Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
65. Rumit


__ADS_3

Istana geger saat melihat kedatangan Putra


Mahkota dalam keadaan basah kuyup hampir


menggigil. Aaron langsung membawa mobilnya


masuk ke parkiran khusus, sementara Alex dan Benjamin berhenti di markas para pengawal dan


masuk ke ruangan khusus para pengawal istana


untuk segera berganti pakaian. Mereka berdua


masih berada dalam mode bingung sedikit aneh


sekaligus mendumel, Lady De Enzo benar-benar merepotkan..!!


Aaron membawa Raya masuk ke dalam private


lift yang akan membawanya langsung ke dalam


kamar pribadinya. Begitu tiba di dalam kamarnya


Aaron tidak memberi kesempatan pada Raya


untuk lari dari cengkeraman nya. Dia langsung membopong tubuh Raya di bawa masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian mengguyur tubuh mereka berdua di bawah shower. Tanpa menunggu lagi


dia segera melucuti seluruh kain yang menempel


di tubuh mereka. Raya hanya bisa pasrah sedikit terkejut melihat gerakan Aaron yang terlihat sudah


tidak terkendali dan terburu-buru itu.


"Aaron.. tidak bisakah kita menundanya sampai


nanti malam, sebentar lagi waktu magrib akan


segera tiba.. aahh.."


"Kau pikir aku akan melepaskan mu sekarang?


Kau sudah membuat ku tersiksa dari tadi.."


"Tapi Aaron.. kau harus segera di hangatkan.


Kalau tidak kau bisa sakit nanti."


"Kau yang akan menghangatkan tubuhku.


Justru kalau di tunda aku bisa sakit.!"


"Aaron kumohon.. tubuhku butuh istirahat."


"Nanti malam baru kau bisa istirahat sayang.."


Sebelum Raya sempat protes kembali tubuhnya


sudah di seret ke dinding ruang shower oleh


Aaron dengan segala keliarannya, dan detik


berikutnya bibir Aaron mulai beraksi menyusuri


seluruh bagian tubuhnya dengan sedikit gemetar karena tidak tahan dengan gairahnya yang kini meluap-luap melihat keindahan tubuh istrinya itu.


"A-Aaron...kumohon tenanglah sedikit aakkhh..


Aaroonn....!!"


Tapi sepertinya nafsu birahi Aaron saat ini sudah


mencapai ubun-ubun nya. Wajahnya kini terlihat


memerah dengan sorot mata buas siap untuk


menerkam dirinya. Mata Raya membulat saat


melihat Aaron langsung memposisikan dirinya


sejajar kemudian mulai menekan dan berusaha


memasuki dirinya dengan hentakan sedikit kasar.


Raya memekik kuat sambil memeluk erat tubuh


Aaron yang kini mengurung tubuh nya di dinding


ruangan dengan posisi berdiri. Dia saat ini masih berjuang untuk bisa menyatukan tubuh nya, tapi


posisi ini ternyata cukup menyulitkan bagi nya


untuk bisa segera memasuki tubuh istrinya itu.


"Aaron..ini sangat menyakitkan aahh.. jangan


begini..sakiiitt sayang..."


Raya memukuli punggung Aaron yang masih


berusaha untuk menyatukan tubuhnya. Aaron


mengerang hebat saat perlahan dia berhasil


masuk walaupun harus membuat Raya histeris


dan menjerit-jerit kesakitan memukuli serta


mencakar punggungnya. Setelah berjuang cukup


lama akhirnya senjata super perkasa milk Aaron terbenam juga dalam tubuh Raya membuat


keduanya saling pandang kuat sambil mengatur


nafas untuk sesaat. Aaron menciumi seluruh


wajah Raya yang terlihat di penuhi air mata.


"Maafkan aku sayang... kenapa milikmu ini


selalu membuatku harus berjuang keras untuk


bisa berada pada posisi seperti ini..."


Bisik Aaron parau sambil membawa tubuh Raya


naik ke atas pangkuannya, dan kini kaki indahnya


melingkari perutnya erat. Dia masih terdiam


belum menggerakkan tubuhnya, tapi kenikmatan


tiada tara itu sudah menghantam tubuh mereka membuat wajah keduanya memerah.


"Kau sendiri selalu membuatku menangis..


Tadi rasanya sakit sekali tahu..!"


"Bagaimana sekarang..apakah masih sakit..?"


Wajah Raya kini berubah semerah tomat, dia


menggeleng pelan seraya tersenyum malu


yang membuat tatapan Aaron semakin dalam


karena terbius oleh senyuman memabukkan


itu. Bibirnya terangkat tinggi membuat mata


Raya langsung mengerjap hebat begitu melihat


Aaron tersenyum manis dengan wajah puas.


Benarkah ini, Aaron tersenyum barusan.?


Raya benar-benar terjerat dan terpesona oleh


senyuman singkat itu. Bibir mereka kini saling


memagut dan larut dalam kehangatan. Aaron


mulai menggerakkan tubuhnya tenang penuh


dengan kelembutan membuat Raya mengerang


dan melepaskan pagutan bibirnya. Dia makin


mempererat rangkulannya di leher Aaron


sambil menggigit kecil leher suaminya itu


karena tidak tahan dengan sensasi nikmat


yang kini menerbangkan dirinya ke awan. Ini


gila, laki-laki ini selalu saja membuat dirinya


mabuk di gempur oleh terjangan kenikmatan


yang tidak mungkin akan terlupakan.


"Ayo kita terbang bersama sekarang.."


"Aaa... Aaroonn...."


Raya memekik kuat saat Aaron mulai bergerak


dengan intens masih dalam posisi tubuh Raya


diatas pangkuannya, di sandarkan ke dinding.


Akhirnya mereka berdua hanyut dalam buaian


segala kenikmatan yang selalu membawa


mereka naik ke langit paling tinggi..


***


Usai menjalankan sholat isya berjamaah Raya


dan Aaron segera bersiap. Mereka harus turun


ke lantai dasar karena Aaron akan makan malam bersama dengan Madam Rowena. Aaron sendiri


yang memakaikan dress cantik sebatas lutut ke


tubuh indah Raya karena kondisi istrinya itu saat


ini masih lemas akibat serangan brutalnya tadi


sore di dalam kamar mandi yang menghabiskan


waktu selama hampir 2 jam.


Setelah selesai berpakaian Raya mencoba untuk


sedikit memoles wajahnya agar tidak kelihatan


terlalu pucat. Dia duduk di depan meja rias besar mewah yang ada disisi sebelah kanan ruangan.


Saat ini wajahnya sudah terlihat lebih segar dan


bersinar dengan make up simpel namun tetap


elegan dan memukau. Dia kini merapihkan dan


menyisir rambut nya. Sementara Aaron saat ini


terlihat sibuk di depan laptop sedang melakukan pengecekan terhadap seluruh laporan pekerjaan


yang masuk hari ini ke email nya. Tidak lama dia


berdiri saat menerima telepon dari seseorang.


"Bagaimana..apa kau sudah berkoordinasi


dengan Dirga.? Dia mau mendengarkan aku.?"


"Aaron.. sebaiknya kau sendiri yang berbicara


dengan nya.! Dia keras kepala.. tidak pernah


mau mendengarkan penjelasan ku !"


"Bukankah kau dokter pribadinya.? Kenapa


kamu tidak bisa meyakinkan dia soal ini ?"


"Iya aku sudah mengatakan segala sesuatunya,


tapi dia terlalu keras. Dia merasa tidak akan


ada efek apapun ke depannya !"

__ADS_1


"Aku tidak bisa membantunya kalau dia tidak


mau mendengarkan apa kataku.!"


"Oleh karena itu, cobalah kau sendiri yang


bicara dengan nya.! "


Aaron nampak terdiam beberapa saat sambil


mengurut pelipisnya. Raya terdiam, mencoba


untuk tidak peduli pada pembicaraan Aaron,


namun saat nama Dirga di sebut hatinya jadi


penasaran. Dia menatap Aaron dari pantulan


cermin masih menggulung rambutnya.


"Baiklah.. nanti malam aku akan berbicara


langsung dengan nya.!"


"Nah begitu lebih baik. Aku yakin dia pasti


mau mendengarkan ucapanmu."


"Lalu..bagaimana kabar Mayra dan anaknya ?"


Deg !


Jantung Raya tiba-tiba saja berdegup kencang


saat nama Mayra kembali di sebut-sebut. Ada


perasaan tidak nyaman yang kini merayap dan


menganggu fokusnya. Mayra.. sebenarnya ada


hubungan apa antara Aaron, Dirga dan Mayra.?


Hatinya kini semakin merasa tidak nyaman.


"Sejauh ini mereka baik-baik saja. Anak mereka


juga sudah di bawa pulang dari rumah sakit."


"Syukurlah..aku tenang kalau begitu.!"


Aaron tampak berjalan mondar-mandir. Dan


hal itu membuat Raya jadi semakin tidak


tenang melihatnya.


"Hei.. Tuan, sekarang kau sudah bisa terbebas


dari bayang-bayang nya kan.? Kau harus mulai


fokus pada posisi mu di istana sekarang !"


Aaron terdiam, dia melirik kearah keberadaan


Raya, matanya langsung berbenturan tatap


dengan mata bening sendu milik istrinya itu


yang terlihat sedang menatapnya dengan sorot


mata tak terbaca. Aaron segera memalingkan


wajahnya kemudian melangkah menjauh dari


tempat itu kembali berbicara dengan Rayen yang


tidak bisa di tangkap oleh pendengaran Raya.


Sangat terlihat kalau dia sengaja menghindar.


Raya menyimpan sisir diatas meja dengan


tatapan kosong dan terlempar ke sembarang


arah. Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba saja


terasa semakin lemas. Ada suatu perasaan


yang sangat mengganjal dalam hatinya saat


menyadari reaksi Aaron yang selalu tampak


serius kalau berhubungan dengan orang yang


bernama Dirga dan Mayra.


Raya sudah siap, setelah mengantar Aaron ke


ruang makan dia berniat akan langsung pulang


ke white house. Tempat ini tidaklah cocok untuk


dirinya. Dia juga merasa kurang nyaman berada


di istana ini. White house lebih baik baginya.


***


Aaron dan Raya turun ke lantai bawah. Tidak


ada pembicaraan diantara mereka begitu Aaron


kembali dari balkon setelah selesai berbicara


dengan Rayen. Pria itu langsung menggandeng


tangan Raya di bawa ke luar kamar. Tapi tidak


lama dia kembali melakukan panggilan telepon


dan berbicara dengan Alea masalah penanganan gangguan jantung. Kali ini Raya benar-benar


mencoba untuk tidak peduli, namun tetap saja


ada sejumput rasa penasaran yang mengganggu


hatinya, penyakit jantung, siapa yang sakit ?


"Selamat malam Yang Mulya.."


menyapa dan membungkuk hormat membuat


Raya menarik tangannya dari genggaman kuat


Aaron, tapi laki-laki itu langsung meliriknya


tajam dan menatapnya penuh ancaman, dia


kini malah semakin memperkuat pegangannya.


Akhirnya Raya pasrah walau hatinya tidak enak


melihat para pelayan mencuri pandang pada


interaksi intim yang di lakukan oleh Aaron.


"Baiklah kau siapkan saja semuanya. Hubungi


Dokter jantung terbaik yang kau ketahui.!"


Aaron segera mengakhiri pembicaraan nya saat


mereka sampai di ruang makan. Langkah kaki


mereka tiba-tiba saja terhenti dengan raut wajah


berubah aneh. Raya melepaskan pegangan


tangan Aaron begitu melihat satu sosok cantik


telah berdiri di depan meja makan dengan mengembangkan senyum secerah mentari.


"Selamat malam Yang Mulya.."


Sambut sosok cantik itu sambil membungkuk


sedikit dengan gestur tubuh yang sangat halus


dan anggun. Aaron menatap tajam keberadaan


gadis itu, kemudian berpaling pada Madam


Rowena yang terlihat sudah duduk dengan


elegan di kursi kebesarannya.


"Selamat malam Lady Catharina..Kau ada


di sini.?"


"Ibu Suri mengundang saya untuk makan


malam di sini Yang Mulya.."


"Ohh.. kalau begitu kalian lanjutkan saja acara


makan malam nya, kebetulan aku ada urusan


yang harus di selesaikan.!"


"Putra Mahkota..! Duduklah..! Tidak baik


mengabaikan calon istrimu.!"


Suara tegas Madam Rowena menghentikan


gerak langkah Aaron yang sudah memutar


tubuhnya. Raya terdiam sesaat , namun tidak


lama dia segera mengambil sikap, melangkah


kearah kursi yang di persiapkan untuk Aaron


kemudian menariknya.


"Yang Mulya duduklah..! "


Ucapnya lembut sambil kemudian berdiri di


kursi yang ada di samping kanan Ibu Suri itu.


Aaron menatap tajam wajah Raya yang juga


sedang menatapnya tenang.


"Kau juga ikut duduk Miss Raya.!"


Raya tersentak , begitupun dengan Catharina.


Sementara Aaron tampak menyeringai tipis.


Dia segera duduk di kursinya dengan gaya


yang sangat tenang dan elegan.


"Mohon maaf Yang Mulya.. saya merasa tidak


cukup pantas untuk duduk di sini.!"


Raya menunduk di hadapan Madam Rowena


dengan perasaan yang sedikit bingung. Ibu


Suri menatap tajam wajah cantik Raya yang


terlihat begitu bersinar dan bercahaya hingga


mampu membuat matanya mengerjap.


"Aku yang memutuskan di sini Miss Raya.!


Lady Catharina.. pindah lah ke sana.!"


Madam Rowena menunjuk kursi di sebelah


Aaron membuat mereka bertiga tampak


mengangkat wajah dengan ekspresi rumit.


"Dan kau Miss Raya.. duduklah di samping


kiri ku.! Tapi sebelum itu tolong buatkan aku

__ADS_1


teh hijau yang sama dengan tadi siang.!"


Ibu Suri menunjuk kursi yang sedang di duduki


oleh Catharina. Reaksi wajah Aaron berubah


keras dan dingin. Apa-apaan ini.? Apa maksud


nenek bawelnya ini mengatur tempat duduk


segala. Raya terdiam sebentar, saling melihat


dengan Catharina yang juga tampak bingung.


"Miss Raya, apa kau mendengar apa yang


aku katakan.?"


"Baik Yang Mulya, saya permisi sebentar."


Akhirnya Raya membungkuk setelah itu dia


berlalu pergi bersama dengan pelayan pribadi


Ibu Suri kearah belakang. Catharina bergerak


pindah tempat duduk ke sebelah Aaron dengan


wajah berbinar cerah dan bahagia.


"Lady Catharina.. bagaimana ? apa kau sudah


menyiapkan diri menjadi pendamping Putra


Mahkota ?"


Catharina mengangkat wajahnya, kemudian


tersenyum lembut dan tenang kearah Ibu Suri


"Saya sedang berusaha untuk siap Yang Mulya.


Semuanya demi kebaikan bersama."


"Kau harus siap dengan segala kemungkinan


yang bisa saja terjadi. Takdir Tuhan tidak ada


yang bisa menebak.!"


"Benar Yang Mulya.! Tapi saya akan selalu


mengharapkan yang terbaik."


Sahut Catharina dengan wajah optimis. Para


pelayan kini mulai bergerak untuk melayani


para majikannya. Dengan hati-hati mereka


mulai menuangkan makanan dan minuman


pada wadah yang sudah tersedia. Namun


Catharina melarang pelayan melayani Aaron.


Dia sendiri yang kini bergerak melayani serta


menyajikan makanan untuk Aaron. Sang


Pangeran tampak terdiam dengan ekspresi


wajah datar tak terbaca. Dia hanya menatap


diam semua yang di lakukan oleh wanita


pilihan keluarganya itu dengan sedikit


menautkan alisnya.


Sementara Madam Rowena tampak menatap


dan mengamati apa yang di lakukan oleh calon tunangan cucunya itu kemudian perlahan


mulai menikmati makan malam nya.


"Nikmatilah makan malam mu lady.."


Titah nya saat Catharina selesai menyajikan


makanan untuk Aaron.


"Terimakasih Yang Mulya.."


Catharina menunduk sedikit dan kembali duduk


di kursinya dengan anggun. Dia mulai meneguk minuman nya dengan gaya yang sangat anggun.


Tidak lama Raya muncul ke dalam ruangan


membawa nampan unik berisi teko dan cangkir


berisi teh hijau racikan nya di sambut tatapan


Aaron yang langsung mengunci sosok nya.


"Tuang sekarang Miss Raya.! Aku tidak sabar


ingin segera mencicipinya."


"Baik Yang Mulya.."


Raya segera menuang teh hijau itu ke dalam


cangkir dan menyajikannya di hadapan Madam


Rowena dengan gaya yang sangat anggun dan


luwes. Ibu Suri mengamati setiap gerakan Raya


yang terlihat sangat taktis dan cekatan itu.


Simpel namun tetap elegan. Catharina juga ikut


memperhatikan apa yang di kerjakan oleh Raya


dengan raut wajah tidak nyaman. Sementara


tatapan Aaron dari tadi tidak lepas dari wajah


cantik istrinya itu.


"Duduklah Miss Raya.."


Titah Ibu Suri, Raya membungkuk, kemudian


duduk dengan tenang dan elegan. Semuanya


tidak luput dari pengamatan mata jeli Ibu Suri.


Untuk sesaat Aaron dan Raya terlihat saling


memandang. Raya melihat semua makanan


yang ada di hadapan Aaron masih utuh belum


ada yang di sentuh. Dia tampak menautkan


alisnya melihat semua makanan itu.


"Yang Mulya Putra Mahkota.. kenapa anda


belum menyentuh makanan nya.?"


Catharina bertanya, sedikit tidak enak karena


Aaron malah memfokuskan matanya pada


sosok yang ada di hadapannya itu. Aaron


mengalihkan pandangannya pada Catharina.


Keduanya tampak saling pandang kuat.


"Aku sedang tidak berselera.!"


"Apa ada makanan lain yang anda inginkan.?"


"Apa kau bisa membuatkan nya untukku.?"


Wajah Catharina tampak memerah, dirinya


memang tidak mengerti urusan dapur. Dia


menundukkan kepalanya sedikit malu.


"Jelas sekali kalau kau tidak bisa mengabulkan


permintaan ku ini lady.!"


Desis Aaron sambil mendekatkan wajahnya


membuat wajah Catharina semakin memerah.


Raya melebarkan matanya melihat perlakuan


Aaron yang terlihat semakin mendekatkan


wajahnya pada Catharina. Darahnya langsung


saja bergolak, hatinya panas bukan main.


"Kau bisa membantu menyuapi nya Lady.!"


Ibu Suri berkata dengan santainya, di sertai


ekspresi wajah yang terlihat gerah melihat


pemandangan panas ini. Jelas sekali dia


melihat ada api kecemburuan yang mulai


memanaskan suhu tubuh wanita yang duduk


di samping kirinya. Dan ucapan Ibu Suri


barusan justru menambah panas hati Raya


hingga wajahnya kini berubah sedikit memerah.


Sedang Aaron masih terlihat datar, menatap


tenang wajah Catharina yang tersipu malu


dan semakin merona.


"Ayo lady.. suapi dia, bukankah dua hari lagi


kalian akan segera bertunangan.?"


"Dengan senang hati Yang Mulya.."


Sahut Catharina lembut sambil kemudian mulai bergerak meraih piring makanan yang ada di


depan Aaron. Wajah Raya kini semakin terlihat memerah. Tidak.! ini tidak bisa di biarkan terus berlanjut.! Aaron adalah suaminya sahnya.!


Dia adalah miliknya, dan Catharina hanyalah


calon tunangannya. !


Catharina menyendok makanan dan kini mulai


mendekatkan ke mulut Aaron dengan senyum


seribu bunga.


"Tunggu lady.! tenyata anda tidak cukup tahu


kebiasaan makan malam Putra Mahkota.!"


Semua orang terkejut mendengar ucapan Raya


yang terlihat sedang menatap tajam Catharina.


Sontak saja gadis bangsawan itu mengalihkan


sendok ke atas piring kemudian memalingkan


pandangan nya kearah Raya dengan tatapan


yang terlihat panas dan mulai emosi..


***

__ADS_1


__ADS_2