
***
Nikmat Allah manalagi yang akan kita dusta kan.
Semua hal yang terjadi sudah terkonsep dengan
sangat sempurna dalam susunan riwayat hidup
setiap makhluk ciptaanNya. Maka.. kita sebagai
manusia hanya tinggal menjalani semuanya
sesuai dengan ketentuan dan petunjukNya.
Suasana pagi di Grand Marco Palace seperti
biasanya selalu di warnai berbagai kesibukan
dari para penghuni nya, terutama para pelayan
dan prajurit istana. Di pagi hari biasanya mereka
akan memulai aktifitas dengan melakukan apel
pagi terlebih dahulu di lanjut dengan pengarahan
dari kepala divisi masing-masing setelah itu
barulah kembali pada tugas dan pekerjaan
yang di bebankan.
Sedangkan bagi sang Putri Agung, hari ini dia di
agendakan untuk datang ke rumah sakit atau
istana guna memeriksakan kandungannya pada
pukul 10 pagi. Dan dia di sarankan untuk sarapan
pagi di dalam kamar saja untuk mengurangi
aktifitas berat yang bisa menguras tenaganya.
Seusai sholat subuh, Raya dan Aaron seperti
biasa kembali merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur super besar dan super mewah itu.
Aaron meraih tubuh ringkih istrinya ke dalam
pelukan dan penguasaannya sambil menciumi
puncak kepalanya tiada henti dan membisikan kata-kata pujaan yang sangat bertolak belakang
dengan sikap dingin seorang Aaron yang selama
ini melekat pada dirinya.
Bibir Raya tersenyum lembut kemudian dia
menyusupkan wajahnya di belahan dada Aaron
yang polos. Dia suka sekali menghirup aroma
khas tubuh suaminya yang sangat segar dan
membuai serta mampu memberikan rasa aman
dan nyaman pada jiwanya. Perlahan tangannya melingkar erat di punggung kokoh Aaron yang semakin mempererat dekapannya.
"Tidurlah sayang.. Aku akan menjagamu..Kau
harus istirahat dan memulihkan kondisi mu."
Bisik Aaron sambil mencium kening Raya yang
kini sudah mulai terbang ke alam bawah sadar.
Dia sudah terlelap dalam tidur tenangnya karena
ada sosok yang akan selalu hadir untuk menjaga
dan melindunginya.
Raya benar-benar lelah saat ini, tubuhnya bahkan
seakan remuk redam. Bagaimana tidak, semalam Aaron kembali mengeksplor tubuhnya dengan
sesuka hatinya. Dia mengatakan bahwa ini adalah malam pertama mereka setelah resmi menghuni kamar paling besar dan paling mewah di istana
ini. Dia tidak ingin melewatkan malam istimewa
ini begitu saja. Dan benar saja..laki-laki itu seolah
tidak ada bosannya dan tidak ada lelahnya untuk menikmati dan menjelajahi segala apa yang di
miliki oleh Maharaya.
Aaron terpaksa melepaskan pelukannya di tubuh
Raya dengan pelan dan hati-hati ketika ponselnya bergetar di atas nakas yang cukup jauh dari
jangkauan nya. Dengan bertelanjang dada dia
turun dari atas tempat tidur dan meraih ponselnya.
"Aaron.. Aku sudah memenuhi janjiku untuk
datang ke tempat ini.!"
Wajah Aaron langsung saja bereaksi aneh saat
mendengar suara serak dan sedikit lemah dari
seseorang yang sudah di tunggu kabarnya itu.
"Kau sudah ada di kota xx..? Jam berapa kalian datang.?"
"Aku datang semalam..! Apa kau akan datang
kesini.?"
"Tentu.! Aku akan kesana sekarang. Sebelum
semua di mulai aku pastikan sudah ada di sana.!"
"Baiklah.. Aku tunggu.!"
Aaron menutup telepon nya, merenung sejenak.
Dia melirik kearah Raya yang sedang tertidur
dengan tenang. Aaron menarik napas panjang.
Ini sangat berat baginya, tapi mau bagaimana
lagi, semua ini sudah di jadwalkan jauh-jauh hari
dan dia tidak bisa mengabaikan nya begitu saja.
Dia segera masuk ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian Aaron sudah keluar dari
dalam kamar ganti, sudah berpakaian rapi dan
terlihat sedikit santai.
"Alex.. kau sudah menyiapkan semuanya.? "
Aaron berbicara di telepon sambil merapihkan
lengan kemejanya dengan menggulung nya
sedikit ke atas.
"Semuanya sudah siap Yang Mulya. Kami sudah
ada di rooftop sekarang."
"Baiklah.. Aku akan naik sebentar lagi. Kau
sudah menghubungi Gregory untuk menjaga
dan mendampingi istriku hari ini.?"
"Sudah Yang Mulya. Semua team sudah siap.!"
"Bagus.! Aku akan naik sekarang.!"
Aaron menutup teleponnya. Dia mendekat kearah tempat tidur, menatap wajah Raya dengan sorot
mata terlihat berat. Dengan terpaksa dia harus
pergi meninggalkan istrinya itu. Aaron merangkak
naik keatas tempat tidur. Kemudian memeluk erat
tubuh Raya, enggan sekali untuk melepaskan nya.
"Maafkan aku sayang. Aku terpaksa harus pergi
tanpa memberitahu terlebih dahulu. Ini semua
sangat mendesak.!"
Bisik Aaron sambil mencium kening Raya lama.
Kemudian mendaratkan ciuman lembut di bibir
merah dan lembab itu yang selalu membuat dia
candu dan merindukan kelembutannya setiap
waktu. Setelah itu dengan berat hati akhirnya
Aaron pergi meninggalkan Raya yang masih
terlelap dalam tidurnya.
Sekitar pukul 8 , Raya membuka matanya saat
cahaya matahari sudah masuk menyinari seluruh
bagian ruangan di dalam kamar mewah nya itu.
Dan aroma coklat hangat kini menyebar menusuk
indera penciuman nya hingga membuat matanya
langsung melek dan membangkitkan semangat
nya untuk menjalani hari ini.
Namun saat menyadari sosok Aaron sudah tidak
ada di atas tempat tidur, Raya tampak terkejut.
Dengan tergesa-gesa dia turun dari atas tempat
tidur kemudian berjalan kearah kamar mandi,
mencari Aaron di sana. Dia menautkan alisnya
karena tidak menemukan sosok suaminya itu
di sana. Raya memutuskan mencari ke dalam
ruang kerja, namun tidak ada juga, akhirnya dia mencari ke balkon yang biasa di alih fungsikan menjadi ruang makan atau sarapan. Di sana
hanya ada Brenda dan dua asisten nya yang
sedang sibuk menata hidangan sarapan pagi
super komplit dengan nutrisi lengkap dan
mewah di atas meja marmer.
"Selamat pagi Princess.."
Mereka menyambut kemunculan Raya dengan
serempak sambil membungkukkan badan hormat
di hadapan nya. Sang Putri saat ini tampak masih mengenakan gaun tidur cantik yang membalut
manis tubuh indahnya. Walaupun baru bangun
tidur, namun pesona kecantikannya mampu
menyaingi sinar mentari pagi yang memancar
indah dan murni.
"Selamat pagi semua.. Brenda.. apa kau tahu
dimana Putra Mahkota berada sekarang.?"
Raya bertanya sambil bergerak duduk di kursi
yang sudah di siapkan oleh Brenda.
"Mohon maaf Princess..Yang Mulya Putra Mahkota pagi-pagi sekali sudah pergi. Tapi saya tidak tahu beliau pergi kemana karena beliau hanya berpesan agar saya memperhatikan kebutuhan anda."
Wajah Raya langsung berubah bingung dan sedikit murung. Pergi kemana Aaron, kenapa dia tidak membangunkan dirinya.?
__ADS_1
"Sebaiknya anda sarapan pagi sekarang. Setelah
itu jam 10 tepat anda harus berangkat ke rumah
sakit Princess.."
Brenda mengingatkan dan segera mendekatkan
hidangan ke hadapan Raya yang terlihat lesu dan
kehilangan mood nya. Namun saat dia mengingat
sekarang ini sedang berbadan dua, akhirnya dia
meraih gelas susu ibu hamil dan mulai meneguk
nya perlahan. Pikiran nya benar-benar tidak
tenang, kemana perginya Aaron.? Kenapa dia
pergi tanpa bilang dulu padanya.!
***
Raya keluar dari kamar nya dengan pakaian
lengkap yang terlihat sangat anggun dan elegan.
Dia tertegun sesaat, melihat barisan orang-orang
yang mulai saat ini akan menemani keseharian
dirinya. Ada Jessica sebagai asisten pribadinya,
ada Griz dan Gregory sebagai pelindung, Brenda
serta para asistennya sebagai pelayan pribadi
dan ada sekitar 6 orang pengawal pribadi wanita.
Belum lagi para prajurit pengawal kerajaan yang
akan selalu menemani kemana dia pergi karena
saat ini posisinya sebagai istri Putra Mahkota.
Ini semua adalah prosedur yang sudah mutlak
di terapkan karena sudah ketentuan.
"Selamat pagi Princess Maharaya.."
Mereka semua membungkukkan badan kompak
sambil menyapa bersamaan penuh hormat. Raya
menarik napas panjang. Tuhan.. mampukan dia
bertahan dengan aturan hidup yang kaku seperti
ini, inikah Takdir hidupnya yang sesungguhnya.?
"Selamat pagi semua.."
Sahut Raya sambil kemudian melangkah pergi
di ikuti oleh seluruh bawahannya. Jessica kini
berjalan di sebelahnya sambil menerangkan
agenda apa saja yang harus di jalankan oleh
Raya hari ini. Raya hanya melirik dan mengulas
senyum tipis saat menyadari Jessica tampak
nya sudah begitu menjiwai perannya sebagai
seorang asisten pribadi.
Tiba di ruangan depan menuju pintu utama
istana, Ratu Virginia dan Arabella tenyata sudah menanti kedatangannya di sana karena mereka berdua berencana akan mendampingi Raya ke
rumah sakit.
"Selamat pagi Yang Mulya Ibu Ratu.."
Raya menundukan kepala penuh hormat di
hadapan sang Ratu yang langsung tersenyum
tenang dengan wajah cerah ceria.
"Selamat pagi Princess.. Ayo kita berangkat
sekarang."
Sambut Ratu Virginia sambil kemudian menarik
tangan Raya dan menggenggam nya erat sambil
melangkah membuat Raya terkejut sesaat. Tapi
kemudian dia tersenyum lembut dan berjalan
bersama dengan sang mertua. Semua pelayan
dan penjaga istana menundukan kepala begitu
rombongan itu lewat dan melangkah keluar dari
istana menuju Limosin super mewah yang sudah
menanti tepat di depan pintu utama.
Akhirnya rombongan itu mulai melaju keluar
dari istana di kawal oleh pasukan patwal dan
satuan prajurit pengawal yang berada di depan,
di samping dan di belakang mobil utama. Raya kembali merenung, melihat kenyataan hidup
yang kini sedang di jalani nya. Dia Masih saja mencoba mengingkari semua ini, tapi ternyata
itu tidak mengubah realita bahwa dirinya saat
ini berstatus sebagai istri Pangeran Marvell..
Sang Putra Mahkota negara xxx..
"Jangan tegang menantu.. rileks.."
Raya tersentak ketika tangan halus Ratu Virginia
untuk tersenyum walaupun itu sulit. Saat ini dia
merasa ada yang kurang, ketidakhadiran Aaron
di sisinya membuat jiwanya hampa dan seakan kehilangan sebagian dirinya.
"Apa kau merasa tidak nyaman karena Aaron
tidak bisa menemani mu ?"
Ratu Virginia menatap kuat wajah Raya yang
terlihat memejamkan mata sejenak, dia mencoba
untuk menepis semua ketidaknyamanan ini.
"Tidak Yang Mulya.. keberadaan kalian berdua
sudah lebih dari cukup buat saya."
Jawab Raya masih mencoba untuk tersenyum.
Ratu Virginia kembali tersenyum lembut sambil mengelus rambut Raya.
"Jangan di pikirkan. Aaron memang begitu, dia
selalu menghilang dan muncul kapan saja sesuai dengan keinginannya. Makanya selama ini kami
tidak bisa mengikatnya dengan peraturan."
Lirih Ratu Virginia sambil merebahkan tubuhnya
ke sandaran jok. Raya terdiam dalam lamunan.
Ini adalah moment yang cukup penting bagi
kehamilannya, tapi kenapa Aaron malahan
menghilang tanpa kabar begini.!
Tidak memakan waktu lama akhirnya mereka
tiba di rumah sakit dan mendapat sambutan
resmi dari kepala rumah sakit serta semua team
dokter yang bertugas hari ini. Mereka juga di
sambut khusus oleh team dokter obgyn yang
akan menangani kehamilan Raya.
Tanpa banyak basa-basi Raya langsung di bawa
ke ruangan paling atas yang sudah di siapkan
sebagai tempat pemeriksaan kehamilan, khusus
bagi anggota keluarga kerajaan.
Dokter Zuhra.. kepala staf dokter obgyn di rumah
sakit istana ini dan merupakan dokter spesialis kandungan terbaik di negara ini, dialah yang
mendapat mandat untuk menangani kehamilan
Raya. Dia seorang muslim dan mengenakkan hijab. Dokter berusia sekitar 50 tahun itu sangat antusias dan begitu detail dalam melakukan pemeriksaan
terhadap Raya. Sesekali dia tampak menautkan
alis dan berdecak kagum saat menyadari berbagai
hal menarik dari pasangan fenomenal ini.
Ratu Virginia dan Arabella tampak selalu setia menemani dan melihat langsung segala proses pemeriksaan. Perut Raya memang masih terlihat
rata saat ini tapi di bagian bawah perutnya sudah mengeras serta menegang dan ada bulatan kecil sempurna di sekitar nya.
"Yang Mulya Ratu dan Princess..Semua hasil pemeriksaan menunjukkan tren yang sangat
positif. Perkembangan janin bahkan bisa di
bilang sangat sempurna. Semuanya sudah
sesuai dengan yang seharusnya."
Dokter Zuhra mulai menerangkan setelah proses
pemeriksaan yang menghabiskan waktu hampir
2 jam lamanya itu akhirnya selesai. Entah apa
saja yang dilakukan oleh dokter dan team nya
itu karena yang jelas Raya harus melakukan
berbagai prosedur pemeriksaan. Mereka semua
kini duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Dan
sang dokter tampak menghadap ketiganya
sambil mengamati tampilan gambar di laptop.
"Syukurlah kalau begitu Dokter.. Jadi menantu
ku ini benar-benar mampu mengandung benih
keturunan putraku.? Selama ini kami bahkan
tidak berani berharap akan mendapat penerus
dari Putera Mahkota !"
Ratu Virginia dan Arabella tampak bernafas lega.
Sementara Raya terlihat berbinar sambil menatap
haru kearah perutnya dan mengelusnya lembut.
"Dokter.. bisa anda jelaskan..ada apa sebenarnya
dengan benih Putra Mahkota yang tidak bisa
tumbuh di sembarang rahim.? Saya benar-benar
tidak mengerti dengan hal itu."
Raya akhirnya mengeluarkan segala unek-unek
__ADS_1
nya yang mengganjal dari semalam. Selama ini
dia memang tidak mengetahui hal itu, jadi semua
ini membuatnya penasaran. Dan apakah itu akan
berdampak pada kehamilan serta perkembangan
janin yang sekarang sedang di kandungnya.?
Dokter Zuhra tersenyum lembut. Dia segera
memperlihatkan sebuah analisis observasi
yang ada di layar laptopnya.
"Yang Mulya Princess Maharaya.. Pangeran
Marvell memiliki golongan darah Rhnull Blood
positif. Dan ini sangatlah langka. Golongan
darahnya ini terbentuk dengan keistimewaannya sendiri bukan dari faktor keturunan. Selain itu Pangeran juga memilki gen yang sangat berbeda
dari kebanyakan manusia akibat terjadinya mutasi
gen sewaktu di lahirkan dan hal ini mempengaruhi
sel darah, kromosom serta sel sp*rm*nya. Semua
itu membentuk satu perubahan di sel sp*rm* yang sangat kuat dan istimewa namun juga mematikan.!"
Wajah Raya langsung berubah pias, dia menatap
lekat layar laptop yang sedang menunjukkan
proses percampuran dan pertumbuhan berbagai
sel dan kromosom dan entah apalagi karena dia
tidak memahami semua itu.
"Apa maksud mematikan di sini Dokter.? Apakah
itu akan berdampak pada kehamilan ku.?"
Suara Raya terdengar bergetar dan ada nada
kecemasan yang tersirat dari suaranya. Ratu
Virginia meraih tubuh Raya dan merangkul bahu
nya erat berusaha menenangkan. Doktor Zuhra
kembali tersenyum lembut, dia menggeleng
tipis dengan pancaran sinar kekaguman terlihat
jelas terhadap sosok Raya.
"Maksud mematikan di sini adalah.. Kalau benih
yang di miliki oleh Pangeran bercampur dengan
sel telur wanita yang tidak memiliki kecocokan
sel darah dan golongan darah dengan pangeran,
maka benih itu tidak akan bisa tumbuh, justru
akan menjadi sel pembunuh kesuburan bagi
wanita yang di buahi tersebut. Wanita itu akan mengalami pendarahan dan keguguran bahkan
bisa mengakibatkan pengeringan sel telur."
"Apa.?? seganas itu kah.?"
Raya dan Arabella berseru bersamaan dengan
wajah yang terlihat memucat. Raya menggeleng
kuat dengan tatapan tidak percaya dan tangan
nya semakin kuat memegang perut bagian
bawahnya.
"Jangan khawatir Princess, hal itu tidak akan
terjadi pada anda. Karena anda memiliki
golongan darah dan sel telur yang sangat cocok
serta bisa mengimbangi keistimewaan yang di
miliki Pangeran. Selain itu sel darah yang anda
miliki juga sangat berbeda dan istimewa."
"Memangnya golongan darah menantu ku ini
apa dokter.?"
Ratu Virginia menatap penasaran ke arah dokter
Zuhra yang kembali menampilkan layar laptop
nya dengan hasil observasi yang berbeda.
"Golongan darah Princess Maharaya satu tipe
dengan Putra Mahkota, sangat langka dan ini
jarang di temukan. Golongan darahnya di sebut
McLeod.. Jadi kalian berdua saling melengkapi.
Masing-masing memiliki kelebihan dan juga
kekurangan. Kalian harus selalu saling menjaga
karena apa yang kalian miliki sangat langka."
Raya tampak menggelengkan kepalanya kuat.
Ini tidak benar, yang dia tahu dirinya memiliki
golongan darah AB positif..Tapi kenapa dokter
Zuhra malah menyatakan hal lain.?
"Anda pasti salah dokter. Ini pasti tidak benar."
"Golongan darah yang anda miliki tidak bisa
di deteksi dengan alat-alat biasa. Butuh alat
khusus untuk mendeteksi dan menentukannya Princess."
Ratu Virginia melirik dan menatap lekat wajah
Raya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau
akhirnya Putra nya akan menemukan pasangan
hidup yang sangat tepat untuk mendampingi
dirinya. Memang benar, Tuhan akan memberikan pasangan hidup sesuai dengan kebutuhannya.
"Untuk sekarang ini saya sarankan, kurangi
sedikit saja frekuensi hubungan intim kalian.
Untuk menjaga kestabilan perkembangan
janin nya agar tidak menimbulkan syok."
Dokter Zahra berucap sembari tersenyum
penuh arti yang membuat wajah cantik Raya
berubah semerah tomat, malu bukan kepalang.
Beberapa waktu kemudian..
Dari pagi Raya mencoba menghubungi nomor
Aaron tapi tidak pernah tersambung. Entah apa
yang sedang di lakukan pria itu sampai dia tidak
punya waktu untuk menghubungi dirinya.
Bukankah dia tahu kalau hari ini dirinya punya
jadwal pemeriksaan kehamilan ? Dan seperti
lazim nya pasangan lain, dia pun berharap Aaron
akan mendampingi dirinya sebagai suami. Tapi
kenyataannya sekarang apa, Aaron malah
menghilang tanpa jejak. Hatinya sakit bukan
main, pemeriksaan pertamanya di lewatkan
Aaron begitu saja.
Melihat raut wajah Raya yang terlihat sedih dan
murung serta tidak bersemangat akhirnya Ratu Virginia menyuruh Arabella untuk mengajak Raya
jalan-jalan ke tempat wisata yang paling bagus
dan paling aman di tengah kota. Sementara sang
Ratu sendiri memutuskan kembali ke istana.
Arabella akhirnya mengajak Raya mengunjungi
sebuah tempat wisata bertajuk Fantasi Island..
yang merupakan wahana wisata terpopuler di
negara xxx..dan berlokasi di pusat kota milik
keluarga perdana menteri yang sekarang ini
sedang menjabat.
Kedatangan rombongan Raya dan Arabella di
sambut langsung oleh pihak pengelola taman
wisata tersebut. Dan area pun sudah disterilkan terlebih dahulu. Namum tetap saja banyak dari
pengunjung dan wartawan yang mencoba untuk
merangsek maju ingin lebih dekat melihat sosok
super cantik Princess Maharaya.
Kepala pengembang wahana wisata tersebut
langsung membimbing Raya memasuki area
dalam untuk menjelajahi seluruh lokasi. Namun
ketika mereka tiba di area aquarium raksasa,
rombongan Raya di sambutan oleh jajaran
direksi dan Owner dari tempat wisata ini.
"Selamat datang Princess Agung Maharaya
Emeera As Syaf Sulaiman.."
Sambut Sang Owner dengan wajah datar dan
dingin namun sorot matanya tidak bisa di
sembunyikan kalau dia sangat mencintai dan
begitu merindukan sosok cantik jelita yang
ada di hadapannya ini yang kini telah berubah
100 persen segalanya, kecuali kecantikannya.
Tubuh Raya membeku seketika, dia mematung
dengan mata yang membulat sempurna tidak
percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
Mata mereka saling menatap kuat. Ada berbagai
rasa yang kini berkecamuk di dada mereka...
Bibir Raya bergetar ingin menyapa pria itu, tapi
keterkejutan nya membuat suaranya tidak keluar..
__ADS_1
***