
***
Aaron melirik kearah wanita elegan tadi yang
kini sudah mendekat kearah tempat tidur. Dia
masih belum bisa mempercayai semua ini.
Bagaimana wanita yang mengaku sebagai ibu
kandung istrinya itu bisa di kawal langsung
oleh seorang Murat. Karena dia tahu, Murat
bukanlah pengawal pribadi biasa. Dia adalah
asisten pribadi ketua mafia bawah tanah yang
paling di segani dan di hormati oleh dirinya..
Bos Murat adalah seorang pimpinan klan besar
Al Guzraty.. yang memiliki jaringan kekuasaan
dan kekuatan di seluruh dunia. Bahkan dirinya
pun berada di bawah bimbingan orang yang
sangat berpengaruh itu secara tidak langsung.
Di dunia nyata Bos nya Murat adalah jenderal
besar di negara nya yang sangat di hormati dan
di takuti di seluruh dunia terutama oleh prajurit
dan pasukan perang karena kehebatan nya
dalam memimpin angkatan perang. Selain itu
dia adalah cucu Sultan pertama kekaisaran
yang mendirikan negara xxx.. Namun sekarang
negara itu sudah berubah sistem pemerintahan
nya menjadi republik. Dan Keluarga besarnya
adalah bangsawan kelas 1 yang sangat di
dewakan di negara nya. Bahkan orang sekelas
presiden atau perdana menteri saja patuh dan
manut di hadapan keluarga itu.
"Kau datang sebagai pengawal pribadinya.?"
Aaron kembali mencoba meyakinkan diri.
"Benar Yang Mulya Putra Mahkota..Beliau ada
di bawah pengawasanku ! "
"Siapa wanita itu sebenarnya ?"
Aaron dan laki-laki setengah baya yang sedikit
menyeramkan dengan tampang brewos nya itu
saling menatap tajam mengadu kekuatan lewat
pancaran kharisma dari dalam diri masing-masing.
Dan pria itu akhirnya memalingkan wajahnya.
"Anda akan tahu sendiri nanti. Yang harus anda
ketahui, istrimu bukanlah wanita biasa.!"
"Aku sudah tahu hal itu dari awal ! Dia bukanlah
wanita dari kalangan biasa. Golongan darahnya
adalah satu kesatuan denganku, dan itu sangat
lah langka.!"
Pria tinggi besar atau yang tadi di panggil Mr.
Murat oleh Aaron itu menyeringai tipis. Dia
melirik sekilas kearah keberadaan Raya dan
wanita elegan tadi yang kini sudah berdiri di
depan ranjang besar tempat Raya tertidur lelap.
"Jadi karena itu kau memutuskan untuk terus
mengejarnya.? Karena kau tahu golongan darah
nya bisa menjadi wadah sempurna untuk bisa
menampung benih mu yang berharga.? Benih
dari gen yang sangat ganas dan mematikan.!"
Wajah Aaron tampak mengeras. Tangan nya
kini terkepal dengan sempurna. Bagaimana
bisa laki-laki ini mengetahui semua rahasia
tentang hubungan dirinya dan Raya.? Bahkan
dia mengetahui secara detail, hal yang sangat
pribadi tentang dirinya.
"Jangan sembarangan bicara. Tuhan lah yang
telah menuntunku untuk bertemu dengan nya."
Mr. Murat kembali menyeringai tipis sambil
kemudian menjauh dari hadapan Aaron.
"Tentu saja Yang Mulya..Takdir Tuhan lah yang
telah mempertemukan kalian berdua.! Anda
harus menjaga Lady Maharaya dengan baik."
"Kau mengetahui segala sesuatu nya dengan
detail tentang rahasia yang di miliki istriku.
Berarti kau tahu pasti alasan orang tuanya
membuat dia terasing dari keluarganya.!"
"Yang Mulya sudah melihat sendiri bagaimana
istimewa nya istri mu itu bukan.? Itulah salah
satu alasan kenapa dirinya harus di asingkan.
Dia akan menjadi incaran orang-orang yang
penuh ambisi di sekitar keluarganya. Kau tahu
Yang Mulya.. dia sangat berharga bagi kami..!"
Aaron tampak terkejut bukan main. Ya..tidak di
ragukan lagi, Mr. Murat benar-benar mengetahui
asal usul kelahiran istrinya dengan sangat baik.
Dan mungkin saja ada hubungan dengan nya.
"Aku tahu dia memiliki banyak keistimewaan.
Dan aku yakin ini ada penjelasan ilmiahnya,
darah pria mana yang telah melekat dalam
tubuhnya.! Yang telah menurunkan semua
hal di luar nalar ini !"
Geram Aaron dengan tatapan yang semakin
tajam seolah ingin menembus tubuh pria tinggi
besar yang sedang berdiri menyamping itu.
"Tentu saja, kau bisa menganalisanya sendiri
nanti setelah asal usulnya terungkap. Sekarang bicaralah dengan ibu mertua mu Yang Mulya."
Ucap Mr Murat sambil kembali melirik kearah
keberadaan wanita elegan tadi yang kini sudah
mulai duduk di pinggir tempat tidur. Setelah itu
Mr Murat tampak membungkuk sedikit dan menghadapkan tubuhnya ke arah lain. Alex,
Benjamin dan para pengawal serta beberapa
orang yang di bawa oleh Mr. Murat hanya bisa
terdiam sambil menundukkan kepalanya segan.
Aaron mendengus, dia menutup pintu kamar
dengan kibasan tangan ke udara. Kemudian
berjalan menuju tempat tidur dimana wanita
elegan itu kini sedang duduk di tepi tempat
tidur dengan tatapan yang begitu lekat penuh
sorot mata kerinduan. Perlahan dia mencium
lembut kening Raya, mengusap pelan rambut
indahnya yang jatuh menghalangi wajah cantik
putrinya itu.
"Ibu sangat merindukanmu sayang. Maaf
karena telah membiarkan mu sampai di jalan
ini. Tapi inilah takdir mu yang harus kau jalani.!"
Bisik nya sambil membelai lembut wajah halus
mulus putrinya itu. Air matanya menetes tak
bisa di tahan. Hatinya perih bukan main saat
mengingat nasib buruk yang telah menimpa
putri terbuang nya ini.
"Sekarang semuanya sudah mulai terkendali.
Kami akan segera membawamu pulang sayang.
Kau adalah putri kami yang sangat berharga."
Lirih wanita itu sambil menciumi jemari tangan
Raya dengan penuh kasih. Wajahnya terlihat
begitu tertekan. Dia mengecek denyut nadi di
pergelangan tangan Raya dengan seksama.
Aaron masih terdiam tanpa komentar ataupun
berniat mengganggu nya. Dia memperhatikan
wanita itu dalam diam. Mencoba mengamati
apa yang di lakukan nya.
"Selamat atas kehamilanmu sayang. Ibu sangat
bahagia dengan kabar ini."
Desis wanita itu sambil kembali membelai lembut
wajah cantik jelita putrinya itu.
"Bagaimana kau tahu kalau dia sedang hamil.?"
__ADS_1
Barulah Aaron mengeluarkan suaranya. Wanita
elegan tadi melirik, matanya kini saling menatap
dengan mata elang Aaron. Sorot mata sendu
yang sama dengan milik istrinya. Wanita ini
memang benar-benar Ibu nya Maharaya. Mereka
berdua begitu mirip, hanya saja garis wajah Raya
lebih tegas dengan kesempurnaan bentuk hidung
dan bibir yang sangat indah nan menggoda.
"Aku tahu semua yang terjadi dengan putriku.
Karena aku adalah ibu nya Pangeran."
"Lalu kenapa kau membiarkan dia menderita
selama ini ? Kenapa kalian membiarkan dia
berada dalam bahaya selama ini.?"
"Bukankah kau sudah hadir untuk nya.? Lalu
apa artinya keberadaan mu di sisinya.?
Aaron membeku, merasa tertohok. Dia kini
memalingkan wajahnya. Tetap saja, keluarga
istrinya ini telah membiarkan Raya berada
dalam bahaya selama ini.
"Apa sebenarnya yang terjadi.? Kenapa kalian
membiarkan Danu Atmaja berhutang besar
pada Jayden.! Dan menjadikan Putri kalian
sebagai umpan nya !"
Wanita elegan itu tersenyum tipis. Dia menatap
lembut wajah Raya yang kini mengerakkan badan
karena merasa ada sesuatu yang beda di sekitar
dirinya. Sepertinya dia merasakan kehadiran
seseorang yang di nantikan nya.
"Selama ini, sebisa mungkin kami membiarkan
dia hidup normal layaknya gadis biasa. Dia harus merasakan kesakitan dan kepahitan. Kesulitan
dan ketakutan. Selama keselamatan nyawanya
tidak terancam maka kami cukup memantaunya
saja.! Selama ini pria itu masih bisa menjaga
perlakuannya di depan putriku dan tidak berani
berbuat lebih padanya.!"
"Kalian sungguh aneh ! Sudah jelas dia berada
dalam kekuasaan baj*ng*n itu, tapi kalian masih
saja membiarkannya dalam bahaya.!"
"Bukankah kami telah mengirimmu untuk datang
kesana ? Kami mempercayakan keselamatannya padamu. Tapi kau malah merusaknya.! Kehadiran dirimu lah yang telah membuat jati diri putriku terpaksa harus terungkap. ! Kau telah membawa
nya pada jalan terjal ini hingga memaksa dia
harus mengenali keistimewaan dalam dirinya
yang selama ini berusaha untuk kami tutupi.!"
Aaron terhenyak, dia terdiam dalam renungan.
Memang harus di akui, selama ini Raya selalu
ada dalam bahaya, semenjak berada di sisinya.
"Siapa kalian sebenarnya.? Danu Atmaja sendiri
bahkan tidak tahu jati diri kalian berdua.!"
"Tentu saja, karena kami sengaja telah mengatur
semua itu. Yang dia tahu Putriku hanyalah bayi
kecil yang sengaja di titipkan oleh ku pada istri
nya karena keluargaku tidak bisa menerimanya.
Tapi dia tidak tahu identitas kami yang sesungguhnya.!"
"Kenapa harus Danu Atmaja dan istrinya.?"
"Alasannya adalah istrinya..Dia memilki gen
murni dan sangat cocok untuk menyusui Putri
ku. Kebetulan waktu itu mereka baru saja
kehilangan bayi nya.."
"Jadi kalian bukan sahabat dekat.?"
"Kami bahkan tidak saling mengenal. Semua
orang yang berhubungan dengan ku bukanlah
tempat yang aman untuk putriku tumbuh."
Aaron berdecak. Dia masih tidak bisa menerima
semua alasan ini. Dia tahu alasannya tidak lah
semudah itu. Tetap saja mereka adalah orang
tua yang sudah membuang anaknya. Dan dia
yakin ada alasan kuat di balik semua ini.
atas hidup istriku.! Kalian telah menghapus data
tentang kelahirannya.! Jadi tidak ada alasan bagi kalian untuk memasuki kehidupannya lagi. Saat
ini dan selamanya dia hanyalah milikku.!"
Wanita elegan itu kembali melirik kearah Aaron
yang kini terlihat sangat dingin sedikit emosi.
Dia tersenyum tenang, bersahaja dan kembali
memandang lekat wajah Raya yang saat ini
benar-benar mulai terbangun.
"Hooh Yang Mulya..Kau menginginkan Putri ku
dengan begitu gilanya. Tapi..aku cukup tenang
karena saat ini dia sudah berada di tangan yang seharusnya. Perjalanan kalian masih panjang,
kalian masih harus melewati satu fase lagi
untuk bisa mencapai takdir kalian yang sejati.!"
"Ibu... kau kah itu, kau ada di sini..?"
Aaron dan wanita tadi terkejut saat melihat Raya
sudah membuka matanya, menatap syok kearah
wanita itu seolah tidak bisa mempercayai apa
yang kini di lihatnya.
"Iya sayang.. Ibu datang. Ibu ingin memastikan
keadaanmu..!"
"Ibu..."
Raya menubruk tubuh wanita itu, memeluknya
erat sambil menyusupkan kepala ke dalam
rengkuhan dan dekapan hangat nya.
"Ibu... kenapa kalian membiarkan aku berada
di jalan ini. Kalian membiarkan aku merasakan
semua kepahitan ini.! Kalian membiarkan aku
merasakan putus asa dan hancur.!"
"Maafkan Ibu sayang.. inilah perjalanan mu."
Wanita tadi memeluk erat tubuh Raya sambil
menciumi puncak kepalanya berulangkali.
"Ibu jahat.. Kalian benar-benar melupakan ku.
Aku harus berjuang sendiri. Aku tenggelam
dan berusaha untuk kembali lagi ke permukaan
dengan segala pengorbanan yang tidak mudah."
"Nikmatilah sayang.. Inilah jalan hidupmu. Kau
harus menikmati proses nya, tanpa terlewat.
Kau harus belajar dari bawah bagaimana arti
kehidupan yang sesungguhnya. Karena hidup
mu di takdirkan untuk sesuatu yang penting
di masa depan bersama suamimu.!"
Raya terdiam sesaat. Dia semakin mempererat
pelukannya. Aaron menatap diam kedua wanita
yang sama-sama memukau dalam versi nya
masing-masing itu. Dia melipat kedua tangan
di dada, memandangi wajah Raya yang terlihat
begitu bahagia bertemu ibu nya itu.
"Aku sangat merindukanmu Ibu.. Aku sendiri
selama ini. Aku tidak memilki siapapun.."
"Kau memiliki suami yang sangat mencintaimu
sayang. Kau juga punya ayah dan ibu.."
Keduanya saling memperat pelukan, mencoba
menyalurkan segala kerinduan yang terpendam.
Aaron masih setia mendiamkan keduanya.
beberapa saat kemudian...
"Ibu tidak bisa lama-lama sayang..Ibu datang
hanya ingin memastikan kondisi kehamilanmu.
Kau sudah ada di tangan yang tepat sekarang,
jadi ibu dan Ayah bisa sedikit tenang."
"Jadi ibu sudah tahu kehamilanku.? "
"Tentu saja.. Apapun yang menyangkut dirimu
ibu akan otomatis mengetahuinya.!"
Mereka berdua saling melepaskan pelukan
dan kini saling menatap teduh. Tangan wanita
__ADS_1
tadi mengusap lembut air mata yang turun
menyusuri wajah cantik Raya.
"Mulai sekarang.. kau harus lebih kuat lagi.
Kau harus memperjuangkan hak mu sebagai
istri Putra Mahkota.. Kau tidaklah rendah, kau
punya kehormatan dan kedudukan.."
"Kapan aku bisa bertemu dengan Ayah.? Apa
sampai sekarang dia masih belum menerima
keberadaan ku.?"
Wanita itu terdiam , raut wajahnya tampak resah
dan tidak nyaman. Aaron menatap tajam reaksi
tidak biasa yang di perlihatkan oleh wanita yang notabenenya adalah ibu mertuanya itu.
"Kau akan bertemu kalau sudah waktunya.
Kami akan datang pada saat yang tepat.!"
"Kenapa aku tidak bisa bertemu dengannya.?
Apakah dia benar-benar tidak menginginkan
kehadiran ku di dunia ini.?"
"Itu tidak benar sayang.. Ayahmu sangat lah
mencintaimu."
Raya kembali memeluk erat tubuh ibunya itu
yang balas memeluknya erat seolah tidak ingin
berpisah. Tapi setiap bertemu memang selalu
begini adanya, tidak pernah bisa sepuasnya.
"Aku ingin bertemu dengan nya Bu.."
"Maafkan ibu sayang. Untuk saat ini biarkan saja
semuanya seperti ini. Yang harus kamu ketahui
Ayahmu sangat menyayangi mu. Akan segera
tiba waktunya untuk kita berkumpul bersama."
Keduanya terdiam saling memeluk di iringi air
mata yang tiada henti menetes menuruni wajah
cantik keduanya.
***
Raya menatap kepergian Ibu nya yang kini sudah
terbang dengan menggunakan helikopter tempur
yang sangat canggih dan modern. Dia memeluk
erat tubuh Aaron mencoba meredam kesedihan
yang kini menyesakkan dadanya.
"Aaron.. apakah kau masih mau menerima ku
setelah mengetahui fakta bahwa orang tua
kandungku telah mengasingkan diriku, mereka
tidak mengharapkan kehadiran ku di dunia ini."
Raya berucap saat Aaron mengangkat tubuhnya
ke dalam gendongannya lalu melangkah turun
dari roof top yang juga berfungsi sebagai
landasan mini untuk pesawat kecil.
"Apapun fakta tentang dirimu, tidak akan pernah
mengubah kenyataan bahwa aku mencintaimu.
Aku jatuh cinta padamu bukan karena yang lain."
"Kau seorang Putra Mahkota.. calon Raja masa
depan. Jadi identitas ku akan mempengaruhi
kedudukan mu Aaron.."
"Aku tidak peduli dengan semua itu. Kita akan
lihat sampai dimana mereka mencoba untuk
menjegal langkahku membawa mu ke istana."
Raya menatap lekat wajah tampan Aaron yang
terlihat santai dan datar. Dia merebahkan kepala
dalam rengkuhan dada bidang suaminya itu.
Hatinya terasa penuh oleh berbagai perasaan
yang kini memenuhi dadanya.
"Aku akan berdiri di sisimu sayang.. Selama kau
yakin dengan jalan mu, maka aku akan selalu
menemani mu.."
Aaron menatap sekilas wajah Raya dengan raut
wajah yang terlihat bereaksi memerah. Mereka
tiba di depan pintu kamar.
"Setelah sarapan pagi kita akan kembali ke kota
xxx... siapkan segala sesuatu nya dengan baik."
Aaron memberi instruksi pada Alex dan Benjamin
yang berdiri di belakangnya.
"Baik Yang Mulya.."
Aaron segera masuk ke dalam kamar. Dengan
hati-hati dia membaringkan tubuh Raya di atas
tempat tidur. Kemudian mendekapnya erat dan
hangat. Raya balik memeluk erat tubuh gagah
suaminya yang senantiasa memberinya rasa
aman dan nyaman itu. Sesaat kemudian bibir
mereka sudah saling menyambar, terhanyut
dalam ciuman manis dan lembut yang selalu
membuat keduanya terbuai dalam kenikmatan
yang memabukkan.
"Apa kau tahu identitas kedua orang tuamu.?"
Aaron bertanya sesaat setelah mereka melepas
ciuman panas nya karena Raya yakin kalau hal
itu tidak di hentikan hasrat Aaron akan kembali
menggelora tak terkendali. Mata mereka saling
menatap, saling melihat dengan tatapan sedikit
berkabut.
"Aku tidak begitu yakin tentang mereka Aaron.
Karena aku sendiri belum pernah bertemu
dengan ayah kandung ku."
"Jadi kau tahu nama belakang kedua orang
tuamu.? Kenapa tidak mengatakannya padaku.?"
Raya menatap lekat wajah Aaron, mencoba
untuk meyakinkan diri bahwa saat ini waktu
yang tepat baginya membuka sedikit misteri
tentang identitas ayah nya.
"Aaron.. aku sendiri tidak yakin apakah semua
ini benar atau tidak. Tapi selama ini aku sudah
mencoba untuk percaya pada ibuku.."
Aaron menatap tajam wajah Raya, ada reaksi
penasaran yang terlukis dari raut wajahnya saat mendengar perkataan Raya barusan.
"Katakan saja siapa mereka, siapa tahu aku
mengenal salah satunya."
Keduanya kembali saling menatap kuat dan
mencoba meyakinkan diri masing-masing.
"Apakah ini cukup penting bagi mu.? "
"Tentu saja, aku harus tahu darah siapa yang
mengalir dalam tubuh istimewa mu ini .!"
Raya kembali menatap tenang wajah Aaron.
Tangan nya mengelus lembut wajah tampan
suaminya itu.
"Ibuku bernama Ratih Ayu Pramesti Kertaradjasa..
Dan Ayahku bernama..Serkan Ahmed As.."
"As Syaf Sulaiman..."
Aaron bergumam rendah dengan reaksi wajah
yang terlihat terkejut luar biasa.. Matanya kini
menatap tidak percaya. Raya balas menatap
wajah Aaron dengan tampang ragu..
"Tidak ada siapapun yang tahu tentang jati diri
ayah kandungku. Bahkan Ayah angkatku sendiri.
Hanya aku sendiri yang tahu.."
"Dan itu sudah benar.! semuanya sudah sesuai
dengan yang seharusnya.! Kau tidak boleh di hubungkan dengan ayah kandungmu.!!"
Aaron menarik tubuh Raya ke dalam pelukannya.
Mendekapnya erat dan kuat sambil memejamkan
mata rapat. Tidak, ini adalah kejutan yang sangat
dahsyat baginya. Saat ini jantungnya bahkan
terasa meloncat keluar dari tempat nya.
Tuhan.. Maharaya istrinya adalah darah daging
dari seorang Serkan Ahmed As Syaf Sulaiman..?
Bagaimana bisa semua ini terjadi.??
__ADS_1
***