Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
44. Mulai Posesif


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya memiringkan tubuhnya membelakangi


laki-laki kejam yang sudah membuat tubuhnya


remuk redam saat ini. Tangan nya mencengkram


selimut yang menutupi tubuh bagian depannya.


Dia terisak kembali dalam diam, menangis pilu


dalam penyesalan yang kini di rasakannya.


Tuhan..kenapa semua ini harus terjadi lagi.?


Dan kenapa dirinya tidak mampu menolak.?


"Apa sebenarnya yang kau tangisi.?"


Tubuh Raya mengkerut menyiratkan penolakan


mendengar suara pria itu. Dia menggeser tubuh


nya mepet ke pinggir tempat tidur. Namun Aaron


mendekat, perlahan dia mendekap tubuhnya dari belakang, menyelusupkan telapak tangannya ke


perut datar Raya, kemudian memeluknya erat membuat tubuh Raya berguncang menahan


tangis. Aaron menghirup aroma khas yang kini


menguar dari tubuh Raya yang di penuhi oleh


feromon yang sangat khas dan mampu membuat jiwanya terasa tenang.


"Aku sangat menyukai aroma tubuh mu.."


Raya semakin menyiratkan penolakan dengan menggulung tubuh nya memeluk diri sendiri. Tangisnya kini semakin menjadi. Mata Aaron


terpejam kuat. Ini gila.! hasrat dan gairah nya


kembali naik. Aroma tubuh Raya mampu


membuat nafsu Aaron kembali menanjak


dalam sekejap. Aaron menarik napas berat


mencoba untuk meredam keinginan gila nya ini.


"Stop ! Jangan menangis lagi. Kau tahu, mataku


sakit saat melihat mu menangis."


Raya malah semakin terisak. Dia memukuli


lengan Aaron yang membelit seperti ular di


perut datar nya.


"Kalau mau, kau bisa meluapkan semua emosi


dan kemarahanmu padaku.!"


"Aku sangat membencimu.! Aku ingin sekali


melenyapkan dirimu dari muka bumi ini.!"


"Kau akan menjadi janda kalau aku lenyap.!"


"Kau laki-laki jahat, kenapa kamu melakukan


pemaksaan ini lagi, aku tidak rela.!"


"Tidak ada yang perlu kau sesali sekarang.


Karena aku adalah seseorang yang memiliki


hak atas dirimu. Dan kau tahu..aku tidak akan


pernah melepaskan mu.."


Bisik Aaron serak di telinga Raya yang membuat


Raya langsung membalikkan badannya, kini


mata sembab nya menatap tajam wajah pria


yang sangat..sangat di bencinya itu.!


"Kau datang kesini setelah baru saja selesai


dengan wanita lain.! Kau membawa noda


orang lain dan menularkan nya padaku !"


Geram Raya seraya memukuli dada telanjang


Aaron. Entah kenapa ingin rasanya dia mencabik


tubuh gagah ini karena telah menyentuh tubuh


wanita lain. Dia jijik, dia mengutuk laki-laki ini.


"Aku sudah bilang hanya dirimu yang bisa


memberikan kepuasan padaku ! Dia bukanlah


tandingan mu..!"


Desis Aaron dengan wajah tanpa dosa nya


membuat Raya semakin merasa jijik pada pria


penjahat ini, juga pada tubuhnya sendiri. Mata


Raya tampak berapi-api, tapi tatapan Aaron


anehnya kali ini tampak teduh. Dia menyeringai


tipis, mengingat semua kegilaan yang telah di


lakukannya tadi malam. Baru tadi malam lah


dia mengeluarkan suara untuk wanita asing.


Dirinya memang ********, tapi dia tidak pernah mengumbar tubuhnya dengan sembarang wanita. Walau dia punya agenda kencan bulanan, tapi


dia tidak pernah bercinta setiap kali berkencan. Wanita-wanita itu hanya sekedar menemaninya


minum-minum untuk melepas segala kekacauan jiwanya setelah dia mengenal Mayra. Dan selalu


di temani oleh Ansel. Semua ini dilakukannya


setelah dia jatuh cinta pada Mayra, baru beberapa


bulan terakhir ini, itu semata-mata hanya untuk meluapkan segala perasaannya. Tidak pernah


ada kontak fisik dengan teman kencannya.


Bahkan dia tidak pernah mengeluarkan suara


sama sekali. Setelah jam kencan selesai wanita-


wanita itu akan berekspresi sama seperti yang


terjadi pada Praba.. Kecewa...!!


Hanya 2 kali dia melakukan percintaan singkat


dengan model yang bersertifikat murni dan itupun karena dirinya benar-benar frustasi saat sedang berdekatan dengan wanita yang di cintainya itu


tapi tidak bisa menyentuhnya. Yaa..Cinta..hanya membuat hidup nya menjadi kacau. Untuk itu


dia tidak pernah ingin mengenalnya lagi.!


"Kau benar-benar menjijikkan.!"


Desis Raya dengan nada yang penuh tekanan.


Dia segera melilitkan selimut di tubuh polosnya,


lalu bangkit dari atas tempat tidur. Namun Aaron segera menarik paksa selimut itu dan melucutinya


dari tubuh Raya yang kini membulatkan mata di


sertai pekikan keras. Aaron melempar selimut


itu ke sembarang arah.


"Aku lebih suka melihatmu seperti ini.!"


Desis Aaron sambil kemudian bangkit. Belum


sempat Raya bergerak pria itu sudah terlebih


dulu mengangkat tubuh nya ke dalam gendongan kemudian melangkah masuk ke dalam kamar


mandi yang tidak jauh dari tempat tidur.


"Turunkan aku, apa yang ingin kau lakukan


lagi padaku..?"


Aaron menurunkan tubuh polos Raya yang kini


terduduk lemas di pinggiran bathub. Ternyata


dia kehilangan tenaganya. Pria kejam ini telah menyiksa tubuh nya dengan ganas tanpa ampun.


Aaron mengisi bathub dengan air yang bersuhu


sedikit panas, kemudian memasukan aroma


therapy khusus ke dalam nya.


"A-Aaron.. apa yang kau lakukan..?"


Raya kembali memekik saat Aaron memangku


tubuh nya di bawa masuk ke dalam bak, lalu


meletakkan tubuh lemah itu di atas dirinya.


Mereka berendam bersama. Raya mencoba


menolak, tali belitan tangan kokoh Aaron di


tubuh nya membuat dia tidak berdaya. Mau


tidak mau akhirnya dia membiarkan dirinya


berada di atas tubuh perkasa laki-laki itu yang

__ADS_1


kini mulai menggerakkan tangannya membasuh


lembut tubuh sehalus sutra milik istrinya itu.


"Aku tidak akan membiarkan tubuh ini di sentuh


apalagi di miliki laki-laki lain, hanya aku yang


akan menjadi satu-satunya pemilik mu Raya.!"


Deg !


Jantung Raya seakan bergelombang, tubuhnya


kini mulai tegang kembali. Dia berusaha bangkit


saat merasakan sesuatu di bawah sana mulai


terbangun kembali dan sangat mengganggu


kenyamanan nya karena sesuatu itu sangatlah


ganas serta perkasa. Membayangkan nya saja


membuat tubuhnya langsung bergetar.


"Aaron..bisakah kamu meninggalkan ku


sendiri.?"


Bibir Aaron kini mulai melakukan aksinya lagi.


Menelusuri tengkuk leher Raya lalu turun ke


bagian bawah, pundak, punggung, semua tidak


luput dari sentuhan lembut bibirnya membuat


tubuh Raya semakin bergetar dan mulai merasa


panas dingin.


"Aku tidak akan meninggalkan mu.! Aku tidak


ingin kau melakukan kebodohan lagi.!"


Raya terhenyak, wajahnya terlihat memucat.


Dia membalikkan tubuhnya hingga kini mereka


saling berhadapan, saling menatap kuat.


"Tubuhku sudah sangat tercemar. Tidak ada


bedanya aku hidup atau tidak. Tapi yang jelas


aku tidak akan melakukan kebodohan yang


sama.!"


Ucap Raya pedas membuat Aaron tertegun.


Pria itu mendengus, kemudian menarik tubuh


Raya, melingkari pinggang nya kuat, membuat


tubuh mereka menempel ketat. Kulit mereka


kini seakan menyatu satu sama lain.


"Sudah aku tegaskan, aku adalah suamimu.


Aku punya hak penuh atas dirimu Maharaya..!"


"Tapi kau masih melakukan perbuatan hina itu


dengan wanita lain, kau..."


"Aku tidak melakukannya.! Aku tidak tertarik


lagi dengan wanita lain.! Aku juga tidak bisa


menyentuh sembarang wanita tanpa hasrat


dan keinginan.!"


Mata Aaron tampak menyala terbakar emosi


yang selalu saja memercik saat berhadapan


dengan wanita ini. Raya memundurkan tubuh


nya seraya menatap tajam wajah Aaron. Dia


tidak percaya pada ucapan pria ini, benarkah


dia tidak melakukan hal itu.?


"A-aku tidak percaya padamu.."


"Terserah.! Apa kau pikir aku ini laki-laki


murahan hahh.?"


Raya menggeleng kuat sambil berusaha menarik


dirinya dari kekuasaan Aaron. Tapi matanya kini membulat saat Aaron melakukan gerakan cepat membuat posisi tubuh Raya menghadap dirinya,


berada diatas pangkuannya, dan sebelum dia


melakukan penyatuan tubuh mereka membuat


Raya kembali menjerit kuat sambil memukuli


dada bidang Aaron yang kini sedang berjuang memposisikan dirinya. Dan akhirnya.. tidak


terelakkan lagi..Kenikmatan luar biasa itu kini


kembali hadir..membawa mereka berdua hanyut


dan terbang melayang ke langit ke tujuh..


***


Pagi hari yang cerah di lingkungan perumahan


White House..


Saat ini tubuh Raya sudah tidak selunglai tadi.


Suami kejamnya itu memang terlalu ganas.Dia


kembali menyiksa dirinya tiada ampun sampai


dia hampir tak sadarkan diri di kamar mandi.


"Mulai sekarang jalankan peranmu sebagai


seorang istri kalau aku datang kesini.!"


Aaron berucap saat dia baru saja muncul dari


dalam kamar ganti. Raya yang berdiri di depan


cermin menatap sekilas kearah Aaron. Pria itu


mendekat, kemudian melempar dasi ke tangan


Raya yang terdiam memasang wajah kesalnya.


Aaron berdiri di hadapan Raya yang kini mulai


maju mendekat.


"Cepat sedikit, ada banyak pertemuan yang


harus kita hadiri hari ini.!"


Aaron tampak tidak sabar saat melihat Raya


masih berdiri kaku memegang dasi di tangan


nya. Mata Aaron mengunci wajah cantik Raya


yang pagi ini terlihat semakin bersinar. Aaron


menarik napas berat, kenapa wanita ini harus


memiliki rupa seelok ini.? Mampukah dirinya


berdiri di atas komitmen nya untuk tidak lagi


melibatkan perasaan dalam hidupnya. Karena


dia kini berada pada posisi di atas kepentingan


rakyat dan kerajaan nya. Dia tidak ingin wanita


ini terluka terlalu dalam. Sudah cukup dirinya


menghancurkan masa depan nya, tidak boleh


ada luka lagi yang tercipta padanya.


"Kau masih akan berdiri, atau kau mau aku


melakukan sesuatu padamu.?"


Dengan cepat Raya maju, menatap sekilas


wajah super tampan laki-laki pemaksa itu.


Kemudian tangannya mulai bergerak lincah


memasangkan dasi di leher Aaron.


"Bukankah kau bisa melakukan nya sendiri.?"


"Lalu untuk apa ada kamu di sini.?"


"Aku bukan pelayanmu.!"


"Kau adalah istriku.! Peranmu lebih penting


dari siapapun di sisiku saat ini.!"


"Aku hanyalah istri bayangan mu !"


"Tapi kau adalah calon ibu dari anakku.! "


"Kau bisa mendapatkan keturunan yang lebih


berharga dari Catharina, istri resmi mu.!"

__ADS_1


"Kalau aku tidak menginginkan nya, itu tidak


akan pernah terjadi.!"


Raya terhenyak, gerakan tangannya terhenti.


Dia mengangkat wajahnya, keduanya saling


menatap kuat dengan sorot mata yang sangat


kompleks dan rumit. Raya menggeleng pelan,


dia kembali memfokuskan perhatian nya pada


dasi yang sedikit lagi kelar di pasang nya.


"Bukankah kalian saling menyukai ?"


"Bukan berarti dia layak untuk mengandung


benih berharga ku.!"


Raya mendesah pelan. Dia merapihkan dasi


yang sudah terpasang rapi tersebut.


"Kau sangat aneh.!"


Raya melebarkan mata saat pinggang kecilnya


di tarik kencang dan kini tubuhnya merapat ke


tubuh Aaron. Dia menatap tajam wajah sempurna


pria itu yang ada di depannya. Telapak tangannya berada di dada bidang laki-laki itu. Mata mereka terpaut dalam, irama jantungnya tiba-tiba saja berkejaran saat Aaron mendekatkan wajahnya.


"Aku hidup dalam keinginan ku sendiri, tapi


posisi ini sudah membelenggu ku.!"


Desis Aaron sambil kemudian memagut bibir


ranum Raya yang tidak mampu mengelak. Dia


terdiam dalam keterkejutan, namun tidak lama


dia mendorong kuat dada Aaron hingga ciuman


itu terlepas. Raya menjuhkan dirinya, keduanya


untuk sesaat saling menatap sampai akhirnya


Raya bergerak, dia melangkah ke dekat kasur.


Meraih jas yang tergeletak di atas tempat tidur.


"Kita harus segera turun. Satu jam lagi ada


meeting dengan seluruh direksi.!"


Ujarnya sambil memakaikan jas itu ke tubuh


Aaron yang menatapnya datar sedikit bengong


melihat apa yang di lakukan oleh Raya yang


terlihat kaku dan tegas. Bibirnya menyeringai


tipis, dalam gerakan cepat dia meraih kening


Raya kemudian mengecup nya lembut membuat


Raya mematung di tempat. Setelah itu Aaron


berjalan acuh keluar dari dalam kamar.


Turun ke lantai bawah Alex, Lily dan Griz serta


beberapa pengawal pribadi sudah menunggu.


Mereka semua langsung membungkuk setengah badan begitu melihat kemunculan Aaron.


"Selamat pagi Yang Mulya.."


Sambut mereka serempak. Aaron menatap datar kearah mereka, dia berjalan tenang menuju ke


meja makan. Di sana sudah terhidang sarapan


pagi yang sangat menggugah selera. Tidak lama berselang Raya muncul ke ruangan itu. Untuk


sesaat dia tampak ragu untuk duduk.


"Bukankah tadi kau mengatakan kita harus


segera turun.? Apalagi yang kau tunggu


sekarang.?"


Aaron mengeluarkan suaranya dengan wajah


yang mulai terlihat dingin. Raya menarik nafas


perlahan sambil menatap kesal kearah Aaron,


dia segera duduk di samping Aaron. Mereka


masih terdiam, Lily tidak berani bergerak saat


Aaron menepiskan tangan nya.


"Ini di dalam rumah, berlakulah sebagaimana


mestinya sesuai posisi mu.!"


Ujar Aaron yang masih terdiam, belum mau


meminta atau menyentuh apapun. Kembali..


Raya menarik nafas, setelah itu dia bergerak


menuang minuman ke dalam gelas Aaron,


kemudian mengambilkan makanan ke atas


piring yang ada di hadapan Aaron. Pria itu


sedikit bereaksi, ada segaris senyum tipis


yang terulas sekilas di sudut bibirnya. Mata


mereka berdua saling menatap sebentar.


Akhirnya keduanya memulai sarapan paginya


dengan tenang, tanpa suara atau pun interaksi


lain. Dalam diamnya Raya memperhatikan


laki-laki yang sangat di bencinya itu. Saat ini


pria itu tampak tenang, elegan dan berkelas.


Klan darah biru yang melekat pada dirinya


sangat lah kentara, dia begitu menyilaukan,


sangat tinggi dan tak tertandingi.


Setelah selesai dengan sarapannya Aaron


keluar terlebih dahulu melalui carport agar


tidak nampak di hadapan para tetangga Raya


yang kini mulai berseliweran di depan rumah.


Sedang Raya sendiri lebih memilih menunggu


di depan pintu rumah nya agar bisa bertegur


sapa dulu dengan tetangga depan dan samping


rumahnya. saat ini Raya mengenakkan busana


semi formal yang sangat modis dan mempesona


membuat semua mata tetangga tidak mampu


berpaling. Bahkan tetangga wanita pun sama terpesona nya dengan para pria.


"Apa mereka semua selalu bersikap seperti itu


saat melihat istriku keluar rumah.?"


Aaron tampak menatap tajam interaksi antara


Raya dan para tetangga dari balik kaca mobil


yang kini sudah melaju keluar dari carport.


"Benar Yang Mulya.. Mereka semua selalu


menyapa nya dengan ramah.!"


Alex menyahut sambil menghentikan mobil


tepat di halaman depan. Wajah Aaron tampak


berubah semakin datar dan dingin.


"Aku tidak bisa terus membiarkan nya tinggal


di tempat bising seperti ini.!"


"Tapi Miss Raya sangat menikmati nya Yang


Mulya. Dia seolah berada di tempat asalnya."


"Aku tahu, tapi aku tidak bisa membiarkan


mereka menikmati keindahan fisik istriku


dengan seenaknya.!"


Alis Alex bertaut, dia tampak terkejut bukan


main mendengar ucapan Tuan Berharga nya


barusan, apakah Sang Pangeran sudah mulai


bersikap posesif terhadap wanita yang terpaksa


menyandang gelar sebagai istrinya itu.??

__ADS_1


***


Happy Reading...


__ADS_2