Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
86. Hot News


__ADS_3

***


"Putra Mahkota.. kau tidak bisa menikah dengan


sembarang wanita tanpa memberitahu keluarga.


Kalian juga berbeda keyakinan.. Itu tidak bisa di


benarkan.!"


Alfred Winston kini meradang, dia memegang


tangan Catharina yang berdiri goyah di sebelah


nya, gadis elegan itu benar-benar kehilangan


tenaganya.


"Perdana Menteri..Hidupku adalah milikku. Aku


punya hak menentukan jalan hidupku sendiri.


Dan tidak ada seorangpun yang bisa melawan


takdir Tuhan. Aku sudah membuktikan sendiri


semua itu.!"


Tegas Aaron sambil menatap tajam wajah Alfred Winston yang semakin gemetar menahan amarah,


mungkin sesaat lagi akan meledak.


Raja Williams mengangkat wajahnya yang masih


terlihat sedikit memucat, dia masih berada dalam


mode setengah tidak percaya dengan apa yang


kini telah terjadi.


"Putra Mahkota..apa maksud perkataan mu


sebenarnya.?"


"Hatiku telah menuntunku pada jalan lain. Dan


aku sendiri yang akan bertanggung jawab


untuk urusan dunia akhirat ku.!"


Raja dan Ratu sekali lagi di buat terhenyak. Ini


terlalu mengejutkan sekaligus mengguncang


bagi mereka berdua.


"Aaron.. kau sudah melangkah terlalu jauh dan


tidak memberitahu kami sedikitpun. Apakah


mungkin kau juga sudah berpindah keyakinan mengikuti keluarga istrimu.?"


"Masalah keyakinan adalah masalah prinsip.


Aku sudah lama berniat pindah keyakinan jauh sebelum bertemu dengan istriku.!"


Raja Williams dan Ratu Virginia kini terpuruk.


Ternyata Aaron sudah menempuh jalan yang


sangat jauh tanpa sepengetahuan mereka


sebagai orang tua.


Alfred Winston kini sudah tidak bisa mengontrol


emosinya lagi. Dia menatap tajam wajah Aaron, menarik tubuh Catharina agar Putri nya itu berdiri


tegak dan berani menghadapi kenyataan ini.


"Putra Mahkota.. kau telah mempermalukan keluargaku. Kalau begitu biarkan rakyat yang


akan menentukan pilihan masa depan negara


ini. Siapa yang akan berdiri di depan, dan siapa


yang hanya akan berada di belakang layar.!"


Perdana menteri Alfred menegakkan badannya


dengan sikap tegas dia kini menabuh genderang perang yang tanpa ragu dia dengungkan. Serkan


menyeringai tipis, dia maju ke hadapan Alfred


Winston dengan sikap dan gaya yang tenang


membuat pria tua yang sedang meradang itu


mundur dua langkah.


"Alfred Winston.. Aku bahkan tidak berharap


Putri ku ikut terlibat dalam urusan negara kalian.


Tapi ternyata Tuhan telah membawanya ke jalan


ini. Jadi.. kalau kau tidak ingin mundur maka aku


akan berdiri tegak di belakang putri ku untuk mendukung nya mempertahankan hak-hak nya.!"


Tegas Serkan dengan suara bariton nya yang


langsung membuat wajah Alfred Winston


semakin mengeras dan menggertakan giginya.


"Prince Ahmed..apa kau pikir dunia akan percaya


bahwa wanita yang sudah menikung jodoh Putri


ku adalah keturunan mu.? "


"Hemm..dunia memang tidak tahu, tapi seluruh


rakyat di negaraku tahu..! Dan itu cukup bagiku.!"


Serkan kembali menegaskan dengan tenang.


Alfred Winston kini melirik kearah Raja Williams


yang terlihat sedang menundukkan kepalanya.


Dia menggelengkan kepalanya melihat Sang


Raja hanya bisa terdiam tanpa komentar.


"Aku tidak bisa menerima semua ini. Kita akan


lihat seberapa besar kekuatan rakyat yang ada


di belakang ku untuk membalas penghinaan ini.!!"


Ancam Alfred Winston sambil kemudian dia


memutar tubuhnya, melangkah keluar dari


ruangan itu sambil menarik tangan Catharina


yang terlihat melirik sekilas kearah Aaron, sorot


matanya tampak di penuhi oleh kekecewaan


sekaligus kebencian. Akhirnya Ayah dan putri


itu berlalu pergi dari tempat itu di ikuti oleh para


bawahannya yang menundukkan kepala.


Raja Williams tampak memegangi kepalanya.


Semua kejadian barusan adalah sesuatu yang


sangat berat untuk di terima oleh nya, kepalanya tiba-tiba saja berputar hebat, nafasnya tersumbat


di tenggorokan dan dia tidak mampu mengambil


pasokan udara untuk di alirkan ke paru-parunya.


"Aaron..cepat bawa Ayahmu ke ruang kesehatan.!"


Serkan menangkap gelagat tidak beres. Aaron


melepas Raya dan dengan gerakan cepat dia


meraih tubuh Raja Williams yang hampir saja


ambruk di kursi kebesarannya..


Tidak lama suasana di dalam istana berubah


genting ketika Raja Williams di kabarkan tidak


sadarkan diri dan harus mendapatkan perawatan


intensive di ruang kesehatan.


Beberapa waktu berlalu...


Raya menatap berat kearah Serkan yang sudah


siap menaiki pesawat dan berniat untuk kembali


ke negaranya. Pesawat kecil itu akan membawa


nya ke bandara, dan dari sana barulah dia akan terbang dengan menggunakan jet pribadi miliknya yang super mewah dan super canggih.


"Apakah ayah harus kembali sekarang.? Tidak


bisakah Ayah menginap satu malam saja, aku


masih sangat merindukanmu.."


Lirih Raya dengan tatapan yang terlihat sangat


berat. Serkan meraih tubuh putrinya itu ke dalam


pelukannya. Sebenarnya dia juga berat untuk


meninggalkan putrinya itu. Keduanya kini saling


berpelukan erat enggan untuk terlepas. Aaron


berdiri di belakang Raya dan memperhatikan


interaksi antara ayah dan putri yang terpaksa


harus kembali berpisah itu.


"Ayah dan ibu akan datang secara resmi ke sini.


Kami akan menuntaskan semua pengesahan


akta kelahiran mu."


"Saat ini aku memerlukan kehadiran kalian berdua. Kami tidak bisa berdiri sendiri sekarang Ayah."


"Aaron akan selalu memegang prinsip yang telah


di ambilnya, jadi kau jangan khawatir.!"


"Aku takut.. situasi keamanan negara akan


semakin di luar kendali. Aaron tidak akan tega membiarkan rakyat menjadi korban."

__ADS_1


"Kita lihat apakah Tuhan akan membiarkan itu


semua terjadi atau tidak. Percayalah..suamimu


akan menangani semua nya dengan baik."


"Pastikan Ayah berada di belakang kami."


"Tentu saja, kau pikir Ayah akan membiarkan


kalian berjalan sendirian.?"


Mereka berdua kini melepaskan pelukannya.


Dengan penuh kasih Serkan mencium puncak


kepala putrinya itu. Setelah itu dia berpaling


pada Aaron yang kini sedikit mendekat.


"Aaron..jaga Putri ku baik-baik, kalau tidak.. aku


akan langsung membawanya pergi dari negara ini.!"


"Baik, jiwa ragaku akan aku pertaruhkan untuk


menjaga istri dan calon keturunan ku. Anda


tidak perlu khawatir ketua.."


"Ayah Mertua...!"


Aaron mengangkat wajahnya, bersitatap dengan


Serkan yang menyeringai tipis. Wajah Aaron kini


berubah sedikit memerah.


"Ayah mertua..!"


Desis nya ragu namun bangga. Serkan menepuk


bahu Aaron kuat, setelah itu dia menatap wajah


Raya sedikit berat, namun akhirnya dia terpaksa


melangkah pergi, kemudian naik ke atas heli dan


tidak lama langsung mengudara.


Raya memeluk Aaron menyembunyikan air mata


yang kembali memaksanya turun menyusuri wajahnya. Tiba-tiba saja ada satu perasaan tidak nyaman mengingat situasi sekarang yang akan semakin rumit dan tidak terkendali.


Jelas sekali Alfred Winston tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Dengan tegas pria penuh


ambisi itu menyatakan perang dan mengatakan


bahwa rakyat lah yang akan menentukan masa


depan negara ini. Siapa yang berhak ada di depan layar mendampingi Aaron, dan siapa yang hanya


akan menjadi istri bayangannya Putra Mahkota.


Pria tua itu tidak bisa meredam ambisinya.


"Aaron..apa yang akan terjadi pada kita setelah


ini, aku merasa situasinya akan semakin tidak


terkendali.!"


Aaron mempererat pelukannya dengan tatapan


mata menembus langit istana yang gelap gulita.


Di belakang mereka saat ini ada Arthur, Arabella,


dan seluruh bawahannya serta para petinggi


istana yang ikut mengantar Serkan ke halaman


depan. Acara makan malamnya gagal total.!!


"Jangan khawatir.. Aku akan menangani semua


nya, hanya tinggal menunggu satu langkah lagi."


"Aaron.. kau harus hati-hati dengan pergerakan


Eden Wolf dan pasukan bayangan nya. Mereka


saat ini sudah masuk ke berbagai wilayah."


Aaron menautkan alisnya, darimana Raya bisa


tahu semua itu ? Perasaan dia tidak pernah


membicarakan masalah ini dengan nya .


"Kau mengetahui semua itu.? Apa kau sudah


menjadi seorang cenayang sekarang.?"


"Aaron..!! Aku serius..!"


Raya melepaskan pelukannya sambil mencubit


kecil pinggang Aaron membuat pria itu berjingkat


geli. Raya mengkerucutkan bibirnya kesal.


"Aku tahu sayang..jangan khawatir.. Kami sudah


mengantisipasi semua kemungkinan.!"


Desis Aaron sambil meraup wajah cantik Raya


dan mendaratkan ciuman mesra di bibirnya.


bersama kemurkaan Raja Williams..!"


Ujar Aaron dengan ekspresi wajah kembali


datar dan dingin. Dengan ragu, Raya mengikuti langkah Aaron memasuki istana megah Grand


Marco Palace..


***


Waktu kini sudah semakin merayap malam..


Raja Williams masih terbaring di ranjang besar


yang ada di ruang kesehatan di temani oleh sang


Ratu dan kepala Staf istana serta kepala pengawal.


Ratu baru saja menganalisa laporan yang di bawa


oleh kepala staf istana tentang jati diri wanita yang telah berhasil menaklukkan hati Putra Mahkota.


Kondisi Raja saat ini sudah kembali sadar, hanya


saja masih kehilangan tenaga nya. Matanya kini bergulir dan saling menatap dengan mata cantik


milik istrinya yang terlihat teduh dan tenang.


"Enrique.. apakah Jenderal Serkan sudah pergi.?"


Sang Raja berpaling pada Kepala pengawal yang berdiri sedikit jauh dari ranjang pasien.


"Sudah Yang Mulya.. Beliau baru saja terbang


10 menit yang lalu."


"Aku sangat menyesal dengan kejadian ini.


Semuanya benar-benar memalukan. Nama


baik negaraku hancur gara-gara insiden ini.!"


"Suamiku.. kau jangan terlalu banyak berpikir.


Jenderal Serkan adalah Ayah nya Maharaya,


dia tidak mungkin mempermalukan kita."


Sang Ratu memegang tangan Raja Williams


sambil menatapnya tenang meyakinkan.


"Jadi gadis itu benar-benar Putrinya Serkan.?"


"Benar suamiku. Maharaya adalah Putri kandung jenderal Serkan dari istri keduanya yang berprofesi sebagai dokter pribadi Prince Serkan..!"


Raja Williams tampak merebahkan kepalanya


sambil memejamkan mata rapat. Sungguh dia


masih belum bisa mempercayai semua fakta


ini. Aaron.. putranya.. menikahi putri Jenderal


Serkan.? Bahkan dia berani mengambil langkah


yang sangat besar dengan berpindah keyakinan.!


"Ya Tuhan..ini benar-benar kejutan yang terlalu


besar. Berarti selama ini Jenderal Serkan sengaja menyembunyikan jati diri putrinya itu dari mata


dunia karena keadaan.!"


"Benar suamiku.. Tapi saat ini situasinya sudah


kondusif, jadi keluarga Sulaiman akan segera


mengenalkan Maharaya pada dunia."


Sahut Ratu Virginia. Keduanya menoleh kearah


pintu ketika ke dalam ruangan tiba-tiba muncul


Aaron, Raya, Arthur dan Arabella. Ke empat nya


kini mendekat kearah ranjang perawatan. Aaron


dan Raya berdiri di samping tempat tidur.Tatapan


Raja Williams kini jatuh seluruhnya pada sosok


Raya yang menundukkan kepala dalam.


"Kalian masih di sini.? "


Raja Williams mengeluarkan suara dengan nada


yang datar dan sedikit lemah. Aaron menyeringai


tipis dengan wajah berubah sedikit mengeras,


namun dia mencoba untuk tetap tenang. Walau bagaimanapun hatinya saat ini memang sedang kacau, sesungguhnya dia sangat mengkhawatirkan kondisi Sang Ayah.


"Bagaimana kondisi anda Yang Mulya.? Saya


mohon maaf, semua kekacauan ini terjadi


karena kehadiran saya."


Raya berucap dengan suara yang sangat pelan


di telan rasa bersalah dan penyesalan. Ratu

__ADS_1


Virginia terdiam, tapi saat ini raut wajahnya


tampak lebih tenang dan teduh.


"Kalian lihat sendiri bagaimana kondisi ku.!


Dan semua ini terjadi karena kegemparan


yang telah kalian ciptakan.!"


"Aku akan bertanggung jawab untuk ini. Besok


aku akan mengadakan konferensi pers untuk


memberikan pernyataan..!"


"Apa yang akan kau nyatakan.?"


"Aku akan meletakkan posisi ku sebagai Putra


Mahkota. Dan aku akan pergi dari istana.!"


Raja Williams sontak memegangi dadanya


sambil meringis yang langsung di rangkul oleh


Ratu Virginia. Arabella pun tampak khawatir,


dia segera naik ke atas ranjang dan memeluk


erat tubuh ayah nya itu.


"Kau..! Apa kau mau membunuhku Aaron.?


Apa kau yakin dengan keputusan mu itu.?"


"Aku bertanggung jawab dengan semua hal


yang telah terjadi. Tidak ada jalan lain aku


harus meletakkan posisi ini.!"


"Lalu.. siapa yang akan menggantikan posisi


mu hahh ? "


Raja Williams menatap hancur kearah Aaron


yang berdiri tegak dan mantap. Ekspresi wajah


nya terlihat sedatar triplek. Raya menggengam


tangan Aaron dengan kuat mencoba untuk


mengingatkan dan menenangkan jiwa pria itu.


"Arthur bisa menggantikan ku.!"


Semua orang kini terkejut, terlebih lagi bagi


Arthur sendiri. Dia segera membungkuk di


hadapan Aaron.


"Mohon maaf Yang Mulya Putra Mahkota..Tapi


saya tidak akan bisa mengambil posisi ini dari


orang yang lebih berhak !"


"Dari awal aku tidak pernah menginginkan nya.!"


"Aaron.. jangan mencekik leherku di saat aku


sedang tidak berdaya seperti ini !"


Raja Williams tampak berang, dia kini beranjak


dari tempat tidur. Raya terkejut, dia reflek maju


saat melihat Raja Williams akan menapakkan


kaki di lantai, tangannya langsung memegang


kuat tangan Sang Raja.


"Yang Mulya saya mohon tenanglah.. mmhh..!"


Raya berucap tertahan karena sedetik kemudian


dia tampak menutup mulutnya saat merasakan


perutnya tiba-tiba saja bergolak dan seketika naik tanpa aba-aba. Wajahnya kini langsung memerah dengan mata yang membulat sempurna menahan terjangan perasaan mual yang menyeruak dari


dalam perutnya. Aaron seketika panik, semua


orang menatap terkejut padanya.


"Ada apa sayang..kau mual.?"


Aaron bertanya sambil mendekat, namun belum


sempat dia meraih tubuh Raya sesaat kemudian


Raya sudah mengeluarkan isi perutnya yang tidak


bisa di tahan karena gejolak yang tanpa ampun


mendorong kuat dari dalam perutnya, tak bisa di


elakkan dia spontan mengeluarkan isi perutnya


dan tanpa permisi menyembur menyiram tubuh


Sang Raja yang berada tepat di hadapannya.


Semua orang membelalakkan mata terkesima


termasuk juga Aaron. Lain halnya dengan sang


Raja yang terlihat bengong sesaat namun sekejap


kemudian tanpa kata dia mengangkat tubuh Raya


di bawa berlari ke arah kamar mandi seolah


kembali bertenaga kuda.


Tiba di kamar mandi Raya langsung berjuang mengeluarkan seluruh isi perutnya di bantu


pijitan lembut tangan Raja Williams ditengkuk


nya sambil merapihkan rambut yang jatuh di


wajah cantik menantunya itu.


Ratu Virginia..Aaron..Arabella..dan Arthur tampak


berdiri mematung di belakang Raja Williams yang terlihat sibuk menangani keadaan Raya yang kini


mulai terlihat lebih tenang. Wajah mereka semua tampak seperti orang kesambet, apa yang terjadi


dengan Sang Raja.? Bahkan kondisinya saat ini


dalam keadaan basah kuyup tersiram isi perut menantunya yang tidak tahu sopan santun itu.!


Begitu tersadar, Aaron segera meraih tubuh Raya


ke dalam pangkuan nya karena kini istrinya itu


terkulai lemas kehilangan tenaga. Ratu Virginia


dan Arabella bergerak cepat membantu Raja


Williams melepas pakaian bagian atasnya yang


basah. Namun mata Sang Raja dan juga Ratu


kini terfokus pada Aaron yang baru saja selesai membersihkan wajah Raya dengan handuk basah.


"Aaron..jelaskan pada kami apa maksud semua


ini.? Apakah istrimu.. istrimu.. sedang hamil.?"


Raja Williams bertanya dengan suara bergetar


dan tatapan tajam seolah menguliti sosok Raya


dan Aaron yang kini bersiap untuk melangkah.


Aaron melirik, menatap kedua orang tuanya


secara bergantian. Sementara Raya terlihat


merebahkan kepalanya di dada bidang Aaron


sambil memejamkan matanya rapat menahan


rasa pusing di kepalanya.


"Inilah salah satu alasan kenapa aku sangat


mencintainya. Karena dia adalah wanita yang


akan menjadi ibu dari anak-anakku..!!"


"Apa ?? Dia benar-benar hamil.??"


Raja Williams, Ratu Virginia dan Arabella kini


berseru bersamaan. Hanya Arthur yang terdiam


dan hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar.


"Iya..istriku sedang mengandung, saat ini sudah menginjak minggu ke 6..! "


"Astaga...!! Ini tidak mungkin..! Dia benar-benar


bisa mengandung benih mu Aaron.? Kenapa


kamu tidak mengatakannya dari awal.?"


Raja Williams tampak lupa daratan. Dia jatuh


terduduk di lantai kamar mandi dengan tatapan


yang terlihat begitu terkejut sekaligus bahagia.


"Ibu..!!"


Sepersekian detik Arabella kembali memekik


saat tubuh Ratu Virginia ambruk tak sadarkan


diri dalam rengkuhannya. Aaron menatap kedua


orang tuannya dengan sorot mata datar namun


ada seringai tipis di sudut bibirnya.


"Arthur.. tangani mereka baik-baik. Aku harus


mengamankan istri ku.!"


"Baik.. laksanakan..!"


Arthur bergerak cepat memangku tubuh Ratu


Virginia dari rangkulan Arabella. Sementara Aaron


berlalu pergi menggendong tubuh Raya keluar


dari ruangan itu dan langsung menuju keluar

__ADS_1


dari Grand Marco Palace..


***


__ADS_2