Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
52. Tak Nyaman


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya menarik nafas panjang. Ada sesuatu yang


mengganjal dalam hatinya melihat bagaimana


Ibu Suri memberinya peringatan. Apakah wanita


terhormat itu menangkap sesuatu yang lain dari


dirinya, ataukah dia mencurigai dirinya.?


"Ayo, kita sudah harus ada di ruang perjamuan


sebelum para tamu datang."


Ansel kembali menarik tangan Raya yang segera melepaskan nya membuat mata mereka saling


menatap sekilas.


"Ini di lingkungan istana An.."


"Jadi kalau di luar boleh.?"


Ansel menatap wajah cantik jelita Raya dengan


mata berbinar senang.


"Kenapa kamu tidak mengingat kejadian tadi


pagi, apa kau mau itu terjadi lagi.?"


Ansel tersenyum kecut, dia mendengus kasar.


"Cintaku yang besar padamu tidak akan bisa


di intimidasi oleh sikap arogan Kakak.."


"Sekali lagi aku ingatkan padamu tentang


statusku sekarang Tuan Ansel.."


Mereka menghentikan langkah, saling melihat


dengan sorot mata yang sangat kompleks.


Ansel kembali melangkah dengan wajah yang


kini berubah dingin dan datar. Dari pagi dia


sudah dilanda kegelisahan saat mengingat


waktu yang di habiskan oleh Aaron di kamarnya


sangatlah lama. Entah apa saja yang telah di


lakukannya pada Raya.


Tidak lama mereka tiba di ruangan yang sangat


luas dengan pencahayaan maksimum hingga


membuat setiap detail keindahan yang ada di


ruangan itu terlihat seluruhnya. Ruangan itu


mampu membuat semua mata merasa silau


saat melihat keindahan dan kemewahannya.


Ini adalah ruang perjamuan khusus keluarga


kerajaan saat menerima tamu pribadi.


Saat ini di dalam ruangan itu sudah banyak


orang, terutama para staf istana yang akan ikut


dalam acara spesial malam ini. Ratu Virginia


dan Madam Rowena terlihat sedang mengecek


semua persiapan. Sedang Arabella berbincang


dengan beberapa staf membahas semua hal


yang akan menjadi topik pembicaraan malam


ini antar dua keluarga besar.


Ansel mengajak Raya bertemu dengan para staf


istana yang tampak terpesona begitu melihat


kemunculan nya yang datang bersama Ansel.


Mereka langsung saja menyimpulkan sesuatu


tentang hubungan keduanya yang terlihat


cukup serasi. Mereka berdecak kagum melihat


bagaimana cantik dan anggun nya wanita


yang memiliki mata sangat indah itu.


"Perkenalkan..dia adalah Miss Maharaya..


Sekretaris pribadinya Putra Mahkota. Jadi


silahkan kalian berkoordinasi dengannya


kalau ada sesuatu menyangkut kegiatan


atau agenda harian Yang Mulya."


Ansel menjelaskan posisi Raya pada mereka


semua yang langsung saja terkejut, Sekertaris


Pribadi Putra Mahkota.? Mereka bengong.


"Selamat malam semuanya.."


Raya menyapa mereka seraya menundukan


kepala sedikit di hadapan 5 orang pria dan 3


orang wanita yang berpakaian rapi dan elegan


dengan sikap dan tata krama tinggi itu.


"Selamat malam Miss Secretary.."


Sambut mereka kompak dengan membalas


menundukkan kepala penuh santun masih


belum mempercayai apa yang di dengarnya.


"Yang Mulya Raja beserta beserta Perdana


Menteri telah tibaaa..."


Ada aba-aba dari seorang komandan khusus


yang memiliki tugas mengumumkan kehadiran


Sang Raja di setiap pertemuan resmi. Semua


orang langsung mengambil posisi di pinggir


ruangan membelah menjadi dua bagian sambil kemudian membungkuk setengah badan. Raya


dan Ansel ada di barisan kiri depan.Tidak lama


Raja Williams yang gagah dan berwibawa tiba


di dalam ruangan bersama dengan Perdana


menteri Alfred Winston, Nyonya Winston,


Lucas Winston serta beberapa anggota


keluarga Winston lainnya.


Raja Williams berjalan tenang sambil berbincang


ringan dengan perdana menteri Alfred, terlihat


sekali kalau mereka sangat akrab di penuhi aroma


kebahagiaan dan kesenangan. Begitu memasuki


ruangan, mata Lucas langsung mengunci sosok


Raya dengan tatapan tajam dan senyum manis


yang terukir di bibir seksinya. Sorot matanya


tampak mengamati keadaan Raya seluruhnya.


Para staf istana langsung menyambut Sang


Raja dan mengarahkan rombongan agung itu


ke salah satu privat room di ikuti oleh semua


pelayan dan prajurit pengawal. Raya dan Ansel


ikut mengiringi langkah mereka, namun sesaat


kemudian Raya terkejut ketika tiba-tiba Lucas


berbalik dan menarik tangannya di bawa ke sisi ruangan.


Orang-orang yang ada di barisan tengah dan


belakang sontak menoleh sebentar namun


tidak berani menegur ataupun melihat lebih


jauh apa yang di lakukan oleh Sang Putra


Bangsawan itu. Hanya Ansel yang berhenti


melangkah, berdiri sedikit jauh dari mereka


seraya menatap tajam kearah Lucas mencoba


untuk tetap tenang tidak terbawa emosi.


"Tuan Lucas apa yang anda lakukan.?"


Raya mencoba melepaskan pegangan tangan


Lucas yang semakin mengunci nya. Keduanya


saling pandang kuat, ada kekesalan namun juga


ada kerinduan yang terlihat dari sorot mata


tajam Lucas yang kini berkilat hebat berusaha menembus pertahanan jiwa Raya, dia ingin


membawa wanita idamannya ini ke dalam


kuasanya.


Biasanya dalam sekali pandang saja, para


wanita yang di inginkan nya akan langsung luluh


dan takluk, lalu merangkak di bawah kakinya,


memohon dan meminta di puaskan di atas


ranjang sampai mereka tak berdaya barulah


Lucas akan melepaskannya.

__ADS_1


"Kenapa sulit sekali menemuimu.! Tadi pagi


aku datang ke kantormu, tapi kau tidak ada


di tempat.!"


Geram Lucas dengan tatapan yang semakin


tajam penuh dengan intimidasi. Dia mengamati


aura yang keluar dari wajah elok wanita yang


sudah membuat tidurnya tidak nyenyak dan hari-harinya berantakan itu. Dia terkesiap, ada


kilatan hebat yang berputar di kedalaman mata


kelamnya saat dia menangkap dengan jelas


aura terang yang keluar dari tubuh Raya.


Damn.! siapa sebenarnya ******** yang telah


berani mendahului ku.. Aku tidak akan pernah


membiarkan nya lolos..!!


Rahang Lucas tampak mengeras mendapati


satu kenyataan pahit yang mencabik jiwanya.


Lagi-lagi madu murni wanita impiannya ini


telah di reguk dan di ambil oleh seseorang.


"Tuan Lucas.. tolong lepaskan tanganku. Dan


tolong jaga sikap anda, kita ada di istana."


"Memangnya kenapa.? Apa aku salah berbicara


dengan calon istriku sendiri.?"


Raya membelalakkan matanya, dia kembali


menarik tangan nya sekuat tenaga.


"Kenapa kamu tidak berpikir dulu sebelum


berbicara.? Jangan membuat lelucon dalam


keadaan seperti ini Tuan.!"


"Aku tidak bercanda.! Malam ini juga akan


aku umumkan rencana pernikahan kita. Dan


aku akan mengenalkan mu pada keluargaku."


Raya semakin melebarkan matanya. Pria ini


benar-benar sudah tidak waras.! Dia menatap


tajam wajah Lucas, mencoba bertarung dengan


kilatan hebat penuh ambisi yang keluar dari


mata kelam pria itu yang sedang berusaha


untuk melumpuhkan dirinya.


"Tuan Lucas kita sedang berada dalam acara


penting menyangkut masa depan negara ini.


Jadi tolong jangan membuat suasana tidak


kondusif."


"Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk


mengumumkan hal ini pada semua orang.!"


"Tidak, kau tidak bisa seenaknya mengklaim


kepemilikan ku.! Aku sudah punya seseorang


yang akan menjadi pendamping hidupku ke


depan, untuk selamanya.!"


Raya akhirnya bisa melepaskan pegangan kuat


tangan Lucas yang terhenyak dalam diam. Shit !


wanita ini telah mengakuinya sendiri. Raut wajah


Lucas terlihat semakin kelam dan dingin. Dalam


satu gerakan cepat dia meraih dagu Raya, lalu


menariknya membuat wajah Raya merah padam


berusaha menepis pegangan tangan pria itu.


Keduanya kembali saling pandang kuat.


Ada kegeraman yang di rasakan Lucas, kenapa usahanya untuk menarik dan mempengaruhi


jiwa wanita ini selalu saja tidak membuahkan


hasil, dia benar-benar tidak mampu menembus


benteng pertahanan yang di miliki oleh wanita


istimewa ini. Hal itu membuat dirinya semakin


terobsesi ingin segera memilki wanita ini.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki


dirimu Maharaya, termasuk bos mu sendiri.!"


juga mencurigai sesuatu.? Tidak, pria ini hanyalah


pria gila yang entah kenapa bisa bersikap aneh


seperti ini pada dirinya. Raya berusaha untuk


tetap tenang. Dia kembali mencoba menepis


pegangan tangan Lucas di dagunya.


"Hanya Tuhan yang punya Kuasa menentukan


nasib dan hidup seseorang Tuan. Jadi tolong,


jangan mempermalukan dirimu sendiri.!"


Desis Raya sambil kemudian mendorong kasar


dada Lucas setelah itu menjauhkan diri dari


hadapan pria aneh itu. Sementara mata mereka


masih saling menatap kuat dan panas.


"Kita lihat saja nanti , siapa yang beruntung bisa


memilki dirimu untuk selamanya Maharaya..!"


Ansel tidak tahan lagi, dia segera menghampiri


Raya dan menatap tajam penuh emosi tertahan


pada Lucas yang masih menatap Raya dengan


seringai aneh di bibirnya.


"Tuan Winston.. tolong jaga sikap anda, jangan


membuat keributan di dalam istana.!"


Tegas Ansel sambil kemudian menggengam


tangan Raya di bawa melangkah dari hadapan


Lucas yang tersenyum miring di sertai kilatan


hebat di matanya.


"Si brengsek itu sudah mendahului ku lagi..!


Dia sudah mengambil madu pertama dari tubuh


Ratu ku.! Tidak apa-apa.. Madu itu tidak akan


pernah habis..!!"


Gumam Lucas dengan seringai anehnya sambil


kemudian menegakkan badan dan merapihkan


tampilannya, memasang wajah malaikatnya lagi


setelah itu barulah berjalan dengan tenang dan


tegas penuh dengan pesona dan daya pikat yang


mampu melumpuhkan saraf-saraf dalam tubuh


setiap wanita, namun sialnya wanita yang sangat


di inginkan nya justru tidak tersentuh sedikitpun.


Suasana di ruang pertemuan tampak hangat


dan akrab. Keluarga kerajaan duduk di barisan


sofa sebelah kanan, sementara keluarga besar


Winston di sebelah kiri, sedang Raja Williams


duduk di singgasana utama. Mereka semua


berbincang hangat, mulai dari bisnis, politik


sampai pada urusan keluarga. Tatapan Lucas


tidak pernah lepas dari wajah cantik Raya yang


kebetulan ada di depannya karena dia berdiri


di belakang barisan keluarga istana. Tepatnya


di belakang kursi Aaron yang masih kosong.


Raya, Ansel serta para staf dan para asisten


juga para sekretaris berdiri di sisi ruangan,


melihat dan bersiap kalau-kalau ada sesuatu


yang di perlukan oleh atasannya masing-masing.


Hati Raya semakin gelisah saat menyadari dua


tokoh utama dalam acara ini belum juga datang.


Sebenarnya ada dimana mereka, apa yang


sedang di lakukan oleh keduanya.?


"Tuan Winston, sepertinya kita sepakati saja


pembicaraan ini pada kesimpulan pokoknya.!"


Madam Rowena berbicara membuat semua


orang yang ada di tempat itu terdiam patuh,

__ADS_1


menyimak dengan seksama.


"Kami sebagai pihak wanita akan mengikuti


apa yang sudah di tentukan oleh istana Yang


Mulya. Dengan senang hati tentunya."


Perdana menteri Alfred menyahut dengan


suara yang tegas dan tenang serta raut wajah


terlihat sangat puas. Madam Rowena melirik


kearah Raja Williams yang terdiam tenang.


"Aku serahkan semuanya pada Ibu Suri."


Raja Williams mengangkat tangan memberi


isyarat bahwa urusan ini ada di tangan Ibu


Suri sepenuhnya.


"Yang Mulya Putra Mahkota bersama Duchess


Catharina telah tibaa..."


Komandan khusus kembali memberi aba-aba


kedatangan Sang Putra Mahkota. Semua orang


yang berdiri di sisi ruangan segera mengambil


posisi siaga di tempat menyambut kehadiran


orang yang sudah di tunggu-tunggu dari tadi.


Jantung Raya tiba-tiba saja berdebar kencang,


wajahnya kini memanas. Dia menarik napas


pelan mencoba untuk tetap tenang.


Tidak lama dari arah pintu masuk ruangan


muncul Sang Pangeran super tampan yang


berjalan berdampingan dengan Sang Putri


bangsawan yang terlihat sangat cantik dalam


balutan gaun malam indah yang terlihat mewah


dan anggun sedikit seksi. Sedang Sang Pangeran sendiri saat ini tampak mengenakan setelan jas


elegan yang membalut pas tubuh gagahnya.


Aura kehadirannya begitu kuat hingga mampu


membuat semua orang termasuk Sang Raja


sendiri pun terpaku, menatap lurus kedatangan pasangan tersebut. Ada aura berbeda yang kini


terpancar dari tubuh Sang Putra Mahkota, aura


terang yang sangat kuat dan istimewa.


Mata elang Sang Pangeran langsung tertuju


pada satu titik fokus, berlian murni yang paling


terang diantara yang lain. Tapi alisnya tampak


bertaut saat melihat pakaian yang di kenakkan


oleh wanita itu, rahangnya sedikit mengeras


dengan tatapan yang semakin tajam. Dan hal


itu tidak luput dari pengamatan dua pasang


mata yang paling sensitif di tempat ini.


Tiba-tiba saja Catharina menggenggam erat


tangan Aaron yang sedikit terkejut, dia melirik,


menatap tautan tangan calon Ratu nya itu. Mata mereka bertemu, saling pandang kuat. Dan hal


itu kebetulan tertangkap oleh mata Raya yang


kebetulan sedang melirik kearah mereka. Ada


sesuatu yang kini menabrak dadanya, membuat


dia merasa sesak saat melihat pasangan itu


saling memandang lekat dan berpegangan


tangan dengan erat. Dia segera menundukan


kepalanya seraya memejamkan mata mencoba


untuk tidak mempedulikan semua itu.


"Yang Mulya..tolong bersikaplah sedikit


tenang di hadapan seluruh keluarga.."


Lirih Catharina seraya tersenyum lembut dengan tatapan yang begitu teduh nah memikat. Wanita


ini memang sangat cantik dan menarik. Dia juga


sempurna dalam segala hal, dari sekian banyak


wanita yang selama ini di seleksi oleh Madam


Rowena dan Ratu Virginia, Catharina lah yang


melebihi kriteria dan ekspektasi, gadis itu


sangat sempurna. Baik dari segi fisik maupun


sikap apalagi pengetahuan.


"Aku ingatkan jangan berbuat sesuatu tanpa


seizinku.!"


Desis Aaron sambil memperkuat pegangan


tangannya membuat Catharina meringis tapi


tetap berusaha untuk bersikap normal.


"Tentu saja, kau adalah panutan ku.."


Sahut Catharina sambil kembali berjalan anggun


di samping Aaron tak lupa menebar senyum


ramah penuh kebahagiaan pada semua orang.


"Selamat malam Yang Mulya Putra Mahkota.."


Keluarga Winston langsung membungkuk


hormat sambil berdiri begitu Aaron mendekat.


Sang Pangeran yang masih berpegangan tangan dengan Catharina berdiri tegak kearah mereka kemudian menundukan kepala sedikit. Setelah


itu keduanya saling pandang kembali hingga


akhirnya pegangan tangan mereka lepas karena


harus berjalan menuju arah yang berbeda untuk


bergabung dengan keluarga nya masing-masing.


Aaron mendekat kearah kursinya yang sudah


di siapkan untuknya. Namun dia berhenti tepat


di hadapan Raya yang sedang menundukkan


kepala. Tatapannya lurus dengan tampang


wajah yang terlihat datar dan dingin.


Raya bergerak mau memundurkan diri, namun


dia tersentak ketika tiba-tiba tangannya sudah


di pegang kuat oleh Aaron. Gerakannya otomatis terhenti, tubuhnya membeku seketika. Raya


mencoba menarik tangannya dari genggaman


kuat pria itu, tapi Aaron malah menariknya sedikit


kasar membuat tubuh Raya maju mendekat.


Mau tidak mau dia mengangkat wajahnya, kedua


mata mereka bertemu, saling menatap kuat


dengan getaran rasa masing-masing yang kini


bergejolak dan seakan tidak terkendali.


"Yang Mulya.. apa yang anda lakukan..?"


Desis Raya sambil mati-matian mencoba


menahan tubuhnya agar tidak semakin rapat


pada laki-laki itu karena kini pria itu semakin


menarik dan menekan tangannya.


"Kenapa kamu tidak mengenakkan gaun yang


aku kirimkan..?"


Mata indah Raya mengerjap cantik, wajahnya


tampak sedikit gusar. Sementara tatapan mata


Aaron semakin tajam penuh intimidasi.


"Yang Mulya..Aku rasa gaun itu tidak pantas


untuk di kenakkan pada acara seperti ini."


"Maharaya..kau tidak di perkenankan untuk


membantahku.!"


Suara Aaron terdengar sedikit keras dengan


intonasi yang cukup kuat membuat semua


orang terkejut dan melirik kearah nya. Raut


wajah Madam Rowena tampak berubah keras.


"Putra Mahkota..! Bersikaplah selayaknya


seseorang dengan kehormatan yang sangat


tinggi dan Mulia..!"


Semua orang membeku di tempat mendengar


ucapan dan sikap keras Ibu Suri tersebut..


***


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2