Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
60. Drama Karnaval


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aaron menegakkan badan, menatap tenang


wajah sang nenek sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana hitam yang di


pakainya plus atasan bercorak etnik di lengkapi


syal panjang yang tergantung menghiasi bagian dadanya. Kemudian dia beralih melihat Catharina


yang sedang menunduk, hari ini gadis itu tampak


menawan dengan dress flower di bawah lutut


di lengkapi topi cantik yang terpasang manis


di kepala nya.


"Jangan melakukan sesuatu tanpa persetujuan


dariku. Apapun yang terjadi aku masih seorang


Putra Mahkota di sini.!"


Tegas Aaron membuat semua orang terhenyak


dalam ketegangan yang mulai tercipta.


"Kau tidak berhak untuk menentang ataupun


menolak peraturan yang berlaku.!"


"Tapi aku punya pilihan untuk tetap berdiri di


tempat ini atau pergi ke tempat lain.!"


"Putra Mahkota, cukup.! Jangan menentang


Ibu Suri lagi. Rakyat sudah menunggu kita.


Jadi kita harus pergi sekarang.!"


Raja William akhirnya angkat bicara. Kedua cucu


dan nenek itu terlihat memalingkan wajahnya.


Ke pelataran utama kini berdatangan kereta kuda


yang merupakan kendaraan bersejarah negara ini. Kereta-kereta ini hanya di gunakan pada saat


tertentu saja dan hal ini sangat di nantikan oleh seluruh rakyat untuk dapat melihat nya hari ini.


Ada sekitar 5 kereta yang kini di keluarkan. Yakni


2 kereta emas dan 3 kereta pengiring lainnya.


Raya menatap bengong kedatangan kereta-


kereta kencana itu dengan sorot mata takjub


melihat keindahan dan keunikan nya.


"Alluna mau naik satu kereta sama aunty.!"


Teriak Alluna panik saat pengasuh pribadinya


mendekat ingin meraihnya dari pangkuan Raya.


Hal itu membuat semua orang menoleh dan


melihat kearahnya. Arabella memberi isyarat


pada pengasuh itu untuk mundur.


"Tenanglah Luna.. kita akan naik satu kereta


sama aunty."


"Arabella..! Jangan memanjakan putrimu. Dan


jangan biarkan dia dekat dengan orang yang


baru saja di kenalnya.!"


Kembali Madam Rowena memberi peringatan.


Wajah Raya langsung bereaksi tidak nyaman.


Namun dia berusaha untuk tetap tenang. Justru


kini Aaron lah yang terlihat semakin kesal


terhadap perlakuan dan perkataan sang nenek.


"Tidak apa Grandma..aku mengenal Miss Raya


dengan cukup baik."


Sahut Arabella sambil menunduk meyakinkan.


Aaron tampak terdiam, namun tampang wajah


nya kini semakin terlihat dingin.


"Yang Mulya.. semuanya sudah siap."


Sang jenderal datang melapor ke hadapan Raja


William sambil membungkuk setengah badan.


"Baiklah.. kita berangkat sekarang.!"


Tegas Sang Raja sambil kemudian memegang


tangan Ibu Suri membimbing nya melangkah


menuju kereta emas yang paling depan. Aaron


melirik kearah Catharina yang kebetulan sedang meliriknya juga. Untuk sesaat keduanya tampak


saling menatap sampai akhirnya Aaron mulai melangkah tenang menuju kereta emas yang


kedua di dampingi oleh Catharina. Raya terdiam sesaat, menatap langkah Aaron dan Catharina. Dadanya mulai terasa sesak, tapi sebisa mungkin


dia mencoba untuk tidak terlalu peduli.


Raya mengikuti mereka di belakangnya sambil


menggendong Luna, keduanya saling melihat


dan tersenyum manis, kemudian menempelkan


hidung satu sama lain sambil bercanda kecil di saksikan oleh Arabella dan Arthur. Pria itu tidak


pernah banyak bicara. Pangeran tampan dengan pembawaan yang sangat tenang itu biasanya


hanya menyimak dan mengamati apa yang


terjadi di hadapannya. Orang-orang tidak ada


yang tahu, kalau dia merupakan salah satu


bawahan dan kepercayaan Aaron dalam dunia


bawah tanah. Makanya saat ini Arabella sudah


mengetahui siapa Raya sebenarnya dari Arthur.


Mereka tiba di depan kereta emas kedua yang


ukurannya cukup panjang dan terbuka di bagian


atasnya. Para pengawal dan asisten pribadi


Catharina tampak mengantar majikannya itu


sampai di depan kereta. Perlahan gadis cantik


nan elegan itu mulai menapakkan kaki menaiki


tangga kereta, namun karena heels yang di


pakainya terlalu lancip kaki Catharina tergelincir,


tubuhnya terpelanting ke samping kemudian


jatuh di atas pangkuan Aaron yang terkejut


sesaat. Keduanya saling pandang kuat, tangan


Catharina kini melingkar erat di leher kokoh


Aaron. Sontak saja hal itu membuat langkah


Raya terhenti seketika. Matanya menatap tajam interaksi intim pasangan tersebut.Dengan cepat


dia memalingkan wajahnya. Arabella dan Arthur


saling pandang, sementara Ansel dan Alex yang mengawal langkah Raya terdiam tak bereaksi.


"Maafkan aku Yang Mulya.."


Lirih Catharina malu saat Aaron membantunya


untuk naik ke dalam kereta. Wajah cantik gadis


itu saat ini tampak memerah, sedangkan Aaron


tetap terlihat datar tanpa ekspresi berlebihan.


Setelah memastikan Catharina duduk dengan


nyaman, Aaron berpaling pada Raya yang masih berdiri mematung cukup jauh darinya. Tatapan


mereka bertemu dalam sorot mata yang terlihat


sama-sama rumit dan kompleks.


"Come on baby.. kita naik sekarang."


Untuk pertama kalinya Arthur mengeluarkan


suara sambil mengulurkan tangan kearah Alluna


yang tersenyum dan merengkuh bahu Daddy nya.


Pria itu meraih Alluna ke dalam gendongannya.


Raya menundukkan kepala sedikit di hadapan


Arthur, matanya sempat bertemu sesaat dengan


mata Arthur yang terlihat menatapnya tenang.


"Tetaplah berpikiran positif Lady De Enzo.."


Desis Arthur dengan senyum tipis membuat


mata Raya mengerjap. Apa yang dia katakan?


"Ayo kakak ipar.. kita harus segera berangkat."


Kini giliran Arabella yang tersenyum penuh arti


sambil berbisik seraya menepuk bahu Raya yang


lagi-lagi di buat terkejut. Apa-apaan ini? Apakah


Arabella dan Arthur mengetahui semuanya.?


"Apalagi yang kau tunggu.?"


Tegur Aaron sambil mendekat kearah nya dan


kini sudah ada di dekatnya. Dia menarik tangan


Raya yang langsung menepis nya kuat kemudian


berjalan tenang melewati Aaron yang terlihat

__ADS_1


bengong dan hanya bisa terdiam dengan wajah


yang semakin datar dan dingin. Tapi tidak lama


Aaron mengikuti langkah Raya di samping nya.


"Jangan membuat masalah Miss Raya.!"


"Siapa yang membuat masalah Yang Mulya.?"


"Bersikaplah seperti biasanya.!"


"Tentu saja, aku sudah bersikap selayaknya


seorang sekretaris pribadi, apalagi yang kurang?"


"Berhenti bersikap dingin padaku.!"


Hahh..? Raya menghentikan langkahnya, raut


wajah nya terlihat jengah, dingin ? Bukannya hal


itu yang selalu melekat pada diri Sang Pangeran? kenapa dia jadi membalikan posisi.!


"Sepertinya anda sudah keliru Yang Mulya.."


Kesal Raya sambil kembali melangkah. Aaron


bergerak ingin mengangkat tubuh Raya begitu


mereka sampai di depan pintu masuk kereta


namun urung karena Raya segera memundurkan


tubuhnya sambil menatap tajam penuh antisipasi.


"Aku bisa sendiri.! Urus saja calon Ratu mu itu.


Dan tolong bersikaplah normal di hadapan


semua bawahan mu Yang Mulya..!"


Desis Raya dengan raut wajah yang sangat tegas


namun terlihat kesal dan menunjukkan gelagat


aneh yang membuat Aaron tertegun sesaat. Raya


bergerak naik ke dalam kereta, namun tiba-tiba


Ansel mengulurkan tangan ingin membantu nya membuat Raya berhenti di ambang pintu saat


melihat tangan Ansel di pegang kuat oleh Aaron dengan tatapan tajam menghunus bagai ujung pedang. Kedua pria itu saling menatap kuat.


"Mundur kamu ! Aku adalah suaminya.!"


Geram Aaron yang membuat Ansel tersenyum


tipis dan mendengus sebal.


"Kalau begitu berlakulah sebagai suaminya.!"


"Jangan mengajariku bagaimana bersikap.!"


"Baiklah Yang Mulya.. Anda selalu benar."


Ansel memundurkan tubuhnya, Raya tampak


menggeleng kuat melihat semua kejadian itu.


Sungguh mengherankan.! Apa sebenarnya yang


di inginkan oleh pria-pria itu.! Para prajurit dan


pelayan serta para staf istana yang melihat


interaksi tak biasa tersebut hanya bisa terdiam


berusaha untuk menutup mata dan telinga


mereka.


"Jangan mempertontonkan drama yang tidak


berguna di depan khalayak Yang Mulya..!"


Kecam Raya sambil menatap kesal kearah Aaron


yang kini mendekat padanya. Raya segera naik


ke dalam kereta di bantu oleh Arabella yang mengulurkan tangannya dengan senyum manis


sedikit geli melihat drama yang terjadi barusan.


Akhirnya Aaron pun naik ke atas kereta, menatap


Raya yang sudah duduk di kursi tengah bersama


dengan Arabella dan Alluna, bahkan gadis kecil


itu kini sudah duduk di atas pangkuannya sambil


menciumi pipi kemerahan Raya membuat Aaron


menautkan alis melihat kedekatan ponakan dan


istrinya tersebut.


Sementara Arthur berada di barisan kursi ketiga bersama dengan Ansel dan Alex. Aaron maju


melangkah ke kursi utama yang ada di depan


bersama dengan Catharina yang sudah duduk


dengan tenang seraya menebarkan senyum


penuh semangat dan kebahagiaan. Akhirnya kereta-kereta kencana itu pun mulai bergerak


keluar dari pelataran istana di kawal oleh barisan prajurit di kedua sisinya, rapat dan siaga penuh.


***


di luar lingkungan istana di sambut sorak sorai


masyarakat yang terlihat membungkuk setengah


badan sambil mengelu-elukan seluruh keluarga


kerajaan tanpa terlewat. Di belakang kereta istana


ada rombongan mobil-mobil mewah kap terbuka


dari para senator yang sudah menunggu di luar


istana dari tadi di pimpin langsung oleh perdana


menteri Alfred Winston. Raja dan Ratu tampak


melambaikan tangan sambil menebar senyum


ramah dan bersahaja kepada seluruh rakyatnya.


Kini semua perhatian masyarakat yang menjejali


seluruh jalanan yang di lalui oleh iring-iringan


kereta emas itu tercurah seluruhnya pada sosok


super tampan Putra Mahkota yang terpaksa


berdiri di atas kereta emas nya untuk menyapa


seluruh rakyat nya yang terlihat begitu memuja


dan terpesona saat melihat keberadaan dirinya


yang berdampingan dengan Catharina. Bahkan


banyak diantaranya yang jatuh pingsan, selain


itu banyak juga yang berteriak-teriak histeris


seperti kehilangan akal karena tak kuasa melihat


rupa dan kesempurnaan fisik Sang Pangeran.


Iring-iringan itu saat ini bergerak pelan menuju


ke alun-alun kota untuk memulai acara utama.


Sambutan masyarakat semakin meriah begitu


rombongan mendekat kearah alun-alun kota.


Si cantik Alluna tampak antusias melambaikan


tangan dan memberi kiss jauh sambil tersenyum


riang kepada seluruh masyarakat yang terdengar


mengelu-elukan nama nya. Dia berada dalam


gendongan Raya yang saat ini ikut tersenyum


serta melambai kearah penduduk yang tiba-tiba


saja terhipnotis oleh keberadaan nya di atas


kereta setelah dia berdiri dan menampakkan diri.


Semua orang tampak terkesima pada sosoknya


yang begitu terang dan bercahaya.


Raya tersentak ketika tiba-tiba Aaron sudah ada


di sampingnya, merangkul pinggangnya erat, lalu


ikut melambai pada masyarakat yang semakin


di buat bengong dan melongo begitu melihat


keduanya, mata mereka benar-benar terkesima


di suguhkan pada pemandangan luar biasa ini.


Apa sebenarnya yang sedang berlaku, siapakah


wanita yang kini berada dalam rengkuhan mesra


Sang Putra Mahkota.??


"Aaron..apa yang kau lakukan.? Cepat kembali


ke depan, jangan membuat drama lagi.!"


Raya berucap dengan pandangan yang tetap


terfokus pada kerumunan masyarakat yang kini


tampak melambai penuh sukacita pada dirinya


dan Aaron dengan tatapan dipenuhi kekaguman


dan antusiasme tinggi. Entah kenapa keberadaan mereka berdua diatas kereta seolah-olah mampu


menciptakan dan menabur energi positif pada


seluruh penduduk yang melihatnya.


"Drama yang sesungguhnya baru akan di mulai


sayang.. Mereka semua harus mengenali siapa


yang layak untuk menjadi pendamping ku..!"


Desis Aaron sambil kemudian meraih tubuh


mungil Alluna dari pangkuan Raya yang kini

__ADS_1


mengernyitkan alisnya. Alluna mencium pipi


Aaron dan duduk di lengan kokoh sang paman


sambil tiada henti melambaikan tangan.


"Apa maksudmu Aaron..? Aku mohon jangan


mempersulit keadaan. Kembalilah ke tempat


mu yang sebenarnya.!"


"Tempatku di sini, bersamamu.. Maharaya De


Enzo..! Jangan coba-coba mengaturku lagi.!"


"Tapi Aaron..Ini semua tidak benar."


"Inilah yang seharusnya terjadi.! Arabella,


Arthur..! pindah ke kursi depan.!!"


Arabella dan Arthur saling pandang bingung.


Dengan sedikit malas mereka pindah ke kursi


depan bersama dengan Catharina yang dari


tadi wajahnya sudah nampak tidak nyaman


melihat kebersamaan Aaron dan Raya. Semua


kejanggalan yang selama ini di lihatnya kini


semakin rerlihat nyata di depan matanya,


namun dia berusaha untuk tetap tenang


dan sabar.


"Aaron.. tolong hargailah perasaan Catharina.


Dia adalah wanita pilihan keluargamu."


"Tapi kau adalah pilihanku Maharaya.."


Deg !


Jantung Raya bertalu hebat, mata mereka kini


bertemu, saling menatap kuat berusaha untuk menembus batas keyakinan hati masing-masing. Alluna menatap bingung interaksi intim kedua


orang dewasa di dekatnya itu sambil tersenyum


lucu kemudian mencium pipi kedua orang itu bergantian membuat wajah mereka memerah.


"Aunty sama Uncle lucu sekali.."


Seloroh Alluna sambil kemudian menarik bahu


Raya cukup kencang hingga membuat tubuh


Raya merapat ke dada Aaron, dan kesempatan


itu tidak di sia-siakan oleh Aaron, dia semakin memperkuat belitan tangannya di pinggang


Raya, keduanya saling berpandangan lekat


dengan debaran jantung yang semakin tak


terkendali.


"Aaron..aku mohon bersikaplah sedikit normal.!"


Desis Raya menegang saat pria itu mendekatkan


wajahnya dengan sorot mata yang terlihat aneh.


"Aku sangat normal saat ini Lady De Enzo.!"


Cup !


Benar-benar di luar dugaan, dengan gerakan


cepat Aaron mengecup lembut bibir merah


delima Raya yang langsung menjauhkan diri


dari rengkuhan pria aneh itu dengan wajah


yang terlihat merah padam. Sementara Aaron


tampak cuek saja, dia kembali memperhatikan sambutan masyarakat pada kebersamaan


dirinya dengan Raya dengan seksama. Alex


mendekat dan memperlihatkan status


keamanan yang ada di layar monitor tablet


kecilnya.


"Mereka sudah mulai masuk pada kerumunan


penduduk Yang Mulya."


"Suruh Singa Putih bergerak senyap, lalu bekuk


mereka semua tanpa jejak.!"


"Baik Yang Mulya.."


"Suruh Benjamin mendekat padaku.! "


Alex mengangguk kemudian mundur kembali


dan melakukan panggilan rahasia. Akhirnya


setelah perjalanan yang cukup panjang dari


istana menuju alun-alun kota, kini iring-iringan


itu sudah tiba di tengah-tengah kota di sambut


langsung oleh seluruh panitia acara dan suara


gemuruh teriakan dari ribuan penduduk yang


memadati alun-alun kota tersebut.


Seluruh anggota keluarga kerajaan di arak ke


tengah-tengah arena karnaval dengan posisi


yang bertahan di dalam kereta. Persembahan


pun kini di mulai dengan menampilkan berbagai atraksi kesenian dan tarian adat, acara fashion


show dadakan dari model-model lokal serta


berbagai pertunjukan lainnya dan kreasi seni


dari para seniman yang ada di negara ini.


Dan acara puncak yang paling di tunggu pun kini


di mulai. Yakni menari bersama dalam rentak


irama musik dinamis khas negara ini. Area tengah


dari alun-alun sengaja di kosongkan dan di jaga


ketat dengan prosedur penjagaan kelas satu.


Panitia mengumumkan dan memanggil seluruh


anggota keluarga kerajaan untuk turun ke arena


dan membuka acara menari bersama ini, bebas membawa orang-orang terdekat termasuk para asisten dan pelayan pribadi masing-masing.


Raja dan Ratu sudah turun ke arena, di susul


kemudian oleh Arabella dan Arthur, para staf


istana serta para senator yang terhormat di


sambut tepuk tangan meriah seluruh penduduk


yang melihat mereka semua dari jarak yang


sudah di tentukan. Namun kini mereka mencoba


menahan diri menanti kemunculan Sang Putra Mahkota ke tengah arena.


"Yang Mulya..apakah anda akan membiarkan


semua orang menunggu.?"


Raya berucap dengan wajah sedikit kesal saat


melihat Aaron malah duduk santai di kursinya


padahal Catharina sudah menunggu dengan


sabar dan wajah yang terlihat mulai di serang


rasa kecewa serta putus asa. Di depan pintu


kereta tiba-tiba saja datang dua orang pelayan


pribadi Madam Rowena, mereka membungkuk


hormat di hadapan Aaron dan Catharina.


"Mohon maaf Yang Mulya.. Ibu Suri meminta


sekretaris pribadi Yang Mulya untuk menemani


beliau menari.."


Apa ??? semua orang tampak melongo tidak


percaya. Terlebih bagi Raya dan Aaron, mereka


berdua saling melihat, mencoba meyakinkan pendengaran masing-masing.


"Katakan padanya dia akan turun bersamaku.


Catharina yang akan menemaninya menari.!"


Geram Aaron sambil berdiri dan bersiap diri.


Semua orang menatapnya dalam diam.


"Tidak, aku akan turun menemani beliau."


"Maharaya..! Jangan coba-coba menentang


keputusanku.!"


Aaron menarik tangan Raya yang bergerak


turun dari kereta. Catharina tampak terkejut


melihat apa yang di lakukan oleh Aaron.


"Yang Mulya..ini adalah sebuah kehormatan


besar bagi saya untuk bisa menemani beliau.!"


"Kau akan menari dengan ku.! "


Tegas Aaron dengan wajah yang sangat dingin


dan sedetik kemudian dia sudah mengangkat


tubuh Raya ke dalam pangkuannya membuat


mata Catharina membulat tidak percaya..

__ADS_1


***


__ADS_2