Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
24. Kapal Pesiar


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aaron dan Raya menoleh kearah sumber suara.


Di hadapan mereka telah berdiri Anzel dengan


tatapan tenang seraya menundukkan kepala.


Raya segera menjauhkan dirinya dari hadapan


Aaron dengan wajah kesalnya. Anzel menatap


Raya dengan sorot mata yang terlihat sangat


senang melihat wanita itu di sini.


"Selamat datang kakak ipar.."


Anzel kembali menyapa Raya yang langsung


terkejut, matanya bertemu dengan mata Anzel


yang tersenyum lembut kearahnya. Raya hanya


bisa balas menunduk dengan tatapan bingung


atas ucapan Anzel barusan, kakak ipar.? siapa


pria tampan ini sebenarnya.? Raya juga tidak


mengerti kenapa Aaron mengajaknya ke kapal


pesiar ini, dia tidak bermaksud mengajaknya


bulan madu kan ? itu akan terdengar sangat


konyol sekali.


"Tidak perlu basa-basi.!"


Aaron mendengus, dia segera menarik tangan


Raya dan menggengam nya kuat. Raya tampak bereaksi menolak, tapi Aaron tidak membiarkan


nya, dia mengekang tangannya dengan hentakan kasar seraya menatap tajam wajah Raya yang


hanya bisa memasang wajah kesal. Tidak lama


Aaron mulai melangkah, mau tidak mau Raya mengikuti tarikan tangan Aaron.


Dengan langkah tegap penuh wibawa dan


kharisma Aaron berjalan tenang menyusuri


jembatan sambil menggandeng Raya di ikuti


oleh Anzel, Alex dan Griz serta beberapa


pengawal pribadinya. Para penjaga berjajar


rapi sambil menundukan kepala di sepanjang


jembatan yang terhubung langsung ke dalam


kapal pesiar mewah dan megah tersebut. Dalam


hati mereka saat ini bergelayut pertanyaan dan keterkejutan melihat Tuan Berharga mereka


datang dengan menggandeng seorang wanita berparas sedikit berbeda dari mereka. Tapi


wanita ini benar-benar cantik luar biasa. Dan


ini adalah pertama kalinya mereka melihat


Sang Putra Mahkota menggandeng seorang


wanita, lalu siapakah wanita ini sebenarnya.??


Aaron masuk ke dalam kapal melalui jalur


khusus yang biasa di gunakan oleh orang-


orang tertentu saja yakni pemilik kapal besar


ini. Selama berjalan Raya tak henti berdecak


kagum melihat semua kemewahan yang ada


dalam kapal tersebut. Sungguh ini adalah


pertama kali bagi dirinya menginjakkan kaki


di dalam kapal pesiar sebesar dan semewah


ini, benar-benar seperti mimpi.


Tiba di dalam kapal mereka semua langsung


menaiki lift khusus yang akan membawanya


ke ruangan paling atas dalam kapal ini yang


terdiri dari 5 lantai dengan fasilitas dan fungsi


masing-masing yang berbeda-beda. Dan lantai


paling atas hanya berisi sebuah kamar super


mewah dan super besar milik Aaron. Selain


itu di sana juga ada fasilitas pelengkap lain


seperti taman buatan dan kolam renang


mewah yang tampak seperti kolam udara.


Lagi-lagi Raya hanya bisa terkagum-kagum


saat mereka tiba di lantai atas melihat apa


yang tersuguh di depan matanya. Sebuah


kemewahan yang tidak pernah terbayangkan


sebelumnya.


"Kalian tunggu aku di kantor.!"


Aaron memberi perintah pada Anzel dan Alex


yang langsung membungkuk hormat.


"Kakak ipar.. selamat beristirahat.."


Anzel berpaling sebentar menatap kearah


Raya yang menundukkan kepala sedikit.


"Anzel, pergi sekarang juga.!"


Aaron tampak tidak sabar, ada sedikit reaksi


kesal di wajah datarnya. Anzel tersenyum


tipis kemudian berlalu pergi bersama Alex.


Aaron kembali menarik tangan Raya di bawa


masuk ke dalam ruangan kamar pribadinya.


Mata Raya langsung melebar takjub melihat


semua kemewahan yang ada di dalam kamar


tersebut. Sebuah kamar yang di kelilingi oleh


kaca besar berbentuk cembung melengkung


keatas dengan pemandangan yang langsung


mengarah ke lautan lepas.


Dia berjalan ke satu sisi ruangan, kemudian


berdiri di sana menatap hamparan lautan


lepas yang berhias gemerlap cahaya lampu


yang terpantul dari kapal pesiar ini.


"Istirahatlah.. akan ada pelayan yang datang


membawakan semua keperluan mu.!"


Aaron berdiri di samping Raya yang langsung


melirik dan menatap sekilas kearah pria itu.


Aaron tampak santai, kedua tangan nya di


masukkan ke dalam saku celananya.


"Kenapa kamu membawaku kesini.?"


"Kenapa.? adakah tempat lain yang ingin kamu


datangi sebagai tempat bulan madu kita.?"


Raya sontak bereaksi terkejut. Mata mereka


saling menatap, sorot mata Raya jelas sekali


tidak terima ucapan Aaron barusan.


"Kau..kau tidak bermaksud mengajakku..."


"Katakan saja kalau ada tempat lain yang


ingin kamu datangi, kita akan pergi kesana.!"


"Tidak ! Aku tidak ingin pergi kemanapun.


Kau membawaku ke tempat ini bukan untuk.."


"Memang nya untuk apalagi aku mengajak


mu datang kesini kalau bukan untuk itu.!"


Aaron berkata dengan santai nya. Wajah Raya langsung memucat, tubuh nya juga kini mulai menegang. Aaron menatap lekat wajah Raya


dengan seringai tipis di bibirnya melihat reaksi kepanikan wanita itu. Kenapa dia rasanya suka


sekali melihat reaksi Raya yang seperti ini.


"Tidak, kau tidak boleh melakukan semua


kekonyolan ini..!"


Raya menggeleng sambil mundur saat Aaron

__ADS_1


maju mendekat. Tatapan mereka semakin


terpaut saling mengantisipasi.


"Konyol.? kau pikir ini konyol.? ini adalah hal


yang sangat wajar Nona."


"Kau tidak bisa memaksaku melakukan


sesuatu yang tidak aku sukai.!"


"Sudah aku bilang..aku bebas melakukan


apapun yang aku mau.! Kau adalah milikku.!"


"Tidak ! aku bukan milikmu.! Kita menikah


hanya sebagai formalitas belaka.!"


"Ohh.. jadi menurut mu begitu ?"


Wajah Aaron tampak berubah keras, auranya


mulai membekukan. Dia semakin merangsek


maju membuat Raya semakin mundur dan kini tubuhnya terperangkap di dinding kaca. Kedua


Tangannya menyilang di dada berusaha untuk


mengirimkan sinyal penolakan keras atas


perlakuan Aaron.


"Baiklah kalau itu maumu. Aku memang lebih


suka melakukan pemaksaan.! itu akan terasa


lebih menantang dan memuaskan bagiku.!"


"Kau gila.! Kau laki-laki kejam.!"


"Kau tahu pasti hal itu ! Aku bahkan bisa


lebih kejam dari yang kau bayangkan.!"


Aaron memepetkan tubuhnya ke tubuh Raya


membuat Raya semakin menegang dan mulai


bergetar ketakutan. Dalam satu gerakan cepat


tak terlihat tangan Aaron sudah membelit kuat


pinggang kecil Raya dan menariknya hingga kini


tubuh Raya terangkat. Sontak saja Raya panik,


dia langsung mendorong kuat dada Aaron.


"A-Aaron.. kumohon jangan..!"


Raya memejamkan matanya saat wajah Aaron


kini semakin mendekat. Aaron tertegun, suara


Raya yang lembut bergetar saat menyebut


namanya membuat jiwanya bergejolak oleh


satu perasaan aneh yang tidak bisa di jabarkan. Wajahnya terlihat memerah, matanya menatap


lekat wajah sempurna Raya yang kini berada


tepat di depan nya, memejamkan mata di


kuasai ketakutan berlebih. Bibirnya yang


merah alami menggoda membuat aliran


darah di tubuh Aaron terbakar seketika.


Tubuh bagian bawahnya menerjang keluar


ingin segera memperoleh bagiannya. Aaron menggeram, dia memejamkan matanya,


sekuat tenaga menahan serbuan gairah


yang sudah menguasai seluruh tubuhnya.


"Bagaimanapun kamu berusaha menolak,


kenyataan nya kau adalah milikku.! "


Bisik Aaron dengan suara serak tepat di depan


wajah Raya yang bergetar hebat. Napas panas


Aaron menyelubungi wajah Raya membuat dia


semakin terpejam. Perlahan Aaron melepaskan cengkeraman tangannya dari pinggang Raya


yang langsung mundur dengan wajah sudah


sepucat kapas. Mata mereka kembali saling


menatap. Sorot mata penuh kebencian itu kini semakin kentara terpancar dari mata Raya


membuat hati Aaron terasa aneh. Dia segera


memalingkan wajahnya dan memutar badan


mulai melangkah.


Ucapnya sambil kemudian melangkah pergi


keluar dari kamar mewah tersebut. Raya


menarik napas lega sambil memegang


dadanya kuat. Kenapa ketakutan dan rasa


panik itu seolah tidak bisa di kontrol nya


saat laki-laki itu melakukan kontak fisik


yang bersifat intim pada dirinya. Raya


melangkah kearah tempat tidur, kemudian


mendudukkan dirinya di sana, mencoba


untuk menenangkan diri dan hatinya.


***


Begitu tiba di dalam ruang kerja pribadinya


Aaron langsung duduk merebahkan kepala


di kursi kebesarannya. Dia melempar mantel


ke tangan Anzel kemudian membuka kancing


kemeja yang di pakainya karena tubuh nya


saat ini sedang terbakar hawa panas yang


hampir saja meledak dan membuat dia


kehilangan kontrol. Sial.! wanita itu selalu


saja membuatnya tersiksa seperti ini saat


dia berusaha menyentuhnya. Aaron


memejamkan mata mencoba mengontrol


dan meredam segala hasrat yang kini


sudah menguasai seluruh tubuhnya.


Anzel menautkan alis melihat reaksi aneh


yang di pertontonkan oleh kakak sepupu nya


itu. Tidak biasanya pria itu kegerahan seperti


ini saat dekat dengan wanita.


"Apa kakak ipar telah membuatmu gerah.?


Dia menolak sentuhan mu.? Ini keajaiban,


ada wanita yang menolak sentuhan seorang


Prince Marvell.!"


"Bicara sekali lagi aku akan membuangmu


ke dasar samudra.!"


Aaron menggeram sambil melirik kesal ke


arah Anzel yang terlihat menahan tawanya.


"Jadi kakak sudah menikahi wanita itu ?


Terlihat sekali kalau dia sangat tertekan


dengan pernikahan ini.!"


"Itu bukan masalah.! Pernikahan ini juga


hanya sementara saja.!"


"Kalau begitu biarkan aku mendekatinya.


Aku janji tidak akan macam-macam.!"


"Anzel.!! Dia adalah kakak ipar mu.!"


Aaron menatap tajam wajah tampan Anzel


yang terlihat sedikit bereaksi kecewa. Aaron


beranjak dari duduknya, berjalan kearah sisi


ruangan, menatap hamparan lautan lepas


yang terbentang sepanjang penglihatan.


Saat ini kapal sudah mulai bergerak setelah


orang yang menjadi otak kapal ini datang


dan berada di dalamnya.


"Apa kakak tidak akan mengubah rencana.?

__ADS_1


Walau bagaimanapun wanita itu adalah istri


sah mu, kau bahkan sudah mengubah haluan


hidupmu hanya untuk menikahi wanita itu.!


Yang Mulya Raja dan Ratu tidak akan bisa


menerima semua ini dengan mudah.!"


"Status wanita itu memang nyata tapi tidak


ada di mata dunia. Dia hanyalah sekretaris


pribadiku."


"Itu tidak cukup adil untuk nya.!"


"Itu yang terbaik untuk nya saat ini.!"


"Bagaimana kalau dia sudah mengandung.?"


Aaron terdiam, mata tajam mereka saling


bertemu, sampai akhirnya Aaron kembali


menatap datar lurus ke depan.


"Dia akan tetap berdiri dengan kondisinya.!"


Anzel tampak bereaksi tidak suka, dia maju


mendekat kearah Aaron.


"Apa kakak tidak berpikir kalau dia tidak


akan bisa menjalani hal itu dengan mudah.


Dia adalah wanita yang memegang teguh


prinsip hidup dan keyakinan nya.!"


Aaron kembali terdiam, mencoba berpikir.


"Biarkan aku yang mengambil alih tanggung


jawab itu, berikan wanita itu padaku !"


Anzel berkata dengan yakin. Aaron masih


terdiam dengan tatapan lurus ke depan.


"Jangan coba-coba bermain di belakang ku.!"


Desis Aaron kemudian sambil kembali duduk


di kursi kebesarannya. Dia membuka berkas-


berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.


Aaron harus segera memulai aktifitas padatnya


yang beberapa hari ini terbengkalai karena


kesibukan nya mengurus semua hal yang


terjadi di luar kendali.


Sebagai seorang pewaris tunggal perusahaan


otomotif terbesar di dunia yang bergerak di


bidang pembuatan kendaraan dan kapal pesiar


mewah, waktu Aaron sekarang memang hanya


di habiskan untuk semua urusan pekerjaannya.


Perusahaan raksasa ini adalah warisan leluhur keluarga De Enzo, dari garis keturunan ayahnya.


Belum lagi perusahaan lain yang di miliki oleh


keluarga ibunya yang kini di kelola oleh ayah


Ansel sebagai paman Aaron.


"Berikan aku jadwal hari ini.!"


"Pagi ini kakak ada jadwal sarapan pagi dengan


Raja dan Ratu.Pukul 10 ada pertemuan dengan


para pengusaha dari Asia Tengah. Makan siang


bersama dengan klien penting dari Afrika. Jam


2 ada pertemuan dengan para petinggi istana,


jam 4 bertemu dan menemani Lady Catharina.


Nanti malam barulah hadir di acara utama.!"


Aaron tampak terdiam, jemarinya bertautan


di bawah dagu. Jadwalnya benar-benar padat.


"Apakah Miss Raya akan mulai bekerja hari


ini juga.?"


Raut wajah Aaron tampak bereaksi sedikit.


Dia kembali pada aktifitas nya semula.


"Untuk hari ini biarkan dia istirahat.!"


***


Sementara itu...


Raya keluar dari kamar setelah membersihkan


diri dan berganti pakaian dengan yang telah di


siapkan oleh para pelayan yang datang begitu


Aaron keluar dari kamar. Dia hanya bisa terdiam


menatap barang bawaan para pelayan tersebut


yang terlihat begitu hormat dan segan padanya.


Ada sorot mata penasaran dan tanda tanya


dalam raut wajah mereka begitu melihat Raya.


Namun tentu saja, mereka tidak punya hak


untuk bertanya ataupun mencari tahu siapa


wanita cantik yang ada di dalam kamar


pribadi Tuan Berharga mereka.


Pagi ini Raya mengenakkan dress cantik


warna putih di bawah lutut berlengan pendek


yang menampilkan lekuk pinggang kecil nya


dengan bagian bawah yang sedikit melebar.


Rambut indahnya tergerai bebas. Wajahnya


di biarkan polos hanya memoles bibir nya


dengan lipstik tipis warna pink natural.


"Tolong.. biarkan aku sendiri dulu. Aku tidak


akan kemana-mana.!"


Raya menatap Griz dan para pengawal yang


tampak bergerak bersiaga begitu melihat dia


keluar dari kamar. Mereka menundukkan


kepala tanpa berani berucap.


Raya mulai berjalan mengelilingi seluruh


tempat yang ada di lantai teratas itu. Semuanya membuat dia terpukau dan terpesona. Cukup


lama dia menikmati sunrise di ujung geladak


yang memang di siapkan untuk itu. Dalam


diamnya Raya terus berkutat dengan segala pertanyaan yang bersarang dalam otaknya.


Tuhan.. siapakah sebenarnya laki-laki yang


sudah sah menjadi suaminya ini.? Apakah


semua kemewahan ini merupakan miliknya.?


Apakah dia sekaya ini ? Kenapa dirinya harus


berada dalam lingkaran kehidupan yang


serba mengejutkan ini.?


Raya menghela nafas panjang, dia melipat


kedua tangan di dadanya. Tatapannya lurus


ke depan pada bentangan lautan lepas yang


terlihat begitu indah dan memukau.


Dia tidak sadar sama sekali..di bawah sana,


tepat di sebrang nya ada sepasang mata elang


yang sedang menatapnya tajam, menembus


angin dan kabut dengan sorot mata terpesona


sekaligus ketertarikan serta keterkejutan luar


biasa saat melihat sosoknya.


"Luar biasa.. wanita yang sangat istimewa.!"


Sosok tinggi tegap dengan paras dan bentuk


fisik yang mampu membuat lutut wanita gemetar


saat pertama kali melihatnya itu bergumam..

__ADS_1


***


Happy Reading...


__ADS_2