Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
31. Pria Kejam


__ADS_3

❤️❤️❤️


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.


Ke dalam kamar besar di tingkat paling atas


saat ini muncul satu sosok tinggi tegap yang


baru saja datang dengan mengenakkan mantel


yang terlihat sedikit basah terkena percikan


kabut tebal. Mungkin orang lain tidak ada yang


tahu, dia baru saja kembali setelah melakukan


patroli. Setelah memastikan semuanya aman


dan terkendali dia baru kembali ke dalam kapal.


Pikirannya sejak tadi sudah tertuju pada satu


orang yang ada di dalam kamar ini, dia belum


sempat menemui wanita yang berstatus sebagai


istrinya itu sejak terakhir bertemu di pesta tadi.


Untuk sesaat sosok itu yang tiada lain adalah


Aaron berdiri mematung di tengah ruangan.


Matanya terfokus pada sosok cantik yang kini


sedang meringkuk manis di sofa yang ada di


dekat dinding kaca di ujung ruangan.


Aaron melangkah tenang kearah keberadaan


Raya, menatapnya lekat dan dalam. Kenapa


wanita ini suka sekali tidur di sofa dengan


posisi meringkuk seperti ini.? Kucing liar manis..


Bibir Aaron terangkat sedikit, wajah nya kini


tampak sedikit memerah saat dia mengingat


bagaimana wanita ini tadi berdansa dengan


sangat memukau, benar-benar tidak menduga


kalau wanita kasar ini memiliki kemampuan


lebih seperti itu, sangat mengesankan.!


Perlahan Aaron berjongkok di hadapan Raya


yang berada pada posisi miring dengan wajah


tersandar pada pinggiran sofa dan tangan yang memeluk lutut, benar-benar menggemaskan.


Aaron terdiam memandangi detail wajah cantik


itu dengan seksama. Di mulai dari alisnya yang terbentuk alami, lalu turun ke bulu mata lentik


natural yang menghiasi mata indahnya dengan tatapan sendu nan membius, kemudian beralih


pada hidung kecil mancung, dan berakhir pada


bibir ranum yang memiliki bentuk sangat indah,


sensual dan menggoda. Semua kecantikan itu


terbingkai sempurna dalam bentuk muka yang


benar-benar menarik dan istimewa.


Aaron menghela nafas panjang sambil menelan


salivanya yang mengganjal di tenggorokan saat


tatapannya jatuh di bibir ranum merah alami dan sedikit lembab itu. Dia berusaha sekuat tenaga


untuk tetap mengontrol hasrat dan gairahnya


yang selalu saja menanjak tiap kali bersentuhan


dengan wanita ini.


Perlahan Aaron meraih tubuh Raya ke dalam


pangkuannya, kemudian melangkah ke arah


tempat tidur dan membaringkannya dengan


hati-hati. Raya memiringkan tubuhnya ke sisi


tempat tidur sambil memegang erat tangan


Aaron yang masih berada bagian lehernya.


"Kenapa kau jahat sekali padaku..!"


Gumam Raya pelan dalam tidurnya setengah


mendesah. Aaron terdiam, menatap lekat


wajah Raya yang terlihat menampakkan raut


kesal. Bibirnya kini menyeringai tipis penuh ironi.


"Aku tidak ingin kau terluka terlalu dalam.


Cukup berikan aku keturunan, setelah itu


hidupmu akan kembali bebas.!"


Desis Aaron masih menatap lekat wajah Raya.


Tidak lama dia menarik tangan nya dengan


hati-hati agar tidak membangunkan wanita itu.


Setelah itu beranjak masuk ke dalam kamar


mandi untuk membersihkan diri.


Selang beberapa menit Aaron keluar dari kamar


mandi, sudah berganti pakaian dengan yang


lebih santai. Setelan celana dan kaos putih pas


body. Dia segera mengambil tempat di ujung


ruangan untuk melaksanakan ibadah sholat


isya yang belum sempat di lakukan nya karena


keterbatasan waktu yang begitu padatnya. Dia


juga melanjutkan kegiatan ibadahnya dengan


melaksanakan sholat malam.


Setelah semua di laksanakan Aaron berjalan


kembali kearah tempat tidur. Dia terlihat ragu


untuk naik ke atas kasur, tapi tubuhnya saat


ini benar-benar butuh istirahat yang cukup.


Sudah beberapa malam dia tidak tidur dengan


benar karena kesibukannya.


Dengan sedikit ragu dia naik keatas tempat


tidur, kemudian merebahkan tubuhnya di


samping Raya yang sudah kembali meringkuk


dan bergelung manja dengan kedua tangan


dipakai untuk menopang wajah nya. Aaron


memiringkan tubuhnya ke arah Raya. Dia


kembali memandang tenang wajah cantik


itu dengan bibir yang terangkat sedikit.


Gila ! sekarang ini statusnya sudah berubah


tanpa pernah terbayangkan sebelumnya bahwa


dia akan menikah dengan wanita yang tidak di


kenalnya sama sekali. Tangan Aaron bergerak


meraih rambut yang menghalangi sebagian


wajah cantik Raya kemudian merapihkannya


agar dia bisa menatap wajah itu sepuasnya


sampai akhirnya matanya kini tertutup rapat.


Rasa lelah itu sudah menenggelamkan nya


ke dalam mimpi dan tidak sadar tubuh mereka


kini sudah saling mendekat seolah mencari


kenyamanan dan kehangatan dan akhirnya menemukannya.


***


Suara alarm pengingat di ponsel membawa


Raya terbangun dari tidur lelapnya, tidur yang


terasa begitu nyenyak dan nyaman. Perlahan


dia membuka mata dan menggerakkan tubuhnya, namun matanya kini mendadak menatap horor


kearah sosok gagah yang ada di hadapannya,


begitu dekat, rapat bahkan kini kepalanya ada

__ADS_1


di atas lengan kokoh pria itu. Sedang lengan


kanan pria itu melingkari tubuhnya dengan


kuat, mengurung nya posesif.


"Aaron... kenapa dia bisa di sini.."


Raya menutup mulutnya dengan ekspresi yang


terlihat begitu syok mendapati kenyataan dia


berada satu kasur dengan pria ini, bahkan saat


ini tubuhnya ada dalam kekuasaan nya. Kapan


pria ini masuk ke dalam kamar, kenapa dia tidak


ingat sama sekali dengan kedatangan nya. Dia


ingin berteriak, mengumpat, memukul kalau


perlu menendang pria ini, tapi suaranya tidak


keluar sama sekali. Dia benar-benar terkejut.


Tubuhnya tiba-tiba saja menegang dan gemetar


menyadari semalaman dia berada di dekat pria


yang telah menorehkan luka tak kasat mata itu.


Dengan hati-hati dia mengangkat lengan kokoh


pria itu dari pinggangnya dengan tatapan tidak


lepas dari wajah tampan yang terlihat tenang


dan sangat kelelahan itu.


"Bisakah kau membiarkan aku tidur dengan


tenang. Aku baru saja memejamkan mata.!"


DEG !


Gerakan Raya terhenti, dia menatap reaksi di


wajah datar itu penuh antisipasi. Matanya


masih terpejam tapi mulutnya sudah rese.


"Ba-bagaimana.. kau bisa ada di sini.?"


"Ini adalah kamar pribadi ku, siapa yang akan


melarang ku datang kesini.!"


"Kalau begitu kenapa kamu menempatkan ku


di kamar ini, kenapa tidak di kamar lain saja.!"


"Kau itu istriku, harus selalu berada dalam


pengawasanku.!"


"Aku hanyalah istri bayangan mu.! Kau tidak


perlu terlalu mengekang ku Yang Mulya.!"


Ketus Raya yang membuat Aaron membuka


matanya seketika. Mata mereka kini bertemu,


saling menatap kuat dengan sorot mata yang


terlihat sangat kompleks. Ada luka dan benci


yang terpancar nyata dari mata Raya.


"Selama statusmu masih istriku, jangan pernah


berani macam-macam di belakangku. Aku bisa


berlaku sangat kejam dan licik !"


Desis Aaron dengan raut wajah yang terlihat


sedikit keras di sertai aura yang sangat dingin.


"Tidak perlu di ingatkan, aku tahu batasanku.


Tapi aku tidak yakin dengan statusku sendiri."


"Jalani semuanya sesuai dengan keadaan.


Jangan memikirkan yang tidak perlu kau


pikirkan.! Tugasmu hanyalah menuruti ku.!"


"Apa kau pernah memikirkan bagaimana


perasaanku.?"


"Itu tidak penting bagiku.! "


"Kau benar-benar kejam.! Kita bahkan tidak


saling mengenal sebelumnya.!"


Raya menatap wajah Aaron dengan perasaan


yang benar-benar terluka. Tidak salah lagi pria


ini memang tidak berhati.!


"Baiklah, aku hanya akan melakukan semua


sesuai keinginan mu. Kalau begitu katakan


padaku, dimana seharusnya aku berdiri.?"


Mata mereka kembali bertemu panas. Aaron


Menyeringai licik membuat Raya bergidik ngeri


dan menatapnya penuh antisipasi.


"Di luar kau adalah sekretaris pribadi ku, tapi


di dalam kamar kau hanyalah istriku.!"


Raya terhenyak, dia menggelengkan kepala


tidak terima dengan sikap otoriter pria jahat


itu. Manusia ini selalu saja seenaknya, tidak


mau di bantah dan tidak berperasaan.


"Kau.. pria paling arogan yang pernah aku


temui.! Semoga Tuhan menyelamatkan ku


dari pria jahat seperti mu.!"


Wajah Aaron seketika bereaksi sedikit aneh.


Dalam gerakan cepat dia menarik kembali


tubuh Raya dengan melingkari pinggangnya


kuat lalu mencengkeram dagunya hingga kini


wajah mereka saling berhadapan, hanya


tersisa beberapa inchi saja.


"Aku mau lihat apa kali ini kau bisa selamat.!"


Desis Aaron dengan suara yang sangat berat


dan tatapan mata yang mengunci bibir Raya


yang kini sudah dalam mode tegang akut.


"A-Aaron..biarkan aku turun.!"


"Kau harus membayar ulah mu semalam.!"


Raya menautkan alisnya dengan tubuh yang


semakin bergetar di telan ketegangan. Dia


berusaha mendorong tubuh sekokoh karang


di lautan itu, tidak tergoyahkan sedikit pun.


"Apa maksudmu.? apa salahku..?"


"Kau sudah menolak ku dan menghinaku.."


"Aku tidak mengerti maksudmu, aku..."


Belum sempat Raya meneruskan kata-katanya


Aaron sudah menyergap bibirnya, **********


rakus dan kuat. Raya membulatkan matanya,


tidak menduga akan di serang demikian. Dia


berusaha melepaskan diri namun Aaron tidak memberinya kesempatan. Dia sudah menguasai


bibir Raya dengan ********** kuat, menyesap,


menjilat dan berusaha menerobos masuk.


Darah Aaron mendidih seketika saat segala keinginannya yang tertahan sedari malam kini terlampiaskan. Dia tidak akan melepaskan


bibir yang penuh dengan madu ini. Ciumannya semakin lama semakin panas dan liar.


Raya masih berusaha melepaskan ciuman itu,


namun Aaron mengunci bibirnya dan kini ada


hawa panas yang mulai menjalari aliran darah


nya membuat tubuhnya lemas, tangannya yang


ada di dada Aaron terus memukuli nya untuk melepaskan ciuman itu. Namun saat ciuman


Aaron berubah lembut dan intens, penolakan

__ADS_1


yang di lancarkan Raya mulai mengendur, dia


juga sudah kehabisan tenaga.


Aneh ! ketegangan yang tadi di rasakannya kini


tiba-tiba saja hilang dari tubuhnya, musnah tak


berbekas, berganti dengan sensasi aneh, panas


di sekujur tubuhnya. Ciuman yang di lancarkan


Aaron semakin lama semakin panas. Namun


akhirnya Aaron terpaksa melepaskan pagutan


nya saat menyadari Raya sudah benar-benar


kehabisan napas .


Raya tampak megap-megap meraih oksigen


sebanyak-banyak nya untuk memasok udara


ke dalam sistem pernapasan nya. Tidak lama


Aaron mencoba kembali memagut bibir yang


sudah setengah membengkak itu. Namun Raya


dengan cepat melepaskannya lalu mendorong


keras dada laki-laki itu dan segera menjauhkan


diri dari jangkauannya


"Cukup..! jangan lakukan lagi. Sudah cukup.!"


Raya menatap tajam wajah Aaron dengan


sorot mata penuh ancaman membuat pria


itu terdiam, menatap datar wajah cantik Raya


yang memerah dan kini ada lelehan air mata


yang menuruni pipi mulusnya. Raya mundur


beringsut berusaha menjauh dari Aaron.


"Aku tidak ingin kau melakukannya lagi. Kita


hanya terikat pernikahan di atas kertas saja.


Kau sendiri yang menginginkan hal itu.!"


Tegas Raya dengan tatapan tajam menusuk


membuat Aaron membeku. Dengan gerakan


terburu-buru Raya turun dari atas tempat tidur kemudian berlari menuju kamar mandi. Aaron


terdiam, memegang bibirnya sambil merenung.


Ada segaris senyum smirk yang terlukis. Tidak


salah lagi wanita ini memang memiliki racun


yang mampu menyengat siapapun yang akan


datang mempermainkan nya.


***


Sekitar jam 8 pagi beberapa pelayan datang


ke dalam kamar membawakan sarapan pagi.


Entah kemana pria itu karena saat Raya keluar


dari kamar mandi dia sudah tidak nampak lagi


di atas tempat tidur. Pagi ini dia harus kembali


bertugas, menemani bos nya itu beraktifitas.


Untuk beberapa saat Raya kembali merenung.


Harus bagaimanakah kini dia bersikap. Pria itu


benar-benar tidak berperasaan. Dan kini dia


terjebak dalam peraturan tidak masuk akalnya.


Raya sudah siap dengan setelan cantik semi


formalnya namun tetap terkesan feminim. Dia


segera menyantap sarapannya karena dirinya


butuh tenaga full. Dia tidak ingin kejadian tadi


malam kembali terulang, di kritik habis-habisan


oleh pria tak berperasaan itu. Setelah semuanya


siap dia keluar dari kamar langsung menuju


ruangan kerja Aaron yang ada di lantai 5. Saat


dia baru saja turun dari tangga pria itu ternyata


sudah menunggunya tepat di bawah tangga


membuat Raya sedikit merasa tidak enak.


Siap-siap di omelin lagi kalau begini.


Pagi ini Aaron mengenakkan pakaian yang


tidak terlalu formal, hal itu membuat dia terlihat


lebih fresh dan terkesan lebih hangat tidak


sedingin biasanya. Untuk sesaat mereka berdua


saling menatap, saling melihat satu sama lain,


datar saja, tidak ada reaksi berlebihan dari


keduanya walau sesungguhnya hati mereka


bergejolak. Tanpa kata Aaron mulai melangkah


tenang di ikuti oleh Raya, Alex dan Griz serta


beberapa pengawal pribadi yang selalu setia menemani kemana kaki Tuannya itu melangkah.


Tiba di lantai 4 rombongan itu masuk ke dalam


sebuah ruangan yang cukup luas dengan interior


khusus yang serba mewah dan glamor. Mata Raya


kini menatap terkejut saat menyadari mereka


masuk ke dalam ruang makan keluarga kerajaan.


Di sana ada sebuah meja bulat panjang dengan


desain yang sangat mewah dan klasik. Ternyata


di tempat itu sudah menunggu semua orang.


Raja Williams berada di kursi utama, kemudian


Ratu Viginia, Arabella, Arthur dan beberapa tamu


kerajaan ada di deretan kursi sebelah kiri. Lalu


di deretan kanan ada satu kursi kosong di sisi


Sang Raja, kemudian Lady Catharina, Perdana


menteri Alfred, Lucas dan beberapa orang senator. Semua yang ada di meja makan tersebut adalah orang-orang yang sangat terhormat dan memiliki


kepentingan.


"Selamat datang Yang Mulya Putra Mahkota.."


Semua pelayan serempak membungkuk hormat


di hadapan Aaron yang masih berdiri tegak di


dalam ruangan, menatap lurus ke depan dengan


tampang datar dan dingin. Semua orang yang


ada di meja makan tampak berdiri serempak


kecuali Raja dan Ratu.


"Selamat pagi Yang Mulya.."


Sambut mereka sambil membungkuk sedikit.


Aaron cuek saja, Raya hanya bisa menghela


napas melihat semua kenyataan ini. Jadi apa


yang terjadi semalam di pesta adalah nyata.


Pria jahat ini benar-benar seorang Pangeran


yang bergelar Putra Mahkota.


Lucas menatap Raya dengan sorot mata yang


terlihat begitu semangat dan antusias melihat


kehadirannya. Untuk sesaat keduanya saling


pandang sampai akhirnya Raya mengalihkan


tatapannya kearah lain. Aaron sadar betul pria


charming itu mengarahkan pandangannya


pada sosok istrinya dengan tatapan yang


begitu dalam penuh damba..


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2