
❤️❤️❤️
Wajah Lucas tampak berubah menggelap dalam
sekejap. Tubuh nya bergetar hebat menahan
ledakan amarah yang kini membangkitkan jiwa iblisnya. Dia menoleh kearah arah utara, dimana
di ujung sana kini ada satu sosok laki-laki yang
sedang duduk gagah di atas kuda hitam sambil
membidikkan senjata kearahnya.
"Aaron Marvell De Enzo.! Maharaya De Enzo..!"
Geram Lucas dengan gigi gemeletuk hebat. Ada
seringai iblis yang terukir di bibir nya dengan kilat
gelap yang kini berputar di kedalaman matanya.
Dia mendekat kearah Raya yang masih terdiam,
bergetar ketakutan seraya menutup wajahnya.
"Tenanglah baby..aku akan menyingkirkan apa
yang menjadi penghalang terberat ku.!!"
Bisiknya sambil menempatkan wanita itu di
belakang nya membuat sosok yang ada di atas
kuda di hantam amarah yang meledak-ledak.
Aaron lah yang datang, dia masih duduk di atas
kuda kesayangannya dengan tatapan tajam ke
arah pria iblis yang kini sedang bersiap untuk
memulai aksinya. Aaron menyeringai tipis.
"Keluarkanlah semua ilmu hayalan mu itu Mr
Incredible.."
Desisnya sambil mulai waspada saat melihat
Lucas menggerakan tangannya berputar cepat
membentuk lingkaran angin yang semakin lama
semakin cepat dan menimbulkan hembusan
angin kencang yang tiba-tiba datang menerjang
kearah keberadaan Aaron. Namun dalam gerakan cepat dan terlatih tubuh Aaron melompat terbang
dari atas kuda, kemudian berlari cepat menembus terjangan angin dahsyat tersebut, mengerahkan seluruh tenaganya untuk membelah dan memecah
kekuatan angin palsu tersebut. Gerakan Aaron
sangat cepat dan kuat hingga akhirnya sosoknya
kini datang menyerang kearah Lucas yang tampak
terkejut dan belum siap menerima serangan
Aaron. Akhirnya rentetan pukulan dan tendangan berisi tenaga penuh kini masuk ke dada dan perut
pria itu membuat dia terjungkal dan terlempar
cukup jauh tepat di pinggir kolam air terjun.
Aaron meraih tubuh Raya yang tampak terduduk
lemas dan linglung. Wajahnya sudah sepucat
kapas. Dia tampak kosong dan hampa.
"Raya.. lihat aku, tatap mataku..!"
Aaron menepuk halus pipi Raya yang masih
merunduk memeluk lututnya dalam keadaan
pikiran yang masih berterbangan. Aaron meraih
wajah pucat istrinya itu, memaksanya untuk
saling menatap. Keduanya kini saling melihat.
"Maharaya.. istriku..lihat mataku.! Sadarlah..
Aku ada disini sekarang.!"
Aaron kembali menepuk halus wajah Raya yang menatapnya hampa. Namun kini ada bulir cairan bening yang keluar dari sudut matanya walau
dia masih ada dalam mode syok dan belum bisa menemukan kesadaran nya.
"Raya.. sayang.. lihatlah aku.! Aku di sini..
Akan selalu bersamamu !"
Mata Raya mengerjap, satu kata maut itu kini
mampu membawanya kembali ke permukaan.
Tatapan mata nya kini mulai fokus, keduanya
saling pandang lekat dengan gejolak perasaan
yang tiba-tiba seakan tumpah ruah memenuhi
hati dan jiwa mereka. Air mata itu kini semakin
mengalir membasahi wajah cantik Raya.
"A-Aaron..kau datang..?"
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan pria
manapun mengambil mu dariku."
"Apa yang terjadi dengan ku.? Apakah aku
sedang bermimpi ?"
"Anggap saja semuanya sebagai mimpi. Tapi
kau harus bangun sekarang juga.!"
Aaron mengangkat tubuh Raya kemudian
membawa dan mendudukkan nya di tempat
yang lebih aman di bawah pohon besar.
"Tunggu di sini, aku akan menyingkirkan
manusia yang sudah berani membawamu
pada kegelapan.."
"Aaa...Aaron....!!"
Raya berteriak histeris saat tubuh Aaron tiba-
tiba saja terlempar sadis terkena tendangan
keras Lucas yang datang menyerang nya dari
arah samping. Tubuh Aaron membentur pohon
besar yang berada cukup jauh dari tempat duduk
Raya. Mata Raya dan Lucas saling pandang kuat,
ada kilat murka yang kini menembus kembali ke
dalam titik lemah dalam jiwa Raya. Namun pria
itu tampak mundur sambil memegangi dadanya
saat tembakan itu bagai bumerang, menyerang
balik dirinya dengan hebat. Jiwa wanita itu kini
telah utuh kembali memancarkan cahaya terang
dan membentengi diri dari pengaruh gelap yang
di lancarkan oleh nya.
Lucas menggeram, rahang nya tampak mengeras.
Keinginannya kini benar-benar hancur tak bersisa.
Dia mencoba mengontrol emosinya dan kembali berpaling pada Aaron yang baru saja bangkit, melemaskan otot-otot tubuhnya yang hampir saja remuk karena beradu hebat dengan pohon besar. Dengan tampang yang semakin mengerikan Lucas
kembali menyerang Aaron dengan gerakan cepat penuh perhitungan. Wajah Raya tampak semakin
memucat dengan tatapan penuh kecemasan
sekaligus ketakutan melihat Aaron dan Lucas
kembali bertarung.
Keduanya kini bertarung seru dan sengit di lahan terbuka yang di kelilingi oleh pohon-pohon besar
serta rerumputan hijau berlatar gemuruh air
terjun yang mampu menggetarkan jiwa. Gerakan mereka berdua sangatlah cepat, tak bisa di ikuti
oleh mata manusia biasa. Hembusan angin
kencang yang mengikuti pergerakan kedua orang
itu membuat siapa saja yang terkena sambaran anginnya akan otomatis terlempar seketika.
Beberapa pukulan dan tendangan kini masuk menghantam tubuh mereka membuat keduanya terdorong mundur dengan keras. Namun tidak
lama mereka sudah terlihat menegakkan badan
nya kembali dan mengatur napas. Keduanya
saling menatap kuat mencoba untuk menembus
batas kemampuan masing-masing.
"Berikan dia padaku, maka reputasi mu akan
tetap terjaga.! Wanita itu tidak akan bahagia
dengan menjadi istri bayangan mu.!"
Ujar Lucas dengan seringai iblis di bibirnya.
Aaron balas menyeringai sadis dengan tatapan
nyalang di selubungi amarah yang kini sudah
mencapai puncaknya.
"Lalu kau akan menjadikan nya sebagai objek
pemuas nafsu mu.? "
"Haha sepertinya hal itu justru cocok untuk di
alamatkan padamu Putra Mahkota. Aku telah
jatuh cinta padanya.!"
__ADS_1
"Cinta ? Untuk ukuran seorang Lucas ? Itu
hanyalah sebuah ilusi saja !"
Lucas tampak mengepalkan tinjunya. Wajahnya
kini sudah semakin kelam dan mengerikan.
"Lepaskan dia untuk menjadi milikku, kalau
tidak, aku akan membongkar skandal ini.!"
Geram Lucas sambil bersiap memasang kuda-
kuda dan mengamati pergerakan Aaron.
"Lakukan saja ! Maka keluarga besar mu hanya
akan menjadi bahan tertawaan lawan politik
ayahmu. Adikmu ternyata hanyalah calon Ratu
diatas kertas saja, sangat menyedihkan.!"
"Aaron Marvell De Enzo..! Jangan coba-coba
menyakiti adikku.!"
"Maka aku ingatkan padamu, jangan pernah
lagi mengganggu dan mengejar apa yang
sudah menjadi milikku.! Maharaya adalah
istriku.! Dia adalah milikku.. selamanya..!"
"********..! Akan aku habisi kau Underground
Devils..!!"
Lucas langsung melompat menyerang Aaron
dengan menyatukan dua kekuatan. Dia tampak
membentuk pusaran angin kencang kemudian
menarik air terjun, menggulung nya dahsyat dan menyemburkan nya kearah Aaron menyerupai
dinding labirin yang sangat berbahaya. Namun
bukan Aaron namanya kalau dia harus gentar
dengan serangan itu. Tubuhnya kini meloncat
terbang menapaki batang pohon, berpindah dari
satu pohon ke pohon lain menghindar dari
serangan itu. Dengan gerakan kilat tubuh Aaron melesat mengirimkan tendangan maut ke tubuh
Lucas yang masih memainkan tangannya hingga
membuat tubuh pria itu kembali terlempar jauh
dan jatuh diatas bebatuan. Mulutnya langsung
menyemburkan darah segar.
Aaron menapakkan kakinya di atas tanah sambil menggerakkan otot-otot lehernya dengan tatapan
devil nya yang masih mengarah dan mengamati pergerakan Lucas. Saat ini pria itu terlihat masih
berusaha bangkit, tapi kelihatannya kesulitan.
Para pengawalnya berlarian menghampiri Tuan
mereka dan membantunya untuk bangkit.
"Pergi dari tempat ini, sebelum aku berubah
pikiran dan menghabisi nyawa kalian di sini.!"
Aaron memberi ancaman dengan wajah yang
sudah menjelma menjadi Underground Devil.
Lucas menatap Aaron sebentar dengan kilat
hebat di sisa kekuatannya. Dia terpaksa mundur
dari pertarungan ini. Ada sesuatu yang tidak
beres dengan apa yang di milikinya. Hatinya
saat ini sedang kacau, mengetahui fakta bahwa
wanita yang di dambakan nya ternyata milik musuhnya, jiwanya seolah hancur seketika dan
hal itu mempengaruhi konsentrasinya. Harus
dia akui dirinya memang tidak akan mampu mengimbangi kekuatan fisik yang di miliki
oleh seorang Aaron.
"Aku punya kartu As mu Aaron.. Jadi jangan
coba-coba mempermainkan kehormatan
keluarga ku.!"
Tegas Lucas sambil kemudian menatap Raya
yang berada cukup jauh di belakang Aaron.
Setelah itu dia pergi bersama para pengawalnya.
Aaron mengatur napasnya, mengontrol segala
emosi yang masih mengendap dalam dirinya.
"Aaron.."
Raya, kemudian membalikkan badannya dan
melihat Raya datang menyerbu kearahnya lalu melompat ke dalam pelukannya. Keduanya
saling berpelukan erat. Aaron menciumi puncak
kepala istrinya itu seraya memejamkan mata.
Hatinya kini terasa lebih tenang saat wanita
ini ada dalam pelukannya.
"Aaron..kau baik-baik saja kan.?"
Raya melepaskan pelukannya, mengecek dan
memeriksa keadaan Aaron .
"Raya.. tenanglah..aku tidak apa-apa..!"
"Tidak, laki-laki itu bukan manusia biasa. Dia
itu orang aneh, dia akan melukaimu Aaron.."
"Aku baik-baik saja sayang..."
Deg !
Tubuh Raya membeku seketika. Matanya kini
beradu dengan mata Aaron. Sayang.. apakah
dirinya sedang berada dalam halusinasi.? Tidak,
ini sesuatu yang tidak mungkin. Tangan Aaron
bergerak perlahan mengelus lembut wajah cantik
Raya yang masih menatapnya tidak percaya.
"Kenapa kamu selalu membuatku khawatir
Maharaya.? Kenapa kamu selalu membuatku
tidak tenang..? "
"Maafkan aku..! Bukankah sudah aku bilang
lepaskan saja aku.! Aku hanya akan membawa
kesulitan padamu..! Dari kecil, hidupku adalah
beban berat bagi orang-orang terdekatku.!"
Lirih Raya pelan sambil menundukkan kepala.
Tapi Aaron kembali mengangkat wajah cantik
istrinya itu hingga mata mereka saling menatap
kuat dengan sorot mata yang kini sama-sama
lemah, teduh dan menyerah pada keangkuhan
diri. Hati mereka saat ini sudah jatuh pada satu
titik. Rasa itu tidak perlu ungkapan, rasa itu tidak
perlu pernyataan, karena rasa itu terlihat jelas
dalam sorot mata serta bahasa tubuh keduanya.
"Aku tahu semua hal tentang dirimu. Jadi kau
tidak perlu meragukan kesungguhan ku.!"
Raya tampak bengong. Ini sesuatu yang cukup
mengejutkan. Tidak, apa benar laki-laki ini
mengetahui semua hal tentang dirinya.?
"Kita harus pulang sekarang.! Kau harus segera beristirahat. Aku tidak ingin kau kelelahan.!"
Belum Raya mampu berkata-kata Aaron sudah mengangkat tubuh lemahnya ke dalam pangkuan
kemudian berjalan menuju kuda hitam miliknya
yang setia menunggui dirinya. Aaron datang
sendiri ke tempat ini begitu menyadari semua
orang yang ada di perkebunan terkena sirap
Lucas hingga mereka semua tertidur di setiap
sudut tempat termasuk Alex dan Ansel serta
seluruh pengawal yang di tugaskan untuk
menjaga keselamatan Raya. Pria aneh itu
benar-benar licik. Dia menempuh segala cara
hanya untuk mendapatkan wanita yang sudah
menjadi miliknya.
Raya memekik kaget dan terkejut ketika Aaron
membawa tubuhnya ke atas pangkuan dalam
posisi duduk di atas punggung kuda.
__ADS_1
"Aaron.. apa-apaan ini.? Aku takut, aku tidak
bisa naik kuda.. Turunkan aku sekarang.!"
"Kita akan berjalan perlahan.! Kau hanya perlu
memfokuskan pandanganmu padaku.!"
"Tidak, aku tidak bisa.! Apa kau tidak lihat aku
memakai rok mini seperti ini.!"
Aaron meraih mantel yang ada di punggung kuda
kemudian menutup rapat paha bening mulus
istrinya yang tadi sempat terbuka karena posisi
duduknya yang menyilang diatas pangkuannya.
"Aaron..aku benar-benar tidak bisa, aku takut
jatuh, aku tidak suka.."
"Maharaya.. lihatlah aku, fokuskan matamu
hanya padaku.!"
Wajah Raya kini berubah memerah, tidak ada
lagi wajah pucat pasi nya. Dia menatap wajah
Aaron yang berada di depannya. Kedua mata
mereka saling memandang dengan getaran di
jiwa yang semakin lama semakin kuat hingga
kini sudah menguasai diri mereka seutuhnya.
Tangan kiri Aaron mengunci pinggang ramping
Raya sementara tangan kanan tetap memegang
kendali kuda nya.
"Aaron.. kumohon pelan-pelan saja jalannya."
"Baiklah.. kita akan menikmati moment ini.."
Bisik Aaron mulai berat dengan tatapan dan
sorot mata yang mulai aneh. Sang kuda hitam
mulai berjalan pelan menyusuri jalanan di atas
rumput hijau keluar dari hutan lindung tersebut.
Perlahan Raya melingkarkan tangannya di leher
Aaron yang semakin tidak bisa mengendalikan
dirinya lagi mendapati wajah menggiurkan itu
ada di dekatnya. Keduanya saling menatap kuat
dan lekat, semakin dalam dan semakin panas.
Aaron mendekatkan bibirnya, tubuh Raya mulai
menegang, memanas dan ada desakan hasrat
aneh yang membuat dia tidak ingin menjauh.
Akhirnya bibir mereka bertemu, tubuh mereka
sedikit bergetar dengan sensasi panas dingin
yang langsung menyerbu karena baru kali ini keinginan itu timbul dari dalam diri mereka
secara bersamaan. Keduanya saling memagut,
saling ******* dan bertaut lidah. Ciuman itu
semakin lama semakin panas, memberikan
sensasi nikmat berlebih di sertai perasaan
yang membuncah memenuhi dada keduanya.
Mereka terhanyut dalam buaian kelembutan
dan rasa manis dari bibir masing-masing yang
sangat memabukkan. Suara decakan erotis kini
mewarnai suasana perjalanan mereka di tengah
hutan yang sepi di iringi nyanyian alam.
Tidak ada lagi hasrat memberontak dalam diri
Raya, hatinya benar-benar telah jatuh terperosok
ke dalam pesona yang di tebarkan oleh pria ini.
Yang dia inginkan saat ini adalah berada dalam pelukan hangat dan perlindungan pria pemerkosa
nya ini yang anehnya malah memberinya rasa
aman dan nyaman.
Ciuman mereka semakin lama semakin liar,
tangan Aaron kini terlepas dari kendali kuda
dan mulai merayap ke bagian-bagian tubuh
sensitif istrinya itu dibalik blouse cantik yang
di kenakannya.
"Akhh.. Aaron.. jangan.. kita sedang ada di
ruang terbuka.."
Raya mendesah melepaskan ciumannya dan
menggelinjang saat bibir Aaron kini menyusuri
lehernya dan menggigit nya pelan. Sementara
Tangannya sudah masuk ke balik blouse yang
di pakainya dan bermain liar di sana hingga
desahan panjang kini keluar dari mulut Raya.
"Kenapa kamu selalu menggodaku Raya.? Aku
tidak tahan lagi.. bagaimana kalau kita bermain
disini.?"
"Apa ? tidak..! Kau benar-benar keterlaluan.!"
"Semalam aku sudah membiarkanmu bebas.
Ini akan sangat menyenangkan.!"
"Aaron.. sudah cukup akhh..."
Raya berusaha menjuhkan dirinya saat bibir
Aaron mulai turun dan kini menenggelamkan
wajahnya di belahan dada sintalnya.
"Aaww..Aaron.. perutku sakit.."
Aaron mengangkat wajahnya, menatap wajah
Raya yang terlihat meringis dengan rona yang
terlihat sedikit pucat.
"Jangan bercanda kamu..! Kau hanya ingin
mengalihkan keinginanku kan.?"
"Tidak, ini beneran sakit..Perutku kram Aaron."
Aaron mendekap erat pinggang kecil istrinya
itu kemudian melakukan panggilan telepon.
Raya merebahkan kepalanya di dada bidang
Aaron sambil melingkarkan kedua tangannya
di punggung kokoh suaminya itu. Rasa sakit
yang melilit di perut bagian bawah nya kian
terasa, dia memejamkan matanya dengan
pelukan yang semakin erat.
Akhirnya setelah beberapa saat mereka tiba
di sebuah jalan, di sana telah menanti Ansel,
Alex dan Griz serta seluruh pengawal nya.
Wajah-wajah mereka tampak sangat cemas
di penuhi rasa bersalah. Terlebih lagi Ansel,
wajahnya terlihat sangat khawatir melihat
tubuh Raya terkulai lemas dalam pelukan Aaron.
Ansel meraih tubuh Raya dari atas pangkuan
Aaron sebelum akhirnya pria perkasa itu turun
melompat dari atas kuda dan kembali membawa
tubuh istrinya itu ke dalam gendongannya.
"Kita pulang ke White House sekarang. Aku
akan membawa mobil sendiri.!"
Tegas Aaron sambil kemudian mendudukkan
tubuh Raya di jok depan mobil sport mewahnya.
Untuk sesaat dia menatap cemas wajah Raya
yang terlihat merebahkan kepalanya sembari
memejamkan mata. Aaron memasangkan sabuk
pengaman kemudian mencium lembut kening
istrinya itu penuh dengan perasaan khawatir.
Tidak lama dia sudah ada di balik kemudi dan
mobil mewah itupun meluncur meninggalkan
area perkebunan bunga tersebut di ikuti oleh
rombongan mobil-mobil lainnya..
__ADS_1
***
Happy Reading...