Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
37. Madam Rowena


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya dan Alluna saling pandang masih dalam


mode kaget. Wajah keduanya tampak memucat.


Para pelayan dan pengawal pribadi Alluna berlari menghampiri keduanya yang kini sudah berdiri.


Raya merapihkan kembali pakaian Alluna.


"Kenapa kamu selalu ceroboh sayang.."


Raya menatap gemas wajah mungil Alluna


yang tampak tersenyum dan tertawa kecil


saat Raya mencubiti pipi gembilnya gemas


mengingat kejadian barusan. Para wartawan


langsung saja mengabadikan moment tidak


terduga itu. Ini adalah sesuatu yang sangat


langka terjadi. Seorang Putri kerajaan tampak


akrab dengan orang dari kalangan biasa. Dan


mereka baru sadar dengan keberadaan Raya


yang terlihat begitu berbeda dan istimewa.


"Amankan wanita itu..!"


Ada perintah mutlak dari suara yang sangat


tegas dan bernada emosi. Dua orang pengawal


wanita langsung mencekal lengan Raya yang


terkejut mendapat perlakuan di luar dugaan ini.


Griz juga tampak terkejut, tapi dia tidak bisa


berbuat lebih karena yang memberi perintah


adalah orang yang sangat penting di negara


ini, dia terpaksa mundur kemudian melakukan panggilan pada seseorang.


"Hei.. lepaskan aunty cantik..!"


Alluna tampak tidak terima dengan perlakuan


dua pengawal yang mengamankan Raya, dia


segera menarik tangan Raya sambil melotot


marah pada keduanya.


"Tidak apa-apa sayang, tenanglah.."


Raya mencoba menenangkan sambil menatap


lembut dan tersenyum tipis kearah Alluna yang


kini berjingkrak dan berteriak histeris.


"No.. aunty tidak salah.! Hei.. ayo lepaskan


aunty, dia tidak salah.."


Alluna kembali berteriak-teriak histeris seraya


menarik kuat tangan Raya yang berada dalam


penguasaan dua orang pengawal tersebut.


"Princess Alluna..!"


Raya dan Alluna langsung menoleh kearah suara. Madam Rowena kini telah berdiri di hadapan nya


dengan sorot mata yang terlihat cemas namun ekspresi nya tampak keras. Raya membungkuk hormat di hadapan Ibu Suri yang tengah menatap


tajam kearah dirinya penuh selidik.


"Maafkan saya Yang Mulya..kalau di anggap


telah lancang."


Raya berucap lembut penuh hormat seraya


menunduk dalam. Alluna masih menarik-narik


lengan Raya dan hal itu membuat Madam


Rowena terlihat menautkan alisnya.


"Granny.. dia adalah aunty cantik yang Luna


bilang waktu itu.."


Terang Alluna sambil berdiri di hadapan Raya


seolah ingin melindunginya dari tindakan yang


akan di ambil oleh nenek buyut nya itu.Tatapan Madam Rowena semakin tajam, menelisik dan mengamati tampilan Raya yang terlihat sangat


berbeda itu. Ada aura yang sangat terang dan


berkilau yang dia tangkap dari sosok wanita di hadapannya ini. Tatapannya semakin tajam.


"Siapa namamu, ada urusan apa di sini.?"


"Mohon maaf Yang Mulya..perkenalkan nama


saya Maharaya, saya adalah sekretaris pribadi


Putra Mahkota.."


Alis Madam Rowena tampak terangkat tinggi,


sorot matanya begitu berbeda, semakin keras


penuh dengan antisipasi.


"Sekretaris pribadi Putra Mahkota.? Beraninya


kamu melakukan kejahatan penipuan terbuka


seperti ini secara langsung.!"


Cekalan kedua pengawal wanita itu kini semakin


kuat saat Madam Rowena mengangkat tangan.


Raya terkesiap mendengar perkataan Madam


Rowena yang terkesan menuduh dirinya hanya


mengarang dan mengada-ada saja.


"Granny.. aunty orang baik..!"


Alluna meronta ketika dua orang pelayan pribadi


nya merengkuh dan menggendong nya lembut.


Raya hanya bisa diam tanpa mencoba melawan,


dia menatap tenang kearah Alluna yang semakin meronta ingin popturun dari gendongan pengasuhnya.


"Mohon maaf Yang Mulya.. saya tidak berani


melakukan apa yang anda tuduhkan. Anda


bisa mengecek sendiri kebenarannya.!"


Wajah Madam Rowena tampak semakin keras.


Namun ada sorot mata berbeda yang tersirat


dari pancaran matanya mendengar ucapan


Raya barusan.


"Amankan dia sampai Prince Marvell datang.!"


"No Granny.. aunty orang baik.. Luna mau


bareng aunty saja.."


Alluna merengek menangis sambil meronta


membuat Raya tidak tega melihat nya. Namun


saat dia bergerak ingin meraih Luna pengawal


yang mencekalnya bereaksi keras menarik kedua


pergelangan tangannya ke belakang hingga


menyebabkan Raya meringis kesakitan. Lalu


dia di paksa untuk duduk bersimpuh di lantai.


"Putra Mahkota tidak pernah bersinggungan


dengan wanita dalam pekerjaan nya. Jadi itu

__ADS_1


sangat mustahil.!"


Decak Madam Rowena yakin sambil kemudian


melangkah pergi dari hadapan Raya yang hanya


bisa menundukkan kepala. Suara rengekan


Alluna masih terdengar saat rombongan itu


semakin menjauh menyusuri lorong panjang


menuju ke dalam ruangan aula agung. Perhatian semua orang dan para wartawan kini terfokus


pada Raya yang di seret paksa oleh beberapa pengawal ke pinggir lobby utama kemudian di


suruh kembali pada posisi duduk bersimpuh


di lantai.


Griz yang baru kembali ke tempat itu tampak


melebarkan matanya melihat Nona nya di


perlakukan tidak hormat seperti itu dan jadi


tontonan semua orang. Dia benar-benar


merasa tidak becus menjaga majikannya itu.


"Tolong.. lepaskan beliau ! kalau kalian tidak


ingin bertemu dengan masalah.!"


Griz berdiri di hadapan 4 pengawal yang kini


menahan dan menjaga Raya. Empat pengawal


itu menatap tajam kearah Griz dengan tampang


wajah dingin dan datar.


"Kami hanya melaksanakan tugas dari Yang


Mulya Ibu Suri.!"


Mereka keukeuh dengan pendirian nya. Raut


wajah Griz berubah mengeras dengan tatapan


yang semakin tajam seolah ingin mencabik


mereka semua menjadi potongan kecil.


"Baiklah, itu pilihan kalian sendiri.!"


Geram Griz sambil berpaling pada Raya yang


masih bersimpuh dan menggelengkan kepala


kearah Griz memberi isyarat agar wanita itu


tenang. Dia sendiri mencoba tetap tenang dan


tidak terbawa emosi.


"Maafkan saya Miss, ini di lingkungan istana.


Jadi saya tidak bisa membuat keributan."


Griz menundukkan kepala di hadapan Raya


yang menggeleng pelan.


"Sudah Griz tidak apa-apa. Kita tunggu saja kedatangan Putra Mahkota."


Sahut Raya sambil memejamkan matanya.


Tidak lama terdengar bunyi sirine patwal yang


memasuki area aula agung. Semua orang kini


memusatkan perhatiannya pada kedatangan


rombongan baru tersebut. Para wartawan pun


bersiap dengan mengarahkan kamera mereka


ke pintu utama untuk merekam semua moment


yang akan terjadi. Para prajurit penjaga tampak


bersiaga penuh dengan mengambil posisi di


sekitar area kedatangan rombongan itu.


Dua buah mobil super mewah kini berhenti


oleh rombongan mobil-mobil lainnya. Dari


dalam mobil pertama, perlahan dan hati-hati


keluar satu sosok tinggi semampai, cantik,


anggun dan mempesona dalam balutan dress


elegan pas body yang membungkus tubuhnya


dengan sangat indah dan memukau di kawal


ketat oleh dua orang bodyguard wanita


bertampang dingin dan datar.


"Lady Catharina.. dia datang juga.?"


"Benar.. apa ini ada hubungannya dengan


rencana pernikahan Putra Mahkota.?"


"Mungkin saja, dan semoga saja seperti itu."


"Ini adalah berita yang sangat besar."


Ada selentingan percakapan yang terdengar


dari para wartawan dan semua tamu penting


yang ada di tempat itu.


Hujan kilatan dan jepretan kamera kini tidak


terelakkan lagi melahap seluruh diri wanita


elegan itu yang tiada lain adalah Catharina.


Senyum manis dan ramah tampak merekah


di bibir merah apelnya dengan raut wajah


yang terlihat begitu bahagia dan berseri.


Semua orang tampak begitu terpesona pada


sosok wanita cantik itu hingga mata mereka


seolah tidak berkedip saat melihat nya.


Raya menatap kedatangan wanita cantik itu


dengan sorot mata yang sangat kompleks.


Catharina datang kesini juga.?


Dari dalam mobil kedua kini keluar lah sosok


lain. Suasana langsung heboh begitu semua


orang mengenali siapa sosok yang baru keluar


dari dalam mobil super mewah itu. Jilatan blitz


kamera langsung mengarah padanya, hampir


bersamaan dengan kemunculan juru bicara


istana yang memberikan instruksi tegas agar


para wartawan mengambil gambar seperlunya


saja pada sosok yang baru datang tersebut.


Dan sosok itu berhasil membuat semua orang menganga, mematung dan terpaku di tempat.


Setampan inikah Putra Mahkota negara ini ?


Sosok gagah perkasa itu yang tiada lain adalah


Prince Marvell tampak berdiri tegak di depan


mobil super mewahnya. Alex dan Ansel bergerak merapihkan jas yang di kenakkan oleh Aaron


dengan cara dan gaya yang sangat berkelas


hingga mampu membuat semua mata semakin terkesima maksimal. Kebanyakan dari mereka


baru melihat secara nyata sosok asli Pangeran kebanggaan negri ini. Dan mereka benar-benar


tidak menduga kalau dia akan setampan dan

__ADS_1


segagah ini, bahkan ini terlampau tampan !


Catharina melirik ke arah Aaron dengan bibir


yang tersenyum selembut sutra, sementara


Sang Pangeran sendiri saat ini matanya tengah


terfokus pada satu sosok wanita yang ada di


sisi ruangan dalam keadaan duduk bersimpuh


di lantai. Tatapannya terlihat berkilat hebat menyaksikan wanita itu berada pada posisi


yang sangat rendah dan dalam keadaan tidak


berdaya. Namun raut wajah dan ekspresi nya


masih terlihat datar, dingin dan kaku.


Aaron dan Catharina kini mulai melangkah


bersama masuk ke dalam ruangan lobby


di iringi jepretan kamera yang tiada henti


terus mengikuti seolah tidak rela kehilangan


moment yang sangat penting ini. Keduanya


berjalan berdampingan dengan tenang dan


penuh pesona. Mereka tampak begitu cocok


dan serasi, sepadan dan mempesona.


Wajah dan tatapan Aaron lurus ke depan, tidak


ada minat untuk peduli pada kamera ataupun


orang-orang yang sedang serempak menyapa


dan menyambutnya dengan penuh hormat.


Hanya Catharina yang berusaha sebaik dan


seramah mungkin membalas sapaan mereka


walau hanya sekedar melempar senyum.


Mata Raya dan Aaron kini saling mengunci


satu sama lain. Ada perasaan aneh yang kini


mengganggu hati Raya melihat Aaron berjalan


beriringan dengan Catharina. Apalagi mereka


berdua terlihat sangat menikmati moment ini.


Raya berusaha menarik pandangannya dengan


menundukkan kepala begitu Aaron mendekat.


Catharina tampak terkejut melihat keadaan


Raya yang berada pada posisi terhukum.


"Miss Raya.. apa yang terjadi padamu.?"


Catharina menatap bingung kearah Raya yang terduduk di lantai. Semua orang menghentikan langkah. Ansel yang dari tadi sudah berwajah


kelam kini maju menghampiri Raya, merengkuh


bahunya dan membawanya berdiri membuat ke


4 orang pengawal yang tadi menjaga nya terkejut. Ansel menatap tajam 4 pengawal tersebut yang


kini menundukkan kepala dengan wajah pucat


pasi di telan ketegangan.


Aaron terdiam, menatap Raya menelisik dan memastikan keadaan nya. Sedang Raya kini


berdiri di samping Ansel.


"Beraninya kalian memperlakukan dia seperti


ini, apa kalian sudah bosan hidup hahh.?"


Bentak Ansel dengan tatapan mata yang kini


menyala di penuhi oleh ledakan amarah yang


sudah mencapai ubun-ubun nya.


"A-ampuni kami Lord Ansel..! Kami semua hanya


menjalankan perintah dari Ibu Suri."


"Apa kalian tahu siapa dia.? Dia adalah sekretaris


pribadi Putra Mahkota.! "


Ke 4 pengawal itu tampak syok, pernyataan


Ansel barusan ibarat ledakan bom yang sangat mengejutkan, bukan hanya bagi mereka tapi


juga bagi semua orang yang ada di tempat itu.


"Ampun Yang Mulya.. ampuni kami.."


Mereka semua serempak duduk bersimpuh


di hadapan Aaron yang dari tadi hanya diam


mengamati situasi, matanya tidak lepas dari


sosok Raya yang berdiri di samping Ansel,


sedikit jauh dari posisi dirinya berada.


"Kalian tinggal memilih mau di buang kemana.!"


Aaron mengeluarkan suaranya yang langsung


membuat wajah ke 4 pengawal itu memutih.


Ini adalah hukuman militer yang paling di takuti


oleh para prajurit di negara ini.


"Ampun..! Ampuni kami Yang Mulya..'


Sahut salah seorang dengan suara yang sedikit


bergetar di telan ketegangan. Tidak tahan dengan


emosinya Ansel mengangkat tangan, memberikan pukulan beruntun pada mereka semua. Tapi aksi


nya terhenti saat tiba-tiba tangannya di tangkap


dan di tahan oleh Raya.


"Sudah An, aku tidak apa-apa. Mereka semua


hanya melaksanan tugas dan perintah."


Lirih Raya dengan suara yang sangat pelan.


Mata mereka bertemu, saling menatap kuat.


Raya mengedip pelan meyakinkan Ansel.


Keduanya tidak sadar, saat ini mata Aaron


tampak menatap tajam kearah mereka yang


saling menggenggam. Wajahnya berubah


semakin dingin dengan aura yang sangat


membekukan.


"Urus surat pengasingan mereka semua.!"


Aaron mendesis sambil kemudian kembali


melangkah tenang bersama dengan lady


Catharina yang mempesona. Raya dan Ansel


saling melepaskan pegangan tangan mereka.


"Pergilah..Aku akan mengurus mereka semua."


Ansel berucap sambil menatap lembut wajah


Raya yang mengganguk pelan. Tidak lama dia


mulai melangkah mengikuti Aaron yang sudah


jauh, kembali..ada rasa tidak nyaman yang kini


mengganggu hatinya. Dia menguatkan dirinya


untuk mengikuti kemana Aaron melangkah..


***

__ADS_1


Happy Reading....


__ADS_2