Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
6. Kritis


__ADS_3

❤️❤️❤️


Sementara itu...


Aaron menelusuri jalanan ibukota mencoba


mencari jejak gadis asing itu, bahkan dia belum


tahu namanya sama sekali. Benar-benar gila.!!


Dia sudah merusak masa depan seorang gadis


yang bahkan tidak di kenalnya sama sekali.


Hari semakin beranjak siang, tapi Aaron belum


menemukan jejak gadis itu. Dia terlihat sedikit


frustasi, memukul kuat setir mobilnya. Aaron


menghentikan mobilnya mencoba berpikir


jernih dan mengendalikan emosinya. Sampai


akhirnya salah seorang agen nya menelepon.


"Bagaimana..? kau sudah menemukan


identitas gadis itu..?"


"Sudah Tuan.! Dia adalah putri seorang


pengusaha yang telah di jualnya pada ketua


Black Hunter. !"


"Apa yang terjadi.?"


"Ayahnya memiliki banyak hutang pada Ketua


Black Hunter dan mendapat ancaman darinya. !"


"Lacak ke tempat orang tuanya berada.!"


"Anggota yang lain sudah kesana Tuan, tapi


dia tidak ada disana.! Kelihatan nya pergi ke


tempat lain, kami akan mencoba melacak


semua koneksi dan teman-temannya.!"


''Hemm..lakukan dengan baik.!"


"Baik Tuan..!"


Aaron menutup telepon, mencoba menghela


napas. Dia merebahkan kepalanya ke sandaran


jok. Matanya terpejam rapat, bayangan wajah


Mayra terus saja bermain di dalam pikirannya.


Ini adalah sesuatu yang sangat aneh baginya. Bagaimana bisa dalam keadaan seperti ini dia


masih saja mengingatnya. Bagaimana bisa dia


begitu tergila-gila pada seorang wanita yang


jelas-jelas sudah menjadi milik sahabatnya.


"Aarrghh..!!"


Aaron semakin frustasi, dia meremas kepalanya


dan mengusap kasar wajahnya. Setelah sedikit


tenang, dia kembali meluncurkan mobilnya.


Dia harus mengakhiri semua kemelut dalam


pikirannya ini. Dia tidak boleh larut dan terus


terperosok pada jeratan perasaan yang sudah


jelas tidak akan pernah bersambut. Wanita itu


sudah bahagia sekarang. Dia sudah bisa tenang


dengan kehidupan nya kini karena orang-orang


yang menggangu ketentraman nya sudah dia


singkirkan semua. Seharusnya saat ini dirinya


ikut bahagia dan merasa lebih tenang.


Aaron memutuskan untuk datang ke rumah


sakit tempat Mayra dan Dirga di rawat. Dia


langsung menuju ruang NICU dimana putra


sahabatnya itu berada. Benar saja wanita itu


ada di sana, sedang menatap haru ke dalam


ruang perawatan bayi, memandang lekat bayi


mungil yang sedang meringkuk tenang dalam


tabung inkubator.


Perlahan Aaron mendekat kearah Mayra, ikut


menatap bayi mungil di dalam sana.


"Dia sangat tampan..!"


Aaron berucap dengan tatapan tetap lurus


pada bayi mungil di depannya. Mayra melirik


dengan cepat. Matanya terlihat menatap terkejut


pada sosok tinggi tampan yang sedang berdiri


menatap lurus kearah bayi mungil nya.


"A-Aaron..."


Mayra berucap lirih masih menatap Aaron


dengan sorot mata tak percaya laki-laki itu


ada di sini. Aaron melirik, keduanya saling


pandang kuat. Tatapan penuh cinta yang


terpancar dari mata Aaron dan tidak dapat


di sembunyikannya membuat Mayra dengan


cepat memalingkan mukanya.


"Kau..masih ada disini..?"


"Kenapa.? kamu merasa terganggu.?"


"Ahh.. tidak, bukan begitu. "


Mayra dengan cepat menggeleng dan menunduk.


Aaron menatap tajam wajah Mayra, dia berusaha


sekuat tenaga untuk mengendalikan dirinya saat


ini. Ingin rasanya dia memeluk dan mendekap erat


wanita yang ada dihadapannya ini untuk terakhir


kalinya, tapi itu hanya sebatas keinginan saja yang


tidak mungkin terwujud.


"Selamat ! Aku bahagia putramu lahir dengan


selamat. !"


Aaron berucap sambil kembali menatap lurus


ke depan dengan wajah datarnya.


"Semua berkat dirimu.."


Suara Mayra sedikit bergetar, dia mencoba


kembali menatap Aaron yang juga sedang


menatapnya.


"Terimakasih atas semua yang sudah kamu


lakukan untuk kebahagiaan kami."

__ADS_1


"Itu bukan apa-apa.! Aku kesini ingin melihatmu


untuk terakhir kalinya.! Berbahagialah..karena


kebahagiaan mu, sesuatu yang berharga bagiku.!"


"Kau akan pergi ?"


Mayra bertanya dengan cepat, matanya terlihat


sedikit berair, wajah Aaron terlihat kembali datar


tanpa ekspresi. Dia menarik napas panjang.


"Hemm..! Aku punya tanggung jawab besar


sekarang.! Semoga aku bisa memulai hidupku


yang baru tanpa bayang-bayang mu..!"


Ujar Aaron, mereka kembali saling pandang.


Dengan sedikit gemetar, Aaron meraih tangan


Mayra dan menciumnya perlahan dengan mata


yang terlihat berat. Mayra berdiri mematung


saat kemudian Aaron melangkah pergi dari hadapannya.


Kini perasaan Aaron terasa sedikit lega. Dia


berjanji dalam hati, tidak akan lagi muncul di kehidupan mereka. Mayra terlihat sedikit berat melepas kepergian Aaron, namun Aaron sudah bertekad tidak akan lagi mencoba masuk ke


dalam kehidupan mereka. Dia sudah tenang


sekarang. Yang harus di lakukan nya mulai


saat ini adalah melupakan perasaan nya


terhadap Mayra walau dia sadar itu akan


sangat sulit baginya karena Mayra adalah


cinta pertamanya.


Aaron kembali menelusuri jalanan mencoba


melanjutkan pencariannya terhadap gadis itu.


Ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya.


Bayangan wajah gadis itu terus menenuhi


benaknya membuat Aaron di dera rasa


bersalah dan frustasi berat.


Dia menyambar ponsel nya begitu benda


pipih itu bergetar karena ada panggilan masuk.


"Hallo..kau sudah menemukan jejaknya.?"


"Sudah Tuan. Gadis itu masuk rumah sakit."


"Apa yang terjadi dengan nya.?"


"Sepertinya percobaan bunuh diri Tuan."


DEG !


Jantung Aaron seakan terhantam sesuatu.


Wajah nya seketika berubah mengeras, kelam.


Cengkraman tangan nya di setir mobil semakin


kuat. Dia menghentikan laju mobilnya.


"Bagaimana keadaannya sekarang.?"


"Kritis Tuan, sepertinya harapan hidupnya


sangat tipis."


Tangan Aaron semakin bergetar, buku-buku


jarinya sampai memutih karena cengkraman


yang terlalu kuat di telapak tangannya.


"Kirimkan aku alamat rumah sakit nya.!"


Aaron melempar ponselnya ke jok samping.


Dia memukul setir mobil berkali-kali untuk


meluapkan emosi nya. Sial ! sial ! sial ! Dia


yakin karena perbuatan bejatnya gadis itu


sampai nekad melakukan upaya pelenyapan


diri. Aaron mengacak rambutnya frustasi.


Dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri.


Bayangan wajah gadis itu kini semakin jelas


menjelma di pelupuk matanya. Tatapannya


yang sendu, sorot matanya yang lemah penuh


dengan ketakutan sekaligus permohonan


kini terlintas nyata dalam ingatannya.


"Aarrghh..sial.!! Kenapa aku bisa lepas


kontrol semalam.?!"


Aaron membenturkan kepalanya ke stir


mobil dengan tinju terkepal sempurna.


Dia memang penjahat..! Tapi selama ini


dirinya tidak pernah melakukan kekerasan


seksual terhadap wanita. Selama ini dia


hanya berhubungan dengan wanita yang


memilki standar tinggi dengan syarat harus


membawa surat keterangan sehat dan bebas


dari segala macam penyakit. Dia tidak pernah berhubungan dengan sembarang wanita.


Tapi kenapa begitu melihat gadis itu gairah


dan hasratnya tiba-tiba saja melonjak, hingga


dia mencoba untuk melupakan keinginannya


memiliki gadis itu dengan minum-minum


dan akhirnya malah seperti ini hasilnya.


Aaron membuka kembali ponselnya, melihat


detail alamat rumah sakit tempat gadis itu


di rawat saat ini, dia kembali meluncurkan


mobilnya menuju rumah sakit tersebut.


***


Sudah beberapa jam Raya berada di ruang


operasi. Semua dokter ahli berkumpul di


ruangan itu melakukan tindakan maksimal


untuk menyelamatkan nyawa gadis itu yang


kini berada di ujung tanduk. Semua prosedur penyelamatan sudah di lakukan. Namun kondisi


nya berada di ambang kritis, sayatan pada pergelangan tangannya mencapai titik arteri


menyebabkan putusnya aliran darah. Di tambah


lagi dia terlambat mendapatkan pertolongan.


Sean dan Jessica masih setia menunggu di


depan ruang operasi dengan ekspresi wajah


yang sudah tidak terbaca. Keduanya terlihat


begitu tertekan oleh ketakutan dan kecemasan.


Sean sampai mendatangi dan memarahi

__ADS_1


kepala rumah sakit karena para bawahannya


belum juga memberi kabar baik.


Akhirnya setelah lama menunggu pintu ruang


operasi terbuka juga. Sean langsung berdiri


dan menyerbu kearah rombongan dokter


yang baru keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaannya.? dia baik-baik saja


kan ? Katakan bagaimana hasilnya.?"


Sean mencengkram kerah jubah Dokter kepala


yang langsung mengangkat tangannya dengan


wajah pucat pasi. Mereka semua cukup tahu


dan mengenal siapa itu Sean Sebastian. Dia


adalah salah satu petinggi dari perusahaan


otomotif terbesar di dunia dan menjabat


sebagai direktur di kantor cabang yang ada


di negara ini.


"Tu-Tuan..tenang lah. Pasien selamat, tapi


masih harus masuk ke ruang ICU. Dia perlu penanganan lebih lanjut.."


Sean melepaskan cengkraman nya. Raut


wajahnya masih terlihat tidak puas.


"Lakukan perawatan yang terbaik untuk nya.


Aku tidak akan mengampuni kalian kalau


terjadi sesuatu padanya.!"


"Ba-baik Tuan. Kami akan memberikan semua


perawatan dan penanganan yang terbaik ."


"Apa aku bisa melihat nya sekarang.?"


"Kami akan memindahkan nya dulu Tuan."


"Baiklah..! lakukan semua nya dengan baik."


"Baik Tuan, kami permisi.!"


Para Dokter tampak menunduk di hadapan


Sean kemudian berlalu pergi dengan lutut


sedikit gemetar. Sean meremas kepalanya,


hatinya masih saja resah.


Akhirnya setelah lama menunggu mereka


bisa masuk juga ke ruangan tempat Raya


mendapat perawatan intensive. Jessica


menangis pilu melihat kondisi Raya saat


ini yang tampak menyedihkan. Beberapa


alat bantu menempel di tubuh nya. Dia


terlihat sepucat kapas tanpa rona merah


yang biasa menghiasinya. Raya seolah


enggan untuk membuka matanya lagi.


Sean duduk lemas di kursi sambil memegang


tangan kanan Raya yang luput dari aksi nekad


nya. Dia menatap redup wajah sepucat mayat


itu, hatinya perih bukan main. Wanita ini sudah


membuat dirinya kalah dalam pertaruhan hati.


Dia belum sempat menyatakan niatnya untuk


melamar wanita ini, tapi sekarang harus di


hadapkan pada kenyataan menyakitkan ini.


"Raya.. apa yang terjadi padamu.. Kenapa


kamu harus melakukan kebodohan ini.? Apa


tidak bisa membicarakan semua nya dengan


cara baik-baik.? Aku di sini ada untuk mu."


Sean berucap dengan suara yang sangat berat.


Dia menggenggam kuat tangan Raya, mencium


nya dengan penuh perasaan. Jessica semakin


deras mengeluarkan air matanya. Bagaimana


dia bisa mengatakan semuanya pada pria itu,


bahwa telah terjadi hal buruk pada sahabatnya


ini. Dia tahu Bos nya itu sangat mendambakan


Raya, walau selama ini Raya belum menerima


perasannya. Raya masih betah bertahan dengan


status jomblonya. Dan dia adalah sosok wanita


karir yang sangat konsen dengan tujuan nya.


"Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi


padamu Raya..Aku akan melakukan apapun


untuk membuatmu tetap hidup.!"


Ucap Sean penuh dengan keyakinan. Mata


nya menatap lekat wajah cantik Raya yang


kini terlihat begitu tidak berdaya..


"Mohon maaf Tuan, Nona.. waktu kunjungan


terbatas. Kami harus melakukan pengecekan


kembali pada kondisi pasien."


Seorang Dokter dan dua orang perawat


masuk kedalam ruangan mengingatkan


mereka bahwa waktu kunjungan sudah


habis. Sean dan Jessica menarik napas


berat, mau tidak mau mereka harus keluar


dari ruangan itu.


"Kau sudah memberitahu keluarganya.?"


Sean bertanya pada Jessica begitu mereka


keluar dari ruangan.


"Sudah Mr.. Mereka sedang menuju kesini."


"Baiklah. Kau tunggu mereka di sini. Aku


harus ke kantor dulu. Beritahu aku kalau


terjadi sesuatu padanya."


"Baik Mr.."


Jessica menunduk sedikit. Sean berlalu


pergi bersama dengan asistennya yang


sudah menunggu dari tadi di luar ruangan.


***


Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2