
***
Ternyata letak sirkuit balap internasional itu ada
di belakang wahana wisata Fantasi Island. Jadi
mereka kesana tinggal memutar saja sebentar.
Aaron kembali tertegun saat Raya menolak satu
mobil dengan dirinya. Dia lebih memilih masuk
ke dalam mobil yang membawa Arabella.
"Turun.. aku memberimu perintah.!"
Aaron berdiri di ambang pintu dengan wajah
yang terlihat mulai diliputi oleh kekesalan dan
sedikit emosi. Raya menatap Aaron sekilas.
"Maaf Yang Mulya.. tapi aku lebih nyaman ada
di mobil ini. Bukankah anda juga lebih nyaman
sendiri tanpa gangguan dariku.?"
Wajah Aaron terlihat semakin dingin. Tangan
nya terkepal kuat. Tatapannya kini semakin
menusuk dan berusaha mengirimkan sinyal
ancaman.
"Apa maksudmu.? Apa kau sedang berusaha
untuk membantahku.?"
"Bukankah selama ini aku selalu melakukan hal
itu. Tentunya anda sudah terbiasa Yang Mulya.!"
"Maharaya.. aku ini suamimu.! Cepat turun.!"
"Aku juga istrimu.! Aku berhak tahu kemana
saja kamu seharian ini, apa tidak bisa sekali
saja kau memberiku kabar Yang Mulya..?"
"Aku akan memberimu penjelasan untuk itu.!"
"Tapi aku tidak bisa menunggu. Jadi sekarang
sebaiknya anda fikirkan semuanya baik-baik.!"
Debat Raya dengan mata yang terlihat mulai
memanas. Aaron membeku di tempat. Dengan
gerakan cepat Raya mengibaskan tangannya
dan pintu mobil tiba-tiba tertutup lalu terkunci
hingga Aaron tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
"Kita berangkat sekarang Griz.!"
"Baik Princess.."
Mobil mulai melaju meninggalkan Aaron yang
masih mematung di tempat nya. Hatinya terasa
begitu sakit. Dia memang belum ada moment
yang tepat untuk mengatakan semuanya pada
Raya. Aaron hanya bisa mengacak rambutnya
frustasi. Kemudian cepat-cepat masuk kedalam
mobil sport miliknya dan membanting pintu
dengan keras hingga membuat semua anak
buahnya tegang. Dia segera melajukan mobilnya mengejar mobil yang membawa raya.
Raya menarik nafas dalam-dalam. Dia mencoba
untuk tenang. Sungguh apa yang di lakukannya
tadi sangat tidak pantas, berdebat di depan adik
iparnya secara langsung, memalukan sekali.!
"Maaf Arabella.. aku tadi tidak bisa menahan
rasa kecewaku padanya."
Arabella meraih tangan Raya, lalu mengelusnya
lembut penuh pengertian.
"Tidak apa-apa, aku sangat mengerti yang kakak
ipar rasakan. Aku hanya bisa berpesan kakak ipar harus lebih kuat lagi. Kak Aaron tidak akan bisa mengubah kebiasaan buruknya dengan cepat.
Dia butuh waktu untuk merubah semua itu.!"
Lirih Arabella lembut. Mereka tersentak ketika
mobil sport yang di kendarai Aaron melakukan
overtaking di tikungan dengan kecepatan penuh.
Sepertinya pria itu sedang melakukan protes.
Raya mengusap dadanya yang terguncang
karena terlalu terkejut. Dia menggeleng pelan,
kemudian merebahkan tubuhnya ke sandaran
jok sambil memejamkan matanya. Rasa kecewa dalam hatinya masih saja ada membuat rasa
kesal terhadap Aaron tidak jua sirna. Namun sesungguhnya dia juga sangat merindukan pria
itu. Uuhh..dia benar-benar benci keadaan ini,
hatinya kesal tapi juga merindu..
Akhirnya mereka semua tiba di dalam sirkuit
yang sangat megah dan luas serta memiliki
lintasan balapan super ekstrim itu. Sirkuit ini
termasuk ke dalam sepuluh sirkuit terbaik dunia.
Dan di tempat inilah Sean menjadi raja balapan
di negara ini. Dia adalah pembalap terbaik yang
di miliki oleh negara xxx... Dan karena itu pula
Sean menjadi pria paling di buru oleh para gadis
di seluruh negeri ini. Ya.. salah satunya Princess
Arabella sendiri sebagai gadis paling bersinar
di negara ini.
Aaron dan Sean serta seluruh team balap
dadakannya langsung masuk kedalam ruang
isolasi khusus di dalam gedung. Sedangkan
Raya dan Arabella memilih langsung naik keatas
tribun sirkuit dan memperhatikan keadaan di
sekitarnya. Sungguh konyol, ini adalah sesuatu
yang seharusnya tidak terjadi. Apa sebenarnya
yang mereka ributkan.? Toh hati Raya tidak akan
pernah kemana-mana. Walau apapun yang
terjadi hati nya akan tetap utuh untuk suaminya.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 2
siang. Cuaca di kota xx.. cukup cerah dengan
cahaya matahari yang bersinar terang. Suasana
di sirkuit nasional milik negara xxx.. tampak
mulai di warnai ketegangan saat dua super car
mewah mulai masuk ke arena balapan dengan melakukan manuver terlebih dahulu mencoba mengintimidasi lawan dengan trik-trik balap
yang mereka kuasai.
Dua mobil balap super canggih itu kini sudah menempati posisi start dengan terus menyalakan mesin tiada henti. Wajah Raya mulai di liputi oleh
ketegangan. Ada perasaan tidak nyaman yang
kini mulai merayapi hatinya dan membuat dia
tidak tenang. Dari tempat duduknya dia bisa
dengan jelas melihat posisi kedua mobil itu.
"Apa sebenarnya yang mereka cari.?"
Lirih Raya dengan tatapan tiada lepas dari dua
mobil balap tersebut.
"Mereka berdua sering melakukan balapan ini
Kakak ipar."
Hahh.? Raya melirik cepat kearah Arabella yang
terlihat begitu antusias dan semangat melihat
kearah lintasan.
"Benarkah ? Jadi ini bukan kali pertama untuk
mereka berdua.?"
"Bukan Kakak ipar. Kak Aaron dan Sean adalah
fatner di lintasan ini. Sean adalah junior kakak.
Dia itu bisa di bilang murid nya kak Aaron. Sean
belajar banyak hal dari Kak Aaron. Karena dari
kecil kami tumbuh bersama. Perdana menteri
Albert Wilbur adalah sahabat dekat Yang Mulya
Raja. Dari kecil kami sekolah dan berinteraksi
di lingkungan yang sama.!"
Raya terhenyak, wajahnya terlihat tidak percaya
dengan apa yang barusan di dengarnya. Jadi
Sean dan Aaron sedekat itu.?
"Sean dan Ansel ingin mengikuti jejak kakak di
dunia bawah tanah, tapi kak Aaron tidak pernah
mengijinkan hal itu. Dia menginginkan mereka
berdua hidup normal layaknya orang lain."
Raya terdiam, rupanya seperti itu.! Arabella kini
berdiri dan bertepuk tangan kearah bawah saat
Alex mulai memberikan aba-aba dan peringatan
untuk bersiap-siap pada kedua pembalap. Jarak
tribun dan lintasan itu sangat jauh, dan penonton
bisa dengan jelas melihat seluruh lintasan yang
akan di lalui oleh kedua pembalap.
Raya ikut berdiri di samping Arabella, menatap
tajam kearah mobil yang di gunakan oleh Aaron.
Dia menajamkan pandangannya, menggunakan
mata bathin nya, berusaha menembus batas
dan ruang menelusuri semua mesin dan seluruh kesiapan kendaraan itu. Lalu beralih ke mobil
yang di gunakan oleh Sean. Kedua super car itu
dalam keadaan ready. Dia juga bisa melihat saat
ini mata Aaron sedang menatap kuat kearahnya.
Jantung Raya berdetak kencang saat melihat
bagaimana tatapan penuh cinta itu tampak
sedikit terluka dan kesal. Bibir indah Raya
tersenyum tipis, dia cukup puas melihat Aaron
__ADS_1
kesal, emang enak..dia juga sudah kesal dari
pagi karena kehilangan kabar darinya. Semua
dalam keadaan prima, tapi kenapa rasa tidak
nyaman itu semakin mengganggu hatinya.?
"Kau bisa kalah sayang.. pikiranmu tidak dalam
keadaan fokus dan utuh saat ini.!"
Gumam Raya dengan senyum getir dan menarik
nafas perlahan. Arabella tampak heboh sendiri.
Dia memang sangat menyukai tontonan ini. Dia
juga selalu menjadi supporter setia setiap kali
kedua pria itu melakukan balapan. Semua
bawahan Raya dan Arabella yang berdiri di
sekitar mereka tidak kalah antusiasnya.
Akhirnya Alex mengangkat bendera aba-aba
dan sekejap kemudian dua mobil balap super
mewah itu sudah melesat cepat bak anak panah mencoba membelah lintasan dengan kecepatan maksimal yang dapat menggetarkan lutut para penonton. Mata semua orang kini terfokus
seluruhnya kearah lintasan yang terlihat mulai
mengepulkan asap di beberapa bagian saat
kedua mobil itu melakukan overtaking dan
rolling speed di tikungan tajam menimbulkan
decitan rem yang membuat ngilu. Keduanya
tampak saling mengejar dan menyalip berusaha
untuk saling mendahului lawannya.
Balapan ini akan di lakukan dalam 10 putaran.
Keduanya semakin terlihat semangat untuk
saling mendahului dan meninggalkan lawan.
Dalam lap ke 5 Aaron sudah memimpin jauh
di depan. Dia tampak tersenyum puas sambil
kembali melesatkan mobilnya. Namun tiba-tiba
saja Sean melesat dengan cepat tak terduga
menyalip mobilnya. Aaron menggeram kesal
dia berusaha mengejar Sean, namun dengan
percaya diri Sean malah melakukan manuver
baru melesatkan mobilnya menguasai seluruh
lintasan membuat Aaron semakin geram. Dia
tidak akan bisa mengejar Sean yang sudah jauh meninggalkan nya itu kalau mengandalkan
kecepatan normal saja.
"Shit.! Sean.. sudah punya trik baru rupanya.!"
Aaron memukul setir dengan kuat lalu melesatkan
mobilnya dengan kecepatan full speed. Dia tidak
bisa membiarkan Sean menguasai Raya walau
hanya dua jam saja. Raya adalah istrinya, miliknya satu-satunya. Tidak boleh ada laki-laki lain yang mendekatinya. Aaron tersentak ketika dia mulai merasakan gelagat tidak beres terjadi pada
mesin mobilnya akibat kecepatan di luar batas.
Raya memegangi dadanya yang tiba-tiba saja
terasa sakit. Matanya reflek kembali menembus
batas dan melihat sesuatu yang tidak beres akan terjadi pada mobil Aaron. Mobil itu akan keluar
dari lintasan lalu berguling dan terbakar hebat.
"Aahh.. tidakk.!! Aaron.. tidaakk mungkin.!!"
Raya memekik kuat sambil memegangi dadanya
dan menarik nafas kuat-kuat kemudian mulai
melambaikan tangan kearah mobil Aaron.
"Aaroonn... berhentiii.. Aaron... hentikan mobil
mu sekarang juga..."
Semua orang langsung panik. Mereka sudah
cukup memahami siapa itu Princess Maharaya
dengan segala kelebihan nya.
"Ada apa kakak ipar.? Apa ada sesuatu yang
tidak beres akan terjadi pada kakak.?"
Arabella tampak cemas, wajahnya berubah
pias di penuhi kekhawatiran.
"Arabella aku harus kesana.."
"Tapi..ada apa ini, hei.. kakak ipar.."
Arabella dan semua bawahannya tergesa-gesa
mengikuti Raya yang sudah turun terlebih dulu
ke bagian bawah menuju ke arah ujung lintasan.
Sementara Aaron tampak masih sibuk dengan
mobilnya setelah tadi dia melihat apa yang di
lakukan oleh Raya dengan melambai-lambaikan
tangan kearahnya.
"Raya.. dia tahu ada yang tidak beres dengan
mobil ini..!"
Aaron bergumam sambil kemudian berusaha
mengurangi kecepatan tapi ternyata... remnya
sudah tidak berfungsi sama sekali.
Geram Aaron sambil berusaha mengendalikan
laju mobil yang sudah meluncur deras tak bisa
di rem. Sean yang melihat gelagat tidak beres
terjadi pada mobil Aaron tampak terkejut. Dia
segera mengejar mobil itu.
"Kalian semua siaga di ujung lintasan. Siapkan
semua prosedur penyelamatan. Mobil Yang
Mulya telah kehilangan kontrol..!"
Sean memberi peringatan pada semua crew di
ujung lintasan lewat alat komunikasi khusus yang menempel di telinganya. Semua crew langsung
sibuk dan panik.. Mereka semua bergerak cepat
menyiapkan alat penyelamat. Kemudian mendekat
ke pinggir lintasan untuk menyiapkan matras dan memasang ranjau jebakan yang akan langsung menghentikan mobil begitu lewat.
Dengan wajah yang sudah tidak karuan Raya
sampai di ujung lintasan begitu mobil Aaron
meluncur ke tempat itu dengan tidak terkendali.
Para crew tampak panik ketika mobil tersebut
ternyata benar-benar tidak terkendali dan malah
meluncur deras kearah mereka yang belum
sempat menyiapkan segalanya.
"Aaroonn... Ohh tidaakk..."
Raya menjerit keras saat mobil Aaron benar-benar
keluar dari lintasan tak terkendali. Dengan cepat
dia mengangkat tangannya ke udara kemudian
mendorongnya ke depan. Dan tiba-tiba saja ada
hembusan angin besar yang datang dari arah
berlawanan menyapu mobil Aaron hingga tak
bisa terelakkan mobil itu melakukan manuver
berputar cepat di area tengah lintasan mengikuti
arah angin yang membawanya.
Semua orang kini mematung di tempat. Tampak
melongo dan bengong, tidak percaya dengan
apa yang tengah terjadi di depan matanya itu. Termasuk Sean yang baru saja tiba di tempat
itu dan keluar langsung dari mobilnya. Setelah
cukup lama berputar-putar akhirnya mobil Aaron berhenti dengan aman seiring lenyapnya tiupan
angin besar yang datang tiba-tiba tersebut.
Raya mengusap dadanya dan mencoba untuk
mengatur sistem pernafasannya. Tubuhnya kini
terasa sedikit lemas karena tenaganya terkuras.
Aaron keluar dari mobil. Matanya langsung saja
bersirobos tatap dengan mata indah istrinya.
Dia segera berjalan cepat kearah Raya. Alex dan
yang lainnya langsung menyerbu kearah Aaron
lalu mengamati keadaannya. Sang Pangeran
tampaknya baik-baik saja.
Raya menatap lekat sosok gagah Aaron yang
kini sedang melangkah kearahnya. Mata mereka
sama-sama menyiratkan gejolak kerinduan. Tapi
anehnya rasa kesal itu masih saja menguasai
hati dan perasan Raya.
"Benjamin.. bawakan mobil sport milik Yang
Mulya Putra Mahkota ke sini.!"
Benjamin yang berdiri di dekat Raya tampak
tertegun sesaat.
"Cepatlah Ben.. apa kau mau aku lemparkan
ke luar sirkuit.?"
Suara Raya terdengar mulai kesal yang mampu
membuat Benjamin bergidik ngeri, dengan cepat
pria tinggi besar itu berlari kearah dalam.
Aaron kini sudah tiba di hadapan Raya. Mata
mereka saling menatap kuat. Aaron bergerak
ingin meraih tubuh Raya ke dalam pelukannya,
tapi Raya mundur menjauh. Sontak saja Aaron
membeku, ekspresi wajah nya berubah keras.
"Kau tidak apa-apa.?"
Raya bertanya sambil menjaga jarak. Wajah
Aaron berubah aneh. Tatapannya tampak
semakin tajam.
"Selama kau ada di dekatku, tidak akan terjadi
apapun padaku. Kau adalah malaikat penjagaku."
__ADS_1
Desis Aaron dengan mata yang mulai memanas.
Dia benar-benar gemas pada istrinya ini. Kenapa
dia terus saja menghindari nya, apa dia tidak tahu
kalau hatinya saat ini begitu gila merindukannya.?
Ingin rasanya dia menerkam istrinya itu saat ini
juga kalau tidak melihat tempat dan situasi.
Sean mendekat, dia menatap Raya dengan sorot
mata penuh kekaguman. Sekarang dia percaya
kalau wanita ini memang sangat istimewa.
"Yang Mulya.. anda baik-baik saja.?"
Sean mengamati kondisi Aaron dengan seksama.
"Seperti yang kau lihat.! Selama ada dia di dekatku.
Aku akan baik-baik saja. Kau menang Mr Wilbur."
Sahut Aaron dengan suara yang terdengar dingin.
Raya memalingkan wajahnya kearah Sean yang
malah terlihat bingung.
"Sean.. bisakah kita menghabiskan sore ini di
pantai Marcopolo.??"
Raya berucap dengan mimik yang sangat serius.
Aaron dan Sean tercengang seketika, wajah dua
pria itu berekspresi berbeda. Aaron dengan raut
wajah di hantam api cemburu yang meluap-luap
sementara Sean dengan raut tidak percaya nya.
Dalam keadaan itu Benjamin datang membawa
mobil sport milik Aaron ke hadapan mereka.
"Arabella.. ayo kita pergi sekarang juga.!"
Raya menarik tangan Arabella yang terkejut
seketika namun tak urung mengikuti tarikan
tangan Raya menuju kearah mobil Aaron.
Semua orang bengong, terpaku di tempat dan
tidak mampu bergerak saat melihat Raya dan
Arabella masuk ke dalam mobil super mewah
tersebut. Raya duduk di balik kemudi dengan
gaya yang sangat apik dan mempesona. Aaron
dan Sean bagai orang yang terhipnotis, tidak
mampu melakukan apapun. Mata mereka
menatap tidak percaya pada sosok cantik jelita
yang sudah mulai menyalakan mesin mobil itu.
"Sampai ketemu di pantai Yang Mulya..!"
Teriak Raya sambil mengedipkan mata indahnya
kearah Aaron dan sedetik kemudian dia sudah
melesatkan mobil sport tersebut meluncur cepat
meninggalkan semua orang yang masih bengong.
Mulut mereka tampak menganga. Aaron seolah
sedang berada dalam halusinasi. Benarkah dia
seorang Maharaya..? Yang penakut, cengeng dan
selalu merasa ketakutan terhadap apapun..
Maharaya.. kamu penuh dengan kejutan.!!
***
Hari semakin merayap sore..
Marcopolo Beach..adalah pantai yang ada di
tengah kota xxx.. terbentang luas dan indah di
antara deretan gedung-gedung tinggi menjulang
di sepanjang jalurnya. Pantai ini memiliki view
yang sangat menakjubkan. Warna air lautnya
yang tosca serta pasir nya yang putih kebiruan
menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi
para wisatawan yang datang dari seluruh dunia
dan membuat pantai ini selalu di padati oleh pengunjung baik itu domestik maupun dari
mancanegara.
Raya terlihat sangat bahagia begitu mereka tiba
di tempat yang sangat memukau itu. Wajahnya
tampak berbinar cerah hingga pesona kecantikan
alami nya semakin terpancar. Separuh dari tempat
itu sudah di sterilkan dari pengunjung lain oleh
para prajurit penyapu agar tidak mengganggu
privasi keluarga kerajaan yang sedang menikmati
sore di pantai ini. Namun tetap saja sebagian dari
para pengunjung tidak bisa di tahan, diam-diam mengambil gambar mereka untuk di abadikan.
Kesenangan Arabella semakin komplit ketika
Arthur dan Alluna datang menyusul ke tempat
itu. Maka terjadilah keseruan antara Maharaya,
Arabella dan Alluna. Ketiganya terlihat kompak
bermain air dan pasir hingga waktu tak terasa
semakin berjalan menuju petang.
Patah sudah pertaruhan Aaron dan Sean...
Karena yang ada kedua pria itu, di tambah Arthur hanya bisa jadi pengawas saja bagi ketiga Putri.
Raya tidak mengijinkan siapapun diantara ketiga
pria itu untuk mendekati mereka. Dia benar-benar tidak ingin di ganggu oleh para pria manapun.
Hanya dirinya, Arabella dan Alluna saja..
Dua jam kemudian...
Aaron yang dari tadi berusaha untuk menahan
diri dan membiarkan Raya meluapkan segala
kesenangannya kini sudah tidak bisa bertahan
lagi. Dia segera menghampiri Raya yang sedang mengambil gambar view pantai tersebut dengan
latar deretan gedung-gedung pencakar langit
setelah merasa puas bermain dengan Alluna dan Arabella. Kedua anak dan ibu itu sudah pergi
duluan ke pelabuhan mini.
"Jangan menghindari ku lagi sayang.. Aku tidak
sanggup kamu diamkan seperti ini terus."
Desis Aaron sambil memeluk erat tubuh Raya
dari belakang. Wajahnya di benamkan di ceruk
leher Raya yang menguarkan aroma wangi lembut
nan membuai hingga nafasnya kini mulai berat.
Raya terdiam, matanya terpejam kuat. Jiwanya
kini meronta dan bergejolak menahan segala
rasa yang berkecamuk di dalam dada.
"Aaron.. kau sudah membuatku kecewa."
"Aku tahu sayang.. Maafkan aku. Semuanya
akan aku jelaskan. Sekali lagi maafkan aku."
Bisik Aaron dengan nada suara yang sangat
berat di dera rasa bersalah. Raya membalikan
badannya. Kini keduanya saling berhadapan,
saling menatap kuat penuh binar kerinduan
dan cinta yang begitu menggelora.
"Aaron..tolong jangan menyembunyikan apapun
dariku. Aku tidak bisa menerima kebohongan.
Cinta kita tumbuh di dasari ketulusan, jadi jangan
mencemarinya dengan dusta dan pengkhianatan.."
Raya berucap halus dan lembut dengan tatapan
yang semakin dalam. Tangannya kini melingkar
erat di leher kokoh Aaron yang tidak berdaya. Dia
benar-benar jatuh di dalam kekuasaan Raya.
"Aku tidak mungkin mengkhianati mu sayang.
Aku mendapatkan hatimu dengan susah payah.
Apa kau pikir aku akan mampu membagi hati
dan jiwaku untuk orang lain.?"
Bibir Raya tersenyum manis dan lembut. Dia
mendekatkan wajahnya, dan jari tangannya
kini bermain halus di bibir Aaron yang terlihat
sudah tidak mampu mengendalikan dirinya lagi.
"Aku bisa meninggalkan mu kalau ketahuan
di hatimu masih ada nama wanita lain.. Kita
harus selalu satu, untuk selamanya.."
"Of course baby.. I Miss you so much.."
Tidak tahan lagi Aaron segera menyambar bibir
Raya, m*l*m*tny* kuat dan lembut penuh dengan
gelora kerinduan yang sudah mencapai puncak
kepalanya. Raya membalasnya dengan tidak
kalah panasnya. Mereka tidak memperdulikan
lagi keadaan sekitar. Untung saja tempat itu
sudah steril sepenuhnya dari pengunjung lain.
Ciuman mereka semakin lama semakin panas
dan liar, seiring matahari yang mulai tenggelam
berganti sunset di ufuk barat yang sangat indah.
Tidak lama Aaron mengangkat tubuh Raya ke
dalam gendongannya di bawa berjalan tenang
menuju ke sebuah kapal pesiar berukuran sedang yang sudah bersandar gagah di ujung pelabuhan
mini. Ternyata semua orang sudah ada di sana.
Sean yang berdiri tenang di ujung buritan hanya
bisa menatap hampa kedatangan Aaron Dan Raya dengan sorot mata hancur dan pasrah. Tapi dia
tidak menyesal karena pria yang mendapatkan
seorang Maharaya adalah pria yang jauh lebih
baik segala-galanya dari dirinya. Dia adalah
__ADS_1
gurunya sendiri.. seniornya..dan panutan nya..
***