
❤️❤️❤️
Raya dan Alluna saling pandang masih dalam
mode kaget. Wajah keduanya tampak memucat.
Para pelayan dan pengawal pribadi Alluna berlari menghampiri keduanya yang kini sudah berdiri.
Raya merapihkan kembali pakaian Alluna.
"Kenapa kamu selalu ceroboh sayang.."
Raya menatap gemas wajah mungil Alluna
yang tampak tersenyum dan tertawa kecil
saat Raya mencubiti pipi gembilnya gemas
mengingat kejadian barusan. Para wartawan
langsung saja mengabadikan moment tidak
terduga itu. Ini adalah sesuatu yang sangat
langka terjadi. Seorang Putri kerajaan tampak
akrab dengan orang dari kalangan biasa. Dan
mereka baru sadar dengan keberadaan Raya
yang terlihat begitu berbeda dan istimewa.
"Amankan wanita itu..!"
Ada perintah mutlak dari suara yang sangat
tegas dan bernada emosi. Dua orang pengawal
wanita langsung mencekal lengan Raya yang
terkejut mendapat perlakuan di luar dugaan ini.
Griz juga tampak terkejut, tapi dia tidak bisa
berbuat lebih karena yang memberi perintah
adalah orang yang sangat penting di negara
ini, dia terpaksa mundur kemudian melakukan panggilan pada seseorang.
"Hei.. lepaskan aunty cantik..!"
Alluna tampak tidak terima dengan perlakuan
dua pengawal yang mengamankan Raya, dia
segera menarik tangan Raya sambil melotot
marah pada keduanya.
"Tidak apa-apa sayang, tenanglah.."
Raya mencoba menenangkan sambil menatap
lembut dan tersenyum tipis kearah Alluna yang
kini berjingkrak dan berteriak histeris.
"No.. aunty tidak salah.! Hei.. ayo lepaskan
aunty, dia tidak salah.."
Alluna kembali berteriak-teriak histeris seraya
menarik kuat tangan Raya yang berada dalam
penguasaan dua orang pengawal tersebut.
"Princess Alluna..!"
Raya dan Alluna langsung menoleh kearah suara. Madam Rowena kini telah berdiri di hadapan nya
dengan sorot mata yang terlihat cemas namun ekspresi nya tampak keras. Raya membungkuk hormat di hadapan Ibu Suri yang tengah menatap
tajam kearah dirinya penuh selidik.
"Maafkan saya Yang Mulya..kalau di anggap
telah lancang."
Raya berucap lembut penuh hormat seraya
menunduk dalam. Alluna masih menarik-narik
lengan Raya dan hal itu membuat Madam
Rowena terlihat menautkan alisnya.
"Granny.. dia adalah aunty cantik yang Luna
bilang waktu itu.."
Terang Alluna sambil berdiri di hadapan Raya
seolah ingin melindunginya dari tindakan yang
akan di ambil oleh nenek buyut nya itu.Tatapan Madam Rowena semakin tajam, menelisik dan mengamati tampilan Raya yang terlihat sangat
berbeda itu. Ada aura yang sangat terang dan
berkilau yang dia tangkap dari sosok wanita di hadapannya ini. Tatapannya semakin tajam.
"Siapa namamu, ada urusan apa di sini.?"
"Mohon maaf Yang Mulya..perkenalkan nama
saya Maharaya, saya adalah sekretaris pribadi
Putra Mahkota.."
Alis Madam Rowena tampak terangkat tinggi,
sorot matanya begitu berbeda, semakin keras
penuh dengan antisipasi.
"Sekretaris pribadi Putra Mahkota.? Beraninya
kamu melakukan kejahatan penipuan terbuka
seperti ini secara langsung.!"
Cekalan kedua pengawal wanita itu kini semakin
kuat saat Madam Rowena mengangkat tangan.
Raya terkesiap mendengar perkataan Madam
Rowena yang terkesan menuduh dirinya hanya
mengarang dan mengada-ada saja.
"Granny.. aunty orang baik..!"
Alluna meronta ketika dua orang pelayan pribadi
nya merengkuh dan menggendong nya lembut.
Raya hanya bisa diam tanpa mencoba melawan,
dia menatap tenang kearah Alluna yang semakin meronta ingin popturun dari gendongan pengasuhnya.
"Mohon maaf Yang Mulya.. saya tidak berani
melakukan apa yang anda tuduhkan. Anda
bisa mengecek sendiri kebenarannya.!"
Wajah Madam Rowena tampak semakin keras.
Namun ada sorot mata berbeda yang tersirat
dari pancaran matanya mendengar ucapan
Raya barusan.
"Amankan dia sampai Prince Marvell datang.!"
"No Granny.. aunty orang baik.. Luna mau
bareng aunty saja.."
Alluna merengek menangis sambil meronta
membuat Raya tidak tega melihat nya. Namun
saat dia bergerak ingin meraih Luna pengawal
yang mencekalnya bereaksi keras menarik kedua
pergelangan tangannya ke belakang hingga
menyebabkan Raya meringis kesakitan. Lalu
dia di paksa untuk duduk bersimpuh di lantai.
"Putra Mahkota tidak pernah bersinggungan
dengan wanita dalam pekerjaan nya. Jadi itu
__ADS_1
sangat mustahil.!"
Decak Madam Rowena yakin sambil kemudian
melangkah pergi dari hadapan Raya yang hanya
bisa menundukkan kepala. Suara rengekan
Alluna masih terdengar saat rombongan itu
semakin menjauh menyusuri lorong panjang
menuju ke dalam ruangan aula agung. Perhatian semua orang dan para wartawan kini terfokus
pada Raya yang di seret paksa oleh beberapa pengawal ke pinggir lobby utama kemudian di
suruh kembali pada posisi duduk bersimpuh
di lantai.
Griz yang baru kembali ke tempat itu tampak
melebarkan matanya melihat Nona nya di
perlakukan tidak hormat seperti itu dan jadi
tontonan semua orang. Dia benar-benar
merasa tidak becus menjaga majikannya itu.
"Tolong.. lepaskan beliau ! kalau kalian tidak
ingin bertemu dengan masalah.!"
Griz berdiri di hadapan 4 pengawal yang kini
menahan dan menjaga Raya. Empat pengawal
itu menatap tajam kearah Griz dengan tampang
wajah dingin dan datar.
"Kami hanya melaksanakan tugas dari Yang
Mulya Ibu Suri.!"
Mereka keukeuh dengan pendirian nya. Raut
wajah Griz berubah mengeras dengan tatapan
yang semakin tajam seolah ingin mencabik
mereka semua menjadi potongan kecil.
"Baiklah, itu pilihan kalian sendiri.!"
Geram Griz sambil berpaling pada Raya yang
masih bersimpuh dan menggelengkan kepala
kearah Griz memberi isyarat agar wanita itu
tenang. Dia sendiri mencoba tetap tenang dan
tidak terbawa emosi.
"Maafkan saya Miss, ini di lingkungan istana.
Jadi saya tidak bisa membuat keributan."
Griz menundukkan kepala di hadapan Raya
yang menggeleng pelan.
"Sudah Griz tidak apa-apa. Kita tunggu saja kedatangan Putra Mahkota."
Sahut Raya sambil memejamkan matanya.
Tidak lama terdengar bunyi sirine patwal yang
memasuki area aula agung. Semua orang kini
memusatkan perhatiannya pada kedatangan
rombongan baru tersebut. Para wartawan pun
bersiap dengan mengarahkan kamera mereka
ke pintu utama untuk merekam semua moment
yang akan terjadi. Para prajurit penjaga tampak
bersiaga penuh dengan mengambil posisi di
sekitar area kedatangan rombongan itu.
Dua buah mobil super mewah kini berhenti
oleh rombongan mobil-mobil lainnya. Dari
dalam mobil pertama, perlahan dan hati-hati
keluar satu sosok tinggi semampai, cantik,
anggun dan mempesona dalam balutan dress
elegan pas body yang membungkus tubuhnya
dengan sangat indah dan memukau di kawal
ketat oleh dua orang bodyguard wanita
bertampang dingin dan datar.
"Lady Catharina.. dia datang juga.?"
"Benar.. apa ini ada hubungannya dengan
rencana pernikahan Putra Mahkota.?"
"Mungkin saja, dan semoga saja seperti itu."
"Ini adalah berita yang sangat besar."
Ada selentingan percakapan yang terdengar
dari para wartawan dan semua tamu penting
yang ada di tempat itu.
Hujan kilatan dan jepretan kamera kini tidak
terelakkan lagi melahap seluruh diri wanita
elegan itu yang tiada lain adalah Catharina.
Senyum manis dan ramah tampak merekah
di bibir merah apelnya dengan raut wajah
yang terlihat begitu bahagia dan berseri.
Semua orang tampak begitu terpesona pada
sosok wanita cantik itu hingga mata mereka
seolah tidak berkedip saat melihat nya.
Raya menatap kedatangan wanita cantik itu
dengan sorot mata yang sangat kompleks.
Catharina datang kesini juga.?
Dari dalam mobil kedua kini keluar lah sosok
lain. Suasana langsung heboh begitu semua
orang mengenali siapa sosok yang baru keluar
dari dalam mobil super mewah itu. Jilatan blitz
kamera langsung mengarah padanya, hampir
bersamaan dengan kemunculan juru bicara
istana yang memberikan instruksi tegas agar
para wartawan mengambil gambar seperlunya
saja pada sosok yang baru datang tersebut.
Dan sosok itu berhasil membuat semua orang menganga, mematung dan terpaku di tempat.
Setampan inikah Putra Mahkota negara ini ?
Sosok gagah perkasa itu yang tiada lain adalah
Prince Marvell tampak berdiri tegak di depan
mobil super mewahnya. Alex dan Ansel bergerak merapihkan jas yang di kenakkan oleh Aaron
dengan cara dan gaya yang sangat berkelas
hingga mampu membuat semua mata semakin terkesima maksimal. Kebanyakan dari mereka
baru melihat secara nyata sosok asli Pangeran kebanggaan negri ini. Dan mereka benar-benar
tidak menduga kalau dia akan setampan dan
__ADS_1
segagah ini, bahkan ini terlampau tampan !
Catharina melirik ke arah Aaron dengan bibir
yang tersenyum selembut sutra, sementara
Sang Pangeran sendiri saat ini matanya tengah
terfokus pada satu sosok wanita yang ada di
sisi ruangan dalam keadaan duduk bersimpuh
di lantai. Tatapannya terlihat berkilat hebat menyaksikan wanita itu berada pada posisi
yang sangat rendah dan dalam keadaan tidak
berdaya. Namun raut wajah dan ekspresi nya
masih terlihat datar, dingin dan kaku.
Aaron dan Catharina kini mulai melangkah
bersama masuk ke dalam ruangan lobby
di iringi jepretan kamera yang tiada henti
terus mengikuti seolah tidak rela kehilangan
moment yang sangat penting ini. Keduanya
berjalan berdampingan dengan tenang dan
penuh pesona. Mereka tampak begitu cocok
dan serasi, sepadan dan mempesona.
Wajah dan tatapan Aaron lurus ke depan, tidak
ada minat untuk peduli pada kamera ataupun
orang-orang yang sedang serempak menyapa
dan menyambutnya dengan penuh hormat.
Hanya Catharina yang berusaha sebaik dan
seramah mungkin membalas sapaan mereka
walau hanya sekedar melempar senyum.
Mata Raya dan Aaron kini saling mengunci
satu sama lain. Ada perasaan aneh yang kini
mengganggu hati Raya melihat Aaron berjalan
beriringan dengan Catharina. Apalagi mereka
berdua terlihat sangat menikmati moment ini.
Raya berusaha menarik pandangannya dengan
menundukkan kepala begitu Aaron mendekat.
Catharina tampak terkejut melihat keadaan
Raya yang berada pada posisi terhukum.
"Miss Raya.. apa yang terjadi padamu.?"
Catharina menatap bingung kearah Raya yang terduduk di lantai. Semua orang menghentikan langkah. Ansel yang dari tadi sudah berwajah
kelam kini maju menghampiri Raya, merengkuh
bahunya dan membawanya berdiri membuat ke
4 orang pengawal yang tadi menjaga nya terkejut. Ansel menatap tajam 4 pengawal tersebut yang
kini menundukkan kepala dengan wajah pucat
pasi di telan ketegangan.
Aaron terdiam, menatap Raya menelisik dan memastikan keadaan nya. Sedang Raya kini
berdiri di samping Ansel.
"Beraninya kalian memperlakukan dia seperti
ini, apa kalian sudah bosan hidup hahh.?"
Bentak Ansel dengan tatapan mata yang kini
menyala di penuhi oleh ledakan amarah yang
sudah mencapai ubun-ubun nya.
"A-ampuni kami Lord Ansel..! Kami semua hanya
menjalankan perintah dari Ibu Suri."
"Apa kalian tahu siapa dia.? Dia adalah sekretaris
pribadi Putra Mahkota.! "
Ke 4 pengawal itu tampak syok, pernyataan
Ansel barusan ibarat ledakan bom yang sangat mengejutkan, bukan hanya bagi mereka tapi
juga bagi semua orang yang ada di tempat itu.
"Ampun Yang Mulya.. ampuni kami.."
Mereka semua serempak duduk bersimpuh
di hadapan Aaron yang dari tadi hanya diam
mengamati situasi, matanya tidak lepas dari
sosok Raya yang berdiri di samping Ansel,
sedikit jauh dari posisi dirinya berada.
"Kalian tinggal memilih mau di buang kemana.!"
Aaron mengeluarkan suaranya yang langsung
membuat wajah ke 4 pengawal itu memutih.
Ini adalah hukuman militer yang paling di takuti
oleh para prajurit di negara ini.
"Ampun..! Ampuni kami Yang Mulya..'
Sahut salah seorang dengan suara yang sedikit
bergetar di telan ketegangan. Tidak tahan dengan
emosinya Ansel mengangkat tangan, memberikan pukulan beruntun pada mereka semua. Tapi aksi
nya terhenti saat tiba-tiba tangannya di tangkap
dan di tahan oleh Raya.
"Sudah An, aku tidak apa-apa. Mereka semua
hanya melaksanan tugas dan perintah."
Lirih Raya dengan suara yang sangat pelan.
Mata mereka bertemu, saling menatap kuat.
Raya mengedip pelan meyakinkan Ansel.
Keduanya tidak sadar, saat ini mata Aaron
tampak menatap tajam kearah mereka yang
saling menggenggam. Wajahnya berubah
semakin dingin dengan aura yang sangat
membekukan.
"Urus surat pengasingan mereka semua.!"
Aaron mendesis sambil kemudian kembali
melangkah tenang bersama dengan lady
Catharina yang mempesona. Raya dan Ansel
saling melepaskan pegangan tangan mereka.
"Pergilah..Aku akan mengurus mereka semua."
Ansel berucap sambil menatap lembut wajah
Raya yang mengganguk pelan. Tidak lama dia
mulai melangkah mengikuti Aaron yang sudah
jauh, kembali..ada rasa tidak nyaman yang kini
mengganggu hatinya. Dia menguatkan dirinya
untuk mengikuti kemana Aaron melangkah..
***
__ADS_1
Happy Reading....