
***
"Putra Mahkota.. kau tidak bisa menikah dengan
sembarang wanita tanpa memberitahu keluarga.
Kalian juga berbeda keyakinan.. Itu tidak bisa di
benarkan.!"
Alfred Winston kini meradang, dia memegang
tangan Catharina yang berdiri goyah di sebelah
nya, gadis elegan itu benar-benar kehilangan
tenaganya.
"Perdana Menteri..Hidupku adalah milikku. Aku
punya hak menentukan jalan hidupku sendiri.
Dan tidak ada seorangpun yang bisa melawan
takdir Tuhan. Aku sudah membuktikan sendiri
semua itu.!"
Tegas Aaron sambil menatap tajam wajah Alfred Winston yang semakin gemetar menahan amarah,
mungkin sesaat lagi akan meledak.
Raja Williams mengangkat wajahnya yang masih
terlihat sedikit memucat, dia masih berada dalam
mode setengah tidak percaya dengan apa yang
kini telah terjadi.
"Putra Mahkota..apa maksud perkataan mu
sebenarnya.?"
"Hatiku telah menuntunku pada jalan lain. Dan
aku sendiri yang akan bertanggung jawab
untuk urusan dunia akhirat ku.!"
Raja dan Ratu sekali lagi di buat terhenyak. Ini
terlalu mengejutkan sekaligus mengguncang
bagi mereka berdua.
"Aaron.. kau sudah melangkah terlalu jauh dan
tidak memberitahu kami sedikitpun. Apakah
mungkin kau juga sudah berpindah keyakinan mengikuti keluarga istrimu.?"
"Masalah keyakinan adalah masalah prinsip.
Aku sudah lama berniat pindah keyakinan jauh sebelum bertemu dengan istriku.!"
Raja Williams dan Ratu Virginia kini terpuruk.
Ternyata Aaron sudah menempuh jalan yang
sangat jauh tanpa sepengetahuan mereka
sebagai orang tua.
Alfred Winston kini sudah tidak bisa mengontrol
emosinya lagi. Dia menatap tajam wajah Aaron, menarik tubuh Catharina agar Putri nya itu berdiri
tegak dan berani menghadapi kenyataan ini.
"Putra Mahkota.. kau telah mempermalukan keluargaku. Kalau begitu biarkan rakyat yang
akan menentukan pilihan masa depan negara
ini. Siapa yang akan berdiri di depan, dan siapa
yang hanya akan berada di belakang layar.!"
Perdana menteri Alfred menegakkan badannya
dengan sikap tegas dia kini menabuh genderang perang yang tanpa ragu dia dengungkan. Serkan
menyeringai tipis, dia maju ke hadapan Alfred
Winston dengan sikap dan gaya yang tenang
membuat pria tua yang sedang meradang itu
mundur dua langkah.
"Alfred Winston.. Aku bahkan tidak berharap
Putri ku ikut terlibat dalam urusan negara kalian.
Tapi ternyata Tuhan telah membawanya ke jalan
ini. Jadi.. kalau kau tidak ingin mundur maka aku
akan berdiri tegak di belakang putri ku untuk mendukung nya mempertahankan hak-hak nya.!"
Tegas Serkan dengan suara bariton nya yang
langsung membuat wajah Alfred Winston
semakin mengeras dan menggertakan giginya.
"Prince Ahmed..apa kau pikir dunia akan percaya
bahwa wanita yang sudah menikung jodoh Putri
ku adalah keturunan mu.? "
"Hemm..dunia memang tidak tahu, tapi seluruh
rakyat di negaraku tahu..! Dan itu cukup bagiku.!"
Serkan kembali menegaskan dengan tenang.
Alfred Winston kini melirik kearah Raja Williams
yang terlihat sedang menundukkan kepalanya.
Dia menggelengkan kepalanya melihat Sang
Raja hanya bisa terdiam tanpa komentar.
"Aku tidak bisa menerima semua ini. Kita akan
lihat seberapa besar kekuatan rakyat yang ada
di belakang ku untuk membalas penghinaan ini.!!"
Ancam Alfred Winston sambil kemudian dia
memutar tubuhnya, melangkah keluar dari
ruangan itu sambil menarik tangan Catharina
yang terlihat melirik sekilas kearah Aaron, sorot
matanya tampak di penuhi oleh kekecewaan
sekaligus kebencian. Akhirnya Ayah dan putri
itu berlalu pergi dari tempat itu di ikuti oleh para
bawahannya yang menundukkan kepala.
Raja Williams tampak memegangi kepalanya.
Semua kejadian barusan adalah sesuatu yang
sangat berat untuk di terima oleh nya, kepalanya tiba-tiba saja berputar hebat, nafasnya tersumbat
di tenggorokan dan dia tidak mampu mengambil
pasokan udara untuk di alirkan ke paru-parunya.
"Aaron..cepat bawa Ayahmu ke ruang kesehatan.!"
Serkan menangkap gelagat tidak beres. Aaron
melepas Raya dan dengan gerakan cepat dia
meraih tubuh Raja Williams yang hampir saja
ambruk di kursi kebesarannya..
Tidak lama suasana di dalam istana berubah
genting ketika Raja Williams di kabarkan tidak
sadarkan diri dan harus mendapatkan perawatan
intensive di ruang kesehatan.
Beberapa waktu berlalu...
Raya menatap berat kearah Serkan yang sudah
siap menaiki pesawat dan berniat untuk kembali
ke negaranya. Pesawat kecil itu akan membawa
nya ke bandara, dan dari sana barulah dia akan terbang dengan menggunakan jet pribadi miliknya yang super mewah dan super canggih.
"Apakah ayah harus kembali sekarang.? Tidak
bisakah Ayah menginap satu malam saja, aku
masih sangat merindukanmu.."
Lirih Raya dengan tatapan yang terlihat sangat
berat. Serkan meraih tubuh putrinya itu ke dalam
pelukannya. Sebenarnya dia juga berat untuk
meninggalkan putrinya itu. Keduanya kini saling
berpelukan erat enggan untuk terlepas. Aaron
berdiri di belakang Raya dan memperhatikan
interaksi antara ayah dan putri yang terpaksa
harus kembali berpisah itu.
"Ayah dan ibu akan datang secara resmi ke sini.
Kami akan menuntaskan semua pengesahan
akta kelahiran mu."
"Saat ini aku memerlukan kehadiran kalian berdua. Kami tidak bisa berdiri sendiri sekarang Ayah."
"Aaron akan selalu memegang prinsip yang telah
di ambilnya, jadi kau jangan khawatir.!"
"Aku takut.. situasi keamanan negara akan
semakin di luar kendali. Aaron tidak akan tega membiarkan rakyat menjadi korban."
__ADS_1
"Kita lihat apakah Tuhan akan membiarkan itu
semua terjadi atau tidak. Percayalah..suamimu
akan menangani semua nya dengan baik."
"Pastikan Ayah berada di belakang kami."
"Tentu saja, kau pikir Ayah akan membiarkan
kalian berjalan sendirian.?"
Mereka berdua kini melepaskan pelukannya.
Dengan penuh kasih Serkan mencium puncak
kepala putrinya itu. Setelah itu dia berpaling
pada Aaron yang kini sedikit mendekat.
"Aaron..jaga Putri ku baik-baik, kalau tidak.. aku
akan langsung membawanya pergi dari negara ini.!"
"Baik, jiwa ragaku akan aku pertaruhkan untuk
menjaga istri dan calon keturunan ku. Anda
tidak perlu khawatir ketua.."
"Ayah Mertua...!"
Aaron mengangkat wajahnya, bersitatap dengan
Serkan yang menyeringai tipis. Wajah Aaron kini
berubah sedikit memerah.
"Ayah mertua..!"
Desis nya ragu namun bangga. Serkan menepuk
bahu Aaron kuat, setelah itu dia menatap wajah
Raya sedikit berat, namun akhirnya dia terpaksa
melangkah pergi, kemudian naik ke atas heli dan
tidak lama langsung mengudara.
Raya memeluk Aaron menyembunyikan air mata
yang kembali memaksanya turun menyusuri wajahnya. Tiba-tiba saja ada satu perasaan tidak nyaman mengingat situasi sekarang yang akan semakin rumit dan tidak terkendali.
Jelas sekali Alfred Winston tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Dengan tegas pria penuh
ambisi itu menyatakan perang dan mengatakan
bahwa rakyat lah yang akan menentukan masa
depan negara ini. Siapa yang berhak ada di depan layar mendampingi Aaron, dan siapa yang hanya
akan menjadi istri bayangannya Putra Mahkota.
Pria tua itu tidak bisa meredam ambisinya.
"Aaron..apa yang akan terjadi pada kita setelah
ini, aku merasa situasinya akan semakin tidak
terkendali.!"
Aaron mempererat pelukannya dengan tatapan
mata menembus langit istana yang gelap gulita.
Di belakang mereka saat ini ada Arthur, Arabella,
dan seluruh bawahannya serta para petinggi
istana yang ikut mengantar Serkan ke halaman
depan. Acara makan malamnya gagal total.!!
"Jangan khawatir.. Aku akan menangani semua
nya, hanya tinggal menunggu satu langkah lagi."
"Aaron.. kau harus hati-hati dengan pergerakan
Eden Wolf dan pasukan bayangan nya. Mereka
saat ini sudah masuk ke berbagai wilayah."
Aaron menautkan alisnya, darimana Raya bisa
tahu semua itu ? Perasaan dia tidak pernah
membicarakan masalah ini dengan nya .
"Kau mengetahui semua itu.? Apa kau sudah
menjadi seorang cenayang sekarang.?"
"Aaron..!! Aku serius..!"
Raya melepaskan pelukannya sambil mencubit
kecil pinggang Aaron membuat pria itu berjingkat
geli. Raya mengkerucutkan bibirnya kesal.
"Aku tahu sayang..jangan khawatir.. Kami sudah
mengantisipasi semua kemungkinan.!"
Desis Aaron sambil meraup wajah cantik Raya
dan mendaratkan ciuman mesra di bibirnya.
bersama kemurkaan Raja Williams..!"
Ujar Aaron dengan ekspresi wajah kembali
datar dan dingin. Dengan ragu, Raya mengikuti langkah Aaron memasuki istana megah Grand
Marco Palace..
***
Waktu kini sudah semakin merayap malam..
Raja Williams masih terbaring di ranjang besar
yang ada di ruang kesehatan di temani oleh sang
Ratu dan kepala Staf istana serta kepala pengawal.
Ratu baru saja menganalisa laporan yang di bawa
oleh kepala staf istana tentang jati diri wanita yang telah berhasil menaklukkan hati Putra Mahkota.
Kondisi Raja saat ini sudah kembali sadar, hanya
saja masih kehilangan tenaga nya. Matanya kini bergulir dan saling menatap dengan mata cantik
milik istrinya yang terlihat teduh dan tenang.
"Enrique.. apakah Jenderal Serkan sudah pergi.?"
Sang Raja berpaling pada Kepala pengawal yang berdiri sedikit jauh dari ranjang pasien.
"Sudah Yang Mulya.. Beliau baru saja terbang
10 menit yang lalu."
"Aku sangat menyesal dengan kejadian ini.
Semuanya benar-benar memalukan. Nama
baik negaraku hancur gara-gara insiden ini.!"
"Suamiku.. kau jangan terlalu banyak berpikir.
Jenderal Serkan adalah Ayah nya Maharaya,
dia tidak mungkin mempermalukan kita."
Sang Ratu memegang tangan Raja Williams
sambil menatapnya tenang meyakinkan.
"Jadi gadis itu benar-benar Putrinya Serkan.?"
"Benar suamiku. Maharaya adalah Putri kandung jenderal Serkan dari istri keduanya yang berprofesi sebagai dokter pribadi Prince Serkan..!"
Raja Williams tampak merebahkan kepalanya
sambil memejamkan mata rapat. Sungguh dia
masih belum bisa mempercayai semua fakta
ini. Aaron.. putranya.. menikahi putri Jenderal
Serkan.? Bahkan dia berani mengambil langkah
yang sangat besar dengan berpindah keyakinan.!
"Ya Tuhan..ini benar-benar kejutan yang terlalu
besar. Berarti selama ini Jenderal Serkan sengaja menyembunyikan jati diri putrinya itu dari mata
dunia karena keadaan.!"
"Benar suamiku.. Tapi saat ini situasinya sudah
kondusif, jadi keluarga Sulaiman akan segera
mengenalkan Maharaya pada dunia."
Sahut Ratu Virginia. Keduanya menoleh kearah
pintu ketika ke dalam ruangan tiba-tiba muncul
Aaron, Raya, Arthur dan Arabella. Ke empat nya
kini mendekat kearah ranjang perawatan. Aaron
dan Raya berdiri di samping tempat tidur.Tatapan
Raja Williams kini jatuh seluruhnya pada sosok
Raya yang menundukkan kepala dalam.
"Kalian masih di sini.? "
Raja Williams mengeluarkan suara dengan nada
yang datar dan sedikit lemah. Aaron menyeringai
tipis dengan wajah berubah sedikit mengeras,
namun dia mencoba untuk tetap tenang. Walau bagaimanapun hatinya saat ini memang sedang kacau, sesungguhnya dia sangat mengkhawatirkan kondisi Sang Ayah.
"Bagaimana kondisi anda Yang Mulya.? Saya
mohon maaf, semua kekacauan ini terjadi
karena kehadiran saya."
Raya berucap dengan suara yang sangat pelan
di telan rasa bersalah dan penyesalan. Ratu
__ADS_1
Virginia terdiam, tapi saat ini raut wajahnya
tampak lebih tenang dan teduh.
"Kalian lihat sendiri bagaimana kondisi ku.!
Dan semua ini terjadi karena kegemparan
yang telah kalian ciptakan.!"
"Aku akan bertanggung jawab untuk ini. Besok
aku akan mengadakan konferensi pers untuk
memberikan pernyataan..!"
"Apa yang akan kau nyatakan.?"
"Aku akan meletakkan posisi ku sebagai Putra
Mahkota. Dan aku akan pergi dari istana.!"
Raja Williams sontak memegangi dadanya
sambil meringis yang langsung di rangkul oleh
Ratu Virginia. Arabella pun tampak khawatir,
dia segera naik ke atas ranjang dan memeluk
erat tubuh ayah nya itu.
"Kau..! Apa kau mau membunuhku Aaron.?
Apa kau yakin dengan keputusan mu itu.?"
"Aku bertanggung jawab dengan semua hal
yang telah terjadi. Tidak ada jalan lain aku
harus meletakkan posisi ini.!"
"Lalu.. siapa yang akan menggantikan posisi
mu hahh ? "
Raja Williams menatap hancur kearah Aaron
yang berdiri tegak dan mantap. Ekspresi wajah
nya terlihat sedatar triplek. Raya menggengam
tangan Aaron dengan kuat mencoba untuk
mengingatkan dan menenangkan jiwa pria itu.
"Arthur bisa menggantikan ku.!"
Semua orang kini terkejut, terlebih lagi bagi
Arthur sendiri. Dia segera membungkuk di
hadapan Aaron.
"Mohon maaf Yang Mulya Putra Mahkota..Tapi
saya tidak akan bisa mengambil posisi ini dari
orang yang lebih berhak !"
"Dari awal aku tidak pernah menginginkan nya.!"
"Aaron.. jangan mencekik leherku di saat aku
sedang tidak berdaya seperti ini !"
Raja Williams tampak berang, dia kini beranjak
dari tempat tidur. Raya terkejut, dia reflek maju
saat melihat Raja Williams akan menapakkan
kaki di lantai, tangannya langsung memegang
kuat tangan Sang Raja.
"Yang Mulya saya mohon tenanglah.. mmhh..!"
Raya berucap tertahan karena sedetik kemudian
dia tampak menutup mulutnya saat merasakan
perutnya tiba-tiba saja bergolak dan seketika naik tanpa aba-aba. Wajahnya kini langsung memerah dengan mata yang membulat sempurna menahan terjangan perasaan mual yang menyeruak dari
dalam perutnya. Aaron seketika panik, semua
orang menatap terkejut padanya.
"Ada apa sayang..kau mual.?"
Aaron bertanya sambil mendekat, namun belum
sempat dia meraih tubuh Raya sesaat kemudian
Raya sudah mengeluarkan isi perutnya yang tidak
bisa di tahan karena gejolak yang tanpa ampun
mendorong kuat dari dalam perutnya, tak bisa di
elakkan dia spontan mengeluarkan isi perutnya
dan tanpa permisi menyembur menyiram tubuh
Sang Raja yang berada tepat di hadapannya.
Semua orang membelalakkan mata terkesima
termasuk juga Aaron. Lain halnya dengan sang
Raja yang terlihat bengong sesaat namun sekejap
kemudian tanpa kata dia mengangkat tubuh Raya
di bawa berlari ke arah kamar mandi seolah
kembali bertenaga kuda.
Tiba di kamar mandi Raya langsung berjuang mengeluarkan seluruh isi perutnya di bantu
pijitan lembut tangan Raja Williams ditengkuk
nya sambil merapihkan rambut yang jatuh di
wajah cantik menantunya itu.
Ratu Virginia..Aaron..Arabella..dan Arthur tampak
berdiri mematung di belakang Raja Williams yang terlihat sibuk menangani keadaan Raya yang kini
mulai terlihat lebih tenang. Wajah mereka semua tampak seperti orang kesambet, apa yang terjadi
dengan Sang Raja.? Bahkan kondisinya saat ini
dalam keadaan basah kuyup tersiram isi perut menantunya yang tidak tahu sopan santun itu.!
Begitu tersadar, Aaron segera meraih tubuh Raya
ke dalam pangkuan nya karena kini istrinya itu
terkulai lemas kehilangan tenaga. Ratu Virginia
dan Arabella bergerak cepat membantu Raja
Williams melepas pakaian bagian atasnya yang
basah. Namun mata Sang Raja dan juga Ratu
kini terfokus pada Aaron yang baru saja selesai membersihkan wajah Raya dengan handuk basah.
"Aaron..jelaskan pada kami apa maksud semua
ini.? Apakah istrimu.. istrimu.. sedang hamil.?"
Raja Williams bertanya dengan suara bergetar
dan tatapan tajam seolah menguliti sosok Raya
dan Aaron yang kini bersiap untuk melangkah.
Aaron melirik, menatap kedua orang tuanya
secara bergantian. Sementara Raya terlihat
merebahkan kepalanya di dada bidang Aaron
sambil memejamkan matanya rapat menahan
rasa pusing di kepalanya.
"Inilah salah satu alasan kenapa aku sangat
mencintainya. Karena dia adalah wanita yang
akan menjadi ibu dari anak-anakku..!!"
"Apa ?? Dia benar-benar hamil.??"
Raja Williams, Ratu Virginia dan Arabella kini
berseru bersamaan. Hanya Arthur yang terdiam
dan hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar.
"Iya..istriku sedang mengandung, saat ini sudah menginjak minggu ke 6..! "
"Astaga...!! Ini tidak mungkin..! Dia benar-benar
bisa mengandung benih mu Aaron.? Kenapa
kamu tidak mengatakannya dari awal.?"
Raja Williams tampak lupa daratan. Dia jatuh
terduduk di lantai kamar mandi dengan tatapan
yang terlihat begitu terkejut sekaligus bahagia.
"Ibu..!!"
Sepersekian detik Arabella kembali memekik
saat tubuh Ratu Virginia ambruk tak sadarkan
diri dalam rengkuhannya. Aaron menatap kedua
orang tuannya dengan sorot mata datar namun
ada seringai tipis di sudut bibirnya.
"Arthur.. tangani mereka baik-baik. Aku harus
mengamankan istri ku.!"
"Baik.. laksanakan..!"
Arthur bergerak cepat memangku tubuh Ratu
Virginia dari rangkulan Arabella. Sementara Aaron
berlalu pergi menggendong tubuh Raya keluar
dari ruangan itu dan langsung menuju keluar
__ADS_1
dari Grand Marco Palace..
***