Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
26. Bertemu Putri


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Fokuskan matamu ke titik sasaran, tembak


dengan penuh keyakinan.!"


Kembali Aaron berbisik sambil mempererat


lingkaran tangan kirinya di perut Raya. Hal itu


justru malah membuat Raya semakin tegang


dan tidak bisa mengontrol rasa takutnya.


Tubuhnya mengirimkan sinyal penolakan


dengan bergetar hebat setengah menggigil.


Aaron mengetatkan rahangnya menyadari


hal itu. Dia menarik tubuh Raya agar lebih


merapat padanya.


"A-Aaron.. apa yang kau lakukan.?"


Raya semakin panik, dia meronta mencoba


untuk melepaskan diri. Namun penguasaan


tubuh Aaron membuat dia sudah tidak punya


kesempatan untuk keluar dari kurungannya.


"Aku akan membantumu mendapatkan hadiah


kecil itu. Rileks, tenangkan dirimu sejenak.."


Aaron kembali berbisik berusaha untuk


menenangkan Raya yang masih bergerak


kasar ingin keluar dari kurungan tubuh Aaron


dan hal itu membuat sesuatu di bagian bawah


tubuh Aaron terbangun tanpa ampun.


"Aku sudah tidak menginginkan nya lagi.


Aku ingin kembali ke kamar sekarang juga."


Desis Raya masih dengan suara yang sangat


pelan dan bergetar. Bibir Aaron kini mendekat


ke tengkuk leher Raya, menghirup pelan aroma


menenangkan yang menguar di sana. Jiwanya


semakin gelisah dan meronta. Saat ini area itu


sudah steril, tidak ada lagi pengunjung di sana.


Hanya ada Griz dan beberapa penjaga yang


membalikkan posisi badan membelakangi


Tuan dan Nona mereka.


"Bukankah kau sangat menginginkan nya.?


Kalau kau mau aku bisa memberimu satu


pabrik langsung..!"


Aaron kembali berucap dengan suara yang


sudah sangat berat. Aliran darahnya terbakar,


tubuhnya kini memanas. Raya memutar bola


matanya, jengah mendengar bualan Aaron


yang sangat tidak masuk akal.


"Kau sangat tidak masuk akal. Tolong, biarkan


aku pergi sekarang juga."


"Aku tidak pernah membual. Aku bahkan bisa


memberimu kapal pesiar ini sebagai hadiah.!"


Raya terhenyak, jantungnya bergelombang


dengan hebat. Ada sesuatu yang menembus


masuk ke dalam relung hatinya, perasaan yang


entah apa tidak di sadari nya. Perlahan getaran


di tubuhnya kini mulai berkurang. Aneh, saat


ini dia mulai merasa lebih tenang dan rileks


walaupun ketegangan itu tetap menguasai


dirinya karena kedekatan fisik mereka.


"Sekarang cobalah untuk kembali fokus. Kau


harus bisa mendapatkan yang kau inginkan


dengan usahamu sendiri.!"


Ujar Aaron sambil meluruskan posisi tangan


Raya dan membenarkan letak titik fokusnya.


Raya menarik napas dalam-dalam, dia melirik


kearah wajah Aaron yang ada di sebelahnya.


Mata mereka untuk sesaat saling menatap


hingga akhirnya Raya kembali berpaling ke


depan. Dia mencoba untuk memfokuskan


perhatian nya ke sasaran sesuai dengan


instruksi laki-laki itu.


"Good.. sekarang cobalah untuk menembak


sasaran nya.!"


Titah Aaron dengan tatapan mata yang tidak


lepas dari wajah Raya yang ada di depannya,


begitu dekat dan menggoda, pipi bening mulus


di hiasi rona kemerahan itu tampak sangat


menggemaskan membuat jiwanya semakin


meronta. Tapi tangannya masih berada di


pergelangan tangan Raya yang kini bersiap


melakukan tembakan.


Dengan yakin Raya melancarkan tembakan


ke titik fokus sasaran, namun wajahnya


tampak kecewa karena masih gagal.


"Sekali lagi, ingatlah.. pikiranmu tidak boleh


kemana-mana.! fokus pada satu tujuan.!"


Bisik Aaron sambil mendekap erat tubuh Raya


karena sudah tidak bisa lagi menahan gejolak


perasaannya. Dan hal itu membuat Raya


spontan menembak sasaran beberapa kali


dan semua tepat sasaran.


"Aaa...aku berhasil..!!"


Raya reflek berseru keras di telan kesenangan


karena berhasil memperoleh keinginannya.


Dan ketika Aaron melonggarkan dekapannya


tanpa sadar dia membalikan badannya lalu


melompat memeluk erat pria itu yang sontak


membeku dan menegang kaku. Mata Aaron


mengerjap beberapa kali dengan getaran


hebat yang kini menerpa jantungnya.


Raya tersentak kaget saat menyadari apa


yang di lakukannya, wajahnya kini berubah


memerah seperti kepiting rebus.


"Ma-maaf..aku terlalu senang..!"


Ucap nya seraya dengan cepat melepaskan


pelukannya di tubuh gagah Aaron yang terlihat


bereaksi aneh, wajahnya yang teramat tampan


itu terlihat memerah. Raya segera menjauh,


dengan cepat meraih boneka beruang yang


sudah tergeletak di atas boks. Aaron berdiri


terdiam, ada kehangatan yang mengaliri hati


dan jiwanya saat melihat raut wajah bahagia


terpendar dari wajah cantik wanita yang


berstatus sebagai istrinya itu.


"Aku akan kembali ke kamar.! Terimakasih."


Ujar Raya sambil kemudian melangkah pergi


namun sesaat kemudian dia membulatkan


matanya saat Aaron menarik tangannya lalu


melingkarkan lengannya di pinggang ramping


wanita itu, menarik tubuhnya dengan cepat


agar merapat, hingga kini keduanya saling


menatap lekat dengan debaran jantung yang

__ADS_1


seolah bermarathon dan napas yang tiba-tiba


saja terasa berat.


"Kau harus memberiku hadiah untuk ini.!"


Mata indah Raya langsung melebar tidak


percaya, dia berusaha menjauhkan dirinya


dengan menekan dan mendorong dada liat


pria itu seraya menjadikan boneka kecil di


tangan nya sebagai penghalang wajah


mereka yang berjarak beberapa inchi saja.


"Aku tidak punya apapun untuk di berikan


padamu. !"


Dengan gerakan cepat Aaron mengambil


boneka kecil itu dari tangan Raya membuat


wanita itu melotot dan berusaha meraihnya


kembali, tapi Aaron menjauhkannya.


"Berikan aku madu di bibirmu itu.!"


Gerakan Raya terhenti seketika, ketegangan


kembali menguasai dirinya. Mata mereka


tampak saling menatap kuat.


"Dasar konyol.! kau bisa mendapatkan nya


dari wanita manapun yang kau inginkan.!"


Decak Raya sambil kembali berusaha meraih


boneka dari tangan Aaron yang mengangkat


tinggi ke udara hingga Raya terpaksa harus


berjingjit agar bisa menjangkaunya.


"Yang aku inginkan hanya madu di bibirmu.!


Aku tidak menginginkan yang lain.!"


"Dasar gila.! berikan boneka itu, cepat.!"


"Berikan dulu apa yang aku inginkan.!"


"Aku tidak akan memberikan nya.!"


"Aku bisa mengambilnya sendiri..!"


"Coba saja kalau berani.!"


CUP !


Tubuh Raya membeku seketika saat bibir hangat Aaron mendarat mulus di bibirnya, menciumnya lembut dan kuat. Wajah Raya merah padam, dia mengambil bonekanya dengan gerakan kasar.


Tatapan nya terlihat kesal dan tidak terima atas


apa yang di lakukan Aaron. Sementara pria itu


tampak santai dan ada seringai kepuasan yang


terlihat dari raut wajah tampannya.


"Dasar manusia licik.!"


Desis Raya sambil kembali mendorong kuat


dada Aaron yang kini mendekatkan wajahnya.


"Siapkan dirimu untuk nanti malam. Tempat


ini sangat layak di jadikan sebagai tempat


spesial untuk malam pertama kita..!"


Kembali.. wajah Raya seketika memucat.Dia menggeleng kuat mulai di kuasai ketakutan.


"Kembalilah ke kamar sekarang juga..Dan


jangan keluar tanpa seizinku..! Di luaran


sangat berbahaya untukmu.!"


Desis Aaron sambil kemudian mengecup


lembut kening Raya tanpa permisi. Untuk


sesaat Raya memejamkan matanya mendapat serangan tak terduga pria menyebalkan itu.


Matanya kembali terbuka ketika laki-laki itu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Tubuh Raya lemas seketika kehilangan tenaga,


pikirannya saat ini seolah mengawang. Dasar


laki-laki aneh, selalu saja seenaknya !


"Kita kembali ke kamar sekarang Miss.."


Raya tersadar, dia melirik kearah Griz. Tanpa


kata lagi dia mulai melangkah meninggalkan


wahana itu yang kini sudah kembali di datangi


pengunjung lain. Mereka tampak memandang


kearah Raya dengan sorot mata penuh tanda


aneh itu tapi dia berusaha untuk tidak peduli.


Mereka berdua berjalan cepat menuju keluar


dari wahana itu, namun tiba-tiba saja ada


seorang anak perempuan sekitar umur 3


tahunan berlarian dengan tawa riang dan


mulut yang berusaha di tutupnya. Sesekali


anak itu melihat ke segala arah kemudian


kembali berlari sambil tertawa. Kali ini dia


berlari lebih kencang hingga menyebabkan


tubuh nya kehilangan keseimbangan dan


akhirnya terpeleset tepat saat melintas di


hadapan Raya yang langsung terkesiap.


Dengan cepat dia menangkap tubuh anak


kecil tersebut dan mengangkat nya ke dalam


pangkuan. Akibatnya dia jatuh terduduk di


atas lantai dengan hentakan yang cukup keras.


Tubuh anak kecil itu berada dalam dekapan


kuatnya. Griz membelalakkan matanya dan


spontan berseru kaget bersamaan dengan


teriakan beberapa orang dari arah lain yang


berlarian panik kearah keberadaan Raya dan


anak kecil tadi.


Untuk sesaat Raya dan anak perempuan


berparas cantik jelita itu saling pandang


kuat di telan keterkejutan dan ketegangan.


Namun tidak lama mereka tertawa bersama


masih di posisi Raya yang duduk di lantai.


"Ceroboh sekali ya kamu..!"


Raya mencubit halus dan menciumi pipi


mungil gadis kecil itu yang terkekeh geli


mencoba menghindari ciuman gemas Raya.


"Princess Alluna...!!"


Seseorang memekik tertahan sangking panik


dan kagetnya. Raya menoleh, wajahnya kini


berubah memerah saat menyadari mereka


berdua saat ini sudah di kurung oleh beberapa


sosok yang tidak di kenal. Ada seorang wanita


cantik dengan aura yang sangat berkilau, juga


beberapa wanita berpakaian rapi khas pelayan


dan pengawal kerajaan.


"Mommy..!"


Gadis kecil tadi beranjak dari pangkuan Raya


kemudian melompat ke dalam pelukan wanita


cantik nan elegan tadi yang terlihat sangat


khawatir dengan kondisi gadis kecil itu.


"Are you okay baby..?"


" I am okay Mom.."


Wanita elegan itu mengusap sayang rambut


kecoklatan gadis kecil itu sambil menciumi


pipi gembilnya yang menggemaskan.


"Miss Raya.. anda tidak apa-apa..?"


Griz mendekat membantu Raya berdiri. Raya


tersenyum lembut walaupun sebenarnya dia


merasakan sakit di bokong nya.


"Aku tidak apa-apa Griz, tidak perlu cemas."


Ujarnya sambil membenahi pakaiannya dan


meraih boneka beruang yang tadi ikut jatuh.

__ADS_1


Griz kini berpaling pada wanita elegan tadi


yang berdiri menggendong gadis kecil itu


dan kini perhatian nya beralih pada Raya.


"Selamat sore Princess Arabella.."


Griz menyapa dengan penuh hormat seraya


membungkuk setengah badan. Karuan saja


hal itu membuat Raya terkejut seketika.


Princess Arabella.? Apakah wanita yang ada


di hadapannya ini seorang putri raja.? Wanita


elegan tadi mengangkat tangannya tenang


memberi isyarat pada Griz yang langsung


mengangkat badannya.


"Terimakasih.. anda telah membantu putri


saya.. Itu sangat berarti bagi saya.!"


Ujar wanita itu pada Raya dengan suara yang


sangat halus dan lembut serta senyum manis


terkembang di bibir merah merona nya. Dia


menatap lekat wajah cantik Raya yang sedikit


berbeda dan cukup menarik perhatiannya itu.


"Sama-sama..Itu hanya kebetulan saja."


Raya membalas dengan tersenyum lembut dan menundukkan kepalanya sopan. Gadis kecil


tadi kini turun dari pangkuan sang ibu


kemudian mendekat kearah Raya yang


langsung berjongkok di hadapan nya.


"Terimakasih aunty.."


Ucap gadis kecil itu sambil kemudian dia


mengecup lembut pipi kemerahan Raya yang


tampak tersenyum dan mengelus lembut


rambut gadis kecil itu.


"Sama-sama sayang..lain kali harus lebih


hati-hati lagi ya. Jangan bermain dan berlari


tanpa pengawasan Mommy mu..!"


"Okay aunty cantiikk.."


Gadis kecil itu kembali mengecup pipi Raya


dengan wajah yang berbinar cantik.


"Ini..ambil untukmu.."


Raya mengulurkan Boneka beruang di tangan


nya pada gadis kecil itu yang langsung menutup


mulutnya dengan ekspresi yang sangat lucu


dan menggemaskan. Namun sebelum dia


menerima boneka itu kepalanya menoleh ke


arah Sang ibu yang mengangguk tenang


sambil tersenyum manis .


"Thank you aunty.."


Dengan antusias gadis kecil itu menerima


boneka beruang tadi dan memeluknya posesif.


Kemudian sang ibu kembali menggendong


dan memeluknya erat.


"Terimakasih Miss..."


"Anda bisa memanggil saya Raya.."


"Oke.. terimakasih Raya.. sampai jumpa.."


Wanita elegan itu tersenyum kemudian mulai


melangkah pergi meninggalkan tempat itu di


iringi oleh rombongan pelayan dan pengawal.


"Good bye aunty.."


Gadis kecil itu tampak melambaikan tangan


dengan tatapan tidak lepas dari sosok Raya


yang membalas lambaian tangannya.


"Siapa wanita itu Griz.?"


"Beliau adalah Princess Arabella Miss..


putri bungsu Raja Williams dan Ratu Virginia..


Gadis kecil tadi adalah putrinya.. Princess


Alluna.."


Raya terdiam, jadi benar mereka berdua itu


anggota keluarga kerajaan.?


"Ya sudah..kita kembali ke kamar sekarang."


"Baik Miss.."


Mereka berdua melangkah pergi meninggalkan


tempat itu untuk kembali ke lantai paling atas


yang ada di dalam kapal pesiar mewah ini.


***


Seusai sholat magrib, Raya berusaha untuk


rileks sebentar. Dia berdiri di sisi ruangan


yang paling di sukainya, menatap hamparan


samudra yang terlihat sangat memukau.


Entah berada di mana sekarang posisi kapal


pesiar ini. Raya menarik napas panjang, pria


itu seharian ini benar-benar tidak pernah


kembali ke dalam kamar. Ada kelegaan tapi


juga ada sejumput pertanyaan yang kini


bersarang dalam pikiran Raya. Sebegitu


sibukkah dia sampai tidak ada waktu untuk


melihat keadaannya.? Tapi.. kenapa dirinya


harus peduli tentang itu. Bukankah lebih


baik begini, dia jadi bisa bernapas lega.!


"Selamat malam Miss."


Lamunan Raya buyar, dia menolehkan kepala


kearah suara. Ada dua orang pelayan yang


lagi-lagi berpenampilan tomboy yang kini


sedang berdiri di dekat tempat tidur dengan


membungkukan badan.


"Tuan menyuruh kami membawakan gaun


malam untuk anda kenakkan malam ini."


"Gaun malam.? Memangnya akan ada acara


apa malam ini.?"


Raya berjalan menghampiri mereka dan


menatap satu boks besar serta kotak kecil


di tangan mereka yang kini di letakkan di


atas kasur. Ada sebuah gaun cantik warna


maroon dan satu set perhiasan mewah.


"Anda akan menghadiri acara ulang tahun


pernikahan Raja dan Ratu di bawah. Tuan


memerintahkan kami untuk membantu


anda mempersiapkan diri."


"Ulang tahun pernikahan Raja dan Ratu..?"


"Benar Miss.."


Raya tertegun, jadi inilah alasannya kenapa


laki-laki jahat itu membawanya ke tempat ini.


Rupanya dia akan menghadiri undangan dari


orang yang sangat penting.


"Baiklah.. kalian tunggu saja di luar. Aku akan


bersiap-siap sendiri. Nanti kalau kalau butuh


bantuan aku akan memanggil kalian."


"Baik Miss..kami permisi."


Mereka membungkukan badan serempak,


setelah itu berlalu keluar ruangan, dan kini


tinggallah Raya yang masih berdiri menatap


gaun dan perhiasan itu bergantian..

__ADS_1


***


Happy Reading...


__ADS_2