
❤️❤️❤️
Raya mulai panas dingin melihat bagaimana
Aaron dan model tersebut saling menatap kuat.
Ada rasa tidak nyaman yang kini di rasakan nya,
ingin sekali dia menarik wajah Aaron agar tidak
fokus pada wanita itu. Dasar laki-laki buaya.!!
Hei.. tapi kenapa dia harus peduli akan hal itu.?
Bukankah dari tadi semua mata para model
sudah terfokus pada keberadaan suaminya ini?
Haa.. iya suami yang di idolakan semua wanita
tapi tidak bagi dirinya, tidak sama sekali.! Dia
mencoba untuk tidak peduli pada semua ini.
Bukan hanya Raya, Catharina bahkan tidak
bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Dia
kini menggenggam erat tangan Aaron sambil menatapnya kuat mencoba mengingatkan
agar pria itu sadar bahwa di sini ada dirinya.
Namun Aaron tampak santai saja, dia masih
di posisi duduk elegan nya dengan tatapan
yang mengarah pada model tersebut yang kini
semakin mendekat. Semua mata juga saat ini
mengarah pada pergerakan model tersebut.
Model super cantik yang memiliki kesempurnaan
bentuk tubuh itu kini sudah ada di hadapan Aaron,
dia membungkuk hormat dengan gestur tubuh
yang sangat anggun dan halus, serta senyum
indah yang terlukis di bibir merah merona nya.
"Selamat malam Yang Mulya, senang sekali
bisa berada di sini dan bertemu dengan anda."
Dia berucap dengan lembut dan manis seraya
mengulurkan sebuket bunga cantik pada Aaron
yang kini ikut berdiri dan berhadapan dengan
model cantik itu. Dia menerima bunga tersebut.
Mata mereka kembali bertemu, wajah model
itu tampak bersemu merah. Jiwanya langsung
meronta menyaksikan bagaimana tampannya
Sang Pangeran, dia benar-benar tidak menduga
sama sekali kalau Pangeran yang sudah punya
agenda kencan dengan nya ternyata aslinya
se gagah ini.
Catharina ikut berdiri, menatap tajam model
cantik itu. Wajahnya tampak sudah memerah
terbakar api cemburu.
"Terimakasih bunga nya Miss Praba.. silahkan
anda kembali ke panggung dan selesaikan
tugasnya dengan baik dan benar..!"
Ujar Catharina sambil kemudian meraih bunga
tersebut dari tangan Aaron. Model cantik tadi
atau Praba terlihat santai saja, berpaling pada
Catharina , kemudian menundukan kepalanya
sedikit sambil tersenyum lembut.
"Sama-sama lady Catharina.. selamat malam.
Ini adalah sambutan dari kami para model
untuk kehadiran Yang Mulya Prince Marvell..
Kalau begitu saya permisi..!"
Sang model kembali menatap lembut wajah
Aaron seraya memberi isyarat lewat kerjap mata indahnya. Dia memutar tubuhnya dengan halus
lalu berjalan kembali dengan anggun sambil melambaikan tangan kepada semua audience,
di sambut tepuk tangan meriah semua hadirin.
Model ini baru beberapa bulan yang lalu meraih
gelar sebagai model tercantik di dunia, jadi tidak
heran kalau namanya masih menjadi topik hangat perbincangan di dunia maya dan dia juga sangat
di idolakan oleh orang-orang kalangan atas karena paras wajahnya yang benar-benar cantik alami.
Aaron kembali duduk dengan tenang dengan
ekspresi datarnya. Sudut matanya kini melirik
sekilas kearah Raya yang terlihat tidak peduli
dan memalingkan pandangannya ke arah lain.
Rahang Aaron sedikit mengeras saat menyadari
mata Raya sedang saling melihat dengan Lucas.
"Miss Raya.. tolong buang ini.!"
Catharina menoleh kearah belakang kemudian
menyimpan buket bunga tadi di atas pangkuan
Raya yang langsung terkejut menatap bunga itu
lalu melihat kearah Catharina yang terlihat
sedang memasang wajah kesal.
"Kenapa harus di buang lady, sayang kan ?"
Raya meraih bunga itu dan melihatnya secara
seksama, buket bunga itu sangat lah indah.
"Kalau kau menyukainya.. silahkan ambil.!"
Ketus Catharina sambil melirik kearah Aaron
yang terlihat acuh, memfokuskan perhatiannya
kembali keatas panggung dimana para model
kini mengakhiri pentasnya dengan melambai
dan memutar tubuh berjalan teratur berbalik
kembali ke belakang panggung.
"Biar Alex saja yang simpan. Kalau kau mau
aku bisa memberikannya satu toko langsung.
Kalau perlu sama kebun nya sekalian biar
kau puas.!"
Kali ini Ansel tidak bisa diam lagi, dia meraih
bunga itu dari tangan Raya yang langsung
mengerucutkan bibirnya. Ansel menyerahkan
bunga itu pada Alex yang entah kapan datang
tiba-tiba saja sudah ada dekat mereka.
"Kau sangat berlebihan Tuan Ansel.!"
Raya menatap jengah wajah Ansel yang terlihat
tersenyum tenang, sedang Catharina ikut-ikutan
mengulum senyum mendengar bualan Ansel
untuk Sektretaris Pribadi calon tunangannya itu.
Dia sungguh tidak mengerti kenapa wanita ini
bisa merebut perhatian semua pria yang ada
di dekatnya, termasuk juga dengan Kakak nya
yang sudah sangat terobsesi padanya. Apa sih
yang menarik dari wanita biasa seperti dia?
Sementara di kursi depan, begitu mendengar
bualan Ansel barusan, tampang Aaron tampak
semakin dingin dan tak terbaca.
Dasar ******** kecil.. Belum kapok juga dia
rupanya..!
Acara terus bergulir, hingga kini sampailah
pada puncak acara yakni pemberian anugerah
dan penghargaan bagi para pengusaha sukses
yang telah berkontribusi besar untuk keberhasilan
dan pencapaian pembangunan di negara ini serta
turut berperan penting dalam setiap kemajuan
yang di capai negara ini dalam segala bidang.
Akhirnya Aaron di panggil untuk menyerahkan
__ADS_1
dan memberikan ucapan selamat kepada semua
pengusaha yang berhasil menyabet penghargaan khusus yang di berikan oleh istana ini.
"Ikut naik bersama ku..!"
Aaron yang sudah berdiri dan bersiap tampak
melirik kearah Raya yang bengong di tempat.
"Hahh.. kenapa aku harus ikut naik.?"
Raya tampak berdiri, menatap Aaron penuh
tanda tanya. Catharina juga tidak kalah bingung.
Ansel kini ikut berdiri di samping Raya.
"Naiklah bersama Kakak, setelah ini Kakak
akan langsung keluar lewat belakang.!"
Ansel memberi penjelasan. Raya merapihkan
gaun yang di pakainya. Catharina pun kini ikut
berdiri, meraih tangan Aaron dan memegang
nya kuat.
"Apa kau masih ada agenda lain semalam ini
Yang Mulya.?"
Aaron melirik Catharina, keduanya kini saling
memandang, tepat di depan mata Raya yang
langsung melempar pandangan nya.
"Aku ada satu pertemuan penting. Kau tetap
di sini sampai acara selesai.!"
Catharina terhenyak, dia sudah bisa menebak
pertemuan seperti apa yang akan di hadiri oleh
Aaron setelah ini. Tanpa kata lagi Aaron mulai melangkah dengan tenang dan gagah ke atas
panggung di ikuti oleh Raya yang sedikit ragu
dan canggung. Kenapa dia harus ikut naik juga,
dia kan bisa langsung menunggu di belakang
saja tanpa harus ikut naik keatas panggung.
Dasar manusia aneh , selalu saja seenaknya.!
Alex setia mengawal di belakang mereka
sebagai ajudan pribadi Aaron.
Semua hadirin kembali terpana begitu Aaron
berjalan tenang menaiki panggung bersama
dengan Raya yang berada di belakang nya.
Begitu tiba di atas panggung beberapa staf
istana yang membawakan penghargaan dan
buket bunga mengikuti langkah Aaron.
"Selamat untuk kalian semua dan terimakasih
atas kontribusi nya selama ini pada negara."
Aaron berucap tegas dan berwibawa di depan
para pengusaha itu yang menundukkan kepala.
"Terimakasih Yang Mulya.. Itu semua sudah
menjadi kewajiban kita bersama."
Sahut mereka hampir bersamaan dengan tegas.
Aaron langsung menyalami 5 pengusaha yang
mendapat anugerah dan penghargaan tersebut.
Mereka semua tampak sangat bersemangat dan
membungkuk setengah badan di hadapan Sang
Pangeran begitu Aaron membagikan piagam dan
buket bunga pada mereka yang di ambil terlebih
dahulu oleh Raya dari tangan pembawanya.
Setelah selesai dengan kegiatan itu, kini Aaron
naik ke atas podium yang ada di tengah-tengah
panggung untuk memberikan sambutan khusus
atas terselenggaranya acara ini. Raya berdiri di
belakang nya, membuat konsentrasi para tamu
pecah pada kedua sosok yang terlihat begitu
memukau tersebut. Ada decak kagum yang kini
keserasian pasangan tersebut diatas panggung.
Semua orang mendengarkan penuturan Aaron
yang tegas, lugas dan tanpa basa-basi hingga
akhirnya Aaron mengakhiri sambutannya.
Setelah semua selesai, Aaron segera turun
dari atas podium kemudian berjalan ke bagian
belakang panggung. Begitu mereka menuruni
tangga tangan Aaron langsung menggenggam
erat tangan Raya saat melihat keberadaan Ansel
yang sudah menunggu dengan menatap lekat
wajah Raya.
"Turunkan pandangan mu.! Dia adalah kakak
iparmu.! Apa kau mau aku benar-benar
memecahkan kepalamu.?"
Aaron menatap Ansel penuh dengan ancaman
dan kekesalan. Pria menawan itu langsung saja
menundukkan kepalanya.
"Maa Kakak.! Aku benar-benar tidak bisa
mengalihkan perhatian ku darinya.!"
Pluk !
"Dasar ******** kecil.! Coba saja kalau kamu
berani macam-macam lagi di belakang ku.!"
Aaron memukul kepala Ansel sambil kembali
berjalan menyeret langkah Raya yang mencoba
menarik tangan nya karena kini mulai terasa
sedikit sakit akibat cengkeraman kuat Aaron.
"Bagaimana.. apa semuanya sudah siap.?"
Aaron bertanya masih dengan langkah tegap
dan lurus tidak peduli pada penghormatan
dan sapaan orang-orang yang ada di sekitar
koridor yang mereka lewati.
"Sudah Kak, dia sudah menunggu."
Ansel menjawab seraya melirik sekilas kearah
Raya yang masih tidak henti mencoba melepas
pergelangan tangannya dari genggaman Aaron.
"Aaron lepaskan tanganku, aku ingin pulang
sendiri.! Tugasku sudah selesai kan.?"
Aaron menghentikan langkahnya seketika.
Dan otomatis rombongan pengawalnya pun
turut mengerem langkah mereka. Semua
membeku, kaku dan tegang begitu melihat
wajah Aaron kini mengeras, tatapannya terlihat
menyemburkan hawa dingin yang membuat
semua orang menundukkan kepala dalam.
"Ikuti prosedur yang aku tetapkan.! Atau kau
tidak akan melihat hari esok dengan tenang.!"
Suara Aaron terdengar berat penuh dengan
intimidasi. Keduanya saling menatap kuat.
"Aku lelah, aku ingin istirahat sekarang.!".
Decak Raya tidak peduli tatapan mata Aaron
yang penuh dengan ancaman.
"Kau bisa istirahat setelah aku memberikan
izin untuk istirahat.!"
"Apa.? Kenapa kamu jahat sekali.? Aku ini
manusia, aku bukan robot Tuan Marvell.!"
"Aku yang menentukan segalanya.! Ikuti saja
peraturan yang aku tetapkan !"
__ADS_1
Dalam sekali gerakan Aaron kembali menarik
dan memegang erat tangan Raya yang hanya
bisa memejamkan mata menahan serbuan
kemarahan dan rasa tidak terima atas sikap
otoriter bos jahatnya itu.
Mereka semua akhirnya kembali melangkah
keluar dari ruang belakang dan kini menuju
lobby utama. Semua prajurit penjaga tampak
membungkuk hormat di setiap sudut tempat
begitu melihat kemunculan Aaron. Ternyata
area itu sudah steril, tidak ada lagi warga sipil
yang berkeliaran di sana. Hal ini membuat
Raya sedikit menautkan alisnya.
Limousine super mewah yang jadi kendaraan
dinas Aaron sebagai seorang Putra Mahkota
tampak sudah terparkir gagah di depan pintu
masuk lobby dengan keadaan pintu utama yang
sudah terbuka dan beberapa prajurit berbaris di
kedua sisi bagian. Dengan terpaksa Raya kembali
masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Namun
apa yang dia lihat kemudian membuat matanya melebar tidak percaya. Apa-apaan ini.??
"Selamat malam Yang Mulya.."
Ada sapaan lembut dari sesosok wanita super
cantik yang tengah duduk anggun di jok utama
dengan senyum manis menggoda. Dia duduk
tumpang kaki memperlihatkan paha indahnya
yang sedikit terbuka karena model gaun nya
yang memiliki belah pinggir. Raya membeku,
menatap tajam sosok memukau itu, model
cantik tadi ada di dalam mobil ini ?
"Selamat malam Miss Praba.."
Sahut Aaron sambil kemudian duduk tenang
di kursi singel yang biasa di gunakan olehnya
tepat di hadapan model cantik itu. Raya masih
tidak berkutik di tempat nya berjongkok.
"Hi.. Miss sekretaris.. apakah anda masih akan
berdiam di sana ?"
Praba menatap Raya dengan senyum ramah
yang terukir di bibir sensualnya membuat Raya
memalingkan wajahnya kemudian bergerak.
"Maaf..Saya akan duduk di belakang saja."
"Cepat duduk.!!"
Dengan cepat Aaron menarik kencang tangan
Raya hingga akhirnya dia terduduk paksa di
sebelah Praba, tapi berbeda jok. Mobil pun kini
mulai melaju tenang meninggalkan kawasan
gedung megah tersebut. Tubuh Raya rasanya
kini panas dingin. Apa-apaan ini.? Apakah bos
jahatnya itu akan melakukan pertemuan khusus
dengan model ini ? Itu artinya mereka akan
melakukan kencan semalam.?
"Maaf Yang Mulya.. adakah rencana anda
untuk kita malam ini.?"
Praba menuang minuman yang tersedia
di mobil itu ke dalam gelas kecil kemudian
mengulurkan nya dengan sopan ke hadapan
Aaron yang langsung menerima nya. Mata
mereka tampak saling pandang lekat dan hal
itu jelas terlihat oleh Raya yang ada di hadapan
Aaron. Raya segera memalingkan mukanya.
"Kita akan dinner dulu sebentar, setelah itu
barulah ke hotel.!"
Aaron berbicara dengan entengnya membuat
Raya semakin memalingkan wajahnya dengan
mata terpejam kuat. Sebenarnya apa yang di
inginkan oleh laki-laki jahat ini, kenapa dia harus
melibatkan dirinya dalam kencan buta nya.??
Tuhan.. tolong kuatkan hatiku untuk melewati
semua pemandangan menjijikkan ini..
"Apakah tidak sebaiknya kalau kita langsung
saja ke hotel, kita bisa makan malam berdua
di dalam kamar."
Terdengar lagi suara Praba yang kali ini semakin
serak sensual. Seperti nya wanita itu sudah tidak
bisa menahan dirinya untuk segera menikmati
malam panjang nya bersama Sang Pangeran.
"Seperti nya itu ide bagus.!"
Sambut Aaron santai masih menatap gelas kecil
di tangan nya dan belum meminum nya. Cairan
bening tiba-tiba saja keluar dari sudut mata Raya. Tidak, dia benar-benar tidak sanggup kalau harus
terus berada di dalam mobil ini bersama dengan
dua orang gila itu.!
"Malam ini..tubuh dan hati saya adalah milik
anda sepenuh nya Yang Mulya.."
"Aku mau turun sekarang.!"
Tiba-tiba Raya berseru keras karena merasa
tidak tahan lagi. Sontak saja Aaron dan Praba
melihat kearah nya. Alis Praba tampak bertaut
melihat reaksi keras Sang Sektretaris di tambah
lagi saat ini mata Raya dan Aaron saling beradu membara.
Raya menatap tajam wajah Aaron penuh dengan kebencian tapi juga kesakitan. Kenapa rasanya
dia benar-benar tidak tahan menghadapi semua kegilaan mereka berdua.!
"Aku memang akan menurunkan mu.! Apa kau
pikir aku akan membawamu pergi dan melihat
acara kencan ku.?"
Air mata Raya kini jatuh seluruhnya tidak
tertahankan. Aaron menekan tombol kecil
di depan jok nya, tidak lama mobil berhenti.
"Turun sekarang..! Alex akan membawamu
pulang, jangan melakukan kebodohan.!"
Titah Aaron dengan wajah yang terlihat acuh
dan datar tanpa ekspresi apapun. Raya hanya
bisa menggelengkan kepalanya kuat.
"Kau benar-benar tidak berperasaan! Aku
sangat membencimu, aku benci.!!"
Desis Raya sambil mengusap air matanya
kasar, setelah itu dia keluar dari dalam mobil.
Berdiri mematung di pinggir jalan dengan derai
air mata yang tiada henti mengalir menatap
kepergian mobil mewah itu yang kini kembali
melaju meninggalkan dirinya dengan segala
rasa sakit yang kini menyesakkan dadanya.
Raya menjatuhkan dirinya di atas jalanan
sambil menundukkan kepala, tersedu dalam
kepiluan, apa sebenarnya yang dia tangisi.??
***
__ADS_1
Happy Reading...