong..! Aku tidak percaya padamu.!"


"Aku sudah membuktikannya bukan.? Dengan


adanya Aaron junior di dalam rahim mu ini."


"Apa benar aku wanita istimewa karena bisa


mengandung benih berharga mu.?"


Aaron menyeringai tipis. Dia menarik dagu


Raya dan mengecupnya perlahan.


"Tentu saja sayang, kau adalah wanita pilihan.


Hanya kau satu-satunya wanita yang bisa jadi


ibu dari anak-anakku. Entah kenapa dari awal


aku sudah yakin akan hal itu.!"


Raya terdiam, wajahnya tampak bersemu merah.


Perlahan dia mendaratkan ciuman halus di bibir


Aaron, kemudian ********** lembut dan manis


yang langsung membuat Aaron memejamkan


matanya tidak berdaya. Jiwanya jatuh ke dalam


buaian kenikmatan yang di tebarkan oleh istrinya


ini. Namun tidak lama Raya melepaskan semua


sensasi kenikmatan yang mampu menerbangkan


Aaron ke awang-awang tersebut.


"Aku mau ganti baju sekarang, sebentar lagi


waktu sholat magrib tiba."


Ujar Raya sambil kemudian turun dari pangkuan


Aaron setelah itu melangkah pergi ke arah ruang


ganti pakaian meninggalkan Aaron yang hanya


bisa meringis karena kini tubuh bagian bawahnya


kembali meronta, benar-benar tidak ada lelahnya.


Malam nya Raya dan Aaron memutuskan untuk


karena mereka ingin segera beristirahat lebih


cepat untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang


kelelahan setelah pertempuran tadi sore. Esok


hari mereka akan melakukan penerbangan.


***


Pesawat pribadi super mewah milik keluarga


De Enzo akhirnya mendarat mulus di landasan


khusus bandara internasional xx..di negara T.


Kebetulan Raja dan Ratu tidak bisa ikut datang


ke acara perayaan ini karena ada hal yang tidak


bisa di tinggalkan. Hanya Arthur dan Arabella


saja yang ikut dalam kunjungan ini.


Raya keluar dari pintu pesawat. Matanya tampak


berbinar indah menyambut lingkungan dan iklim


yang berbeda di negara ini. Saat ini dia memakai


gaun cantik warna navy berbalut mantel panjang


serta sepatu boots manis dengan hijab simpel


yang masih di tutup syal tebal karena cuaca di


negara ini kebetulan berada pada musim dingin.


Aaron menggenggam erat tangan Raya. Untuk


sesaat keduanya tampak saling pandang lekat.


Di bawah tangga pesawat saat ini ada barisan


pria-pria berpakaian dan berkacamata hitam,


berbaris rapi di kedua sisi karpet merah yang


membentang sampai di depan sebuah mobil


super mewah yang telah terparkir dengan gagah .


Murat yang memimpin penyambutan ini tampak


mendekat ke ujung tangga pesawat begitu Aaron


dan Raya mulai melangkah turun. Pria tinggi


kekar dengan tampang yang sangat tegas itu


mencoba mengulurkan tangan menyambut


kedatangan sang Putri Agung yang langsung


menerima uluran tangan asisten pribadi sang


Ayah tersebut. Murat kini membimbing Raya


menuruni tangga dengan memegang tangannya.


"Selamat datang Yang Mulya Prince Marvell..


Princess Emeera As Syaf Sulaiman."


Sambut beberapa orang pria tinggi besar yang


mengenakan pakaian adat negara ini sambil


membungkuk hormat di hadapan Aaron dan


Raya saat mereka menapakkan kaki di karpet.


Sementara barisan pria berpakaian serba hitam


tadi tampak serempak membungkukkan badan.


"Terimakasih atas sambutannya."


Raya berucap lembut dan tegas dengan senyum


hangat yang terkembang manis dari bibirnya.


"Mari.. Yang Mulya.. anda tidak boleh terlalu


lama berada di luar ruangan."


Murat berbicara sambil kembali membimbing


Raya dan Aaron serta rombongannya agar


segera melangkah menuju mobil jemputan.


Akhirnya Aaron dan semua rombongan mulai


melangkah menuju kendaraan yang sudah di


siapkan, dan tidak lama mobil-mobil mewah


itupun mulai melaju keluar dari area bandara.


Mobil mewah itu kini meluncur tenang di tengah


kota yang terlihat megah di hiasi deretan gedung


pencakar langit yang mengundang decak kagum


bagi orang-orang yang baru menginjakkan kaki


di tempat itu. Suasana kota bertambah eksotis


karena saat ini salju sudah mulai turun memenuhi setiap sudut tempat dan pepohonan.


Aneh nya begitu melihat kedatangan iring-iringan


mobil yang membawa mereka, para pengendara


lain langsung menepikan mobil mereka kemudian berhenti seolah sedang memberi jalan pada


rombongan itu untuk lewat.


"Kenapa kau harus setegang ini sayang.? Kita


hanya berkunjung ke rumah orang tuamu."

__ADS_1


Aaron menarik tubuh Raya ke dalam rengkuhan


nya, kemudian memeluknya erat mencoba untuk


memberi ketenangan.


"Entahlah sayang.. aku sedikit gugup."


"Bukankah aku bersamamu.? Aku akan selalu


berada di sisimu."


Raya merebahkan kepalanya di dada Aaron,


mata mereka saling menatap lembut.


"Tentu saja. Tapi ini pertama kalinya aku datang


ke tempat ini sayang.."


"Tenangkan dirimu. Ini adalah tanah kelahiran


ayahmu, daerah kekuasaannya."


Desis Aaron, Raya mengedipkan matanya. Aaron


mendaratkan ciuman lembut di bibir merah muda istrinya itu, ********** kuat dan dalam membuat


Raya sedikit terkejut dengan serangan dadakan


itu. Namun tidak lama dia langsung membalasnya


dan mencoba mengimbangi permainan lidah


Aaron. Akhirnya keduanya larut dalam kehangatan


dan kenikmatan bibir masing-masing mencoba


untuk menghalau hawa dingin yang tercipta di


luar sana.


Beberapa waktu kemudian iring-iringan mobil


mewah itu mulai memasuki satu kawasan privat.


Dan tidak lama dari kejauhan sudah nampak


sebuah bangunan super luas yang berdiri megah


di tengah-tengah area taman bunga di sekitarnya


yang berlatar laut lepas di belakangnya.


Istana Sulaiman.. bangunan indah nan megah


itu berdiri menjulang dengan desain arsitektur


ketimuran yang sangat eksotis serta artistik.


Raya menatap terpukau kearah istana megah


itu yang kini semakin mendekat.


"Subhanallah.. indah banget.."


Lirih Raya sambil menutup mulutnya. Sungguh


dia langsung jatuh cinta pada keindahan serta


keeksotisan bangunan istana milik keluarga


sang ayah tersebut.


Akhirnya mobil yang membawa mereka mulai


memasuki halaman depan istana indah itu.


Puluhan penjaga dan pelayan istana tampak


berbaris rapi di kedua sisi halaman depan istana


yang sangat luas itu dengan mengenakkan


seragam khas negara ini.


Beberapa staf istana langsung merapat begitu


mobil yang membawa Raya berhenti di depan


pintu masuk istana yang teramat megah dengan


ukiran mewah dan berlapis emas di beberapa


bagiannya tersebut. Pintu mobil kini bergeser


otomatis, dan para staf istana yang menyambut


langsung serempak membungkukkan badan di


ikuti oleh para penjaga dan pelayan istana.


"Selamat datang Pangeran.. selamat datang


Putri Agung.."


Sambut mereka dalam bahasa negaranya.


Aaron keluar duluan, kemudian menyambut


tangan Raya dan menggenggam nya kuat. Alis


Raya bertaut, dia tidak melihat keberadaan Ayah


dan ibunya, dimana mereka.? Untuk sesaat dia memutar pandangannya kearah semua orang


yang sedang menunduk hormat.


Ya Tuhan..dimanapun dirinya muncul sambutan


seperti ini selalu saja di terimanya.


"Silahkan Yang Mulya.. Ayah dan Ibu anda ada


sudah menunggu di dalam."


Murat tampaknya membaca keheranan Raya.


Aaron mulai melangkah tenang dan gagah


menaiki tangga istana satu persatu dengan


penuh kharisma sambil menggandeng Raya.


Para pelayan dan penjaga benar-benar merasa


penasaran ingin melihat rupa pasangan itu,


tapi apalah daya, mereka tidak di perkenankan


untuk mengangkat muka di hadapan mereka.


Rombongan itu kini sudah mulai masuk ke dalam


bangunan istana super megah itu. Pilar-pilar


besar bernuansa emas tampak berderet gagah


di sepanjang lorong yang kini di lalui. Entah


mereka akan di bawa kemana, karena yang jelas


walau sudah melewati beberapa ruangan mewah


nan glamor tapi ternyata belum sampai juga.


Akhirnya setelah cukup jauh berjalan mereka


tiba di depan sebuah pintu ruangan kembar


yang terlihat tinggi menjulang dengan desain


yang sangat indah dan mewah.


"Selamat datang Princess Agung Maharaya


di istana King Sulaiman.."


Ada barisan staf istana wanita yang serempak


menyambut sambil mendorong pintu kembar


yang sangat megah itu. Dan tiba-tiba saja ada


gaung musik khas negara ini yang menggema


dari arah ruangan dalam.


Mata Raya tampak melongo tak percaya, ketika


tiba-tiba puluhan penari adat bergerak serentak


seiring alunan musik yang menggema. Penari-


penari itu membawakan tarian selamat datang


dengan gerakan yang sangat indah di sertai


alunan musik yang begitu menggetarkan.


Raya dan Aaron perlahan melangkah. Ternyata


mereka saat ini memasuki ruangan utama istana


King Sulaiman yang luasnya bahkan melebihi


sebuah ballroom dengan keindahan serta


kemegahan interior yang tidak terjabarkan.


Begitu glamor dan sangat menyilaukan mata.


Mata mereka berdua saling berbenturan tatap


dengan mata orang-orang yang ada di seberang


ruangan. Keduanya kembali berjalan perlahan di


bimbing oleh para penari yang terus bergerak


lemah gemulai hingga akhirnya mereka tiba di tengah-tengah ruangan.


"Ayah.. Ibu.."


Lirih Raya dengan suara yang sedikit tersendat.


Dua bulan tidak bertemu membuat rasa rindu


kini seakan telah memenuhi dadanya.


Di ujung sana sudah ada Prince Serkan yang


menatap Raya dengan mata berkaca-kaca. Lalu


ada Princess Ratih Ayu yang sudah berlinang air


mata. Ada para paman dan bibinya yang sedang


tersenyum bahagia, kemudian ada para saudara


sepupu keluarga Sulaiman yang sedang menatap


terkesima kearah dirinya dan Aaron.


Selain mereka semua.. tatapan Raya kini terjerat dengan sepasang mata bening sendu dari seorang wanita cantik nan elok yang sedang menatap


dirinya penuh dengan keterkejutan dan rasa tidak


percaya. Wanita cantik nan memukau itu tampak


berdiri kaku di samping seorang pria gagah dan mempesona yang sedang menggendong bayi


laki-laki tampan yang sangat menggemaskan.


Untuk sesaat mata Aaron dan mata sendu wanita


itu tampak saling menatap dengan sorot mata


yang sangat kompleks. Tidak terbaca. Namun


tidak lama Aaron memutus pandangan mereka kemudian berpaling pada sang pria yang ada di samping wanita itu, terutama pada bayi tampan


yang sangat menggemaskan itu.


Sementara mata wanita itu kini kembali saling


menatap dengan mata indah Raya yang terlihat


mulai berair..


"Mbak Mayra.. Akhirnya kita bertemu juga.."


Desis Raya dengan suara yang sedikit gemetar


menahan gejolak perasaan yang entah seperti


apa bentuknya saat ini...


***


**Note:

__ADS_1


Towards the final episodes**...


__ADS_2