
Istana geger saat melihat kedatangan Putra
Mahkota dalam keadaan basah kuyup hampir
menggigil. Aaron langsung membawa mobilnya
masuk ke parkiran khusus, sementara Alex dan Benjamin berhenti di markas para pengawal dan
masuk ke ruangan khusus para pengawal istana
untuk segera berganti pakaian. Mereka berdua
masih berada dalam mode bingung sedikit aneh
sekaligus mendumel, Lady De Enzo benar-benar merepotkan..!!
Aaron membawa Raya masuk ke dalam private
lift yang akan membawanya langsung ke dalam
kamar pribadinya. Begitu tiba di dalam kamarnya
Aaron tidak memberi kesempatan pada Raya
untuk lari dari cengkeraman nya. Dia langsung membopong tubuh Raya di bawa masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian mengguyur tubuh mereka berdua di bawah shower. Tanpa menunggu lagi
dia segera melucuti seluruh kain yang menempel
di tubuh mereka. Raya hanya bisa pasrah sedikit terkejut melihat gerakan Aaron yang terlihat sudah
tidak terkendali dan terburu-buru itu.
"Aaron.. tidak bisakah kita menundanya sampai
nanti malam, sebentar lagi waktu magrib akan
segera tiba.. aahh.."
"Kau pikir aku akan melepaskan mu sekarang?
Kau sudah membuat ku tersiksa dari tadi.."
"Tapi Aaron.. kau harus segera di hangatkan.
Kalau tidak kau bisa sakit nanti."
"Kau yang akan menghangatkan tubuhku.
Justru kalau di tunda aku bisa sakit.!"
"Aaron kumohon.. tubuhku butuh istirahat."
"Nanti malam baru kau bisa istirahat sayang.."
Sebelum Raya sempat protes kembali tubuhnya
sudah di seret ke dinding ruang shower oleh
Aaron dengan segala keliarannya, dan detik
berikutnya bibir Aaron mulai beraksi menyusuri
seluruh bagian tubuhnya dengan sedikit gemetar karena tidak tahan dengan gairahnya yang kini meluap-luap melihat keindahan tubuh istrinya itu.
"A-Aaron...kumohon tenanglah sedikit aakkhh..
Aaroonn....!!"
Tapi sepertinya nafsu birahi Aaron saat ini sudah
mencapai ubun-ubun nya. Wajahnya kini terlihat
memerah dengan sorot mata buas siap untuk
menerkam dirinya. Mata Raya membulat saat
melihat Aaron langsung memposisikan dirinya
sejajar kemudian mulai menekan dan berusaha
memasuki dirinya dengan hentakan sedikit kasar.
Raya memekik kuat sambil memeluk erat tubuh
Aaron yang kini mengurung tubuh nya di dinding
ruangan dengan posisi berdiri. Dia saat ini masih berjuang untuk bisa menyatukan tubuh nya, tapi
posisi ini ternyata cukup menyulitkan bagi nya
untuk bisa segera memasuki tubuh istrinya itu.
"Aaron..ini sangat menyakitkan aahh.. jangan
begini..sakiiitt sayang..."
Raya memukuli punggung Aaron yang masih
berusaha untuk menyatukan tubuhnya. Aaron
mengerang hebat saat perlahan dia berhasil
masuk walaupun harus membuat Raya histeris
dan menjerit-jerit kesakitan memukuli serta
mencakar punggungnya. Setelah berjuang cukup
lama akhirnya senjata super perkasa milk Aaron terbenam juga dalam tubuh Raya membuat
keduanya saling pandang kuat sambil mengatur
nafas untuk sesaat. Aaron menciumi seluruh
wajah Raya yang terlihat di penuhi air mata.
"Maafkan aku sayang... kenapa milikmu ini
selalu membuatku harus berjuang keras untuk
bisa berada pada posisi seperti ini..."
Bisik Aaron parau sambil membawa tubuh Raya
naik ke atas pangkuannya, dan kini kaki indahnya
melingkari perutnya erat. Dia masih terdiam
belum menggerakkan tubuhnya, tapi kenikmatan
tiada tara itu sudah menghantam tubuh mereka membuat wajah keduanya memerah.
"Kau sendiri selalu membuatku menangis..
Tadi rasanya sakit sekali tahu..!"
"Bagaimana sekarang..apakah masih sakit..?"
Wajah Raya kini berubah semerah tomat, dia
menggeleng pelan seraya tersenyum malu
yang membuat tatapan Aaron semakin dalam
karena terbius oleh senyuman memabukkan
itu. Bibirnya terangkat tinggi membuat mata
Raya langsung mengerjap hebat begitu melihat
Aaron tersenyum manis dengan wajah puas.
Benarkah ini, Aaron tersenyum barusan.?
Raya benar-benar terjerat dan terpesona oleh
senyuman singkat itu. Bibir mereka kini saling
memagut dan larut dalam kehangatan. Aaron
mulai menggerakkan tubuhnya tenang penuh
dengan kelembutan membuat Raya mengerang
dan melepaskan pagutan bibirnya. Dia makin
mempererat rangkulannya di leher Aaron
sambil menggigit kecil leher suaminya itu
karena tidak tahan dengan sensasi nikmat
yang kini menerbangkan dirinya ke awan. Ini
gila, laki-laki ini selalu saja membuat dirinya
mabuk di gempur oleh terjangan kenikmatan
yang tidak mungkin akan terlupakan.
"Ayo kita terbang bersama sekarang.."
"Aaa... Aaroonn...."
Raya memekik kuat saat Aaron mulai bergerak
dengan intens masih dalam posisi tubuh Raya
diatas pangkuannya, di sandarkan ke dinding.
Akhirnya mereka berdua hanyut dalam buaian
segala kenikmatan yang selalu membawa
mereka naik ke langit paling tinggi..
***
Usai menjalankan sholat isya berjamaah Raya
dan Aaron segera bersiap. Mereka harus turun
ke lantai dasar karena Aaron akan makan malam bersama dengan Madam Rowena. Aaron sendiri
yang memakaikan dress cantik sebatas lutut ke
tubuh indah Raya karena kondisi istrinya itu saat
ini masih lemas akibat serangan brutalnya tadi
sore di dalam kamar mandi yang menghabiskan
waktu selama hampir 2 jam.
Setelah selesai berpakaian Raya mencoba untuk
sedikit memoles wajahnya agar tidak kelihatan
terlalu pucat. Dia duduk di depan meja rias besar mewah yang ada disisi sebelah kanan ruangan.
Saat ini wajahnya sudah terlihat lebih segar dan
bersinar dengan make up simpel namun tetap
elegan dan memukau. Dia kini merapihkan dan
menyisir rambut nya. Sementara Aaron saat ini
terlihat sibuk di depan laptop sedang melakukan pengecekan terhadap seluruh laporan pekerjaan
yang masuk hari ini ke email nya. Tidak lama dia
berdiri saat menerima telepon dari seseorang.
"Bagaimana..apa kau sudah berkoordinasi
dengan Dirga.? Dia mau mendengarkan aku.?"
"Aaron.. sebaiknya kau sendiri yang berbicara
dengan nya.! Dia keras kepala.. tidak pernah
mau mendengarkan penjelasan ku !"
"Bukankah kau dokter pribadinya.? Kenapa
kamu tidak bisa meyakinkan dia soal ini ?"
"Iya aku sudah mengatakan segala sesuatunya,
tapi dia terlalu keras. Dia merasa tidak akan
ada efek apapun ke depannya !"
__ADS_1
"Aku tidak bisa membantunya kalau dia tidak
mau mendengarkan apa kataku.!"
"Oleh karena itu, cobalah kau sendiri yang
bicara dengan nya.! "
Aaron nampak terdiam beberapa saat sambil
mengurut pelipisnya. Raya terdiam, mencoba
untuk tidak peduli pada pembicaraan Aaron,
namun saat nama Dirga di sebut hatinya jadi
penasaran. Dia menatap Aaron dari pantulan
cermin masih menggulung rambutnya.
"Baiklah.. nanti malam aku akan berbicara
langsung dengan nya.!"
"Nah begitu lebih baik. Aku yakin dia pasti
mau mendengarkan ucapanmu."
"Lalu..bagaimana kabar Mayra dan anaknya ?"
Deg !
Jantung Raya tiba-tiba saja berdegup kencang
saat nama Mayra kembali di sebut-sebut. Ada
perasaan tidak nyaman yang kini merayap dan
menganggu fokusnya. Mayra.. sebenarnya ada
hubungan apa antara Aaron, Dirga dan Mayra.?
Hatinya kini semakin merasa tidak nyaman.
"Sejauh ini mereka baik-baik saja. Anak mereka
juga sudah di bawa pulang dari rumah sakit."
"Syukurlah..aku tenang kalau begitu.!"
Aaron tampak berjalan mondar-mandir. Dan
hal itu membuat Raya jadi semakin tidak
tenang melihatnya.
"Hei.. Tuan, sekarang kau sudah bisa terbebas
dari bayang-bayang nya kan.? Kau harus mulai
fokus pada posisi mu di istana sekarang !"
Aaron terdiam, dia melirik kearah keberadaan
Raya, matanya langsung berbenturan tatap
dengan mata bening sendu milik istrinya itu
yang terlihat sedang menatapnya dengan sorot
mata tak terbaca. Aaron segera memalingkan
wajahnya kemudian melangkah menjauh dari
tempat itu kembali berbicara dengan Rayen yang
tidak bisa di tangkap oleh pendengaran Raya.
Sangat terlihat kalau dia sengaja menghindar.
Raya menyimpan sisir diatas meja dengan
tatapan kosong dan terlempar ke sembarang
arah. Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba saja
terasa semakin lemas. Ada suatu perasaan
yang sangat mengganjal dalam hatinya saat
menyadari reaksi Aaron yang selalu tampak
serius kalau berhubungan dengan orang yang
bernama Dirga dan Mayra.
Raya sudah siap, setelah mengantar Aaron ke
ruang makan dia berniat akan langsung pulang
ke white house. Tempat ini tidaklah cocok untuk
dirinya. Dia juga merasa kurang nyaman berada
di istana ini. White house lebih baik baginya.
***
Aaron dan Raya turun ke lantai bawah. Tidak
ada pembicaraan diantara mereka begitu Aaron
kembali dari balkon setelah selesai berbicara
dengan Rayen. Pria itu langsung menggandeng
tangan Raya di bawa ke luar kamar. Tapi tidak
lama dia kembali melakukan panggilan telepon
dan berbicara dengan Alea masalah penanganan gangguan jantung. Kali ini Raya benar-benar
mencoba untuk tidak peduli, namun tetap saja
ada sejumput rasa penasaran yang mengganggu
hatinya, penyakit jantung, siapa yang sakit ?
"Selamat malam Yang Mulya.."
menyapa dan membungkuk hormat membuat
Raya menarik tangannya dari genggaman kuat
Aaron, tapi laki-laki itu langsung meliriknya
tajam dan menatapnya penuh ancaman, dia
kini malah semakin memperkuat pegangannya.
Akhirnya Raya pasrah walau hatinya tidak enak
melihat para pelayan mencuri pandang pada
interaksi intim yang di lakukan oleh Aaron.
"Baiklah kau siapkan saja semuanya. Hubungi
Dokter jantung terbaik yang kau ketahui.!"
Aaron segera mengakhiri pembicaraan nya saat
mereka sampai di ruang makan. Langkah kaki
mereka tiba-tiba saja terhenti dengan raut wajah
berubah aneh. Raya melepaskan pegangan
tangan Aaron begitu melihat satu sosok cantik
telah berdiri di depan meja makan dengan mengembangkan senyum secerah mentari.
"Selamat malam Yang Mulya.."
Sambut sosok cantik itu sambil membungkuk
sedikit dengan gestur tubuh yang sangat halus
dan anggun. Aaron menatap tajam keberadaan
gadis itu, kemudian berpaling pada Madam
Rowena yang terlihat sudah duduk dengan
elegan di kursi kebesarannya.
"Selamat malam Lady Catharina..Kau ada
di sini.?"
"Ibu Suri mengundang saya untuk makan
malam di sini Yang Mulya.."
"Ohh.. kalau begitu kalian lanjutkan saja acara
makan malam nya, kebetulan aku ada urusan
yang harus di selesaikan.!"
"Putra Mahkota..! Duduklah..! Tidak baik
mengabaikan calon istrimu.!"
Suara tegas Madam Rowena menghentikan
gerak langkah Aaron yang sudah memutar
tubuhnya. Raya terdiam sesaat , namun tidak
lama dia segera mengambil sikap, melangkah
kearah kursi yang di persiapkan untuk Aaron
kemudian menariknya.
"Yang Mulya duduklah..! "
Ucapnya lembut sambil kemudian berdiri di
kursi yang ada di samping kanan Ibu Suri itu.
Aaron menatap tajam wajah Raya yang juga
sedang menatapnya tenang.
"Kau juga ikut duduk Miss Raya.!"
Raya tersentak , begitupun dengan Catharina.
Sementara Aaron tampak menyeringai tipis.
Dia segera duduk di kursinya dengan gaya
yang sangat tenang dan elegan.
"Mohon maaf Yang Mulya.. saya merasa tidak
cukup pantas untuk duduk di sini.!"
Raya menunduk di hadapan Madam Rowena
dengan perasaan yang sedikit bingung. Ibu
Suri menatap tajam wajah cantik Raya yang
terlihat begitu bersinar dan bercahaya hingga
mampu membuat matanya mengerjap.
"Aku yang memutuskan di sini Miss Raya.!
Lady Catharina.. pindah lah ke sana.!"
Madam Rowena menunjuk kursi di sebelah
Aaron membuat mereka bertiga tampak
mengangkat wajah dengan ekspresi rumit.
"Dan kau Miss Raya.. duduklah di samping
kiri ku.! Tapi sebelum itu tolong buatkan aku
__ADS_1
teh hijau yang sama dengan tadi siang.!"
Ibu Suri menunjuk kursi yang sedang di duduki
oleh Catharina. Reaksi wajah Aaron berubah
keras dan dingin. Apa-apaan ini.? Apa maksud
nenek bawelnya ini mengatur tempat duduk
segala. Raya terdiam sebentar, saling melihat
dengan Catharina yang juga tampak bingung.
"Miss Raya, apa kau mendengar apa yang
aku katakan.?"
"Baik Yang Mulya, saya permisi sebentar."
Akhirnya Raya membungkuk setelah itu dia
berlalu pergi bersama dengan pelayan pribadi
Ibu Suri kearah belakang. Catharina bergerak
pindah tempat duduk ke sebelah Aaron dengan
wajah berbinar cerah dan bahagia.
"Lady Catharina.. bagaimana ? apa kau sudah
menyiapkan diri menjadi pendamping Putra
Mahkota ?"
Catharina mengangkat wajahnya, kemudian
tersenyum lembut dan tenang kearah Ibu Suri
"Saya sedang berusaha untuk siap Yang Mulya.
Semuanya demi kebaikan bersama."
"Kau harus siap dengan segala kemungkinan
yang bisa saja terjadi. Takdir Tuhan tidak ada
yang bisa menebak.!"
"Benar Yang Mulya.! Tapi saya akan selalu
mengharapkan yang terbaik."
Sahut Catharina dengan wajah optimis. Para
pelayan kini mulai bergerak untuk melayani
para majikannya. Dengan hati-hati mereka
mulai menuangkan makanan dan minuman
pada wadah yang sudah tersedia. Namun
Catharina melarang pelayan melayani Aaron.
Dia sendiri yang kini bergerak melayani serta
menyajikan makanan untuk Aaron. Sang
Pangeran tampak terdiam dengan ekspresi
wajah datar tak terbaca. Dia hanya menatap
diam semua yang di lakukan oleh wanita
pilihan keluarganya itu dengan sedikit
menautkan alisnya.
Sementara Madam Rowena tampak menatap
dan mengamati apa yang di lakukan oleh calon tunangan cucunya itu kemudian perlahan
mulai menikmati makan malam nya.
"Nikmatilah makan malam mu lady.."
Titah nya saat Catharina selesai menyajikan
makanan untuk Aaron.
"Terimakasih Yang Mulya.."
Catharina menunduk sedikit dan kembali duduk
di kursinya dengan anggun. Dia mulai meneguk minuman nya dengan gaya yang sangat anggun.
Tidak lama Raya muncul ke dalam ruangan
membawa nampan unik berisi teko dan cangkir
berisi teh hijau racikan nya di sambut tatapan
Aaron yang langsung mengunci sosok nya.
"Tuang sekarang Miss Raya.! Aku tidak sabar
ingin segera mencicipinya."
"Baik Yang Mulya.."
Raya segera menuang teh hijau itu ke dalam
cangkir dan menyajikannya di hadapan Madam
Rowena dengan gaya yang sangat anggun dan
luwes. Ibu Suri mengamati setiap gerakan Raya
yang terlihat sangat taktis dan cekatan itu.
Simpel namun tetap elegan. Catharina juga ikut
memperhatikan apa yang di kerjakan oleh Raya
dengan raut wajah tidak nyaman. Sementara
tatapan Aaron dari tadi tidak lepas dari wajah
cantik istrinya itu.
"Duduklah Miss Raya.."
Titah Ibu Suri, Raya membungkuk, kemudian
duduk dengan tenang dan elegan. Semuanya
tidak luput dari pengamatan mata jeli Ibu Suri.
Untuk sesaat Aaron dan Raya terlihat saling
memandang. Raya melihat semua makanan
yang ada di hadapan Aaron masih utuh belum
ada yang di sentuh. Dia tampak menautkan
alisnya melihat semua makanan itu.
"Yang Mulya Putra Mahkota.. kenapa anda
belum menyentuh makanan nya.?"
Catharina bertanya, sedikit tidak enak karena
Aaron malah memfokuskan matanya pada
sosok yang ada di hadapannya itu. Aaron
mengalihkan pandangannya pada Catharina.
Keduanya tampak saling pandang kuat.
"Aku sedang tidak berselera.!"
"Apa ada makanan lain yang anda inginkan.?"
"Apa kau bisa membuatkan nya untukku.?"
Wajah Catharina tampak memerah, dirinya
memang tidak mengerti urusan dapur. Dia
menundukkan kepalanya sedikit malu.
"Jelas sekali kalau kau tidak bisa mengabulkan
permintaan ku ini lady.!"
Desis Aaron sambil mendekatkan wajahnya
membuat wajah Catharina semakin memerah.
Raya melebarkan matanya melihat perlakuan
Aaron yang terlihat semakin mendekatkan
wajahnya pada Catharina. Darahnya langsung
saja bergolak, hatinya panas bukan main.
"Kau bisa membantu menyuapi nya Lady.!"
Ibu Suri berkata dengan santainya, di sertai
ekspresi wajah yang terlihat gerah melihat
pemandangan panas ini. Jelas sekali dia
melihat ada api kecemburuan yang mulai
memanaskan suhu tubuh wanita yang duduk
di samping kirinya. Dan ucapan Ibu Suri
barusan justru menambah panas hati Raya
hingga wajahnya kini berubah sedikit memerah.
Sedang Aaron masih terlihat datar, menatap
tenang wajah Catharina yang tersipu malu
dan semakin merona.
"Ayo lady.. suapi dia, bukankah dua hari lagi
kalian akan segera bertunangan.?"
"Dengan senang hati Yang Mulya.."
Sahut Catharina lembut sambil kemudian mulai bergerak meraih piring makanan yang ada di
depan Aaron. Wajah Raya kini semakin terlihat memerah. Tidak.! ini tidak bisa di biarkan terus berlanjut.! Aaron adalah suaminya sahnya.!
Dia adalah miliknya, dan Catharina hanyalah
calon tunangannya. !
Catharina menyendok makanan dan kini mulai
mendekatkan ke mulut Aaron dengan senyum
seribu bunga.
"Tunggu lady.! tenyata anda tidak cukup tahu
kebiasaan makan malam Putra Mahkota.!"
Semua orang terkejut mendengar ucapan Raya
yang terlihat sedang menatap tajam Catharina.
Sontak saja gadis bangsawan itu mengalihkan
sendok ke atas piring kemudian memalingkan
pandangan nya kearah Raya dengan tatapan
yang terlihat panas dan mulai emosi..
***
__ADS_1