
❤️❤️❤️
"Shit.! Manusia itu lolos lagi.!"
Aaron menggeram sambil memasukkan kembali
senjatanya ke balik punggungnya. Raya tampak
mengangkat wajahnya, mata mereka kini saling menatap. Tangan Aaron bergerak pelan mengelus
lembut wajah Raya dengan sedikit gemetar,
hatinya terasa sakit melihat kondisi psikis Raya
yang kini terlihat sangat tertekan. Emosinya
kembali meluap, dia tidak bisa membiarkan
semua ini terus berlangsung. Keselamatan
wanita yang di harapkan dapat memberinya
keturunan ini akan selalu terancam.
"Aaron..apa semuanya sudah berakhir.?"
Raya bertanya dengan suara yang sangat
lemah setengah berbisik.
"Untuk sementara semuanya aman. Tapi aku
akan tidak akan membiarkan apapun terjadi
padamu.!"
Hati Raya bergetar hebat, mata mereka semakin
terpaut dalam, tapi lambat laun sorot mata Raya
tampak semakin lemah seiring kondisi fisiknya
yang semakin menurun. Dengan perlahan Aaron mencium kening Raya, mata mereka terpejam,
mencoba merasakan getaran halus yang kini
mengalir di setiap tetes darah keduanya. Aaron mencoba untuk mengontrol emosi yang masih
saja meledak-ledak. Dia kembali menatap lekat
wajah Raya, dalam kondisi seperti ini, darahnya
masih saja terbakar saat matanya jatuh di bibir menggoda itu walaupun tampak memucat. Dia mendekatkan wajahnya. Raya terdiam, tidak
ada kekuatan untuk menjauhkan dirinya.
Aaron menempelkan bibirnya di bibir Raya,ada
sensasi berbeda yang dia rasakan saat wanita
yang biasanya selalu meronta itu kini terdiam
tidak melakukan penolakan. Dia mulai ******* lembut bibir bermadu itu penuh dengan perasaan.
Tapi detik berikutnya tubuh Raya semakin luruh,
lemas dan akhirnya kegelapan memeluk dirinya seutuhnya. Dia jatuh pingsan dalam rengkuhan
Aaron karena syok yang menderanya terlalu
berat hingga menguasai dirinya dan membuat
dia hilang keseimbangan.
"Raya.. hei.. sadarlah.. Raya..aku di sini..!"
Aaron tampak sedikit panik, dia segera memangku tubuh Raya dan terduduk di atas jalanan sambil menepuk-nepuk halus wajah pucat pasi itu dan
menatapnya lekat dengan raut muka yang baru
kali ini terlihat cemas dan khawatir. Jembatan perlahan mulai tertutup kembali secara otomatis
hingga kini ke tempat itu berdatangan mobil-
mobil para prajurit istana yang di pimpin langsung
oleh kepala pengawal. Pasukan Singa Putih pun
kini tampak sudah bangkit dalam keadaan basah
kuyup. Mereka semua mendekat kearah Aaron
yang masih terduduk di atas jalanan, memeluk
erat tubuh lemah Raya.
"Yang Mulya.. ampuni kami yang tidak mampu
melindungi Miss Raya..!"
Alex dan Griz langsung bersimpuh di hadapan
Aaron sambil menunduk penuh penyesalan.
Aaron mengangkat wajahnya, menatap datar
Alex dan Griz. Kemudian dia berpaling pada
pimpinan team Singa Putih.
"Kembali ke Markas.! Kita adakan pertemuan
malam ini juga. Hubungi semua jaringan.!"
Aaron memberi perintah pada pimpinan team
singa putih.
"Baik Yang Mulya.. kalau begitu kami permisi.!"
Sang pimpinan tampak membungkuk hormat
kemudian memberi isyarat pada bawahannya
untuk segera pergi.
"Yang Mulya.. sebaiknya kita pergi sekarang.!"
Kepala pengawal yang bernama Enrique kini
berdiri di depan Aaron sambil membungkukkan
badan di ikuti oleh semua prajurit penjaga yang
datang ke tempat itu. Aaron bangkit sambil
memangku tubuh lemah Raya.
"Kalian kembali ke istana.! Katakan..aku tidak
bisa datang untuk makan malam.!"
Titah Aaron sambil kemudian melangkah kearah
mobil pribadinya di ikuti oleh Alex dan Griz serta
para pengawal pribadi nya.
"Baik Yang Mulya.. akan kami sampaikan.!"
Kepala pengawal menutupkan pintu mobil
saat Aaron sudah masuk ke dalam nya. Tidak
lama mobil pun mulai melaju meninggalkan
jembatan emas yang sudah menjadi saksi pertempuran sengit tadi. Saat ini waktu sudah
mulai gelap memasuki perpindahan waktu.
Lampu jalanan menyala mewarnai keindahan
kota yang sudah kembali pada ketenangan.
Suasana di dalam kota sudah kembali kondusif setelah di tangani dengan cepat oleh aparat keamanan, bahkan menteri pertahanan
sampai turun langsung ke dalam kota untuk
melihat situasi dan kondisi yang terjadi.
Selama di perjalanan mata Aaron tidak pernah
lepas dari wajah pucat Raya yang berada diatas
pangkuannya. Wajah Aaron saat ini tampak
sudah sedingin salju, dia mengutuk kejadian
barusan yang hampir saja merenggut nyawa
wanita yang ada dalam pangkuannya ini.
Bathin nya bergejolak, banyak hal yang kini
memenuhi pikirannya. Ada pertentangan keras
di dalam dirinya saat ini, apakah keputusannya
untuk mengikat wanita ini dalam hidupnya
adalah sesuatu yang salah.? Hidup wanita ini
malah semakin menderita dan selalu berada
dalam lingkaran bahaya besar yang senantiasa
mengintai dan mengejarnya.
Dan ada satu pertanyaan besar dalam hatinya, bagaimana Eden Wolf bisa tahu satu hal penting
yang di miliki oleh Raya.? Apakah aura yang di
miliki istrinya ini begitu kuat hingga mampu
membuat manusia semacam Eden saja begitu
terobsesi ingin memiliki nya.?
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama
rombongan mobil mereka kini sudah memasuki
satu kawasan asing yang berada di lingkungan
laut yang cukup jauh dari pusat kota. Tidak lama
mobil mulai menyusuri jalanan di tengah bukit
dan tebing di atas permukaan laut. Dari kejauhan
sudah nampak sebuah bangunan indah di atas
bukit berbatu yang di kelilingi oleh laut lepas.
Gemerlap lampu warna warni menerangi area
sekitar bangunan megah nan klasik itu hingga
tampak semakin indah dan menakjubkan.
Inilah kastil pribadi Aaron yang tersembunyi
__ADS_1
dari dunia luar, Kastil Underground Devil..
"Apa Ansel dan Alea sudah ada di tempat ini.?"
Aaron tampak tidak sabar melihat kondisi
Raya yang tidak jua sadarkan diri.
"Sudah Yang Mulya.. team dokter sudah siap.!"
"Cukup Alea saja yang menanganinya.!"
"Baik Yang Mulya.."
Alex menyahut sambil meluncurkan mobilnya
menempuh jalan yang kini semakin menanjak
menuju ke bangunan Kastil tersebut. Akhirnya
mereka tiba di depan gerbang depan yang
terlihat begitu gagah dan kokoh, terbuat dari
baja murni dengan sistem perlindungan yang
sangat canggih. Tidak lama mobil langsung
meluncur masuk menuju tempat parkir rahasia
yang ada di bawah bangunan kastil ini.
***
Ansel tampak menatap lemah wajah Raya yang
terlihat pucat pasi. Hatinya benar-benar sakit
melihat kondisi wanita yang akhir-akhir ini
sudah memporak-porandakan jiwanya itu.
Hidup bersama dengan Kakak sepupunya
bukanlah pilihan yang tepat untuk wanita biasa
seperti Raya. Itulah sebabnya kenapa selama
ini Aaron menolak untuk jatuh cinta, karena
hidupnya sendiri terlalu ribet.! Bermula dari ketidaksukaan nya saat di nobatkan sebagai
Putra Mahkota.. dia malah menjerumuskan
dirinya ke dalam dunia bawah tanah, dan
sekarang saat dia ingin melepaskan diri dari
dunia ini, memulai kembali hidup normalnya,
musuh sudah terlanjur mengetahui jati dirinya.
"Bagaimana keadaannya.?"
Ansel tidak sabar, dia menatap Alea yang baru
selesai melakukan pengecekan menyeluruh
terhadap kondisi tubuh Raya.
"Kondisinya sangat lemah. Dia butuh istirahat
yang cukup. Dia juga butuh ketenangan untuk
memulihkan kondisi psikis nya."
Alea menarik napas panjang, menatap lekat
wajah pucat Raya yang kehilangan rona merah
di pipinya yang biasa selalu menghiasinya.
"Aku ingin sekali membawanya pergi. Dia sudah
sangat menderita ada di bawah tekanan Kakak
selama ini. Wanita sebaik dia tidak layak di
perlakukan seperti ini..!"
"Apa kau jatuh cinta padanya.?"
Ansel mengerjap, dia melirik kearah Alea yang
sedang menatapnya tajam.
"Siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya.!"
Desis Ansel sambil kembali menarik nafas
berat. Jiwanya benar-benar dalam dilema.
Walau rasa itu sangat tulus, tidak mungkin
bagi dirinya mengkhianati kakak nya sendiri.
"Bagaimana dengan Kakak.?"
Ansel terdiam, merenung dalam, mencoba
menelaah apa yang tersirat dari perlakuan
Aaron terhadap Raya selama ini.
"Sepertinya dia sudah mulai melupakan cinta
pertamanya.! Dan aku lihat kali ini dia lebih
Alea tampak terkejut mendengar pernyataan
Ansel. Dia tahu pasti bagaimana Aaron begitu
mencintai istri sahabatnya sendiri. Mungkinkah
dia bisa berpaling secepat ini dan melupakan
semua perasaannya.?
"Kau yakin akan hal itu.? Aku tahu pasti dulu
dia segila apa mencintai Mayra.!"
"Aku yakin seribu persen.! Tapi kegilaannya
hanya membawa kesengsaraan pada dia.!"
Ansel kembali memfokuskan perhatian nya
pada wajah Raya yang masih setia menutup
mata karena kini dia ada dalam pengaruh
obat penenang yang di suntikan oleh Alea
agar Raya bisa terhindar dari trauma berat
yang akan merusak kenyamanan nya.
"Yang aku harapkan Kakak mau melepaskan
dia untukku, agar hidupnya tidak menderita
lagi. Aku akan menerima apapun keadaannya, termasuk anak yang nanti akan di kandung nya.!"
Alea benar-benar terhenyak mendengar ucapan
panjang lebar Ansel. Baru kali ini saudara kembar
nya itu serius dengan perasaan nya, sebab yang
dia tahu selama ini Ansel adalah sosok penakluk wanita, bukan takluk pada wanita.
"Hoohh..kau benar-benar telah jatuh cinta
pada istri kakakmu sendiri Ansel.!"
"Kalau dia bertahan di sisi Kak Aaron, jiwa
dan raganya akan lebih menderita.!"
"Kau benar.. sekeras apapun kakak mengekang
wanita ini, posisi nya tetap tidak akan pernah
berubah, dia hanyalah istri di belakang layar.
Karena pernikahan politik ini tetap tidak bisa
di hindari.!"
Alea menambahkan. Keduanya kini terdiam,
menatap dalam wajah Raya yang sudah mulai
terlihat berdarah lagi. Dia juga terlihat lebih
tenang tanpa keringat berlebih di kening nya.
***
Sementara di ruang bawah tanah Kastil...
Di bagian belakang bangunan kastil saat ini
ada beberapa kapal kecil cepat yang melesat
masuk ke dalam pusaran air yang tersembunyi
di balik tebing karang kokoh yang ada di bawah bangunan kastil megah Underground Devil.
Kapal-kapal itu meluncur menerobos gua bawah
bukit yang langsung terhubung ke pangkalan
militer khusus pasukan bayangan Putra Mahkota.
Aaron sengaja membangun pangkalan rahasia
ini untuk mem-backup kekuatan militer Utama.
Semua pimpinan 3 jaringan keamanannya kini
sudah hadir di tempat rahasia itu yang ada di
bawah bangunan Kastil nya. Di tempat itu juga
ada dua Pangeran sahabat Aaron yang ikut
dalam pertemuan ini karena mereka ternyata
jaringan luar negeri dari Underground Devils.
Saat ini mereka semua sedang membahas
situasi keamanan terkini di dalam negri yang akhir-akhir ini di kejutkan oleh kemunculan orang-orang aneh yang punya kekuatan setara
magic atau sihir. Dan berkat kejadian tadi sore semuanya sudah jelas sekarang.
"Eden Wolf..! Jadi orang itu memiliki kekuatan
di luar nalar.! Sepertinya dia masih ada kaitan
__ADS_1
dengan orang misterius yang ada di istana.!"
Aaron tampak menatap tampilan video CCTV
tentang kejadian tadi sore di layar monitor.
"Sepertinya Eden memang memiliki karakter
indigo Yang Mulya. Dia menyatukan kelebihan
yang di milikinya dengan ilmu sihir.!"
Ketua Singa putih menimpali dengan tatapan
seksama kearah latar monitor.
"Kalau begitu cari ahli magic terbaik untuk
bisa mengetahui kelemahan nya dan cara
mematahkan kekuatannya.!"
"Baik Yang Mulya.! Untuk orang yang ada di
lingkungan istana, apa Yang Mulya yakin dia
orang nya.?"
Kali ini ketua Black Eagle yang berbicara. Bibir
Aaron menyeringai tipis. Dia berjalan kearah
sofa, kemudian mendudukkan dirinya dengan
gaya yang sangat elegan dan santai.
"Lucas Adolf Winston.. dari kecil dia sudah
aneh. Aku sudah tahu semua itu, hanya belum
tahu sampai dimana kemampuan nya.! "
Semua pimpinan jaringan tampak terdiam.
Aaron merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Lacak terus dimana markas Black Wolf saat
ini. Kita harus menyerang duluan, aku tidak
ingin keselamatan istriku terancam lagi.!"
"Baik Yang Mulya..! "
Serempak 3 ketua team, mereka kembali
terfokus pada Alex yang sedang melakukan
penelusuran ke berbagai titik rahasia.
"Aaron..kau harus lebih berhati-hati menjaga
istrimu. Aku lihat Lucas Winston sudah sangat terobsesi padanya.!"
Kali ini Desmon yang mengeluarkan suara.
Aaron tampak langsung bereaksi, bangkit
dari duduknya. Kemudian mulai melangkah,
tapi terhenti sesaat dan melirik kearah para
bawahannya.
"Aku akan naik untuk melihatnya. Dini hari
nanti kita pergi ke markas istana untuk rapat
internal. Ingatkan aku beberapa jam lagi.!"
"Baik Yang Mulya..!"
Mereka semua membungkukkan badan, Aaron kembali melangkah ke arah lorong kecil yang
akan membawa nya ke dalam lift khusus yang
terhubung langsung dengan kamar pribadinya
yang ada di menara, atau bangunan tertinggi
dari keseluruhan Kastil ini.
Tidak lama dia sudah tiba di dalam kamarnya.
Aaron keluar dari balik lukisan antik yang ada
di dinding kamar membuat Alea dan Ansel
sempat terkejut untuk sesaat. Kedua saudara
kembar itu berdiri di samping tempat tidur.
Aaron mendekat, matanya mengunci wajah
Raya yang kini sudah tidak sepucat tadi.
"Bagaimana kondisinya sekarang.?"
"Sudah lebih baik. Tapi dia butuh istirahat
semalam penuh.! Makanya aku memberi
dia dosis tenang.!"
Alea menyahut dengan tatapan tidak lepas
dari wajah Raya yang kini terlihat lebih tenang.
"Baiklah.. kalian boleh keluar sekarang.!"
Ansel dan Alea saling pandang. Ansel tampak
sedikit keberatan dengan perintah Aaron.
"Kakak..kau harus pergi ke rapat internal, jadi
biarkan aku dan Alea menjaganya.."
"Ansel..! Keluar sekarang.! Harus berapa kali
aku mengingatkan mu kalau dia adalah kakak
iparmu.!"
Ansel tampak terdiam dengan raut wajah yang
terlihat kecewa. Alea segera menarik tangan
Ansel untuk di bawa keluar kamar.
"Baiklah Kak.. kita keluar sekarang..!"
"Ansel..."
Ada suara gumaman lembut yang keluar dari
mulut Raya yang membuat wajah ketiga orang
itu terperangah kaget. Wajah Aaron langsung
saja berubah kelam. Sementara Ansel reflek
mendekat kearah tempat tidur. Namun sebelum
dia bisa mencapai tempat tidur Aaron sudah
memegang kerah bajunya dan mengangkat
tubuh nya keatas seolah sangat enteng.
"Jangan coba-coba mendekat padanya.!"
"Tapi.. kakak.. dia membutuhkan ku.!"
"Aku adalah suaminya.! Dia milikku Ansel,
hanyalah milikku.!"
Aaron menjatuhkan tubuh Ansel hingga Alea
memekik histeris tidak percaya kalau Aaron akan
sekasar itu. Ansel mencoba berdiri kembali di
bantu oleh Alea yang terlihat cemas. Ansel maju
mendekat kearah Aaron sambil menatap tajam
wajah pria itu mencoba untuk meyakinkan diri
atas tindakan kasar yang telah di lakukan oleh
kakak sepupu nya itu barusan. Aaron tampak memalingkan wajahnya.
"Lepaskan dia sekarang.. atau hidupnya akan
semakin menderita.!"
PRANG.!!
Vas bunga yang ada di atas nakas melesat
terbang membentur dinding kaca besar lalu
hancur berkeping-keping. Mata Aaron tampak
menyala di penuhi oleh ledakan amarah.
"Aku mencintainya..Aku sungguh-sungguh
mencintainya kak..akkh..!"
Dalam sekali gerakan tak terlihat tangan Aaron
kini mencengkeram leher Ansel yang langsung
membulatkan matanya dengan nafas tersengal.
Alea histeris, dia memegang lengan Aaron
berusaha untuk melepaskan cengkeramannya.
"Kakak sudah hentikan semua ini.!"
"Aku tidak akan membiarkan siapapun
membawanya dari sisiku..!!"
"Aaron...!"
Deg !
Jantung Aaron rasanya meloncat seketika saat
mendengar suara lembut nan pelan tak berdaya
itu. Dengan cepat dia melepaskan cengkraman
tangannya di leher Ansel...
***
__ADS_1
Happy Reading...