
❤️❤️❤️
Aaron menegakkan badan, menatap tenang
wajah sang nenek sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana hitam yang di
pakainya plus atasan bercorak etnik di lengkapi
syal panjang yang tergantung menghiasi bagian dadanya. Kemudian dia beralih melihat Catharina
yang sedang menunduk, hari ini gadis itu tampak
menawan dengan dress flower di bawah lutut
di lengkapi topi cantik yang terpasang manis
di kepala nya.
"Jangan melakukan sesuatu tanpa persetujuan
dariku. Apapun yang terjadi aku masih seorang
Putra Mahkota di sini.!"
Tegas Aaron membuat semua orang terhenyak
dalam ketegangan yang mulai tercipta.
"Kau tidak berhak untuk menentang ataupun
menolak peraturan yang berlaku.!"
"Tapi aku punya pilihan untuk tetap berdiri di
tempat ini atau pergi ke tempat lain.!"
"Putra Mahkota, cukup.! Jangan menentang
Ibu Suri lagi. Rakyat sudah menunggu kita.
Jadi kita harus pergi sekarang.!"
Raja William akhirnya angkat bicara. Kedua cucu
dan nenek itu terlihat memalingkan wajahnya.
Ke pelataran utama kini berdatangan kereta kuda
yang merupakan kendaraan bersejarah negara ini. Kereta-kereta ini hanya di gunakan pada saat
tertentu saja dan hal ini sangat di nantikan oleh seluruh rakyat untuk dapat melihat nya hari ini.
Ada sekitar 5 kereta yang kini di keluarkan. Yakni
2 kereta emas dan 3 kereta pengiring lainnya.
Raya menatap bengong kedatangan kereta-
kereta kencana itu dengan sorot mata takjub
melihat keindahan dan keunikan nya.
"Alluna mau naik satu kereta sama aunty.!"
Teriak Alluna panik saat pengasuh pribadinya
mendekat ingin meraihnya dari pangkuan Raya.
Hal itu membuat semua orang menoleh dan
melihat kearahnya. Arabella memberi isyarat
pada pengasuh itu untuk mundur.
"Tenanglah Luna.. kita akan naik satu kereta
sama aunty."
"Arabella..! Jangan memanjakan putrimu. Dan
jangan biarkan dia dekat dengan orang yang
baru saja di kenalnya.!"
Kembali Madam Rowena memberi peringatan.
Wajah Raya langsung bereaksi tidak nyaman.
Namun dia berusaha untuk tetap tenang. Justru
kini Aaron lah yang terlihat semakin kesal
terhadap perlakuan dan perkataan sang nenek.
"Tidak apa Grandma..aku mengenal Miss Raya
dengan cukup baik."
Sahut Arabella sambil menunduk meyakinkan.
Aaron tampak terdiam, namun tampang wajah
nya kini semakin terlihat dingin.
"Yang Mulya.. semuanya sudah siap."
Sang jenderal datang melapor ke hadapan Raja
William sambil membungkuk setengah badan.
"Baiklah.. kita berangkat sekarang.!"
Tegas Sang Raja sambil kemudian memegang
tangan Ibu Suri membimbing nya melangkah
menuju kereta emas yang paling depan. Aaron
melirik kearah Catharina yang kebetulan sedang meliriknya juga. Untuk sesaat keduanya tampak
saling menatap sampai akhirnya Aaron mulai melangkah tenang menuju kereta emas yang
kedua di dampingi oleh Catharina. Raya terdiam sesaat, menatap langkah Aaron dan Catharina. Dadanya mulai terasa sesak, tapi sebisa mungkin
dia mencoba untuk tidak terlalu peduli.
Raya mengikuti mereka di belakangnya sambil
menggendong Luna, keduanya saling melihat
dan tersenyum manis, kemudian menempelkan
hidung satu sama lain sambil bercanda kecil di saksikan oleh Arabella dan Arthur. Pria itu tidak
pernah banyak bicara. Pangeran tampan dengan pembawaan yang sangat tenang itu biasanya
hanya menyimak dan mengamati apa yang
terjadi di hadapannya. Orang-orang tidak ada
yang tahu, kalau dia merupakan salah satu
bawahan dan kepercayaan Aaron dalam dunia
bawah tanah. Makanya saat ini Arabella sudah
mengetahui siapa Raya sebenarnya dari Arthur.
Mereka tiba di depan kereta emas kedua yang
ukurannya cukup panjang dan terbuka di bagian
atasnya. Para pengawal dan asisten pribadi
Catharina tampak mengantar majikannya itu
sampai di depan kereta. Perlahan gadis cantik
nan elegan itu mulai menapakkan kaki menaiki
tangga kereta, namun karena heels yang di
pakainya terlalu lancip kaki Catharina tergelincir,
tubuhnya terpelanting ke samping kemudian
jatuh di atas pangkuan Aaron yang terkejut
sesaat. Keduanya saling pandang kuat, tangan
Catharina kini melingkar erat di leher kokoh
Aaron. Sontak saja hal itu membuat langkah
Raya terhenti seketika. Matanya menatap tajam interaksi intim pasangan tersebut.Dengan cepat
dia memalingkan wajahnya. Arabella dan Arthur
saling pandang, sementara Ansel dan Alex yang mengawal langkah Raya terdiam tak bereaksi.
"Maafkan aku Yang Mulya.."
Lirih Catharina malu saat Aaron membantunya
untuk naik ke dalam kereta. Wajah cantik gadis
itu saat ini tampak memerah, sedangkan Aaron
tetap terlihat datar tanpa ekspresi berlebihan.
Setelah memastikan Catharina duduk dengan
nyaman, Aaron berpaling pada Raya yang masih berdiri mematung cukup jauh darinya. Tatapan
mereka bertemu dalam sorot mata yang terlihat
sama-sama rumit dan kompleks.
"Come on baby.. kita naik sekarang."
Untuk pertama kalinya Arthur mengeluarkan
suara sambil mengulurkan tangan kearah Alluna
yang tersenyum dan merengkuh bahu Daddy nya.
Pria itu meraih Alluna ke dalam gendongannya.
Raya menundukkan kepala sedikit di hadapan
Arthur, matanya sempat bertemu sesaat dengan
mata Arthur yang terlihat menatapnya tenang.
"Tetaplah berpikiran positif Lady De Enzo.."
Desis Arthur dengan senyum tipis membuat
mata Raya mengerjap. Apa yang dia katakan?
"Ayo kakak ipar.. kita harus segera berangkat."
Kini giliran Arabella yang tersenyum penuh arti
sambil berbisik seraya menepuk bahu Raya yang
lagi-lagi di buat terkejut. Apa-apaan ini? Apakah
Arabella dan Arthur mengetahui semuanya.?
"Apalagi yang kau tunggu.?"
Tegur Aaron sambil mendekat kearah nya dan
kini sudah ada di dekatnya. Dia menarik tangan
Raya yang langsung menepis nya kuat kemudian
berjalan tenang melewati Aaron yang terlihat
__ADS_1
bengong dan hanya bisa terdiam dengan wajah
yang semakin datar dan dingin. Tapi tidak lama
Aaron mengikuti langkah Raya di samping nya.
"Jangan membuat masalah Miss Raya.!"
"Siapa yang membuat masalah Yang Mulya.?"
"Bersikaplah seperti biasanya.!"
"Tentu saja, aku sudah bersikap selayaknya
seorang sekretaris pribadi, apalagi yang kurang?"
"Berhenti bersikap dingin padaku.!"
Hahh..? Raya menghentikan langkahnya, raut
wajah nya terlihat jengah, dingin ? Bukannya hal
itu yang selalu melekat pada diri Sang Pangeran? kenapa dia jadi membalikan posisi.!
"Sepertinya anda sudah keliru Yang Mulya.."
Kesal Raya sambil kembali melangkah. Aaron
bergerak ingin mengangkat tubuh Raya begitu
mereka sampai di depan pintu masuk kereta
namun urung karena Raya segera memundurkan
tubuhnya sambil menatap tajam penuh antisipasi.
"Aku bisa sendiri.! Urus saja calon Ratu mu itu.
Dan tolong bersikaplah normal di hadapan
semua bawahan mu Yang Mulya..!"
Desis Raya dengan raut wajah yang sangat tegas
namun terlihat kesal dan menunjukkan gelagat
aneh yang membuat Aaron tertegun sesaat. Raya
bergerak naik ke dalam kereta, namun tiba-tiba
Ansel mengulurkan tangan ingin membantu nya membuat Raya berhenti di ambang pintu saat
melihat tangan Ansel di pegang kuat oleh Aaron dengan tatapan tajam menghunus bagai ujung pedang. Kedua pria itu saling menatap kuat.
"Mundur kamu ! Aku adalah suaminya.!"
Geram Aaron yang membuat Ansel tersenyum
tipis dan mendengus sebal.
"Kalau begitu berlakulah sebagai suaminya.!"
"Jangan mengajariku bagaimana bersikap.!"
"Baiklah Yang Mulya.. Anda selalu benar."
Ansel memundurkan tubuhnya, Raya tampak
menggeleng kuat melihat semua kejadian itu.
Sungguh mengherankan.! Apa sebenarnya yang
di inginkan oleh pria-pria itu.! Para prajurit dan
pelayan serta para staf istana yang melihat
interaksi tak biasa tersebut hanya bisa terdiam
berusaha untuk menutup mata dan telinga
mereka.
"Jangan mempertontonkan drama yang tidak
berguna di depan khalayak Yang Mulya..!"
Kecam Raya sambil menatap kesal kearah Aaron
yang kini mendekat padanya. Raya segera naik
ke dalam kereta di bantu oleh Arabella yang mengulurkan tangannya dengan senyum manis
sedikit geli melihat drama yang terjadi barusan.
Akhirnya Aaron pun naik ke atas kereta, menatap
Raya yang sudah duduk di kursi tengah bersama
dengan Arabella dan Alluna, bahkan gadis kecil
itu kini sudah duduk di atas pangkuannya sambil
menciumi pipi kemerahan Raya membuat Aaron
menautkan alis melihat kedekatan ponakan dan
istrinya tersebut.
Sementara Arthur berada di barisan kursi ketiga bersama dengan Ansel dan Alex. Aaron maju
melangkah ke kursi utama yang ada di depan
bersama dengan Catharina yang sudah duduk
dengan tenang seraya menebarkan senyum
penuh semangat dan kebahagiaan. Akhirnya kereta-kereta kencana itu pun mulai bergerak
keluar dari pelataran istana di kawal oleh barisan prajurit di kedua sisinya, rapat dan siaga penuh.
***
di luar lingkungan istana di sambut sorak sorai
masyarakat yang terlihat membungkuk setengah
badan sambil mengelu-elukan seluruh keluarga
kerajaan tanpa terlewat. Di belakang kereta istana
ada rombongan mobil-mobil mewah kap terbuka
dari para senator yang sudah menunggu di luar
istana dari tadi di pimpin langsung oleh perdana
menteri Alfred Winston. Raja dan Ratu tampak
melambaikan tangan sambil menebar senyum
ramah dan bersahaja kepada seluruh rakyatnya.
Kini semua perhatian masyarakat yang menjejali
seluruh jalanan yang di lalui oleh iring-iringan
kereta emas itu tercurah seluruhnya pada sosok
super tampan Putra Mahkota yang terpaksa
berdiri di atas kereta emas nya untuk menyapa
seluruh rakyat nya yang terlihat begitu memuja
dan terpesona saat melihat keberadaan dirinya
yang berdampingan dengan Catharina. Bahkan
banyak diantaranya yang jatuh pingsan, selain
itu banyak juga yang berteriak-teriak histeris
seperti kehilangan akal karena tak kuasa melihat
rupa dan kesempurnaan fisik Sang Pangeran.
Iring-iringan itu saat ini bergerak pelan menuju
ke alun-alun kota untuk memulai acara utama.
Sambutan masyarakat semakin meriah begitu
rombongan mendekat kearah alun-alun kota.
Si cantik Alluna tampak antusias melambaikan
tangan dan memberi kiss jauh sambil tersenyum
riang kepada seluruh masyarakat yang terdengar
mengelu-elukan nama nya. Dia berada dalam
gendongan Raya yang saat ini ikut tersenyum
serta melambai kearah penduduk yang tiba-tiba
saja terhipnotis oleh keberadaan nya di atas
kereta setelah dia berdiri dan menampakkan diri.
Semua orang tampak terkesima pada sosoknya
yang begitu terang dan bercahaya.
Raya tersentak ketika tiba-tiba Aaron sudah ada
di sampingnya, merangkul pinggangnya erat, lalu
ikut melambai pada masyarakat yang semakin
di buat bengong dan melongo begitu melihat
keduanya, mata mereka benar-benar terkesima
di suguhkan pada pemandangan luar biasa ini.
Apa sebenarnya yang sedang berlaku, siapakah
wanita yang kini berada dalam rengkuhan mesra
Sang Putra Mahkota.??
"Aaron..apa yang kau lakukan.? Cepat kembali
ke depan, jangan membuat drama lagi.!"
Raya berucap dengan pandangan yang tetap
terfokus pada kerumunan masyarakat yang kini
tampak melambai penuh sukacita pada dirinya
dan Aaron dengan tatapan dipenuhi kekaguman
dan antusiasme tinggi. Entah kenapa keberadaan mereka berdua diatas kereta seolah-olah mampu
menciptakan dan menabur energi positif pada
seluruh penduduk yang melihatnya.
"Drama yang sesungguhnya baru akan di mulai
sayang.. Mereka semua harus mengenali siapa
yang layak untuk menjadi pendamping ku..!"
Desis Aaron sambil kemudian meraih tubuh
mungil Alluna dari pangkuan Raya yang kini
__ADS_1
mengernyitkan alisnya. Alluna mencium pipi
Aaron dan duduk di lengan kokoh sang paman
sambil tiada henti melambaikan tangan.
"Apa maksudmu Aaron..? Aku mohon jangan
mempersulit keadaan. Kembalilah ke tempat
mu yang sebenarnya.!"
"Tempatku di sini, bersamamu.. Maharaya De
Enzo..! Jangan coba-coba mengaturku lagi.!"
"Tapi Aaron..Ini semua tidak benar."
"Inilah yang seharusnya terjadi.! Arabella,
Arthur..! pindah ke kursi depan.!!"
Arabella dan Arthur saling pandang bingung.
Dengan sedikit malas mereka pindah ke kursi
depan bersama dengan Catharina yang dari
tadi wajahnya sudah nampak tidak nyaman
melihat kebersamaan Aaron dan Raya. Semua
kejanggalan yang selama ini di lihatnya kini
semakin rerlihat nyata di depan matanya,
namun dia berusaha untuk tetap tenang
dan sabar.
"Aaron.. tolong hargailah perasaan Catharina.
Dia adalah wanita pilihan keluargamu."
"Tapi kau adalah pilihanku Maharaya.."
Deg !
Jantung Raya bertalu hebat, mata mereka kini
bertemu, saling menatap kuat berusaha untuk menembus batas keyakinan hati masing-masing. Alluna menatap bingung interaksi intim kedua
orang dewasa di dekatnya itu sambil tersenyum
lucu kemudian mencium pipi kedua orang itu bergantian membuat wajah mereka memerah.
"Aunty sama Uncle lucu sekali.."
Seloroh Alluna sambil kemudian menarik bahu
Raya cukup kencang hingga membuat tubuh
Raya merapat ke dada Aaron, dan kesempatan
itu tidak di sia-siakan oleh Aaron, dia semakin memperkuat belitan tangannya di pinggang
Raya, keduanya saling berpandangan lekat
dengan debaran jantung yang semakin tak
terkendali.
"Aaron..aku mohon bersikaplah sedikit normal.!"
Desis Raya menegang saat pria itu mendekatkan
wajahnya dengan sorot mata yang terlihat aneh.
"Aku sangat normal saat ini Lady De Enzo.!"
Cup !
Benar-benar di luar dugaan, dengan gerakan
cepat Aaron mengecup lembut bibir merah
delima Raya yang langsung menjauhkan diri
dari rengkuhan pria aneh itu dengan wajah
yang terlihat merah padam. Sementara Aaron
tampak cuek saja, dia kembali memperhatikan sambutan masyarakat pada kebersamaan
dirinya dengan Raya dengan seksama. Alex
mendekat dan memperlihatkan status
keamanan yang ada di layar monitor tablet
kecilnya.
"Mereka sudah mulai masuk pada kerumunan
penduduk Yang Mulya."
"Suruh Singa Putih bergerak senyap, lalu bekuk
mereka semua tanpa jejak.!"
"Baik Yang Mulya.."
"Suruh Benjamin mendekat padaku.! "
Alex mengangguk kemudian mundur kembali
dan melakukan panggilan rahasia. Akhirnya
setelah perjalanan yang cukup panjang dari
istana menuju alun-alun kota, kini iring-iringan
itu sudah tiba di tengah-tengah kota di sambut
langsung oleh seluruh panitia acara dan suara
gemuruh teriakan dari ribuan penduduk yang
memadati alun-alun kota tersebut.
Seluruh anggota keluarga kerajaan di arak ke
tengah-tengah arena karnaval dengan posisi
yang bertahan di dalam kereta. Persembahan
pun kini di mulai dengan menampilkan berbagai atraksi kesenian dan tarian adat, acara fashion
show dadakan dari model-model lokal serta
berbagai pertunjukan lainnya dan kreasi seni
dari para seniman yang ada di negara ini.
Dan acara puncak yang paling di tunggu pun kini
di mulai. Yakni menari bersama dalam rentak
irama musik dinamis khas negara ini. Area tengah
dari alun-alun sengaja di kosongkan dan di jaga
ketat dengan prosedur penjagaan kelas satu.
Panitia mengumumkan dan memanggil seluruh
anggota keluarga kerajaan untuk turun ke arena
dan membuka acara menari bersama ini, bebas membawa orang-orang terdekat termasuk para asisten dan pelayan pribadi masing-masing.
Raja dan Ratu sudah turun ke arena, di susul
kemudian oleh Arabella dan Arthur, para staf
istana serta para senator yang terhormat di
sambut tepuk tangan meriah seluruh penduduk
yang melihat mereka semua dari jarak yang
sudah di tentukan. Namun kini mereka mencoba
menahan diri menanti kemunculan Sang Putra Mahkota ke tengah arena.
"Yang Mulya..apakah anda akan membiarkan
semua orang menunggu.?"
Raya berucap dengan wajah sedikit kesal saat
melihat Aaron malah duduk santai di kursinya
padahal Catharina sudah menunggu dengan
sabar dan wajah yang terlihat mulai di serang
rasa kecewa serta putus asa. Di depan pintu
kereta tiba-tiba saja datang dua orang pelayan
pribadi Madam Rowena, mereka membungkuk
hormat di hadapan Aaron dan Catharina.
"Mohon maaf Yang Mulya.. Ibu Suri meminta
sekretaris pribadi Yang Mulya untuk menemani
beliau menari.."
Apa ??? semua orang tampak melongo tidak
percaya. Terlebih bagi Raya dan Aaron, mereka
berdua saling melihat, mencoba meyakinkan pendengaran masing-masing.
"Katakan padanya dia akan turun bersamaku.
Catharina yang akan menemaninya menari.!"
Geram Aaron sambil berdiri dan bersiap diri.
Semua orang menatapnya dalam diam.
"Tidak, aku akan turun menemani beliau."
"Maharaya..! Jangan coba-coba menentang
keputusanku.!"
Aaron menarik tangan Raya yang bergerak
turun dari kereta. Catharina tampak terkejut
melihat apa yang di lakukan oleh Aaron.
"Yang Mulya..ini adalah sebuah kehormatan
besar bagi saya untuk bisa menemani beliau.!"
"Kau akan menari dengan ku.! "
Tegas Aaron dengan wajah yang sangat dingin
dan sedetik kemudian dia sudah mengangkat
tubuh Raya ke dalam pangkuannya membuat
mata Catharina membulat tidak percaya..
__ADS_1
***