Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
35. Aku Menginginkanmu


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya mendekat kearah tempat tidur, kemudian


berdiri mematung di sisi ranjang, memandang


lekat sosok Aaron yang terbaring lemah dalam


keadaan pucat dan beberapa bagian tubuhnya


terpasang alat bantu. Tubuh gagah perkasa itu


kini tampak terbaring tak berdaya, di dada dan


pergelangan tangannya menempel beberapa


alat medis. Ada cairan bening yang tidak terasa


menetes menuruni wajah pucat Raya. Perlahan


dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang.


Alea datang mendekat, berdiri di sebelah Raya,


mengamati perkembangan kondisi Aaron.


"Bagaimana keadaannya..? kenapa dia tidak


dibawa ke rumah sakit.?"


Raya bertanya tanpa melihat kearah Alea yang


mulai bergerak melepas selang infus di tangan


Raya dengan hati-hati.


"Dia bukanlah orang biasa. Keberadaannya di


rumah sakit akan menimbulkan gejolak politik


yang cukup riskan dan akan mengganggu


kestabilan negara. Dia adalah Putra Mahkota."


Raya terdiam, ya.. dia baru sadar kalau pria ini


adalah seseorang Pangeran, Putra Mahkota


kerajaan yang posisinya sangat penting untuk


menstabilkan sistem ketatanegaraan di negeri


ini dan mampu meredam gejolak politik. Tangan


Raya meraih jemari tangan Aaron yang masih


setia menutup rapat matanya. Matanya tidak


lepas dari wajah tampan itu.


"Dia kehilangan banyak darah hingga kondisi


nya menurun. Tapi jangan khawatir , dia adalah


manusia yang berbeda dari kita."


"Dia terluka karena aku. Kehadiranku dari awal


adalah musibah untuk nya. Kenapa dia tidak


melepaskan ku saja."


Lirih Raya seraya menggenggam erat jemari


tangan Aaron yang terasa beku. Alea mengakhiri


kegiatannya. Kini selang infus itu sudah tidak


mengganggu pergerakan Raya lagi.


"Dia tidak mungkin melepas tanggung jawab


nya begitu saja. Dia orang yang berkomitmen."


Alea kini berdiri di samping Raya dekat kepala


ranjang, kembali mengecek kondisi sepupunya


itu. Kedua tangan Raya kini menggengam erat


tangan Aaron. Tatapannya semakin lekat di


wajah laki-laki itu. Wajah super tampan nya


kini tampak lemah dan tenang.


"Aku tidak membutuhkan tanggung jawab itu.


Aku akan menjalani semuanya sendiri."


"Tapi dia menginginkan hal lain darimu.!"


Raya melirik kearah Alea, keduanya kini saling


melihat, ada senyum kepahitan yang terulas


dari bibir Raya, dia memalingkan wajahnya.


"Ya..aku tahu, dia hanya menginginkan anak


dariku. Entah kenapa dia merasa aku pantas


untuk melahirkan keturunan berharga untuk


keluarga terhormat nya.!"


Desah Raya sambil menarik nafas berat. Dia


menundukan kepalanya, mencoba meredam


laju air mata yang dari tadi terus menetes.


Alea menatap wajah wanita yang sudah di


nikahi oleh kakak sepupu nya itu. Pikirannya


kembali melayang pada sosok lain yang telah


mampu membuat Aaron seperti orang gila.


Mau melakukan segalanya untuk orang itu


walaupun jelas wanita itu sudah menjadi


milik sahabatnya. Dia tersenyum dalam diam.


"Dia tahu pasti sesuatu yang terbaik untuk


dirinya dan tidak akan melepaskannya begitu


saja, walau cara yang di tempuh nya terkesan


memaksa dan egois."


Raya mengusap air mata yang jatuh menyusuri


wajahnya. Kembali ada senyum pahit yang


terukir di bibir nya.


"Bukankah dia bisa mendapatkan nya dari


istri yang di siapkan oleh keluarganya nanti.?"


Alea terdiam, kemudian duduk di pinggir


tempat tidur, menatap lekat wajah Raya yang


kini kembali terlihat lemah dan memucat.


Tapi wajah itu tetap cantik dan mempesona.


Dia harus mengakui wanita ini memiliki


banyak kelebihan dan keistimewaan.


"Tentu saja, itu juga akan terjadi. Semuanya


sudah di siapkan oleh istana. Pernikahan itu


adalah ketentuan yang sudah di atur oleh


negara dan istana. Tapi kakak adalah pria


yang sulit di tebak."


Raya memejamkan matanya, ada sesuatu


yang terasa mengiris lubuk hatinya, rasanya


sakit sekali tapi tidak mengerti karena apa.


Dia menarik nafas pelan mencoba membuang


ganjalan yang kini menyesakkan dadanya.


"Aku merasa hanya menjadi benalu dan


penghalang bagi dirinya. Aku ingin pergi dan


menjauh darinya, lalu melupakan semuanya."


"Kau tidak akan bisa melakukannya. Dia tidak


akan membiarkan mu bebas begitu saja.!"


Debat Alea dengan yakin. Raya kembali diam,


memusatkan perhatian nya pada kondisi Aaron.


Ke dalam ruangan muncul pelayan wanita tadi


membawakan nampan.


"Maaf Miss Raya..sebaiknya anda makan dulu


agar kondisi anda cepat pulih."


Ucap pelayan itu sambil berdiri di samping


Raya yang melirik ke arah nya.


"Dia adalah Lily, pelayan terpercaya kakak


yang akan menemani mu di rumah ini bersama


dengan Griz."


Alea memperkenalkan pelayan wanita itu. Raya


menatap pelayan itu kemudian tersenyum tipis


sambil menggelengkan kepala pelan.


"Sebenarnya aku tidak memerlukan pelayan.


Aku lebih suka melakukan semua hal sendiri."

__ADS_1


Alea tampak terkejut, wanita ini benar-benar


aneh dan berbeda dari wanita-wanita lainnya.


"Tapi kau pasti akan memerlukan nya. Kau


tidak bisa tinggal sendiri di rumah ini. Lily


akan standby di sini.!"


Raya kembali menghela nafas panjang. Dia


melirik sekilas kearah Lily.


"Baiklah, sepertinya itu ada benarnya juga."


"Kalau begitu sekarang kau harus mengisi


perutmu dulu, ayo makan dulu. Lily sudah


membuatkan makanan enak untukmu."


Alea mencoba membujuk, Lily mendekat


kembali kearah Raya yang menatapnya datar.


"Maaf..tapi saat ini aku tidak lapar, aku hanya


ingin tinggal di sini sebentar lagi. Jadi bisakah


kalian meninggalkan ku sendiri.?"


Raya berkata dengan suara yang sangat pelan.


Dia kembali menatap lekat wajah Aaron yang


masih terdiam dengan kondisi yang sama.Alea memberi isyarat pada Lily yang mengangguk


faham kemudian membungkuk kearah Raya


setelah itu berlalu pergi ke luar kamar.


"Baiklah.. kalau begitu aku keluar dulu. Kau


harus istirahat, jangan menyiksa dirimu."


Alea menepuk halus bahu Raya setelah itu


dia berlalu pergi meninggalkan Raya yang


terdiam menatap lekat wajah Aaron.


Aaron.. bisakah kamu melepaskan ku saja.?


Aku ingin tenang menjalani hidupku tanpa


beban yang terlalu berat ini. Aku ingin hidup


normal tanpa tekanan dan ketakutan..


Lirih Raya dalam hatinya, dia mengusap pelan


air matanya yang masih tersisa. Tangannya kini


bergerak perlahan mengelus wajah tampan


rupawan itu, menatapnya semakin dalam.


"Kumohon.. lepaskan saja aku, biarkan aku


menjalani kehidupan ku sendiri. Aku akan


melupakan bahwa kita pernah bertemu."


Bisik Raya di tengah belaian tangan halusnya


di wajah Aaron. Ada perasaan aneh yang kini menggelayuti hatinya dan sangat meresahkan


jiwanya. Dia menarik tangan nya dari wajah


Aaron. Namun sesaat kemudian dia tersentak


saat tangan Aaron yang masih terpasang selang


infus menahan tangannya dan menekannya


agar tetap berada di wajahnya. Raya melebarkan matanya terkejut, aneh..mata pria itu masih


tampak terpejam kuat.


"Aku tidak pernah menjilat lidahku sendiri.


Kau tidak akan bisa bebas begitu saja.!"


DEG !


Jantung Raya langsung kacau, wajahnya kini


memucat. Aaron membawa jemari tangan Raya


ke bibirnya, dan mengecupinya perlahan-lahan


membuat Raya semakin melebarkan matanya.


Tubuh nya menegang seketika saat hawa panas


tiba-tiba menyerbu menguasai seluruh aliran


darahnya.


Dia menarik kuat tangannya dari bibir Aaron,


tapi pria itu tidak membiarkannya. Dia malah


kembali menarik tangan Raya dengan hentakan kencang hingga otomatis tubuh lemah Raya


Apa yang terjadi sebenarnya.? Bukankah pria


ini tadi masih dalam keadaan tak sadarkan diri?


Lalu ini apa.?


"A-Aaron..? Kau sudah sadar..?"


Raya berucap gelagapan, tubuh nya kini berada


di atas tubuh Aaron karena pria itu menariknya,


sedikit mengangkat namun posisinya tepat di


atas tubuh Aaron, wajah mereka kini berhadapan, begitu dekat dan intim. Aaron membuka mata,


mereka saling menatap kuat, menembus batas perasaan yang kini bergolak.


"Kau tidak perlu mencemaskan ku. Luka ini


bukanlah apa-apa untukku.! Tidak akan ada


pengaruhnya padaku.! Dan ingat jangan pernah


memberikan perhatian lebih padaku.!"


Desis Aaron sambil kembali menarik tubuh


Raya agar lebih merapat. Raya memekik kaget


membelalakkan mata saat melihat Aaron


membabat habis peralatan medis yang


menempel di tubuhnya tanpa ragu sedikitpun.


"Aaron.. hentikan.! Apa yang kau lakukan.?


Kau masih lemah, kau memerlukan semua ini.!"


"Aku tidak memerlukan semua ini, yang aku


butuhkan saat ini hanyalah dirimu.!"


"Kau sudah gila.! Ini sangat berbahaya.!"


"Apa laki-laki ******** itu tadi menyentuhmu.?


Dimana orang itu menyentuhkan tangan kotor


nya di tubuh mu hahhh.?"


Raya semakin melebarkan mata tidak percaya mendengar perkataan Aaron yang terlihat


seperti orang kehilangan akal. Tatapan Aaron


tampak menyala, tidak terlihat sama sekali


kalau dia baru saja sadar dari kondisi kritis nya.


"Tidak ! Dia tidak menyentuh ku.!"


"Tidak ada seorangpun yang berhak menyentuh


apa yang sudah menjadi milikku.! Hanya aku


yang berhak atas dirimu Maharaya..!"


Geram Aaron seraya melempar semua peralatan


itu. Tubuh Raya bergetar hebat melihat semua


kegilaan yang di pertontonkan oleh pria aneh


itu. Dia berusaha menarik dirinya dari atas tubuh


Aaron yang masih menahannya dengan satu


tangan dan tangan yang lain bergerak cepat


menarik selang infus di tangan nya dengan


paksa. Raya benar-benar tidak percaya


melihat semua itu. Pria ini sudah tidak waras, melakukan semuanya dengan cepat tanpa


terlihat sakit dan tanpa ekspresi apapun.


"Aaron..kau benar-benar sudah tidak waras.!"


Desis Raya sambil mendorong tubuh Aaron


yang kini sudah bangkit dari tidurnya. Pria itu


hanya menyeringai tipis. Begitu semua nya


terlepas Aaron bergerak cepat mengangkat


tubuh Raya naik keatas tubuh nya hingga


kini tubuh Raya jatuh seluruhnya di atas


tubuh Aaron. Kedua tangan Aaron melingkari


punggung Raya,membelit dan menguncinya


kuat.


Mata mereka saling pandang lekat dengan


debaran jantung yang tidak terkendali dan

__ADS_1


napas yang semakin berkejaran. Kedua


tangan Raya menekan dada pria itu sambil


meringis saat melihat luka jahit di dada kiri


dan bahunya yang masih tertutup perban


dan kini mulai ada rembesan merah.


"Aaron.. lukamu mengeluarkan darah lagi.!"


"Tidak usah di pedulikan. Itu hanya luka kecil.!"


Raya mendelik tak percaya dengan ucapan


pria itu yang terkesan sangat menyepelekan.


"Kau benar-benar tidak masuk akal. Lepaskan


aku.. apa yang kau inginkan sebenarnya.?"


Raya berusaha menarik dirinya dengan sedikit


menekan dada polos Aaron yang begitu kokoh,


gagah dan sangat menggoda.


"Aku menginginkan mu, sekarang juga.!"


"Kau gila.! Keadaan mu sedang kritis tapi yang


ada dalam pikiranmu adalah hal mesum.!"


"Berikan yang aku inginkan.! Aku punya hak


untuk mendapatkan nya.! Maka tubuhku akan


pulih dengan cepat !"


"Tidak, aku tidak akan memberikan nya.!"


Wajah Raya sudah memerah seluruhnya dan


tubuhnya kini menegang akut. Tatapan Aaron


berubah jadi semakin dingin namun ada kabut


hasrat yang datang tanpa kompromi. Dia tidak


bisa mengendalikan emosinya saat mengingat


kembali Raya sempat berada dalam penguasaan


Eden Wolf, dan hal itu benar-benar mengganggu kestabilan emosi nya.


"Berikan.. atau aku akan memaksamu lagi.!"


Geram Aaron yang membuat Raya semakin


kalangkabut. Dia kini meronta hebat mencoba melepaskan diri saat Aaron semakin mendekap


erat tubuh nya dan menguasainya.


"Aaron..kau tidak boleh melakukan semua ini,


keadaan mu belum pulih. Aku juga tidak akan memberikan nya.!"


"Ohh.. begitu ya, baiklah..kau memang lebih


suka dipaksa, itu lebih baik bagiku..!"


"Aaron.. apa yang kau lakukan..aaa...!".


Raya memekik kuat saat Aaron membalikkan


posisi tubuh nya dan kini Raya sudah berada


di bawah tubuh Aaron, pria itu menindihnya,


menguasai tubuh nya seluruhnya. Mata mereka


kembali saling menatap kuat penuh dengan


pertentangan. Belum sempat Raya melepaskan


diri Aaron sudah memagut bibirnya, *******


nya lembut namun kuat dan memaksa.


Semula Raya mencoba berontak dengan


mendorong kuat dada pria itu namun dalam


gerakan cepat tak terlihat tangan kiri Aaron


sudah mengunci kedua pergelangan tangan


Raya di atas kepala. Ciuman Aaron semakin


dalam dan intens, dia mengeksplor keseluruhan


bibir bermadu itu di penuhi gairah yang semakin menggelora.


Raya sudah tidak bisa melakukan perlawanan


lagi karena kakinya juga di kunci tanpa ampun.


Namun akhirnya ciuman itu terlepas saat Raya kehabisan napas. Tapi kini bibir Aaron beralih


menjelajah ke daerah lain, dia mulai menelusuri


tengkuk leher Raya yang langsung terkesiap.


Dia mencoba menghindari aksi liar Aaron


namun semuanya sia-sia saja karena bibir


pria itu kini semakin gencar melakukan aksinya


dengan menjilat, menyesap dan menggigit kecil


bagian leher jenjang Raya meninggalkan jejak


di sana.


"Aakhh... Aaron.. hentikan.. kumohon..!!"


Desahan tertahan kini keluar dari mulut Raya


sambil menggelinjang karena rasa geli campur


rasa asing yang kini mulai menguasai aliran


darahnya. Antara rasa nikmat namun juga tidak


terima dengan semua yang di lakukan Aaron.


Tubuh Raya bergetar hebat saat bibir Aaron kini


semakin turun ke bawah, dia mencoba kembali


memberikan penolakan, dengan menggerakan


tubuh nya. Namun justru dengan gerakan itu


gairah Aaron semakin terpacu.


Tangan Aaron menarik atasan yang di pakai


Raya hingga kini terbuka setengah nya,


menampilkan tubuh bagian.atas yang terlihat


begitu indah dan menggiurkan membuat darah


Aaron semakin terbakar hebat. Dia menelan


salivanya berat saat melihat kedua bukit


kembar yang tersembunyi di balik bra putih.


"Aaron.. kumohon jangan..kau tidak boleh


melakukan pemaksaan ini untuk kedua kalinya."


Lirih Raya sambil menatap wajah Aaron lemah.


Tubuh nya tiba-tiba saja kehilangan tenaga dan


kini penglihatan nya mulai kabur. Dirinya terlalu


tegang dan di telan ketakutan. Tubuh Aaron


membeku saat menyadari Raya kehilangan


daya tahan tubuhnya.


"Aku sangat menginginkan mu sekarang..!"


Desis Aaron sambil menatap dalam wajah Raya


yang kini sudah berubah seputih kapas.


"Tapi aku tidak bisa memberikan nya padamu


sekarang. Aku mohon..mengertilah.."


Aaron menarik napas dalam-dalam, keduanya


saling pandang kuat dengan keteguhan hati


masing-masing. Dan memang terlihat nyata


kalau Raya tidak siap untuk itu. Akhirnya Aaron


melepaskan pegangan tangannya. Dia menarik


dirinya dari atas tubuh Raya yang kini semakin


mengambang, dan akhirnya terkulai lemas.


"Aleaaa...!!"


Teriakan Aaron membahana membuat semua


orang yang ada di ruang tengah terperanjat.


Dan kini Alea serta Ansel hanya bisa berdiri


bengong di depan pintu melihat pemandangan


mengejutkan di depan mata mereka.


Tubuh Aaron berada di atas tubuh Raya, masih


menindih dan menguasainya.! Wajah Ansel


langsung saja memerah dengan tatapan mata


menyala di sertai pikiran dan dugaan liar yang


kini menguasai otaknya. Apakah kakak sepupu


nya itu melakukan pemaksaan lagi..??


***

__ADS_1


Happy Reading....


__ADS_2