
Mobil mewah yang membawa Aaron berhenti
tepat di pintu utama masuk ke dalam bangunan
megah stasiun. Para senator, staf istana dan para
pengusaha besar tampak sudah menantinya di
depan pintu, berbaris rapi di kedua sisi. Mereka
semua tampak mengenakkan setelan jas hitam
dan kacamata hitam rapi dengan aura kehadiran
yang sangat mengesankan.
Sementara masyarakat yang sudah menantikan kedatangannya terlihat berada di titik khusus di halangi oleh barisan prajurit pengawal sehingga
tidak bisa mendekat, hanya bisa melihat serta
berteriak-teriak histeris memanggil namanya.
Teriakan mereka semakin menjadi saat melihat
sosok paripurna Aaron keluar dari dalam mobil.
Alex dan Benjamin berdiri di kedua sisi pintu
mobil dengan sikap tubuh penuh kesiagaan.
Namun sang pangeran tampak mengulurkan
tangannya dan tidak lama muncul seseorang
dari dalam mobil. Jeritan dan teriakan histeris
masyarakat semakin terdengar tidak jelas saat
melihat wanita super cantik yang selalu setia
mendampingi Putra Mahkota keluar dari mobil
dengan pesona yang selalu membuat semua
mata terbius saat melihatnya. Tak terkecuali
bagi para senator dan pengusaha yang hadir.
Mereka semua terlihat terkesima untuk sesaat.
"Aaron.. tolong jangan membuat drama lagi.
Ada banyak orang penting dan kamera di sini.!"
Desis Raya sambil menegakkan badan dan
berpura-pura merapihkan jas yang di kenakkan
Aaron. Namun justru dengan dia melakukan
hal itu jeritan para pengunjung semakin keras.
Mereka tampaknya tidak rela dan iri melihat
Sang sekretaris pribadi bisa bebas menyentuh
serta dekat-dekat dengan Sang Pangeran.
"Aku tidak peduli apapun persepsi mereka.
Aku bahkan bisa mencium mu saat ini juga.!"
Desis Aaron dengan tatapan tajam yang kini
mengunci seluruh wajah cantik istrinya itu.
"Yang Mulya.. fokuskan perhatian mu pada
masyarakat sekarang juga.! Jangan membuat
ulah lagi, kau ada di depan publik saat ini !"
"Kau pikir aku peduli pada semua ini.?"
"Lalu untuk apa kamu datang kesini.?"
"Aku tidak mengharapkan semua ini. Mereka
semua sudah membuatku repot saja.!"
"Aaron..sudah ! Sekarang kau harus menyapa
mereka semua.! Jangan egois lagi.!"
Raya benar-benar geram dengan tingkah arogan
Aaron yang terlihat mengacuhkan pengunjung.
Dia menekan jas bagian dada Aaron dengan
tatapan tajam penuh intimidasi. Bibir Aaron
menyeringai tipis sambil memalingkan wajah.
"Baiklah Lady..kali ini aku turuti perkataan mu."
Aaron segera mengalihkan perhatian pada
orang-orang dan melambaikan tangan sesaat,
membuat semua pengunjung yang datang
berjingkrak-jingkrak di telan kebahagiaan dan
rasa antusiasme yang tinggi. Aaron berpaling
pada kamera yang dari tadi mengambil fokus
seluruh gerak geriknya. Dia membiarkan para
awak media mengambil gambarnya, wajahnya
nampak datar saja tanpa ekspresi apapun.
Namun justru di kamera hal itu malah membuat
wajahnya bertambah cool dan mempesona.
"Yang Mulya.. silahkan..semuanya sudah siap
dan bisa di mulai saat ini juga.."
Sambut Mentri perhubungan yang sudah ada
di tempat itu sedari pagi. Aaron mengangguk
kemudian tanpa peduli apapun dia menarik
tangan Raya di bawa melangkah masuk ke
dalam bangunan stasiun. Orang-orang tampak
terdiam untuk sesaat melihat Putra Mahkota
menggandeng tangan sekretaris pribadi nya
itu, namun tidak lama mereka semua berjalan mengiringi langkah sang pangeran tanpa mau
berpikir lebih lanjut karena Putra Mahkota
memang penuh dengan kejutan.
Akhirnya acara pembukaan pengoperasian kereta
api cepat itupun di mulai dengan prakata singkat
dari Menteri perhubungan sebagai lembaga terkait yang memegang langsung proyek raksasa ini. Dan
selanjutnya Aaron di persilahkan untuk memimpin acara gunting pita serta penekanan tombol serine
sebagai tanda di mulainya pengoperasian kereta
canggih ini yang di siarkan secara live oleh semua
stasiun televisi nasional yang ada di negara ini.
Beberapa saat kemudian...
Aaron di bimbing untuk masuk ke dalam kereta
di ikuti oleh semua rombongannya sekitar 50
orang di tambah dengan personil keamanan
yang langsung mengambil tempat di seluruh
area strategis di dalam kereta. Setelah semua
orang masuk ada jeda waktu beberapa saat
untuk memastikan semuanya siap. Dan ada
sesuatu yang terjadi di gerbong belakang yang
tidak terdeteksi karena pergerakan yang sangat
cepat hingga tidak menimbulkan kecurigaan.
Kereta ini terdiri dari 1 gerbong depan sebagai
gerbong khusus masinis serta 10 gerbong
penumpang yang memilki kelas dan tingkatan
berbeda sesuai dengan fasilitas yang tersedia.
Aaron langsung masuk ke gerbong depan untuk
melakukan penarikan tuas pertama peluncuran
kereta ini. Gerbong masinis ini terlihat mewah
dan sengaja di desain senyaman mungkin untuk
orang-orang yang nantinya memegang bagian
strategis ini. Ruangan ini juga di lengkapi berbagai
fitur canggih untuk menunjang pengoperasian
kereta yang memilki fasilitas lengkap dan
canggih layaknya jet pribadi ini.
Semua sudah siap, sang masinis mundur untuk
memberi tempat pada Sang Pangeran yang akan
segera meluncurkan kereta ini. Aaron menatap
lurus ke layar monitor, mengamati jalur kereta
yang nanti akan di lintasi hingga berakhir di
stasiun pemberhentian pertama. Dia melirik
kearah Raya yang berdiri di belakang nya.
"Kemarilah..! Kau yang tarik tuas ini.!"
Hahh.? semua orang tampak terkejut, menatap
tidak percaya, begitupun dengan Raya. Tatapan
Aaron terlihat semakin tajam penuh perintah
melihat Raya masih terdiam tak bergerak.
"Kau dengar apa yang aku katakan.?"
Suara Aaron mulai naik satu oktaf membuat
Raya dan semua orang terlonjak sadar dari
keterkejutannya.
"Tapi Yang Mulya.. saya tidak punya hak untuk..."
"Jangan membantahku Maharaya..!!"
Raya membeku, semua orang terdiam sambil
menundukkan kepala dengan lutut yang mulai
gemetar melihat reaksi keras Sang Pangeran.
Akhirnya Raya maju dan dia semakin tersentak
saat Aaron menarik pinggangnya hingga kini
tubuh mereka merapat. Raya membulatkan
mata di penuhi rasa jengkel sekaligus was-was melihat situasi yang ada. Dia melirik kearah
sekitarnya semua orang kini menundukkan
kepalanya tidak ada yang berani mengangkat
__ADS_1
muka.
"Apa yang kau takutkan.? Mereka semua ada
di bawah perintah ku.!"
Desis Aaron dengan seringai tipis di bibirnya
membuat Raya menatap diam wajah Aaron.
Dia kembali melihat ke belakang. Yang ada di
tempat itu hanyalah orang-orang dari istana dan orang-orang dari dinas perhubungan termasuk
Menteri nya, dan mereka semua merupakan
orang-orang nya Putra Mahkota.
"Ayo.. kita luncurkan kereta ini..!"
Bisik Aaron di telinga Raya membuat Raya reflek memundurkan tubuhnya seraya menatap kesal
wajah Aaron. Tangan kanan Aaron menggengam
erat tangan Raya kemudian di bawa kearah tuas.
"Ini akan menjadikan moment pertama kita."
Bisik Aaron sambil mengecup lembut bibir Raya
yang langsung memerah. Akhirnya dalam
hitungan mundur, secara bersama-sama tangan mereka berdua menarik tuas dan kereta api
canggih itupun melesat pergi keluar dari stasiun
di iringi tepuk tangan meriah masyarakat yang menunggu di area luar stasiun. Tidak lama
letusan kembang api melesat ke udara turut
memeriahkan suasana.
***
Aaron dan Raya kini berada di gerbong VVIP
yang terletak di dekat gerbong depan, dan dua
gerbong ini menyatu satu sama lain. Sedangkan
untuk gerbong lain sistemnya seperti biasa
terpisah dan bisa di atur sedemikian rupa untuk penggunaannya. Dan gerbong VVIP ini sengaja
di siapkan untuk tempat istirahat Putra Mahkota.
Sementara itu para tamu saat ini tengah berada
di gerbong-gerbong lain untuk melihat seluruh
detail ke 10 gerbong ekslusif tersebut.
"Apa ada makanan atau minuman yang kau
inginkan.?"
Aaron mengatur letak kursi yang kini di pakai
oleh Raya agar dia bisa tidur dengan nyaman.
"Tidak ada , aku hanya ingin istirahat sebentar
untuk menghilangkan berat di kepalaku.!"
Aaron menatap lekat wajah cantik Raya yang
terlihat sangat menggoda dan menggiurkan.
Kalau tidak ingat sedang dinas ingin rasanya
dia membawa istrinya ini ke dalam private
room. Tapi untuk saat ini rasanya itu tidak
mungkin terlaksana.
"Baiklah.. Kalau begitu tidurlah sekarang.!"
Raya menyandarkan tubuhnya dengan nyaman
di kursi yang di desain khusus dengan teknologi
canggih sekelas pesawat pribadi itu. Matanya
kini beradu tatap dengan mata Aaron. Entah
kenapa rasa tidak nyaman itu kini semakin
terasa membuat tubuhnya tidak bersemangat.
"Apa kau tidak ingin duduk dulu sebentar di
sini bersamaku ?"
Bibir Aaron terangkat sedikit dengan sorot
mata penuh arti yang membuat Raya tegang.
"Apa kau menginginkan sesuatu seperti yang
aku inginkan saat ini.?"
"Aaron..!! hentikan otak mesum mu itu.!"
"Hei.. kau sendiri yang memancing nya. Aku
hanya menjabarkan isi pikiranmu itu.!"
"Aku tidak punya pikiran kesitu Aaron. Ingat
kita ini sedang berada di kereta.!"
"Aku tahu kamu hanya mencari alasan saja,
dan aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini.!"
"Ya ampun Aaron kumohon hentikan !"
Raya memukul pelan dada Aaron karena tidak
tahan dengan godaannya. Dasar laki-laki otak
mesum, selalu saja hal itu yang di pikirkan nya.
"Baiklah.. kita masih bisa melakukanya lain
"Jadi kau mau duduk dulu di sini sebentar.?"
"Yang Mulya maaf.. Ada sesuatu yang harus
anda cek sekarang.!"
Tiba-tiba Benjamin muncul ke dalam ruangan
membuat rahang Aaron mengeras seketika
karena merasa terganggu.
"Benjamiinn...!!"
"Maafkan saya Yang Mulya.."
Benjamin membungkukkan badannya sambil
mengulurkan sebuah tablet ke hadapan Aaron
yang meliriknya sekilas namun perubahan di
wajahnya terlihat jelas, kelam dan dingin.
"Aku harus mengontrol gerbong lain sekarang.
Kau tunggu di sini, Griz dan para pengawal
akan menemani mu.!"
Ujar Aaron kemudian sambil menyelimuti tubuh
Raya lalu berdiri meraih tablet tipis dari tangan
Benjamin untuk melihat radar monitor sistem
keamanan. Wajahnya terlihat semakin kelam.
"Kenapa kita bisa kecolongan begini.? Siapa
orang yang mereka gunakan untuk meretas
sistem keamanan kita.?"
"Kelihatannya orang nya Roman Muller Yang
Mulya ! Mereka sudah berani masuk secara
terang-terangan.!"
"Suruh black Eagle mendekat dan bawakan
semua perlengkapan ku.!"
"Baik Yang Mulya.!"
Benjamin segera berlalu pergi, Raya menatap
wajah Aaron yang terlihat kelam.
"Aaron.. apa yang terjadi.? apa ada sesuatu.?
Aku ikut dengan mu saja."
Raya memegang kuat tangan Aaron dengan
tatapan tidak nyaman. Perasaan nya saat ini
semakin gelisah dan tidak terkontrol.
"Tidak ada apa-apa.! Tidurlah sekarang.! Aku
tidak akan lama, kalau perlu sesuatu bilang
pada mereka !"
Aaron mengecup lembut kening Raya kemudian
tanpa kata lagi dia melangkah pergi keluar dari
gerbong itu di iringi tatapan berat Raya. Griz
mendekat kemudian duduk di kursi sebelah Raya.
"Istirahatlah Lady.. Kami semua akan menjaga
anda di sini. Anda tidak perlu khawatir."
Raya menatap Griz sebentar kemudian kembali merebahkan kepalanya dan mulai memejamkan
mata. Kepalanya saat ini benar-benar berat. Dia
ingin tidur untuk melupakan segala kegelisahan
yang di rasakannya walau pun hanya sebentar
sebelum mereka tiba di stasiun pemberhentian pertama di persimpangan utama.
Kereta cepat itu sudah keluar dari wilayah kota
dan kini mulai melintas ke area perbukitan yang
tertutup salju di semua wilayah nya. Raya sudah terlihat mulai terlelap hingga Griz bisa menarik
napas tenang . Namun alisnya bertaut ketika jam tangan monitor nya berkedip-kedip.
Tidak lama kemudian tiba-tiba kereta berguncang hebat dan ada suara gemuruh pesawat yang kini mengepung laju kereta. Griz dan para pengawal
yang ada di gerbong itu sontak berdiri waspada
dan langsung melakukan koordinasi dengan
pasukan lain. Tidak lama Alex menghubunginya
dan terdengar berteriak di earphone.
"Kalian amankan Lady De Enzo sekarang juga
sebelum aku kesitu.! Kereta ini sudah di serang.!"
"Apa.?? Dimana Yang Mulya sekarang.?"
"Yang Mulya sedang mengamankan para tamu
yang telah di sandera.! Beliau akan segera kesitu.!"
Terdengar teriakan Alex di susul suara gemuruh
tembakan dan ledakan dahsyat yang membuat
Griz segera melompat ke dekat pintu mengunci
__ADS_1
dan mengamankan area.
"Buat barikade sekarang juga. ! Amankan Lady
De Enzo. Kereta ini sudah di serang !"
Griz berteriak sambil mengokang dua senjata
di tangannya kemudian mundur mengurung
tempat duduk Raya yang terlihat masih tenang
dalam tidurnya. Entah apa yang terjadi dengan
nya karena dia seakan tidak terpengaruh oleh
kegaduhan suasana. Dalam keadaan genting
itu tiba-tiba saja pintu masuk ke gerbong itu di berondong tembakan dari luar dan tidak lama
terbuka dengan tendangan yang sangat keras.
Griz dan para pengawal membelalakkan mata
melihat siapa yang kini berdiri menjulang tinggi
di ambang pintu. Sesosok pria tinggi tegap
dengan mantel hitam panjang serta tatapan
mata menyala seolah menyemburkan api
langsung menatap tajam kearah keberadaan
Raya yang tertidur lelap.
"Serang.. lindungi Miss Raya..!"
Griz segera mengarahkan senjata kearah orang
itu, namun sebelum dia dan para pengawal bisa
melesakkan tembakan sosok itu terlebih dahulu mengibaskan kedua tangannya membuat tubuh
Griz dan para pengawal terpental dan terlempar
sadis ke segala penjuru hingga jatuh membentur dinding kereta dan mulut mereka memuntahkan
darah segar. Senjata di tangan mereka terlempar entah kemana.
"Mundur.! atau aku tidak akan mengampuni
nyawa kalian semua..!!"
Geram sosok itu dengan suara harimau nya
sambil melangkah maju ke tengah gerbong
di ikuti oleh 5 orang pria besar menyeramkan
yang mengokang senjata berkaliber besar di
tangan dan kelihatannya mereka bukanlah
bawahan sosok itu karena memakai simbol
berbeda di tato yang ada di lehernya.
"Eden Wolf..!! Lagi-lagi kau membuat masalah.
Semua anak buahmu sudah habis di tangan
pasukan Underground Devil..! Tapi kau masih
punya nyali untuk bermain.!"
Desis Griz sambil berusaha berdiri dengan susah
payah sambil mengusap darah di bibirnya di ikuti
oleh para pengawal yang terlihat dalam kondisi
sama, cukup mengenaskan.
"Aku kesini hanya ingin menjemput wanita
milikku..! Jadi kalian tidak perlu menyetorkan
nyawa untuk mempertahankan nya.!"
"Ciihh.! Sampai kapan pun kau tidak akan bisa
mengambilnya.! Karena dia adalah milik
Pangeran kami..!!
Desis Griz penuh amarah, dia langsung melompat menyerang sosok itu yang tiada lain adalah Eden
Wolf. Namun lagi-lagi sebelum Griz bisa mencapai tubuh Eden Wolf tangan laki-laki itu terangkat ke
atas membuat tubuh Griz tiba-tiba ikut terangkat seolah ada tenaga dalam yang kini mengangkat
tubuh nya sampai ke langit-langit gerbong. Tidak
lama Eden Wolf menggerakkan tangan akan menghempaskan tubuh Griz.
"Eden Wolf..! Turunkan dia.!!"
Ada suara teriakan keras di penuhi kepanikan
yang membuat pria itu tersentak dan seketika
menjatuhkan tubuh Griz ke lantai gerbong.
"Griz.... kamu tidak apa-apa..?"
Raya yang tiba-tiba terbangun kini menghambur
kearah Griz, namun sebelum dia dapat menyentuh
Griz tubuhnya sudah terangkat ke dalam pangkuan Eden Wolf membuat Raya membulatkan matanya
dan seketika berontak memukuli tubuh laki-laki
itu dengan membabi buta.
"Lepaskan aku..! Kenapa kamu tidak pernah
berhenti membuat masalah.! Lepaasss...!!"
"Aku tidak akan pernah berhenti sebelum bisa
mendapatkan mu Raya.!!"
"Dasar pria gila.! Kamu manusia tidak waras.!"
Wajah Eden Wolf terlihat berubah menggelap.
Tangannya kini mengunci pinggang ramping
Raya dan mendekatkan wajahnya.
"Berhenti berontak atau aku akan menikmati
keindahan tubuhmu yang istimewa ini
sekarang juga sayangku..!"
Ancam Eden Wolf dengan seringai iblis yang
membuat tubuh Raya bergidik ngeri, namun
dia tetap saja mencoba melepaskan diri. Para pengawal kini bergerak maju menyerang Eden
Wolf namun di hadang oleh 5 pria menyeramkan
tadi. Maka terjadilah pertarungan seru dan sengit
di dalam gerbong yang sudah tidak berbentuk
lagi. Dari dalam gerbong depan muncul masinis
dan para asistennya yang terlihat memucat saat
melihat semua kejadian mengerikan itu. Mereka
langsung mundur dan masuk kembali ke dalam
ruang kontrol untuk melakukan komunikasi
darurat dengan pusat namun hal itu terhalang
oleh todongan senjata dua pria menyeramkan
yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
Para pengawal akhirnya ambruk tak berdaya di
hajar habis-habisan oleh para pria menyeramkan
itu. Griz masih mencoba menyerangnya namun
akhirnya harus bernasib sama dengan pengawal
tergeletak tak berdaya setelah masing-masing
terkena tembakan melumpuhkan. Raya berteriak
histeris melihat Griz dan para pengawal kini
berjatuhan dalam keadaan bermandikan darah.
"Kita cabut sekarang.! Siapkan helikopter.!"
Titah Eden sambil kemudian melangkah keluar
dari gerbong itu sambil menggendong tubuh
Raya yang tiada henti meronta dan melakukan
perlawanan sekuat tenaga. Tiba di gerbong
kedua tiba-tiba saja terdengar tembakan dan
beberapa orang seram lainnnya bermunculan
sambil melakukan serangan balik. Eden terpaksa
menurunkan Raya namun tetap di pegang dan
di kunci agar tidak terus melakukan perlawanan
dengan mengikat kedua pergelangan tangannya.
"Tu-Tuan.. pasukan Black Eagle Underground
telah datang.! Pasukan yang menyandera para
tamu telah habis di babat semuanya.!"
Lapor asisten kepercayaan Eden Wolf yang baru
datang sambil mengokang senjata besar yang
di pegangnya.
"Shit ! Pasukan Underground Devil Selalu saja bergerak cepat.! Padahal aku sudah membawa pasukan terbaik.! Masuk ke gerbong depan.!
Atur waktu pelepasan gerbong satu persatu.!"
"Baik Tuan..!"
Eden segera menarik tangan Raya di seret ke
gerbong lain bersamaan terdengar tembakan
yang menggempur ruangan itu.
Raya berontak sekuat tenaga saat tubuhnya di
seret paksa naik ke atas tangga darurat menuju
ke atap gerbong dimana pemandangan yang
terlihat begitu menakjubkan namun juga sangat menyeramkan karena saat ini kereta sedang
melintasi kawasan pegunungan Least Hills..
yang tertutup oleh salju tebal dan rel kereta
cepat ini berada di ketinggian yang mampu
membuat lutut gemetar sebab di kedua sisinya terdapat tebing curam yang sangat mengerikan..
"Aaroonn... tolong akuuu....!"
Raya menjerit histeris saat melihat kemunculan
sosok Aaron di ujung gerbong dengan pakaian
yang sudah berganti mengenakkan kostum
khas Underground Devil dengan rompi pengaman
dan seragam prajurit yang sangat pas di badan
hingga dia tampak gagah dan gentle..
__ADS_1
***