Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
12. Memulai Kembali


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Selamat pagi.. kalian ini siapa.?"


Raya menjawab sapaan mereka dengan sorot


mata bingung sekaligus terkejut. Wanita yang


terlihat lebih maskulin tadi maju selangkah,


kembali membungkuk di hadapan Raya.


"Perkenalkan.. saya Grizelle.. panggil saja


saya Griz. Saya di tugaskan untuk menjadi


driver anda mulai hari ini."


Wanita itu memperkenalkan diri sebagai


supir pribadi Raya.


"Supir pribadi.? tapi saya bisa pergi sendiri.


Saya tidak perlu supir.!"


"Mohon maaf Miss, tapi ini adalah perintah


langsung dari Tuan De Enzo."


Raya berdecak kesal. Orang itu lagi ! apa sih


maunya orang itu.? Kalau begini caranya apa


masih mungkin baginya untuk melarikan diri


dari cengkraman nya.?


"Saya Hana Miss, kepala pelayan sementara


di sini, kami semua siap melayani anda."


Salah seorang lagi yang terlihat lebih dewasa


tampak maju sambil menundukkan kepala


di ikuti oleh 3 orang lainnya. Raya menatapi


mereka satu persatu masih dalam mode


bingung dan bertanya-tanya.


"Ya sudah lah terserah kalian.! Aku juga tidak


peduli dengan semua ini."


Raya mulai melangkah ke arah ruang makan.


Dan lagi-lagi dia hanya bisa bengong saat Hana


dengan cekatan dan sigap segera menyiapkan


kursi untuk nya. Di meja makan saat ini sudah


tersedia hidangan sarapan pagi dengan menu


yang sangat lengkap dan menggugah selera.


Dengan menarik napas berat, Raya duduk di


kursinya. Dua orang pelayan lain dengan rapi


segera maju lalu menuangkan jus ke gelas di


hadapan Raya dan menyiapkan sarapan pagi


yang tampaknya sudah di atur menu nya.


"Silahkan Miss, semoga anda terkesan. Untuk


ke depannya kalau ada sesuatu hal yang anda


inginkan, anda bisa mengatakannya langsung


pada saya."


Ujar Hana sambil menunduk di hadapan Raya


yang hanya bisa terdiam tanpa kata.Tuhan..


sebenarnya siapa laki-laki jahat itu ? kenapa


dia membuat dirinya ada di posisi kaku dan


tidak bebas seperti ini.? Selama ini dia hidup


menurut aturannya sendiri. Walaupun di


rumah ayahnya ada pelayan namun dia tidak


pernah mau di layani secara berlebihan.


"Sudah cukup kok. Kalian tidak perlu repot


menyiapkan menu yang aneh-aneh. Saya


suka sesuatu yang simpel saja !"


"Baik Miss, saya akan memperhatikan nya."


Raya meraih gelas jus kemudian meminum


nya perlahan. Dan tanpa banyak kata lagi


dia segera memulai sarapan nya, tidak ingin


membuang waktu hanya untuk memikirkan


semua keanehan ini.


Dalam diamnya di samping Raya, Hana dan


Griz sesekali mencoba mencuri pandang


kearah wanita yang sedang duduk dengan


sangat anggun itu. Hari ini Raya memakai


setelah rok mini selutut dengan blouse cantik berlengan pendek di hiasi aksen manis di


depan dadanya. Rambutnya di gulung rapi


dengan anak rambut yang di biarkan terjatuh


liar di kedua sisi wajahnya. Wanita ini tampak


begitu memukau dengan tingkat kecantikan


yang jauh di atas rata-rata.


Mereka menggeleng pelan sambil berdecak


kagum dalam hati melihat betapa cantik dan


anggun nya wanita Tuan mereka ini.


Setelah menyelesaikan sarapannya Raya


beranjak dari duduknya. Dengan sigap tak


terduga Griz langsung membawakan tas


dan blazer nya membuat gadis itu lagi-lagi


hanya bisa terdiam bingung. Raya menatap


wanita berambut pendek itu sebentar lalu


menghela napas pelan, kemudian berjalan


keluar dari apartemen di ikuti oleh supir


pribadi atau entah apalah sebutannya itu.


"Apa kau sudah lama bekerja pada Tuanmu


itu Griz.? "


Raya mencoba memecah keheningan saat


mereka berdua berada di dalam lift.


"Lumayan Miss..! Saya sengaja di panggil


ke sini oleh Tuan untuk mendampingi anda."


"Memang nya selama ini kau ada dimana.?"


"Saya di tugaskan di negara xxx Miss."


"Negara xxx..? Apa Tuan mu berasal dari


negara itu.?"


"Benar Miss.."

__ADS_1


Raya tampak terkejut. Jadi laki-laki jahat itu


berasal dari negara asing.? Ini benar-benar


sangat membingungkan. Bagaimana bisa


dirinya berurusan dengan orang-orang


yang berada di luar jangkauannya.


Tiba di basement Griz membimbing Raya


menuju sebuah mobil mewah yang telah


terparkir gagah di sana dan terlihat sangat mendominasi kendaraan lainnya. Raya tahu


pasti kalau mobil itu adalah produk keluaran


perusahaan tempat dirinya bekerja. Harganya


juga tidak main-main, bisa mencapai puluhan


milyar rupiah.


"Silahkan Miss..!"


Griz membukakan pintu mobil dengan sigap


seraya menundukan kepalanya.


"Apa ini tidak salah.? bagaimana nanti orang


lain akan menilai ku dengan melihat ini.?"


"Anda tidak perlu khawatir, semuanya sudah


di atur dengan sangat baik oleh Tuan.!"


Raya berdecak kesal, dia tampak keberatan


saat melihat semua hal janggal ini. Namun


tidak ada pilihan lain lagi, dengan perasaan


yang sedikit geram akhirnya dia masuk ke


dalam mobil dengan terpaksa. Griz masuk


ke balik kemudi, tidak lama kemudian dia


sudah melajukan mobil mewah tersebut


keluar dari area basement.


***


Raya baru saja memulai aktifitas padatnya


ketika pintu ruangan di buka dari luar, dan


sosok gadis manis berpakaian rapi masuk


dengan tampang cemasnya.


"Raya kamu baik-baik saja..? Syukurlah ya


Tuhan..ternyata kamu tidak di apa-apain.!"


Jessica langsung merangkul erat tubuh Raya


yang balas memeluknya. Jelas terlihat kalau


sahabatnya itu sangat mengkhawatirkan nya.


Tidak lama mereka saling melepaskan diri.


Jessica meneliti keadaan Raya.


"Apa penjahat itu melakukan sesuatu yang


tidak di inginkan padamu.?"


"Alhamdulillah..sejauh ini aku baik-baik saja


Jes. Tapi..Aku ada dalam pengawasan pria


jahat itu, aku tidak bisa lari darinya.!"


Ujar Raya sambil duduk di kursi kerjanya,


merapihkan blazer yang di pakainya.Jessica


menatap wajah sahabatnya itu yang kini sudah kembali seperti semula, super cantik dengan


luluh saat bertemu pandang dengan nya.


"Apa tidak ada celah bagimu untuk lari dari


orang itu ? Bagaimana dengan rencana mu


untuk meminta mutasi pada Mr Sean.?"


Jessica bertanya, tatapan nya kini jatuh di


pergelangan tangan kiri Raya, masih jelas


di ingatannya saat dia menyaksikan sahabat


nya ini bermandikan darah dan nyawa nya


hampir tidak tertolong.


"Entahlah.. Tapi aku akan tetap mencoba


berbicara dengan nya."


"Kau sudah menghubungi ayahmu.?"


Raya terdiam, kemarin malam dia memang


sudah menghubungi Ayah nya. Namun entah


kenapa ada nada ketakutan yang tertangkap


dari nada suara nya. Raya menduga semua


itu pasti ada hubungannya dengan pria itu.


"Sudah, dia tahu kalau aku baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu. Baiklah, nanti setelah


makan siang aku akan menemanimu menemui


Mr Sean."


"Oke, kita bertemu lagi pas makan siang.


Sekarang biarkan aku bekerja dengan tenang."


"Apa kau akan menjawab lamarannya.?"


Raya langsung terdiam, menatap Jessica


dengan sorot mata mulai kesal dan gerah.


"Oke, oke..Aku hanya bercanda. Kalau begitu


sampai ketemu di makan siang ya.."


Jessica melambaikan tangan seraya


tersenyum kecut kearah Raya yang masih


menatapnya kesal. Gadis itu cepat-cepat


berlalu keluar ruangan.


Menerima lamaran Sean ? Mana mungkin


dia berani memberikan dirinya yang sudah


ternoda pada laki-laki itu. Walau hatinya kini


harus hancur karena bunga yang layu sebelum


berkembang, namun itu akan lebih bagi Sean


daripada pria itu harus mendapatkan barang


sisa seperti dirinya.


Raya menggeleng cepat, mencoba untuk


memfokuskan diri pada pekerjaannya. Ke


dalam ruangan muncul asisten pribadi nya


yang datang membawakan setumpuk berkas


yang harus di periksa dan di tandatangani


oleh nya setelah satu minggu ini tertunda.


"Ini berkas yang harus di tandatangani Bu,

__ADS_1


Semuanya sudah harus selesai siang ini.!"


"Baiklah, apa masih ada yang tertinggal Ci.?"


Raya mengecek semua dokumen yang kini


bertumpuk di hadapannya.


"Tidak ada Bu, semua sudah saya siapkan."


"Baiklah, kau boleh keluar sekarang.!"


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi !"


Sang asisten kemudian berlalu keluar dari


ruangan meninggalkan Raya yang tengah


berkutat dengan segala kesibukan nya.


Tidak ada yang tahu dengan tragedi yang


menimpa Raya, karena Sean dan Jessica


sengaja merahasiakan nya.


Sementara itu di ruangan lobby utama


kantor megah ' Marvello's Corporation'...


Sesuatu yang merupakan sebuah keajaiban


kini tengah terjadi. Selama perusahaan ini


berdiri di negara ini, sudah hampir 10 tahun


lamanya, yang namanya pemilik ataupun


penerus sah dari perusahaan raksasa tingkat


dunia ini merupakan sebuah misteri bagi


ribuan orang karyawan yang bekerja di


tempat ini. Karena hal itu sengaja tidak


pernah di publish. Semua itu seolah tabu


untuk di ketahui oleh para karyawan di


perusahaan ini. Mereka tidak pernah tahu


sosok sejati pemilik perusahaan ini, hanya


satu hal yang mereka ketahui selama ini,


bahwa keturunan keluarga De Enzo lah


pemilik saham terbesar di perusahaan ini.


Sang Presdir dari perusahaan ini pun tidak


pernah datang secara resmi ke perusahaan


ini, meskipun mereka pernah mendengar


desas desus bahwa sang Presdir pernah


datang beberapa kali secara diam-diam


dan hanya di ketahui oleh jajaran direksi


perusahaan saja, karena memang hanya


mereka lah yang mengenali siapa sosok


Presdir misterius itu.


"Presdir..maafkan kami tidak bisa menyambut


kedatangan anda dengan layak."


Sean beserta jajaran dewan direksi perusahaan


tampak membungkuk dalam penuh hormat di


hadapan satu sosok yang baru saja keluar dari


mobil sport super mewahnya. Dia berdiri tegak,


menjulang tinggi di hadapan para bawahannya


itu, terlihat sangat gagah dan mendominasi


dalam balutan jas resminya dengan aura


kehadiran yang teramat kuat serta kharisma


seorang priyayi yang begitu bersinar.


Di belakang orang itu berdiri seorang pria


tinggi tegap dengan tampang yang sangat


elegan, berkelas dan memukau di kawal oleh


4 orang bodyguard pilihan yang memancarkan


aura dingin menusuk sekaligus membekukan.


Sosok super gagah itu mengangkat tangan


ke atas, dengan tatapan elangnya.


"Jangan menimbulkan kegaduhan.!"


Suaranya terdengar berat, tegas dan dingin.


"Baik Presdir.."


Sean kembali membungkuk, begitu hormat.


Dia tahu pasti siapa orang ini sebenarnya


selain sebagai atasannya.


"Mari Presdir.. kita langsung saja ke ruang


pertemuan."


Sean memberi arahan dengan gestur tubuh


yang sangat hormat seolah menghamba.


Sosok itu kini mulai berjalan tenang, gagah


penuh dengan kepercayaan diri di ikuti oleh


Sean, asisten pribadi nya, dan jajaran dewan


direksi serta kepala pengawal.


Tiba di ruang lobby utama, barisan resepsionis


hanya bisa mematung di tempat, tidak sempat


memberi salam ataupun penghormatan. Saat


ini mereka sedang tersihir oleh sosok gagah


yang berjalan di depan tersebut, mereka begitu


terkesima, terpesona dan tidak percaya pada


apa yang baru saja di lihatnya.


Sosok gagah itu tidak sedikitpun melirik


atau melihat ke sembarang arah, dia seolah


tidak peduli pada semua yang ada di tempat


itu, pandangan nya lurus dengan langkah


yang terlihat mantap dan penuh ketegasan.


Semua pegawai yang kebetulan berpapasan


dengan rombongan itu hanya mampu berdiri


mematung di tempat dengan tatapan sama


seperti para resepsionis tadi.


BRUK !


Salah seorang resepsionis jatuh ambruk ke


lantai, pingsan, tidak kuasa melihat apa yang


baru saja lewat di depan matanya itu..


***


Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2