Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
47. Kastil


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Shit.! Manusia itu lolos lagi.!"


Aaron menggeram sambil memasukkan kembali


senjatanya ke balik punggungnya. Raya tampak


mengangkat wajahnya, mata mereka kini saling menatap. Tangan Aaron bergerak pelan mengelus


lembut wajah Raya dengan sedikit gemetar,


hatinya terasa sakit melihat kondisi psikis Raya


yang kini terlihat sangat tertekan. Emosinya


kembali meluap, dia tidak bisa membiarkan


semua ini terus berlangsung. Keselamatan


wanita yang di harapkan dapat memberinya


keturunan ini akan selalu terancam.


"Aaron..apa semuanya sudah berakhir.?"


Raya bertanya dengan suara yang sangat


lemah setengah berbisik.


"Untuk sementara semuanya aman. Tapi aku


akan tidak akan membiarkan apapun terjadi


padamu.!"


Hati Raya bergetar hebat, mata mereka semakin


terpaut dalam, tapi lambat laun sorot mata Raya


tampak semakin lemah seiring kondisi fisiknya


yang semakin menurun. Dengan perlahan Aaron mencium kening Raya, mata mereka terpejam,


mencoba merasakan getaran halus yang kini


mengalir di setiap tetes darah keduanya. Aaron mencoba untuk mengontrol emosi yang masih


saja meledak-ledak. Dia kembali menatap lekat


wajah Raya, dalam kondisi seperti ini, darahnya


masih saja terbakar saat matanya jatuh di bibir menggoda itu walaupun tampak memucat. Dia mendekatkan wajahnya. Raya terdiam, tidak


ada kekuatan untuk menjauhkan dirinya.


Aaron menempelkan bibirnya di bibir Raya,ada


sensasi berbeda yang dia rasakan saat wanita


yang biasanya selalu meronta itu kini terdiam


tidak melakukan penolakan. Dia mulai ******* lembut bibir bermadu itu penuh dengan perasaan.


Tapi detik berikutnya tubuh Raya semakin luruh,


lemas dan akhirnya kegelapan memeluk dirinya seutuhnya. Dia jatuh pingsan dalam rengkuhan


Aaron karena syok yang menderanya terlalu


berat hingga menguasai dirinya dan membuat


dia hilang keseimbangan.


"Raya.. hei.. sadarlah.. Raya..aku di sini..!"


Aaron tampak sedikit panik, dia segera memangku tubuh Raya dan terduduk di atas jalanan sambil menepuk-nepuk halus wajah pucat pasi itu dan


menatapnya lekat dengan raut muka yang baru


kali ini terlihat cemas dan khawatir. Jembatan perlahan mulai tertutup kembali secara otomatis


hingga kini ke tempat itu berdatangan mobil-


mobil para prajurit istana yang di pimpin langsung


oleh kepala pengawal. Pasukan Singa Putih pun


kini tampak sudah bangkit dalam keadaan basah


kuyup. Mereka semua mendekat kearah Aaron


yang masih terduduk di atas jalanan, memeluk


erat tubuh lemah Raya.


"Yang Mulya.. ampuni kami yang tidak mampu


melindungi Miss Raya..!"


Alex dan Griz langsung bersimpuh di hadapan


Aaron sambil menunduk penuh penyesalan.


Aaron mengangkat wajahnya, menatap datar


Alex dan Griz. Kemudian dia berpaling pada


pimpinan team Singa Putih.


"Kembali ke Markas.! Kita adakan pertemuan


malam ini juga. Hubungi semua jaringan.!"


Aaron memberi perintah pada pimpinan team


singa putih.


"Baik Yang Mulya.. kalau begitu kami permisi.!"


Sang pimpinan tampak membungkuk hormat


kemudian memberi isyarat pada bawahannya


untuk segera pergi.


"Yang Mulya.. sebaiknya kita pergi sekarang.!"


Kepala pengawal yang bernama Enrique kini


berdiri di depan Aaron sambil membungkukkan


badan di ikuti oleh semua prajurit penjaga yang


datang ke tempat itu. Aaron bangkit sambil


memangku tubuh lemah Raya.


"Kalian kembali ke istana.! Katakan..aku tidak


bisa datang untuk makan malam.!"


Titah Aaron sambil kemudian melangkah kearah


mobil pribadinya di ikuti oleh Alex dan Griz serta


para pengawal pribadi nya.


"Baik Yang Mulya.. akan kami sampaikan.!"


Kepala pengawal menutupkan pintu mobil


saat Aaron sudah masuk ke dalam nya. Tidak


lama mobil pun mulai melaju meninggalkan


jembatan emas yang sudah menjadi saksi pertempuran sengit tadi. Saat ini waktu sudah


mulai gelap memasuki perpindahan waktu.


Lampu jalanan menyala mewarnai keindahan


kota yang sudah kembali pada ketenangan.


Suasana di dalam kota sudah kembali kondusif setelah di tangani dengan cepat oleh aparat keamanan, bahkan menteri pertahanan


sampai turun langsung ke dalam kota untuk


melihat situasi dan kondisi yang terjadi.


Selama di perjalanan mata Aaron tidak pernah


lepas dari wajah pucat Raya yang berada diatas


pangkuannya. Wajah Aaron saat ini tampak


sudah sedingin salju, dia mengutuk kejadian


barusan yang hampir saja merenggut nyawa


wanita yang ada dalam pangkuannya ini.


Bathin nya bergejolak, banyak hal yang kini


memenuhi pikirannya. Ada pertentangan keras


di dalam dirinya saat ini, apakah keputusannya


untuk mengikat wanita ini dalam hidupnya


adalah sesuatu yang salah.? Hidup wanita ini


malah semakin menderita dan selalu berada


dalam lingkaran bahaya besar yang senantiasa


mengintai dan mengejarnya.


Dan ada satu pertanyaan besar dalam hatinya, bagaimana Eden Wolf bisa tahu satu hal penting


yang di miliki oleh Raya.? Apakah aura yang di


miliki istrinya ini begitu kuat hingga mampu


membuat manusia semacam Eden saja begitu


terobsesi ingin memiliki nya.?


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama


rombongan mobil mereka kini sudah memasuki


satu kawasan asing yang berada di lingkungan


laut yang cukup jauh dari pusat kota. Tidak lama


mobil mulai menyusuri jalanan di tengah bukit


dan tebing di atas permukaan laut. Dari kejauhan


sudah nampak sebuah bangunan indah di atas


bukit berbatu yang di kelilingi oleh laut lepas.


Gemerlap lampu warna warni menerangi area


sekitar bangunan megah nan klasik itu hingga


tampak semakin indah dan menakjubkan.


Inilah kastil pribadi Aaron yang tersembunyi

__ADS_1


dari dunia luar, Kastil Underground Devil..


"Apa Ansel dan Alea sudah ada di tempat ini.?"


Aaron tampak tidak sabar melihat kondisi


Raya yang tidak jua sadarkan diri.


"Sudah Yang Mulya.. team dokter sudah siap.!"


"Cukup Alea saja yang menanganinya.!"


"Baik Yang Mulya.."


Alex menyahut sambil meluncurkan mobilnya


menempuh jalan yang kini semakin menanjak


menuju ke bangunan Kastil tersebut. Akhirnya


mereka tiba di depan gerbang depan yang


terlihat begitu gagah dan kokoh, terbuat dari


baja murni dengan sistem perlindungan yang


sangat canggih. Tidak lama mobil langsung


meluncur masuk menuju tempat parkir rahasia


yang ada di bawah bangunan kastil ini.


***


Ansel tampak menatap lemah wajah Raya yang


terlihat pucat pasi. Hatinya benar-benar sakit


melihat kondisi wanita yang akhir-akhir ini


sudah memporak-porandakan jiwanya itu.


Hidup bersama dengan Kakak sepupunya


bukanlah pilihan yang tepat untuk wanita biasa


seperti Raya. Itulah sebabnya kenapa selama


ini Aaron menolak untuk jatuh cinta, karena


hidupnya sendiri terlalu ribet.! Bermula dari ketidaksukaan nya saat di nobatkan sebagai


Putra Mahkota.. dia malah menjerumuskan


dirinya ke dalam dunia bawah tanah, dan


sekarang saat dia ingin melepaskan diri dari


dunia ini, memulai kembali hidup normalnya,


musuh sudah terlanjur mengetahui jati dirinya.


"Bagaimana keadaannya.?"


Ansel tidak sabar, dia menatap Alea yang baru


selesai melakukan pengecekan menyeluruh


terhadap kondisi tubuh Raya.


"Kondisinya sangat lemah. Dia butuh istirahat


yang cukup. Dia juga butuh ketenangan untuk


memulihkan kondisi psikis nya."


Alea menarik napas panjang, menatap lekat


wajah pucat Raya yang kehilangan rona merah


di pipinya yang biasa selalu menghiasinya.


"Aku ingin sekali membawanya pergi. Dia sudah


sangat menderita ada di bawah tekanan Kakak


selama ini. Wanita sebaik dia tidak layak di


perlakukan seperti ini..!"


"Apa kau jatuh cinta padanya.?"


Ansel mengerjap, dia melirik kearah Alea yang


sedang menatapnya tajam.


"Siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya.!"


Desis Ansel sambil kembali menarik nafas


berat. Jiwanya benar-benar dalam dilema.


Walau rasa itu sangat tulus, tidak mungkin


bagi dirinya mengkhianati kakak nya sendiri.


"Bagaimana dengan Kakak.?"


Ansel terdiam, merenung dalam, mencoba


menelaah apa yang tersirat dari perlakuan


Aaron terhadap Raya selama ini.


"Sepertinya dia sudah mulai melupakan cinta


pertamanya.! Dan aku lihat kali ini dia lebih


Alea tampak terkejut mendengar pernyataan


Ansel. Dia tahu pasti bagaimana Aaron begitu


mencintai istri sahabatnya sendiri. Mungkinkah


dia bisa berpaling secepat ini dan melupakan


semua perasaannya.?


"Kau yakin akan hal itu.? Aku tahu pasti dulu


dia segila apa mencintai Mayra.!"


"Aku yakin seribu persen.! Tapi kegilaannya


hanya membawa kesengsaraan pada dia.!"


Ansel kembali memfokuskan perhatian nya


pada wajah Raya yang masih setia menutup


mata karena kini dia ada dalam pengaruh


obat penenang yang di suntikan oleh Alea


agar Raya bisa terhindar dari trauma berat


yang akan merusak kenyamanan nya.


"Yang aku harapkan Kakak mau melepaskan


dia untukku, agar hidupnya tidak menderita


lagi. Aku akan menerima apapun keadaannya, termasuk anak yang nanti akan di kandung nya.!"


Alea benar-benar terhenyak mendengar ucapan


panjang lebar Ansel. Baru kali ini saudara kembar


nya itu serius dengan perasaan nya, sebab yang


dia tahu selama ini Ansel adalah sosok penakluk wanita, bukan takluk pada wanita.


"Hoohh..kau benar-benar telah jatuh cinta


pada istri kakakmu sendiri Ansel.!"


"Kalau dia bertahan di sisi Kak Aaron, jiwa


dan raganya akan lebih menderita.!"


"Kau benar.. sekeras apapun kakak mengekang


wanita ini, posisi nya tetap tidak akan pernah


berubah, dia hanyalah istri di belakang layar.


Karena pernikahan politik ini tetap tidak bisa


di hindari.!"


Alea menambahkan. Keduanya kini terdiam,


menatap dalam wajah Raya yang sudah mulai


terlihat berdarah lagi. Dia juga terlihat lebih


tenang tanpa keringat berlebih di kening nya.


***


Sementara di ruang bawah tanah Kastil...


Di bagian belakang bangunan kastil saat ini


ada beberapa kapal kecil cepat yang melesat


masuk ke dalam pusaran air yang tersembunyi


di balik tebing karang kokoh yang ada di bawah bangunan kastil megah Underground Devil.


Kapal-kapal itu meluncur menerobos gua bawah


bukit yang langsung terhubung ke pangkalan


militer khusus pasukan bayangan Putra Mahkota.


Aaron sengaja membangun pangkalan rahasia


ini untuk mem-backup kekuatan militer Utama.


Semua pimpinan 3 jaringan keamanannya kini


sudah hadir di tempat rahasia itu yang ada di


bawah bangunan Kastil nya. Di tempat itu juga


ada dua Pangeran sahabat Aaron yang ikut


dalam pertemuan ini karena mereka ternyata


jaringan luar negeri dari Underground Devils.


Saat ini mereka semua sedang membahas


situasi keamanan terkini di dalam negri yang akhir-akhir ini di kejutkan oleh kemunculan orang-orang aneh yang punya kekuatan setara


magic atau sihir. Dan berkat kejadian tadi sore semuanya sudah jelas sekarang.


"Eden Wolf..! Jadi orang itu memiliki kekuatan


di luar nalar.! Sepertinya dia masih ada kaitan

__ADS_1


dengan orang misterius yang ada di istana.!"


Aaron tampak menatap tampilan video CCTV


tentang kejadian tadi sore di layar monitor.


"Sepertinya Eden memang memiliki karakter


indigo Yang Mulya. Dia menyatukan kelebihan


yang di milikinya dengan ilmu sihir.!"


Ketua Singa putih menimpali dengan tatapan


seksama kearah latar monitor.


"Kalau begitu cari ahli magic terbaik untuk


bisa mengetahui kelemahan nya dan cara


mematahkan kekuatannya.!"


"Baik Yang Mulya.! Untuk orang yang ada di


lingkungan istana, apa Yang Mulya yakin dia


orang nya.?"


Kali ini ketua Black Eagle yang berbicara. Bibir


Aaron menyeringai tipis. Dia berjalan kearah


sofa, kemudian mendudukkan dirinya dengan


gaya yang sangat elegan dan santai.


"Lucas Adolf Winston.. dari kecil dia sudah


aneh. Aku sudah tahu semua itu, hanya belum


tahu sampai dimana kemampuan nya.! "


Semua pimpinan jaringan tampak terdiam.


Aaron merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa.


"Lacak terus dimana markas Black Wolf saat


ini. Kita harus menyerang duluan, aku tidak


ingin keselamatan istriku terancam lagi.!"


"Baik Yang Mulya..! "


Serempak 3 ketua team, mereka kembali


terfokus pada Alex yang sedang melakukan


penelusuran ke berbagai titik rahasia.


"Aaron..kau harus lebih berhati-hati menjaga


istrimu. Aku lihat Lucas Winston sudah sangat terobsesi padanya.!"


Kali ini Desmon yang mengeluarkan suara.


Aaron tampak langsung bereaksi, bangkit


dari duduknya. Kemudian mulai melangkah,


tapi terhenti sesaat dan melirik kearah para


bawahannya.


"Aku akan naik untuk melihatnya. Dini hari


nanti kita pergi ke markas istana untuk rapat


internal. Ingatkan aku beberapa jam lagi.!"


"Baik Yang Mulya..!"


Mereka semua membungkukkan badan, Aaron kembali melangkah ke arah lorong kecil yang


akan membawa nya ke dalam lift khusus yang


terhubung langsung dengan kamar pribadinya


yang ada di menara, atau bangunan tertinggi


dari keseluruhan Kastil ini.


Tidak lama dia sudah tiba di dalam kamarnya.


Aaron keluar dari balik lukisan antik yang ada


di dinding kamar membuat Alea dan Ansel


sempat terkejut untuk sesaat. Kedua saudara


kembar itu berdiri di samping tempat tidur.


Aaron mendekat, matanya mengunci wajah


Raya yang kini sudah tidak sepucat tadi.


"Bagaimana kondisinya sekarang.?"


"Sudah lebih baik. Tapi dia butuh istirahat


semalam penuh.! Makanya aku memberi


dia dosis tenang.!"


Alea menyahut dengan tatapan tidak lepas


dari wajah Raya yang kini terlihat lebih tenang.


"Baiklah.. kalian boleh keluar sekarang.!"


Ansel dan Alea saling pandang. Ansel tampak


sedikit keberatan dengan perintah Aaron.


"Kakak..kau harus pergi ke rapat internal, jadi


biarkan aku dan Alea menjaganya.."


"Ansel..! Keluar sekarang.! Harus berapa kali


aku mengingatkan mu kalau dia adalah kakak


iparmu.!"


Ansel tampak terdiam dengan raut wajah yang


terlihat kecewa. Alea segera menarik tangan


Ansel untuk di bawa keluar kamar.


"Baiklah Kak.. kita keluar sekarang..!"


"Ansel..."


Ada suara gumaman lembut yang keluar dari


mulut Raya yang membuat wajah ketiga orang


itu terperangah kaget. Wajah Aaron langsung


saja berubah kelam. Sementara Ansel reflek


mendekat kearah tempat tidur. Namun sebelum


dia bisa mencapai tempat tidur Aaron sudah


memegang kerah bajunya dan mengangkat


tubuh nya keatas seolah sangat enteng.


"Jangan coba-coba mendekat padanya.!"


"Tapi.. kakak.. dia membutuhkan ku.!"


"Aku adalah suaminya.! Dia milikku Ansel,


hanyalah milikku.!"


Aaron menjatuhkan tubuh Ansel hingga Alea


memekik histeris tidak percaya kalau Aaron akan


sekasar itu. Ansel mencoba berdiri kembali di


bantu oleh Alea yang terlihat cemas. Ansel maju


mendekat kearah Aaron sambil menatap tajam


wajah pria itu mencoba untuk meyakinkan diri


atas tindakan kasar yang telah di lakukan oleh


kakak sepupu nya itu barusan. Aaron tampak memalingkan wajahnya.


"Lepaskan dia sekarang.. atau hidupnya akan


semakin menderita.!"


PRANG.!!


Vas bunga yang ada di atas nakas melesat


terbang membentur dinding kaca besar lalu


hancur berkeping-keping. Mata Aaron tampak


menyala di penuhi oleh ledakan amarah.


"Aku mencintainya..Aku sungguh-sungguh


mencintainya kak..akkh..!"


Dalam sekali gerakan tak terlihat tangan Aaron


kini mencengkeram leher Ansel yang langsung


membulatkan matanya dengan nafas tersengal.


Alea histeris, dia memegang lengan Aaron


berusaha untuk melepaskan cengkeramannya.


"Kakak sudah hentikan semua ini.!"


"Aku tidak akan membiarkan siapapun


membawanya dari sisiku..!!"


"Aaron...!"


Deg !


Jantung Aaron rasanya meloncat seketika saat


mendengar suara lembut nan pelan tak berdaya


itu. Dengan cepat dia melepaskan cengkraman


tangannya di leher Ansel...


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2