Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
81. Terungkap


__ADS_3

***


Aaron melirik kearah wanita elegan tadi yang


kini sudah mendekat kearah tempat tidur. Dia


masih belum bisa mempercayai semua ini.


Bagaimana wanita yang mengaku sebagai ibu


kandung istrinya itu bisa di kawal langsung


oleh seorang Murat. Karena dia tahu, Murat


bukanlah pengawal pribadi biasa. Dia adalah


asisten pribadi ketua mafia bawah tanah yang


paling di segani dan di hormati oleh dirinya..


Bos Murat adalah seorang pimpinan klan besar


Al Guzraty.. yang memiliki jaringan kekuasaan


dan kekuatan di seluruh dunia. Bahkan dirinya


pun berada di bawah bimbingan orang yang


sangat berpengaruh itu secara tidak langsung.


Di dunia nyata Bos nya Murat adalah jenderal


besar di negara nya yang sangat di hormati dan


di takuti di seluruh dunia terutama oleh prajurit


dan pasukan perang karena kehebatan nya


dalam memimpin angkatan perang. Selain itu


dia adalah cucu Sultan pertama kekaisaran


yang mendirikan negara xxx.. Namun sekarang


negara itu sudah berubah sistem pemerintahan


nya menjadi republik. Dan Keluarga besarnya


adalah bangsawan kelas 1 yang sangat di


dewakan di negara nya. Bahkan orang sekelas


presiden atau perdana menteri saja patuh dan


manut di hadapan keluarga itu.


"Kau datang sebagai pengawal pribadinya.?"


Aaron kembali mencoba meyakinkan diri.


"Benar Yang Mulya Putra Mahkota..Beliau ada


di bawah pengawasanku ! "


"Siapa wanita itu sebenarnya ?"


Aaron dan laki-laki setengah baya yang sedikit


menyeramkan dengan tampang brewos nya itu


saling menatap tajam mengadu kekuatan lewat


pancaran kharisma dari dalam diri masing-masing.


Dan pria itu akhirnya memalingkan wajahnya.


"Anda akan tahu sendiri nanti. Yang harus anda


ketahui, istrimu bukanlah wanita biasa.!"


"Aku sudah tahu hal itu dari awal ! Dia bukanlah


wanita dari kalangan biasa. Golongan darahnya


adalah satu kesatuan denganku, dan itu sangat


lah langka.!"


Pria tinggi besar atau yang tadi di panggil Mr.


Murat oleh Aaron itu menyeringai tipis. Dia


melirik sekilas kearah keberadaan Raya dan


wanita elegan tadi yang kini sudah berdiri di


depan ranjang besar tempat Raya tertidur lelap.


"Jadi karena itu kau memutuskan untuk terus


mengejarnya.? Karena kau tahu golongan darah


nya bisa menjadi wadah sempurna untuk bisa


menampung benih mu yang berharga.? Benih


dari gen yang sangat ganas dan mematikan.!"


Wajah Aaron tampak mengeras. Tangan nya


kini terkepal dengan sempurna. Bagaimana


bisa laki-laki ini mengetahui semua rahasia


tentang hubungan dirinya dan Raya.? Bahkan


dia mengetahui secara detail, hal yang sangat


pribadi tentang dirinya.


"Jangan sembarangan bicara. Tuhan lah yang


telah menuntunku untuk bertemu dengan nya."


Mr. Murat kembali menyeringai tipis sambil


kemudian menjauh dari hadapan Aaron.


"Tentu saja Yang Mulya..Takdir Tuhan lah yang


telah mempertemukan kalian berdua.! Anda


harus menjaga Lady Maharaya dengan baik."


"Kau mengetahui segala sesuatu nya dengan


detail tentang rahasia yang di miliki istriku.


Berarti kau tahu pasti alasan orang tuanya


membuat dia terasing dari keluarganya.!"


"Yang Mulya sudah melihat sendiri bagaimana


istimewa nya istri mu itu bukan.? Itulah salah


satu alasan kenapa dirinya harus di asingkan.


Dia akan menjadi incaran orang-orang yang


penuh ambisi di sekitar keluarganya. Kau tahu


Yang Mulya.. dia sangat berharga bagi kami..!"


Aaron tampak terkejut bukan main. Ya..tidak di


ragukan lagi, Mr. Murat benar-benar mengetahui


asal usul kelahiran istrinya dengan sangat baik.


Dan mungkin saja ada hubungan dengan nya.


"Aku tahu dia memiliki banyak keistimewaan.


Dan aku yakin ini ada penjelasan ilmiahnya,


darah pria mana yang telah melekat dalam


tubuhnya.! Yang telah menurunkan semua


hal di luar nalar ini !"


Geram Aaron dengan tatapan yang semakin


tajam seolah ingin menembus tubuh pria tinggi


besar yang sedang berdiri menyamping itu.


"Tentu saja, kau bisa menganalisanya sendiri


nanti setelah asal usulnya terungkap. Sekarang bicaralah dengan ibu mertua mu Yang Mulya."


Ucap Mr Murat sambil kembali melirik kearah


keberadaan wanita elegan tadi yang kini sudah


mulai duduk di pinggir tempat tidur. Setelah itu


Mr Murat tampak membungkuk sedikit dan menghadapkan tubuhnya ke arah lain. Alex,


Benjamin dan para pengawal serta beberapa


orang yang di bawa oleh Mr. Murat hanya bisa


terdiam sambil menundukkan kepalanya segan.


Aaron mendengus, dia menutup pintu kamar


dengan kibasan tangan ke udara. Kemudian


berjalan menuju tempat tidur dimana wanita


elegan itu kini sedang duduk di tepi tempat


tidur dengan tatapan yang begitu lekat penuh


sorot mata kerinduan. Perlahan dia mencium


lembut kening Raya, mengusap pelan rambut


indahnya yang jatuh menghalangi wajah cantik


putrinya itu.


"Ibu sangat merindukanmu sayang. Maaf


karena telah membiarkan mu sampai di jalan


ini. Tapi inilah takdir mu yang harus kau jalani.!"


Bisik nya sambil membelai lembut wajah halus


mulus putrinya itu. Air matanya menetes tak


bisa di tahan. Hatinya perih bukan main saat


mengingat nasib buruk yang telah menimpa


putri terbuang nya ini.


"Sekarang semuanya sudah mulai terkendali.


Kami akan segera membawamu pulang sayang.


Kau adalah putri kami yang sangat berharga."


Lirih wanita itu sambil menciumi jemari tangan


Raya dengan penuh kasih. Wajahnya terlihat


begitu tertekan. Dia mengecek denyut nadi di


pergelangan tangan Raya dengan seksama.


Aaron masih terdiam tanpa komentar ataupun


berniat mengganggu nya. Dia memperhatikan


wanita itu dalam diam. Mencoba mengamati


apa yang di lakukan nya.


"Selamat atas kehamilanmu sayang. Ibu sangat


bahagia dengan kabar ini."


Desis wanita itu sambil kembali membelai lembut


wajah cantik jelita putrinya itu.


"Bagaimana kau tahu kalau dia sedang hamil.?"

__ADS_1


Barulah Aaron mengeluarkan suaranya. Wanita


elegan tadi melirik, matanya kini saling menatap


dengan mata elang Aaron. Sorot mata sendu


yang sama dengan milik istrinya. Wanita ini


memang benar-benar Ibu nya Maharaya. Mereka


berdua begitu mirip, hanya saja garis wajah Raya


lebih tegas dengan kesempurnaan bentuk hidung


dan bibir yang sangat indah nan menggoda.


"Aku tahu semua yang terjadi dengan putriku.


Karena aku adalah ibu nya Pangeran."


"Lalu kenapa kau membiarkan dia menderita


selama ini ? Kenapa kalian membiarkan dia


berada dalam bahaya selama ini.?"


"Bukankah kau sudah hadir untuk nya.? Lalu


apa artinya keberadaan mu di sisinya.?


Aaron membeku, merasa tertohok. Dia kini


memalingkan wajahnya. Tetap saja, keluarga


istrinya ini telah membiarkan Raya berada


dalam bahaya selama ini.


"Apa sebenarnya yang terjadi.? Kenapa kalian


membiarkan Danu Atmaja berhutang besar


pada Jayden.! Dan menjadikan Putri kalian


sebagai umpan nya !"


Wanita elegan itu tersenyum tipis. Dia menatap


lembut wajah Raya yang kini mengerakkan badan


karena merasa ada sesuatu yang beda di sekitar


dirinya. Sepertinya dia merasakan kehadiran


seseorang yang di nantikan nya.


"Selama ini, sebisa mungkin kami membiarkan


dia hidup normal layaknya gadis biasa. Dia harus merasakan kesakitan dan kepahitan. Kesulitan


dan ketakutan. Selama keselamatan nyawanya


tidak terancam maka kami cukup memantaunya


saja.! Selama ini pria itu masih bisa menjaga


perlakuannya di depan putriku dan tidak berani


berbuat lebih padanya.!"


"Kalian sungguh aneh ! Sudah jelas dia berada


dalam kekuasaan baj*ng*n itu, tapi kalian masih


saja membiarkannya dalam bahaya.!"


"Bukankah kami telah mengirimmu untuk datang


kesana ? Kami mempercayakan keselamatannya padamu. Tapi kau malah merusaknya.! Kehadiran dirimu lah yang telah membuat jati diri putriku terpaksa harus terungkap. ! Kau telah membawa


nya pada jalan terjal ini hingga memaksa dia


harus mengenali keistimewaan dalam dirinya


yang selama ini berusaha untuk kami tutupi.!"


Aaron terhenyak, dia terdiam dalam renungan.


Memang harus di akui, selama ini Raya selalu


ada dalam bahaya, semenjak berada di sisinya.


"Siapa kalian sebenarnya.? Danu Atmaja sendiri


bahkan tidak tahu jati diri kalian berdua.!"


"Tentu saja, karena kami sengaja telah mengatur


semua itu. Yang dia tahu Putriku hanyalah bayi


kecil yang sengaja di titipkan oleh ku pada istri


nya karena keluargaku tidak bisa menerimanya.


Tapi dia tidak tahu identitas kami yang sesungguhnya.!"


"Kenapa harus Danu Atmaja dan istrinya.?"


"Alasannya adalah istrinya..Dia memilki gen


murni dan sangat cocok untuk menyusui Putri


ku. Kebetulan waktu itu mereka baru saja


kehilangan bayi nya.."


"Jadi kalian bukan sahabat dekat.?"


"Kami bahkan tidak saling mengenal. Semua


orang yang berhubungan dengan ku bukanlah


tempat yang aman untuk putriku tumbuh."


Aaron berdecak. Dia masih tidak bisa menerima


semua alasan ini. Dia tahu alasannya tidak lah


semudah itu. Tetap saja mereka adalah orang


tua yang sudah membuang anaknya. Dan dia


yakin ada alasan kuat di balik semua ini.


atas hidup istriku.! Kalian telah menghapus data


tentang kelahirannya.! Jadi tidak ada alasan bagi kalian untuk memasuki kehidupannya lagi. Saat


ini dan selamanya dia hanyalah milikku.!"


Wanita elegan itu kembali melirik kearah Aaron


yang kini terlihat sangat dingin sedikit emosi.


Dia tersenyum tenang, bersahaja dan kembali


memandang lekat wajah Raya yang saat ini


benar-benar mulai terbangun.


"Hooh Yang Mulya..Kau menginginkan Putri ku


dengan begitu gilanya. Tapi..aku cukup tenang


karena saat ini dia sudah berada di tangan yang seharusnya. Perjalanan kalian masih panjang,


kalian masih harus melewati satu fase lagi


untuk bisa mencapai takdir kalian yang sejati.!"


"Ibu... kau kah itu, kau ada di sini..?"


Aaron dan wanita tadi terkejut saat melihat Raya


sudah membuka matanya, menatap syok kearah


wanita itu seolah tidak bisa mempercayai apa


yang kini di lihatnya.


"Iya sayang.. Ibu datang. Ibu ingin memastikan


keadaanmu..!"


"Ibu..."


Raya menubruk tubuh wanita itu, memeluknya


erat sambil menyusupkan kepala ke dalam


rengkuhan dan dekapan hangat nya.


"Ibu... kenapa kalian membiarkan aku berada


di jalan ini. Kalian membiarkan aku merasakan


semua kepahitan ini.! Kalian membiarkan aku


merasakan putus asa dan hancur.!"


"Maafkan Ibu sayang.. inilah perjalanan mu."


Wanita tadi memeluk erat tubuh Raya sambil


menciumi puncak kepalanya berulangkali.


"Ibu jahat.. Kalian benar-benar melupakan ku.


Aku harus berjuang sendiri. Aku tenggelam


dan berusaha untuk kembali lagi ke permukaan


dengan segala pengorbanan yang tidak mudah."


"Nikmatilah sayang.. Inilah jalan hidupmu. Kau


harus menikmati proses nya, tanpa terlewat.


Kau harus belajar dari bawah bagaimana arti


kehidupan yang sesungguhnya. Karena hidup


mu di takdirkan untuk sesuatu yang penting


di masa depan bersama suamimu.!"


Raya terdiam sesaat. Dia semakin mempererat


pelukannya. Aaron menatap diam kedua wanita


yang sama-sama memukau dalam versi nya


masing-masing itu. Dia melipat kedua tangan


di dada, memandangi wajah Raya yang terlihat


begitu bahagia bertemu ibu nya itu.


"Aku sangat merindukanmu Ibu.. Aku sendiri


selama ini. Aku tidak memilki siapapun.."


"Kau memiliki suami yang sangat mencintaimu


sayang. Kau juga punya ayah dan ibu.."


Keduanya saling memperat pelukan, mencoba


menyalurkan segala kerinduan yang terpendam.


Aaron masih setia mendiamkan keduanya.


beberapa saat kemudian...


"Ibu tidak bisa lama-lama sayang..Ibu datang


hanya ingin memastikan kondisi kehamilanmu.


Kau sudah ada di tangan yang tepat sekarang,


jadi ibu dan Ayah bisa sedikit tenang."


"Jadi ibu sudah tahu kehamilanku.? "


"Tentu saja.. Apapun yang menyangkut dirimu


ibu akan otomatis mengetahuinya.!"


Mereka berdua saling melepaskan pelukan


dan kini saling menatap teduh. Tangan wanita

__ADS_1


tadi mengusap lembut air mata yang turun


menyusuri wajah cantik Raya.


"Mulai sekarang.. kau harus lebih kuat lagi.


Kau harus memperjuangkan hak mu sebagai


istri Putra Mahkota.. Kau tidaklah rendah, kau


punya kehormatan dan kedudukan.."


"Kapan aku bisa bertemu dengan Ayah.? Apa


sampai sekarang dia masih belum menerima


keberadaan ku.?"


Wanita itu terdiam , raut wajahnya tampak resah


dan tidak nyaman. Aaron menatap tajam reaksi


tidak biasa yang di perlihatkan oleh wanita yang notabenenya adalah ibu mertuanya itu.


"Kau akan bertemu kalau sudah waktunya.


Kami akan datang pada saat yang tepat.!"


"Kenapa aku tidak bisa bertemu dengannya.?


Apakah dia benar-benar tidak menginginkan


kehadiran ku di dunia ini.?"


"Itu tidak benar sayang.. Ayahmu sangat lah


mencintaimu."


Raya kembali memeluk erat tubuh ibunya itu


yang balas memeluknya erat seolah tidak ingin


berpisah. Tapi setiap bertemu memang selalu


begini adanya, tidak pernah bisa sepuasnya.


"Aku ingin bertemu dengan nya Bu.."


"Maafkan ibu sayang. Untuk saat ini biarkan saja


semuanya seperti ini. Yang harus kamu ketahui


Ayahmu sangat menyayangi mu. Akan segera


tiba waktunya untuk kita berkumpul bersama."


Keduanya terdiam saling memeluk di iringi air


mata yang tiada henti menetes menuruni wajah


cantik keduanya.


***


Raya menatap kepergian Ibu nya yang kini sudah


terbang dengan menggunakan helikopter tempur


yang sangat canggih dan modern. Dia memeluk


erat tubuh Aaron mencoba meredam kesedihan


yang kini menyesakkan dadanya.


"Aaron.. apakah kau masih mau menerima ku


setelah mengetahui fakta bahwa orang tua


kandungku telah mengasingkan diriku, mereka


tidak mengharapkan kehadiran ku di dunia ini."


Raya berucap saat Aaron mengangkat tubuhnya


ke dalam gendongannya lalu melangkah turun


dari roof top yang juga berfungsi sebagai


landasan mini untuk pesawat kecil.


"Apapun fakta tentang dirimu, tidak akan pernah


mengubah kenyataan bahwa aku mencintaimu.


Aku jatuh cinta padamu bukan karena yang lain."


"Kau seorang Putra Mahkota.. calon Raja masa


depan. Jadi identitas ku akan mempengaruhi


kedudukan mu Aaron.."


"Aku tidak peduli dengan semua itu. Kita akan


lihat sampai dimana mereka mencoba untuk


menjegal langkahku membawa mu ke istana."


Raya menatap lekat wajah tampan Aaron yang


terlihat santai dan datar. Dia merebahkan kepala


dalam rengkuhan dada bidang suaminya itu.


Hatinya terasa penuh oleh berbagai perasaan


yang kini memenuhi dadanya.


"Aku akan berdiri di sisimu sayang.. Selama kau


yakin dengan jalan mu, maka aku akan selalu


menemani mu.."


Aaron menatap sekilas wajah Raya dengan raut


wajah yang terlihat bereaksi memerah. Mereka


tiba di depan pintu kamar.


"Setelah sarapan pagi kita akan kembali ke kota


xxx... siapkan segala sesuatu nya dengan baik."


Aaron memberi instruksi pada Alex dan Benjamin


yang berdiri di belakangnya.


"Baik Yang Mulya.."


Aaron segera masuk ke dalam kamar. Dengan


hati-hati dia membaringkan tubuh Raya di atas


tempat tidur. Kemudian mendekapnya erat dan


hangat. Raya balik memeluk erat tubuh gagah


suaminya yang senantiasa memberinya rasa


aman dan nyaman itu. Sesaat kemudian bibir


mereka sudah saling menyambar, terhanyut


dalam ciuman manis dan lembut yang selalu


membuat keduanya terbuai dalam kenikmatan


yang memabukkan.


"Apa kau tahu identitas kedua orang tuamu.?"


Aaron bertanya sesaat setelah mereka melepas


ciuman panas nya karena Raya yakin kalau hal


itu tidak di hentikan hasrat Aaron akan kembali


menggelora tak terkendali. Mata mereka saling


menatap, saling melihat dengan tatapan sedikit


berkabut.


"Aku tidak begitu yakin tentang mereka Aaron.


Karena aku sendiri belum pernah bertemu


dengan ayah kandung ku."


"Jadi kau tahu nama belakang kedua orang


tuamu.? Kenapa tidak mengatakannya padaku.?"


Raya menatap lekat wajah Aaron, mencoba


untuk meyakinkan diri bahwa saat ini waktu


yang tepat baginya membuka sedikit misteri


tentang identitas ayah nya.


"Aaron.. aku sendiri tidak yakin apakah semua


ini benar atau tidak. Tapi selama ini aku sudah


mencoba untuk percaya pada ibuku.."


Aaron menatap tajam wajah Raya, ada reaksi


penasaran yang terlukis dari raut wajahnya saat mendengar perkataan Raya barusan.


"Katakan saja siapa mereka, siapa tahu aku


mengenal salah satunya."


Keduanya kembali saling menatap kuat dan


mencoba meyakinkan diri masing-masing.


"Apakah ini cukup penting bagi mu.? "


"Tentu saja, aku harus tahu darah siapa yang


mengalir dalam tubuh istimewa mu ini .!"


Raya kembali menatap tenang wajah Aaron.


Tangan nya mengelus lembut wajah tampan


suaminya itu.


"Ibuku bernama Ratih Ayu Pramesti Kertaradjasa..


Dan Ayahku bernama..Serkan Ahmed As.."


"As Syaf Sulaiman..."


Aaron bergumam rendah dengan reaksi wajah


yang terlihat terkejut luar biasa.. Matanya kini


menatap tidak percaya. Raya balas menatap


wajah Aaron dengan tampang ragu..


"Tidak ada siapapun yang tahu tentang jati diri


ayah kandungku. Bahkan Ayah angkatku sendiri.


Hanya aku sendiri yang tahu.."


"Dan itu sudah benar.! semuanya sudah sesuai


dengan yang seharusnya.! Kau tidak boleh di hubungkan dengan ayah kandungmu.!!"


Aaron menarik tubuh Raya ke dalam pelukannya.


Mendekapnya erat dan kuat sambil memejamkan


mata rapat. Tidak, ini adalah kejutan yang sangat


dahsyat baginya. Saat ini jantungnya bahkan


terasa meloncat keluar dari tempat nya.


Tuhan.. Maharaya istrinya adalah darah daging


dari seorang Serkan Ahmed As Syaf Sulaiman..?


Bagaimana bisa semua ini terjadi.??

__ADS_1


***


__ADS_2