Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
28. Bertemu Mertua


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya dan Ansel turun dari tangga kemudian


melangkah tenang ke area pesta. Sementara


perhatian para tamu sebagian masih terfokus


pada mereka. Semua orang mengenal siapa


itu Ansel, selain sebagai sepupu Aaron juga


sebagai asisten pribadi Putra Mahkota.


Raya sebenarnya sedikit ragu saat melihat


bagaimana gemerlap dan glamornya pesta


ini, tapi Ansel terus meyakinkan nya.


Beberapa pasang mata saat ini masih fokus


kearah Raya dan Ansel yang sudah mendekat


ke area dimana Aaron berada. Pria itu tampak


kembali acuh dan datar, berbincang dengan


salah satu pengusaha dari timur tengah, ada


sedikit pembicaraan mengenai keyakinan dan


ajaran agama yang kini sedang di dalami oleh


Aaron, dan tampaknya sang pengusaha sudah


bisa memahami situasi. Dia terlihat sangat


antusias berbicara dengan pria penguasa itu.


Raya dan Ansel tiba di depan Aaron dan yang


lainnya. Catharina tampak tersenyum lembut


kearah Ansel dengan tatapan sedikit terkejut


melihat kehadirannya dengan menggandeng


wanita asing yang terlihat sangat istimewa itu.


Untuk sesaat Raya dan Aaron tampak saling


pandang, sulit sekali untuk mengabaikan satu


sama lain, tapi akhirnya Raya mencoba untuk


bersikap biasa dan profesional.


"Selamat malam Lady Catharina.. selamat


malam semuanya."


Ansel menyapa mereka sambil berdiri tegak


seraya menundukan kepala sopan di ikuti oleh


Raya yang juga melakukan hal yang sama.Dia


sudah di beritahu garis besarnya apa yang


harus di lakukannya malam ini oleh Ansel


tadi selama mereka turun ke tempat pesta ini.


"Selamat malam Tuan Danzstone.."


Catharina menyahut dengan senyum manis


dan gestur tubuh yang sangat anggun. Raya


belum di beritahu siapa Catharina ini. Mata


Aaron saat ini masih mengunci sosok Raya


yang ada di hadapannya, begitu cantik dan


seksi dengan tampilan sempurna tiada cela.


Ada hawa panas yang kini mulai menjalari


tubuhnya melihat bagaimana cantiknya Raya


malam ini. Kenapa wanita ini harus tampil


secantik dan seanggun ini, apakah dia sudah


salah menyiapkan gaun malam untuknya


kali ini.? Rahang Aaron sedikit mengeras,


namun dia mencoba setenang mungkin.


"Selamat malam Tuan Ansel.."


Sambut yang lain dengan tatapan masih


terlihat bingung dan penasaran pada sosok


wanita yang ada di samping Ansel. Apakah


dia wanita spesial nya Sang Asisten Putra


Mahkota.? Kelihatannya mereka berdua


sangat cocok dan serasi sekali. Tatapan


Raya kembali berbenturan dengan Aaron


yang seolah sedang menginterogasinya.


Raya memutus pandangan dengan sorot


mata tidak suka melihat tatapan kejam


laki-laki itu yang malam ini benar-benar


terlihat tampan dan bercahaya.


Ingat Raya..di sini peranmu adalah sebagai


sekretaris pribadi pria jahat ini..Kau harus


bisa bersikap se profesional mungkin..


Raya membathin seraya mengambil tempat


di belakang Aaron sedikit. Tentu saja hal itu


membuat semua orang terkejut dan di liputi


oleh tanda tanya besar karena tidak biasanya


seorang wanita berani selancang itu berada


di dekat Putra Mahkota yang terkenal sangat


dingin dan arogan.


"Kenalkan dia adalah Miss Raya.. sekretaris


pribadi Tuan De Enzo..!"


Akhirnya Ansel yang maju memperkenalkan


Raya pada para pengusaha juga Catharina.


"Sekretaris Pribadi Tuan De Enzo.?"


Salah seorang bergumam pelan tidak percaya.


Yang lain juga sedang berusaha meyakinkan


diri, terlebih lagi bagi seorang Catharina. Dia


menatap dalam wajah Raya, benar-benar tidak


percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Benar.. dia adalah sekretaris Pribadi ku.!"


Aaron menegaskan membuat semua orang


terdiam, ini adalah kejutan luar biasa. Setahu


mereka yang ada di sekeliling Aaron rata-rata


laki-laki yang kesemuanya sangat profesional


dan memiliki kemampuan diatas rata-rata.


"Selamat malam Tuan-tuan.. Lady.."


Raya menundukkan kepalanya penuh santun


seraya tersenyum sopan. Para pengusaha itu


tersenyum dan membalas sapaan Raya. Lady


Catharina masih menatap lekat wajah wanita


yang di perkenalkan sebagai sekretaris pribadi


calon tunangannya itu. Aaron mengibaskan


tangan sedikit memberi isyarat pada Ansel


yang langsung mengangguk.


"Permisi semuanya.. sepertinya kami harus


menemui Yang Mulya Raja dan Ratu.."


Ansel berpamitan, sementara Aaron sudah


melangkah duluan, dengan terpaksa Raya


mengikuti langkah pria itu di belakang. Aaron


melambatkan langkahnya agar bisa sejajar


dengan Raya, tapi wanita itu malah mundur


dan ikut-ikutan melambatkan langkahnya.


"Bersikaplah profesional..Jangan melakukan


sesuatu yang mencurigakan.!"


Desis Aaron dengan tatapan lurus ke depan.


Raya mengangkat wajah dengan sikap tenang


namun tidak mengurangi keanggunan nya.


"Tentu saja Tuan, saya adalah sekretaris pribadi


anda, sekarang semua orang akan tahu itu.!"


Jawab Raya dengan suara yang cukup tegas


namun ada nada kesal yang terselip di sana.

__ADS_1


Bibir Aaron terangkat sedikit. Mereka sudah


mendekat ke area utama, semua mata kini


mengarah padanya. Dan ada sepasang mata


tajam dengan aura gelap sedang menatap


lekat dengan sorot mata tidak terima melihat


keberadaan sosok Raya di samping Aaron.


Mata Raya bertemu dengan mata elang pria


menawan yang sedang berdiri gagah di area


utama, untuk sesaat dia tampak terkejut


melihat kehadiran pria itu. Pria yang bertemu


dengan nya pagi tadi. Dan kini pria itu sedang


menatapnya lembut dengan senyum aneh di


bibirnya yang membuat bulu kuduk nya berdiri


seketika. Ada sesuatu yang membuatnya


tidak nyaman saat melihat tatapan pria itu.


Aaron menghampiri Raja Williams kemudian


membungkuk di hadapannya dengan gaya


yang sangat elegan dan berkelas, tapi tetap


bertahan dengan raut wajah datarnya. Raya


menatap diam semua yang di lakukan oleh


bos sekaligus suami jahatnya itu.


"Selamat ulang tahun pernikahan Yang Mulya.


Semoga Tuhan selalu menjaga kalian."


Aaron berucap dengan suara berat dan datar.


Raja Williams menepuk bahu Aaron dengan


wajah tenang dan tatapan hangat. Raya berdiri


di belakangnya dengan kepala tertunduk.


Aaron berpaling pada Ratu Virginia yang saat


ini sedang menatap lembut kearah Putra


kesayangan nya itu. Dia kembali melakukan


hal sama di hadapan Ratu Virginia.


"Selamat Yang Mulya Ratu.. semoga anda


selalu diberi kebahagiaan dan kedamaian."


"Hanya satu yang aku inginkan. Cepatlah


beri kami kabar baik tentang masa depan


yang akan kau putuskan.!"


Aaron terdiam, Ratu mengusap lembut dada


bidang pria gagah itu di penuhi harapan.Tidak


ada interaksi intim di antara mereka walau


notabene nya mereka adalah keluarga. Semua


tampak formal dan sebagimana adanya. Dalam diamnya Raya mengamati interaksi suaminya


dengan Sang Ratu yang tampak tak biasa itu.


Ansel menyusul mengucapkan selamat pada


Ratu yang terlihat menepuk-nepuk bahu pria


itu dengan senyum lembut bersahaja.


"Ansel.. siapa dia, apakah dia seseorang yang


sedang dekat dengan mu.?"


Ratu Virginia berpaling pada Raya yang masih


berdiri di belakang Aaron, wajah Ansel tampak


memerah, andai saja itu benar.


Wanita ini adalah menantu mu Yang Mulya..!


"Yang Mulya.. perkenalkan..dia adalah Miss


Raya, sekretaris Pribadinya Tuan Marvell."


Raja dan Ratu tampak terkejut, mereka saling


pandang tidak percaya. Aaron melirik sekilas


kearah Raya memberi isyarat pada wanita itu


untuk melakukan sesuatu hal.


"Selamat malam Yang Mulya.. selamat ulang


tahun pernikahan.. saya turut berbahagia."


dengan suara yang sangat lembut dan tutur


kata yang halus. Gestur tubuh nya terlihat


begitu anggun penuh kesantunan namun ada ketegasan yang tersirat dari atitude yang di


perlihatkan nya. Raja dan Ratu untuk sesaat


tampak menatap lekat wanita yang memiliki


paras berbeda itu dan di perkenalkan sebagai sekertaris pribadi Putra Mahkota, ini sesuatu


yang cukup mengejutkan bagi mereka.


Aaron dan Ansel sendiri tampak terkesima,


ternyata wanita yang selama ini terlihat kasar


dan jutek itu mampu melakukan hal se elegan


itu, benar-benar di luar dugaan.


"Ohh ini sedikit mengejutkan..Setahuku kau


tidak suka memakai jasa sekertaris wanita,


ini sebuah kemajuan untukmu."


Ratu berusaha menuangkan rasa penasarannya


atas posisi Raya. Karena hal ini memang sesuatu


yang cukup luar biasa.


"Beliau adalah pegawai yang sangat hebat dan profesional di cabang Marvello's Yang Mulya."


Ansel kembali menerangkan sambil tersenyum


tenang kearah wanita terhormat yang notabene


nya adalah Tante nya itu. Ratu Virginia tampak


menatap Ansel dengan senyum penuh arti,


sepertinya ada sesuatu di balik ini.


"Ohh.. begitu ya.. baiklah, sepertinya itu cukup


masuk akal juga.!"


Ratu mengangguk masih menatap lurus kearah


Raya yang kini kembali pada posisi berdiri nya


di belakang Aaron. Tidak lama Raja dan Ratu


kembali pada kesibukannya melayani tamu


lain yang baru saja datang. Aaron dan Raya


mengambil tempat tidak jauh dari tempat


Raja dan Ratu berada.


"Miss Raya..kau di sini..?"


Aaron dan Ansel melihat kearah kedatangan


Arabella yang baru saja muncul di tempat itu


bersama dengan Pangeran Arthur.


"Selamat malam Putri.. Pangeran.."


Raya menundukkan kepalanya sopan di


hadapan Arabella yang terlihat cukup terkejut


melihat kehadiran Raya di pesta ini. Arthur pun


terlihat menatap lekat wajah cantik Raya


yang memang berbeda dari orang lain itu.


"Arabella..kau mengenal Miss Raya.?"


Ansel terlihat bingung begitu pun dengan


Aaron, mereka melihat Raya dan Arabella


bergantian, namun Aaron kembali acuh.


"Dia ini yang tadi sore menyelamatkan Luna.


Kalau bukan karena dia, mungkin saat ini


Luna sudah terluka."


Mereka berdua tampak terkejut, termasuk


dengan Arthur. Aaron kembali melihat kearah


Raya yang semakin tertunduk dalam.


"Itu bukanlah apa-apa Putri.. saya hanya


kebetulan lewat di sana."


"Tetap saja, kau sudah menolong putriku.


Dan.. terimakasih boneka nya, Luna sangat


menyukainya.. sampai-sampai tidak bisa

__ADS_1


di tukar dengan yang lain."


Wajah Raya tampak semakin tersipu malu.


Aaron melirik, menatap Raya dengan sorot


mata tak terbaca.


"Terimakasih kalau Putri Luna menyukainya.


Itu hanyalah barang kecil yang tidak berharga."


"Tentu saja tidak, kau memberikannya dengan


tulus, makanya itu sangat berarti buat Luna."


Arabella terlihat sangat antusias dan senang


melihat kehadiran Raya di tempat ini. Aaron


menatap tajam wajah Arabella dengan raut


wajah sedikit berbeda.


"Kenapa kau membiarkan putrimu menerima


barang pemberian orang sembarangan.?!"


Suara Aaron membuat semua orang terdiam,


melirik kearah nya. Arabella tampak menatap


wajah super tampan namun sedingin kutub


Utara itu dengan sorot mata sedikit kesal.


"Aku rasa Miss Raya sangat tulus memberikan


hadiah itu untuk Luna, lagipula kelihatannya


Luna sangat menginginkan benda itu.!"


"Lain kali jangan menerima pemberian orang


sembarangan lagi, pikirkan keselamatan dan


nyawa putrimu.!"


Raya melirik dengan cepat, wajahnya kini


benar-benar memerah. Apa laki-laki ini sudah


menyamakan dirinya dengan penjahat yang


ingin mencelakakan Sang Putri kecil.?


"Kakak selalu saja berlebihan..Aku tahu yang


terbaik untuk putriku.!"


Ketus Arabella sambil mengerucutkan bibir


dan memalingkan wajahnya.


DEG !


Detak jantung Raya seakan berhenti seketika.


Apa yang baru saja dia dengar, kakak.? Aaron


tampak melirik kearah Raya dengan raut wajah


yang terlihat datar dan dingin tak terbaca.


"Kalau boleh tahu kau datang kesini dengan


siapa ? apa kau datang bersama dengan


Ansel.. atau mungkin bersama yang lain.?"


Arabella menatap Raya yang saat ini tampak


terdiam dalam kekusutan pikirannya, masih


bingung dengan perkataan Arabella barusan.


"Arabella.. kenalkan..Miss Raya ini adalah


sekretaris pribadi nya Tuan Marvell.!"


"Apa, sekretaris pribadi kak Aaron.?"


Arabella dan Arthur saling pandang di tengah


rasa terkejut nya. Namun di sini Raya pun


sedikit terkejut. Apa-apaan ini, kenapa Aaron


dan Ansel terlihat sangat dekat dengan Putri


Arabella, mungkinkah mereka masih punya


hubungan kekerabatan.?


"Selamat malam semuanya.. selamat malam


Yang Mulya..!"


Ada suara berat namun lembut yang hadir di


antara mereka. Dan satu sosok tinggi gagah


serta menawan kini telah berdiri membungkuk


di hadapan Aaron dengan sikap hormat dan


gaya yang sangat elegan serta khas.


Aaron melirik kearah orang itu, kedua mata


elang mereka beradu, saling menembus batas


dan kedalaman masing-masing yang terlihat


sama-sama kuat dan bertahan. Jiwa Aaron


merasakan ada sesuatu yang tidak beres di


sini. Dia segera memutus pandangan nya.


"Selamat malam Duke Lucas Winston.!"


Keduanya berjabat tangan, lagi-lagi mereka


berdua mengadu kekuatan lewat arus tenaga


yang terpusat di telapak tangan. Namun kali


ini pria elegan itu terlebih dahulu menarik diri


dan melepas jabatannya. Sikap Aaron kembali


datar dan tanpa ekspresi. Namun ada gestur


tubuh yang tidak terdeteksi dari dirinya saat


ini setelah berjabat tangan dengan Lucas.


"Hallo..selamat malam beautiful lady..akhirnya


kita bisa bertemu lagi di sini.!"


Lucas berpaling pada Raya yang bersikap


setenang dan senormal mungkin. Mata Aaron


tampak berkilat penuh antisipasi menyadari


Lucas mengenal Raya.


"Tuan Lucas.. dia adalah sekretaris pribadi


Tuan Marvell..Miss Maharaya.."


Ansel menatap tajam wajah Lucas mencoba


untuk memberikan peringatan tersirat terhadap


pria Flamboyan itu agar menjaga sikap. Namun


hal itu tampaknya tidak mempan, karena lucas


malah mengulurkan tangannya menyebarkan


senyum memikat tanpa ragu kearah Raya yang


terpaksa menerima uluran tangan pria itu.


"Selamat malam Tuan Lucas.."


"Senang bertemu anda Miss Maharaya.."


Lagi-lagi mata pria itu berusaha menembus


kedalaman mata indah Raya. Tangan halus


lembut Raya seolah mengalirkan arus hebat


yang membuat tubuh pria itu langsung saja


memanas dan membuat wajahnya memerah.


Aaron menatap datar interaksi kedua orang


itu, namun tidak lama dia memalingkan muka


dengan ekspresi yang sedikit berbeda. Raya


segera menarik kembali tangannya, wajahnya


tampak tidak nyaman akan situasi yang ada.


"Tempatkan dirimu pada posisi yang benar


Miss Maharaya.!"


Desis Aaron dengan suara bariton dan wajah


datarnya. Kemudian dia melangkah pergi dari


hadapan semua orang dengan tampang yang


sudah sangat dingin tidak terbaca. Raya hanya


bisa menatapnya menahan kesal, dia terpaksa


mengikuti langkah pria itu di susul oleh Ansel


setelah membungkuk pada semua orang yang


hanya bisa terdiam. Lucas menyeringai tipis


melihat aksi angkat kaki Sang Putra Mahkota.


Namun kembali ada kilatan aneh dari matanya


dan tersembunyi di balik senyum manisnya


yang senantiasa terkembang..


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2