
** Hari pertunangan...
Hari ini adalah hari yang cukup penting bagi
negeri xxx.. Karena malam ini Putra Mahkota
kerajaan ini akan bertunangan dengan putri bangsawan kelas satu negeri ini yang terkenal
sangat cantik, mempesona dan berwawasan
luas serta memiliki attitude yang baik. Selain
itu dia juga menjadi idola banyak masyarakat
di negeri ini. Mereka berdua adalah pasangan
yang sangat sempurna untuk menjadi pemimpin
negara ini di masa yang akan datang.
Berita tentang acara pertunangan ini sudah dari
jauh hari menjadi topik perbincangan hangat di
masyarakat. Namun berita tentang insiden yang
terjadi kemarin di kereta cepat tidak kalah heboh
dari rencana pertunangan. Dan keberadaan Raya
yang selalu setia mendampingi Putra Mahkota
terutama pada insiden kemarin sedang hangat
di bicarakan. Masyarakat seolah di giring pada
opini dan persepsi beragam yang berakhir pro
dan kontra atas kedekatan pasangan itu dimana
masyarakat mengenal Raya sebagai Sektretaris Pribadi Prince Marvell.
Kebanyakan pendapat mengatakan bahwa Raya
terlihat sangat serasi dan sempurna menjadi
pendamping Sang Pangeran sebagai pasangan
yang lebih dari sekedar Bos dan Bawahan. Ada
banyak yang mengatakan bahwa mereka sangat
cocok menjadi suami istri karena ada chemistry
tersendiri yang terjalin dan sangat kuat seolah
tidak terpisahkan .
Hari semakin beranjak sore...
Raya tertegun melihat kedatangan Gregory dan
para pengawal kerajaan ke white house. Sejak
malam dia sudah di landa rasa gelisah karena
Aaron tidak pulang ke rumah. Setelah sholat
magrib kemarin Aaron langsung pergi bersama
semua bawahannya dan hanya menyisakan
pasukan bayangan saja yang berjaga di sekitar
rumahnya. Entah pergi kemana suaminya itu
karena dia juga tidak memberi kabar. Sampai
sore ini kabar dari laki-laki itu belum juga dia
dapatkan, Raya juga tidak berani menghubungi.
Saat ini hatinya benar-benar gelisah. Rasa ingin
bertemu dan rasa tidak nyaman mengingat
malam ini Aaron akan bertunangan menjadi
satu dan membuat jiwanya tidak seimbang.
"Lady.. Yang Mulya Pangeran memerintahkan
kami untuk menjemput anda. Kita akan
langsung pergi ke Istana Negara."
Gregory membungkuk hormat di hadapan Raya
yang masih terdiam menatap wanita maskulin
yang menduduki posisi sebagai asisten pribadi
Madam Rowena itu. Kenapa Aaron menyuruh
wanita ini untuk menjemput dirinya.?
"Dimana Putra Mahkota saat ini ? Apa dia sudah
ada di istana ?"
"Beliau sedang di perjalanan menuju istana."
"Kenapa dia menyuruhmu yang datang untuk
menjemput ku.?"
"Semua bawahan beliau sedang menjalankan
misi penting di beberapa titik Lady."
Raya terdiam, apa sebenarnya yang terjadi.? Dia
juga belum sempat mengatakan satu hal penting
pada Aaron mengenai Eden Wolf karena dia akan
melihat dulu buktinya malam ini.
"Baiklah.. aku akan mengambil pakaian ganti
dulu untuk nanti malam."
"Mohon maaf Lady.. Anda tidak perlu repot-repot.
Semuanya sudah di siapkan oleh Yang Mulya."
Raya menarik nafas panjang, menatap kembali
kearah Gregory.
"Baiklah.. kalau begitu ayo kita pergi."
Ucapnya sambil kemudian melangkah keluar
dari rumahnya. Tiba di depan rumah dia kembali
tertegun melihat Limosin mewah telah terparkir
dengan gagah di halaman dan mengundang
perhatian para tetangga yang kini sudah tahu
profesi Raya sebagai Sektretaris Pribadi Putra
Mahkota, dan mereka sangat terkejut akan hal
itu. Ini sesuatu yang luar biasa bagi mereka.
Pantas saja rumah Raya sering di sambangi
mobil-mobil super mewah dan orang-orang
yang berpenampilan menonjol.
"Hello Miss Raya.. selamat sore..Apakah anda
akan ke istana sekarang.?"
Tetangga depan rumah Raya yang cukup akrab
tampak menyapa dengan sedikit segan begitu
melihat keberadaan Gregory di belakang Raya.
"Selamat sore Miss Elsa.. Iya saya akan pergi
sekarang."
Sambut Raya dengan senyum ramah nya seraya
berjalan menuju mobil jemputan nya.
"Anda benar-benar beruntung bisa masuk ke
dalam istana Miss Raya."
Raya hanya tersenyum kecut dan sedikit pedih
saat mengingat posisi dirinya saat ini. Wajah
tampan Aaron dengan segala godaannya tiba
tiba saja bermain dalam pikirannya.
"Lady kita berangkat sekarang.!"
Gregory langsung membimbing Raya agar
segera masuk ke dalam mobil mewah tersebut.
"Saya pergi dulu Miss Elsa, sampai jumpa."
Raya melambaikan tangan kearah tetangganya
itu yang langsung menundukan kepala sedikit
sambil membalas lambaian tangan Raya. Dan
akhirnya mobil super mewah itu pun meluncur
nyaman di kawal dua mobil pengawal di depan
dan belakangnya meninggalkan Lily dan para
tetangga yang menatap nya penuh kekaguman.
Raya merebahkan kepalanya ke sandaran jok
mobil yang di desain sangat mewah sehingga
dia bisa bersandar dengan nyaman. Matanya
terpejam rapat mencoba untuk menahan segala
gejolak perasaan yang saat ini menggangu nya.
Hatinya semakin terasa berat dan resah saat
bayangan wajah Aaron semakin memenuhi
pikirannya.
Tidak ! Serindu inikah dirinya pada laki-laki yang
telah mengikatnya dalam pernikahan paksa itu. Hatinya benar-benar tersiksa ingin segera bertemu dan memeluk pria itu, menemukan kenyamanan
dan kedamaian dari aroma tubuh nya yang kuat,
gentle dan maskulin. Raya melihat layar ponsel
nya, namun wajahnya tampak kecewa karena
apa yang di harapkannya hanya angan semata.
Aaron... kemana kamu..??
***
Limousine mewah itu langsung masuk ke area
parkir khusus anggota keluarga kerajaan. Saat
ini suasana di sekitar istana tampak berbeda.
Penjagaan di tingkatkan pada protokol tingkat
satu dan semua area di sterilkan dari berbagai
gangguan. Para pelayan dan prajurit pengawal
istana tampak berpakaian rapi dan berbeda dari
hari-hari biasanya.
Begitu Raya keluar dari dalam mobil dia sudah
di jemput oleh seorang wanita cantik bertubuh
tinggi semampai dengan senyum manis yang
__ADS_1
terkembang sempurna .
"Hai kakak ipar.. selamat datang..Senang bisa
bertemu dengan mu lagi."
Sambut wanita itu yang tiada lain adalah Alea.
Keduanya saling berangkulan hangat.
"Hai Alea..kau sudah di sini rupanya."
"Semua keluarga Danzstone sudah ada di
sini. Kami tiba siang tadi."
Sahut Alea sambil kemudian menggandeng
tangan Raya di bawa masuk ke dalam bangunan
istana utama yang menjadi tempat kediaman
keluarga kerajaan. Semua pelayan dan staf
istana yang kebetulan berpapasan dengan
mereka tampak mencuri pandang kearah Raya
seakan ingin lebih jelas melihat bagaimana
rupa sekretaris pribadi Pangeran mereka yang
saat ini sedang jadi topik pembicaraan itu
karena sorotan di televisi kemarin yang jelas
sekali memperlihatkan Putra Mahkota sedang
menggendong tubuh nya saat terjun dari kereta
ke bawah jembatan layang.
Namun seperti biasanya seorang Maharaya, dia
tidak pernah ambil pusing pada pandangan atau
pun pendapat orang tentang dirinya. Dia sudah
biasa jadi pusat perhatian dan tidak pernah
memperdulikan nya. Hanya Alea yang terlihat
sedikit bereaksi keras dengan memberikan
peringatan pada mereka semua agar jangan
coba-coba bersikap lancang.
"Mereka semua benar-benar lancang. Apa yang
akan terjadi seandainya kakak tahu semua ini.!"
Alea menggerutu sambil masuk ke dalam lift
khusus yang akan membawa mereka menuju
lantai atas. Raya tampak menautkan alisnya.
"Alea.. kita mau kemana sebenarnya.?"
"Tentu saja ke kamar pribadi Putra Mahkota.
Kamar kalian berdua."
Raya terhenyak. Jadi dia akan pergi ke kamar
pribadi Aaron di istana negara ini.? Jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan kencang.Hatinya berdebar keras tidak karuan. Setelah beberapa
saat mereka tiba di lantai 5 istana utama ini.
Dan lantai 5 ini merupakan pusat dari seluruh bangunan megah istana ini. Dimana di lantai 5
ini hanya ada satu kamar pribadi milik Putra
Mahkota. Selebihnya adalah ruang pelengkap
seperti kolam renang, fitness center, home
teather, ruang billiar, bar mini, perpustakaan
serta laboratorium pribadi milik Aaron yang
tidak bisa di masuki sembarang orang
termasuk Raja dan Ratu sendiri.
Tiba di lantai 5 tersebut Alea membawa Raya
menuju kamar pribadi Aaron. Untuk membuka
pintu kamar Alea harus melakukan scan wajah
terlebih dahulu dan menekan nomor rahasia
pada panel kunci digital yang ada di pinggir
pintu besi yang sangat megah dan tinggi itu.
"Selamat datang Lady De Enzo..!"
Raya terkejut ketika tiba-tiba saja ada 3 orang
pelayan berseragam khusus yang datang dan
membungkuk setengah badan di hadapannya.
Raya menatap ketiga pelayan itu bergantian
dengan sorot mata tidak nyaman mendengar
panggilan mereka terhadapnya.
"Kau tidak usah khawatir.. Dia adalah Brenda dan
dua asisten nya. Mereka bertiga pelayan pribadi
kakak di sini. Dan mulai sekarang mereka juga
akan melayanimu setiap kali kau datang kesini."
Alea menjelaskan sambil kemudian masuk ke
dalam kamar yang membuat Raya mematung
di tempat. Ini kamar atau apa.? Bahkan luasnya
Kamar ini teramat luas dengan desain interior
yang serba menakjubkan. Ada ruang depan,
ada ruang kerja, ruang tidur utama yang atapnya menggunakan kaca cembung tembus pandang. Kamar mandi yang luasnya melebihi lantai atas
di white house, walk on closet yang sangat luas,
ruang baca, ruang santai serta balkon ekslusif
yang merangkap sebagai ruang makan. Satu
kata untuk kamar ini adalah super duper luas,
mewah dan megah. Dan keseluruhan interior
di kamar ini bernuansa golden white.
Setelah melihat detail seluruh ruangan di kamar
itu Raya kini masuk ke ruangan make up yang
menyatu dengan walk in closet.
"Lady.. mari saya tunjukkan busana yang akan
di kenakkan oleh Yang Mulya nanti malam."
Raya dan Alea mengikuti Brenda ke ruang ganti
pakaian yang berukuran seluas toko pakaian
berukuran regular. Brenda membuka lemari
besar di sudut ruangan.
"Ini adalah setelan jas Yang Mulya. Dan yang
ini gaun yang harus anda kenakkan."
Raya menatap setelan jas mewah keluaran
perancang ternama dunia itu. Hatinya tiba-tiba
saja serasa teriris mengingat setelan mewah itu
akan di kenakkan oleh Aaron malam ini untuk
acara pentingnya.. pertunangan..!! Tatapannya
beralih pada gaun indah yang ada di lemari
sebelah. Gaun yang sangat cantik dan elegan
dan warnanya juga senada dengan setelan jas
Aaron. Loh.. kenapa harus senada.?
Waktu terus berlalu merayap menuju malam
tapi Aaron belum juga muncul. Alea masih setia menemani Raya. Dia memang berniat melakukan persiapan di kamar ini bersama dengan Raya.
Setelah melaksanakan ibadah sholat Maghrib,
Raya segera bersiap dengan melakukan make
over sedikit bersama dengan Alea. Bahkan Raya membantu Alea memoles wajah nya karena Alea menyukai makeup flawles yang sering di gunakan
oleh Raya.
"Kalian masih dimana sekarang.?"
Alea kembali menghubungi Ansel karena waktu
semakin malam tapi mereka tidak jua datang.
"Kita baru masuk kawasan istana. 15 menit
lagi kami tiba. Apakah kakak ipar baik-baik
saja.?"
"Iya dia baik-baik saja. Tapi kelihatannya dia
sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakak."
"Alea.. jangan mengada-ada..!"
Raya berseru dengan mengerucutkan bibirnya
kesal tapi Alea hanya nyengir kuda. Dia segera
menutup telepon nya sambil melirik kearah
Raya yang sedang merapihkan polesan make
up nya. Dalam hati Alea tiada henti mengagumi
pesona kecantikan kakak ipar nya ini.
Maharaya.. pantas saja Kak Aaron sampai
segila itu padamu.. Kau sangat lah cantik..
Hatimu juga sangat tulus..
Gumam Alea dalam hati sambil menggeleng
pelan karena malu sendiri telah diam-diam mengagumi kakak iparnya itu.
"Alea.. apa aku boleh bertanya sesuatu.?"
Alea melirik, menatap Raya sekilas, kembali
lagi fokus ke cermin merapihkan rambutnya
yang sudah di tata sedemikian rupa.
"Tidak ada yang melarang mu.. Katakan saja.!
Apa yang ingin kau tanyakan.?"
"Ada hubungan apa antara Aaron dan Mayra.?"
Alea tampak terkejut, terdiam membeku.Tidak
lama dia melirik ke arah Raya. Jantungnya serasa
mau copot saat matanya beradu tatap dengan
mata sendu sebening kristal milik Raya.
"Tidak ada..! Mereka tidak punya hubungan
__ADS_1
apapun.! Kau tahu sendiri kan kalau Mayra
itu istrinya Tuan Moolay."
"Apa Aaron mencintai nya.?"
Wajah Alea tampak pias, dia memalingkan
wajah menghindari kontak mata dengan Raya
yang sangat mendominasi itu.
"Tidak ! Kakak belum pernah mencintai..."
"Alea.. tolong, jangan berbohong padaku.!"
Alea kembali melirik kearah Raya yang terlihat
masih menatapnya tajam, tidak nyaman. Gadis
itu menghembuskan nafas berat dan kembali berpaling muka.
"Katakan yang kamu tahu Alea, aku mohon.
Ini cukup penting bagiku.!"
"Aku tidak yakin apakah itu cinta atau bukan.
Tapi yang Kak Aaron tahu Mayra adalah cinta
pertamanya. Selama ini hanya Mayra lah wanita
yang ada di hati kakak. Dia sudah berkorban
banyak untuk kebahagiaan wanita itu. Sayang..
sebesar apapun cinta nya pada Mayra tetap saja
kenyataannya dia adalah milik sahabatnya. Dan
kakak menyadari hal itu sepenuhnya. Aku tidak
tahu pasti bagaimana sekarang perasaannya.."
Deg !
Jantung Raya serasa copot saat ini juga. Dia
seakan kehilangan separuh jiwanya. Wajahnya
tampak langsung memucat. Perlahan tangan
nya memegangi dadanya yang mulai terasa
sesak, dan ada desakan cairan bening yang
kini mulai memaksa ingin keluar.
"Sampai sekarang dia masih mencintainya.
Dia masih selalu mengingatnya..!!"
Desis Raya sambil menundukkan kepala dan
memejamkan matanya kuat. Sakiiitt...!! Tidak,
ini rasanya sakit sekali hingga terasa seolah
mengiris seluruh Jiwanya membuat dia
kehilangan seluruh daya dan semangat nya.
"Tidak.! Kau salah..! Saat ini aku yakin kakak
sudah bisa melupakan semua masa lalunya.
Sekarang di hatinya hanya ada satu nama lain.."
"Tidak akan semudah itu baginya melupakan
masa lalunya Alea.."
Potong Raya sambil menggeleng kuat. Dia kini
bangkit dan berjalan dengan gontai keluar dari
ruang makeup. Namun langkahnya terhenti saat
matanya bersirobos tatap dengan mata elang
sosok yang sedang menjadi pusat kekalutannya.
Aaron berdiri tegak di depan ruangan itu dengan
sorot mata berat dan dalam memendam sebuah
rasa yang hampir saja membuatnya gila karena
sudah dari malam di tahannya.
Tanpa kata Aaron meraih tubuh lemah itu ke
dalam rengkuhannya, memeluknya erat dan
kuat seakan ingin menyembunyikan wanita
itu di kedalaman jiwa nya. Dia mendaratkan
ciuman lembut dan lama di kening Raya.
"Aku merindukanmu.. Maharaya.."
Bisiknya pelan dan gemetar yang membuat
tangis Raya pecah sudah. Dia balik memeluk
erat tubuh Aaron sambil memukuli punggung
laki-laki itu mencoba menyalurkan segala rasa
dan kesakitan yang kini telah mematahkan hati
dan jiwanya. Raya menangis dalam diam di
pelukan erat Aaron di saksikan oleh Alea dan
Ansel yang hanya bisa mematung di tempat.
Hati Ansel saat ini benar-benar patah, hancur
tak bersisa. Apalagi sekarang yang di ragukan
dari perasaan mereka berdua. Bahasa tubuh
saja sudah cukup menterjemahkan bagaimana
besar dan dalamnya perasaan mereka berdua.
Beberapa saat kemudian...
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8.
Dan acara tukar cincin akan di mulai pukul 8.
Semua orang sudah siap dengan setelan dan
gaun masing-masing. Alea dan Ansel kini ada
di luar kamar karena Aaron meminta waktu
berdua saja dengan Raya.
Aaron menatap tak berkedip tampilan Raya saat
ini. Istrinya itu tampak begitu memukau, tidak
cukup di gambarkan dengan kata-kata. Satu kata
untuknya malam ini, luar biasa cantik.! Namun
raut wajahnya tidaklah secerah dan secantik penampilannya. Dia tampak muram dan hancur.
Dengan telaten Raya merapihkan tampilan Aaron. Tangan nya kini mengelus pelan dasi yang telah
rapi, lalu beralih mengelus bagian dada dengan tatapan yang terlihat hampa. Apa ini Tuhan...
Dia mendandani suaminya sendiri yang akan
bertunangan dengan wanita lain. Kembali..ada
tetesan air mata yang jatuh membasahi wajah beningnya.
Rahang Aaron mengeras menyaksikan air mata
itu lagi-lagi jatuh. Wajahnya terlihat semakin
dingin membekukan. Tangan Aaron bergerak
mengangkat dagu Raya memaksa mata mereka
untuk saling menatap. Keduanya saling menatap
kuat dan dalam dengan gejolak perasaan yang
semakin tidak terkendali.
"Katakan..apa yang harus aku lakukan sekarang?
Akan aku lakukan apapun yang kau inginkan.!"
Desis Aaron sambil menarik dagu Raya hingga
kini wajah mereka hampir bersentuhan. Raya
memejamkan matanya kuat untuk menurunkan
seluruh air matanya dan menguatkan jiwanya.
"Lakukan apa yang terbaik untuk negara mu.
Jalankan semua agenda yang sudah tersusun
dengan baik.."
Lirih Raya sambil kembali membuka matanya
dan menatap teduh wajah tampan Aaron yang
kini semakin terlihat dingin. Cengkeraman nya
di dagu Raya semakin terasa kuat membuat
Raya meringis kesakitan.
"Lalu bagaimana dengan mu.? Kau yakin akan
tetap berdiri di posisi ini.?"
"Apalagi yang bisa aku lakukan sekarang.? Dari
awal kau sudah menempatkan ku di posisi ini.
Jadi inilah takdirku.! Bahkan di hatimu pun aku
akan tetap terpinggirkan..!!"
Desis Raya dengan luruhan air mata yang kian
deras membuat dirinya semakin terlihat hancur.
Kedua mata mereka masih saling menatap kuat
dengan sorot mata yang sangat rumit.
"Maharaya..aku memberimu satu kesempatan
lagi untuk menentukan keinginan mu.!"
Desis Aaron sambil menciumi kedua mata Raya
yang berurai air mata membuat Raya semakin
tidak sanggup lagi bertahan. Tapi dia tidak bisa
egois. Dia tidak bisa memiliki Aaron untuk
dirinya sendiri. Aaron milik rakyat dan negara
nya. Dengan gemetar dia meraup wajah Aaron, mengelusnya lembut penuh perasaan.
"Aku merelakan mu Aaron..Jadikan wanita yang
sudah di pilihkan keluargamu menjadi wanita
nomor satu di sisimu.."
Lirih Raya perih dan berdarah sambil kemudian
memagut bibir Aaron, ********** lembut dan
kuat di telan perasaan yang kini sedang hancur
lebur bahkan sebelum sempat berkembang.
Aaron terhenyak, tubuhnya tiba-tiba saja lemas.
Jiwa nya benar-benar jatuh saat ini..
***
__ADS_1