
❤️❤️❤️
Raya menarik nafas panjang. Ada sesuatu yang
mengganjal dalam hatinya melihat bagaimana
Ibu Suri memberinya peringatan. Apakah wanita
terhormat itu menangkap sesuatu yang lain dari
dirinya, ataukah dia mencurigai dirinya.?
"Ayo, kita sudah harus ada di ruang perjamuan
sebelum para tamu datang."
Ansel kembali menarik tangan Raya yang segera melepaskan nya membuat mata mereka saling
menatap sekilas.
"Ini di lingkungan istana An.."
"Jadi kalau di luar boleh.?"
Ansel menatap wajah cantik jelita Raya dengan
mata berbinar senang.
"Kenapa kamu tidak mengingat kejadian tadi
pagi, apa kau mau itu terjadi lagi.?"
Ansel tersenyum kecut, dia mendengus kasar.
"Cintaku yang besar padamu tidak akan bisa
di intimidasi oleh sikap arogan Kakak.."
"Sekali lagi aku ingatkan padamu tentang
statusku sekarang Tuan Ansel.."
Mereka menghentikan langkah, saling melihat
dengan sorot mata yang sangat kompleks.
Ansel kembali melangkah dengan wajah yang
kini berubah dingin dan datar. Dari pagi dia
sudah dilanda kegelisahan saat mengingat
waktu yang di habiskan oleh Aaron di kamarnya
sangatlah lama. Entah apa saja yang telah di
lakukannya pada Raya.
Tidak lama mereka tiba di ruangan yang sangat
luas dengan pencahayaan maksimum hingga
membuat setiap detail keindahan yang ada di
ruangan itu terlihat seluruhnya. Ruangan itu
mampu membuat semua mata merasa silau
saat melihat keindahan dan kemewahannya.
Ini adalah ruang perjamuan khusus keluarga
kerajaan saat menerima tamu pribadi.
Saat ini di dalam ruangan itu sudah banyak
orang, terutama para staf istana yang akan ikut
dalam acara spesial malam ini. Ratu Virginia
dan Madam Rowena terlihat sedang mengecek
semua persiapan. Sedang Arabella berbincang
dengan beberapa staf membahas semua hal
yang akan menjadi topik pembicaraan malam
ini antar dua keluarga besar.
Ansel mengajak Raya bertemu dengan para staf
istana yang tampak terpesona begitu melihat
kemunculan nya yang datang bersama Ansel.
Mereka langsung saja menyimpulkan sesuatu
tentang hubungan keduanya yang terlihat
cukup serasi. Mereka berdecak kagum melihat
bagaimana cantik dan anggun nya wanita
yang memiliki mata sangat indah itu.
"Perkenalkan..dia adalah Miss Maharaya..
Sekretaris pribadinya Putra Mahkota. Jadi
silahkan kalian berkoordinasi dengannya
kalau ada sesuatu menyangkut kegiatan
atau agenda harian Yang Mulya."
Ansel menjelaskan posisi Raya pada mereka
semua yang langsung saja terkejut, Sekertaris
Pribadi Putra Mahkota.? Mereka bengong.
"Selamat malam semuanya.."
Raya menyapa mereka seraya menundukan
kepala sedikit di hadapan 5 orang pria dan 3
orang wanita yang berpakaian rapi dan elegan
dengan sikap dan tata krama tinggi itu.
"Selamat malam Miss Secretary.."
Sambut mereka kompak dengan membalas
menundukkan kepala penuh santun masih
belum mempercayai apa yang di dengarnya.
"Yang Mulya Raja beserta beserta Perdana
Menteri telah tibaaa..."
Ada aba-aba dari seorang komandan khusus
yang memiliki tugas mengumumkan kehadiran
Sang Raja di setiap pertemuan resmi. Semua
orang langsung mengambil posisi di pinggir
ruangan membelah menjadi dua bagian sambil kemudian membungkuk setengah badan. Raya
dan Ansel ada di barisan kiri depan.Tidak lama
Raja Williams yang gagah dan berwibawa tiba
di dalam ruangan bersama dengan Perdana
menteri Alfred Winston, Nyonya Winston,
Lucas Winston serta beberapa anggota
keluarga Winston lainnya.
Raja Williams berjalan tenang sambil berbincang
ringan dengan perdana menteri Alfred, terlihat
sekali kalau mereka sangat akrab di penuhi aroma
kebahagiaan dan kesenangan. Begitu memasuki
ruangan, mata Lucas langsung mengunci sosok
Raya dengan tatapan tajam dan senyum manis
yang terukir di bibir seksinya. Sorot matanya
tampak mengamati keadaan Raya seluruhnya.
Para staf istana langsung menyambut Sang
Raja dan mengarahkan rombongan agung itu
ke salah satu privat room di ikuti oleh semua
pelayan dan prajurit pengawal. Raya dan Ansel
ikut mengiringi langkah mereka, namun sesaat
kemudian Raya terkejut ketika tiba-tiba Lucas
berbalik dan menarik tangannya di bawa ke sisi ruangan.
Orang-orang yang ada di barisan tengah dan
belakang sontak menoleh sebentar namun
tidak berani menegur ataupun melihat lebih
jauh apa yang di lakukan oleh Sang Putra
Bangsawan itu. Hanya Ansel yang berhenti
melangkah, berdiri sedikit jauh dari mereka
seraya menatap tajam kearah Lucas mencoba
untuk tetap tenang tidak terbawa emosi.
"Tuan Lucas apa yang anda lakukan.?"
Raya mencoba melepaskan pegangan tangan
Lucas yang semakin mengunci nya. Keduanya
saling pandang kuat, ada kekesalan namun juga
ada kerinduan yang terlihat dari sorot mata
tajam Lucas yang kini berkilat hebat berusaha menembus pertahanan jiwa Raya, dia ingin
membawa wanita idamannya ini ke dalam
kuasanya.
Biasanya dalam sekali pandang saja, para
wanita yang di inginkan nya akan langsung luluh
dan takluk, lalu merangkak di bawah kakinya,
memohon dan meminta di puaskan di atas
ranjang sampai mereka tak berdaya barulah
Lucas akan melepaskannya.
__ADS_1
"Kenapa sulit sekali menemuimu.! Tadi pagi
aku datang ke kantormu, tapi kau tidak ada
di tempat.!"
Geram Lucas dengan tatapan yang semakin
tajam penuh dengan intimidasi. Dia mengamati
aura yang keluar dari wajah elok wanita yang
sudah membuat tidurnya tidak nyenyak dan hari-harinya berantakan itu. Dia terkesiap, ada
kilatan hebat yang berputar di kedalaman mata
kelamnya saat dia menangkap dengan jelas
aura terang yang keluar dari tubuh Raya.
Damn.! siapa sebenarnya ******** yang telah
berani mendahului ku.. Aku tidak akan pernah
membiarkan nya lolos..!!
Rahang Lucas tampak mengeras mendapati
satu kenyataan pahit yang mencabik jiwanya.
Lagi-lagi madu murni wanita impiannya ini
telah di reguk dan di ambil oleh seseorang.
"Tuan Lucas.. tolong lepaskan tanganku. Dan
tolong jaga sikap anda, kita ada di istana."
"Memangnya kenapa.? Apa aku salah berbicara
dengan calon istriku sendiri.?"
Raya membelalakkan matanya, dia kembali
menarik tangan nya sekuat tenaga.
"Kenapa kamu tidak berpikir dulu sebelum
berbicara.? Jangan membuat lelucon dalam
keadaan seperti ini Tuan.!"
"Aku tidak bercanda.! Malam ini juga akan
aku umumkan rencana pernikahan kita. Dan
aku akan mengenalkan mu pada keluargaku."
Raya semakin melebarkan matanya. Pria ini
benar-benar sudah tidak waras.! Dia menatap
tajam wajah Lucas, mencoba bertarung dengan
kilatan hebat penuh ambisi yang keluar dari
mata kelam pria itu yang sedang berusaha
untuk melumpuhkan dirinya.
"Tuan Lucas kita sedang berada dalam acara
penting menyangkut masa depan negara ini.
Jadi tolong jangan membuat suasana tidak
kondusif."
"Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk
mengumumkan hal ini pada semua orang.!"
"Tidak, kau tidak bisa seenaknya mengklaim
kepemilikan ku.! Aku sudah punya seseorang
yang akan menjadi pendamping hidupku ke
depan, untuk selamanya.!"
Raya akhirnya bisa melepaskan pegangan kuat
tangan Lucas yang terhenyak dalam diam. Shit !
wanita ini telah mengakuinya sendiri. Raut wajah
Lucas terlihat semakin kelam dan dingin. Dalam
satu gerakan cepat dia meraih dagu Raya, lalu
menariknya membuat wajah Raya merah padam
berusaha menepis pegangan tangan pria itu.
Keduanya kembali saling pandang kuat.
Ada kegeraman yang di rasakan Lucas, kenapa usahanya untuk menarik dan mempengaruhi
jiwa wanita ini selalu saja tidak membuahkan
hasil, dia benar-benar tidak mampu menembus
benteng pertahanan yang di miliki oleh wanita
istimewa ini. Hal itu membuat dirinya semakin
terobsesi ingin segera memilki wanita ini.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki
dirimu Maharaya, termasuk bos mu sendiri.!"
juga mencurigai sesuatu.? Tidak, pria ini hanyalah
pria gila yang entah kenapa bisa bersikap aneh
seperti ini pada dirinya. Raya berusaha untuk
tetap tenang. Dia kembali mencoba menepis
pegangan tangan Lucas di dagunya.
"Hanya Tuhan yang punya Kuasa menentukan
nasib dan hidup seseorang Tuan. Jadi tolong,
jangan mempermalukan dirimu sendiri.!"
Desis Raya sambil kemudian mendorong kasar
dada Lucas setelah itu menjauhkan diri dari
hadapan pria aneh itu. Sementara mata mereka
masih saling menatap kuat dan panas.
"Kita lihat saja nanti , siapa yang beruntung bisa
memilki dirimu untuk selamanya Maharaya..!"
Ansel tidak tahan lagi, dia segera menghampiri
Raya dan menatap tajam penuh emosi tertahan
pada Lucas yang masih menatap Raya dengan
seringai aneh di bibirnya.
"Tuan Winston.. tolong jaga sikap anda, jangan
membuat keributan di dalam istana.!"
Tegas Ansel sambil kemudian menggengam
tangan Raya di bawa melangkah dari hadapan
Lucas yang tersenyum miring di sertai kilatan
hebat di matanya.
"Si brengsek itu sudah mendahului ku lagi..!
Dia sudah mengambil madu pertama dari tubuh
Ratu ku.! Tidak apa-apa.. Madu itu tidak akan
pernah habis..!!"
Gumam Lucas dengan seringai anehnya sambil
kemudian menegakkan badan dan merapihkan
tampilannya, memasang wajah malaikatnya lagi
setelah itu barulah berjalan dengan tenang dan
tegas penuh dengan pesona dan daya pikat yang
mampu melumpuhkan saraf-saraf dalam tubuh
setiap wanita, namun sialnya wanita yang sangat
di inginkan nya justru tidak tersentuh sedikitpun.
Suasana di ruang pertemuan tampak hangat
dan akrab. Keluarga kerajaan duduk di barisan
sofa sebelah kanan, sementara keluarga besar
Winston di sebelah kiri, sedang Raja Williams
duduk di singgasana utama. Mereka semua
berbincang hangat, mulai dari bisnis, politik
sampai pada urusan keluarga. Tatapan Lucas
tidak pernah lepas dari wajah cantik Raya yang
kebetulan ada di depannya karena dia berdiri
di belakang barisan keluarga istana. Tepatnya
di belakang kursi Aaron yang masih kosong.
Raya, Ansel serta para staf dan para asisten
juga para sekretaris berdiri di sisi ruangan,
melihat dan bersiap kalau-kalau ada sesuatu
yang di perlukan oleh atasannya masing-masing.
Hati Raya semakin gelisah saat menyadari dua
tokoh utama dalam acara ini belum juga datang.
Sebenarnya ada dimana mereka, apa yang
sedang di lakukan oleh keduanya.?
"Tuan Winston, sepertinya kita sepakati saja
pembicaraan ini pada kesimpulan pokoknya.!"
Madam Rowena berbicara membuat semua
orang yang ada di tempat itu terdiam patuh,
__ADS_1
menyimak dengan seksama.
"Kami sebagai pihak wanita akan mengikuti
apa yang sudah di tentukan oleh istana Yang
Mulya. Dengan senang hati tentunya."
Perdana menteri Alfred menyahut dengan
suara yang tegas dan tenang serta raut wajah
terlihat sangat puas. Madam Rowena melirik
kearah Raja Williams yang terdiam tenang.
"Aku serahkan semuanya pada Ibu Suri."
Raja Williams mengangkat tangan memberi
isyarat bahwa urusan ini ada di tangan Ibu
Suri sepenuhnya.
"Yang Mulya Putra Mahkota bersama Duchess
Catharina telah tibaa..."
Komandan khusus kembali memberi aba-aba
kedatangan Sang Putra Mahkota. Semua orang
yang berdiri di sisi ruangan segera mengambil
posisi siaga di tempat menyambut kehadiran
orang yang sudah di tunggu-tunggu dari tadi.
Jantung Raya tiba-tiba saja berdebar kencang,
wajahnya kini memanas. Dia menarik napas
pelan mencoba untuk tetap tenang.
Tidak lama dari arah pintu masuk ruangan
muncul Sang Pangeran super tampan yang
berjalan berdampingan dengan Sang Putri
bangsawan yang terlihat sangat cantik dalam
balutan gaun malam indah yang terlihat mewah
dan anggun sedikit seksi. Sedang Sang Pangeran sendiri saat ini tampak mengenakan setelan jas
elegan yang membalut pas tubuh gagahnya.
Aura kehadirannya begitu kuat hingga mampu
membuat semua orang termasuk Sang Raja
sendiri pun terpaku, menatap lurus kedatangan pasangan tersebut. Ada aura berbeda yang kini
terpancar dari tubuh Sang Putra Mahkota, aura
terang yang sangat kuat dan istimewa.
Mata elang Sang Pangeran langsung tertuju
pada satu titik fokus, berlian murni yang paling
terang diantara yang lain. Tapi alisnya tampak
bertaut saat melihat pakaian yang di kenakkan
oleh wanita itu, rahangnya sedikit mengeras
dengan tatapan yang semakin tajam. Dan hal
itu tidak luput dari pengamatan dua pasang
mata yang paling sensitif di tempat ini.
Tiba-tiba saja Catharina menggenggam erat
tangan Aaron yang sedikit terkejut, dia melirik,
menatap tautan tangan calon Ratu nya itu. Mata mereka bertemu, saling pandang kuat. Dan hal
itu kebetulan tertangkap oleh mata Raya yang
kebetulan sedang melirik kearah mereka. Ada
sesuatu yang kini menabrak dadanya, membuat
dia merasa sesak saat melihat pasangan itu
saling memandang lekat dan berpegangan
tangan dengan erat. Dia segera menundukan
kepalanya seraya memejamkan mata mencoba
untuk tidak mempedulikan semua itu.
"Yang Mulya..tolong bersikaplah sedikit
tenang di hadapan seluruh keluarga.."
Lirih Catharina seraya tersenyum lembut dengan tatapan yang begitu teduh nah memikat. Wanita
ini memang sangat cantik dan menarik. Dia juga
sempurna dalam segala hal, dari sekian banyak
wanita yang selama ini di seleksi oleh Madam
Rowena dan Ratu Virginia, Catharina lah yang
melebihi kriteria dan ekspektasi, gadis itu
sangat sempurna. Baik dari segi fisik maupun
sikap apalagi pengetahuan.
"Aku ingatkan jangan berbuat sesuatu tanpa
seizinku.!"
Desis Aaron sambil memperkuat pegangan
tangannya membuat Catharina meringis tapi
tetap berusaha untuk bersikap normal.
"Tentu saja, kau adalah panutan ku.."
Sahut Catharina sambil kembali berjalan anggun
di samping Aaron tak lupa menebar senyum
ramah penuh kebahagiaan pada semua orang.
"Selamat malam Yang Mulya Putra Mahkota.."
Keluarga Winston langsung membungkuk
hormat sambil berdiri begitu Aaron mendekat.
Sang Pangeran yang masih berpegangan tangan dengan Catharina berdiri tegak kearah mereka kemudian menundukan kepala sedikit. Setelah
itu keduanya saling pandang kembali hingga
akhirnya pegangan tangan mereka lepas karena
harus berjalan menuju arah yang berbeda untuk
bergabung dengan keluarga nya masing-masing.
Aaron mendekat kearah kursinya yang sudah
di siapkan untuknya. Namun dia berhenti tepat
di hadapan Raya yang sedang menundukkan
kepala. Tatapannya lurus dengan tampang
wajah yang terlihat datar dan dingin.
Raya bergerak mau memundurkan diri, namun
dia tersentak ketika tiba-tiba tangannya sudah
di pegang kuat oleh Aaron. Gerakannya otomatis terhenti, tubuhnya membeku seketika. Raya
mencoba menarik tangannya dari genggaman
kuat pria itu, tapi Aaron malah menariknya sedikit
kasar membuat tubuh Raya maju mendekat.
Mau tidak mau dia mengangkat wajahnya, kedua
mata mereka bertemu, saling menatap kuat
dengan getaran rasa masing-masing yang kini
bergejolak dan seakan tidak terkendali.
"Yang Mulya.. apa yang anda lakukan..?"
Desis Raya sambil mati-matian mencoba
menahan tubuhnya agar tidak semakin rapat
pada laki-laki itu karena kini pria itu semakin
menarik dan menekan tangannya.
"Kenapa kamu tidak mengenakkan gaun yang
aku kirimkan..?"
Mata indah Raya mengerjap cantik, wajahnya
tampak sedikit gusar. Sementara tatapan mata
Aaron semakin tajam penuh intimidasi.
"Yang Mulya..Aku rasa gaun itu tidak pantas
untuk di kenakkan pada acara seperti ini."
"Maharaya..kau tidak di perkenankan untuk
membantahku.!"
Suara Aaron terdengar sedikit keras dengan
intonasi yang cukup kuat membuat semua
orang terkejut dan melirik kearah nya. Raut
wajah Madam Rowena tampak berubah keras.
"Putra Mahkota..! Bersikaplah selayaknya
seseorang dengan kehormatan yang sangat
tinggi dan Mulia..!"
Semua orang membeku di tempat mendengar
ucapan dan sikap keras Ibu Suri tersebut..
***
Happy Reading...
__ADS_1