Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
9. Pulang


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Berhenti..! jangan mendekat.!"


Seru Raya ketakutan begitu melihat Aaron


mulai maju mendekat. Pria itu langsung


berhenti, tapi tatapannya kini semakin tajam


saat melihat Raya terus mundur mepet ke


pinggir balkon yang hanya terhalang relling


pendek sebatas pinggang saja. Tanpa kata


Aaron kembali maju menyadari sesuatu


yang membahayakan sedang mengancam


nyawa wanita itu.


"Hei, berhenti kamu ! pergi dari sini.! pergi..!!"


Raya yang panik tampak semakin mundur


sambil memekik kuat, namun tiba-tiba saja


dia menjerit histeris saat tubuhnya kehilangan


keseimbangan lalu terpelanting ke belakang.


Dengan gerakan cepat Aaron menyambar


tubuh Raya kemudian mengangkat nya ke


dalam pangkuan. Raya terlihat syok, wajah


nya memucat dengan tubuh bergetar, tanpa


sadar tangan nya kini melingkar kuat di leher


kokoh pria itu. Mata mereka saling menatap


dengan posisi wajah yang begitu dekat, hanya


berjarak beberapa inchi saja.


"Aaa... turunkan aku...! lepaaass....!!"


Raya berteriak kencang begitu dia kembali


pada kesadarannya. Dia mendorong keras


dada Aaron dan memukuli nya. Namun pria


itu terlihat acuh saja, dia malah memperkuat


cengkraman tangan nya di pinggang Raya.


"Apa kau bisa diam.?"


Aaron menggeram sambil membawa tubuh


Raya masuk ke dalam ruangan, tapi gadis


itu malah semakin meronta.


"Lepaskan aku..!! Kenapa kamu datang lagi


ke sini.?"


Teriak Raya dalam usahanya memukuli dada


keras pria jahat itu. Aaron menjatuhkan tubuh


Raya di atas ranjang sedikit kasar hingga


membuat gadis itu meringis sambil melotot


kearah Aaron yang terlihat berdiri santai di


samping nya. Raya mundur beringsut ke sisi


lain dengan tatapan waspada pada pergerakan


Aaron. Ketakutan saat melihat sosok laki-laki


jahat itu membuat Raya tidak bisa bersikap


tenang saat di dekatnya. Dia selalu berpikiran


buruk tentang pria ini, apapun yang di lakukan


nya akan tampak mencurigakan di mata Raya.


Gadis itu turun dari atas ranjang kemudian


berlari kearah pintu.Namun begitu tangannya mencapai handel Aaron sudah lebih dulu menghadangnya, berdiri di balik pintu dengan tampang datarnya dan tatapan tajam penuh


intimidasi.


Raya berdiri mematung di hadapan laki-laki


itu. Dia mundur kembali dengan wajah yang


kini sudah memucat. Pikiran liar semakin


memenuhi pikirannya. Mungkinkah pria ini


punya niat buruk lagi padanya.? Apa dia


akan melakukan kekerasan lagi padanya.?


"A-apa maumu sebenarnya.? Apa yang kau


inginkan dariku.?"


Tanya Raya dengan tatapan tetap waspada.


Aaron melangkah tenang kearahnya, semakin


dekat hingga kini Raya jatuh terduduk di atas


sofa. Pria itu berdiri tegak di hadapan nya.


"Ikut denganku..!"


Raya mendongak, menatap tajam wajah dingin


Aaron. Dia mundur beringsut ke ujung sofa.


"Hahh.. kenapa aku harus ikut dengan mu.?


Apa kau akan melenyapkan ku.? Kalau itu


maumu, kau bisa melakukan nya sekarang


juga di tempat ini.!"


Mata Aaron tampak menyala, menatap tajam


wajah gadis itu yang terlihat semakin tegang.


"Aku harus mengawasi mu.! Kau bisa saja


mengandung benih ku.!!"


DEG !


Jantung Raya seakan berhenti berdetak. Dia


kini berdiri, menatap tajam wajah pria yang


secara tidak langsung sudah mengakui


segala perbuatan jahatnya itu.


"Ka-kamu..mau melenyapkan nya juga.?"


Bibir Raya bergetar dengan ketakutan yang


semakin jelas terlihat, mata mereka kembali


saling menatap panas.


"Aku akan mengambilnya.!"


Jantung Raya kembali berdenyut nyeri.


Dia menggelengkan kepalanya kuat.


"Kalau pun benih itu benar-benar tumbuh,


Aku tidak akan pernah membiarkan dia


mengenal siapa ayah nya. Laki-laki jahat


seperti mu tidak pantas untuk menerima


pengakuan.!"


Desis Raya dengan tatapan penuh kebencian.


Aaron terdiam, menatap datar wajah Raya


yang kini terlihat memerah.


"Kau harus tetap ikut denganku.!"


"Tidak ! Pergilah..! Aku juga tidak akan pernah


meminta pertanggungjawaban mu.!"

__ADS_1


"Kau tidak punya pilihan.! Aku bisa membuat


keluarga mu hidup di jalanan.!"


Raya membeku, apa laki-laki ini sedang


mengancam nya, kenapa sekarang dia jadi


membawa-bawa keluarganya.?


"Siapa kamu sebenarnya.? Ohh..aku yakin


kamu pasti sama jahatnya dengan laki-laki


berandalan itu kan.?!"


"Aku bisa lebih kejam dari ******** itu. Dan


aku tidak pernah main-main dengan semua


ancaman ku.! "


Tegas Aaron sambil kemudian membalikan


badannya. Raya masih berdiri di tempatnya


dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Jangan pernah bertindak bodoh lagi. Karena


mataku ada di mana-mana.!"


Ancam Aaron sambil melirik sekilas kearah


Raya setelah itu berlalu pergi ke luar ruangan.


Masih dalam keadaan setengah melayang


Raya menjatuhkan dirinya di atas sofa.


***


"Ada apa dengan mu Ray..?"


Jessica tampak bingung melihat reaksi Raya


yang terlihat sangat ketakutan.


"Aku ingin keluar dari sini sekarang juga Jes !"


"Hahh, tapi kenapa Ray.? ada apa ini.?"


"Pria jahat itu datang kesini Jes, dia.. dia


mengancamku.! Dia membawa keluargaku


ke dalam masalah ini.!"


Jessica tampak terkejut, wajahnya kini


berubah keras dengan tangan terkepal kuat.


"Apa yang dia lakukan padamu, apa dia


menyakitimu lagi.?"


Jessica tampak mengecek kondisi Raya


dengan menelisik seluruh fisiknya.


"Dia tidak menyakiti ku, tapi dia mengancam


keselamatan keluargaku Jes."


"Apa yang orang itu inginkan darimu.?"


"Dia.. dia ingin aku pergi dengan nya.!"


Jessica terhenyak, menatap Raya sedikit


bingung.


"Apa orang itu ingin bertanggung jawab


atas apa yang telah di lakukan nya padamu.?"


Raya menggeleng kuat sambil memegang


tangan Jessica, wajah nya masih saja terlihat


ketakutan.


"Tidak Jes, orang itu bahkan lebih berbahaya


dari Jayden. Dia bisa melakukan apapun.!"


"Apa benar begitu.? apa kau mengenalnya.?"


menggeleng yakin.


"Darimana aku bisa mengenalnya. Aku tidak


tahu sama sekali manusia jahat itu. Jessica


aku harus segera pergi sejauh mungkin.!"


Jessica terdiam, menatap kuat wajah Raya


yang di penuhi kekhawatiran dan ketakutan


yang teramat sangat besar.


"Baiklah.. kita akan membahas itu nanti. Ini


sudah larut malam Ray, kita tidak bisa keluar


dari rumah sakit sekarang."


Raya menundukkan wajahnya berusaha


untuk menenangkan diri nya.


"Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Aku


akan meminta security untuk berjaga di depan


pintu agar kamu merasa lebih tenang oke..!"


Jessica membantu Raya naik keatas ranjang.


Layaknya anak kecil yang sedang ketakutan,


Raya hanya bisa menuruti semua perintah


gadis berambut blonde itu.


"Tenangkan dirimu Ray, rileks..Aku ada di


sini menemanimu.!"


Jessica kembali menenangkan sambil menarik


selimut menutupi tubuh gadis itu yang tampak


mulai memejamkan mata, mencoba menepis


bayangan wajah laki-laki jahat itu yang terus


saja menghantui nya.


"Kita akan mencoba membicarakan masalah


ini dengan Mr Sean. Bukankah kau mendapat


surat rekomendasi untuk pindah dinas ke


kantor pusat.?"


Raya langsung membuka matanya, mereka


saling pandang. Ada secercah harapan yang


kini hadir dari pancaran mata indah nya.


"Kau benar Jes, ini adalah satu-satunya


jalan untukku menjauh dari semua masalah


ini, aku akan mengambil nya sekarang."


Raya tampak berbinar penuh harapan. Dia


yakin Tuhan pasti memberikan masalah


sekaligus dengan jalan keluarnya..


***


"Semua biaya rumah sakit sudah di bayar


dan tangani oleh orang lain Nona."


Raya dan Jessica tampak terkejut. Mereka


melihat berkas pembayaran yang di serahkan


oleh petugas administrasi itu.


"Tapi.. siapa yang mengurusnya Mbak, apa


Tuan Sean yang sudah membayarnya.?"


Jessica bertanya masih dengan tampang

__ADS_1


bingung nya.


"Bukan Nona, ada pihak lain yang sudah


lebih dulu melakukan nya."


Raya dan Jessica saling pandang, bingung.


"Semoga anda cepat sehat ya."


Petugas itu tersenyum kearah Raya sambil


kemudian menundukkan kepala sopan.


"Terimakasih Mbak, kalau begitu saya


sudah bisa pulang sekarang kan.?"


"Sudah Nona, silahkan..!"


Petugas itu kembali menunduk. Raya balas


menunduk sedikit. Dia masih dalam mode


bingung mengenai orang yang sudah


membereskan masalah administrasi.


"Sudahlah Ray, tidak perlu kita pikirkan soal


itu. Sekarang ayo kita pulang , hari ini aku


ada meeting penting."


Jessica menggandeng tangan Raya di bawa


keluar dari loby rumah sakit menuju ke dalam


lift untuk turun ke lantai bawah. Begitu tiba


di area parkiran, sesuatu di luar dugaan terjadi.


Ada sekitar 6 orang berpakaian hitam tiba-tiba


datang mendekat membuat Raya dan Jessica


terkejut, berdiri mematung di tempat. Wajah


Raya kini berubah tegang, dia masih mengenali


orang-orang itu.


"Nona.. mari ikut dengan kami."


Salah seorang yang merupakan tangan kanan


Aaron bernama Alex tampak membungkuk di


hadapan Raya yang langsung mundur.


"Hei.. siapa kalian.? Jangan coba-coba


membuat keributan ya, ini adalah tempat


umum, kami bisa berteriak.!"


Jessica maju menghadang melindungi Raya


sambil menatap tajam ke arah orang-orang


aneh itu yang masih menundukkan kepala.


"Maaf Nona, sebaiknya anda bekerjasama


kalau tidak ingin ada keributan. Kami bisa


membawa anda dengan paksa."


"Kita tidak takut pada kalian..! Sebenarnya


kalian ini siapa ?"


Jessica kembali nyolot dengan tatapan mulai


panas di liputi emosi yang mulai menyeruak.


"Kami di perintahkan Tuan untuk menjemput


Nona Raya.."


"Apa mau Tuan kalian sebenarnya.?"


"Nona akan tahu nanti. Sebaiknya sekarang


ikut dengan kami secara baik-baik."


"Tidak, aku tidak akan menuruti apa yang


di perintahkan oleh Tuan kalian, ayo Jes!"


Raya menarik tangan Jessica, namun dalam


gerakan cepat Alex menodongkan senjata


ke arah kepala Jessica yang sontak melotot


tanpa bisa mengeluarkan suara. Wajah Raya


kini berubah pucat sekaligus emosi.


"Baiklah..! Aku akan ikut dengan kalian.


Lepaskan dia sekarang juga.!"


Geram Raya dengan tatapan marahnya.


Alex menurunkan senjatanya. Jessica


menghembuskan nafas lega, dia masih


terlihat tegang sekaligus kebingungan.


Ada apa ini sebenarnya.? Siapa mereka ini,


kenapa Raya harus kembali berurusan


dengan orang-orang macam begini.?


"Jes, aku akan ikut dengan mereka. Kamu


pergilah ke kantor, besok aku akan mulai


masuk kerja.!"


"Tapi Ray, mereka semua berbahaya. Aku


takut mereka melakukan sesuatu padamu.


Kita lapor polisi saja sekarang.!"


"Nona.. kami semua mendengarkan.!"


Alex berucap dengan suara tegas nya. Raya


memeluk Jessica sebentar setelah itu dia


mulai melangkah kearah lain sesuai dengan


arahan dari Alex. Jessica hanya bisa terdiam


bengong tidak bisa berbuat apa-apa saat


melihat Raya di bawa pergi.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30


menit, akhirnya mobil yang membawa Raya


masuk ke dalam area sebuah apartemen


elite tidak jauh dari pusat kota. Sungguh


Raya tidak mengerti apa sebenarnya yang


di inginkan oleh laki-laki jahat itu.


Alex membimbing Raya masuk ke dalam lift,


kemudian tidak lama mereka sudah keluar di


lantai paling atas yang hanya berisi satu unit apartemen saja. Mereka berdua tiba di depan


pintu masuk apartemen.


"Selamat datang Nona Maharaya.."


Mata indah Raya bersirobos tatap dengan


sepasang manik abu yang sangat membius


dari seorang pria muda bertubuh tinggi tegap,


berwajah tampan dengan pakaian rapi yang


sangat elegan dan berkelas. Keduanya untuk


sesaat saling mematung di tempat seakan


tersihir oleh sosok masing-masing..


***


Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2