Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
68. Kereta Cepat


__ADS_3

Mobil mewah yang membawa Aaron berhenti


tepat di pintu utama masuk ke dalam bangunan


megah stasiun. Para senator, staf istana dan para


pengusaha besar tampak sudah menantinya di


depan pintu, berbaris rapi di kedua sisi. Mereka


semua tampak mengenakkan setelan jas hitam


dan kacamata hitam rapi dengan aura kehadiran


yang sangat mengesankan.


Sementara masyarakat yang sudah menantikan kedatangannya terlihat berada di titik khusus di halangi oleh barisan prajurit pengawal sehingga


tidak bisa mendekat, hanya bisa melihat serta


berteriak-teriak histeris memanggil namanya.


Teriakan mereka semakin menjadi saat melihat


sosok paripurna Aaron keluar dari dalam mobil.


Alex dan Benjamin berdiri di kedua sisi pintu


mobil dengan sikap tubuh penuh kesiagaan.


Namun sang pangeran tampak mengulurkan


tangannya dan tidak lama muncul seseorang


dari dalam mobil. Jeritan dan teriakan histeris


masyarakat semakin terdengar tidak jelas saat


melihat wanita super cantik yang selalu setia


mendampingi Putra Mahkota keluar dari mobil


dengan pesona yang selalu membuat semua


mata terbius saat melihatnya. Tak terkecuali


bagi para senator dan pengusaha yang hadir.


Mereka semua terlihat terkesima untuk sesaat.


"Aaron.. tolong jangan membuat drama lagi.


Ada banyak orang penting dan kamera di sini.!"


Desis Raya sambil menegakkan badan dan


berpura-pura merapihkan jas yang di kenakkan


Aaron. Namun justru dengan dia melakukan


hal itu jeritan para pengunjung semakin keras.


Mereka tampaknya tidak rela dan iri melihat


Sang sekretaris pribadi bisa bebas menyentuh


serta dekat-dekat dengan Sang Pangeran.


"Aku tidak peduli apapun persepsi mereka.


Aku bahkan bisa mencium mu saat ini juga.!"


Desis Aaron dengan tatapan tajam yang kini


mengunci seluruh wajah cantik istrinya itu.


"Yang Mulya.. fokuskan perhatian mu pada


masyarakat sekarang juga.! Jangan membuat


ulah lagi, kau ada di depan publik saat ini !"


"Kau pikir aku peduli pada semua ini.?"


"Lalu untuk apa kamu datang kesini.?"


"Aku tidak mengharapkan semua ini. Mereka


semua sudah membuatku repot saja.!"


"Aaron..sudah ! Sekarang kau harus menyapa


mereka semua.! Jangan egois lagi.!"


Raya benar-benar geram dengan tingkah arogan


Aaron yang terlihat mengacuhkan pengunjung.


Dia menekan jas bagian dada Aaron dengan


tatapan tajam penuh intimidasi. Bibir Aaron


menyeringai tipis sambil memalingkan wajah.


"Baiklah Lady..kali ini aku turuti perkataan mu."


Aaron segera mengalihkan perhatian pada


orang-orang dan melambaikan tangan sesaat,


membuat semua pengunjung yang datang


berjingkrak-jingkrak di telan kebahagiaan dan


rasa antusiasme yang tinggi. Aaron berpaling


pada kamera yang dari tadi mengambil fokus


seluruh gerak geriknya. Dia membiarkan para


awak media mengambil gambarnya, wajahnya


nampak datar saja tanpa ekspresi apapun.


Namun justru di kamera hal itu malah membuat


wajahnya bertambah cool dan mempesona.


"Yang Mulya.. silahkan..semuanya sudah siap


dan bisa di mulai saat ini juga.."


Sambut Mentri perhubungan yang sudah ada


di tempat itu sedari pagi. Aaron mengangguk


kemudian tanpa peduli apapun dia menarik


tangan Raya di bawa melangkah masuk ke


dalam bangunan stasiun. Orang-orang tampak


terdiam untuk sesaat melihat Putra Mahkota


menggandeng tangan sekretaris pribadi nya


itu, namun tidak lama mereka semua berjalan mengiringi langkah sang pangeran tanpa mau


berpikir lebih lanjut karena Putra Mahkota


memang penuh dengan kejutan.


Akhirnya acara pembukaan pengoperasian kereta


api cepat itupun di mulai dengan prakata singkat


dari Menteri perhubungan sebagai lembaga terkait yang memegang langsung proyek raksasa ini. Dan


selanjutnya Aaron di persilahkan untuk memimpin acara gunting pita serta penekanan tombol serine


sebagai tanda di mulainya pengoperasian kereta


canggih ini yang di siarkan secara live oleh semua


stasiun televisi nasional yang ada di negara ini.


Beberapa saat kemudian...


Aaron di bimbing untuk masuk ke dalam kereta


di ikuti oleh semua rombongannya sekitar 50


orang di tambah dengan personil keamanan


yang langsung mengambil tempat di seluruh


area strategis di dalam kereta. Setelah semua


orang masuk ada jeda waktu beberapa saat


untuk memastikan semuanya siap. Dan ada


sesuatu yang terjadi di gerbong belakang yang


tidak terdeteksi karena pergerakan yang sangat


cepat hingga tidak menimbulkan kecurigaan.


Kereta ini terdiri dari 1 gerbong depan sebagai


gerbong khusus masinis serta 10 gerbong


penumpang yang memilki kelas dan tingkatan


berbeda sesuai dengan fasilitas yang tersedia.


Aaron langsung masuk ke gerbong depan untuk


melakukan penarikan tuas pertama peluncuran


kereta ini. Gerbong masinis ini terlihat mewah


dan sengaja di desain senyaman mungkin untuk


orang-orang yang nantinya memegang bagian


strategis ini. Ruangan ini juga di lengkapi berbagai


fitur canggih untuk menunjang pengoperasian


kereta yang memilki fasilitas lengkap dan


canggih layaknya jet pribadi ini.


Semua sudah siap, sang masinis mundur untuk


memberi tempat pada Sang Pangeran yang akan


segera meluncurkan kereta ini. Aaron menatap


lurus ke layar monitor, mengamati jalur kereta


yang nanti akan di lintasi hingga berakhir di


stasiun pemberhentian pertama. Dia melirik


kearah Raya yang berdiri di belakang nya.


"Kemarilah..! Kau yang tarik tuas ini.!"


Hahh.? semua orang tampak terkejut, menatap


tidak percaya, begitupun dengan Raya. Tatapan


Aaron terlihat semakin tajam penuh perintah


melihat Raya masih terdiam tak bergerak.


"Kau dengar apa yang aku katakan.?"


Suara Aaron mulai naik satu oktaf membuat


Raya dan semua orang terlonjak sadar dari


keterkejutannya.


"Tapi Yang Mulya.. saya tidak punya hak untuk..."


"Jangan membantahku Maharaya..!!"


Raya membeku, semua orang terdiam sambil


menundukkan kepala dengan lutut yang mulai


gemetar melihat reaksi keras Sang Pangeran.


Akhirnya Raya maju dan dia semakin tersentak


saat Aaron menarik pinggangnya hingga kini


tubuh mereka merapat. Raya membulatkan


mata di penuhi rasa jengkel sekaligus was-was melihat situasi yang ada. Dia melirik kearah


sekitarnya semua orang kini menundukkan


kepalanya tidak ada yang berani mengangkat

__ADS_1


muka.


"Apa yang kau takutkan.? Mereka semua ada


di bawah perintah ku.!"


Desis Aaron dengan seringai tipis di bibirnya


membuat Raya menatap diam wajah Aaron.


Dia kembali melihat ke belakang. Yang ada di


tempat itu hanyalah orang-orang dari istana dan orang-orang dari dinas perhubungan termasuk


Menteri nya, dan mereka semua merupakan


orang-orang nya Putra Mahkota.


"Ayo.. kita luncurkan kereta ini..!"


Bisik Aaron di telinga Raya membuat Raya reflek memundurkan tubuhnya seraya menatap kesal


wajah Aaron. Tangan kanan Aaron menggengam


erat tangan Raya kemudian di bawa kearah tuas.


"Ini akan menjadikan moment pertama kita."


Bisik Aaron sambil mengecup lembut bibir Raya


yang langsung memerah. Akhirnya dalam


hitungan mundur, secara bersama-sama tangan mereka berdua menarik tuas dan kereta api


canggih itupun melesat pergi keluar dari stasiun


di iringi tepuk tangan meriah masyarakat yang menunggu di area luar stasiun. Tidak lama


letusan kembang api melesat ke udara turut


memeriahkan suasana.


***


Aaron dan Raya kini berada di gerbong VVIP


yang terletak di dekat gerbong depan, dan dua


gerbong ini menyatu satu sama lain. Sedangkan


untuk gerbong lain sistemnya seperti biasa


terpisah dan bisa di atur sedemikian rupa untuk penggunaannya. Dan gerbong VVIP ini sengaja


di siapkan untuk tempat istirahat Putra Mahkota.


Sementara itu para tamu saat ini tengah berada


di gerbong-gerbong lain untuk melihat seluruh


detail ke 10 gerbong ekslusif tersebut.


"Apa ada makanan atau minuman yang kau


inginkan.?"


Aaron mengatur letak kursi yang kini di pakai


oleh Raya agar dia bisa tidur dengan nyaman.


"Tidak ada , aku hanya ingin istirahat sebentar


untuk menghilangkan berat di kepalaku.!"


Aaron menatap lekat wajah cantik Raya yang


terlihat sangat menggoda dan menggiurkan.


Kalau tidak ingat sedang dinas ingin rasanya


dia membawa istrinya ini ke dalam private


room. Tapi untuk saat ini rasanya itu tidak


mungkin terlaksana.


"Baiklah.. Kalau begitu tidurlah sekarang.!"


Raya menyandarkan tubuhnya dengan nyaman


di kursi yang di desain khusus dengan teknologi


canggih sekelas pesawat pribadi itu. Matanya


kini beradu tatap dengan mata Aaron. Entah


kenapa rasa tidak nyaman itu kini semakin


terasa membuat tubuhnya tidak bersemangat.


"Apa kau tidak ingin duduk dulu sebentar di


sini bersamaku ?"


Bibir Aaron terangkat sedikit dengan sorot


mata penuh arti yang membuat Raya tegang.


"Apa kau menginginkan sesuatu seperti yang


aku inginkan saat ini.?"


"Aaron..!! hentikan otak mesum mu itu.!"


"Hei.. kau sendiri yang memancing nya. Aku


hanya menjabarkan isi pikiranmu itu.!"


"Aku tidak punya pikiran kesitu Aaron. Ingat


kita ini sedang berada di kereta.!"


"Aku tahu kamu hanya mencari alasan saja,


dan aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini.!"


"Ya ampun Aaron kumohon hentikan !"


Raya memukul pelan dada Aaron karena tidak


tahan dengan godaannya. Dasar laki-laki otak


mesum, selalu saja hal itu yang di pikirkan nya.


"Baiklah.. kita masih bisa melakukanya lain


"Jadi kau mau duduk dulu di sini sebentar.?"


"Yang Mulya maaf.. Ada sesuatu yang harus


anda cek sekarang.!"


Tiba-tiba Benjamin muncul ke dalam ruangan


membuat rahang Aaron mengeras seketika


karena merasa terganggu.


"Benjamiinn...!!"


"Maafkan saya Yang Mulya.."


Benjamin membungkukkan badannya sambil


mengulurkan sebuah tablet ke hadapan Aaron


yang meliriknya sekilas namun perubahan di


wajahnya terlihat jelas, kelam dan dingin.


"Aku harus mengontrol gerbong lain sekarang.


Kau tunggu di sini, Griz dan para pengawal


akan menemani mu.!"


Ujar Aaron kemudian sambil menyelimuti tubuh


Raya lalu berdiri meraih tablet tipis dari tangan


Benjamin untuk melihat radar monitor sistem


keamanan. Wajahnya terlihat semakin kelam.


"Kenapa kita bisa kecolongan begini.? Siapa


orang yang mereka gunakan untuk meretas


sistem keamanan kita.?"


"Kelihatannya orang nya Roman Muller Yang


Mulya ! Mereka sudah berani masuk secara


terang-terangan.!"


"Suruh black Eagle mendekat dan bawakan


semua perlengkapan ku.!"


"Baik Yang Mulya.!"


Benjamin segera berlalu pergi, Raya menatap


wajah Aaron yang terlihat kelam.


"Aaron.. apa yang terjadi.? apa ada sesuatu.?


Aku ikut dengan mu saja."


Raya memegang kuat tangan Aaron dengan


tatapan tidak nyaman. Perasaan nya saat ini


semakin gelisah dan tidak terkontrol.


"Tidak ada apa-apa.! Tidurlah sekarang.! Aku


tidak akan lama, kalau perlu sesuatu bilang


pada mereka !"


Aaron mengecup lembut kening Raya kemudian


tanpa kata lagi dia melangkah pergi keluar dari


gerbong itu di iringi tatapan berat Raya. Griz


mendekat kemudian duduk di kursi sebelah Raya.


"Istirahatlah Lady.. Kami semua akan menjaga


anda di sini. Anda tidak perlu khawatir."


Raya menatap Griz sebentar kemudian kembali merebahkan kepalanya dan mulai memejamkan


mata. Kepalanya saat ini benar-benar berat. Dia


ingin tidur untuk melupakan segala kegelisahan


yang di rasakannya walau pun hanya sebentar


sebelum mereka tiba di stasiun pemberhentian pertama di persimpangan utama.


Kereta cepat itu sudah keluar dari wilayah kota


dan kini mulai melintas ke area perbukitan yang


tertutup salju di semua wilayah nya. Raya sudah terlihat mulai terlelap hingga Griz bisa menarik


napas tenang . Namun alisnya bertaut ketika jam tangan monitor nya berkedip-kedip.


Tidak lama kemudian tiba-tiba kereta berguncang hebat dan ada suara gemuruh pesawat yang kini mengepung laju kereta. Griz dan para pengawal


yang ada di gerbong itu sontak berdiri waspada


dan langsung melakukan koordinasi dengan


pasukan lain. Tidak lama Alex menghubunginya


dan terdengar berteriak di earphone.


"Kalian amankan Lady De Enzo sekarang juga


sebelum aku kesitu.! Kereta ini sudah di serang.!"


"Apa.?? Dimana Yang Mulya sekarang.?"


"Yang Mulya sedang mengamankan para tamu


yang telah di sandera.! Beliau akan segera kesitu.!"


Terdengar teriakan Alex di susul suara gemuruh


tembakan dan ledakan dahsyat yang membuat


Griz segera melompat ke dekat pintu mengunci

__ADS_1


dan mengamankan area.


"Buat barikade sekarang juga. ! Amankan Lady


De Enzo. Kereta ini sudah di serang !"


Griz berteriak sambil mengokang dua senjata


di tangannya kemudian mundur mengurung


tempat duduk Raya yang terlihat masih tenang


dalam tidurnya. Entah apa yang terjadi dengan


nya karena dia seakan tidak terpengaruh oleh


kegaduhan suasana. Dalam keadaan genting


itu tiba-tiba saja pintu masuk ke gerbong itu di berondong tembakan dari luar dan tidak lama


terbuka dengan tendangan yang sangat keras.


Griz dan para pengawal membelalakkan mata


melihat siapa yang kini berdiri menjulang tinggi


di ambang pintu. Sesosok pria tinggi tegap


dengan mantel hitam panjang serta tatapan


mata menyala seolah menyemburkan api


langsung menatap tajam kearah keberadaan


Raya yang tertidur lelap.


"Serang.. lindungi Miss Raya..!"


Griz segera mengarahkan senjata kearah orang


itu, namun sebelum dia dan para pengawal bisa


melesakkan tembakan sosok itu terlebih dahulu mengibaskan kedua tangannya membuat tubuh


Griz dan para pengawal terpental dan terlempar


sadis ke segala penjuru hingga jatuh membentur dinding kereta dan mulut mereka memuntahkan


darah segar. Senjata di tangan mereka terlempar entah kemana.


"Mundur.! atau aku tidak akan mengampuni


nyawa kalian semua..!!"


Geram sosok itu dengan suara harimau nya


sambil melangkah maju ke tengah gerbong


di ikuti oleh 5 orang pria besar menyeramkan


yang mengokang senjata berkaliber besar di


tangan dan kelihatannya mereka bukanlah


bawahan sosok itu karena memakai simbol


berbeda di tato yang ada di lehernya.


"Eden Wolf..!! Lagi-lagi kau membuat masalah.


Semua anak buahmu sudah habis di tangan


pasukan Underground Devil..! Tapi kau masih


punya nyali untuk bermain.!"


Desis Griz sambil berusaha berdiri dengan susah


payah sambil mengusap darah di bibirnya di ikuti


oleh para pengawal yang terlihat dalam kondisi


sama, cukup mengenaskan.


"Aku kesini hanya ingin menjemput wanita


milikku..! Jadi kalian tidak perlu menyetorkan


nyawa untuk mempertahankan nya.!"


"Ciihh.! Sampai kapan pun kau tidak akan bisa


mengambilnya.! Karena dia adalah milik


Pangeran kami..!!


Desis Griz penuh amarah, dia langsung melompat menyerang sosok itu yang tiada lain adalah Eden


Wolf. Namun lagi-lagi sebelum Griz bisa mencapai tubuh Eden Wolf tangan laki-laki itu terangkat ke


atas membuat tubuh Griz tiba-tiba ikut terangkat seolah ada tenaga dalam yang kini mengangkat


tubuh nya sampai ke langit-langit gerbong. Tidak


lama Eden Wolf menggerakkan tangan akan menghempaskan tubuh Griz.


"Eden Wolf..! Turunkan dia.!!"


Ada suara teriakan keras di penuhi kepanikan


yang membuat pria itu tersentak dan seketika


menjatuhkan tubuh Griz ke lantai gerbong.


"Griz.... kamu tidak apa-apa..?"


Raya yang tiba-tiba terbangun kini menghambur


kearah Griz, namun sebelum dia dapat menyentuh


Griz tubuhnya sudah terangkat ke dalam pangkuan Eden Wolf membuat Raya membulatkan matanya


dan seketika berontak memukuli tubuh laki-laki


itu dengan membabi buta.


"Lepaskan aku..! Kenapa kamu tidak pernah


berhenti membuat masalah.! Lepaasss...!!"


"Aku tidak akan pernah berhenti sebelum bisa


mendapatkan mu Raya.!!"


"Dasar pria gila.! Kamu manusia tidak waras.!"


Wajah Eden Wolf terlihat berubah menggelap.


Tangannya kini mengunci pinggang ramping


Raya dan mendekatkan wajahnya.


"Berhenti berontak atau aku akan menikmati


keindahan tubuhmu yang istimewa ini


sekarang juga sayangku..!"


Ancam Eden Wolf dengan seringai iblis yang


membuat tubuh Raya bergidik ngeri, namun


dia tetap saja mencoba melepaskan diri. Para pengawal kini bergerak maju menyerang Eden


Wolf namun di hadang oleh 5 pria menyeramkan


tadi. Maka terjadilah pertarungan seru dan sengit


di dalam gerbong yang sudah tidak berbentuk


lagi. Dari dalam gerbong depan muncul masinis


dan para asistennya yang terlihat memucat saat


melihat semua kejadian mengerikan itu. Mereka


langsung mundur dan masuk kembali ke dalam


ruang kontrol untuk melakukan komunikasi


darurat dengan pusat namun hal itu terhalang


oleh todongan senjata dua pria menyeramkan


yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.


Para pengawal akhirnya ambruk tak berdaya di


hajar habis-habisan oleh para pria menyeramkan


itu. Griz masih mencoba menyerangnya namun


akhirnya harus bernasib sama dengan pengawal


tergeletak tak berdaya setelah masing-masing


terkena tembakan melumpuhkan. Raya berteriak


histeris melihat Griz dan para pengawal kini


berjatuhan dalam keadaan bermandikan darah.


"Kita cabut sekarang.! Siapkan helikopter.!"


Titah Eden sambil kemudian melangkah keluar


dari gerbong itu sambil menggendong tubuh


Raya yang tiada henti meronta dan melakukan


perlawanan sekuat tenaga. Tiba di gerbong


kedua tiba-tiba saja terdengar tembakan dan


beberapa orang seram lainnnya bermunculan


sambil melakukan serangan balik. Eden terpaksa


menurunkan Raya namun tetap di pegang dan


di kunci agar tidak terus melakukan perlawanan


dengan mengikat kedua pergelangan tangannya.


"Tu-Tuan.. pasukan Black Eagle Underground


telah datang.! Pasukan yang menyandera para


tamu telah habis di babat semuanya.!"


Lapor asisten kepercayaan Eden Wolf yang baru


datang sambil mengokang senjata besar yang


di pegangnya.


"Shit ! Pasukan Underground Devil Selalu saja bergerak cepat.! Padahal aku sudah membawa pasukan terbaik.! Masuk ke gerbong depan.!


Atur waktu pelepasan gerbong satu persatu.!"


"Baik Tuan..!"


Eden segera menarik tangan Raya di seret ke


gerbong lain bersamaan terdengar tembakan


yang menggempur ruangan itu.


Raya berontak sekuat tenaga saat tubuhnya di


seret paksa naik ke atas tangga darurat menuju


ke atap gerbong dimana pemandangan yang


terlihat begitu menakjubkan namun juga sangat menyeramkan karena saat ini kereta sedang


melintasi kawasan pegunungan Least Hills..


yang tertutup oleh salju tebal dan rel kereta


cepat ini berada di ketinggian yang mampu


membuat lutut gemetar sebab di kedua sisinya terdapat tebing curam yang sangat mengerikan..


"Aaroonn... tolong akuuu....!"


Raya menjerit histeris saat melihat kemunculan


sosok Aaron di ujung gerbong dengan pakaian


yang sudah berganti mengenakkan kostum


khas Underground Devil dengan rompi pengaman


dan seragam prajurit yang sangat pas di badan


hingga dia tampak gagah dan gentle..

__ADS_1


***


__ADS_2