
***
Ruang rawat inap khusus kelas keluarga..
Raya menatap lekat wajah bayi mungil nya yang teramat tampan itu. Saat ini putranya sedang menikmati ASI pertamanya dengan sangat rakus. Jemari halus Raya bergerak menelusuri seluruh
detail wajah bayinya itu. Alhamdulillah..semuanya begitu sempurna. Buah hatinya ini di anugerahi kesempurnaan fisik yang teramat memukau.
Masih sekecil ini, namun aura nya sudah begitu
kuat dan.dominan. Dia benar-benar Aaron junior,
tak terbantahkan.!
Seluruh keluarga besar De Enzo sudah masuk
dan melihat keadaan pangeran kecil serta ibunya.
Mereka semua sangat bersyukur karena Raya
bisa melalui fase yang sangat urgent tadi. Tidak
ada yang tidak berdecak kagum begitu melihat
penampakan sang little prince. Bayi itu memang
sangat mempesona. Sepertinya, istana harus
kembali melakukan hidden identity terhadap
sang pangeran kecil menilik keadaan fisiknya
yang begitu mumpuni, seperti yang dulu pernah
di lakukan terhadap Aaron agar dia terbebas dari incaran paparazi dan manusia-manusia aneh.
"Dia sangat tampan.. persis seperti Daddy nya.
Darah memang tidak akan pernah bohong."
Desis Aaron yang baru saja mendekat setelah
selesai melakukan pembicaraan telepon dengan
ayah mertuanya yang menanyakan kondisi Putri
serta cucunya, dan rencananya hari ini juga
mereka akan segera terbang ke negara ini.
Aaron merengkuh bahu Raya ke dalam dekapan
hangatnya dengan tatapan yang tertuju pada
wajah putranya. Bayi itu kini tertidur lelap dalam
pangkuan Sang Ibu setelah dia merasa kenyang
karena menyusu dengan durasi yang sangat
lama hingga membuat Raya sedikit merasakan
ngilu di sekitar putingnya.
"Kau benar sayang, dia sangat tampan. Bahkan
aku yakin, dia akan lebih tampan dari Daddy nya."
"Hemm..itu pasti. Karena dia juga memiliki darah
dari seorang ibu yang sangat cantik seperti mu.
Aku juga yakin dia akan jauh lebih kuat dari kita."
"Apa kau sudah siap memberikan nama yang
baik untuk putramu ini sayang.?"
"Tentu saja. Kelak, dia akan menjadi pemimpin
juga seperti terdahulunya. Dan kita harus bisa
memberikan makna yang baik untuk namanya."
"Jadi siapa nama yang cocok untuknya.?"
"Keanu Neevand El Fathan..De Enzo.."
Raya tersenyum puas, matanya saling pandang
dengan Aaron yang mendekatkan wajahnya.
Tangan kanan Raya kini mengelus lembut wajah tampan Aaron yang terlihat begitu cerah di
penuhi oleh aura kebahagiaan yang tidak bisa
di jabarkan dengan kata-kata.
"Kalau bisa, kita harus membiarkan dia hidup
normal layaknya anak-anak lain sayang. Aku
tidak ingin dia hidup dalam ketakutan serta
ancaman bahaya dimana-mana."
"Itu adalah resiko menjadi keturunan keluarga
De Enzo juga As Syaf Sulaiman. Tapi kita akan
menjadi mentor terbaik untuk nya."
Wajah mereka kini semakin mendekat. Nafas
Aaron sudah mulai kacau saat ini. Dia sangat
merindukan istrinya ini yang tadi hampir tidak
selamat karena sempat berada pada kondisi
yang sangat darurat dan kritis. Aaron hampir
gila saat menyadari kondisi Raya dalam keadaan
tidak stabil. Tapi syukurlah, ternyata keajaiban
itu masih ada.
"Kau tahu.. aku sangat bersyukur karena Tuhan
telah menyelamatkan kalian berdua. Aku tidak
tahu apa yang akan terjadi padaku seandainya
hal buruk terjadi padamu tadi."
"Aku sudah bilang, tidak akan terjadi apa-apa
pada kami. Aku tidak mungkin meninggalkan
mu. Karena aku masih ingin bersamamu."
Mata mereka semakin terpaut dalam. Dan
wajah mereka pun kini bertemu. Rasa rindu
di dada mereka membuat keduanya tidak
mampu mengendalikan diri dalam kondisi
yang sangat tidak mendukung ini.
"Aku sangat mencintaimu Maharaya.."
Bibir Raya tersenyum lembut, dalam sekejap
mereka berdua sudah saling memagut lembut.
Namun baru saja akan terhanyut, tiba-tiba sang
pangeran kecil terbangun dan merengek halus
membuat keduanya terperanjat kaget. Mereka
saling pandang sesaat lalu tersenyum begitu
menyadari si baby sedang melakukan protes.
"Ohhh..apa kau sedang berusaha mengibarkan
bendera perang pada Daddy mu ini Son.?"
Desis Aaron sambil kemudian meraih tubuh
bayi mungilnya dari atas pangkuan Raya
dengan hati-hati dan sedikit gemetar.
"Hei.. sayang, apa kau yakin bisa memangku
nya ? Kok aku merasa sedikit ragu ya.?"
Raya menatap getir kearah Aaron yang kini
berdiri dan menempatkan baby nya dalam
pangkuan kemudian menimangnya perlahan.
"Tenang saja sayang, aku ini bisa melakukan
apapun apalagi menggendong buah hatiku
sendiri. Dia adalah bukti cintaku padamu."
Raya tersenyum tipis tapi masih dengan sorot
mata yang sedikit khawatir. Namun akhirnya
dia bisa bernafas lega saat melihat kemunculan
Ratu Virginia dan Arabella ke dalam ruangan
dengan membawakan makanan yang sangat
lezat dan bernutrisi tinggi untuk Raya.
"Ohhh.. Putra Mahkota kau sedikit meragukan
dengan melakukan hal ini. Biar Mommy yang memangku nya. Kau suapi saja Putri Mahkota,
dia butuh asupan makanan yang banyak agar
ASI nya lancar dan My little prince cepat besar."
Ujar Ratu Virginia sambil kemudian meraih si
baby dari pangkuan Aaron yang hanya bisa
pasrah saja. Ratu Virginia dan Arabella tampak
begitu antusias dengan kelahiran sang penerus
ini. Sementara Aaron terlihat mulai menyuapi
Raya dengan penuh kasih sayang dan perhatian.
Raya juga terlihat sangat berselera makannya.
Tengah malam suasana di dalam kamar ruang
rawat inap kelas keluarga kembali gaduh ketika
Serkan dan Ratih Ayu datang bersama dengan
Tuan Wiratama, Devan dan Clarissa. Suasana
haru kembali mewarnai keadaan di dalam kamar
rumah sakit yang sangat luas itu. Ratih Ayu dan Clarissa terlihat memekik tertahan saat melihat
betapa tampannya sang pangeran.
"Ohh my God.. Kenapa kamu bisa setampan ini
sih baby boy.. Aunty bisa jatuh cinta sama kamu
kalau begini. Duhh baru lahir saja sudah seperti
ini, bagaimana besarnya nanti ya ?"
Clarissa terus saja nyerocos sendiri dengan
ekspresi gemas dan geregetan. Sementara
Ratih Ayu hanya bisa tersenyum dan mencium
lembut puncak kepala si bayi sambil melafalkan
doa dan pengharapan untuk kebaikan dunia
dan akhirat cucu pertamanya itu.
Tuan Wiratama dan Serkan tampak berbincang
dengan Aaron tentang kronologi kelahiran sang
pangeran kecil sambil duduk-duduk di sofa.
"Selamat adikku sayang.. Semoga kebahagiaan
dan kedamaian akan selalu menyertaimu. Kau
harus menjaga putramu dengan extra hati-hati
karena dia akan memiliki banyak keistimewaan."
Dev berujar sambil memeluk erat tubuh Raya
yang juga membalasnya. Kali ini bahasa tubuh
Dev sudah sedikit lebih tenang dan sepertinya
dia sudah mulai menerima kenyataan.
__ADS_1
"Terimakasih Kak Dev.. Semua ini berkat doa
dari kalian semua. Aku berharap kakak bisa
menemukan jodoh mu secepatnya."
Dev melepaskan pelukannya. Keduanya kini
saling pandang. Ada senyum tipis yang terulas
dari bibir seksi Devan membuat pesona wajah
nya yang teramat menarik itu kini terlihat jelas.
"Aku tidak memikirkan pernikahan. Bagiku itu
hanya akan membuat jalan hidupku tak lurus
lagi. Biarkan aku hidup dengan kesenanganku
sendiri tanpa harus ribet memikirkan mahluk
yang namanya wanita.!"
Desis Dev sambil mengelus lembut wajah Raya
yang terhenyak dalam diam. Pria itu kembali
tersenyum tenang.
"Melihatmu dan Mayra bahagia itu sudah lebih
dari cukup bagiku. Aku hanya tinggal fokus
pada Clara saja."
Kembali Dev berkata sambil kemudian berdiri
tegak setelah itu dia berjalan mendekat kearah
Ratih Ayu dan Clarissa. Matanya menatap tenang
wajah Sang bayi yang nampak tertidur lelap.
"Dia benar-benar gambaran kedua orang tuanya.
Cinta mereka menyatu dalam darah dan jiwa
bayi ini, hingga dia tercipta begitu sempurna."
Dev berucap sambil mengusap lembut kepala
sang bayi dan memendarkan kilau cahaya putih
yang langsung menyatu dengan apa yang anda
dalam tubuh bayi itu membuat sang pangeran
kecil membuka matanya perlahan.
"Kak Dev.. dia terbangun.! Ohh bibi.. cucumu
benar-benar tampan dengan mata indahnya
yang begitu menggoda iman.."
"Huss.. kau ini ya.. Dia masih bayi Clara."
Ratih Ayu tersenyum kecut mendengar ocehan
Clarissa yang sedikit berlebihan itu. Sementara
Dev hanya bisa tersenyum tipis sembari menatap
tenang wajah sang pangeran yang terlihat masih
mengerjapkan mata spesialnya. Tidak lama Raya
turun atas ranjang dan memilih bergabung dalam
pembicaraan semua orang.
***
Dua hari kemudian...
Setelah menjalani perawatan selama dua hari
dua malam, Raya akhirnya bisa kembali ke istana
bersama dengan sang pangeran kecil. Namun
keberadaan mereka sengaja di sembunyikan dari buruan para wartawan yang setiap hari menunggu kabar dari pihak istana. Para wartawan hanya
di ijinkan untuk merekam dan mengambil gambar iring-iringan mobil yang membawa Putri Mahkota
dan Putra kecilnya ketika mereka tiba di gerbang
utama istana.
Dan akhirnya juru bicara istana mengadakan
konferensi pers guna memberi kabar tentang
kondisi dan keadaan Putri Mahkota beserta
sang pangeran kecil. Pihak istana juga berjanji,
akan ada saatnya dimana pangeran kecil di
perlihatkan pada khalayak ramai yakni pada
saat usianya menginjak satu bulan.
Raya tampak terharu dan berkaca-kaca saat
turun dari mobil. Penyambutan resmi kini di
terima oleh putra kecilnya. Barisan pasukan
militer dan tabuhan drumband menjadi sajian
pembuka yang sangat elegan dan memukau
di susul lesakkan kembang api yang memecah
langit istana dengan konfigurasi yang sangat
indah dan menakjubkan. Setelah itu di sambut
kemudian dengan tarian adat penyambutan
di iringi musik khas negara ini yang langsung
membuat Raya meneteskan air mata haru.
Aaron memeluk pinggang Raya dan mencium
pelipisnya kemudian membimbing istrinya itu
untuk mulai melangkah menuju pintu utama.
"Welcome to the palace My little prince.."
bayi tampan dari pangkuan Raya. Saat ini bayi
mungil itu tampak membuka mata indahnya
dan terlihat tenang, kelihatanya dia sangat
menikmati suasana penyambutan ini. Barisan
ratusan pelayan dan prajurit penjaga tampak
membungkuk hormat kearah keberadaan
sang pangeran kecil.
"Welcome to the palace, young Prince.."
Sambut mereka serempak sambil menunduk
hormat membiarkan sang pangeran muda
untuk memasuki Grand Marco Palace..
***
Akhirnya kebahagiaan sejati itu benar-benar di
rasakan oleh Aaron. Perjalanan hidupnya akan
kembali di mulai untuk kisah dan cerita yang
baru bersama istri tercintanya dan juga putra
kesayangan nya. Aaron tidak pernah menduga
kalau akhirnya dirinya akan menjalani hidup
normal dan lurus seperti sekarang ini.
Maharaya.. wanita inilah yang telah membawa
dirinya ke jalan ini. Sebuah pertemuan yang di
awali dengan tragedi dan kepahitan akhirnya
menyebrangkan dirinya pada keyakinan bahwa
cinta sejati itu memang ada. Kegagalan cinta
pertama ternyata menjadi jembatan bagi dirinya
untuk menemukan cinta yang sesungguhnya..
Hari ini genap sang pangeran muda berusia
satu bulan. Dan seperti janjinya di awal, istana
akan memperkenalkan calon Putra Mahkota
selanjutnya ke hadapan khalayak.
Aaron sudah selesai bersiap. Dan sang Putra
pun sudah siap dengan setelan mewahnya yang
membuat dia tampak semakin bersinar. Di usia
satu bulan ini sang pangeran semakin nampak
sehat, gemuk dan aura kebangsawanan nya
terlihat semakin menyilaukan. Dia benar-benar
bayi yang sangat tampan.
Aaron berdiri di pinggir boks bayi dimana bayi
mungilnya kini sedang bergerak halus dengan
memainkan jari-jarinya di mulutnya. Sungguh
gemas, membuat Aaron tidak pernah betah ada
di kantor karena ingin selalu berada di dekat
putranya ini dan ibunya juga tentunya.
"Sayang.. apa kau sudah siap.?"
Raya baru saja keluar dari ruang ganti pakaian.
Saat ini dia mengenakan dress cantik dan indah
yang membungkus sempurna seluruh tubuhnya.
Dalam waktu satu bulan bentuk tubuh dan fisik
Raya sudah kembali ke awal. Tubuh yang sangat
indah dan proporsional dengan kesempurnaan
di beberapa bagian pentingnya. Dan sekarang
bagian dadanya semakin nampak padat berisi.
Tubuh Aaron membeku seketika saat melihat
penampilan Raya yang begitu..uuhh..perfect,
sangat menggoda dan menggiurkan. Aaron
menelan salivanya berat, sudah satu bulan
dia menahan segala hasrat dan gairahnya.
Dan saat ini..melihat penampakan Raya..
akankah dirinya masih sanggup menahan diri.??
Tanpa aba-aba Aaron langsung mengangkat
tubuh Raya di bawa keatas tempat tidur. Lalu
menyerangnya tanpa ampun. Raya benar-benar
kewalahan menyadarkan Aaron yang bagaikan
singa kelaparan. Dia menerkam dirinya dengan
buas hingga akhirnya hijab yang di kenakkan
Raya di tanggalkan.
"Aaron sayang sadarlah.. kita sudah di tunggu
semua orang. Kita harus keluar sekarang aakhh.."
Raya menggelinjang saat bibir Aaron menelusuri
tubuhnya yang kini sudah setengah terbuka.
__ADS_1
"Aku sudah sangat menderita sayang.. kenapa
kamu tidak mengerti penderitaan ku. Aku sangat
merindukan kehangatan tubuh mu ini. Aku rindu
cengkraman dahsyat mu itu.!"
Geram Aaron dengan gerakan bibir yang semakin
ganas dan liar. Nafas Raya tersengal saat bibir
Aaron kini menyambar dua gunung kembar nya.
"Aaron sayang.. kumohon hentikan. Sekarang
waktunya tidak tepat. Kita akan lihat nanti apa
aku sudah bisa memenuhi keinginan mu, tapi
tidak sekarang sayang..aaa... Aaron..!!"
Raya memekik tertahan saat Aaron menggigit
gemas dua buah persik yang sangat ranum itu
bersamaan dengan tangisan sang pangeran
kecil yang tiba-tiba pecah dengan kencang.
Kedua orang itu langsung menghentikan aksi
mereka. Dengan tergesa-gesa Raya membenahi
pakaiannya, sementara Aaron mendengus kasar
sembari mengatur napasnya yang memburu.
Mau bagaimana lagi.. sekarang ini dia memiliki
saingan berat dalam memperebutkan waktu
seorang Maharaya..
Beberapa waktu kemudian..
Halaman samping istana, tepatnya di pelataran
menara utara, saat ini ratusan orang sudah mulai
memadati tempat itu. Dan sebelumnya mereka
sudah melalui proses pemeriksaan yang sangat
ketat di gerbang utara terlebih dahulu. Sementara
para wartawan sudah menempati area khusus
yang telah di sediakan untuk mempermudah
mereka dalam mendapatkan angle yang tepat.
Masyarakat tampak sangat antusias datang ke
tempat ini, karena saat inilah Young Prince akan
di perkenalkan pada rakyat negara ini sekaligus
akan menjadi ekspos pertama di dunia maya.
Tepat pukul 10 pagi akhirnya Putra Mahkota dan
Putri Mahkota keluar dari kamar mereka dengan
menggendong sang bayi tampan yang selama
satu bulan ini tidak pernah turun dari lantai
paling atas di istana utama ini.
"Hello little prince.. so glad to see you.."
Alluna menyambut kehadiran saudara sepupunya
itu sambil membungkuk anggun dengan gaya
yang sangat luwes dan halus sekaligus sangat
menggemaskan..
"Hello princess.. thank you very much for
your welcome.."
Sahut Raya lembut dengan senyum terkembang
sempurna, kemudian dia berjongkok di hadapan
Alluna sehingga gadis kecil itu bisa menjangkau pangeran muda. Dengan senyum lebar, sang putri
kecil mengecup lembut kedua pipi sang pangeran
yang terlihat anteng saja tak bereaksi.
Semua orang tampak tersenyum bahagia. Raja
William mengambil alih sang cucu dari tangan
Raya ke dalam pangkuannya. Dan kini mereka
semua melangkah mantap menuju istana di
bagian sayap kiri untuk menuju menara utara.
Akhirnya mereka semua tiba di atas balkon
menara utara di sambut gemuruh tepuk tangan
dan kehebohan masyarakat begitu melihat
kemunculan keluarga yang sangat menyilaukan
mata itu. Terutama keberadaan Aaron dan
Raya plus bayi kecil mereka.
Hujan jepretan dan kilatan kamera langsung
menyerbu bagai meteor kearah menara. Mata
semua orang terfokus seluruhnya pada sosok
Raja William yang tengah menggendong sang
cucu, calon penerus kerajaan xxx ini..
"Terimakasih atas kehadiran kalian semua di
tempat ini dengan tertib dan teratur. Seperti
rencana semula, hari ini aku sebagai Raja dari
kerajaan ini, akan memperkenalkan calon
penerus kerajaan ini yakni putra pertama
Prince Marvell dan Princess Maharaya.."
Raja William menjeda penuturannya. Semua
orang tampak terdiam, menyimak dengan serius
dan antusias. Wajah-wajah mereka tampak sangat penasaran dengan sosok sang pangeran kecil.
"Perkenalkan.. pangeran kecil kita semua..
Prince Keanu Neevand El Fathan De Enzo.."'
Raja William mengangkat sedikit sang cucu agar
rupa dan sosok mungilnya bisa terlihat oleh
semua orang yang terkesima sesaat, namun tidak
lama mereka langsung serempak membungkuk
hormat di pelataran yang sangat luas itu.
"Selamat datang Prince Keanu..semoga Tuhan
memberi umur yang panjang dan berkah.."
Sambut semua orang dengan antusiasme tinggi
di susul decak kagum dan pekikan histeris dari
beberapa orang karena begitu terpesona pada
aura kemilau yang terpancar terang dari sosok
mungil Sang Little Prince..
Raya dan Aaron maju ke samping Raja William,
kemudian Aaron memberikan sambutan singkat
pada semua orang. Setelah itu para staf istana
melakukan saweran uang kepada masyarakat
yang langsung berebut mengambil uang saweran
yang tiada habisnya itu. Mereka semua terlihat
sangat gembira, ini adalah bonus yang di tunggu.
Raja William menyerahkan kembali si kecil
Prince Keanu Neevand El Fathan pada Raya.
Aaron dan Raya berdiri di pinggir menara
sambil menggendong pangeran kecil mereka,
menyaksikan kegembiraan yang kini terlihat
jelas di wajah semua orang..
"Terimakasih banyak sayang ku.. Kau telah
menghadirkan kebahagiaan ini untuk semua
orang. Aku sangat mencintai kalian berdua."
Bisik Aaron sambil mendekap erat tubuh Raya
dan mendaratkan ciuman lembut di bibirnya.
Raya tersenyum lembut penuh kepuasan. Dia
menatap tenang wajah tampan Putra nya.
Ya putra yang lahir dari benih seorang Aaron..
Pria yang semula sangat di bencinya namun
kini sangat di cintainya..
"Aku juga sangat mencintaimu Tuan De Enzo."
Lirih Raya sambil kemudian menarik wajah
Aaron dan mendaratkan ciuman lembut yang
sangat manis.. semanis cinta dan kasih sayang
mereka berdua yang tak akan pernah lekang
di makan waktu.. Asmara mereka akan selalu
membara dan memanas di setiap waktu...
...** SEKIAN **...
Alhamdulillah..🤲
Akhirnya kisah cinta Aaron dan Raya selesai
juga sampai di sini. Mudah-mudahan ada hal
positif yang bisa di petik dari kisah ini..
Terimakasih banyak author haturkan kepada
para readers atas support dan dukungan nya
selama ini yang tiada bosan memberikan like
dan koment nya..🙏🙏🙏
Tanpa kalian apalah artinya author yang sangat
banyak kekurangan nya ini..😃😁🤭
*****
.
.
.
Assalamualaikum..
Hallo semuanya... jangan lupa mampir juga
ke novel terbaru ku.. Kisah tentang Devan..
sang sepupu Maharaya yang mempesona..
Judulnya: "MENIKAHI WANITA TANGGUH"
Di jamin seru juga..ta tunggu ya..😁
__ADS_1
Thank you so much..😘🤗🙏