Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
105. Only A Memory


__ADS_3

***


Para penghuni istana kini mulai berdatangan ke


ruang perjamuan yang terlihat begitu luas dengan segala fasilitas dan desain interior ruangan yang


serba mewah. Para pelayan berseragam biru putih tampak berbaris rapih menyambut semua orang.


Prince Serkan dan Princess Ratih Ayu sebagai penguasa istana ini muncul ke dalam ruangan


di ikuti oleh adik-adik nya dan Putra Putri mereka. Wajah-wajah mereka tampak bahagia dan berseri. Semua orang segera menempati tempat duduk masing-masing yang sudah di sesuaikan dengan


sangat sempurna oleh para staf istana.


"Bagaimana.. apakah ayah mertua sudah dekat


ke tempat ini.? Sampai dimana dia sekarang.?"


Serkan bertanya pada Ratih Ayu sembari


memasang serbet di atas pangkuannya.


"Mereka masih di perjalanan menuju kesini.


Tapi Devan mendarat belakangan di Bandara."


"Syukurlah.. jadi malam ini semuanya sudah


bisa berkumpul di sini."


"Iya, Putri Mahkota pasti akan sangat senang


kalau tahu mereka semua sudah di perjalanan."


"Biarkan saja..dia jangan di beritahu dulu.


Ini akan jadi kejutan untuknya malam ini."


"Baiklah..Sayang..apa kau melihat ada sesuatu


yang lain dengan sikap Devan terhadap putri kita.?"


Serkan terdiam sejenak, lalu menatap tenang


wajah cantik Ratih Ayu sambil menyeringai tipis.


"Dia sudah terlambat untuk mendapatkan putri


kita. Sebenarnya dia termasuk laki-laki pilihan


yang pantas menjadi idaman setiap wanita.


Tapi..takdir cintanya tidak terhubung dengan


Putri kita."


Ratih Ayu mengangguk setuju. Tidak lama di


pintu masuk muncul pasangan Mayra dan Dirga.


Keduanya tampil menawan dengan segala daya


tarik luar biasa yang di milikinya. Mayra tampak


anggun dan mempesona dalam balutan dress


cantik warna pastel di lengkapi hijab simpel


yang selalu membuat dirinya tampak istimewa.


"Selamat malam semuanya."


Mayra menyapa lembut seraya menundukkan


kepala sedikit kearah semua orang dengan


gestur tubuh yang sangat luwes dan anggun.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Moolay."


Sambut semua orang seraya tersenyum ramah


kearah Mayra dan Dirga. Keduanya kembali lagi


berjalan kearah meja makan. Sang Raja bisnis


terlihat santai dengan segala pembawaannya


yang selalu tenang. Ratih Ayu menatap lembut


kedatangan keponakannya itu dengan sorot


mata penuh kasih, wajah Mayra sangat mirip


dengan mendiang Kakaknya, membuat dirinya


seolah menemukan kembali sosok kakak yang


sangat di sayanginya itu.


"Duduklah di sini sayang.."


Ratih Ayu menunjuk kursi di sebelahnya kepada


Mayra dan Dirga yang segera mengambil tempat.


"Dimana putra kalian.? Apa dia sudah tidur.?"


"Sudah Tan, dia tidak rewel kalau urusan tidur


malam. Apalagi sekarang sudah di beri makan


makanan padat."


Sahut Mayra sambil membenahi letak duduk


dan serbet nya. Ratih Ayu tersenyum lembut


sambil mengelus bahu Mayra.


"Dia memang harus banyak makan..supaya


kuat dan cepat besar."


Ujar Ratih Ayu. Mayra mengangguk pelan sambil


tersenyum manis. Sesaat kemudian para pelayan terlihat merapihkan barisan mereka dan segera


berdiri tegak membuat semua orang memusatkan perhatian kearah ruangan dalam dimana saat ini


Aaron dan Raya muncul bersama dengan Arthur


dan Arabella serta para bawahan setianya.Tangan kanan Aaron tampak menggengam erat tangan


Raya, sementara tangan kirinya terlihat santai,


di masukkan ke dalam saku celananya.


Semua orang terdiam, terpesona pada kehadiran


pasangan itu yang selalu saja membuat setiap


mata seakan tersihir. Keduanya terlihat serasi


dalam balutan setelan manis dengan warna yang


senada. Raya terlihat memukau dengan tampilan simpel namun tetap elegan dan berkelas. Apapun


yang di kenakannya memang akan senantiasa


tampak sempurna saat melekat di tubuhnya


walaupun sekarang ini perutnya sudah semakin


membesar, namun hal itu malah membuatnya


semakin terlihat mempesona.


"Selamat malam Prince dan Princess Agung."


Sapa para pelayan serempak sambil kemudian


membungkukkan badan penuh hormat. Wajah


Raya terlihat berbinar bahagia saat melihat


keluarganya sudah berkumpul di meja makan.


"Selamat malam semuanya.."


Sambut Raya dengan suara yang sangat lembut


dan senyum yang terkembang sempurna di bibir


indahnya. Aaron menatap tenang kearah semua


orang, dan untuk sesaat matanya saling melihat


dengan Mayra. Namun kali ini tatapan Aaron tak


menyiratkan apapun, terlihat datar dan normal.


Sementara Dirga.. mau tidak mau matanya tak


mampu berpaling dari Raya yang terlihat begitu


mempesona.


"Silahkan Yang Mulya.."


Kepala pelayan dan beberapa pelayan lainnya


menyiapkan kursi untuk Aaron dan Raya di sisi


kanan Prince Serkan.


"Selamat malam Ayah..selamat malam Ibu.."


Sapa Raya sambil merangkul hangat Ayah dan


Ibu nya bergantian. Keduanya tampak mengecup


lembut kening Raya penuh kasih sayang.


"Selamat malam sayang.. duduklah. Ibumu


sudah menyiapkan makanan spesial untuk mu."


Ujar Prince Serkan. Aaron menggeser kursi untuk


Raya dan membiarkan istrinya itu duduk terlebih


dahulu dengan nyaman, setelah itu barulah dia menyusul. Mayra dan Dirga tampak menatap


diam apa yang di lakukan oleh Aaron tersebut.


Raya menatap sebentar kearah Mayra dan Dirga


yang duduk tepat di seberangnya lalu melempar senyum hangat pada mereka berdua.


"Baiklah.. karena semuanya sudah berkumpul.


Kita mulai saja makan malam ini dengan berdoa


terlebih dahulu. "


Prince Serkan berucap dengan tegas. Namun


tiba-tiba saja dari arah pintu masuk kepala staf


istana muncul membawa rombongan keluarga


Kertaradjasa yang baru tiba di istana ini.


"Kakek.. kalian datang sekarang.?"


Seru Raya dengan raut wajah bahagia. Kemudian hampir bersamaan dengan Mayra, dia bangkit


dari tempat duduknya, melangkah kearah sang


kakek yang kini merentangkan tangan menyambut kedua cucu nya itu yang langsung berhambur


ke dalam pelukan hangatnya.


"Ohhh cucu-cucuku tersayang.. akhirnya kita


bisa berkumpul bersama di tempat ini."


Ujar Tuan Wiratama sambil mengelus lembut


kepala kedua cucunya itu yang kini memeluknya


erat. Semua orang tampak terdiam, menatap haru kearah mereka bertiga yang sedang melepas rindu hingga akhirnya Raya melepaskan pelukannya.


"Aku kira kakek akan datang besok."


"Mana mungkin Kakek menunda sampai besok


untuk moment yang sangat penting ini. Kakek


sudah sangat merindukan kalian berdua."


Sahut Tuan Wiratama sambil mengelus wajah


kedua cucu berlian murni nya itu. Raya kini


beralih pada paman dan bibi nya yang pada


kesempatan ini ikut datang. Nyonya Antika


adalah seorang pengusaha perhiasan terkenal


yang memiliki cabang usaha di beberapa negara,


jadi dia sangat sibuk. Setelah itu dia beralih


pada Clarissa yang sudah cemberut dari tadi.


"Aku selalu terpinggirkan..!!"


Kesal Clarissa dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Ohh..Miss Clara sayang.. jangan marah dong."


Sambut Raya sambil kemudian memeluk erat


tubuh Clara bersamaan dengan Mayra. Ketiga


saudari sepupu itu saling berpelukkan bersama


dengan wajah penuh kebahagiaan.


Sementara Aaron, Dirga dan yang lain tampak


saling menyapa. Tidak lama kemudian Devan


muncul ke dalam ruangan itu bersama para


pengawal pribadi pilihan dan beberapa orang


staf istana yang menyambut kedatangan nya.


Dia terbang langsung dari negara lain tempat


dirinya tinggal selama ini.


Tatapan mata elang Devan langsung jatuh pada


sosok Raya dan Mayra secara bergantian. Wajah


nya terlihat datar, namun ada kehangatan yang


kini terpendar dari wajah tampan nya.


"Kak Dev.. bagaimana kabarmu.?"


Mayra menyapa duluan sambil berangkulan


sesaat dengan Dev yang mengelus lembut


kepala Mayra.


"Kakak baik-baik saja May.. bagaimana kabar


si tampan, jagoan kecil kita semua.?"


"Alhamdulillah.. dia baik-baik saja Kak."


Sahut Mayra sambil kemudian melepaskan


diri dari rangkulan Dev.


"Syukurlah kalau begitu.."


Ucap Dev. Matanya kini mengarah sepenuhnya


pada sosok Raya yang mendekat kearah nya.


Keduanya tampak saling pandang, terlihat


jelas sorot mata pria gagah super maskulin


itu tengah memendam gejolak perasaan yang


selama ini membebani pikirannya.


"Kak Dev..syukurlah kakak sudah datang juga."


Lirih Raya dengan senyum lembut penuh rasa


bahagia karena keluarganya kini sudah lengkap.


Namun, tanpa aba-aba Dev menarik tubuh Raya


ke dalam pelukannya, mendekapnya erat dan


kuat seolah enggan untuk melepaskannya lagi.


Ingin rasanya dia membawa kabur wanita ini


dari kekuasaan Putra Mahkota yang saat ini


langsung bereaksi keras. Wajah Aaron tampak


berubah kelam di sertai aura panas yang


langsung membakar seluruh dirinya saat


menyaksikan tubuh istrinya kini ada dalam


pelukan erat sang rival.


"Aku sangat merindukanmu Raya.. Kau sudah


mengganggu hari-hari ku selama ini."


"Kak Dev.. apa kau sadar yang kau lakukan.?"


Suara Raya terdengar tersendat dengan nafas


yang tersengal. Dev malah semakin mempererat


pelukannya membuat Aaron semakin terbakar


api cemburu yang kini sudah berkobar-kobar.


"Tentu saja aku sadar.. Memang nya salah kalau


aku merindukan adikku sendiri.?"


"Kak Dev.. tolong lepaskan aku.! Aku tidak bisa


bergerak.. Aku kesulitan.."


"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi.!"


"Masalahnya..kau sudah membuat perut istriku tertekan Mr Devan.! Apa kau lupa kalau adikmu


ini sedang mengandung..!!"


Suara Aaron terdengar berat dan dingin sambil


kemudian menarik tubuh Raya dari pelukan Dev


yang terlihat meringis dengan ekspresi wajah


aneh. Rupanya dia baru menyadari semua itu.


Dalam gerakan cepat Aaron mengangkat tubuh


Raya ke dalam pangkuannya sambil menatap


tajam wajah Dev yang menggaruk tengkuknya


dengan ekspresi sedikit menyesal.


"Jangan pernah berani menyentuh istriku lagi.


Kau harus tahu batasan mu Mr Devan..Dan


ingat satu hal dengan baik, dia adalah milikku.!!"


Geram Aaron dengan wajah yang sudah siap


untuk berperang. Semua orang tampak hanya


perdebatan itu. Terlebih bagi Mayra dan Dirga.


Apakah semua ini nyata.? Segila inikah sikap


posesif Aaron terhadap Raya.?? Sungguh


semua ini sangat mengejutkan.!


"Sayang.. turunkan aku. Ini sangat tidak patut.


Kita sedang ada di depan semua orang."


"Aku tidak peduli.! Apa kau lebih suka berada


dalam pelukan kakak sepupumu itu.?"


"Sayang.. tidak begitu, lihatlah.. kita sedang


ada dimana sekarang."


"Sudah ku bilang aku tidak peduli.!!"


Dengus Aaron sambil membawa Raya kembali


ke tempat semula. Kemudian mendudukkan


istrinya itu dengan hati-hati, memasang serbet


di atas pangkuannya lalu menyiapkan makanan


yang kira-kira akan di makan oleh Raya.


Mata semua orang tampak mengikuti kemana


arah pergerakan kedua orang itu. Raya menatap


tenang wajah dingin Aaron dengan senyum yang terkulum dan berusaha di sembunyikannya.


Dengan santai dia mendaratkan kecupan lembut


di pipi Aaron yang langsung membeku seketika.


"Jangan marah lagi ya sayang.. mengertilah..


Kak Dev hanya merindukan ku...adiknya.."


Ucap Raya pelan dan halus, keduanya saling


pandang lekat. Semua orang kini mulai bergerak,


duduk di kursi masing-masing dengan gerakan


slow motion. Pandangan mereka masih terlihat mengunci dua sosok itu yang saat ini sudah


duduk kembali dengan tenang. Ekspresi wajah


Aaron juga sudah terlihat normal.


Mayra tampak menatap Aaron seakan tidak


percaya dengan apa yang di lihatnya kini, ada


sesuatu yang menggilas habis relung hatinya.


Terlihat jelas Aaron begitu menggilai saudari


sepupunya itu. Cinta, obsesi, asmara dan nafsu,


semua tercampur dalam satu rasa yang terlukis


nyata dalam setiap tindakan dan bahasa tubuh


Aaron terhadap Maharaya..Sungguh beruntung


seorang Raya..bisa mendapatkan hati dan jiwa


Sang Pangeran dengan seutuhnya.


Sementara Dev saat ini berdiri tenang di depan


kursi bagiannya, dua asisten pribadinya tampak


sedang membuka mantel nya. Tidak lama dia mengibaskan jas mewahnya kemudian duduk


dengan elegan dan berkelas. Tatapannya


masih saja mengarah pada Aaron dan Raya..


Wanita yang notabenenya adalah adik sepupu


nya itu telah berhasil memporak-porandakan


hati dan jiwanya, hingga hari-harinya selalu di


rundung kegelisahan dan rasa tidak tenang


karena ingin selalu bertemu dan melihatnya.


Aahh..ini memang sesuatu yang gila dan konyol.


Kenapa dia harus jatuh cinta pada sepupunya


sendiri yang sudah jelas milik saingannya.


"Baiklah..kita mulai saja acara makan malam ini


dengan penuh kebersamaan dan kebahagiaan."


Tuan Wiratama akhirnya berucap tegas dengan


senyum yang terulas di sudut bibir keriputnya.


Drama yang indah..cinta gila dari seorang Putra Mahkota..dan cinta terpendam dari seorang


Raja Entertainment.. Sungguh menarik..!!


***


Hari ini Istana Sulaiman sedang di landa rasa


bahagia tak terhingga. Gelaran perayaan pesta pernikahan akhirnya di mulai. Semua rangkaian


pesta ala bangsawan akan segera hadir..


Pagi ini acara di mulai dengan konferensi pers


yang di adakan di bagian aula depan. Keluarga


besar klan Sulaiman akan mengenalkan seluruh


keluarga bangsawan Kertaradjasa..


Sekitar pukul 10 rombongan keluarga akhirnya


muncul di aula depan dipimpin oleh Serkan dan


Tuan Wiratama. Semua mata wartawan tampak

__ADS_1


terkesima melihat kemunculan seluruh keluarga


yang teramat menyilaukan itu. Bisa di bayangkan


sendiri..ada banyak bidadari khayangan yang


muncul di hadapan mereka semua saat ini.


Hujan jepretan dan kilatan kamera kini bagai


petir yang saling menyambar membuat suasana


begitu gegap gempita. Apalagi saat Serkan maju


mengenalkan Aaron dan Raya. Banyak wartawan


yang jatuh terduduk lemas, tak kuasa melihat


bagaimana terangnya pasangan itu.


Negara ini sebenarnya gudangnya orang-orang


yang memiliki kesempurnaan fisik, baik itu pria


maupun wanita, namun aura yang terpancar dari pasangan Prince dan Princess yang kini ada


di hadapan mereka, mampu memberikan efek


sihir yang sangat dahsyat hingga membuat


mereka seakan tidak mampu bernafas.


Serkan juga memberi penjelasan singkat tentang


kronologi pertemuan dan pernikahan dirinya


dengan Ratih Ayu hingga mereka terpaksa harus mengasingkan Putri Agung karena situasi dan


kondisi keamanan.


Berita besar ini menjadi trending topik di semua


media sosial yang ada di negara ini. Sejak pagi pemberitaan di semua media terpusat seluruh


nya pada rangkaian pesta pernikahan ini. Semua


televisi lokal menayangkan secara live segala


kegiatan yang berlangsung di istana. Dan


mereka benar-benar beruntung karena pihak


Istana memberi ijin untuk meliput semua acara


besar ini.


Siangnya ada acara kunjungan dari para tamu


wanita, istri-istri para bangsawan lainnya, khusus


untuk bertemu dengan Raya dan membawakan


hadiah. Raya harus duduk di kursi singel, lalu


bertatap muka sebentar dengan wanita-wanita


itu yang langsung menyerahkan hadiah mereka.


Dan bukan main-main.. hadiah yang di terima


berupa emas atau perhiasan mewah dan mahal.


Sungguh.. ritual ini.. agak sedikit berlebihan.


"Ibu..apakah harus begini.?"


Raya tampak mengeluh melihat tumpukan


kotak emas dan perhiasan yang menggunung


di atas meja begitu para tamu pamit.


"Iya sayang..ini adalah tradisi di tempat ini."


"Tapi aku rasa ini sedikit berlebihan Bu.."


"Nikmatilah tradisi ini ponakanku sayang..Kami


tahu kau dan Putra Mahkota tidak memerlukan


semua ini. Tapi ini adalah sebuah kehormatan


untuk keluarga kita."


Princess Ziya menimpali sambil membawakan


jus segar untuk Raya.


"Thank you teyze.."


Raya menerima jus tersebut sambil tersenyum


lembut kearah Tante nya itu. Para pelayan


pribadi kini merapat, segera mengipasi serta


memijat kaki dan tangan Raya untuk menjaga


agar Putri agung mereka tidak kelelahan.


Waktu terus merayap sore..


Sore harinya diadakan pesta Hena.. di ruangan


utama istana. Semua anggota keluarga wanita


ikuti ambil bagian dalam pesta ini, menghias


secantik mungkin tangan mereka. Dan selama


kegiatan itu, tari-tarian terus berlangsung


dengan meriah nya.


Suasana di dalam dan di luar istana di penuhi


oleh kemeriahan. Karena selagi di dalam terjadi


pesta Hena.. ternyata di halaman utama istana


saat ini sedang di gelar kejuaraan menembak.


Para pesertanya bebas dari kalangan manapun.


Akhirnya pesta Hena pun selesai. Tapi segala


kemeriahan masih berlanjut. Hanya saja Raya


di suruh untuk segera beristirahat.


Mayra keluar dari kamar pribadinya setelah


beres menidurkan Rein. Dia berjalan sedikit tergesa-gesa melewati koridor dan tidak sengaja bertubrukan dengan Aaron yang tiba-tiba saja


muncul dari arah koridor sebelah. Dengan reflek


dan sigap Aaron menangkap pinggang ramping


Mayra saat tubuh wanita itu terhuyung ke


belakang. Mata mereka bertemu, keduanya


saling menatap kuat di tengah rasa terkejut.


Dada Mayra seketika bergemuruh dengan


tubuh yang langsung panas dingin saat


mendapati wajah super tampan Aaron kini


ada di hadapannya, begitu dekat.


"Kau tidak apa-apa kan.?"


Aaron bertanya dengan suara berat nya sambil


perlahan membawa tubuh Mayra untuk berdiri bersamaan dengan kemunculan Raya dari arah


lain bersama dengan Clarissa dan para bawahan.


Sebenarnya mereka bertiga janjian akan pergi


ke ruang istirahat untuk berbincang sambil


menuggu hiasan Hena mengering.


Raya dan Clarissa tampak berdiri kaku di ujung


koridor begitu melihat interaksi intim tersebut.


Tangan Aaron tak sengaja bersentuhan dengan


tangan Mayra yang di hiasi Hena. Mayra tampak langsung berjingkat kaget dengan wajah yang


sedikit memerah. Sementara Aaron terlihat


datar saja, santai dan tidak bereaksi apapun.


"A-aku tidak apa-apa. Kenapa kamu ada di sini.?"


Mayra menjauh dan memalingkan wajahnya.


Sementara Aaron malah terlihat menatapnya


tenang dan lama.


"Kenapa.? Kau keberatan bertemu dengan ku.?"


"Tidak, hanya saja ini tidak selayaknya."


"Ini di luar ruangan. Dan jangan khawatir,


aku tidak akan melakukan apapun padamu.!"


Debat Aaron malah terkesan sengaja melakukan


pembicaraan ini. Mayra kembali menatap wajah


Aaron yang terlihat sangat santai dan tenang.


"Apa kalian baik-baik saja.? Apa yang terjadi.?"


Mayra terperanjat kaget begitu mendengar suara


Raya yang kini menghampiri mereka. Namun


anehnya Aaron tampak tenang-tenang saja.


Dia melirik kearah kedatangan Raya yang kini


menatapnya nya sekilas kemudian kembali


berpaling pada Mayra yang terlihat sedikit


tidak nyaman.


"Mbak tidak apa-apa ? Apa suamiku merusak


hiasan Hena mu ?"


Wajah Aaron langsung bereaksi aneh. Wanita


ini.! Apa yang ada di pikirannya sebenarnya.?


Kenapa dia malah mengkhawatirkan Mayra.?


"Aku baik-baik saja. Kami..tadi tidak sengaja


bertabrakan. Semuanya sungguh tidak di


sengaja."


"Aku tahu kok Mbak..Dan aku yakin suamiku


yang telah sengaja menabrak mbak tadi.."


"Apa..?? Maharaya...dimana pikiranmu hahh.?


Kau ini ya..benar-benar tidak peka.!!"


Aaron menggeram, kesal luar biasa. Dalam


satu gerakan cepat dia mengangkat tubuh Raya


ke dalam pangkuannya kemudian melangkah


pergi dari hadapan Mayra dan Clarissa yang


hanya bisa terdiam. Aaron tidak peduli omelan


Raya yang meminta dirinya di turunkan.


Mayra akhirnya menarik nafas dalam-dalam.


Aaron.. sekarang aku yakin..kau sudah benar-


benar bisa menghapus rasa itu.. Aku bahagia..


karena wanita yang bisa memilki dirimu


seutuhnya adalah saudariku sendiri. Dan dia


memang sangat pantas untuk mu..Dia jauh


lebih baik dariku segala-galanya..


Lirih bathin Mayra sambil tersenyum getir.


Walau ada rasa tidak nyaman dalam hatinya,


namun sungguh.. dia sangat bahagia saat ini..

__ADS_1


***


Towads the final episode...


__ADS_2