
Kedua sahabat yang sudah satu bulan lebih
tidak bersua itu masih saling berangkulan
melepas rindu sambil bertangis-tangisan.
"Jessica.. aku kangen banget sama kamu."
"Aku juga..Kami kehilangan kontak kamu Ray.
Aku kira kamu sudah di telan bumi hiks..hiks."
"Aku tidak menyangka kalau kamu akan datang
kesini. Bagaimana ini bisa terjadi Jes.?"
Keduanya saling melepaskan rangkulan. Raya
membawa Jessica untuk duduk di ruang yang
berbeda dengan Aaron dan para bawahannya.
Keduanya kini duduk berhadapan, saling
berpegangan tangan.
"Apa yang terjadi Jes, siapa yang membawa
mu kesini.? Apakah Griz datang kesana.?"
Raya bertanya sambil melirik kearah Griz yang
tadi datang bersama dengan Jessica. Setelah
peristiwa kereta cepat kemarin dia memang
belum bertemu lagi dengan pengawalnya itu.
"Iya.. wanita tomboy itu yang membawaku ke
tempat ini. Raya.. kau baik-baik saja kan.?"
Keduanya saling pandang lekat, Jessica tampak
mengamati kondisi Raya yang terlihat begitu
berbeda. Saat ini sahabatnya itu tampil lebih
memukau dan bercahaya.
"Percayalah.. Aku dalam keadaan baik Jes."
"Apa kau bahagia dengan pernikahan mu.?
Karena aku tahu awal pernikahan ini seperti
apa, aku sangat mencemaskan mu."
"Aku baik-baik saja Jes, bahkan sangat baik.
Karena sekarang aku sedang mengandung."
"A-apa.? Kau...kau hamil Ray..?"
Jessica tampak terkejut bukan main. Wajahnya
terlihat syok dan tidak percaya. Ini adalah kabar
yang sangat mengejutkan. Raya mengangguk
yakin seraya tersenyum lembut.
"Iya Jes..Tuhan telah memberiku kepercayaan.
Dan aku harus menjaganya dengan baik."
"Ya Tuhan.. Raya.. selamat ya sayang.. Kamu
akan menjadi wanita seutuhnya.."
Keduanya kembali saling berangkulan penuh
keharuan. Ini benar-benar surprise bagi Jessica.
Sementara itu Alex dan Griz yang tadi datang
bersama dengan Jessica langsung mendekat
kearah Aaron, kemudian membungkuk setengah
badan di hadapannya. Ternyata Alex tadi pergi
ke bandara untuk menjemput mereka berdua.
Dan dua hari ini Griz beserta pasukan khususnya
pergi ke negara asal Raya untuk mencari dan mengumpulkan bukti akurat tentang jati diri
seorang Maharaya.
Selain itu Griz juga di perintahkan membawa
Jessica karena Raya membutuhkan gadis itu.
Sahabat Raya yang satu itu juga cukup cerdas
dan merupakan ahli ITE yang cukup handal.
Jadi dia bisa di pekerjakan sebagai asisten
pribadi Raya karena bisa di percaya.
"Yang Mulya misi nya sudah saya laksanakan."
Griz melapor sambil mengulurkan tablet kecil ke hadapan Aaron yang langsung menerima dan membuka isinya, menelitinya dengan seksama
dengan gaya duduk yang sangat elegan. Kakinya menyilang sementara punggung bersandar ke
sofa. Sedang Ansel dan bawahannya terlihat
kembali sibuk mengumpulkan dan menelusuri informasi tentang semua gerakkan yang saat
ini terjadi semakin masif saja.
"Hemm..Kau sudah bisa bertugas kembali mulai
hari ini untuk mengawalnya. Siapkan pasukan
Ring Angel mu untuk mengantisipasi keadaan
yang mungkin saja akan terjadi."
"Baik Yang Mulya.. saya sudah menyiapkan
semuanya.!"
"Bagus.! Kamu bisa berkoordinasi dengan
Gregory kalau ada kendala.!"
"Baik Yang Mulya."
Raut wajah Aaron tampak berubah serius. Dia
kembali meneliti semua bukti yang ada dalam
tablet tersebut. Ekspresi wajah nya tampak
sedikit terkejut lalu termenung. Ternyata hasil penyelidikan awal yang telah di lakukan oleh bawahannya yang ada di negara asal Raya
benar semuanya.
"Jadi benar dia memiliki klan darah istimewa.?
Dia bukan putri kandung Danu Atmaja.?"
"Benar Yang Mulya.. Lady Maharaya memilki
Doble blood dari klan berbeda. Dia sengaja di
asingkan dan di hapus identitasnya sebab di
anggap akan membawa pengaruh buruk pada
seluruh keluarga besar Ayah kandung nya
karena beliau lahir sebagai perempuan, tidak
seperti yang di harapkan."
Sahut Griz sambil menunduk dalam. Ansel dan
semua bawahan Aaron tampak terkejut. Mereka benar-benar penasaran dengan hasil yang di
bawa oleh Griz dan team nya. Aaron melirik
kearah Raya yang terlihat masih berbincang
serius dengan Jessica.
"Apa dia sudah mengetahui semua ini.? Dia
tahu siapa keluarga sejatinya ?"
"Lady sudah mengetahui segalanya Yang Mulya.
Tuan Danu sudah menceritakan semuanya pada
lady saat beliau menginjak remaja. Dan Beberapa
kali beliau sudah bertemu dengan ibu kandung
nya secara rahasia."
"Kenapa harus Danu Atmaja yang menjadi orang
tua asuh nya.? Dia bahkan berani menjualnya
pada penjahat itu.!"
"Istri Tuan Danu adalah sahabat Ibu kandungnya
lady Maharaya yang ternyata mampu memberi
ASI yang cocok dengan gen lady yang istimewa.
Namun sayang Ibu asuh Lady memiliki penyakit
yang sangat berat hingga akhirnya meninggal
saat lady berusia 8 tahun."
Kembali Griz menjelaskan. Aaron menatap Raya
yang kini datang menghampirinya di ikuti oleh
Jessica yang terlihat menundukkan kepala di
telan kegugupan saat mendekat kearah Aaron.
"Salam hormat saya untuk Yang Mulya.."
Jessica membungkukkan badan penuh hormat
di hadapan Aaron yang membuat Raya terkejut
dan bengong. Apa ini, apakah Jessica sudah
tahu tentang jati diri Aaron ?
"Jes..kau sudah tahu siapa dia.?"
Raya menatap Aaron dan Jessica bergantian.
Kepala Jessica makin tertunduk dalam.
"Sudah, Griz sudah memberitahu semuanya
lengkap. Bahkan aku sudah pingsan dua kali."
Sahut Jessica masih menundukkan kepalanya
di hadapan Aaron. Raya menarik nafas panjang.
Dia melirik kearah Aaron yang terlihat acuh dan
datar saja.
"Kau tahu maksudku menyuruhmu datang ke
tempat ini.? Griz sudah mengatakan semua.?"
Suara Aaron terdengar tegas dan berat hingga
membuat lutut Jessica bergetar seketika.
"Sudah Yang Mulya.. Saya sudah faham."
"Kau siap dengan tugas itu.?"
"Dengan senang hati Yang Mulya. Saya akan
mengabdikan diri untuk mendampingi Lady
Maharaya.. seumur hidup saya.."
"Jessica.. apa-apaan ini ? Apa maksudmu.?"
Raya menarik tangan Jessica yang terlihat
sedikit canggung karena segan terhadap Aaron.
"Aku menyuruh nya datang kesini selain untuk
menemuimu, juga untuk bekerja.!"
Tegas Aaron sambil menyimpan tablet tadi di
atas meja. Matanya kini saling menatap dengan
mata Raya yang terlihat bahagia namun sedikit
bingung dengan maksud Aaron.
"Jadi..kau yang sudah meminta Jessica datang
kesini.? Aku tidak menyangka kalau kau sangat
faham yang aku inginkan aa.."
Ucapan Raya terpotong ketika Aaron tiba-tiba
menarik tubuhnya untuk duduk di pangkuannya.
Sontak saja Raya terkejut dan mencoba untuk
__ADS_1
turun, namun tangan Aaron sudah mengunci
pinggangnya dengan kuat.
"Apa yang tidak aku ketahui tentang apa yang
kau inginkan Lady Maharaya..!"
Wajah Raya kini merah padam. Semua bawahan
menundukkan kepalanya melihat kemesraan
yang di pertontonkan oleh Aaron, berbeda dengan Ansel, dia langsung mendengus dan memalingkan wajahnya. Lain lagi dengan Jessica, dia justru
sedikit syok melihat semua perlakuan Aaron,
karena dulu pada saat pernikahan keadaannya
tidaklah seperti ini.
"Aaron.. tolong lepaskan aku. Banyak orang di
sini, kita tidak bisa berbuat sesuka hati di depan
orang, kehormatan terletak pada apa yang kita
perlihatkan di mata orang."
"Mereka semua bawahan kita !"
"Tetap saja mereka juga manusia, sama hal nya
seperti kita. Ayo biarkan aku turun."
"Aku akan pergi. Jadi biarkan kita dalam posisi
seperti ini sebentar lagi."
"Kau akan pergi, ke istana kah ?"
"Pihak istana sudah menghubungi terus dari
pagi untuk melakukan konfrontasi pada Kakak.
Akan di adakan rapat darurat besar-besaran.
Kalau kakak tidak datang satu jam lagi pihak
istana akan melakukan penjemputan paksa
ke tempat ini."
Kali ini Ansel yang berbicara. Raya terdiam,
raut wajahnya tampak kembali tidak nyaman.
Mata mereka saling menatap lekat mencoba
untuk meyakinkan diri masing-masing.
"Aaron..kau dalam masalah besar karena aku.
Kenapa kamu harus memilih jalan ini.?"
"Kau percaya Takdir Tuhan.? Biarkan Kuasa
Tuhan yang akan menentukan segalanya."
Mata Raya tampak menatap teduh wajah Aaron
dengan haru, tenyata pria ini tidak main-main
dengan komitmen terhadap keyakinan yang di
anutnya sekarang.
"Apa aku sudah boleh pulang ke White House.?
Aku sudah merasa jauh lebih baik."
"Tidak.. kondisimu belum pulih total. Tetaplah
di sini. Griz dan Jessica akan menemani mu.
Mulai hari ini sahabatmu itu resmi menjadi
asisten pribadimu.!"
"A-apa.? asisten pribadi ku..?"
Raya tampak terkejut, menatap Aaron dan
Jessica secara bergantian.
"Hemm..dia akan menghandle semua urusan
mu, mulai sekarang kau hanya harus fokus
pada kandungan mu, biarkan mereka semua
yang bekerja untuk mu.."
"Tapi Aaron..aku adalah sekretaris pribadi mu.."
"Tentu saja, di mata dunia kau masih sekretaris
ku. Kita akan bermain dengan status mu itu.
Kita lihat bagaimana respon masyarakat nanti."
Aaron mengecup lembut bibir Raya, setelah
itu dia melepaskan belitan tangannya. Semua
bawahannya mengakhiri kegiatan dan bersiap
untuk pergi ke tempat masing-masing.
Raya membantu Aaron memakaikan dasinya.
Sementara Jessica mendapat arahan dari Alex
agar mulai bekerja sekarang juga di dampingi
oleh Griz. Mereka bertiga duduk di depan laptop
dan segera memantau segala perkembangan.
Untuk sesaat Jessica tampak terkejut melihat
apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu.
Sebesar inikah masalah yang di hadapinya.?
Sungguh dia tidak menduga kalau perjalanan
hidup Raya akan sejauh dan serumit ini.
"Aku akan pergi, mungkin sampai nanti malam.
Setelah semua selesai kita akan pergi ke suatu
tempat. Kau perlu merefresh otakmu.."
Ujar Aaron sambil mencium kening Raya yang
memejamkan mata mencoba meresapi segala
rasa yang kini memenuhi dadanya. Keduanya
saling memagut lembut dan hangat..
***
Waktu terus merayap semakin sore...
Sejak kepergian Aaron, Raya mencoba untuk
beristirahat setelah berbincang dengan Jessica
mengenai kabar keluarganya. Menurut Jessica
sekarang ini kondisi ekonomi keluarga Tuan Danu sudah sangat stabil karena kucuran dana besar
yang telah di gelontorkan oleh Aaron. Dan seluruh anggota keluarganya hidup sejahtera. Bahkan
kedua saudara tirinya semakin bertingkah arogan
karena ekonomi keluarga mereka yang semakin gemilang. Hanya saja Arka sering melamun
karena merindukan Raya.
Saat ini Jessica dan Griz tampak sedang serius memantau semua perkembangan. Keadaan di
dunia maya detik ini semakin gempar. Terjadi
perang opini dari netizen tentang keberadaan
Raya di sisi Putra Mahkota yang di anggap telah
menjadi racun yang sangat berbisa dan mampu
merusak semua tatanan agenda istana. Mereka
rata-rata menginginkan pengasingan terhadap
Raya dan mempercepat proses pernikahan
antara Putra Mahkota dengan Catharina. Sudah
tidak terhitung banyaknya hujatan sadis yang di alamatkan pada Raya hingga membuat Jessica
terbakar emosi.
Namun banyak juga yang berpendapat kalau
keberadaan Raya wajar adanya, karena seorang
Putra Mahkota bebas memiliki pendamping di
belakang layar berapapun jumlahnya. Secara dia
adalah calon Raja yang lebih dari mampu baik itu
dari segi fisik ataupun materi. Dan tidak di duga
antara yang kontra dengan yang pro jumlahnya
hampir berbanding lurus.
Raya merebahkan kepalanya ke sandaran sofa
sambil menarik nafas panjang setelah melihat
perkembangan yang terjadi di dunia maya. Ke
dalam ruangan muncul beberapa pengawal
yang membawakan puluhan buket bunga ke
hadapan Raya yang terlihat bingung.
"Lady ada kiriman bunga untuk anda.."
Ujar salah seorang nya sambil membungkuk
di hadapan Raya di ikuti oleh yang lainnya.
"Bunga dari siapa.? Aku tidak punya banyak
kenalan di negara ini. Tolong letakkan saja
di meja."
"Baik Lady.."
Para pengawal tadi meletakkan bunga-bunga
cantik yang beraneka ragam itu di atas meja.
Namun alis Raya semakin bertaut ketika para pengawal kembali masuk dengan membawa
bunga yang lain dari luar menggunakan troli
besar. Raya dan Jessica melongo saat melihat
banyaknya bunga yang datang, apa-apaan ini.?
"Jes.. coba kamu periksa semuanya.!"
"Oke..kita lihat siapa yang sudah mengirimkan
bunga sebanyak ini padamu."
Jessica beranjak dari duduknya lalu mengecek
pengirim bunga-bunga itu. Matanya membulat
saat melihat ID pengirim bunga-bunga itu datang
dari orang yang sama. Aaron Marvell De Enzo.!
"Semua bunga ini di kirim oleh Yang Mulya.."
Hahh.? Wajah Raya langsung saja memerah.
Apa-apaan pria itu, apa maksudnya mengirim
bunga sebanyak ini.? Dia bergerak memeriksa
sendiri bunga-bunga itu. Raya menggelengkan
kepalanya kuat. Tulisan yang ada di semua
bunga isinya sama For My World..!
Isshh.. ternyata pria aneh itu bisa romantis juga
walaupun terkesan kaku. Bibir Raya terangkat
manis sambil meraih satu buket bunga yang
paling cantik kemudian menghirupnya lembut.
"Gila Ray.. segila inikah cinta Prince Marvell
sama kamu ? Aku benar-benar gak nyangka.!"
Jessica berdecak tak habis pikir dengan semua
kegilaan ini. Dia masih melihat dan mengecek gunungan bunga yang kini sudah memenuhi
satu pojokan ruang dalam kamar itu.
Raya tertegun mendengar perkataan Jessica.
__ADS_1
Cinta.? Hahh.. tidak mungkin.! Memangnya
masih ada cinta di hati pria itu yang tersisa
untuk nya.? Bukankah seluruh hati dan cinta
Aaron hanya untuk satu orang saja ? Semua
ini dia lakukan semata-mata hanya karena janin
yang sedang di kandung nya. Keturunan yang
selama ini telah menjadi alasan kenapa dirinya
ada di tempat ini.Tiba-tiba saja rasa sakit itu
kembali mencuat menorehkan rasa perih di sanubarinya.
"Cinta..? Ini bukan cinta Jes..! Ini hanya ekspresi
kesenangannya saja karena apa yang dia inginkan
akhirnya akan segera terwujud. Lagipula dia
orangnya memang sedikit aneh dan berlebihan.!"
Elak Raya sambil kemudian melangkah pergi ke
arah balkon kamar untuk menghirup udara segar.
Jessica hanya bisa menatapnya dalam diam, ada
seulas senyum di bibirnya. Dasar wanita naif.!
Sampai menjelang malam kiriman yang lain terus
saja berdatangan. Di mulai dari makanan berat,
cemilan sampai buah-buahan yang banyaknya
tidak tanggung-tanggung. Dan hal itu bukannya
membuat Raya senang, malah membuatnya
kesal dan jengkel. Aaroon.. apa-apaan sih dia.?
Waktu terus merayap malam...
Raya mulai di rundung rasa tidak nyaman karena
Aaron belum juga kembali. Seperti biasa pria itu
juga tidak memberi kabar lewat telepon atau
apapun, membuat dirinya di telan kegelisahan.
Dia tidak tahu saja, sebenarnya setiap 15 menit
sekali Jessica rutin mengirim laporan tentang
kegiatan yang sedang di lakukan oleh Raya pada
Alex atas perintah Aaron. Karena saat ini Sang
Pangeran sedang sangat sibuk, dia harus datang
dan menghadiri sidang dadakan dari berbagai
pihak terkait. Mulai dari Istana, berpindah ke
parlemen dan berakhir dengan para senator.
Selama kegiatan itu berlangsung, perhatian
Aaron hanya fokus pada layar ponselnya saja,
menatap lekat gambar Raya yang di kirimkan
oleh Alex. Ini benar-benar gila ! Pikirannya tidak
pernah bisa lepas sedetikpun dari wanita ini.
Isi rapat itu semua sama, melakukan interogasi
atas insiden yang terjadi tadi malam. Dan seperti
biasanya seorang Aaron..dia tetap cool, santai
bahkan cenderung acuh.. Dia hanya menegaskan
satu hal bahwa sekretaris nya itu memiliki peran
penting dalam hidupnya sekarang ini.. Dan dari
pernyataan Aaron tersebut semua pihak sudah
menarik kesimpulan bahwa Putra Mahkota
menaruh perhatian lebih pada sekretaris nya itu.
Jessica dan Griz langsung berdiri menyambut
kedatangan Aaron ke dalam ruangan saat waktu
sudah menunjukan pukul 12 malam. Saat ini
Raya sudah tertidur lelap setelah mendapatkan pengecekan menyeluruh yang di lakukan oleh
Alea untuk memastikan kondisinya.
Aaron datang bersama Alea dan sudah siap
dengan mantel tebal yang membungkus tubuh
mereka masing-masing.
"Bagaimana kondisinya sekarang.?"
Aaron menatap lekat wajah cantik Raya yang
terlihat sedikit gelisah dalam tidurnya.
"Semuanya sudah normal. Calon bayi kalian
sudah mulai memperlihatkan keistimewaan
nya, dia memberi energi yang sangat kuat
pada ibunya."
Sahut Alea sambil merapihkan beberapa alat
medis ke dalam tas kecil nya. Aaron mendekat
ke sisi tempat tidur kemudian mencondongkan
tubuh nya, lalu mencium lembut kening Raya
setelah itu mendaratkan ciuman hangat di bibir
ranumnya yang sangat menggoda.
"Mereka berdua memang sangat istimewa.
Kita berangkat sekarang juga.! "
Ucapnya. Jessica mendekat lalu mengulurkan
mantel tebal lembut ke hadapan Aaron yang
langsung menerimanya. Dengan hati-hati dia
memakaikan mantel itu ke tubuh Raya agar
tidak membangunkan nya. Setelah semuanya
siap Aaron segera mengangkat tubuh Raya ke
dalam pelukannya, menggendong nya ringan
dan melangkah keluar dari ruangan itu di ikuti
oleh seluruh jajarannya.
Rombongan mereka tiba di stasiun kereta api
bawah tanah. Aaron terpaksa pergi dengan
menggunakan transportasi ini karena kondisi
Raya yang tidak memungkinkan untuk naik
pesawat. Selama di perjalanan Raya terlelap
dalam tidurnya karena Alea sengaja membuat
dia tertidur agar kepergian ini menjadi kejutan
bagi Raya.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar
3 jam lebih dengan kereta cepat bawah tanah
mereka tiba di tempat tujuan dan melanjutkan
perjalanan dengan menggunakaan mobil untuk
bisa mencapai puncak Carrington mountain,
yakni sebuah pegunungan bersalju yang menjadi
salah satu pusat wisata dunia karena keindahan
serta memiliki fasilitas ski terbaik di dunia dan
gunung ini merupakan aset penting negara xxx..
"Sayang.. bangunlah.."
Aaron berbisik lembut di telinga Raya begitu
mereka tiba di depan penginapan eksklusif
milik keluarga De Enzo yang sudah di sterilkan
terlebih dahulu. Matahari baru saja muncul di
ufuk timur membiaskan cahaya kemilau indah
menerobos masuk lewat kaca mobil dan jatuh
menerpa wajah cantik Raya yang meringkuk
nyaman dalam pangkuan Aaron.
Raya membuka matanya perlahan, kemudian
memicing berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk lewat retina matanya. Begitu sadar mata
nya langsung bertemu dengan mata berat Aaron
yang sedang menatapnya dalam. Dari tadi dia berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak
menerkam Raya yang terlihat begitu menggoda
di bawah kilauan sinar mentari pagi..
"Good morning baby.."
Wajah Raya langsung memerah, sebelum dia
berusaha bangkit Aaron sudah mendaratkan
ciuman mesra di bibirnya membuat wajah
Raya semakin memerah seluruhnya.
"Selamat pagi.. A-Aaron..ada di mana kita.?
Kenapa kita ada di mobil.?"
Raya bangkit lalu turun dari atas pangkuan Aaron. Namun sesaat kemudian dia tampak terkejut,
bingung dan berubah senang saat mengintip
keluar dari kaca mobil.
"A-Aaron...kita ada di pegunungan bersalju..??"
Raya memekik tertahan sambil menutup mulut
dan menatap takjub kearah luar dimana hanya
ada hamparan putih bersih sejauh mata melihat.
"Kau menyukainya..?"
Wajah Aaron tampak sedikit berekspresi aneh,
senang melihat reaksi bahagia yang tergambar
dari raut wajah cantik istrinya.
"Aku sangat menyukainya. Sudah lama sekali
aku ingin datang ke tempat seperti ini.."
Sahut Raya masih dengan raut wajah yang
terlihat begitu senang.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal.
Kita bisa pergi kemana pun kamu mau. Kalau
begitu..ayo kita keluar sekarang."
Aaron menggenggam erat tangan Raya lalu
keduanya bergerak keluar dari dalam mobil.
Tiba diluar mereka di sambut oleh Alex dan
Benjamin serta beberapa pengawal pribadi
yang langsung membungkukkan badan. Di
sana juga sudah ada dua Pangeran tampan
sahabat Aaron dan seorang pria muda asing
yang berdiri di samping Alea dan sedang
menatap kearah dirinya, terkesima luar biasa..
__ADS_1
***