Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
14. Saudara Sepupu


__ADS_3

❤️❤️❤️


Sean menatap berat kearah Raya yang masih


berdiri mematung, mencoba meyakinkan


diri atas apa yang di dengarnya.


"Mulai besok kau akan menempati posisi


sebagai sekretaris pribadi Presdir."


Sean kembali menegaskan. Perlahan Raya


kembali duduk di hadapan Sean. Jessica kini


mendekatinya, berdiri di samping Raya yang


masih terdiam dalam ketidakpercayaan.


Sekertaris pribadi Presdir ? apa dia sedang


berada dalam dunia khayalan.?


"Kenapa aku harus di mutasi ke bidang lain.?


Aku tidak akan bisa menjalankan misi ini !"


"Aku sudah menjelaskan semuanya pada


beliau, tapi keputusan nya adalah mutlak.!"


Wajah Raya berubah semakin tidak nyaman.


Sekretaris pribadi Presdir.? Entah ini sebuah


keajaiban ataupun kesialan, karena setahu


dia, Presdir perusahaan ini adalah orang yang


sangat misterius, dan tidak mudah untuk di


telusuri. Tapi kenapa sekarang ini sosok itu


tiba-tiba saja ingin menampakkan diri pada


dunia luar ? Apa yang terjadi sebenarnya.?


"Aku masih bisa menolak semua ini kan.?"


"Aku akan memberimu dua pilihan.!"


Sean berucap dengan mimik yang sangat


serius. Raya dan Jessica langsung menatap


penasaran kearah Sean yang kini menghela


napas penuh keyakinan.


"Kau menerima pinangan ku, lalu menikah


denganku. Atau kau akan menerima posisi


penting ini.!"


Wajah Raya langsung berubah tertekan,


sedang wajah Sean tampak di penuhi oleh


harapan.Lain lagi dengan Jessica yang ikut


berharap Raya menerima lamaran Sean.


Bagi Raya kedua-duanya bukanlah pilihan


yang menguntungkan.


"Aku tidak bisa melepasmu Ray, kalau kau


menerima posisi ini, kau akan pergi kemana


Presdir pergi.!"


Kembali ucap Sean, kali ini wajahnya terlihat


sangat cemas. Raya menundukkan kepalanya.


Dia memang berat kalau harus menjauh dari


Sean, tapi ini adalah peluang bagus baginya


untuk menjauh dari laki-laki jahat itu. Bisakah


dia mengambil posisi ini sementara dirinya


sedang berada di bawah pengawasan nya.?


"Aku..aku belum bisa mengambil keputusan.


Ini sangat mendadak bagiku."


Lirih Raya akhirnya di tengah kekalutan nya.


Sean menatap tenang wajah Raya, harapan


nya begitu besar agar Raya menerima dirinya.


Sean benar-benar tidak peduli pada kondisi


gadis itu yang menjadi korban kekerasan.


Karena baginya perasaannya terhadap gadis


itu jauh lebih penting. Kalau Raya menolak


permintaan Presdir, maka dia akan dengan


senang hati mendeklarasikan hubungan nya


dengan Raya di depan Tuan nya itu.


"Baiklah, aku akan memberimu waktu sampai


besok pagi. Karena waktunya sangat urgent.!"


"Baiklah.. Kalau begitu aku permisi dulu."


Raya berdiri, lalu menundukan kepala sedikit


di hadapan Sean setelah itu dia membawa


Jessica melangkah keluar ruangan.


***


Pulang kerja Raya memutuskan untuk pergi


ke rumah Keluarga Atmaja terlebih dulu. Dia


ingin mengambil beberapa berkas penting


juga bertemu dengan sang adik kesayangan,


Arka. Begitu bertemu mereka berdua langsung


melepas rindu dengan saling berpelukkan.


"Apa kakak akan melaporkan kasus kemarin.?


Aku akan ikut mengantarmu.!"


Raya terdiam, wajahnya berubah sedikit muram.


Dia tahu pasti kalau Arka tidak bisa menerima


semua kejadian itu begitu saja.


"Arka, ada banyak hal yang harus di pikirkan


sebelum kita mengambil satu keputusan. Dan


kakak tidak bisa egois, hanya mementingkan


kepuasan sendiri saja."


Raya mengusap kepala Arka yang duduk di


samping nya dengan tatapan bingung.


"Apa maksud Kakak, apa Kakak akan


membiarkan penjahat itu bebas begitu saja.?"


Tatapan Arka terlihat penuh emosi, dia sudah


menyimpan kemarahan nya sejak kemarin dan


kini mengendap di jiwanya. Raya menggeleng,


dia kembali mengusap rambut adiknya itu.


"Tentu saja tidak, Kakak tidak akan pernah


membiarkan orang itu tenang dan menjalani


hidupnya tanpa beban.! Walau bagaimanapun

__ADS_1


penjahat itu harus membayar semua yang


telah di perbuat nya.!"


Ujar Raya dengan penekanan di setiap kata-


katanya di sertai nada kebencian yang jelas


sekali terdengar dari ucapannya. Arka meraih


tangan Raya, menggenggam nya kuat.


"Kakak harus kuat, dan aku minta jangan


pernah mengulangi kebodohan itu lagi, itu


hanya akan merugikan diri kakak sendiri.!"


Raya tersenyum lembut. Dia mengacak rambut


adik semata wayangnya itu.


"Baiklah Tuan Muda, Kau dewasa terlalu cepat.


Belajarlah dengan baik dan serius.!"


Ledeknya sambil kemudian memasukkan


barang-barang bawaannya, setelah itu berdiri,


menatap ke sekeliling kamarnya.


"Apa kakak sudah benar-benar mengambil


keputusan.?"


"Sepertinya ini memang sudah menjadi jalan


hidup Kakak, semoga ini yang terbaik."


Ujar Raya sambil kemudian melangkah keluar


dari kamarnya di temani Arka yang membawa


tas bawaan Raya. Tiba di ruang keluarga dua


saudari tirinya sudah menunggu dengan


tatapan yang terlihat merendahkan.


"Syukur deh kalau kamu masih punya malu.


Kita juga tidak tidak ingin menampung gadis


korban pemerkosaan..!!"


Riri berkata pedas sambil maju ke hadapan


Raya yang berdiri santai, berusaha untuk tidak


meladeni ocehan dua saudari nya itu yang tidak


pernah membiarkan dirinya bebas begitu saja.


Arka langsung maju, tangannya terkepal kuat,


tapi Raya segera menarik nya, menatapnya


lembut memberi isyarat agar tetap tenang.


"Aku datang kesini hanya ingin mengambil


barang-barangku, jadi aku permisi sekarang.!"


"Ya sudah sana pergi.! Kita juga tidak ingin


terkena sial gara-gara kamu! Cihh..kau bisa


membawa pengaruh buruk pada keluarga ini.!"


Desis Riri sambil menekan dan mendorong


bahu Raya membuatnya mundur beberapa


langkah .


"Kak Riri, apa kamu bisa bersikap tenang


sedikit saja.? Apa kalian tidak ingat, kalau


kak Raya tidak mengorbankan dirinya demi


kita, mungkin sekarang ini kita semua hanya


tinggal nama saja !"


tatapan garang di telan kemarahan. Riri dan


Mila membelalakkan matanya melihat Arka


begitu gigih membela kakak satu ayahnya itu.


"Hei..bocah, jangan ikut campur kamu ya !


Itu kan dia sendiri yang mau menyerahkan


dirinya pada penjahat itu.!"


Geram Mila sambil ikutan maju ke hadapan


Arka dan Raya yang kini maju melindungi


adiknya itu.


"Kalian semua sudah kelewatan. Aku sudah


bosan melihat sikap arogan kalian ke kak


Raya.!"


Arka tetap ngotot ingin memberi pelajaran


pada kedua kakak menyebalkan nya itu.


Dia kembali maju ke hadapan Riri dan Mila.


"Sudah minggir kamu, jangan ikut campur.!


Dasar bocah tidak tahu diri, apa sih yang


kamu bela dari kakak murahan seperti dia.!"


Decak Mila sambil mendorong tubuh Arka


sampai remaja tanggung itu mundur beberapa langkah dengan wajah yang sudah memerah


tidak terima hinaan Mila pada Raya. Dua orang


pelayan yang ada di tempat itu hanya bisa


melihat perdebatan empat bersaudara itu


tanpa bisa ikut campur.


"Dan kamu, pergi dari sini, jangan pernah


lagi datang kesini, sana pergi..!!"


Mila mendorong tubuh Raya cukup keras


hingga tubuh nya hampir saja terjatuh kalau


sosok Griz tidak muncul di waktu yang tepat.


Dengan sigap wanita maskulin itu menahan


tubuh Raya, tatapan nya kini menyala kearah


Mila dan Riri yang langsung berdiri kaku di


tempat melihat aura gelap yang keluar dari


sosok tinggi tegas itu.


"Satu kali lagi kalian menyentuh kulit Nona


ku, aku pastikan kalian tidak akan melihat


matahari esok hari dengan tenang.!"


Ancam Griz dengan tatapan nyalang nya


yang langsung menciutkan nyali Riri dan


Mila. Lutut mereka kini mulai terasa lemas.


Siapa wanita menyeramkan ini.? Kenapa


tiba-tiba saja muncul dan mengatakan


kalau Raya adalah Nona nya.?


Raya menatap sebentar kearah Griz yang


masih menatapi kedua kakak beradik itu.


Sementara Arka tampak bengong terpukau

__ADS_1


pada sosok cool Griz yang terlihat begitu


keren di matanya.


"Sudah Griz, aku tidak apa-apa kok. Kita pergi


dari sini sekarang juga. Arka..kakak pergi ya,


baik-baik di rumah.!"


Raya menepuk bahu Arka yang hanya bisa


mengangguk pelan dengan tatapan tidak


lepas dari sosok Griz. Raya melangkah pergi


di kawal oleh Griz meninggalkan semua orang


yang masih terdiam di tempat.


"Kak Raya hebat, dia memakai jasa bodyguard


sekarang, pengawalnya juga keren abis.!"


Desis Arka sambil senyum-senyum sendiri.


seraya menggaruk tengkuknya saat mengingat


bagaimana kerennya sosok Griz.


***


Di sebuah ruang VVIP restaurant termahal


yang ada di pusat kota, saat ini Aaron dan


Ansel tampak sedang duduk menikmati


makan malamnya. Ansel terlihat sangat


antusias dengan semua hidangan lokal


yang ada di restauran ini.


"Besok, setelah semuanya berjalan sesuai


rencana kau kembali terbang ke negara xx..


Sepertinya aku masih harus membereskan


sisa masalah disini sampai tuntas.!"


Aaron mengakhiri makan malam nya yang


terlihat kurang berselera. Berbeda dengan


Ansel, tampaknya pria muda dengan aura


wajah yang sangat berbeda itu sangat


menikmati makanan yang ada di depannya.


"Apa Kakak serius akan menikahi gadis itu.?"


Ansel menatap Aaron yang merebahkan


tubuh nya ke sandaran sofa, memainkan


tablet kecil tipis di tangannya.


"Aku hanya membutuhkan keturunan darinya.


Benih itu sangat berharga, tidak bisa tumbuh


di sembarang rahim !"


"Kalau kakak berubah pikiran, biarkan aku


menggantikan posisi mu menikahi gadis itu.!"


Aaron menghentikan aktifitas nya seketika.


Matanya kini bergulir pada Ansel yang saat


ini sedang menatapnya serius.


"Apa yang ada di otak kecil mu itu.? Apa kau


menyukai wanita itu.?"


Tatapan Aaron kini berubah setajam silet.


Ansel memalingkan wajahnya, kembali fokus


pada makanannya.


"Dia sangat lah istimewa. Aku belum pernah


melihat mata seindah itu. Sangat dalam dan


memiliki sihir yang begitu mematikan.! Kau


beruntung menjadi pemilik kehormatannya.!"


Aaron terdiam, namun tatapannya terlihat


semakin menusuk dan mulai mengeluarkan


kebekuan di sekitarnya.


"Hanya ada satu wanita yang memiliki mata


indah dan membius, dan itu tidak akan bisa


di kalahkan oleh wanita manapun.!"


Desis Aaron dengan tatapan mata yang kini


berubah hampa. Pikirannya kembali melayang


pada satu sosok yang sedang berusaha untuk


di lupakan nya. Namun ternyata itu sangatlah


sulit untuk di lakukannya.


"Mungkin bagimu wanita itu adalah yang paling


indah.Tapi aku adalah petualang cinta. Wanita


ini benar-benar berbeda, dia memiliki sesuatu


yang istimewa dan tidak terbantahkan.!"


Aaron kembali melirik kearah Ansel, menatap


kuat sosok adik sepupu sekaligus asisten


pribadinya itu. Pria inilah yang selama ini


menjadi sosok pengganti kedudukannya.


"Kau adalah ******** kecil. Aku tidak akan


membiarkan wanita itu tersentuh pria lain


selama dia dalam pengawasanku.! Dia harus


bebas dari pengaruh buruk manusia lain.!"


Tegas Aaron sambil meletakkan tablet nya.


Ansel mengakhiri makan malamnya.


"Kalau begitu berikan dia padaku begitu kau


membebaskan nya.!"


Kedua mata tajam pria itu kini saling beradu,


berusaha menembus kedalaman hati masing-


masing. Aaron mendengus, memukul kepala


Ansel dengan wajah yang terlihat semakin


dingin. Dia berdiri, tidak lama kemudian


melangkah pergi keluar dari ruangan itu.


Ansel hanya bisa menghembuskan nafas


berat. Meraih tas kecil berisi berbagai alat


canggih yang selalu setia menemani waktu


dan kegiatan nya yang super padat. Selama


ini dia lah yang menjalankan perusahaan


milik saudara sepupunya itu, sementara


orang nya sendiri malah asyik mengembara..


***


Happy Reading.....

__ADS_1


__ADS_2