Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
71. Painful


__ADS_3

** Hari pertunangan...


Hari ini adalah hari yang cukup penting bagi


negeri xxx.. Karena malam ini Putra Mahkota


kerajaan ini akan bertunangan dengan putri bangsawan kelas satu negeri ini yang terkenal


sangat cantik, mempesona dan berwawasan


luas serta memiliki attitude yang baik. Selain


itu dia juga menjadi idola banyak masyarakat


di negeri ini. Mereka berdua adalah pasangan


yang sangat sempurna untuk menjadi pemimpin


negara ini di masa yang akan datang.


Berita tentang acara pertunangan ini sudah dari


jauh hari menjadi topik perbincangan hangat di


masyarakat. Namun berita tentang insiden yang


terjadi kemarin di kereta cepat tidak kalah heboh


dari rencana pertunangan. Dan keberadaan Raya


yang selalu setia mendampingi Putra Mahkota


terutama pada insiden kemarin sedang hangat


di bicarakan. Masyarakat seolah di giring pada


opini dan persepsi beragam yang berakhir pro


dan kontra atas kedekatan pasangan itu dimana


masyarakat mengenal Raya sebagai Sektretaris Pribadi Prince Marvell.


Kebanyakan pendapat mengatakan bahwa Raya


terlihat sangat serasi dan sempurna menjadi


pendamping Sang Pangeran sebagai pasangan


yang lebih dari sekedar Bos dan Bawahan. Ada


banyak yang mengatakan bahwa mereka sangat


cocok menjadi suami istri karena ada chemistry


tersendiri yang terjalin dan sangat kuat seolah


tidak terpisahkan .


Hari semakin beranjak sore...


Raya tertegun melihat kedatangan Gregory dan


para pengawal kerajaan ke white house. Sejak


malam dia sudah di landa rasa gelisah karena


Aaron tidak pulang ke rumah. Setelah sholat


magrib kemarin Aaron langsung pergi bersama


semua bawahannya dan hanya menyisakan


pasukan bayangan saja yang berjaga di sekitar


rumahnya. Entah pergi kemana suaminya itu


karena dia juga tidak memberi kabar. Sampai


sore ini kabar dari laki-laki itu belum juga dia


dapatkan, Raya juga tidak berani menghubungi.


Saat ini hatinya benar-benar gelisah. Rasa ingin


bertemu dan rasa tidak nyaman mengingat


malam ini Aaron akan bertunangan menjadi


satu dan membuat jiwanya tidak seimbang.


"Lady.. Yang Mulya Pangeran memerintahkan


kami untuk menjemput anda. Kita akan


langsung pergi ke Istana Negara."


Gregory membungkuk hormat di hadapan Raya


yang masih terdiam menatap wanita maskulin


yang menduduki posisi sebagai asisten pribadi


Madam Rowena itu. Kenapa Aaron menyuruh


wanita ini untuk menjemput dirinya.?


"Dimana Putra Mahkota saat ini ? Apa dia sudah


ada di istana ?"


"Beliau sedang di perjalanan menuju istana."


"Kenapa dia menyuruhmu yang datang untuk


menjemput ku.?"


"Semua bawahan beliau sedang menjalankan


misi penting di beberapa titik Lady."


Raya terdiam, apa sebenarnya yang terjadi.? Dia


juga belum sempat mengatakan satu hal penting


pada Aaron mengenai Eden Wolf karena dia akan


melihat dulu buktinya malam ini.


"Baiklah.. aku akan mengambil pakaian ganti


dulu untuk nanti malam."


"Mohon maaf Lady.. Anda tidak perlu repot-repot.


Semuanya sudah di siapkan oleh Yang Mulya."


Raya menarik nafas panjang, menatap kembali


kearah Gregory.


"Baiklah.. kalau begitu ayo kita pergi."


Ucapnya sambil kemudian melangkah keluar


dari rumahnya. Tiba di depan rumah dia kembali


tertegun melihat Limosin mewah telah terparkir


dengan gagah di halaman dan mengundang


perhatian para tetangga yang kini sudah tahu


profesi Raya sebagai Sektretaris Pribadi Putra


Mahkota, dan mereka sangat terkejut akan hal


itu. Ini sesuatu yang luar biasa bagi mereka.


Pantas saja rumah Raya sering di sambangi


mobil-mobil super mewah dan orang-orang


yang berpenampilan menonjol.


"Hello Miss Raya.. selamat sore..Apakah anda


akan ke istana sekarang.?"


Tetangga depan rumah Raya yang cukup akrab


tampak menyapa dengan sedikit segan begitu


melihat keberadaan Gregory di belakang Raya.


"Selamat sore Miss Elsa.. Iya saya akan pergi


sekarang."


Sambut Raya dengan senyum ramah nya seraya


berjalan menuju mobil jemputan nya.


"Anda benar-benar beruntung bisa masuk ke


dalam istana Miss Raya."


Raya hanya tersenyum kecut dan sedikit pedih


saat mengingat posisi dirinya saat ini. Wajah


tampan Aaron dengan segala godaannya tiba


tiba saja bermain dalam pikirannya.


"Lady kita berangkat sekarang.!"


Gregory langsung membimbing Raya agar


segera masuk ke dalam mobil mewah tersebut.


"Saya pergi dulu Miss Elsa, sampai jumpa."


Raya melambaikan tangan kearah tetangganya


itu yang langsung menundukan kepala sedikit


sambil membalas lambaian tangan Raya. Dan


akhirnya mobil super mewah itu pun meluncur


nyaman di kawal dua mobil pengawal di depan


dan belakangnya meninggalkan Lily dan para


tetangga yang menatap nya penuh kekaguman.


Raya merebahkan kepalanya ke sandaran jok


mobil yang di desain sangat mewah sehingga


dia bisa bersandar dengan nyaman. Matanya


terpejam rapat mencoba untuk menahan segala


gejolak perasaan yang saat ini menggangu nya.


Hatinya semakin terasa berat dan resah saat


bayangan wajah Aaron semakin memenuhi


pikirannya.


Tidak ! Serindu inikah dirinya pada laki-laki yang


telah mengikatnya dalam pernikahan paksa itu. Hatinya benar-benar tersiksa ingin segera bertemu dan memeluk pria itu, menemukan kenyamanan


dan kedamaian dari aroma tubuh nya yang kuat,


gentle dan maskulin. Raya melihat layar ponsel


nya, namun wajahnya tampak kecewa karena


apa yang di harapkannya hanya angan semata.


Aaron... kemana kamu..??


***


Limousine mewah itu langsung masuk ke area


parkir khusus anggota keluarga kerajaan. Saat


ini suasana di sekitar istana tampak berbeda.


Penjagaan di tingkatkan pada protokol tingkat


satu dan semua area di sterilkan dari berbagai


gangguan. Para pelayan dan prajurit pengawal


istana tampak berpakaian rapi dan berbeda dari


hari-hari biasanya.


Begitu Raya keluar dari dalam mobil dia sudah


di jemput oleh seorang wanita cantik bertubuh


tinggi semampai dengan senyum manis yang

__ADS_1


terkembang sempurna .


"Hai kakak ipar.. selamat datang..Senang bisa


bertemu dengan mu lagi."


Sambut wanita itu yang tiada lain adalah Alea.


Keduanya saling berangkulan hangat.


"Hai Alea..kau sudah di sini rupanya."


"Semua keluarga Danzstone sudah ada di


sini. Kami tiba siang tadi."


Sahut Alea sambil kemudian menggandeng


tangan Raya di bawa masuk ke dalam bangunan


istana utama yang menjadi tempat kediaman


keluarga kerajaan. Semua pelayan dan staf


istana yang kebetulan berpapasan dengan


mereka tampak mencuri pandang kearah Raya


seakan ingin lebih jelas melihat bagaimana


rupa sekretaris pribadi Pangeran mereka yang


saat ini sedang jadi topik pembicaraan itu


karena sorotan di televisi kemarin yang jelas


sekali memperlihatkan Putra Mahkota sedang


menggendong tubuh nya saat terjun dari kereta


ke bawah jembatan layang.


Namun seperti biasanya seorang Maharaya, dia


tidak pernah ambil pusing pada pandangan atau


pun pendapat orang tentang dirinya. Dia sudah


biasa jadi pusat perhatian dan tidak pernah


memperdulikan nya. Hanya Alea yang terlihat


sedikit bereaksi keras dengan memberikan


peringatan pada mereka semua agar jangan


coba-coba bersikap lancang.


"Mereka semua benar-benar lancang. Apa yang


akan terjadi seandainya kakak tahu semua ini.!"


Alea menggerutu sambil masuk ke dalam lift


khusus yang akan membawa mereka menuju


lantai atas. Raya tampak menautkan alisnya.


"Alea.. kita mau kemana sebenarnya.?"


"Tentu saja ke kamar pribadi Putra Mahkota.


Kamar kalian berdua."


Raya terhenyak. Jadi dia akan pergi ke kamar


pribadi Aaron di istana negara ini.? Jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan kencang.Hatinya berdebar keras tidak karuan. Setelah beberapa


saat mereka tiba di lantai 5 istana utama ini.


Dan lantai 5 ini merupakan pusat dari seluruh bangunan megah istana ini. Dimana di lantai 5


ini hanya ada satu kamar pribadi milik Putra


Mahkota. Selebihnya adalah ruang pelengkap


seperti kolam renang, fitness center, home


teather, ruang billiar, bar mini, perpustakaan


serta laboratorium pribadi milik Aaron yang


tidak bisa di masuki sembarang orang


termasuk Raja dan Ratu sendiri.


Tiba di lantai 5 tersebut Alea membawa Raya


menuju kamar pribadi Aaron. Untuk membuka


pintu kamar Alea harus melakukan scan wajah


terlebih dahulu dan menekan nomor rahasia


pada panel kunci digital yang ada di pinggir


pintu besi yang sangat megah dan tinggi itu.


"Selamat datang Lady De Enzo..!"


Raya terkejut ketika tiba-tiba saja ada 3 orang


pelayan berseragam khusus yang datang dan


membungkuk setengah badan di hadapannya.


Raya menatap ketiga pelayan itu bergantian


dengan sorot mata tidak nyaman mendengar


panggilan mereka terhadapnya.


"Kau tidak usah khawatir.. Dia adalah Brenda dan


dua asisten nya. Mereka bertiga pelayan pribadi


kakak di sini. Dan mulai sekarang mereka juga


akan melayanimu setiap kali kau datang kesini."


Alea menjelaskan sambil kemudian masuk ke


dalam kamar yang membuat Raya mematung


di tempat. Ini kamar atau apa.? Bahkan luasnya


Kamar ini teramat luas dengan desain interior


yang serba menakjubkan. Ada ruang depan,


ada ruang kerja, ruang tidur utama yang atapnya menggunakan kaca cembung tembus pandang. Kamar mandi yang luasnya melebihi lantai atas


di white house, walk on closet yang sangat luas,


ruang baca, ruang santai serta balkon ekslusif


yang merangkap sebagai ruang makan. Satu


kata untuk kamar ini adalah super duper luas,


mewah dan megah. Dan keseluruhan interior


di kamar ini bernuansa golden white.


Setelah melihat detail seluruh ruangan di kamar


itu Raya kini masuk ke ruangan make up yang


menyatu dengan walk in closet.


"Lady.. mari saya tunjukkan busana yang akan


di kenakkan oleh Yang Mulya nanti malam."


Raya dan Alea mengikuti Brenda ke ruang ganti


pakaian yang berukuran seluas toko pakaian


berukuran regular. Brenda membuka lemari


besar di sudut ruangan.


"Ini adalah setelan jas Yang Mulya. Dan yang


ini gaun yang harus anda kenakkan."


Raya menatap setelan jas mewah keluaran


perancang ternama dunia itu. Hatinya tiba-tiba


saja serasa teriris mengingat setelan mewah itu


akan di kenakkan oleh Aaron malam ini untuk


acara pentingnya.. pertunangan..!! Tatapannya


beralih pada gaun indah yang ada di lemari


sebelah. Gaun yang sangat cantik dan elegan


dan warnanya juga senada dengan setelan jas


Aaron. Loh.. kenapa harus senada.?


Waktu terus berlalu merayap menuju malam


tapi Aaron belum juga muncul. Alea masih setia menemani Raya. Dia memang berniat melakukan persiapan di kamar ini bersama dengan Raya.


Setelah melaksanakan ibadah sholat Maghrib,


Raya segera bersiap dengan melakukan make


over sedikit bersama dengan Alea. Bahkan Raya membantu Alea memoles wajah nya karena Alea menyukai makeup flawles yang sering di gunakan


oleh Raya.


"Kalian masih dimana sekarang.?"


Alea kembali menghubungi Ansel karena waktu


semakin malam tapi mereka tidak jua datang.


"Kita baru masuk kawasan istana. 15 menit


lagi kami tiba. Apakah kakak ipar baik-baik


saja.?"


"Iya dia baik-baik saja. Tapi kelihatannya dia


sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakak."


"Alea.. jangan mengada-ada..!"


Raya berseru dengan mengerucutkan bibirnya


kesal tapi Alea hanya nyengir kuda. Dia segera


menutup telepon nya sambil melirik kearah


Raya yang sedang merapihkan polesan make


up nya. Dalam hati Alea tiada henti mengagumi


pesona kecantikan kakak ipar nya ini.


Maharaya.. pantas saja Kak Aaron sampai


segila itu padamu.. Kau sangat lah cantik..


Hatimu juga sangat tulus..


Gumam Alea dalam hati sambil menggeleng


pelan karena malu sendiri telah diam-diam mengagumi kakak iparnya itu.


"Alea.. apa aku boleh bertanya sesuatu.?"


Alea melirik, menatap Raya sekilas, kembali


lagi fokus ke cermin merapihkan rambutnya


yang sudah di tata sedemikian rupa.


"Tidak ada yang melarang mu.. Katakan saja.!


Apa yang ingin kau tanyakan.?"


"Ada hubungan apa antara Aaron dan Mayra.?"


Alea tampak terkejut, terdiam membeku.Tidak


lama dia melirik ke arah Raya. Jantungnya serasa


mau copot saat matanya beradu tatap dengan


mata sendu sebening kristal milik Raya.


"Tidak ada..! Mereka tidak punya hubungan

__ADS_1


apapun.! Kau tahu sendiri kan kalau Mayra


itu istrinya Tuan Moolay."


"Apa Aaron mencintai nya.?"


Wajah Alea tampak pias, dia memalingkan


wajah menghindari kontak mata dengan Raya


yang sangat mendominasi itu.


"Tidak ! Kakak belum pernah mencintai..."


"Alea.. tolong, jangan berbohong padaku.!"


Alea kembali melirik kearah Raya yang terlihat


masih menatapnya tajam, tidak nyaman. Gadis


itu menghembuskan nafas berat dan kembali berpaling muka.


"Katakan yang kamu tahu Alea, aku mohon.


Ini cukup penting bagiku.!"


"Aku tidak yakin apakah itu cinta atau bukan.


Tapi yang Kak Aaron tahu Mayra adalah cinta


pertamanya. Selama ini hanya Mayra lah wanita


yang ada di hati kakak. Dia sudah berkorban


banyak untuk kebahagiaan wanita itu. Sayang..


sebesar apapun cinta nya pada Mayra tetap saja


kenyataannya dia adalah milik sahabatnya. Dan


kakak menyadari hal itu sepenuhnya. Aku tidak


tahu pasti bagaimana sekarang perasaannya.."


Deg !


Jantung Raya serasa copot saat ini juga. Dia


seakan kehilangan separuh jiwanya. Wajahnya


tampak langsung memucat. Perlahan tangan


nya memegangi dadanya yang mulai terasa


sesak, dan ada desakan cairan bening yang


kini mulai memaksa ingin keluar.


"Sampai sekarang dia masih mencintainya.


Dia masih selalu mengingatnya..!!"


Desis Raya sambil menundukkan kepala dan


memejamkan matanya kuat. Sakiiitt...!! Tidak,


ini rasanya sakit sekali hingga terasa seolah


mengiris seluruh Jiwanya membuat dia


kehilangan seluruh daya dan semangat nya.


"Tidak.! Kau salah..! Saat ini aku yakin kakak


sudah bisa melupakan semua masa lalunya.


Sekarang di hatinya hanya ada satu nama lain.."


"Tidak akan semudah itu baginya melupakan


masa lalunya Alea.."


Potong Raya sambil menggeleng kuat. Dia kini


bangkit dan berjalan dengan gontai keluar dari


ruang makeup. Namun langkahnya terhenti saat


matanya bersirobos tatap dengan mata elang


sosok yang sedang menjadi pusat kekalutannya.


Aaron berdiri tegak di depan ruangan itu dengan


sorot mata berat dan dalam memendam sebuah


rasa yang hampir saja membuatnya gila karena


sudah dari malam di tahannya.


Tanpa kata Aaron meraih tubuh lemah itu ke


dalam rengkuhannya, memeluknya erat dan


kuat seakan ingin menyembunyikan wanita


itu di kedalaman jiwa nya. Dia mendaratkan


ciuman lembut dan lama di kening Raya.


"Aku merindukanmu.. Maharaya.."


Bisiknya pelan dan gemetar yang membuat


tangis Raya pecah sudah. Dia balik memeluk


erat tubuh Aaron sambil memukuli punggung


laki-laki itu mencoba menyalurkan segala rasa


dan kesakitan yang kini telah mematahkan hati


dan jiwanya. Raya menangis dalam diam di


pelukan erat Aaron di saksikan oleh Alea dan


Ansel yang hanya bisa mematung di tempat.


Hati Ansel saat ini benar-benar patah, hancur


tak bersisa. Apalagi sekarang yang di ragukan


dari perasaan mereka berdua. Bahasa tubuh


saja sudah cukup menterjemahkan bagaimana


besar dan dalamnya perasaan mereka berdua.


Beberapa saat kemudian...


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8.


Dan acara tukar cincin akan di mulai pukul 8.


Semua orang sudah siap dengan setelan dan


gaun masing-masing. Alea dan Ansel kini ada


di luar kamar karena Aaron meminta waktu


berdua saja dengan Raya.


Aaron menatap tak berkedip tampilan Raya saat


ini. Istrinya itu tampak begitu memukau, tidak


cukup di gambarkan dengan kata-kata. Satu kata


untuknya malam ini, luar biasa cantik.! Namun


raut wajahnya tidaklah secerah dan secantik penampilannya. Dia tampak muram dan hancur.


Dengan telaten Raya merapihkan tampilan Aaron. Tangan nya kini mengelus pelan dasi yang telah


rapi, lalu beralih mengelus bagian dada dengan tatapan yang terlihat hampa. Apa ini Tuhan...


Dia mendandani suaminya sendiri yang akan


bertunangan dengan wanita lain. Kembali..ada


tetesan air mata yang jatuh membasahi wajah beningnya.


Rahang Aaron mengeras menyaksikan air mata


itu lagi-lagi jatuh. Wajahnya terlihat semakin


dingin membekukan. Tangan Aaron bergerak


mengangkat dagu Raya memaksa mata mereka


untuk saling menatap. Keduanya saling menatap


kuat dan dalam dengan gejolak perasaan yang


semakin tidak terkendali.


"Katakan..apa yang harus aku lakukan sekarang?


Akan aku lakukan apapun yang kau inginkan.!"


Desis Aaron sambil menarik dagu Raya hingga


kini wajah mereka hampir bersentuhan. Raya


memejamkan matanya kuat untuk menurunkan


seluruh air matanya dan menguatkan jiwanya.


"Lakukan apa yang terbaik untuk negara mu.


Jalankan semua agenda yang sudah tersusun


dengan baik.."


Lirih Raya sambil kembali membuka matanya


dan menatap teduh wajah tampan Aaron yang


kini semakin terlihat dingin. Cengkeraman nya


di dagu Raya semakin terasa kuat membuat


Raya meringis kesakitan.


"Lalu bagaimana dengan mu.? Kau yakin akan


tetap berdiri di posisi ini.?"


"Apalagi yang bisa aku lakukan sekarang.? Dari


awal kau sudah menempatkan ku di posisi ini.


Jadi inilah takdirku.! Bahkan di hatimu pun aku


akan tetap terpinggirkan..!!"


Desis Raya dengan luruhan air mata yang kian


deras membuat dirinya semakin terlihat hancur.


Kedua mata mereka masih saling menatap kuat


dengan sorot mata yang sangat rumit.


"Maharaya..aku memberimu satu kesempatan


lagi untuk menentukan keinginan mu.!"


Desis Aaron sambil menciumi kedua mata Raya


yang berurai air mata membuat Raya semakin


tidak sanggup lagi bertahan. Tapi dia tidak bisa


egois. Dia tidak bisa memiliki Aaron untuk


dirinya sendiri. Aaron milik rakyat dan negara


nya. Dengan gemetar dia meraup wajah Aaron, mengelusnya lembut penuh perasaan.


"Aku merelakan mu Aaron..Jadikan wanita yang


sudah di pilihkan keluargamu menjadi wanita


nomor satu di sisimu.."


Lirih Raya perih dan berdarah sambil kemudian


memagut bibir Aaron, ********** lembut dan


kuat di telan perasaan yang kini sedang hancur


lebur bahkan sebelum sempat berkembang.


Aaron terhenyak, tubuhnya tiba-tiba saja lemas.


Jiwa nya benar-benar jatuh saat ini..


***

__ADS_1


__ADS_2