Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
76. Gempar


__ADS_3

Kedua sahabat yang sudah satu bulan lebih


tidak bersua itu masih saling berangkulan


melepas rindu sambil bertangis-tangisan.


"Jessica.. aku kangen banget sama kamu."


"Aku juga..Kami kehilangan kontak kamu Ray.


Aku kira kamu sudah di telan bumi hiks..hiks."


"Aku tidak menyangka kalau kamu akan datang


kesini. Bagaimana ini bisa terjadi Jes.?"


Keduanya saling melepaskan rangkulan. Raya


membawa Jessica untuk duduk di ruang yang


berbeda dengan Aaron dan para bawahannya.


Keduanya kini duduk berhadapan, saling


berpegangan tangan.


"Apa yang terjadi Jes, siapa yang membawa


mu kesini.? Apakah Griz datang kesana.?"


Raya bertanya sambil melirik kearah Griz yang


tadi datang bersama dengan Jessica. Setelah


peristiwa kereta cepat kemarin dia memang


belum bertemu lagi dengan pengawalnya itu.


"Iya.. wanita tomboy itu yang membawaku ke


tempat ini. Raya.. kau baik-baik saja kan.?"


Keduanya saling pandang lekat, Jessica tampak


mengamati kondisi Raya yang terlihat begitu


berbeda. Saat ini sahabatnya itu tampil lebih


memukau dan bercahaya.


"Percayalah.. Aku dalam keadaan baik Jes."


"Apa kau bahagia dengan pernikahan mu.?


Karena aku tahu awal pernikahan ini seperti


apa, aku sangat mencemaskan mu."


"Aku baik-baik saja Jes, bahkan sangat baik.


Karena sekarang aku sedang mengandung."


"A-apa.? Kau...kau hamil Ray..?"


Jessica tampak terkejut bukan main. Wajahnya


terlihat syok dan tidak percaya. Ini adalah kabar


yang sangat mengejutkan. Raya mengangguk


yakin seraya tersenyum lembut.


"Iya Jes..Tuhan telah memberiku kepercayaan.


Dan aku harus menjaganya dengan baik."


"Ya Tuhan.. Raya.. selamat ya sayang.. Kamu


akan menjadi wanita seutuhnya.."


Keduanya kembali saling berangkulan penuh


keharuan. Ini benar-benar surprise bagi Jessica.


Sementara itu Alex dan Griz yang tadi datang


bersama dengan Jessica langsung mendekat


kearah Aaron, kemudian membungkuk setengah


badan di hadapannya. Ternyata Alex tadi pergi


ke bandara untuk menjemput mereka berdua.


Dan dua hari ini Griz beserta pasukan khususnya


pergi ke negara asal Raya untuk mencari dan mengumpulkan bukti akurat tentang jati diri


seorang Maharaya.


Selain itu Griz juga di perintahkan membawa


Jessica karena Raya membutuhkan gadis itu.


Sahabat Raya yang satu itu juga cukup cerdas


dan merupakan ahli ITE yang cukup handal.


Jadi dia bisa di pekerjakan sebagai asisten


pribadi Raya karena bisa di percaya.


"Yang Mulya misi nya sudah saya laksanakan."


Griz melapor sambil mengulurkan tablet kecil ke hadapan Aaron yang langsung menerima dan membuka isinya, menelitinya dengan seksama


dengan gaya duduk yang sangat elegan. Kakinya menyilang sementara punggung bersandar ke


sofa. Sedang Ansel dan bawahannya terlihat


kembali sibuk mengumpulkan dan menelusuri informasi tentang semua gerakkan yang saat


ini terjadi semakin masif saja.


"Hemm..Kau sudah bisa bertugas kembali mulai


hari ini untuk mengawalnya. Siapkan pasukan


Ring Angel mu untuk mengantisipasi keadaan


yang mungkin saja akan terjadi."


"Baik Yang Mulya.. saya sudah menyiapkan


semuanya.!"


"Bagus.! Kamu bisa berkoordinasi dengan


Gregory kalau ada kendala.!"


"Baik Yang Mulya."


Raut wajah Aaron tampak berubah serius. Dia


kembali meneliti semua bukti yang ada dalam


tablet tersebut. Ekspresi wajah nya tampak


sedikit terkejut lalu termenung. Ternyata hasil penyelidikan awal yang telah di lakukan oleh bawahannya yang ada di negara asal Raya


benar semuanya.


"Jadi benar dia memiliki klan darah istimewa.?


Dia bukan putri kandung Danu Atmaja.?"


"Benar Yang Mulya.. Lady Maharaya memilki


Doble blood dari klan berbeda. Dia sengaja di


asingkan dan di hapus identitasnya sebab di


anggap akan membawa pengaruh buruk pada


seluruh keluarga besar Ayah kandung nya


karena beliau lahir sebagai perempuan, tidak


seperti yang di harapkan."


Sahut Griz sambil menunduk dalam. Ansel dan


semua bawahan Aaron tampak terkejut. Mereka benar-benar penasaran dengan hasil yang di


bawa oleh Griz dan team nya. Aaron melirik


kearah Raya yang terlihat masih berbincang


serius dengan Jessica.


"Apa dia sudah mengetahui semua ini.? Dia


tahu siapa keluarga sejatinya ?"


"Lady sudah mengetahui segalanya Yang Mulya.


Tuan Danu sudah menceritakan semuanya pada


lady saat beliau menginjak remaja. Dan Beberapa


kali beliau sudah bertemu dengan ibu kandung


nya secara rahasia."


"Kenapa harus Danu Atmaja yang menjadi orang


tua asuh nya.? Dia bahkan berani menjualnya


pada penjahat itu.!"


"Istri Tuan Danu adalah sahabat Ibu kandungnya


lady Maharaya yang ternyata mampu memberi


ASI yang cocok dengan gen lady yang istimewa.


Namun sayang Ibu asuh Lady memiliki penyakit


yang sangat berat hingga akhirnya meninggal


saat lady berusia 8 tahun."


Kembali Griz menjelaskan. Aaron menatap Raya


yang kini datang menghampirinya di ikuti oleh


Jessica yang terlihat menundukkan kepala di


telan kegugupan saat mendekat kearah Aaron.


"Salam hormat saya untuk Yang Mulya.."


Jessica membungkukkan badan penuh hormat


di hadapan Aaron yang membuat Raya terkejut


dan bengong. Apa ini, apakah Jessica sudah


tahu tentang jati diri Aaron ?


"Jes..kau sudah tahu siapa dia.?"


Raya menatap Aaron dan Jessica bergantian.


Kepala Jessica makin tertunduk dalam.


"Sudah, Griz sudah memberitahu semuanya


lengkap. Bahkan aku sudah pingsan dua kali."


Sahut Jessica masih menundukkan kepalanya


di hadapan Aaron. Raya menarik nafas panjang.


Dia melirik kearah Aaron yang terlihat acuh dan


datar saja.


"Kau tahu maksudku menyuruhmu datang ke


tempat ini.? Griz sudah mengatakan semua.?"


Suara Aaron terdengar tegas dan berat hingga


membuat lutut Jessica bergetar seketika.


"Sudah Yang Mulya.. Saya sudah faham."


"Kau siap dengan tugas itu.?"


"Dengan senang hati Yang Mulya. Saya akan


mengabdikan diri untuk mendampingi Lady


Maharaya.. seumur hidup saya.."


"Jessica.. apa-apaan ini ? Apa maksudmu.?"


Raya menarik tangan Jessica yang terlihat


sedikit canggung karena segan terhadap Aaron.


"Aku menyuruh nya datang kesini selain untuk


menemuimu, juga untuk bekerja.!"


Tegas Aaron sambil menyimpan tablet tadi di


atas meja. Matanya kini saling menatap dengan


mata Raya yang terlihat bahagia namun sedikit


bingung dengan maksud Aaron.


"Jadi..kau yang sudah meminta Jessica datang


kesini.? Aku tidak menyangka kalau kau sangat


faham yang aku inginkan aa.."


Ucapan Raya terpotong ketika Aaron tiba-tiba


menarik tubuhnya untuk duduk di pangkuannya.


Sontak saja Raya terkejut dan mencoba untuk

__ADS_1


turun, namun tangan Aaron sudah mengunci


pinggangnya dengan kuat.


"Apa yang tidak aku ketahui tentang apa yang


kau inginkan Lady Maharaya..!"


Wajah Raya kini merah padam. Semua bawahan


menundukkan kepalanya melihat kemesraan


yang di pertontonkan oleh Aaron, berbeda dengan Ansel, dia langsung mendengus dan memalingkan wajahnya. Lain lagi dengan Jessica, dia justru


sedikit syok melihat semua perlakuan Aaron,


karena dulu pada saat pernikahan keadaannya


tidaklah seperti ini.


"Aaron.. tolong lepaskan aku. Banyak orang di


sini, kita tidak bisa berbuat sesuka hati di depan


orang, kehormatan terletak pada apa yang kita


perlihatkan di mata orang."


"Mereka semua bawahan kita !"


"Tetap saja mereka juga manusia, sama hal nya


seperti kita. Ayo biarkan aku turun."


"Aku akan pergi. Jadi biarkan kita dalam posisi


seperti ini sebentar lagi."


"Kau akan pergi, ke istana kah ?"


"Pihak istana sudah menghubungi terus dari


pagi untuk melakukan konfrontasi pada Kakak.


Akan di adakan rapat darurat besar-besaran.


Kalau kakak tidak datang satu jam lagi pihak


istana akan melakukan penjemputan paksa


ke tempat ini."


Kali ini Ansel yang berbicara. Raya terdiam,


raut wajahnya tampak kembali tidak nyaman.


Mata mereka saling menatap lekat mencoba


untuk meyakinkan diri masing-masing.


"Aaron..kau dalam masalah besar karena aku.


Kenapa kamu harus memilih jalan ini.?"


"Kau percaya Takdir Tuhan.? Biarkan Kuasa


Tuhan yang akan menentukan segalanya."


Mata Raya tampak menatap teduh wajah Aaron


dengan haru, tenyata pria ini tidak main-main


dengan komitmen terhadap keyakinan yang di


anutnya sekarang.


"Apa aku sudah boleh pulang ke White House.?


Aku sudah merasa jauh lebih baik."


"Tidak.. kondisimu belum pulih total. Tetaplah


di sini. Griz dan Jessica akan menemani mu.


Mulai hari ini sahabatmu itu resmi menjadi


asisten pribadimu.!"


"A-apa.? asisten pribadi ku..?"


Raya tampak terkejut, menatap Aaron dan


Jessica secara bergantian.


"Hemm..dia akan menghandle semua urusan


mu, mulai sekarang kau hanya harus fokus


pada kandungan mu, biarkan mereka semua


yang bekerja untuk mu.."


"Tapi Aaron..aku adalah sekretaris pribadi mu.."


"Tentu saja, di mata dunia kau masih sekretaris


ku. Kita akan bermain dengan status mu itu.


Kita lihat bagaimana respon masyarakat nanti."


Aaron mengecup lembut bibir Raya, setelah


itu dia melepaskan belitan tangannya. Semua


bawahannya mengakhiri kegiatan dan bersiap


untuk pergi ke tempat masing-masing.


Raya membantu Aaron memakaikan dasinya.


Sementara Jessica mendapat arahan dari Alex


agar mulai bekerja sekarang juga di dampingi


oleh Griz. Mereka bertiga duduk di depan laptop


dan segera memantau segala perkembangan.


Untuk sesaat Jessica tampak terkejut melihat


apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu.


Sebesar inikah masalah yang di hadapinya.?


Sungguh dia tidak menduga kalau perjalanan


hidup Raya akan sejauh dan serumit ini.


"Aku akan pergi, mungkin sampai nanti malam.


Setelah semua selesai kita akan pergi ke suatu


tempat. Kau perlu merefresh otakmu.."


Ujar Aaron sambil mencium kening Raya yang


memejamkan mata mencoba meresapi segala


rasa yang kini memenuhi dadanya. Keduanya


saling memagut lembut dan hangat..


***


Waktu terus merayap semakin sore...


Sejak kepergian Aaron, Raya mencoba untuk


beristirahat setelah berbincang dengan Jessica


mengenai kabar keluarganya. Menurut Jessica


sekarang ini kondisi ekonomi keluarga Tuan Danu sudah sangat stabil karena kucuran dana besar


yang telah di gelontorkan oleh Aaron. Dan seluruh anggota keluarganya hidup sejahtera. Bahkan


kedua saudara tirinya semakin bertingkah arogan


karena ekonomi keluarga mereka yang semakin gemilang. Hanya saja Arka sering melamun


karena merindukan Raya.


Saat ini Jessica dan Griz tampak sedang serius memantau semua perkembangan. Keadaan di


dunia maya detik ini semakin gempar. Terjadi


perang opini dari netizen tentang keberadaan


Raya di sisi Putra Mahkota yang di anggap telah


menjadi racun yang sangat berbisa dan mampu


merusak semua tatanan agenda istana. Mereka


rata-rata menginginkan pengasingan terhadap


Raya dan mempercepat proses pernikahan


antara Putra Mahkota dengan Catharina. Sudah


tidak terhitung banyaknya hujatan sadis yang di alamatkan pada Raya hingga membuat Jessica


terbakar emosi.


Namun banyak juga yang berpendapat kalau


keberadaan Raya wajar adanya, karena seorang


Putra Mahkota bebas memiliki pendamping di


belakang layar berapapun jumlahnya. Secara dia


adalah calon Raja yang lebih dari mampu baik itu


dari segi fisik ataupun materi. Dan tidak di duga


antara yang kontra dengan yang pro jumlahnya


hampir berbanding lurus.


Raya merebahkan kepalanya ke sandaran sofa


sambil menarik nafas panjang setelah melihat


perkembangan yang terjadi di dunia maya. Ke


dalam ruangan muncul beberapa pengawal


yang membawakan puluhan buket bunga ke


hadapan Raya yang terlihat bingung.


"Lady ada kiriman bunga untuk anda.."


Ujar salah seorang nya sambil membungkuk


di hadapan Raya di ikuti oleh yang lainnya.


"Bunga dari siapa.? Aku tidak punya banyak


kenalan di negara ini. Tolong letakkan saja


di meja."


"Baik Lady.."


Para pengawal tadi meletakkan bunga-bunga


cantik yang beraneka ragam itu di atas meja.


Namun alis Raya semakin bertaut ketika para pengawal kembali masuk dengan membawa


bunga yang lain dari luar menggunakan troli


besar. Raya dan Jessica melongo saat melihat


banyaknya bunga yang datang, apa-apaan ini.?


"Jes.. coba kamu periksa semuanya.!"


"Oke..kita lihat siapa yang sudah mengirimkan


bunga sebanyak ini padamu."


Jessica beranjak dari duduknya lalu mengecek


pengirim bunga-bunga itu. Matanya membulat


saat melihat ID pengirim bunga-bunga itu datang


dari orang yang sama. Aaron Marvell De Enzo.!


"Semua bunga ini di kirim oleh Yang Mulya.."


Hahh.? Wajah Raya langsung saja memerah.


Apa-apaan pria itu, apa maksudnya mengirim


bunga sebanyak ini.? Dia bergerak memeriksa


sendiri bunga-bunga itu. Raya menggelengkan


kepalanya kuat. Tulisan yang ada di semua


bunga isinya sama For My World..!


Isshh.. ternyata pria aneh itu bisa romantis juga


walaupun terkesan kaku. Bibir Raya terangkat


manis sambil meraih satu buket bunga yang


paling cantik kemudian menghirupnya lembut.


"Gila Ray.. segila inikah cinta Prince Marvell


sama kamu ? Aku benar-benar gak nyangka.!"


Jessica berdecak tak habis pikir dengan semua


kegilaan ini. Dia masih melihat dan mengecek gunungan bunga yang kini sudah memenuhi


satu pojokan ruang dalam kamar itu.


Raya tertegun mendengar perkataan Jessica.

__ADS_1


Cinta.? Hahh.. tidak mungkin.! Memangnya


masih ada cinta di hati pria itu yang tersisa


untuk nya.? Bukankah seluruh hati dan cinta


Aaron hanya untuk satu orang saja ? Semua


ini dia lakukan semata-mata hanya karena janin


yang sedang di kandung nya. Keturunan yang


selama ini telah menjadi alasan kenapa dirinya


ada di tempat ini.Tiba-tiba saja rasa sakit itu


kembali mencuat menorehkan rasa perih di sanubarinya.


"Cinta..? Ini bukan cinta Jes..! Ini hanya ekspresi


kesenangannya saja karena apa yang dia inginkan


akhirnya akan segera terwujud. Lagipula dia


orangnya memang sedikit aneh dan berlebihan.!"


Elak Raya sambil kemudian melangkah pergi ke


arah balkon kamar untuk menghirup udara segar.


Jessica hanya bisa menatapnya dalam diam, ada


seulas senyum di bibirnya. Dasar wanita naif.!


Sampai menjelang malam kiriman yang lain terus


saja berdatangan. Di mulai dari makanan berat,


cemilan sampai buah-buahan yang banyaknya


tidak tanggung-tanggung. Dan hal itu bukannya


membuat Raya senang, malah membuatnya


kesal dan jengkel. Aaroon.. apa-apaan sih dia.?


Waktu terus merayap malam...


Raya mulai di rundung rasa tidak nyaman karena


Aaron belum juga kembali. Seperti biasa pria itu


juga tidak memberi kabar lewat telepon atau


apapun, membuat dirinya di telan kegelisahan.


Dia tidak tahu saja, sebenarnya setiap 15 menit


sekali Jessica rutin mengirim laporan tentang


kegiatan yang sedang di lakukan oleh Raya pada


Alex atas perintah Aaron. Karena saat ini Sang


Pangeran sedang sangat sibuk, dia harus datang


dan menghadiri sidang dadakan dari berbagai


pihak terkait. Mulai dari Istana, berpindah ke


parlemen dan berakhir dengan para senator.


Selama kegiatan itu berlangsung, perhatian


Aaron hanya fokus pada layar ponselnya saja,


menatap lekat gambar Raya yang di kirimkan


oleh Alex. Ini benar-benar gila ! Pikirannya tidak


pernah bisa lepas sedetikpun dari wanita ini.


Isi rapat itu semua sama, melakukan interogasi


atas insiden yang terjadi tadi malam. Dan seperti


biasanya seorang Aaron..dia tetap cool, santai


bahkan cenderung acuh.. Dia hanya menegaskan


satu hal bahwa sekretaris nya itu memiliki peran


penting dalam hidupnya sekarang ini.. Dan dari


pernyataan Aaron tersebut semua pihak sudah


menarik kesimpulan bahwa Putra Mahkota


menaruh perhatian lebih pada sekretaris nya itu.


Jessica dan Griz langsung berdiri menyambut


kedatangan Aaron ke dalam ruangan saat waktu


sudah menunjukan pukul 12 malam. Saat ini


Raya sudah tertidur lelap setelah mendapatkan pengecekan menyeluruh yang di lakukan oleh


Alea untuk memastikan kondisinya.


Aaron datang bersama Alea dan sudah siap


dengan mantel tebal yang membungkus tubuh


mereka masing-masing.


"Bagaimana kondisinya sekarang.?"


Aaron menatap lekat wajah cantik Raya yang


terlihat sedikit gelisah dalam tidurnya.


"Semuanya sudah normal. Calon bayi kalian


sudah mulai memperlihatkan keistimewaan


nya, dia memberi energi yang sangat kuat


pada ibunya."


Sahut Alea sambil merapihkan beberapa alat


medis ke dalam tas kecil nya. Aaron mendekat


ke sisi tempat tidur kemudian mencondongkan


tubuh nya, lalu mencium lembut kening Raya


setelah itu mendaratkan ciuman hangat di bibir


ranumnya yang sangat menggoda.


"Mereka berdua memang sangat istimewa.


Kita berangkat sekarang juga.! "


Ucapnya. Jessica mendekat lalu mengulurkan


mantel tebal lembut ke hadapan Aaron yang


langsung menerimanya. Dengan hati-hati dia


memakaikan mantel itu ke tubuh Raya agar


tidak membangunkan nya. Setelah semuanya


siap Aaron segera mengangkat tubuh Raya ke


dalam pelukannya, menggendong nya ringan


dan melangkah keluar dari ruangan itu di ikuti


oleh seluruh jajarannya.


Rombongan mereka tiba di stasiun kereta api


bawah tanah. Aaron terpaksa pergi dengan


menggunakan transportasi ini karena kondisi


Raya yang tidak memungkinkan untuk naik


pesawat. Selama di perjalanan Raya terlelap


dalam tidurnya karena Alea sengaja membuat


dia tertidur agar kepergian ini menjadi kejutan


bagi Raya.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar


3 jam lebih dengan kereta cepat bawah tanah


mereka tiba di tempat tujuan dan melanjutkan


perjalanan dengan menggunakaan mobil untuk


bisa mencapai puncak Carrington mountain,


yakni sebuah pegunungan bersalju yang menjadi


salah satu pusat wisata dunia karena keindahan


serta memiliki fasilitas ski terbaik di dunia dan


gunung ini merupakan aset penting negara xxx..


"Sayang.. bangunlah.."


Aaron berbisik lembut di telinga Raya begitu


mereka tiba di depan penginapan eksklusif


milik keluarga De Enzo yang sudah di sterilkan


terlebih dahulu. Matahari baru saja muncul di


ufuk timur membiaskan cahaya kemilau indah


menerobos masuk lewat kaca mobil dan jatuh


menerpa wajah cantik Raya yang meringkuk


nyaman dalam pangkuan Aaron.


Raya membuka matanya perlahan, kemudian


memicing berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk lewat retina matanya. Begitu sadar mata


nya langsung bertemu dengan mata berat Aaron


yang sedang menatapnya dalam. Dari tadi dia berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak


menerkam Raya yang terlihat begitu menggoda


di bawah kilauan sinar mentari pagi..


"Good morning baby.."


Wajah Raya langsung memerah, sebelum dia


berusaha bangkit Aaron sudah mendaratkan


ciuman mesra di bibirnya membuat wajah


Raya semakin memerah seluruhnya.


"Selamat pagi.. A-Aaron..ada di mana kita.?


Kenapa kita ada di mobil.?"


Raya bangkit lalu turun dari atas pangkuan Aaron. Namun sesaat kemudian dia tampak terkejut,


bingung dan berubah senang saat mengintip


keluar dari kaca mobil.


"A-Aaron...kita ada di pegunungan bersalju..??"


Raya memekik tertahan sambil menutup mulut


dan menatap takjub kearah luar dimana hanya


ada hamparan putih bersih sejauh mata melihat.


"Kau menyukainya..?"


Wajah Aaron tampak sedikit berekspresi aneh,


senang melihat reaksi bahagia yang tergambar


dari raut wajah cantik istrinya.


"Aku sangat menyukainya. Sudah lama sekali


aku ingin datang ke tempat seperti ini.."


Sahut Raya masih dengan raut wajah yang


terlihat begitu senang.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal.


Kita bisa pergi kemana pun kamu mau. Kalau


begitu..ayo kita keluar sekarang."


Aaron menggenggam erat tangan Raya lalu


keduanya bergerak keluar dari dalam mobil.


Tiba diluar mereka di sambut oleh Alex dan


Benjamin serta beberapa pengawal pribadi


yang langsung membungkukkan badan. Di


sana juga sudah ada dua Pangeran tampan


sahabat Aaron dan seorang pria muda asing


yang berdiri di samping Alea dan sedang


menatap kearah dirinya, terkesima luar biasa..

__ADS_1


***


__ADS_2