Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
42. Kencan Buta


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya mulai panas dingin melihat bagaimana


Aaron dan model tersebut saling menatap kuat.


Ada rasa tidak nyaman yang kini di rasakan nya,


ingin sekali dia menarik wajah Aaron agar tidak


fokus pada wanita itu. Dasar laki-laki buaya.!!


Hei.. tapi kenapa dia harus peduli akan hal itu.?


Bukankah dari tadi semua mata para model


sudah terfokus pada keberadaan suaminya ini?


Haa.. iya suami yang di idolakan semua wanita


tapi tidak bagi dirinya, tidak sama sekali.! Dia


mencoba untuk tidak peduli pada semua ini.


Bukan hanya Raya, Catharina bahkan tidak


bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Dia


kini menggenggam erat tangan Aaron sambil menatapnya kuat mencoba mengingatkan


agar pria itu sadar bahwa di sini ada dirinya.


Namun Aaron tampak santai saja, dia masih


di posisi duduk elegan nya dengan tatapan


yang mengarah pada model tersebut yang kini


semakin mendekat. Semua mata juga saat ini


mengarah pada pergerakan model tersebut.


Model super cantik yang memiliki kesempurnaan


bentuk tubuh itu kini sudah ada di hadapan Aaron,


dia membungkuk hormat dengan gestur tubuh


yang sangat anggun dan halus, serta senyum


indah yang terlukis di bibir merah merona nya.


"Selamat malam Yang Mulya, senang sekali


bisa berada di sini dan bertemu dengan anda."


Dia berucap dengan lembut dan manis seraya


mengulurkan sebuket bunga cantik pada Aaron


yang kini ikut berdiri dan berhadapan dengan


model cantik itu. Dia menerima bunga tersebut.


Mata mereka kembali bertemu, wajah model


itu tampak bersemu merah. Jiwanya langsung


meronta menyaksikan bagaimana tampannya


Sang Pangeran, dia benar-benar tidak menduga


sama sekali kalau Pangeran yang sudah punya


agenda kencan dengan nya ternyata aslinya


se gagah ini.


Catharina ikut berdiri, menatap tajam model


cantik itu. Wajahnya tampak sudah memerah


terbakar api cemburu.


"Terimakasih bunga nya Miss Praba.. silahkan


anda kembali ke panggung dan selesaikan


tugasnya dengan baik dan benar..!"


Ujar Catharina sambil kemudian meraih bunga


tersebut dari tangan Aaron. Model cantik tadi


atau Praba terlihat santai saja, berpaling pada


Catharina , kemudian menundukan kepalanya


sedikit sambil tersenyum lembut.


"Sama-sama lady Catharina.. selamat malam.


Ini adalah sambutan dari kami para model


untuk kehadiran Yang Mulya Prince Marvell..


Kalau begitu saya permisi..!"


Sang model kembali menatap lembut wajah


Aaron seraya memberi isyarat lewat kerjap mata indahnya. Dia memutar tubuhnya dengan halus


lalu berjalan kembali dengan anggun sambil melambaikan tangan kepada semua audience,


di sambut tepuk tangan meriah semua hadirin.


Model ini baru beberapa bulan yang lalu meraih


gelar sebagai model tercantik di dunia, jadi tidak


heran kalau namanya masih menjadi topik hangat perbincangan di dunia maya dan dia juga sangat


di idolakan oleh orang-orang kalangan atas karena paras wajahnya yang benar-benar cantik alami.


Aaron kembali duduk dengan tenang dengan


ekspresi datarnya. Sudut matanya kini melirik


sekilas kearah Raya yang terlihat tidak peduli


dan memalingkan pandangannya ke arah lain.


Rahang Aaron sedikit mengeras saat menyadari


mata Raya sedang saling melihat dengan Lucas.


"Miss Raya.. tolong buang ini.!"


Catharina menoleh kearah belakang kemudian


menyimpan buket bunga tadi di atas pangkuan


Raya yang langsung terkejut menatap bunga itu


lalu melihat kearah Catharina yang terlihat


sedang memasang wajah kesal.


"Kenapa harus di buang lady, sayang kan ?"


Raya meraih bunga itu dan melihatnya secara


seksama, buket bunga itu sangat lah indah.


"Kalau kau menyukainya.. silahkan ambil.!"


Ketus Catharina sambil melirik kearah Aaron


yang terlihat acuh, memfokuskan perhatiannya


kembali keatas panggung dimana para model


kini mengakhiri pentasnya dengan melambai


dan memutar tubuh berjalan teratur berbalik


kembali ke belakang panggung.


"Biar Alex saja yang simpan. Kalau kau mau


aku bisa memberikannya satu toko langsung.


Kalau perlu sama kebun nya sekalian biar


kau puas.!"


Kali ini Ansel tidak bisa diam lagi, dia meraih


bunga itu dari tangan Raya yang langsung


mengerucutkan bibirnya. Ansel menyerahkan


bunga itu pada Alex yang entah kapan datang


tiba-tiba saja sudah ada dekat mereka.


"Kau sangat berlebihan Tuan Ansel.!"


Raya menatap jengah wajah Ansel yang terlihat


tersenyum tenang, sedang Catharina ikut-ikutan


mengulum senyum mendengar bualan Ansel


untuk Sektretaris Pribadi calon tunangannya itu.


Dia sungguh tidak mengerti kenapa wanita ini


bisa merebut perhatian semua pria yang ada


di dekatnya, termasuk juga dengan Kakak nya


yang sudah sangat terobsesi padanya. Apa sih


yang menarik dari wanita biasa seperti dia?


Sementara di kursi depan, begitu mendengar


bualan Ansel barusan, tampang Aaron tampak


semakin dingin dan tak terbaca.


Dasar ******** kecil.. Belum kapok juga dia


rupanya..!


Acara terus bergulir, hingga kini sampailah


pada puncak acara yakni pemberian anugerah


dan penghargaan bagi para pengusaha sukses


yang telah berkontribusi besar untuk keberhasilan


dan pencapaian pembangunan di negara ini serta


turut berperan penting dalam setiap kemajuan


yang di capai negara ini dalam segala bidang.


Akhirnya Aaron di panggil untuk menyerahkan

__ADS_1


dan memberikan ucapan selamat kepada semua


pengusaha yang berhasil menyabet penghargaan khusus yang di berikan oleh istana ini.


"Ikut naik bersama ku..!"


Aaron yang sudah berdiri dan bersiap tampak


melirik kearah Raya yang bengong di tempat.


"Hahh.. kenapa aku harus ikut naik.?"


Raya tampak berdiri, menatap Aaron penuh


tanda tanya. Catharina juga tidak kalah bingung.


Ansel kini ikut berdiri di samping Raya.


"Naiklah bersama Kakak, setelah ini Kakak


akan langsung keluar lewat belakang.!"


Ansel memberi penjelasan. Raya merapihkan


gaun yang di pakainya. Catharina pun kini ikut


berdiri, meraih tangan Aaron dan memegang


nya kuat.


"Apa kau masih ada agenda lain semalam ini


Yang Mulya.?"


Aaron melirik Catharina, keduanya kini saling


memandang, tepat di depan mata Raya yang


langsung melempar pandangan nya.


"Aku ada satu pertemuan penting. Kau tetap


di sini sampai acara selesai.!"


Catharina terhenyak, dia sudah bisa menebak


pertemuan seperti apa yang akan di hadiri oleh


Aaron setelah ini. Tanpa kata lagi Aaron mulai melangkah dengan tenang dan gagah ke atas


panggung di ikuti oleh Raya yang sedikit ragu


dan canggung. Kenapa dia harus ikut naik juga,


dia kan bisa langsung menunggu di belakang


saja tanpa harus ikut naik keatas panggung.


Dasar manusia aneh , selalu saja seenaknya.!


Alex setia mengawal di belakang mereka


sebagai ajudan pribadi Aaron.


Semua hadirin kembali terpana begitu Aaron


berjalan tenang menaiki panggung bersama


dengan Raya yang berada di belakang nya.


Begitu tiba di atas panggung beberapa staf


istana yang membawakan penghargaan dan


buket bunga mengikuti langkah Aaron.


"Selamat untuk kalian semua dan terimakasih


atas kontribusi nya selama ini pada negara."


Aaron berucap tegas dan berwibawa di depan


para pengusaha itu yang menundukkan kepala.


"Terimakasih Yang Mulya.. Itu semua sudah


menjadi kewajiban kita bersama."


Sahut mereka hampir bersamaan dengan tegas.


Aaron langsung menyalami 5 pengusaha yang


mendapat anugerah dan penghargaan tersebut.


Mereka semua tampak sangat bersemangat dan


membungkuk setengah badan di hadapan Sang


Pangeran begitu Aaron membagikan piagam dan


buket bunga pada mereka yang di ambil terlebih


dahulu oleh Raya dari tangan pembawanya.


Setelah selesai dengan kegiatan itu, kini Aaron


naik ke atas podium yang ada di tengah-tengah


panggung untuk memberikan sambutan khusus


atas terselenggaranya acara ini. Raya berdiri di


belakang nya, membuat konsentrasi para tamu


pecah pada kedua sosok yang terlihat begitu


memukau tersebut. Ada decak kagum yang kini


keserasian pasangan tersebut diatas panggung.


Semua orang mendengarkan penuturan Aaron


yang tegas, lugas dan tanpa basa-basi hingga


akhirnya Aaron mengakhiri sambutannya.


Setelah semua selesai, Aaron segera turun


dari atas podium kemudian berjalan ke bagian


belakang panggung. Begitu mereka menuruni


tangga tangan Aaron langsung menggenggam


erat tangan Raya saat melihat keberadaan Ansel


yang sudah menunggu dengan menatap lekat


wajah Raya.


"Turunkan pandangan mu.! Dia adalah kakak


iparmu.! Apa kau mau aku benar-benar


memecahkan kepalamu.?"


Aaron menatap Ansel penuh dengan ancaman


dan kekesalan. Pria menawan itu langsung saja


menundukkan kepalanya.


"Maa Kakak.! Aku benar-benar tidak bisa


mengalihkan perhatian ku darinya.!"


Pluk !


"Dasar ******** kecil.! Coba saja kalau kamu


berani macam-macam lagi di belakang ku.!"


Aaron memukul kepala Ansel sambil kembali


berjalan menyeret langkah Raya yang mencoba


menarik tangan nya karena kini mulai terasa


sedikit sakit akibat cengkeraman kuat Aaron.


"Bagaimana.. apa semuanya sudah siap.?"


Aaron bertanya masih dengan langkah tegap


dan lurus tidak peduli pada penghormatan


dan sapaan orang-orang yang ada di sekitar


koridor yang mereka lewati.


"Sudah Kak, dia sudah menunggu."


Ansel menjawab seraya melirik sekilas kearah


Raya yang masih tidak henti mencoba melepas


pergelangan tangannya dari genggaman Aaron.


"Aaron lepaskan tanganku, aku ingin pulang


sendiri.! Tugasku sudah selesai kan.?"


Aaron menghentikan langkahnya seketika.


Dan otomatis rombongan pengawalnya pun


turut mengerem langkah mereka. Semua


membeku, kaku dan tegang begitu melihat


wajah Aaron kini mengeras, tatapannya terlihat


menyemburkan hawa dingin yang membuat


semua orang menundukkan kepala dalam.


"Ikuti prosedur yang aku tetapkan.! Atau kau


tidak akan melihat hari esok dengan tenang.!"


Suara Aaron terdengar berat penuh dengan


intimidasi. Keduanya saling menatap kuat.


"Aku lelah, aku ingin istirahat sekarang.!".


Decak Raya tidak peduli tatapan mata Aaron


yang penuh dengan ancaman.


"Kau bisa istirahat setelah aku memberikan


izin untuk istirahat.!"


"Apa.? Kenapa kamu jahat sekali.? Aku ini


manusia, aku bukan robot Tuan Marvell.!"


"Aku yang menentukan segalanya.! Ikuti saja


peraturan yang aku tetapkan !"

__ADS_1


Dalam sekali gerakan Aaron kembali menarik


dan memegang erat tangan Raya yang hanya


bisa memejamkan mata menahan serbuan


kemarahan dan rasa tidak terima atas sikap


otoriter bos jahatnya itu.


Mereka semua akhirnya kembali melangkah


keluar dari ruang belakang dan kini menuju


lobby utama. Semua prajurit penjaga tampak


membungkuk hormat di setiap sudut tempat


begitu melihat kemunculan Aaron. Ternyata


area itu sudah steril, tidak ada lagi warga sipil


yang berkeliaran di sana. Hal ini membuat


Raya sedikit menautkan alisnya.


Limousine super mewah yang jadi kendaraan


dinas Aaron sebagai seorang Putra Mahkota


tampak sudah terparkir gagah di depan pintu


masuk lobby dengan keadaan pintu utama yang


sudah terbuka dan beberapa prajurit berbaris di


kedua sisi bagian. Dengan terpaksa Raya kembali


masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Namun


apa yang dia lihat kemudian membuat matanya melebar tidak percaya. Apa-apaan ini.??


"Selamat malam Yang Mulya.."


Ada sapaan lembut dari sesosok wanita super


cantik yang tengah duduk anggun di jok utama


dengan senyum manis menggoda. Dia duduk


tumpang kaki memperlihatkan paha indahnya


yang sedikit terbuka karena model gaun nya


yang memiliki belah pinggir. Raya membeku,


menatap tajam sosok memukau itu, model


cantik tadi ada di dalam mobil ini ?


"Selamat malam Miss Praba.."


Sahut Aaron sambil kemudian duduk tenang


di kursi singel yang biasa di gunakan olehnya


tepat di hadapan model cantik itu. Raya masih


tidak berkutik di tempat nya berjongkok.


"Hi.. Miss sekretaris.. apakah anda masih akan


berdiam di sana ?"


Praba menatap Raya dengan senyum ramah


yang terukir di bibir sensualnya membuat Raya


memalingkan wajahnya kemudian bergerak.


"Maaf..Saya akan duduk di belakang saja."


"Cepat duduk.!!"


Dengan cepat Aaron menarik kencang tangan


Raya hingga akhirnya dia terduduk paksa di


sebelah Praba, tapi berbeda jok. Mobil pun kini


mulai melaju tenang meninggalkan kawasan


gedung megah tersebut. Tubuh Raya rasanya


kini panas dingin. Apa-apaan ini.? Apakah bos


jahatnya itu akan melakukan pertemuan khusus


dengan model ini ? Itu artinya mereka akan


melakukan kencan semalam.?


"Maaf Yang Mulya.. adakah rencana anda


untuk kita malam ini.?"


Praba menuang minuman yang tersedia


di mobil itu ke dalam gelas kecil kemudian


mengulurkan nya dengan sopan ke hadapan


Aaron yang langsung menerima nya. Mata


mereka tampak saling pandang lekat dan hal


itu jelas terlihat oleh Raya yang ada di hadapan


Aaron. Raya segera memalingkan mukanya.


"Kita akan dinner dulu sebentar, setelah itu


barulah ke hotel.!"


Aaron berbicara dengan entengnya membuat


Raya semakin memalingkan wajahnya dengan


mata terpejam kuat. Sebenarnya apa yang di


inginkan oleh laki-laki jahat ini, kenapa dia harus


melibatkan dirinya dalam kencan buta nya.??


Tuhan.. tolong kuatkan hatiku untuk melewati


semua pemandangan menjijikkan ini..


"Apakah tidak sebaiknya kalau kita langsung


saja ke hotel, kita bisa makan malam berdua


di dalam kamar."


Terdengar lagi suara Praba yang kali ini semakin


serak sensual. Seperti nya wanita itu sudah tidak


bisa menahan dirinya untuk segera menikmati


malam panjang nya bersama Sang Pangeran.


"Seperti nya itu ide bagus.!"


Sambut Aaron santai masih menatap gelas kecil


di tangan nya dan belum meminum nya. Cairan


bening tiba-tiba saja keluar dari sudut mata Raya. Tidak, dia benar-benar tidak sanggup kalau harus


terus berada di dalam mobil ini bersama dengan


dua orang gila itu.!


"Malam ini..tubuh dan hati saya adalah milik


anda sepenuh nya Yang Mulya.."


"Aku mau turun sekarang.!"


Tiba-tiba Raya berseru keras karena merasa


tidak tahan lagi. Sontak saja Aaron dan Praba


melihat kearah nya. Alis Praba tampak bertaut


melihat reaksi keras Sang Sektretaris di tambah


lagi saat ini mata Raya dan Aaron saling beradu membara.


Raya menatap tajam wajah Aaron penuh dengan kebencian tapi juga kesakitan. Kenapa rasanya


dia benar-benar tidak tahan menghadapi semua kegilaan mereka berdua.!


"Aku memang akan menurunkan mu.! Apa kau


pikir aku akan membawamu pergi dan melihat


acara kencan ku.?"


Air mata Raya kini jatuh seluruhnya tidak


tertahankan. Aaron menekan tombol kecil


di depan jok nya, tidak lama mobil berhenti.


"Turun sekarang..! Alex akan membawamu


pulang, jangan melakukan kebodohan.!"


Titah Aaron dengan wajah yang terlihat acuh


dan datar tanpa ekspresi apapun. Raya hanya


bisa menggelengkan kepalanya kuat.


"Kau benar-benar tidak berperasaan! Aku


sangat membencimu, aku benci.!!"


Desis Raya sambil mengusap air matanya


kasar, setelah itu dia keluar dari dalam mobil.


Berdiri mematung di pinggir jalan dengan derai


air mata yang tiada henti mengalir menatap


kepergian mobil mewah itu yang kini kembali


melaju meninggalkan dirinya dengan segala


rasa sakit yang kini menyesakkan dadanya.


Raya menjatuhkan dirinya di atas jalanan


sambil menundukkan kepala, tersedu dalam


kepiluan, apa sebenarnya yang dia tangisi.??


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2