Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
17. Pelabuhan


__ADS_3

❤️❤️❤️


Pulang dari pertemuan Aaron membawa


Raya pergi ke suatu tempat. Tidak ada kata


yang keluar dari mulut mereka. Keduanya


larut dalam kesibukan masing-masing. Raya


dengan laptop nya, sementara Aaron tampak


sibuk menerima telepon dari seseorang.


"Kita langsung ke pelabuhan.!"


Akhirnya sang Presdir mengeluarkan suara.


"Baik Tuan."


Alex meluncurkan mobil super mewah nya


ke kawasan pelabuhan. Raya melirik sekilas


kearah Aaron yang terlihat kembali sibuk


dengan teleponnya. Pelabuhan.? Apakah


dia akan ikut melihat kedatangan barang-


barang yang baru tiba di pelabuhan.?


Ponsel Raya tiba-tiba bergetar, dia tertegun


saat melihat nama Sean terpampang di sana.


Raya sedikit ragu untuk mengangkat nya.


Aaron melirik kearah Raya yang masih


terdiam, menatap layar ponselnya dengan


wajah penuh kebimbangan.


"Kalau tidak ingin menjawab nya matikan.!"


Aaron berkata dengan tatapan tajam yang


mampu menembus jantung Raya membuat


wanita itu langsung menekan tombol hijau


dengan wajah juteknya.


"Hallo Mr Sean.."


"Ray.. apa kamu ikut Presdir ke pelabuhan.?"


"Seperti nya begitu. Apa anda juga kesana.?"


"Iya, aku sudah di sini sekarang."


"Baiklah.. nanti kita bertemu di sana."


Raya melirik sekilas kearah Aaron, tidak di


sangka ternyata pria dingin itu masih fokus


menatap dirinya, wajahnya terlihat datar


namun ada aura mencekam yang kini mulai


menyelimuti seluruh isi mobil.


"Baik, aku tunggu kamu di sini.!"


Terdengar sahutan Sean dari sebrang sana.


Raya memutus sambungan telepon nya. Dia


memalingkan wajahnya ke arah luar jendela


berusaha untuk tidak mempedulikan bos nya


itu. Aaron mendengus, melempar pandangan


ke luar jendela. Wajahnya terlihat semakin


dingin. Keduanya kembali saling membisu.


Namun beberapa saat kemudian ada gelagat


aneh yang di tunjukan Alex. Dia mempercepat


laju mobilnya. Dalam keadaan mengemudi


Alex mengeluarkan alat komunikasi khusus


dan menekan tombol darurat mengirimkan


signal keadaan siaga pada bawahannya.


Namun tampaknya Aaron santai saja. Dia


kembali melakukan panggilan dalam bahasa


asing yang tidak di mengerti oleh Raya.


Saat laju mobil semakin cepat Raya mulai


merasakan ketegangan. Dia mengencangkan


sabuk pengaman dan menatap tajam kearah


Alex yang sedang fokus ke jalanan.


"Ada apa Alex.? Kenapa membawa mobil


dengan ugal-ugalan seperti ini.?"


Akhirnya Raya tidak tahan lagi, Alex tampak


sedikit terkejut, dia melihat kearah spion


tengah dengan reaksi aneh di wajah nya.


"Maaf Miss.. tidak ada apa-apa. Hanya ada


sedikit masalah.!"


"Turunkan kecepatan atau turunkan aku


sekarang juga.!"


"Maaf Miss, tapi keadaannya sedikit darurat.!"


Ujar Alex seraya memperlambat laju mobilnya.


Aaron melirik kearah Raya yang terlihat mulai memucat. Dia segera mengakhiri pembicaraan


teleponnya.


"Pindah ke sini.!"


Titah Aaron sambil menggeser posisi duduk


nya. Raya menatap jengah sambil menggeleng


kuat. Bagaimana bisa dia duduk satu jok


dengan pria jahat itu.? Itu kan jok singel.!


"Aku bilang pindah.!"


"Tidak mau, kau pikir itu akan muat untuk


dua orang !"


"Apa kau lebih suka di paksa.?"


"Issh dasar orang aneh.!"


Raya keukeuh dengan pendiriannya. Tapi


Alex kembali melajukan mobilnya dengan


kecepatan diatas rata-rata membuat Raya


kembali tegang. Aaron menyeringai tipis


saat melihat Raya terpaksa membuka sabuk


pengaman nya sambil menatap kearahnya.


Dalam sekali gerakan cepat tak terduga


Aaron menarik tubuh Raya dan kini jatuh


di atas pangkuannya. Mata mereka bertemu,


saling menatap kuat. Tangan Raya kini


melingkar erat di leher Aaron.


"Biarkan mereka bermain.!"


Aaron berkata dengan tatapan tidak lepas


dari wajah cantik Raya yang ada di depannya,


masih belum pulih dari keterkejutannya.


"Baik Tuan."


"Giring mereka ke pelabuhan.!"


Alex mengangguk sambil meluncurkan

__ADS_1


mobilnya dengan kecepatan penuh hingga


memancing beberapa mobil patroli polisi


yang langsung mengejarnya.


"Apa kalian sudah tidak waras ? kenapa


harus memancing aparat untuk mengejar


kita.?"


Raya terlihat panik, dia mencoba meronta


ingin turun dari pangkuan Aaron, tapi pria


itu malah semakin mengunci pinggang nya.


Raya mencoba mendorong dada Aaron.


"Turunkan aku, biarkan aku duduk.!"


"Kau sudah duduk sekarang.!"


Aaron nampak acuh, dia malah menarik


pinggang kecil Raya hingga kini tubuh


mereka semakin merapat. Ketakutan Raya


semakin nyata saat mobil mereka kini di


kejar oleh 3 mobil patroli. Dia memekik kuat


saat Alex mengecoh mobil patroli dengan meluncurkan mobilnya ke daerah padat


massa di dalam pasar ikan yang membuat orang-orang menjerit histeris sambil berlarian menghindar berusaha menyelamatkan diri.


Raya membulatkan matanya tidak percaya


Alex melakukan kecerobohan seperti tadi.


Untung saja tidak memakan korban karena


Alex mampu mengendalikan mobilnya dengan


sangat lihai. Sementara Aaron dan Alex malah


terlihat semakin bersemangat. Keduanya


seolah sedang memainkan sebuah game


yang sudah sangat di kuasai nya.


"Aku mohon hentikan.! Atau turunkan aku


sekarang juga.! Kalian semua penjahat.!


Kalian adalah orang-orang aneh.!"


Raya berteriak kencang sambil berontak


memukuli dada Aaron, namun dengan santai


seolah tidak merasakan apa-apa, Aaron


memegang kedua pergelangan tangan Raya,


mengunci di dadanya. Gerakan Raya terhenti,


mata mereka kini saling menatap, memanas,


kebencian di mata Raya semakin berkobar.


"Turunkan aku sekarang juga.! Aku tidak


ingin berurusan dengan orang-orang kejam


seperti kalian.!"


"Kau pilih diam, atau aku akan melakukan


sesuatu padamu, sekarang juga.!"


Ancam Aaron sambil memajukan wajahnya,


wajah Raya seketika memucat di penuhi


ketegangan, dia terpaksa menurut, diam tak


bergerak, hanya tangannya saja yang kini


terkepal kuat. Seringai tipis tercipta di bibir


Aaron membuat Raya ingin sekali melenyapkan


orang ini sekarang juga. Tapi sungguh dia tidak berdaya saat ini. Dia menarik tangan nya dari genggaman Aaron kemudian memalingkan


wajahnya.


Lapor Alex sambil kemudian meluncurkan


mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Bagus, kita lihat apa mau mereka.!"


Desis Aaron. Raya mencoba membuka


belitan tangan Aaron di pinggang nya.


"Biarkan aku kembali duduk dengan tenang."


Raya berkata dengan wajah kesalnya.Aaron


menatap sebentar wajah Raya dan akhirnya


membiarkan Raya turun dari pangkuannya.


Keduanya kembali duduk di posisi semula.


Raya menghembuskan nafas berat seraya


memejamkan matanya. Dia benar-benar


membenci keadaan ini, harus selalu berada


di dekat orang yang nyata-nyata telah


menghancurkan hidupnya adalah sebuah


siksaan yang sangat berat bagi dirinya.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka tiba


di pelabuhan. Alex membawa mobilnya masuk


ke area peti kemas. Begitu turun dari mobil


Aaron langsung di sambut oleh Sean dan


beberapa orang penting dari pihak ekspedisi


serta orang-orang perusahaan yang


memegang jabatan sebagai manager di


bidang pengadaan juga pemasaran.


Untuk sesaat orang-orang itu tampak terdiam,


terkesima melihat penampakan sang Presdir


yang baru kali ini mereka melihatnya.


"Selamat datang Presdir.."


Sambut Sean dan yang lain nya bersamaan


seraya membungkuk hormat di hadapan Aaron.


Raya baru saja keluar dari mobil dengan lutut


yang masih lemas karena kejadian tadi. Mata


Sean langsung berpaling kearah Raya, menatap


nya penuh kerinduan dan rasa bahagia karena


bisa bertemu di tempat ini. Semua orang juga


untuk sesaat tampak menatap Raya dengan


sorot mata terpesona.


"Tunjukkan aku barang nya.!"


Aaron merapihkan jas dan dasi nya dengan


wajah yang terlihat sangat datar dan dingin.


Ada rasa tidak nyaman di hatinya melihat


reaksi orang-orang saat melihat kehadiran


Raya di tempat itu.


"Mari Tuan, ikuti saya.."


Kepala bagian ekspedisi kini mulai berjalan


membimbing Aaron. Mereka semua mengiringi


langkah sang Presdir melihat barang yang baru


saja datang semalam. Sederet mobil canggih


keluaran terbaru kini sudah ada di dalam

__ADS_1


beberapa peti kemas dan siap untuk di kirim


ke gudang pengecekan.


Mereka berdiri di depan sebuah peti kemas


yang paling besar. Manager pengadaan kini


memberikan rincian barang tersebut pada


Aaron dengan gestur tubuh yang sangat segan


dan hormat kepada sang Presdir. Ini adalah


sebuah keajaiban bagi mereka karena bisa


bertemu langsung dengan orang nomor satu


di Marvello's Corporation tersebut.


Raya masih setia berada di sisi Aaron karena


Harus mencatat beberapa hal penting yang


akan menjadi bahan evaluasi Sang Presdir.


"Ray.. bisa kita bicara sebentar."


Sean berbisik di samping Raya, namun hal


itu cukup terdengar jelas di telinga Aaron.


Raya tampak sedikit ragu, dia melirik kearah


Aaron yang terlihat sedang serius mengamati


detail laporan dari manager pemasaran.


Sean menarik tangan Raya di bawa berjalan


ke arah lain sedikit menjauh dari keberadaan


Aaron dan yang lain. Raya menepis tangan


Sean sambil menghentikan langkahnya.


"Tuan Sean kalau ada yang ingin di sampaikan


sebaiknya cepat bicara sekarang. Aku harus


segera kembali ke sana.."


"Ray..aku tidak bisa membiarkan mu berada


di dekat orang lain !"


Tanpa di duga tiba-tiba saja Sean merengkuh


tubuh Raya ke dalam pelukannya.


"Aku akan membatalkan posisi mu Ray. Aku


akan mengatakan bahwa kau adalah calon


istriku.!"


"Sean jangan nekad ! Kau tidak bisa melakukan


hal itu !"


Raya berusaha melepaskan diri dari pelukan


Sean, tapi pria itu malah semakin memperkuat


pelukan nya.


"Aku mohon terima lamaran ku Ray.. Kalau


perlu kita akan menikah hari ini juga.!"


"Sean..aku mohon hentikan semua ini. Kau


sudah menjatuhkan harga diri mu sendiri.!"


Raya kembali mendorong tubuh Sean dan


akhirnya dia bisa terlepas dari pelukan pria


itu yang masih menatapnya lekat.


"Raya..aku yakin dengan keputusan ku.!"


"Tapi aku tidak yakin pada diriku sendiri.!


Maaf Sean, aku tidak bisa menerima niat


baik mu, aku benar-benar tidak bisa.!"


Tegas Raya sambil menatap tajam wajah


Sean penuh keyakinan.


"Aku mencintaimu Ray, aku tidak peduli


bagaimana pun keadaanmu.!"


Mata mereka saling menatap kuat, bertahan


dengan keyakinan masing-masing.


"Kalaupun aku memiliki perasaan yang sama


denganmu, tapi aku tidak bisa mencintaimu


dengan kondisi tubuhku yang sudah tercemar


ini Sean, maaf aku tidak bisa menerima mu."


Raya menggeleng kuat, ada cairan bening


yang kini meluncur membasahi wajahnya.


Sean terdiam dengan tatapan mata terluka.


"Tapi Ray..aku tulus padamu..."


"Sekali lagi maaf..Aku tidak bisa Sean.."


Lirih Raya, dia berbalik, tubuhnya langsung


membeku saat matanya bersirobos tatap


dengan mata elang Aaron yang sedang


berdiri menatap kearahnya dengan wajah


tanpa ekspresi namun auranya benar-benar membekukan.


Sean tampak terkejut menyadari keberadaan


Aaron di tempat itu. Tapi justru itu lebih baik


baginya, agar atasannya itu tahu bagaimana


perasaannya terhadap sekretaris pribadinya.


Raya memalingkan wajah, mengusap kasar


air matanya, kemudian dia melangkah dari


hadapan mereka. Namun sedetik kemudian


Aaron menyambar tubuh Raya, di bawa ke


pinggir peti kemas, kemudian mengurung


tubuhnya agar terlindung. Dan detik berikut


nya dia melancarkan tembakan ke beberapa


arah karena saat ini ada banyak bayangan


yang bersiap menyerang mereka.


Tubuh Raya bergetar hebat, kepanikan dan


ketakutan menyergap jiwanya. Tangan nya


mencengkram kuat jas Aaron yang sedang


bergerak aktif dan lihai membagi serangan


pada lawannya, kemudian mengisi peluru


dalam satu gerakan cepat setelah itu kembali menyerang lawan dengan tembakan yang


selalu tepat sasaran.


Keadaan tiba-tiba berubah mencekam saat


anak buah Aaron berdatangan melindungi


Tuan nya melancarkan tembakan kearah


para penyerang . Sean yang semula terkejut


kini ikut bergabung dengan anak buah Aaron


memberikan perlawanan pada para penyerang


yang entah darimana datangnya. Sementara


yang lain berlarian menyelematkan diri..


***


Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2