
***
Para penghuni istana kini mulai berdatangan ke
ruang perjamuan yang terlihat begitu luas dengan segala fasilitas dan desain interior ruangan yang
serba mewah. Para pelayan berseragam biru putih tampak berbaris rapih menyambut semua orang.
Prince Serkan dan Princess Ratih Ayu sebagai penguasa istana ini muncul ke dalam ruangan
di ikuti oleh adik-adik nya dan Putra Putri mereka. Wajah-wajah mereka tampak bahagia dan berseri. Semua orang segera menempati tempat duduk masing-masing yang sudah di sesuaikan dengan
sangat sempurna oleh para staf istana.
"Bagaimana.. apakah ayah mertua sudah dekat
ke tempat ini.? Sampai dimana dia sekarang.?"
Serkan bertanya pada Ratih Ayu sembari
memasang serbet di atas pangkuannya.
"Mereka masih di perjalanan menuju kesini.
Tapi Devan mendarat belakangan di Bandara."
"Syukurlah.. jadi malam ini semuanya sudah
bisa berkumpul di sini."
"Iya, Putri Mahkota pasti akan sangat senang
kalau tahu mereka semua sudah di perjalanan."
"Biarkan saja..dia jangan di beritahu dulu.
Ini akan jadi kejutan untuknya malam ini."
"Baiklah..Sayang..apa kau melihat ada sesuatu
yang lain dengan sikap Devan terhadap putri kita.?"
Serkan terdiam sejenak, lalu menatap tenang
wajah cantik Ratih Ayu sambil menyeringai tipis.
"Dia sudah terlambat untuk mendapatkan putri
kita. Sebenarnya dia termasuk laki-laki pilihan
yang pantas menjadi idaman setiap wanita.
Tapi..takdir cintanya tidak terhubung dengan
Putri kita."
Ratih Ayu mengangguk setuju. Tidak lama di
pintu masuk muncul pasangan Mayra dan Dirga.
Keduanya tampil menawan dengan segala daya
tarik luar biasa yang di milikinya. Mayra tampak
anggun dan mempesona dalam balutan dress
cantik warna pastel di lengkapi hijab simpel
yang selalu membuat dirinya tampak istimewa.
"Selamat malam semuanya."
Mayra menyapa lembut seraya menundukkan
kepala sedikit kearah semua orang dengan
gestur tubuh yang sangat luwes dan anggun.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Moolay."
Sambut semua orang seraya tersenyum ramah
kearah Mayra dan Dirga. Keduanya kembali lagi
berjalan kearah meja makan. Sang Raja bisnis
terlihat santai dengan segala pembawaannya
yang selalu tenang. Ratih Ayu menatap lembut
kedatangan keponakannya itu dengan sorot
mata penuh kasih, wajah Mayra sangat mirip
dengan mendiang Kakaknya, membuat dirinya
seolah menemukan kembali sosok kakak yang
sangat di sayanginya itu.
"Duduklah di sini sayang.."
Ratih Ayu menunjuk kursi di sebelahnya kepada
Mayra dan Dirga yang segera mengambil tempat.
"Dimana putra kalian.? Apa dia sudah tidur.?"
"Sudah Tan, dia tidak rewel kalau urusan tidur
malam. Apalagi sekarang sudah di beri makan
makanan padat."
Sahut Mayra sambil membenahi letak duduk
dan serbet nya. Ratih Ayu tersenyum lembut
sambil mengelus bahu Mayra.
"Dia memang harus banyak makan..supaya
kuat dan cepat besar."
Ujar Ratih Ayu. Mayra mengangguk pelan sambil
tersenyum manis. Sesaat kemudian para pelayan terlihat merapihkan barisan mereka dan segera
berdiri tegak membuat semua orang memusatkan perhatian kearah ruangan dalam dimana saat ini
Aaron dan Raya muncul bersama dengan Arthur
dan Arabella serta para bawahan setianya.Tangan kanan Aaron tampak menggengam erat tangan
Raya, sementara tangan kirinya terlihat santai,
di masukkan ke dalam saku celananya.
Semua orang terdiam, terpesona pada kehadiran
pasangan itu yang selalu saja membuat setiap
mata seakan tersihir. Keduanya terlihat serasi
dalam balutan setelan manis dengan warna yang
senada. Raya terlihat memukau dengan tampilan simpel namun tetap elegan dan berkelas. Apapun
yang di kenakannya memang akan senantiasa
tampak sempurna saat melekat di tubuhnya
walaupun sekarang ini perutnya sudah semakin
membesar, namun hal itu malah membuatnya
semakin terlihat mempesona.
"Selamat malam Prince dan Princess Agung."
Sapa para pelayan serempak sambil kemudian
membungkukkan badan penuh hormat. Wajah
Raya terlihat berbinar bahagia saat melihat
keluarganya sudah berkumpul di meja makan.
"Selamat malam semuanya.."
Sambut Raya dengan suara yang sangat lembut
dan senyum yang terkembang sempurna di bibir
indahnya. Aaron menatap tenang kearah semua
orang, dan untuk sesaat matanya saling melihat
dengan Mayra. Namun kali ini tatapan Aaron tak
menyiratkan apapun, terlihat datar dan normal.
Sementara Dirga.. mau tidak mau matanya tak
mampu berpaling dari Raya yang terlihat begitu
mempesona.
"Silahkan Yang Mulya.."
Kepala pelayan dan beberapa pelayan lainnya
menyiapkan kursi untuk Aaron dan Raya di sisi
kanan Prince Serkan.
"Selamat malam Ayah..selamat malam Ibu.."
Sapa Raya sambil merangkul hangat Ayah dan
Ibu nya bergantian. Keduanya tampak mengecup
lembut kening Raya penuh kasih sayang.
"Selamat malam sayang.. duduklah. Ibumu
sudah menyiapkan makanan spesial untuk mu."
Ujar Prince Serkan. Aaron menggeser kursi untuk
Raya dan membiarkan istrinya itu duduk terlebih
dahulu dengan nyaman, setelah itu barulah dia menyusul. Mayra dan Dirga tampak menatap
diam apa yang di lakukan oleh Aaron tersebut.
Raya menatap sebentar kearah Mayra dan Dirga
yang duduk tepat di seberangnya lalu melempar senyum hangat pada mereka berdua.
"Baiklah.. karena semuanya sudah berkumpul.
Kita mulai saja makan malam ini dengan berdoa
terlebih dahulu. "
Prince Serkan berucap dengan tegas. Namun
tiba-tiba saja dari arah pintu masuk kepala staf
istana muncul membawa rombongan keluarga
Kertaradjasa yang baru tiba di istana ini.
"Kakek.. kalian datang sekarang.?"
Seru Raya dengan raut wajah bahagia. Kemudian hampir bersamaan dengan Mayra, dia bangkit
dari tempat duduknya, melangkah kearah sang
kakek yang kini merentangkan tangan menyambut kedua cucu nya itu yang langsung berhambur
ke dalam pelukan hangatnya.
"Ohhh cucu-cucuku tersayang.. akhirnya kita
bisa berkumpul bersama di tempat ini."
Ujar Tuan Wiratama sambil mengelus lembut
kepala kedua cucunya itu yang kini memeluknya
erat. Semua orang tampak terdiam, menatap haru kearah mereka bertiga yang sedang melepas rindu hingga akhirnya Raya melepaskan pelukannya.
"Aku kira kakek akan datang besok."
"Mana mungkin Kakek menunda sampai besok
untuk moment yang sangat penting ini. Kakek
sudah sangat merindukan kalian berdua."
Sahut Tuan Wiratama sambil mengelus wajah
kedua cucu berlian murni nya itu. Raya kini
beralih pada paman dan bibi nya yang pada
kesempatan ini ikut datang. Nyonya Antika
adalah seorang pengusaha perhiasan terkenal
yang memiliki cabang usaha di beberapa negara,
jadi dia sangat sibuk. Setelah itu dia beralih
pada Clarissa yang sudah cemberut dari tadi.
"Aku selalu terpinggirkan..!!"
Kesal Clarissa dengan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ohh..Miss Clara sayang.. jangan marah dong."
Sambut Raya sambil kemudian memeluk erat
tubuh Clara bersamaan dengan Mayra. Ketiga
saudari sepupu itu saling berpelukkan bersama
dengan wajah penuh kebahagiaan.
Sementara Aaron, Dirga dan yang lain tampak
saling menyapa. Tidak lama kemudian Devan
muncul ke dalam ruangan itu bersama para
pengawal pribadi pilihan dan beberapa orang
staf istana yang menyambut kedatangan nya.
Dia terbang langsung dari negara lain tempat
dirinya tinggal selama ini.
Tatapan mata elang Devan langsung jatuh pada
sosok Raya dan Mayra secara bergantian. Wajah
nya terlihat datar, namun ada kehangatan yang
kini terpendar dari wajah tampan nya.
"Kak Dev.. bagaimana kabarmu.?"
Mayra menyapa duluan sambil berangkulan
sesaat dengan Dev yang mengelus lembut
kepala Mayra.
"Kakak baik-baik saja May.. bagaimana kabar
si tampan, jagoan kecil kita semua.?"
"Alhamdulillah.. dia baik-baik saja Kak."
Sahut Mayra sambil kemudian melepaskan
diri dari rangkulan Dev.
"Syukurlah kalau begitu.."
Ucap Dev. Matanya kini mengarah sepenuhnya
pada sosok Raya yang mendekat kearah nya.
Keduanya tampak saling pandang, terlihat
jelas sorot mata pria gagah super maskulin
itu tengah memendam gejolak perasaan yang
selama ini membebani pikirannya.
"Kak Dev..syukurlah kakak sudah datang juga."
Lirih Raya dengan senyum lembut penuh rasa
bahagia karena keluarganya kini sudah lengkap.
Namun, tanpa aba-aba Dev menarik tubuh Raya
ke dalam pelukannya, mendekapnya erat dan
kuat seolah enggan untuk melepaskannya lagi.
Ingin rasanya dia membawa kabur wanita ini
dari kekuasaan Putra Mahkota yang saat ini
langsung bereaksi keras. Wajah Aaron tampak
berubah kelam di sertai aura panas yang
langsung membakar seluruh dirinya saat
menyaksikan tubuh istrinya kini ada dalam
pelukan erat sang rival.
"Aku sangat merindukanmu Raya.. Kau sudah
mengganggu hari-hari ku selama ini."
"Kak Dev.. apa kau sadar yang kau lakukan.?"
Suara Raya terdengar tersendat dengan nafas
yang tersengal. Dev malah semakin mempererat
pelukannya membuat Aaron semakin terbakar
api cemburu yang kini sudah berkobar-kobar.
"Tentu saja aku sadar.. Memang nya salah kalau
aku merindukan adikku sendiri.?"
"Kak Dev.. tolong lepaskan aku.! Aku tidak bisa
bergerak.. Aku kesulitan.."
"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi.!"
"Masalahnya..kau sudah membuat perut istriku tertekan Mr Devan.! Apa kau lupa kalau adikmu
ini sedang mengandung..!!"
Suara Aaron terdengar berat dan dingin sambil
kemudian menarik tubuh Raya dari pelukan Dev
yang terlihat meringis dengan ekspresi wajah
aneh. Rupanya dia baru menyadari semua itu.
Dalam gerakan cepat Aaron mengangkat tubuh
Raya ke dalam pangkuannya sambil menatap
tajam wajah Dev yang menggaruk tengkuknya
dengan ekspresi sedikit menyesal.
"Jangan pernah berani menyentuh istriku lagi.
Kau harus tahu batasan mu Mr Devan..Dan
ingat satu hal dengan baik, dia adalah milikku.!!"
Geram Aaron dengan wajah yang sudah siap
untuk berperang. Semua orang tampak hanya
perdebatan itu. Terlebih bagi Mayra dan Dirga.
Apakah semua ini nyata.? Segila inikah sikap
posesif Aaron terhadap Raya.?? Sungguh
semua ini sangat mengejutkan.!
"Sayang.. turunkan aku. Ini sangat tidak patut.
Kita sedang ada di depan semua orang."
"Aku tidak peduli.! Apa kau lebih suka berada
dalam pelukan kakak sepupumu itu.?"
"Sayang.. tidak begitu, lihatlah.. kita sedang
ada dimana sekarang."
"Sudah ku bilang aku tidak peduli.!!"
Dengus Aaron sambil membawa Raya kembali
ke tempat semula. Kemudian mendudukkan
istrinya itu dengan hati-hati, memasang serbet
di atas pangkuannya lalu menyiapkan makanan
yang kira-kira akan di makan oleh Raya.
Mata semua orang tampak mengikuti kemana
arah pergerakan kedua orang itu. Raya menatap
tenang wajah dingin Aaron dengan senyum yang terkulum dan berusaha di sembunyikannya.
Dengan santai dia mendaratkan kecupan lembut
di pipi Aaron yang langsung membeku seketika.
"Jangan marah lagi ya sayang.. mengertilah..
Kak Dev hanya merindukan ku...adiknya.."
Ucap Raya pelan dan halus, keduanya saling
pandang lekat. Semua orang kini mulai bergerak,
duduk di kursi masing-masing dengan gerakan
slow motion. Pandangan mereka masih terlihat mengunci dua sosok itu yang saat ini sudah
duduk kembali dengan tenang. Ekspresi wajah
Aaron juga sudah terlihat normal.
Mayra tampak menatap Aaron seakan tidak
percaya dengan apa yang di lihatnya kini, ada
sesuatu yang menggilas habis relung hatinya.
Terlihat jelas Aaron begitu menggilai saudari
sepupunya itu. Cinta, obsesi, asmara dan nafsu,
semua tercampur dalam satu rasa yang terlukis
nyata dalam setiap tindakan dan bahasa tubuh
Aaron terhadap Maharaya..Sungguh beruntung
seorang Raya..bisa mendapatkan hati dan jiwa
Sang Pangeran dengan seutuhnya.
Sementara Dev saat ini berdiri tenang di depan
kursi bagiannya, dua asisten pribadinya tampak
sedang membuka mantel nya. Tidak lama dia mengibaskan jas mewahnya kemudian duduk
dengan elegan dan berkelas. Tatapannya
masih saja mengarah pada Aaron dan Raya..
Wanita yang notabenenya adalah adik sepupu
nya itu telah berhasil memporak-porandakan
hati dan jiwanya, hingga hari-harinya selalu di
rundung kegelisahan dan rasa tidak tenang
karena ingin selalu bertemu dan melihatnya.
Aahh..ini memang sesuatu yang gila dan konyol.
Kenapa dia harus jatuh cinta pada sepupunya
sendiri yang sudah jelas milik saingannya.
"Baiklah..kita mulai saja acara makan malam ini
dengan penuh kebersamaan dan kebahagiaan."
Tuan Wiratama akhirnya berucap tegas dengan
senyum yang terulas di sudut bibir keriputnya.
Drama yang indah..cinta gila dari seorang Putra Mahkota..dan cinta terpendam dari seorang
Raja Entertainment.. Sungguh menarik..!!
***
Hari ini Istana Sulaiman sedang di landa rasa
bahagia tak terhingga. Gelaran perayaan pesta pernikahan akhirnya di mulai. Semua rangkaian
pesta ala bangsawan akan segera hadir..
Pagi ini acara di mulai dengan konferensi pers
yang di adakan di bagian aula depan. Keluarga
besar klan Sulaiman akan mengenalkan seluruh
keluarga bangsawan Kertaradjasa..
Sekitar pukul 10 rombongan keluarga akhirnya
muncul di aula depan dipimpin oleh Serkan dan
Tuan Wiratama. Semua mata wartawan tampak
__ADS_1
terkesima melihat kemunculan seluruh keluarga
yang teramat menyilaukan itu. Bisa di bayangkan
sendiri..ada banyak bidadari khayangan yang
muncul di hadapan mereka semua saat ini.
Hujan jepretan dan kilatan kamera kini bagai
petir yang saling menyambar membuat suasana
begitu gegap gempita. Apalagi saat Serkan maju
mengenalkan Aaron dan Raya. Banyak wartawan
yang jatuh terduduk lemas, tak kuasa melihat
bagaimana terangnya pasangan itu.
Negara ini sebenarnya gudangnya orang-orang
yang memiliki kesempurnaan fisik, baik itu pria
maupun wanita, namun aura yang terpancar dari pasangan Prince dan Princess yang kini ada
di hadapan mereka, mampu memberikan efek
sihir yang sangat dahsyat hingga membuat
mereka seakan tidak mampu bernafas.
Serkan juga memberi penjelasan singkat tentang
kronologi pertemuan dan pernikahan dirinya
dengan Ratih Ayu hingga mereka terpaksa harus mengasingkan Putri Agung karena situasi dan
kondisi keamanan.
Berita besar ini menjadi trending topik di semua
media sosial yang ada di negara ini. Sejak pagi pemberitaan di semua media terpusat seluruh
nya pada rangkaian pesta pernikahan ini. Semua
televisi lokal menayangkan secara live segala
kegiatan yang berlangsung di istana. Dan
mereka benar-benar beruntung karena pihak
Istana memberi ijin untuk meliput semua acara
besar ini.
Siangnya ada acara kunjungan dari para tamu
wanita, istri-istri para bangsawan lainnya, khusus
untuk bertemu dengan Raya dan membawakan
hadiah. Raya harus duduk di kursi singel, lalu
bertatap muka sebentar dengan wanita-wanita
itu yang langsung menyerahkan hadiah mereka.
Dan bukan main-main.. hadiah yang di terima
berupa emas atau perhiasan mewah dan mahal.
Sungguh.. ritual ini.. agak sedikit berlebihan.
"Ibu..apakah harus begini.?"
Raya tampak mengeluh melihat tumpukan
kotak emas dan perhiasan yang menggunung
di atas meja begitu para tamu pamit.
"Iya sayang..ini adalah tradisi di tempat ini."
"Tapi aku rasa ini sedikit berlebihan Bu.."
"Nikmatilah tradisi ini ponakanku sayang..Kami
tahu kau dan Putra Mahkota tidak memerlukan
semua ini. Tapi ini adalah sebuah kehormatan
untuk keluarga kita."
Princess Ziya menimpali sambil membawakan
jus segar untuk Raya.
"Thank you teyze.."
Raya menerima jus tersebut sambil tersenyum
lembut kearah Tante nya itu. Para pelayan
pribadi kini merapat, segera mengipasi serta
memijat kaki dan tangan Raya untuk menjaga
agar Putri agung mereka tidak kelelahan.
Waktu terus merayap sore..
Sore harinya diadakan pesta Hena.. di ruangan
utama istana. Semua anggota keluarga wanita
ikuti ambil bagian dalam pesta ini, menghias
secantik mungkin tangan mereka. Dan selama
kegiatan itu, tari-tarian terus berlangsung
dengan meriah nya.
Suasana di dalam dan di luar istana di penuhi
oleh kemeriahan. Karena selagi di dalam terjadi
pesta Hena.. ternyata di halaman utama istana
saat ini sedang di gelar kejuaraan menembak.
Para pesertanya bebas dari kalangan manapun.
Akhirnya pesta Hena pun selesai. Tapi segala
kemeriahan masih berlanjut. Hanya saja Raya
di suruh untuk segera beristirahat.
Mayra keluar dari kamar pribadinya setelah
beres menidurkan Rein. Dia berjalan sedikit tergesa-gesa melewati koridor dan tidak sengaja bertubrukan dengan Aaron yang tiba-tiba saja
muncul dari arah koridor sebelah. Dengan reflek
dan sigap Aaron menangkap pinggang ramping
Mayra saat tubuh wanita itu terhuyung ke
belakang. Mata mereka bertemu, keduanya
saling menatap kuat di tengah rasa terkejut.
Dada Mayra seketika bergemuruh dengan
tubuh yang langsung panas dingin saat
mendapati wajah super tampan Aaron kini
ada di hadapannya, begitu dekat.
"Kau tidak apa-apa kan.?"
Aaron bertanya dengan suara berat nya sambil
perlahan membawa tubuh Mayra untuk berdiri bersamaan dengan kemunculan Raya dari arah
lain bersama dengan Clarissa dan para bawahan.
Sebenarnya mereka bertiga janjian akan pergi
ke ruang istirahat untuk berbincang sambil
menuggu hiasan Hena mengering.
Raya dan Clarissa tampak berdiri kaku di ujung
koridor begitu melihat interaksi intim tersebut.
Tangan Aaron tak sengaja bersentuhan dengan
tangan Mayra yang di hiasi Hena. Mayra tampak langsung berjingkat kaget dengan wajah yang
sedikit memerah. Sementara Aaron terlihat
datar saja, santai dan tidak bereaksi apapun.
"A-aku tidak apa-apa. Kenapa kamu ada di sini.?"
Mayra menjauh dan memalingkan wajahnya.
Sementara Aaron malah terlihat menatapnya
tenang dan lama.
"Kenapa.? Kau keberatan bertemu dengan ku.?"
"Tidak, hanya saja ini tidak selayaknya."
"Ini di luar ruangan. Dan jangan khawatir,
aku tidak akan melakukan apapun padamu.!"
Debat Aaron malah terkesan sengaja melakukan
pembicaraan ini. Mayra kembali menatap wajah
Aaron yang terlihat sangat santai dan tenang.
"Apa kalian baik-baik saja.? Apa yang terjadi.?"
Mayra terperanjat kaget begitu mendengar suara
Raya yang kini menghampiri mereka. Namun
anehnya Aaron tampak tenang-tenang saja.
Dia melirik kearah kedatangan Raya yang kini
menatapnya nya sekilas kemudian kembali
berpaling pada Mayra yang terlihat sedikit
tidak nyaman.
"Mbak tidak apa-apa ? Apa suamiku merusak
hiasan Hena mu ?"
Wajah Aaron langsung bereaksi aneh. Wanita
ini.! Apa yang ada di pikirannya sebenarnya.?
Kenapa dia malah mengkhawatirkan Mayra.?
"Aku baik-baik saja. Kami..tadi tidak sengaja
bertabrakan. Semuanya sungguh tidak di
sengaja."
"Aku tahu kok Mbak..Dan aku yakin suamiku
yang telah sengaja menabrak mbak tadi.."
"Apa..?? Maharaya...dimana pikiranmu hahh.?
Kau ini ya..benar-benar tidak peka.!!"
Aaron menggeram, kesal luar biasa. Dalam
satu gerakan cepat dia mengangkat tubuh Raya
ke dalam pangkuannya kemudian melangkah
pergi dari hadapan Mayra dan Clarissa yang
hanya bisa terdiam. Aaron tidak peduli omelan
Raya yang meminta dirinya di turunkan.
Mayra akhirnya menarik nafas dalam-dalam.
Aaron.. sekarang aku yakin..kau sudah benar-
benar bisa menghapus rasa itu.. Aku bahagia..
karena wanita yang bisa memilki dirimu
seutuhnya adalah saudariku sendiri. Dan dia
memang sangat pantas untuk mu..Dia jauh
lebih baik dariku segala-galanya..
Lirih bathin Mayra sambil tersenyum getir.
Walau ada rasa tidak nyaman dalam hatinya,
namun sungguh.. dia sangat bahagia saat ini..
__ADS_1
***
Towads the final episode...