
❤️❤️❤️
Raya memiringkan tubuhnya membelakangi
laki-laki kejam yang sudah membuat tubuhnya
remuk redam saat ini. Tangan nya mencengkram
selimut yang menutupi tubuh bagian depannya.
Dia terisak kembali dalam diam, menangis pilu
dalam penyesalan yang kini di rasakannya.
Tuhan..kenapa semua ini harus terjadi lagi.?
Dan kenapa dirinya tidak mampu menolak.?
"Apa sebenarnya yang kau tangisi.?"
Tubuh Raya mengkerut menyiratkan penolakan
mendengar suara pria itu. Dia menggeser tubuh
nya mepet ke pinggir tempat tidur. Namun Aaron
mendekat, perlahan dia mendekap tubuhnya dari belakang, menyelusupkan telapak tangannya ke
perut datar Raya, kemudian memeluknya erat membuat tubuh Raya berguncang menahan
tangis. Aaron menghirup aroma khas yang kini
menguar dari tubuh Raya yang di penuhi oleh
feromon yang sangat khas dan mampu membuat jiwanya terasa tenang.
"Aku sangat menyukai aroma tubuh mu.."
Raya semakin menyiratkan penolakan dengan menggulung tubuh nya memeluk diri sendiri. Tangisnya kini semakin menjadi. Mata Aaron
terpejam kuat. Ini gila.! hasrat dan gairah nya
kembali naik. Aroma tubuh Raya mampu
membuat nafsu Aaron kembali menanjak
dalam sekejap. Aaron menarik napas berat
mencoba untuk meredam keinginan gila nya ini.
"Stop ! Jangan menangis lagi. Kau tahu, mataku
sakit saat melihat mu menangis."
Raya malah semakin terisak. Dia memukuli
lengan Aaron yang membelit seperti ular di
perut datar nya.
"Kalau mau, kau bisa meluapkan semua emosi
dan kemarahanmu padaku.!"
"Aku sangat membencimu.! Aku ingin sekali
melenyapkan dirimu dari muka bumi ini.!"
"Kau akan menjadi janda kalau aku lenyap.!"
"Kau laki-laki jahat, kenapa kamu melakukan
pemaksaan ini lagi, aku tidak rela.!"
"Tidak ada yang perlu kau sesali sekarang.
Karena aku adalah seseorang yang memiliki
hak atas dirimu. Dan kau tahu..aku tidak akan
pernah melepaskan mu.."
Bisik Aaron serak di telinga Raya yang membuat
Raya langsung membalikkan badannya, kini
mata sembab nya menatap tajam wajah pria
yang sangat..sangat di bencinya itu.!
"Kau datang kesini setelah baru saja selesai
dengan wanita lain.! Kau membawa noda
orang lain dan menularkan nya padaku !"
Geram Raya seraya memukuli dada telanjang
Aaron. Entah kenapa ingin rasanya dia mencabik
tubuh gagah ini karena telah menyentuh tubuh
wanita lain. Dia jijik, dia mengutuk laki-laki ini.
"Aku sudah bilang hanya dirimu yang bisa
memberikan kepuasan padaku ! Dia bukanlah
tandingan mu..!"
Desis Aaron dengan wajah tanpa dosa nya
membuat Raya semakin merasa jijik pada pria
penjahat ini, juga pada tubuhnya sendiri. Mata
Raya tampak berapi-api, tapi tatapan Aaron
anehnya kali ini tampak teduh. Dia menyeringai
tipis, mengingat semua kegilaan yang telah di
lakukannya tadi malam. Baru tadi malam lah
dia mengeluarkan suara untuk wanita asing.
Dirinya memang ********, tapi dia tidak pernah mengumbar tubuhnya dengan sembarang wanita. Walau dia punya agenda kencan bulanan, tapi
dia tidak pernah bercinta setiap kali berkencan. Wanita-wanita itu hanya sekedar menemaninya
minum-minum untuk melepas segala kekacauan jiwanya setelah dia mengenal Mayra. Dan selalu
di temani oleh Ansel. Semua ini dilakukannya
setelah dia jatuh cinta pada Mayra, baru beberapa
bulan terakhir ini, itu semata-mata hanya untuk meluapkan segala perasaannya. Tidak pernah
ada kontak fisik dengan teman kencannya.
Bahkan dia tidak pernah mengeluarkan suara
sama sekali. Setelah jam kencan selesai wanita-
wanita itu akan berekspresi sama seperti yang
terjadi pada Praba.. Kecewa...!!
Hanya 2 kali dia melakukan percintaan singkat
dengan model yang bersertifikat murni dan itupun karena dirinya benar-benar frustasi saat sedang berdekatan dengan wanita yang di cintainya itu
tapi tidak bisa menyentuhnya. Yaa..Cinta..hanya membuat hidup nya menjadi kacau. Untuk itu
dia tidak pernah ingin mengenalnya lagi.!
"Kau benar-benar menjijikkan.!"
Desis Raya dengan nada yang penuh tekanan.
Dia segera melilitkan selimut di tubuh polosnya,
lalu bangkit dari atas tempat tidur. Namun Aaron segera menarik paksa selimut itu dan melucutinya
dari tubuh Raya yang kini membulatkan mata di
sertai pekikan keras. Aaron melempar selimut
itu ke sembarang arah.
"Aku lebih suka melihatmu seperti ini.!"
Desis Aaron sambil kemudian bangkit. Belum
sempat Raya bergerak pria itu sudah terlebih
dulu mengangkat tubuh nya ke dalam gendongan kemudian melangkah masuk ke dalam kamar
mandi yang tidak jauh dari tempat tidur.
"Turunkan aku, apa yang ingin kau lakukan
lagi padaku..?"
Aaron menurunkan tubuh polos Raya yang kini
terduduk lemas di pinggiran bathub. Ternyata
dia kehilangan tenaganya. Pria kejam ini telah menyiksa tubuh nya dengan ganas tanpa ampun.
Aaron mengisi bathub dengan air yang bersuhu
sedikit panas, kemudian memasukan aroma
therapy khusus ke dalam nya.
"A-Aaron.. apa yang kau lakukan..?"
Raya kembali memekik saat Aaron memangku
tubuh nya di bawa masuk ke dalam bak, lalu
meletakkan tubuh lemah itu di atas dirinya.
Mereka berendam bersama. Raya mencoba
menolak, tali belitan tangan kokoh Aaron di
tubuh nya membuat dia tidak berdaya. Mau
tidak mau akhirnya dia membiarkan dirinya
berada di atas tubuh perkasa laki-laki itu yang
__ADS_1
kini mulai menggerakkan tangannya membasuh
lembut tubuh sehalus sutra milik istrinya itu.
"Aku tidak akan membiarkan tubuh ini di sentuh
apalagi di miliki laki-laki lain, hanya aku yang
akan menjadi satu-satunya pemilik mu Raya.!"
Deg !
Jantung Raya seakan bergelombang, tubuhnya
kini mulai tegang kembali. Dia berusaha bangkit
saat merasakan sesuatu di bawah sana mulai
terbangun kembali dan sangat mengganggu
kenyamanan nya karena sesuatu itu sangatlah
ganas serta perkasa. Membayangkan nya saja
membuat tubuhnya langsung bergetar.
"Aaron..bisakah kamu meninggalkan ku
sendiri.?"
Bibir Aaron kini mulai melakukan aksinya lagi.
Menelusuri tengkuk leher Raya lalu turun ke
bagian bawah, pundak, punggung, semua tidak
luput dari sentuhan lembut bibirnya membuat
tubuh Raya semakin bergetar dan mulai merasa
panas dingin.
"Aku tidak akan meninggalkan mu.! Aku tidak
ingin kau melakukan kebodohan lagi.!"
Raya terhenyak, wajahnya terlihat memucat.
Dia membalikkan tubuhnya hingga kini mereka
saling berhadapan, saling menatap kuat.
"Tubuhku sudah sangat tercemar. Tidak ada
bedanya aku hidup atau tidak. Tapi yang jelas
aku tidak akan melakukan kebodohan yang
sama.!"
Ucap Raya pedas membuat Aaron tertegun.
Pria itu mendengus, kemudian menarik tubuh
Raya, melingkari pinggang nya kuat, membuat
tubuh mereka menempel ketat. Kulit mereka
kini seakan menyatu satu sama lain.
"Sudah aku tegaskan, aku adalah suamimu.
Aku punya hak penuh atas dirimu Maharaya..!"
"Tapi kau masih melakukan perbuatan hina itu
dengan wanita lain, kau..."
"Aku tidak melakukannya.! Aku tidak tertarik
lagi dengan wanita lain.! Aku juga tidak bisa
menyentuh sembarang wanita tanpa hasrat
dan keinginan.!"
Mata Aaron tampak menyala terbakar emosi
yang selalu saja memercik saat berhadapan
dengan wanita ini. Raya memundurkan tubuh
nya seraya menatap tajam wajah Aaron. Dia
tidak percaya pada ucapan pria ini, benarkah
dia tidak melakukan hal itu.?
"A-aku tidak percaya padamu.."
"Terserah.! Apa kau pikir aku ini laki-laki
murahan hahh.?"
Raya menggeleng kuat sambil berusaha menarik
dirinya dari kekuasaan Aaron. Tapi matanya kini membulat saat Aaron melakukan gerakan cepat membuat posisi tubuh Raya menghadap dirinya,
berada diatas pangkuannya, dan sebelum dia
melakukan penyatuan tubuh mereka membuat
Raya kembali menjerit kuat sambil memukuli
dada bidang Aaron yang kini sedang berjuang memposisikan dirinya. Dan akhirnya.. tidak
terelakkan lagi..Kenikmatan luar biasa itu kini
kembali hadir..membawa mereka berdua hanyut
dan terbang melayang ke langit ke tujuh..
***
Pagi hari yang cerah di lingkungan perumahan
White House..
Saat ini tubuh Raya sudah tidak selunglai tadi.
Suami kejamnya itu memang terlalu ganas.Dia
kembali menyiksa dirinya tiada ampun sampai
dia hampir tak sadarkan diri di kamar mandi.
"Mulai sekarang jalankan peranmu sebagai
seorang istri kalau aku datang kesini.!"
Aaron berucap saat dia baru saja muncul dari
dalam kamar ganti. Raya yang berdiri di depan
cermin menatap sekilas kearah Aaron. Pria itu
mendekat, kemudian melempar dasi ke tangan
Raya yang terdiam memasang wajah kesalnya.
Aaron berdiri di hadapan Raya yang kini mulai
maju mendekat.
"Cepat sedikit, ada banyak pertemuan yang
harus kita hadiri hari ini.!"
Aaron tampak tidak sabar saat melihat Raya
masih berdiri kaku memegang dasi di tangan
nya. Mata Aaron mengunci wajah cantik Raya
yang pagi ini terlihat semakin bersinar. Aaron
menarik napas berat, kenapa wanita ini harus
memiliki rupa seelok ini.? Mampukah dirinya
berdiri di atas komitmen nya untuk tidak lagi
melibatkan perasaan dalam hidupnya. Karena
dia kini berada pada posisi di atas kepentingan
rakyat dan kerajaan nya. Dia tidak ingin wanita
ini terluka terlalu dalam. Sudah cukup dirinya
menghancurkan masa depan nya, tidak boleh
ada luka lagi yang tercipta padanya.
"Kau masih akan berdiri, atau kau mau aku
melakukan sesuatu padamu.?"
Dengan cepat Raya maju, menatap sekilas
wajah super tampan laki-laki pemaksa itu.
Kemudian tangannya mulai bergerak lincah
memasangkan dasi di leher Aaron.
"Bukankah kau bisa melakukan nya sendiri.?"
"Lalu untuk apa ada kamu di sini.?"
"Aku bukan pelayanmu.!"
"Kau adalah istriku.! Peranmu lebih penting
dari siapapun di sisiku saat ini.!"
"Aku hanyalah istri bayangan mu !"
"Tapi kau adalah calon ibu dari anakku.! "
"Kau bisa mendapatkan keturunan yang lebih
berharga dari Catharina, istri resmi mu.!"
__ADS_1
"Kalau aku tidak menginginkan nya, itu tidak
akan pernah terjadi.!"
Raya terhenyak, gerakan tangannya terhenti.
Dia mengangkat wajahnya, keduanya saling
menatap kuat dengan sorot mata yang sangat
kompleks dan rumit. Raya menggeleng pelan,
dia kembali memfokuskan perhatian nya pada
dasi yang sedikit lagi kelar di pasang nya.
"Bukankah kalian saling menyukai ?"
"Bukan berarti dia layak untuk mengandung
benih berharga ku.!"
Raya mendesah pelan. Dia merapihkan dasi
yang sudah terpasang rapi tersebut.
"Kau sangat aneh.!"
Raya melebarkan mata saat pinggang kecilnya
di tarik kencang dan kini tubuhnya merapat ke
tubuh Aaron. Dia menatap tajam wajah sempurna
pria itu yang ada di depannya. Telapak tangannya berada di dada bidang laki-laki itu. Mata mereka terpaut dalam, irama jantungnya tiba-tiba saja berkejaran saat Aaron mendekatkan wajahnya.
"Aku hidup dalam keinginan ku sendiri, tapi
posisi ini sudah membelenggu ku.!"
Desis Aaron sambil kemudian memagut bibir
ranum Raya yang tidak mampu mengelak. Dia
terdiam dalam keterkejutan, namun tidak lama
dia mendorong kuat dada Aaron hingga ciuman
itu terlepas. Raya menjuhkan dirinya, keduanya
untuk sesaat saling menatap sampai akhirnya
Raya bergerak, dia melangkah ke dekat kasur.
Meraih jas yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Kita harus segera turun. Satu jam lagi ada
meeting dengan seluruh direksi.!"
Ujarnya sambil memakaikan jas itu ke tubuh
Aaron yang menatapnya datar sedikit bengong
melihat apa yang di lakukan oleh Raya yang
terlihat kaku dan tegas. Bibirnya menyeringai
tipis, dalam gerakan cepat dia meraih kening
Raya kemudian mengecup nya lembut membuat
Raya mematung di tempat. Setelah itu Aaron
berjalan acuh keluar dari dalam kamar.
Turun ke lantai bawah Alex, Lily dan Griz serta
beberapa pengawal pribadi sudah menunggu.
Mereka semua langsung membungkuk setengah badan begitu melihat kemunculan Aaron.
"Selamat pagi Yang Mulya.."
Sambut mereka serempak. Aaron menatap datar kearah mereka, dia berjalan tenang menuju ke
meja makan. Di sana sudah terhidang sarapan
pagi yang sangat menggugah selera. Tidak lama berselang Raya muncul ke ruangan itu. Untuk
sesaat dia tampak ragu untuk duduk.
"Bukankah tadi kau mengatakan kita harus
segera turun.? Apalagi yang kau tunggu
sekarang.?"
Aaron mengeluarkan suaranya dengan wajah
yang mulai terlihat dingin. Raya menarik nafas
perlahan sambil menatap kesal kearah Aaron,
dia segera duduk di samping Aaron. Mereka
masih terdiam, Lily tidak berani bergerak saat
Aaron menepiskan tangan nya.
"Ini di dalam rumah, berlakulah sebagaimana
mestinya sesuai posisi mu.!"
Ujar Aaron yang masih terdiam, belum mau
meminta atau menyentuh apapun. Kembali..
Raya menarik nafas, setelah itu dia bergerak
menuang minuman ke dalam gelas Aaron,
kemudian mengambilkan makanan ke atas
piring yang ada di hadapan Aaron. Pria itu
sedikit bereaksi, ada segaris senyum tipis
yang terulas sekilas di sudut bibirnya. Mata
mereka berdua saling menatap sebentar.
Akhirnya keduanya memulai sarapan paginya
dengan tenang, tanpa suara atau pun interaksi
lain. Dalam diamnya Raya memperhatikan
laki-laki yang sangat di bencinya itu. Saat ini
pria itu tampak tenang, elegan dan berkelas.
Klan darah biru yang melekat pada dirinya
sangat lah kentara, dia begitu menyilaukan,
sangat tinggi dan tak tertandingi.
Setelah selesai dengan sarapannya Aaron
keluar terlebih dahulu melalui carport agar
tidak nampak di hadapan para tetangga Raya
yang kini mulai berseliweran di depan rumah.
Sedang Raya sendiri lebih memilih menunggu
di depan pintu rumah nya agar bisa bertegur
sapa dulu dengan tetangga depan dan samping
rumahnya. saat ini Raya mengenakkan busana
semi formal yang sangat modis dan mempesona
membuat semua mata tetangga tidak mampu
berpaling. Bahkan tetangga wanita pun sama terpesona nya dengan para pria.
"Apa mereka semua selalu bersikap seperti itu
saat melihat istriku keluar rumah.?"
Aaron tampak menatap tajam interaksi antara
Raya dan para tetangga dari balik kaca mobil
yang kini sudah melaju keluar dari carport.
"Benar Yang Mulya.. Mereka semua selalu
menyapa nya dengan ramah.!"
Alex menyahut sambil menghentikan mobil
tepat di halaman depan. Wajah Aaron tampak
berubah semakin datar dan dingin.
"Aku tidak bisa terus membiarkan nya tinggal
di tempat bising seperti ini.!"
"Tapi Miss Raya sangat menikmati nya Yang
Mulya. Dia seolah berada di tempat asalnya."
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa membiarkan
mereka menikmati keindahan fisik istriku
dengan seenaknya.!"
Alis Alex bertaut, dia tampak terkejut bukan
main mendengar ucapan Tuan Berharga nya
barusan, apakah Sang Pangeran sudah mulai
bersikap posesif terhadap wanita yang terpaksa
menyandang gelar sebagai istrinya itu.??
__ADS_1
***
Happy Reading...