Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
56. Tersihir


__ADS_3

❤️❤️❤️


Wajah Lucas tampak berubah menggelap dalam


sekejap. Tubuh nya bergetar hebat menahan


ledakan amarah yang kini membangkitkan jiwa iblisnya. Dia menoleh kearah arah utara, dimana


di ujung sana kini ada satu sosok laki-laki yang


sedang duduk gagah di atas kuda hitam sambil


membidikkan senjata kearahnya.


"Aaron Marvell De Enzo.! Maharaya De Enzo..!"


Geram Lucas dengan gigi gemeletuk hebat. Ada


seringai iblis yang terukir di bibir nya dengan kilat


gelap yang kini berputar di kedalaman matanya.


Dia mendekat kearah Raya yang masih terdiam,


bergetar ketakutan seraya menutup wajahnya.


"Tenanglah baby..aku akan menyingkirkan apa


yang menjadi penghalang terberat ku.!!"


Bisiknya sambil menempatkan wanita itu di


belakang nya membuat sosok yang ada di atas


kuda di hantam amarah yang meledak-ledak.


Aaron lah yang datang, dia masih duduk di atas


kuda kesayangannya dengan tatapan tajam ke


arah pria iblis yang kini sedang bersiap untuk


memulai aksinya. Aaron menyeringai tipis.


"Keluarkanlah semua ilmu hayalan mu itu Mr


Incredible.."


Desisnya sambil mulai waspada saat melihat


Lucas menggerakan tangannya berputar cepat


membentuk lingkaran angin yang semakin lama


semakin cepat dan menimbulkan hembusan


angin kencang yang tiba-tiba datang menerjang


kearah keberadaan Aaron. Namun dalam gerakan cepat dan terlatih tubuh Aaron melompat terbang


dari atas kuda, kemudian berlari cepat menembus terjangan angin dahsyat tersebut, mengerahkan seluruh tenaganya untuk membelah dan memecah


kekuatan angin palsu tersebut. Gerakan Aaron


sangat cepat dan kuat hingga akhirnya sosoknya


kini datang menyerang kearah Lucas yang tampak


terkejut dan belum siap menerima serangan


Aaron. Akhirnya rentetan pukulan dan tendangan berisi tenaga penuh kini masuk ke dada dan perut


pria itu membuat dia terjungkal dan terlempar


cukup jauh tepat di pinggir kolam air terjun.


Aaron meraih tubuh Raya yang tampak terduduk


lemas dan linglung. Wajahnya sudah sepucat


kapas. Dia tampak kosong dan hampa.


"Raya.. lihat aku, tatap mataku..!"


Aaron menepuk halus pipi Raya yang masih


merunduk memeluk lututnya dalam keadaan


pikiran yang masih berterbangan. Aaron meraih


wajah pucat istrinya itu, memaksanya untuk


saling menatap. Keduanya kini saling melihat.


"Maharaya.. istriku..lihat mataku.! Sadarlah..


Aku ada disini sekarang.!"


Aaron kembali menepuk halus wajah Raya yang menatapnya hampa. Namun kini ada bulir cairan bening yang keluar dari sudut matanya walau


dia masih ada dalam mode syok dan belum bisa menemukan kesadaran nya.


"Raya.. sayang.. lihatlah aku.! Aku di sini..


Akan selalu bersamamu !"


Mata Raya mengerjap, satu kata maut itu kini


mampu membawanya kembali ke permukaan.


Tatapan mata nya kini mulai fokus, keduanya


saling pandang lekat dengan gejolak perasaan


yang tiba-tiba seakan tumpah ruah memenuhi


hati dan jiwa mereka. Air mata itu kini semakin


mengalir membasahi wajah cantik Raya.


"A-Aaron..kau datang..?"


"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan pria


manapun mengambil mu dariku."


"Apa yang terjadi dengan ku.? Apakah aku


sedang bermimpi ?"


"Anggap saja semuanya sebagai mimpi. Tapi


kau harus bangun sekarang juga.!"


Aaron mengangkat tubuh Raya kemudian


membawa dan mendudukkan nya di tempat


yang lebih aman di bawah pohon besar.


"Tunggu di sini, aku akan menyingkirkan


manusia yang sudah berani membawamu


pada kegelapan.."


"Aaa...Aaron....!!"


Raya berteriak histeris saat tubuh Aaron tiba-


tiba saja terlempar sadis terkena tendangan


keras Lucas yang datang menyerang nya dari


arah samping. Tubuh Aaron membentur pohon


besar yang berada cukup jauh dari tempat duduk


Raya. Mata Raya dan Lucas saling pandang kuat,


ada kilat murka yang kini menembus kembali ke


dalam titik lemah dalam jiwa Raya. Namun pria


itu tampak mundur sambil memegangi dadanya


saat tembakan itu bagai bumerang, menyerang


balik dirinya dengan hebat. Jiwa wanita itu kini


telah utuh kembali memancarkan cahaya terang


dan membentengi diri dari pengaruh gelap yang


di lancarkan oleh nya.


Lucas menggeram, rahang nya tampak mengeras.


Keinginannya kini benar-benar hancur tak bersisa.


Dia mencoba mengontrol emosinya dan kembali berpaling pada Aaron yang baru saja bangkit, melemaskan otot-otot tubuhnya yang hampir saja remuk karena beradu hebat dengan pohon besar. Dengan tampang yang semakin mengerikan Lucas


kembali menyerang Aaron dengan gerakan cepat penuh perhitungan. Wajah Raya tampak semakin


memucat dengan tatapan penuh kecemasan


sekaligus ketakutan melihat Aaron dan Lucas


kembali bertarung.


Keduanya kini bertarung seru dan sengit di lahan terbuka yang di kelilingi oleh pohon-pohon besar


serta rerumputan hijau berlatar gemuruh air


terjun yang mampu menggetarkan jiwa. Gerakan mereka berdua sangatlah cepat, tak bisa di ikuti


oleh mata manusia biasa. Hembusan angin


kencang yang mengikuti pergerakan kedua orang


itu membuat siapa saja yang terkena sambaran anginnya akan otomatis terlempar seketika.


Beberapa pukulan dan tendangan kini masuk menghantam tubuh mereka membuat keduanya terdorong mundur dengan keras. Namun tidak


lama mereka sudah terlihat menegakkan badan


nya kembali dan mengatur napas. Keduanya


saling menatap kuat mencoba untuk menembus


batas kemampuan masing-masing.


"Berikan dia padaku, maka reputasi mu akan


tetap terjaga.! Wanita itu tidak akan bahagia


dengan menjadi istri bayangan mu.!"


Ujar Lucas dengan seringai iblis di bibirnya.


Aaron balas menyeringai sadis dengan tatapan


nyalang di selubungi amarah yang kini sudah


mencapai puncaknya.


"Lalu kau akan menjadikan nya sebagai objek


pemuas nafsu mu.? "


"Haha sepertinya hal itu justru cocok untuk di


alamatkan padamu Putra Mahkota. Aku telah


jatuh cinta padanya.!"

__ADS_1


"Cinta ? Untuk ukuran seorang Lucas ? Itu


hanyalah sebuah ilusi saja !"


Lucas tampak mengepalkan tinjunya. Wajahnya


kini sudah semakin kelam dan mengerikan.


"Lepaskan dia untuk menjadi milikku, kalau


tidak, aku akan membongkar skandal ini.!"


Geram Lucas sambil bersiap memasang kuda-


kuda dan mengamati pergerakan Aaron.


"Lakukan saja ! Maka keluarga besar mu hanya


akan menjadi bahan tertawaan lawan politik


ayahmu. Adikmu ternyata hanyalah calon Ratu


diatas kertas saja, sangat menyedihkan.!"


"Aaron Marvell De Enzo..! Jangan coba-coba


menyakiti adikku.!"


"Maka aku ingatkan padamu, jangan pernah


lagi mengganggu dan mengejar apa yang


sudah menjadi milikku.! Maharaya adalah


istriku.! Dia adalah milikku.. selamanya..!"


"********..! Akan aku habisi kau Underground


Devils..!!"


Lucas langsung melompat menyerang Aaron


dengan menyatukan dua kekuatan. Dia tampak


membentuk pusaran angin kencang kemudian


menarik air terjun, menggulung nya dahsyat dan menyemburkan nya kearah Aaron menyerupai


dinding labirin yang sangat berbahaya. Namun


bukan Aaron namanya kalau dia harus gentar


dengan serangan itu. Tubuhnya kini meloncat


terbang menapaki batang pohon, berpindah dari


satu pohon ke pohon lain menghindar dari


serangan itu. Dengan gerakan kilat tubuh Aaron melesat mengirimkan tendangan maut ke tubuh


Lucas yang masih memainkan tangannya hingga


membuat tubuh pria itu kembali terlempar jauh


dan jatuh diatas bebatuan. Mulutnya langsung


menyemburkan darah segar.


Aaron menapakkan kakinya di atas tanah sambil menggerakkan otot-otot lehernya dengan tatapan


devil nya yang masih mengarah dan mengamati pergerakan Lucas. Saat ini pria itu terlihat masih


berusaha bangkit, tapi kelihatannya kesulitan.


Para pengawalnya berlarian menghampiri Tuan


mereka dan membantunya untuk bangkit.


"Pergi dari tempat ini, sebelum aku berubah


pikiran dan menghabisi nyawa kalian di sini.!"


Aaron memberi ancaman dengan wajah yang


sudah menjelma menjadi Underground Devil.


Lucas menatap Aaron sebentar dengan kilat


hebat di sisa kekuatannya. Dia terpaksa mundur


dari pertarungan ini. Ada sesuatu yang tidak


beres dengan apa yang di milikinya. Hatinya


saat ini sedang kacau, mengetahui fakta bahwa


wanita yang di dambakan nya ternyata milik musuhnya, jiwanya seolah hancur seketika dan


hal itu mempengaruhi konsentrasinya. Harus


dia akui dirinya memang tidak akan mampu mengimbangi kekuatan fisik yang di miliki


oleh seorang Aaron.


"Aku punya kartu As mu Aaron.. Jadi jangan


coba-coba mempermainkan kehormatan


keluarga ku.!"


Tegas Lucas sambil kemudian menatap Raya


yang berada cukup jauh di belakang Aaron.


Setelah itu dia pergi bersama para pengawalnya.


Aaron mengatur napasnya, mengontrol segala


emosi yang masih mengendap dalam dirinya.


"Aaron.."


Raya, kemudian membalikkan badannya dan


melihat Raya datang menyerbu kearahnya lalu melompat ke dalam pelukannya. Keduanya


saling berpelukan erat. Aaron menciumi puncak


kepala istrinya itu seraya memejamkan mata.


Hatinya kini terasa lebih tenang saat wanita


ini ada dalam pelukannya.


"Aaron..kau baik-baik saja kan.?"


Raya melepaskan pelukannya, mengecek dan


memeriksa keadaan Aaron .


"Raya.. tenanglah..aku tidak apa-apa..!"


"Tidak, laki-laki itu bukan manusia biasa. Dia


itu orang aneh, dia akan melukaimu Aaron.."


"Aku baik-baik saja sayang..."


Deg !


Tubuh Raya membeku seketika. Matanya kini


beradu dengan mata Aaron. Sayang.. apakah


dirinya sedang berada dalam halusinasi.? Tidak,


ini sesuatu yang tidak mungkin. Tangan Aaron


bergerak perlahan mengelus lembut wajah cantik


Raya yang masih menatapnya tidak percaya.


"Kenapa kamu selalu membuatku khawatir


Maharaya.? Kenapa kamu selalu membuatku


tidak tenang..? "


"Maafkan aku..! Bukankah sudah aku bilang


lepaskan saja aku.! Aku hanya akan membawa


kesulitan padamu..! Dari kecil, hidupku adalah


beban berat bagi orang-orang terdekatku.!"


Lirih Raya pelan sambil menundukkan kepala.


Tapi Aaron kembali mengangkat wajah cantik


istrinya itu hingga mata mereka saling menatap


kuat dengan sorot mata yang kini sama-sama


lemah, teduh dan menyerah pada keangkuhan


diri. Hati mereka saat ini sudah jatuh pada satu


titik. Rasa itu tidak perlu ungkapan, rasa itu tidak


perlu pernyataan, karena rasa itu terlihat jelas


dalam sorot mata serta bahasa tubuh keduanya.


"Aku tahu semua hal tentang dirimu. Jadi kau


tidak perlu meragukan kesungguhan ku.!"


Raya tampak bengong. Ini sesuatu yang cukup


mengejutkan. Tidak, apa benar laki-laki ini


mengetahui semua hal tentang dirinya.?


"Kita harus pulang sekarang.! Kau harus segera beristirahat. Aku tidak ingin kau kelelahan.!"


Belum Raya mampu berkata-kata Aaron sudah mengangkat tubuh lemahnya ke dalam pangkuan


kemudian berjalan menuju kuda hitam miliknya


yang setia menunggui dirinya. Aaron datang


sendiri ke tempat ini begitu menyadari semua


orang yang ada di perkebunan terkena sirap


Lucas hingga mereka semua tertidur di setiap


sudut tempat termasuk Alex dan Ansel serta


seluruh pengawal yang di tugaskan untuk


menjaga keselamatan Raya. Pria aneh itu


benar-benar licik. Dia menempuh segala cara


hanya untuk mendapatkan wanita yang sudah


menjadi miliknya.


Raya memekik kaget dan terkejut ketika Aaron


membawa tubuhnya ke atas pangkuan dalam


posisi duduk di atas punggung kuda.

__ADS_1


"Aaron.. apa-apaan ini.? Aku takut, aku tidak


bisa naik kuda.. Turunkan aku sekarang.!"


"Kita akan berjalan perlahan.! Kau hanya perlu


memfokuskan pandanganmu padaku.!"


"Tidak, aku tidak bisa.! Apa kau tidak lihat aku


memakai rok mini seperti ini.!"


Aaron meraih mantel yang ada di punggung kuda


kemudian menutup rapat paha bening mulus


istrinya yang tadi sempat terbuka karena posisi


duduknya yang menyilang diatas pangkuannya.


"Aaron..aku benar-benar tidak bisa, aku takut


jatuh, aku tidak suka.."


"Maharaya.. lihatlah aku, fokuskan matamu


hanya padaku.!"


Wajah Raya kini berubah memerah, tidak ada


lagi wajah pucat pasi nya. Dia menatap wajah


Aaron yang berada di depannya. Kedua mata


mereka saling memandang dengan getaran di


jiwa yang semakin lama semakin kuat hingga


kini sudah menguasai diri mereka seutuhnya.


Tangan kiri Aaron mengunci pinggang ramping


Raya sementara tangan kanan tetap memegang


kendali kuda nya.


"Aaron.. kumohon pelan-pelan saja jalannya."


"Baiklah.. kita akan menikmati moment ini.."


Bisik Aaron mulai berat dengan tatapan dan


sorot mata yang mulai aneh. Sang kuda hitam


mulai berjalan pelan menyusuri jalanan di atas


rumput hijau keluar dari hutan lindung tersebut.


Perlahan Raya melingkarkan tangannya di leher


Aaron yang semakin tidak bisa mengendalikan


dirinya lagi mendapati wajah menggiurkan itu


ada di dekatnya. Keduanya saling menatap kuat


dan lekat, semakin dalam dan semakin panas.


Aaron mendekatkan bibirnya, tubuh Raya mulai


menegang, memanas dan ada desakan hasrat


aneh yang membuat dia tidak ingin menjauh.


Akhirnya bibir mereka bertemu, tubuh mereka


sedikit bergetar dengan sensasi panas dingin


yang langsung menyerbu karena baru kali ini keinginan itu timbul dari dalam diri mereka


secara bersamaan. Keduanya saling memagut,


saling ******* dan bertaut lidah. Ciuman itu


semakin lama semakin panas, memberikan


sensasi nikmat berlebih di sertai perasaan


yang membuncah memenuhi dada keduanya.


Mereka terhanyut dalam buaian kelembutan


dan rasa manis dari bibir masing-masing yang


sangat memabukkan. Suara decakan erotis kini


mewarnai suasana perjalanan mereka di tengah


hutan yang sepi di iringi nyanyian alam.


Tidak ada lagi hasrat memberontak dalam diri


Raya, hatinya benar-benar telah jatuh terperosok


ke dalam pesona yang di tebarkan oleh pria ini.


Yang dia inginkan saat ini adalah berada dalam pelukan hangat dan perlindungan pria pemerkosa


nya ini yang anehnya malah memberinya rasa


aman dan nyaman.


Ciuman mereka semakin lama semakin liar,


tangan Aaron kini terlepas dari kendali kuda


dan mulai merayap ke bagian-bagian tubuh


sensitif istrinya itu dibalik blouse cantik yang


di kenakannya.


"Akhh.. Aaron.. jangan.. kita sedang ada di


ruang terbuka.."


Raya mendesah melepaskan ciumannya dan


menggelinjang saat bibir Aaron kini menyusuri


lehernya dan menggigit nya pelan. Sementara


Tangannya sudah masuk ke balik blouse yang


di pakainya dan bermain liar di sana hingga


desahan panjang kini keluar dari mulut Raya.


"Kenapa kamu selalu menggodaku Raya.? Aku


tidak tahan lagi.. bagaimana kalau kita bermain


disini.?"


"Apa ? tidak..! Kau benar-benar keterlaluan.!"


"Semalam aku sudah membiarkanmu bebas.


Ini akan sangat menyenangkan.!"


"Aaron.. sudah cukup akhh..."


Raya berusaha menjuhkan dirinya saat bibir


Aaron mulai turun dan kini menenggelamkan


wajahnya di belahan dada sintalnya.


"Aaww..Aaron.. perutku sakit.."


Aaron mengangkat wajahnya, menatap wajah


Raya yang terlihat meringis dengan rona yang


terlihat sedikit pucat.


"Jangan bercanda kamu..! Kau hanya ingin


mengalihkan keinginanku kan.?"


"Tidak, ini beneran sakit..Perutku kram Aaron."


Aaron mendekap erat pinggang kecil istrinya


itu kemudian melakukan panggilan telepon.


Raya merebahkan kepalanya di dada bidang


Aaron sambil melingkarkan kedua tangannya


di punggung kokoh suaminya itu. Rasa sakit


yang melilit di perut bagian bawah nya kian


terasa, dia memejamkan matanya dengan


pelukan yang semakin erat.


Akhirnya setelah beberapa saat mereka tiba


di sebuah jalan, di sana telah menanti Ansel,


Alex dan Griz serta seluruh pengawal nya.


Wajah-wajah mereka tampak sangat cemas


di penuhi rasa bersalah. Terlebih lagi Ansel,


wajahnya terlihat sangat khawatir melihat


tubuh Raya terkulai lemas dalam pelukan Aaron.


Ansel meraih tubuh Raya dari atas pangkuan


Aaron sebelum akhirnya pria perkasa itu turun


melompat dari atas kuda dan kembali membawa


tubuh istrinya itu ke dalam gendongannya.


"Kita pulang ke White House sekarang. Aku


akan membawa mobil sendiri.!"


Tegas Aaron sambil kemudian mendudukkan


tubuh Raya di jok depan mobil sport mewahnya.


Untuk sesaat dia menatap cemas wajah Raya


yang terlihat merebahkan kepalanya sembari


memejamkan mata. Aaron memasangkan sabuk


pengaman kemudian mencium lembut kening


istrinya itu penuh dengan perasaan khawatir.


Tidak lama dia sudah ada di balik kemudi dan


mobil mewah itupun meluncur meninggalkan


area perkebunan bunga tersebut di ikuti oleh


rombongan mobil-mobil lainnya..

__ADS_1


***


Happy Reading...


__ADS_2